Voice Of Muslim - Eskalasi krisis keamanan di
Suriah terus meningkat, seiring dengan
pernyataan pejabat Amerika Serikat tentang niat negeri adidaya itu untuk
melakukan aksi
militer terhadap
Suriah, Selasa lalu (27/8/2013).
Tapi bagaimana dengan negara-negara lain? Siapa yang
mendukung aksi
militer AS terhadap
Suriah, dan siapa pula yang menentang?
Pendukung
Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry menuding rezim Assad menggunakan
senjata kimia untuk menyerang rakyatnya. Kapal-kapal perang Amerika pun
telah berada di kawasan Mediterania sehingga spekulasi serangan Amerika
ke
Suriah terus menguat. Para analis percaya bahwa aksi
militer Amerika
akan dilakukan dari laut, dan menargetkan penghancuran
instalasi-instalasi
militer Suriah.
Inggris
Sebagai sekutu utama Amerika, Inggris pun menyatakan
dukungannya
terhadap aksi
militer terhadap
Suriah. Alasan utama pembenaran ide
serangan
militer terhadap
Suriah adalah bahwa penggunaan senjata kimia
"tidak bisa digunakan secara bebas dan lepas dari hukuman".
Prancis
Prancis adalah negara barat pertama yang mengakui koalisi oposisi
Suriah, dan mengakuinya sebagai perwakilan resmi
Suriah. Bahkan Prancis
melobi agar Uni Eropa boleh menyuplai lebih banyak senjata ke
pemberontak yang berniat menjungkalkan rejim Assad.
Turki
Negara ini sudah sejak awal
mendukung upaya penggulingan Presiden Bashar
al-Assad. Sehari sebelum Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel
mengatakan pasukan negaranya siap melancarkan serangan terhadap rezim
Suriah atas tuduhan serangan-serangan dengan menggunakan senjata kimia,
Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menyatakan negaranya siap
bergabung dengan koalisi internasional yang ingin menyerang
Suriah,
bahkan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB sekalipun.
Saudi Arabia
Negara monarki ini secara terang-terangan membiayai dan memasok barisan
oposisi sekuler untuk menggulingkan rezim Assad. Bahkan mantan Dubes
Saudi untuk Amerika Pangeran Bandar bin Sultan dikabarkan giat
menggalang
dukungan internasional untuk membantu pasukan oposisi di
Suriah.
Israel
Israel telah melancarkan serangan terhadap
Suriah, sedikitnya 3 kali
pada tahun ini. Pejabat Israel mengutuk penggunaan senjata kimia yang
dikabarkan dipakai oleh rezim Assad. Spekulasi serangan
militer Amerika
terhadap
Suriah membuat sipil Israel memborong masker gas.
Penentang
Lebanon
Menteri Luar Negeri Lebanon Adana Mansour menilai aksi
militer terhadap
Suriah tidak akan memberikan solusi perdamaian bagi kawasan. Di Lebanon,
terdapat pengungsi
Suriah dengan jumlah terbanyak dibandingkan
negara-negara lain. Kalangan Syiah
mendukung rezim Assad dengan turut
berperang di
Suriah, sementara penganut Sunni berperang bersama pasukan
oposisi.
Iran
sebagai negara Syiah, Iran adalah negara pen
dukung utama rezim Assad.
Menurut Iran, justru "pemberontaklah" yang menggunakan senjata kimia.
Pejabat Iran pun mengingatkan petinggi PBB yang berkunjung ke Teheran
bahwa serangan
militer terhadap
Suriah hanya akan mengakibatkan kerugian
sangat serius bagi negeri itu.
Rusia
Dalam hal ini, Rusia lebih menghendaki adanya solusi yang bersifat
politis daripada
militer. Rusia secara tajam mengkritik ide-ide Barat
yang ingin menyerang
Suriah. Menurut Rusia, setiap aksi yang dilakukan
di luar persetujuan Dewan Keamanan PBB akan menimbulkan kehancuran yang
luar biasa bagi negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara.
China
Seperti halnya Rusia, China juga menolak ide serangan
militer terhadap
Suriah di Dewan Keamanan PBB. Kantor Berita Xinhua menyebutkan bahwa
kekuatan negara Barat terlalu terburu-buru membuat kesimpulan tentang
siapa yang sebenarnya menggunakan senjata kimia di negeri itu, karena
tim investigasi dari PBB pun belum rampung menyelesaikan inspeksinya.
sumber: antara