Articles by "Musik"

13.22
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI
Eet Sjahranie

JAKARTA, KOMPAS.com -- Apa jadinya jika para jagoan Disc Jockey (DJ) berkolaborasi dengan sejumlah musisi andal seperti gitaris kawakan Eet Sjahranie (Edane), Eno (Netral), dan John Paul Ivan (eks Boomerang)? Hmm... sebuah sajian hiburan yang unik dan seru, bukan?     Inilah sebuah konsep pertunjukan yang hendak ditawarkan dalam First Halloween R&B Rave Party yang akan dihajat pada Tribeca Park-Central Park Mall Jakarta, Sabtu (29/10/2011) mendatang.
Mengulang kesuksesan acara Juli lalu, Wave Production kali ini menyuguhkan acara serupa dengan mengusung tajuk “el DIABLO R&B FEVER – City of Darkness”. Sejumlah perbaikan konsep dicoba dihadirkan. Bila perhelatan sebelumnya digelar di indoor, kali ini justru akan dibuat dalam format outdoor.   
"Konsep ini tentu akan memberikan nuansa baru yang berbeda. Para pecinta musik terutama aliran R&B juga bisa menikmati kolaborasi music live performance  drummer, gitaris rock, pemain perkusi hingga DJ,"  ujar Yohannes Hinryanto dari manajemen Wave Production melalui siaran persnya di Jakarta, Selasa (18/10/20101).
Dikatakan Yohannes, pertunjukan kali ini akan melibatkan sebanyak 15 DJ yang akan berkolaborasi dengan para musisi lainnya seperti Executive Killers dan Angels Percussion. Mereka akan tampil di atas panggung berukuran 8 x 4 m dilengkapi lighting & sound berkekuatan 50.000 watt. Tak sekadar menghadirkan sajian musik, acara yang berlangsung dari pukul 18.00-02.00 WIB itu akan pula dimeriahkan oleh model dan para bikers dari Harley Davidson Club, R&B HipHop Comunity. 

13.03

JAKARTA, Kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama di Pandeglang, Banten, dan Temanggung, Jawa Tengah, dinilai sangat memprihatinkan, termasuk oleh vokalis kelompok musik Boomerang, Roy Jeconiah (42). Ia berpendapat, pemerintah kurang tanggap. ”Indonesia merupakan negara hukum sehingga semua warga negara seharusnya tidak main hakim sendiri,” katanya.
Jangan sampai terulang lagi karena keragaman itu indah. Sekarang pemerintah harus mengusut tuntas kasus-kasus yang demikian
-- Roy Jeconiah
Suami Precillya Grace ini berharap keragaman tidak lagi menjadi ajang permusuhan. Sebaliknya, perbedaan menjadi wacana diskusi yang menyenangkan dan positif. ”Jangan sampai terulang lagi karena keragaman itu indah. Sekarang pemerintah harus mengusut tuntas kasus-kasus yang demikian,” ujarnya.
Ayahanda Jozche Immanuel ini pun menyayangkan jatuhnya korban jiwa. Bagi Roy, seluruh rakyat Indonesia berkewajiban meneruskan semangat Sumpah Pemuda yang tercetus pada 28 Oktober 1928 demi kelangsungan bangsa.
Di sela-sela kesibukan bersama Boomerang, Roy mengunjungi beberapa rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (LP). Bersama lima mantan warga binaan Rutan Kelas I Kebon Waru, Bandung, Jawa Barat, misalnya, Roy membawakan lagu-lagunya di Rutan Cipinang dan Rutan Salemba, Jakarta.
Rencananya, pada 16 Februari 2011 mereka menggelar pentas kecil-kecilan di salah satu LP di Lampung kemudian pada 24 Februari 2011 di LP Tangerang. (BEE)
Sumber :Kompas Cetak
 

12.57

JAKARTA, Aksi panggung Boomerang sangat enerjik saat tampil membuka hari kedua festival musik rock Java Rockin' Land 2010, di Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (9/10/2010) malam.
Band asal Surabaya dengan formasi Roy Jeconiah (vokal), Andry Franzy (gitar), Hubert Henry (bas), dan Farid Martin (drum) ini mengehntak dengan istorsi gitar, dipadu dengan harmoni bas dan drum, untuk membuka konser dengan lagu "Tragedi". Sang vokalis, Roy, pun menyambarnya dengan menyanyi penuh semangat.
Keempat pria berambut panjang itu menyuguhkan musik penuh distorsi dan cadas, ya itulah Boomerang. Roy memainkan harmonika sebagai intro lagu "Generasiku". Seketika para Boomers (penggemar Boomerang) ikut berjingkrak dan bernyanyi.
Setelah itu, Roy terus berinteraksi dengan para penonton setiap lagu usai disuguhkan. "Kami akan memainkan lagu saat kami masih memakai nama band Los Angels sebelum resmi menjadi nama Boomerang," terang Roy mendahului intro lagu "No More".
Masih bernostalgia dengan tahun-tahun kejayaan Boomerang, lagu "O Ya" tak ketinggalan disuguhkan untuk mengobati kerinduan Boomers yang sudah lama tidak menyaksikan pertunjukan band kesayangan mereka. "Kisah" dan "Bawalah Aku", dua lagu lama lainnya, juga diperdengarkan.
Setelah puas bernostalgia, Roy cs memainkan "Suara Jalanan" dan "Superior Syndrome", lagu-lagu dari album terakhir mereka, yang dirilis tahun lalu, Suara Jalanan. Di penghujung konser, ada "Pelangi", yang berasal dari album Gadis Extravaganza .

12.54
Roy Jeconiah

 John Paul Ivan

JAKARTA, Setelah kira-kira dua tahun tak lagi menjadi vokalis band rock Boomerang, Roy Jeconiah membentuk RI 1 bersama sang gitaris, John Paul Ivan, yang sudah sejak 2005 keluar dari grup asal Surabaya tersebut. Hal itu diungkapkan oleh Roy dalam jumpa pers JIEXPO Jakarta Fair 2012, yang diadakan pada Selasa (5/6/2012).
"RI 1 ini proyek serius saya dan Ivan. Sekarang sedang dalam proses menggodok album pertama," ujar Roy.
Nama RI 1 merupakan bentuk ringkas dari Roy Ivan Bersatu.

Roy mengaku sulit untuk melepas image Boomerang yang telanjur melekat pada dirinya. "Separuh umurku bersama Boomerang, jadi itu bukan suatu hal yang mudah untuk melepaskan image tersebut. Kalau dulu, saya punya cita-cita mulia, pengin nge-band dengan orang yang sama, dengan formasi tetap. Ya, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok," ucapnya.

Sebelum membentuk RI 1, Roy membuat proyek solo bernama Jecovox. Proyek itu telah menghasilkan satu single andalan, "Nyanyian Para Pemberani". "Sekarang Jecovox berhenti dulu, lebih fokus ke RI 1," lanjut Roy.

RI 1 juga sudah memiliki basis penggemar sendiri, bernama Milisi RI 1. Roy melanjutkan, Milisi RI 1 selalu mendukung karya mereka dan mengharapkan mereka tetap eksis dalam industri musik Indonesia.

Roy, seperti juga Ivan, memutuskan untuk meninggalkan Boomerang karena merasa sudah tidak sepaham lagi dengan para personel lainnya dalam bermusik. Roy menerangkan pula, untuk sementara waktu Boomerang--yang kini hanya dihuni oleh Hubert Henry Limahelu (bas dan vokal) dan Faried Martin Badjeber (drum)--berhenti bermusik dulu.

12.47

JAKARTA, Untuk penampilannya di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (26/1/2012) malam, dalam rangka promosi album solo barunya, Dawai in Paradise, gitaris I Dewa Gede Budjana (48) merangkul pemusik-pemusik yang sudah biasa bekerja bareng dengannya--Sandy Winarta (drum), Shadu Rasjidi (bas), Irsa Destiwi (piano), Saat Syah (suling), dan Jalu Pratidina (perkusi).
"Masih bersama orang-orang yang biasa bekerja sama dengan saya, ada Saat, Irsa, bahkan Shadu, yang ada di setiap album solo saya," kata Budjana, yang juga personel GIGI dan Trisum, dalam perbincangannya dengan Kompas.com di BBJ.
Dengan wajah-wajah lama dalam perjalanan bermusiknya itu, Budjana mengaku bisa kian melebur. "Semakin terbentuk, karena kami sudah sering main (bareng)," kata Budjana lagi.
Album Dawai in Paradise berisi 11 lagu. Delapan lagu berasal dari empat album Budjana yang sebelumnya, yaitu Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), dan Home (2005). Lagu-lagu lama itu diaransemen ulang dan direkam kembali oleh Budjana. Ia melibatkan sebagian besar pemusik yang ambil bagian dalam rekaman versi terdahulu lagu-lagu lama itu. Sebut saja, Indra Lesmana (keyboard), Bintang Indrianto (bas), dan Peter Erskin (drummer dari AS). "Masih nyambung, dari setiap album lama dimainkan lagi dua lagu. Di album itu (Dawai in Paradise) ada tahunnya, jadi ketahuan periodenya," jelas Budjana, yang juga merupakan pencipta lagu, aranjer, produser musik, hingga produser eksekutif untuk Dawai in Paradise.
Selain itu, ada tiga lagu baru, yaitu "Dawaiku" (dicipta pada 2009). "Gangga" (2010), dan "Masa Kecil" (2011). Sophia Latjuba ambil bagian untuk suara latar dalam "Gangga", sedangkan Deva dan Dawai--dua putra Budjana dan Putu Borrawati, istrinya--ikut memberi voice dalam lagu "Masa Kecil".
Dawai in Paradise memang merupakan album instrumental, yang jumlah pendengarnya tidak sebanyak jumlah pendengar album pop bervokal. Tapi, Budjana juga memilih lagu yang paling mudah menarik minat calon pembeli albumnya itu sebagai lagu pertama dalam albumnya tersebut, seperti umum dilakukan oleh artis musik dengan album bervokal. "Musik instrumental itu kan segmented, mainnya juga jarang. Tapi, saya memasukkan 'Gangga', yang saya cipta saat jalan-jalan di sana (Gangga, India), sebagai track pertamanya," ujarnya.

12.45

JAKARTA,Gitaris Dewa Budjana (48) kembali merekam album bersama drumer dan komposer asal Amerika Serikat, Peter Erskine, di Los Angeles, AS. Sebelumnya, dua album milik Budjana, berjudul Samsara (2003) dan Home (2006), juga digarap bersama Erskine.
”Album keenam yang berjudul Journey ini belum tahu kapan akan beredar. Niatnya memang hanya rekaman dan berkarya terlebih dahulu,” kata Budjana yang berada selama sepekan di LA.
Budjana menceritakan, rekaman kali ini dilakukan di Fire House Recording Studios di Pasadena. ”Dua album sebelumnya dikerjakan di studio di rumah Peter, dengan format trio (bass dan drum), tetapi yang sekarang direkam dengan format combo di studio profesional,” katanya.
Selain dengan Erskine, Budjana juga dibantu oleh Bob Mintzer, Larry Goldings, dan Jimmy Johnson. Ia pun merasa sangat puas bisa merekam tujuh lagu di LA. Padahal, rencana rekaman ini hampir gagal.
”Saya mendekati Peter sejak setahun lalu dan gagal rekaman karena enggak ada modal dan sempat mencari sponsor. Akhirnya, tahun ini saya tetap nekat pesan tiket dan konfirmasi ke dia,” ujarnya.
Bisa rekaman bersama musisi jazz kelas satu dunia tentunya sangat membanggakan Budjana. ”Seru sekali. Mereka mendengarkan satu per satu secara detail. Kadang-kadang saya merasa oke, tetapi mereka enggak puas dan minta diulang,” katanya. (SIE)
 
Sumber :
Kompas Cetak

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget