Articles by "Muslimah"

21.22
Voice Of Muslim - Barangkali banyak muslimah yang sekarang tidak tahu bahwa pada tahun 1970-1980an, jilbab pernah menjadi sesuatu yang haram keberadaannya di ruang publik, terutama di sekolah-sekolah. Pemerintah Orde Baru pernah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang mengatur bentuk dan pemakaian seragam bagi siswa di sekolah-sekolah negeri. Sebelum keluarnya SK tersebut, peraturan seragam sekolah ditetapkan oleh masing-masing sekolah negeri secara terpisah. Dengan adanya SK tersebut, maka peraturan seragam sekolah menjadi bersifat nasional dan diatur langsung oleh Departemen P & K (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

SK tersebut dapat dikatakan tidak mengakomodir kemungkinan untuk menggunakan seragam sekolah dalam bentuk lain sehingga berbenturan dengan keinginan beberapa siswi di sekolah-sekolah negeri yang ingin mengenakan jilbab. Pasca keluarnya SK tersebut, banyak siswi-siswi berjilbab yang memperoleh teguran, pelarangan, dan tekanan dari pihak sekolah. Siswi yang bersikeras untuk tetap mengenakan jilbab di lingkungan sekolah, pada akhirnya dikeluarkan dari sekolah negeri tempat mereka belajar dan pindah ke sekolah swasta.
Kasus jilbab yang pertama sejak keluarnya SK 052 adalah tekanan guru olah raga SMAN 3 Bandung terhadap delapan siswinya agar mereka melepaskan kerudung. Sejak itu, kasus-kasus jilbab di berbagai sekolah negeri lainnya segera bermunculan. Semakin lama semakin banyak siswi yang mengalami konflik dengan sekolah karena jilbab yang dikenakannya. Hal ini menimbulkan reaksi dari beberapa ormas Islam, terutama Pelajar Islam Indonesia (PII), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI mewakili lembaga-lembaga Islam lainnya, melakukan advokasi kepada Departemen P&K agar bersedia meninjau ulang kebijakan departemennya mengenai peraturan seragam sekolah tersebut.

Pada kurun waktu 1984/1985, Serial Media Dakwah menyebutkan bahwa 300 pelajar putri sekolah menengah negeri di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan, Surabaya, dan Sumenep, terpaksa pindah sekolah karena masalah kerudung ini. Hanya di Sumatera Barat dan Aceh jilbab tetap diperkenankan. Pada tahun 1988-1991, kasus jilbab juga mulai masuk ke ranah pengadilan, di antaranya SMA N 1 Bogor dan SMA N 68 Jakarta.[1] Kasus jilbab ini menarik perhatian berbagai media massa, di antaranya majalah Panji Masyarakat, Serial Media Dakwah, Editor, Tempo, Hai, Harian Terbit, Jayakarta, Pelita, Kompas, dan Pos Kota. Media-media massa ini menampilkan komentar masyarakat dan tokoh yang umumnya menyatakan keprihatinan mereka terhadap kasus yang menimpa siswi-siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri.

Bersamaan dengan memanasnya konflik jilbab di sekolah-sekolah negeri, kasus jilbab juga ikut merembet ke wilayah-wilayah lain. Di Tegal, sempat terjadi kasus penelanjangan gadis berjilbab oleh petugas keamanan sebuah toserba karena gadis tersebut dicurigai mencuri permen seharga Rp 160,00. Yang lebih ramai lagi adalah kabar tentang wanita berjilbab menebarkan racun di pasar-pasar. Isu ini sempat menyebabkan seorang ibu berjilbab nyaris meninggal dunia akibat dihakimi massa karena ia diteriaki sebagai penebar racun.

Akhirnya, pada tanggal 16 Februari 1991, SK seragam sekolah yang baru, yaitu SK 100/C/Kep/D/1991, ditandatangani secara resmi, setelah melalui konsultasi dengan banyak pihak. Hal ini disambut gembira oleh siswi-siswi berjilbab serta masyarakat yang bersimpati pada perjuangan mereka. Pada SK yang baru ini, keinginan para siswi berjilbab sudah diakomodir, lengkap dengan contoh gambar pakaiannya. Meskipun, istilah yang digunakan pada SK tersebut tetap ”seragam khas”, bukan jilbab.

Walaupun kewajiban untuk berjilbab telah tertera dengan sangat jelas dalam Al Qur’an (QS An Nur: 31 dan Al Ahzab: 59), namun kenyataan itulah yang terjadi pada tahun-tahun tersebut. Jilbab menjadi suatu identitas yang diharamkan keberadaannya di ruang publik. Para muslimah yang ingin memakai jilbab harus menghadapi tekanan dari aparat keamanan dan pemerintah. Mereka dituduh menyebarkan aliran sesat, mengikuti golongan tertentu, atau melawan kebijakan pemerintah. Pahitnya keadaan pada masa itu menjadikan para muslimah berjilbab benar-benar teruji kualitas dan militansinya. Muslimah yang masih ragu dengan jilbab atau belum kuat keislamannya, tidak akan berani mengenakan jilbab.

Sesuatu yang telah menjadi jamak seringkali justru diiringi dengan penurunan kualitas. Hal itu terjadi dalam banyak hal. Pendidikan, misalnya. Ketika akses pendidikan masih sulit dan hanya golongan terbatas saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi, sarjana-sarjana yang dihasilkan adalah sarjana yang berkualitas. Namun sekarang, ketika pendidikan tinggi telah terbuka bagi semua kalangan, berkat berbagai beasiswa dan juga semakin banyaknya perguruan tinggi yang lahir, kualitas sarjana yang dihasilkan tampaknya tidak lebih baik daripada dulu. Bahkan, ada kesan justru menurun. Banyak sarjana-sarjana yang melacurkan ilmu demi mencari kesenangan sendiri, tidak peka terhadap kondisi sosial, berpikir pragmatis, dan sebagainya.

Demikian juga kalau melihat dalam sejarah umat Islam. Pada masa-masa awal dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam, hanya sekelompok orang saja yang mengikut ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Namun, mereka adalah orang-orang terpilih yang benar-benar komitmen terhadap keislamannya. Mereka berani mempertaruhkan nyawa demi membela Islam. Sementara sekarang, banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi keislaman mereka bukannya membuat Islam semakin berjaya. Seperti sabda Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadits, umat Islam banyak tapi banyaknya seperti buih di lautan.

Tak terkecuali dalam hal berjilbab. Pada era 70-80an, muslimah berjilbab karena mereka menyadari perlunya jilbab sebagai penutup aurat. Muslimah yang berjilbab pada masa itu benar-benar mempertaruhkan sekolah, karier, bahkan keselamatannya demi mempertahankan keyakinannya mengenakan jilbab. Sekarang, banyak orang berjilbab tapi melupakan fungsi jilbab yang sebenarnya. Jilbab dikenakan hanya sekedar untuk mengikuti mode. Tak sampai berselang dua dekade sejak izin pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dikeluarkan pada tahun 1991, jilbab menjamur di mana-mana. Tren jilbab merebak di kalangan wanita-wanita muda, mulai dari pelajar, karyawan, pegawai negeri, para eksekutif, hingga artis. Model, warna, dan bahan kain jilbab yang dikenakan pun beraneka ragam. Selain itu, gejala yang tak kalah menarik adalah munculnya komunitas-komunitas Hijabers yang beranggotakan para remaja berjilbab.

Masuknya jilbab di ruang-ruang publik merupakan suatu peningkatan yang harus disyukuri. Namun, bersamaan dengan itu, fenomena yang timbul adalah turunnya pemaknaan muslimah terhadap jilbab. Jilbab hanya dipandang sebagai sehelai kain yang dikenakan untuk mengikuti trend fashion, bukan sebagai penutup aurat dan identitas muslimah. Dalam berjilbab, Islam sudah memberikan aturan-aturan, seperti harus menutup dada, tidak boleh ketat, kainnya tidak terawang, dan sebagainya. Ketika sekarang jilbab hanya difungsikan sebagai fashion, banyak ketentuan-ketentuan tersebut yang diabaikan oleh pemakainya. Yang lebih dipikirkan bukan lagi, ‘apakah jilbab ini sudah menutup dada dan tidak transparan’, tetapi ‘apakah jilbab ini serasi dengan baju dan mengikuti model jilbab yang tengah berkembang’. Di sisi lain, orang-orang yang memakai jilbab dengan benar –tapi tidak mengikuti mode- justru dipandang sebelah mata atau diidentikkan dengan golongan tertentu.

Jilbab adalah identitas keislaman seorang muslimah. Jilbab adalah kewajiban bagi seluruh muslimah yang Allah sampaikan dalam Al Qur’an. Jilbab bukan sekedar kain penutup kepala atau perwakilan dari gejala sosiokultural dalam masyarakat. Jilbab juga bukan sekedar objek penelitian antropologi tentang bagaimana suatu masyarakat berbusana. Perkembangan jilbab dari yang semula diharamkan hingga menjadi sesuatu yang lumrah di ruang publik hanya dalam waktu kurang dari dua puluh tahun menarik untuk dicermati. Terlebih, perkembangan ini juga diiringi dengan perubahan makna jilbab, dari yang semula merupakan penutup aurat yang disyariatkan Islam sampai akhirnya menjadi mode fashion. Realita ini tidak bisa dipandang hanya sebagai dinamika sosial semata, tetapi perlu menjadi sebuah perenungan, terutama bagi para muslimah di Indonesia. Bagaimana seharusnya muslimah mengartikan sehelai kain bernama jilbab?

Oleh: Kabul Astuti (Mahasiswi Pascasarjana Program Magister Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta)


Voice Of Muslim - Seorang gadis remaja muslim Prancis dilaporkan mencoba bunuh diri setelah diserang oleh dua pria dekat Lapangan Berlioz pada 12 Agustus kemarin. Gadis yang tidak diketahui namanya itu mencoba melompat dari lantai empat rumahnya di kota Trappes, Paris, Prancis pada hari Senin 26 Agustus 2013.

Laman Dailymail, Selasa 27 Agustus 2013 melansir motif bunuh diri sesungguhnya remaja berusia 16 tahun itu belum diketahui dengan pasti.

Beruntung dia masih dapat diselamatkan. Remaja itu kemudian dilarikan ke RS terdekat untuk memperoleh pertolongan medis.

Peristiwa itu berawal saat remaja itu diserang oleh dua pria berwajah orang Eropa pada pukul 17.45 waktu setempat. Saat itu dia baru pulang dari rumah temannya. Usai peristiwa itu dia melapor kepada polisi.

Gadis itu menceritakan, kedua pria itu meneriakkan kalimat anti-Muslim dan bernada rasis kepadanya.

Kemudian kedua pria mengeluarkan sebuah pisau cutter yang digunakan untuk membuka cadarnya. Tidak hanya itu, salah satu pria bahkan melakukan pelecehan seksual kepada gadis itu.

"Pria pertama mulai menyentuh dada saya, namun saya berhasil menampar wajahnya. Tidak terima, dia lalu meninju saya di bagian dada," kata gadis itu kepada laman Huffington Post.

Sementara pisau cutter yang digunakan pria lainnya berhasil mengenai wajah dan tenggorokan si gadis. Akibatnya dia mengalami luka.

Kedua pria itu akhirnya kabur dengan menggunakan sebuah mobil, saat seorang warga lain muncul. Polisi di Yveslines saat ini tengah menyelidiki kasus tersebut.

Mereka memeriksa potongan rekaman video CCTV yang ada di sekitar lapangan untuk memperoleh bukti, karena saat peristiwa itu terjadi tidak ada satu pun saksi. Khawatir kasus bunuh diri gadis remaja itu akan kembali memicu konflik dan kemarahan umat Muslim di kota Trappes, maka polisi menyiagakan anggotanya di sekitar kota itu pada Senin malam.

Menurut media Perancis, Le Parisien, aksi bunuh diri gadis itu bukan kali ini saja. Dia juga pernah melakukan upaya bunuh diri pekan lalu dengan menenggak obat-obatan sehingga over dosis.

Aksi kerusuhan sebelumnya pernah terjadi di kota Trappes pada bulan Juli lalu.

Hal itu dipicu aksi polisi yang memaksa untuk memeriksa seorang wanita muslim yang mengenakan cadarnya. Sementara sang suami yang mencoba melarang pemeriksaan itu malah ditahan polisi.

Alhasil, ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor polisi menuntut pembebasan pria tersebut. Unjuk rasa itu berakhir ricuh yang menyebabkan remaja berusia 14 tahun mengalami luka serius di bagian mata.

Sementara empat petugas polisi dilaporkan ikut terluka. Kontroversi mengenai jilbab penutup wajah atau burka terus muncul sejak Pemerintah Perancis memberlakukan larangan penggunaannya tahun 2011 silam.

Bagi wanita yang melanggar, maka dapat dikenai denda senilai 150 Euro atau Rp2,1 juta dan dipaksa mengikuti kelas kewarganegaraan.

Voice Of Muslim - Mengenakan jaket loreng, celana kargo khaki, dan bersepatu boot, beberapa wanita ini tidak kenal takut. Menyandang senapan pemburu, dia siap meledakkan kepala-kepala tentara pembantaian suruhan rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Para penembak jitu ini seakan menentang anggapan umum: Wanita jangan dekat-dekat medan perang. Bertindak sebagai penembak jitu alias sniper. Para wanita ini menjadi andalan pemberontak di beberapa kota di Suriah itu untuk membunuh para tentara Assad.

Tugas ini, ujarnya, membutuhkan kesabaran, kecepatan dan kecerdasan. Dia mengaku harus duduk berjam-jam menunggu warga sipil menyingkir dari jalan dan tentara Suriah masuk dalam kekerannya. Masuk dalam jangkauan tembak, pelatuk ditarik, beberapa tentara tertembus peluru.

PBB mencatat, lebih dari dua tahun konflik Suriah berlangsung, korban tewas melampaui 60.000 orang. Bashar al-Assad bersikeras tidak akan turun tahta dan tetap menggempur warga sipil, dengan dalih mencari pemberontak. Sementara itu upaya komunitas internasional juga belum membuahkan hasil.

Berikut salah satu kisah Guevara, Sniper Wanita di Medan Perang Suriah.

"Guevara", wanita di kota Aleppo, mengambil nama tokoh revolusi Argentina, bekas guru bahasa Inggris ini sering bertempur bersama dengan sekitar 30 orang pria menghadapi tentara yang beringas.
Dia tergerak turun ke medan juang setelah dua anaknya yang berusia 10 dan tujuh tahun tewas terbunuh beberapa bulan lalu. Saat itu, rumahnya digempur jet tempur pemerintah Suriah. Guevara ingin menuntut balas.

Dia mengatakan, sangat ingin membunuh para tentara Suriah di kotanya. "Saya suka berperang. Ketika saya melihat teman saya di katiba (salah satu divisi pemberontak) terbunuh, saya ingin mengambil senjata dan balas dendam," kata Guevara


 Posnya adalah di berbagai gedung yang telah kosong di Aleppo. Dengan senapan di tangan dan mata setajam elang, Guevara membidik calon korbannya.

Guevara mengatakan dia telah menembak sedikitnya empat atau lima orang tentara. "Ini membuat kami senang. Ketika tembakan saya mengenai salah satu dari mereka, saya teriak 'Yes!'," kata dia.

Wanita cantik ini berasal dari Palestina dan pernah menjalani latihan militer yang digelar Hamas di Lebanon. Dia bahkan tergabung dengan partai bawah tanah warga Palestina untuk menggulingkan Bashar al-Assad.

Pernikahannya dengan suaminya yang pertama gagal karena dia menganggap lelaki itu kurang militan. Dia juga mengancam meninggalkan suaminya yang baru, seorang komandan brigade tempur pemberontak, jika tidak diizinkan terjun berperang.

Dia pernah melihat lebih dari 100 mayat dalam beberapa bulan terakhir. Dia sendiri sering bersinggungan dengan malaikat maut. Salah satunya saat sebuah bom meledak dekat mobil yang dikendarainya beberapa waktu lalu.


Video-video para sniper wanita di Suriah



فضيلة الحمل بالجنين
[ Indonesia - Indonesian - إندونيسي ]





Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid
محمد صالح المنجد



Penterjemah: www.islamqa.info
Pengaturan: www.islamhouse.com

ترجمة: موقع الإسلام سؤال وجواب
تنسيق: موقع islamhouse


2013 - 1434

KEUTAMAAN MENGANDUNG

Saya ingin mengetahui keutamaan mengandung dalam Islam. Dan ibadah apa saja yang dinasehatkan untuk dilakukan oleh wanita disela-sela masa mengandung. Apakah shalatnya orang hamil itu mendapatkan pahala yang lebih besar dibandingkan shalatnya orang yang tidak hamil?
Alhamdulillah
Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang mengandung dan melahirkan itu termasuk tujuan agama yang dicintai di sisi Allah. Yaitu memperbanyak keturunan yang bertauhid dari kalangan umat Islam dan pengikut Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Inilah niat yang paling penting dimiliki para wanita ketika mengandung.
“Dari Ma’qil bin Yasar berkata, seseorang datang kepada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dan bertanya,
إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ ، وَإِنَّهَا لا تَلِدُ ؛ أَفَأَتَزَوَّجُهَا ؟ قَالَ : لا !!  ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ .  ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ :  تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ  (رواه أبو داود، رقم 2050 والنسائى، رقم 3227 و صححه الألباني )
 ‘Saya mendapatkan seorang wanita yang kaya dan cantik. Akan tetapi dia tidak melahirkan (mandul). Apakah saya nikahi? (Beliau) menjawab; ‘Tidak.' Kemudian ada orang kedua mendatanginya, kemudian beliau melarangnya. Kemudian datang orang ketiga, maka beliau bersabda: ‘Nikahilah (wanita) yang  mempunyai penuh kasih sayang dan yang banyak melahirkan. Karena sunguh Aku bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lain.’ (HR. Abu Daud, 2050, Nasa’i, 3227 dan dishahihkan oleh Al-Albany)
Karena maksud yang telah kami sebutkan tadi, maka ketika mengandung dirasakan berat menanggung beban, terdapat berbagai manfaat yang kebaikannya kembali kepada ibunya. Di antaranya adalah,
1. Persiapan jiwa dan ilmu dalam proses tarbiyah. Dimana ia termasuk yang paling penting dan paling sulit prosesnya secara umum. Berniat dalam mendidik anak dalam akhlak dan agamanya karena Allah Ta’ala semata. Berharap agar ditulis pahala dan balasan oleh Allah dengan amalan anaknya yang shaleh dan agar menjadi shadaqah jariyah setelah kematian (kedua orang tuanya). Sehingga keduanya mendapatkan pahala yang agung yang hanya Allah saja mengetahuinya.
2. Kesulitan yang dialami oleh ibu hamil, baik letih, sakit, gangguan kesehatan, kejiwaan, materi pada waktu yang banyak. Kesemuanya itu  -insyaallah- ada pahala dan balasan yang dicatat untuk wanita hamil. Seorang hamba muslim akan diberi pahala oleh Allah pada semua musibah yang menimpanya di dunia, hingga duri yang mengenainya, Allah akan hapuskan dosa-dosanya. Maka sakit yang saat  melahirkan dan saat hamil, lebih agung dan lebih besar.
3. Bahkan kalau sekiranya Allah takdirkan wanita ini meninggal dunia karena melahirkan, maka dia meninggal dalam kondisi syahid. Ini sebagai dalil akan keutamaan kondisi seperti itu (hamil). Nabi sallallahu’alahi wa sallam bersabda:
وَالمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمعٍ شَهِيدة (رواه أبو داود،  رقم 3111،  و صححه النووي فى شرح مسلم 13/62)
“Dan wanita yang meninggal dunia karena melahirkan itu syahid.’ (HR. Abu Daud, 3111, dishahihkan oleh An-Nawawi di Syarh Muslim, 13/62)
Kedua,
Adapun terkait dengan ibadah yang memungkinkan untuk dilakukan ibu hamil adalah semua bentuk ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim dalam sehari semalam. Baik shalat, puasa –selagi tidak khawatir kepayahan- shadaqah, tilawah Al-Qur’an Al-Karim, menjaga zikir syar’i, berbuat baik kepada orang, mengunjungi kerabat, mawas diri serta meningkatkan hubungan dengan akhlak, baik perbuatan maupun ucapan.
Di antara perkara terpenting yang selayaknya seorang wanita curahkan dan memberikan perhatian  pada waktu seperti ini adalah belajar metode tarbiyah yang baik, membaca buku-buku spesialis pada bidang ini, atau mendengar ceramah bermanfaat dari para pakar pendidikan. Baik dari sisi tarbiyah akhlak, kesehatan kejiwaan maupun akademis. Hal itu sebagai persiapan untuk mengembang misi nan agung yang Allah bebankan kepada kedua orang tua. Yaitu amanah pendidikan dan pemeliharaan. Sehingga kedua orang tua melakukannya dengan bekal ilmu dan pengetahuan. Merealisasikan dengan hasil terbaik. Sehingga keduanya mendapatkan keredhaan Allah di dunia dan akhirat.
Adapun ibadah atau zikir khusus untuk wanita hamil, yang kami ketahui tidak ada sesuatu pun dalam ajaran Islam tentang hal itu.
Terakhir kali, kami ingin memberikan peringatan disini terkait dengan sebagian hadits yang menunjukkan bahwa istri yang mengandung akan mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa, melakukan (jihad) di jalan Allah, dan mendapatkan pahala banyak lainnya bagi yang melahirkan, menyusui dan menyapih. Semua itu adalah hadist palsu dan bohong. Tidak dihalalkan meriwayatkan dan menyebarkannya kecuali hanya untuk mengingatkan (agar berhati-hati). Telah disebutkan dalam website kita sebagiannya di jawaban no. 121557.
Wallahu’alam .

Hal ini memang menjadi polemik dan memang merupakan permasalah fikih kontemporer. Ada pro-kontra dalam permasalahan ini, baik dari segi kemanusiaan dan tinjauan syariat. Berikut beberapa fatwa ulama mengenai hal ini. Pemeriksaan keperawanan sebelum menikah
Terdapat fatwa yang melarang hal ini karena menimbang mashlahat dan mafsadahnya. Salah satunya karena bisa menimbulkan kecurigaan dan mengawali pernikahan dengan rasa setengah tidak percaya dengan calon pasangannya. Sehingga bisa berdampak negatif dalam menjalani rumah tangga selanjutnya.
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi)
Pertanyaan:

أنا فتاة مسلمة وأتواجد بفرنسا، من فضلكم أود أن أعلم ما حكم الذهاب لطبيبة للتأكد من أنني عذراء لطلب من خطيبي مع العلم أن الطبيبة ليست مسلمة.
شكرا
Saya seorang pemudi muslimah di Prancis, saya ingin tahu hukum pergi ke dokter wanita untuk memastikan bahwa saya masih perawan karena permintaan calon suami saya, perlu diketahui bahwa dokter tersebut bukan dokter muslimah. Terima kasih.
 Jawaban:
لحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
فكشف العورة بين غير الزوجين من المحرمات التي يجب على المسلم الحذر منها، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: احفظ عورتك إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك. رواه الترمذي وغيره.
وعورة المرأة مع المرأة ما بين السرة والركبة، ويشتد ذلك إذا كان في الفرج، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ولا تنظر المرأة إلى عورة المرأة. رواه مسلم.
وقد استثنى العلماء من هذا ما دعت إليه ضرورة كالعلاج، قال الكاساني: ولا يجوز لها أن تنظر ما بين سرتها إلى الركبة إلا عند الضرورة بأن كانت قابلة فلا بأس لها أن تنظر إلى الفرج عند الولادة. ا.هـ
وما ذكرته السائلة لا يدخل ضمن الضرورة المبيحة للكشف، وبالتالي لا يجوز لها فعل ذلك ولو كان بقصد الزواج
Membuka aurat selain suami-istri termasuk yang diharamkan , wajib bagi setiap muslim memperhatikannya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“jagalah auratmu kecuali dari istri dan budak-budak wanitamu” (HR. Tirmidzi dan lainnya)
Aurat wanita dengan wanita yang lain adalah antara pusar dan lutut, apalagi jika itu adalah kemaluan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lainnya” (HR. Muslim)
Maka hal ini (pemeriksaan keperawanan) tidak boleh baginya.
Sebagian ulama mengecualikan (membuka aurat) jika ada kebutuhan darurat seperti pengobatan, berkata Al-Kasani,
“Melihat antara pusat (wanita) dan lututnya kecuali ketika darurat, jika ia seorang bidan maka tidak mengapa melihat kemaluannya ketika melahirkan”
Dan apa yang disebutkan oleh penanya bukanlah termasuk darurat yang membolehkan dibukanya aurat. Tidak boleh baginya melakukan hal ini walaupun dengan tujuan menikah.[1]
 Kemudian dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah yang lain dijelaskan:

ثم إنا ننبه إلى أن البكارة ليست من شروط الزواج، كما أنه يتعين على أبوي الفتاة حماية دينها وعرضها ووقايتها من النار بتعليمها أمور دينها وحملها على العفة والبعد عن جميع ما يخدش عفتها وعرضها، وأما الاتكال على فحص البكارة فإنه لا يجدي شيئا؛ إذ قد تفقد الفتاة عذريتها بسبب عارض كوثبة، أو باغتصاب لا دخل لها فيه، أو بتكرار اندفاع الحيض بشدة أو غير ذلك، وفي الحالة هذه لا يجوز للمجتمع ظلمها ولا اتهامها بالسوء، ولا يجوز لزوجها أن يتهمها بالشر، ولا خيار له في فراقها بسبب فقدان البكارة إن لم يكن اشترط عذريتها عند الزواج،
وبناء عليه، فإن هذه الفحوص لا تحل المشكلة، وقد نص الفقهاء على أنه لا يجوز لأولياء البنت أن يذكروا سوابق أخلاقها السيئة فقد نهى عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن ذلك.
Kemudian kami mengingatkan bahwa keperawanan bukanlah syarat pernikahan.  Sebagaimana wajib bagi kedua orang tua gadis menjaga agama dan kehormatannya,menjaganya dari neraka dengan mengajarkannya ilmu agama dan menjaga kehormatannya serta menjauhkan dari apa bisa merusak kemuliaan dan  kehormatan.
Adapun bersandar dengan pemeriksaan keperawanan tidak menjamin. Karena seorang gadis kehilangan keperawanan dengan sebab tertentu seperti melompat (kemudian jatuh), pemerkosaan atau berulang tertahannya haidh dengan keras atau yang lainnya. Dalam keadaan ini tidak boleh bagi masyarakat mendzaliminya dengan tuduhan yang jelek, tidak boleh bagi suaminya menuduh dengan tuduhan yang jelek. Tidak ada pilihan (hak) baginya untuk berpisah (menceraikan) karena sebab tidak perawan kecuali ia mempersyaratkan istri harus perawan ketika akan menikah.
Berdasarkan hal ini maka pemeriksaan ini (pemeriksaan keperawanan) tidak memecahkan masalah. Ulama telah menegaskan bahwa tidak boleh bagi wali wanita menyebutkan kelakuan-kelakuan jelek wanita tersebut sebelumnya, Umar bin Khattab telah melarang hal tersebut.[2]
 Fatwa yang membolehkan ketika ada kebutuhan mendesak
Ada juga ulama yang membolehkan ketika ada kebutuhan mendesak, misalnya suami yang tidak percaya kepada istrinya, sedangkan istri berkeyakinan ia masih perawan. Dan mereka sudah menikah (bukan pemeriksaan sebelum menikah). Maka untuk lebih melegakan hati suami dan mempertahankan rumah tangga, maka boleh dilakukan pemeriksaan keperawanan.
Pertanyaan:
السؤال : هل يجوز لنا أن نقوم بامتحان روتيني لإثبات العفة ؟؟؟
Bolehkah bagi kami melakukan pemeriksaan untuk memastikan keperawanan?
jawaban:
الجواب : ( الحمد لله ، إذا كان المراد إجراء كشف طبي لإثبات البكارة فلا بأس به عند الحاجة إليه بطلب الزوج ، لا سيما عند التهمة وقد يتعين ذلك إذا لم يكن وسيلة سواه ) ( الشيخ : عبد الكريم الخضير
Alhamdulillah, jika tujuan dari pemeriksaan kedokteran tersebut untuk memastikan keperawanan, maka tidak mengapa jika ada kebutuhan misalnya permintaan suami. Lebih-lebih jika terjadi tuduhan dan harus melakukan hal tersebut jika tidak ada sarana pemeriksaan yang lain. (Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair)[3]
Demikianlah mengenai hal ini, maka hukumnya dirinci, harus mempertimbangankan mashlahat dan mafsadat serta memaparkan keadaan-keadaan yang lain kepada ulama/ustadz yang berilmu sehingga bisa diambil kesimpulan hukum yang mungkin berbeda dalam setiap kasus individu tertentu. wallahu a’lam.
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber : http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=46607

LONDON -- Pascahijrah menjadi seoarang muslimah, Jayne Kemp giat mempelajari ajaran Islam.

Ketika mendalami ajaran Islam, Jayne melihat ada satu hal yang membuatnya termotivasi. Ia berpikir untuk ambil bagian dalam usaha meluruskan kesalahpahaman tentang Islam dan muslim.

Karenanya, ia tidak mau membuang waktu memberikan sumbangsihnya.

"Aku berharap bisa membantu umat Islam meluruskan kesalahpahaman," kata dia seperti dinukil dari onislam.net, Jumat (1/2).

Jayne mengungkap profesinya sebagai satuan tugas pendukung kepolisian, memungkinkannya berhubungan dengan banyak orang.

Untuk itu, ia memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat.

"Dengan profesiku sebagai aparat keamanan, tentu secara langsung mengubah stereotip tentang Islam," kata Jayne yang memutuskan memeluk Islam pada April tahun lalu itu.

Usai mendalami Islam pada April tahun lalu, Jayne Kemp memutuskan memeluk Islam.

Kini, petugas pendukung Kepolisian yang biasa beroperasi di Eccles, Salford, Inggris itu masih aktif berpatroli. Tapi setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mulai menggenakan jilbab.

Perubahan itu memang mengejutkan banyak pihak. Namun, Jayne dengan lemah lembut coba memberikan penjelasan kepada Keluarga dan lingkungannya.

"Awalnya, aku khawatir dengan apa yang dipikirkan keluarga dan lingkungan. Tapi Alhamdulillah, mereka sangat pengertian," katanya seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Menurut Jayne keluarga dan lingkungannya sangat mendukung apa yang diputuskannya. Bagi mereka, selama itu pilihan dan bukan paksaan, maka tidak ada masalah dengan hal itu.

"Adikku bahkan mengatakan diriku sangat bahagia, jauh lebih bahagia dengan sebelumnya," ungkapnya.

Kendati telah diterima menjadi muslim, Jayne tidak berniat memaksakan ajaran Islam kepada kedua anaknya.

"Aku serahkan putusan itu kepada mereka," sebut dia.

Sumber : ROL
Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Karta Raharja Ucu


Muslimahzone.com -  Bila Allah menghendaki, Allah akan membuka hati seseorang untuk berlapang dada menerima Islam. Dan tak ada yang dapat menghalangi Kehendak Allah Subahanahu wa Ta'ala.
Hidayah Islam telah menyapa seorang wanita yang memiliki pekerjaan sebagai perwira polisi Amerika Serikat (AS) di Detroit. Dalam sebuah wawancara di Youtube pada  September 2011, ia menceritakan bagaimana ia memeluk Islam. Berikut adalah singkat cerita tentangnya yang diterjemahkan dari trasnkrip Onislam.
***
Assalamu'alaykum, Namaku Raquel. Aku masuk Islam sepekan yang lalu. Aku adalah seorang perwira polisi di kota Detroit. Aku bekerja di sana dari 1996 hingga 2004, dan aku ditembak pada tahun 2002. Aku ditembak ketika sedang bekerja pada pekerjaan itu. Aku hampir meninggal dan aku tahu bahwa aku memiliki sebuah awal baru dan sebuah hidup baru.
Aku agaknya tidak tahu bagaimana untuk mengikuti Tuhan. Aku hanya tidak tahu agama apa untuk diyakini hingga aku bertemu beberapa teman Muslim yang benar-benar berbicara padaku dan menjelaskan banyak hal kepadaku. Hal itu sangat mengubah hidupku dan aku tidak takut mati lagi.
Satu-satunya hal adalah kita untuk takut kepada Allah dan kita tidak pernah tahu kapan hari berikutnya bagi kita, jadi lebih baik kita mengatakan Syahadat sekarang dan memiliki iman itu, karena hanya ada satu Tuhan, dan aku tahu itu.
Aku benar-benar hampir mati, dan jika aku telah mati pada hari itu, aku tidak tahu apakah aku akan pergi ke Neraka atau tidak. Tetapi sekarang, aku telah memiliki kepercayaan diri dan kedamaian serta kebahagaian yang aku tahu kemana aku akan pergi jika sesuatu terjadi padaku hari ini.
Sebelum aku menjadi Muslim, aku benar-benar tidak memiliki pendapat yang kuat sejauh ini tentang umat Islam. Aku bukan seorang yang pro-Muslim atau anti-Muslim atau apapun semacamnya. Aku selalu menjadi tipe orang yang seperti itu, aku benar-benar open-minded (berpikiran terbuka). Dan itu adalah satu hal yang sangat berbeda tentangku dari keluargaku, bahwa aku sangat open-minded dan aku menghormati orang-orang atas apa yang mereka yakini.
Aku sebenarnya marah dalam pekerjaanku sebagai seorang polisi karena orang-orang menyerang Muslim di Detroit atas kesalahan yang tidak ada alasannya sama sekali, terutama setelah serangan 9/11.  Dan itu sangat menyakiti hatiku untuk melihat semua ini dan benar-benar setelah itu aku menjadi sangat tertarik dengan keyakinan Islam setelah 9/11 karena aku sangat terganggu oleh hal-hal yang aku lihat sebagai petugas polisi di jalanan.
Menjadi Seorang Muslim Baru di Las Vegas
Raquel yang kemudian tinggal di Las Vegas sebagai seorang Muslim yang baru, berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam dan berusaha menunjukkan sikap baik seorang Muslim.
Aku di sini di Las Vegas di Masjid ku dan aku memberikan beberapa pakaian kepada orang-orang yang membutuhkan. Apa yang kita lakukan adalah hanya meninggalkannya di atas meja untuk mereka dan mereka datang serta berharap mereka dapat mendapatkan sesuatu yang mereka sukai. Jadi aku hanya pergi untuk meninggalkan pakaian-pakaian untuk lingkungan sekitar dan mereka dapat mengambil apa yang mereka butuhkan, dan berharap ada beberapa sweater yang bagus di sini yang mereka dapat gunakan karena di Vegas cukup dingin.
Sebagai seorang wanita yang baru saja menjadi Muslimah sepekan (ketika itu), Raquel masih belum lancar mengucapkan do'a-do'a atau surat yang harus ia baca ketika shalat. Sehingga ia membaca dari kertas apa-apa yang harus ia baca (yang telah ia salin ke dalam tulisan latin) ketika shalat. Ia hanya belajar melalui internet dengan mendengarkan audio, kemudian ia mencari kalimat yang bertuliskan latin dan terjemahan bahasa inggris. 
Aku tahu bagi beberapa orang mungkin berkecil hati untuk belajar bahasa baru. Pada dasarnya ini adalah sebuah budaya. Ini (Islam) bukan hanya sekedar agama, ini adalah jalan hidup. Bagiku, ini tidak menakutkan. Hanya saja bahwa aku ingin belajar lebih cepat dan aku ingin bisa melakukannya sendiri. Tetapi sulit karena aku di rumah sendiri dan aku belajar hampir semuanya melalui internet, bahkan bagaimana aku mengikat (memakai) kerudungku dan segalanya. Aku harus belajar semuanya sendiri. Tetapi ini telah menjadi pengalaman sangat indah dan ada banyak kedamaian padanya dan banyak kebahagiaan yang kalian tidak pernah pelajari dan mendapatkannya. ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa!
Aku sepenuhnya tahu bahwa aku melakukan hal yang benar. Aku telah mempertimbangkannya selama dua tahun. Aku memiliki banyak teologi dan pengetahuan tetapi aku belum pernah mengalaminya. Akut tidak pernah pergi ke sebuah Masjid dan tidak juga berpengalaman, tetapi aku memiliki banyak teman Muslim dan bahkan aku memilik seorang teman kerja Muslima di pasukan kepolisian yang menjelaskan (tentang Islam) banyak kepadaku.
Dalam video itu, Raquel melakukan sholat dengan membaca bacaan-bacaan sholat dengan masih terbata-bata, namun ia terlihat menikmatinya.
Ketika aku sholat, meskipun aku tidak begitu mengerti do'a-do'a itu, apa yang aku lakukan ada di internet, aku mengetahui beberapa situs di mana setelah ada bahasa Arabnya, aku akan mendapatkannya dalam bahasa Inggris (tulisan latin) juga. Jadi aku akan membacanya dalam versi Inggris (maksudnya dalam tulisan latin -red) dan ini begitu kuat dan aku merasa dilindungi, dan aku tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang harus aku takutkan kecuali Allah. Sangat menyenangkan. Ini baru dalam hidupku dan aku baru saja mengenal kedamaian dan sebuah kebahagiaan baru yang datang padaku.
Hal yang paling utama yang aku sukai tentang Islam adalah aku benar-benar tertutup (menutup tubuh), aku lakukan. Jujur saja aku benar-benar menikmatinya, terutama di sini di Las Vegas karena para pria melihat kepada wanita dengan sangat menyeramkan dan aku benar-benar merasa aman. Satu hal lainnya yang aku suka adalah bahwa aku belajar banyak. Aku belajar banyak dan aku senang belajar. Dan aku selalu yakin bahwa kehidupan adalah sebuah pengalaman belajar. Dan aku sangat mencintai tentang ini (Islam), aku belajar sesuatu yang baru setiap hari.
Ada banyak kedamaian dan banyak kebahagaiaan yang aku tidak pernah rasakan sebelumnya.
(muslimahzone.com)

Masih ingat Nella Regar? Artis yang pernah beken menemani Rano Karno bernyanyi pada tahun 1980-an telah berhijrah. Ia menutup tubuhnya dengan busana Muslim. ''Saya kini lebih tenang,'' katanya saat dihubungi beberapa hari lalu. Sudah sekian lama ia berbaju panjang plus jilbab dan berharap tetap teguh dengan pendiriannya. ''Makanya saya terus berdoa.'' Untuk memperteguh niatnya, ia menghadiri berbagai pengajian termasuk pengajian artis Arafah bersama Nia Daniati dan Ismi Azis. Ia duduk sebagai bendahara Yayasan Arafah.
Direncanakan tak jadi. Tak direncanakan malah direstui. Begitu cerita dia tentang niatnya memakai busana Muslim. Ia pernah mencoba berbusana Muslimah tahun 1997. Kala itu ia baru saja pulang umrah. ''Waktu itu mungkin niat saya belum kuat. Belum istiqamah,'' ujarnya. Maka setelah 40 hari, ia melepasnya.

Tahun 2001, ia tak punya rencana. Namun dorongan untuk berbusana Muslim makin kuat. Ia pun mengemukakan niatnya berkerudung kepada suaminya Faizal Ridha. Suaminya mengizinkan. Tapi, katanya, untuk even tertentu ia diminta melepas kerudungnya. Nella merasa suaminya belum ikhlas. Maka ia konsultasi dengan guru ngajinya. Kepada Nella, sang ustadz mengatakan istri memang harus tunduk pada suami. Tapi untuk menutup aurat, perintah datang dari Tuhan. Sebagai hamba, ia harus patuh. Nella masih belum berani melakukannya.

Dia pun masih membeli dua baju dengan potongan agak seksi. Warnanya biru dan ungu. Dua hari kemudian, anaknya Muthia Khansa (ketika itu berusia 6 tahun) harus menghadiri pesta ulang tahun di Mc Donalds Pondok Indah. Sore hari, katanya, ia mulai bersiap. Baju biru yang baru saja dibeli sudah ia letakkan di tempat tidur. Putrinya menunggu. Namun setelah mandi dan berhias, ia malah menuju lemari. Tanpa sadar, katanya, ia mengambil baju panjang dan memakai jilbab. Bukan selendang sebagaimana ia kenakan. Baju birunya ia biarkan tergeletak.

Putrinya yang duduk di SD Al Izhar Pondok Labu heran. Ia menyangka ibunya hendak pergi ke pengajian. Padahal, Khansa membujuk untuk hadir di ulang tahun. Dengan busana Muslim itu ia datang ke Pondok Indah. Rekannya sesama ibu menanyakan apakah ia hendak ke pengajian. Lagi-lagi ia menganggukkan kepala. Telanjur sayang. Ia tak mau lagi melepas kerudungnya. Ternyata suaminya malah mendukung. ''Malah sekarang ia selalu mengingatkan jika baju saya agak ketat.''

Busana Muslim memang bertolak belakang dengan dunia selebritis. Ia harus menutup aurat sementara tuntutan dalam dunianya adalah glamour dan seksi. Namun ia telah bersikap. Ibu dari Muthia Khansa dan Mohammad Riza Irsyad Billah ini nyaris meninggalkan dunianya terdahulu. ''Ya, 75 persen, saya jadi ibu rumah tangga.'' Hanya sesekali ia menerima tawaran menyanyi. Itupun jika ia diizinkan berbusana Muslim. Begitu juga dengan sinetron.

Beberapa waktu lalu ia ditawari main sinetron. Ia datang untuk negosiasi. Setelah selesai, ia minta diperlihatkan kostum. ''Saya ingin melihat warnanya agar bisa menyiapkan jilbab yang sesuai.'' Ternyata kru sinetron mengatakan ia harus melepas kerudungnya. Padahal, katanya, dalam sinetron ia berperan sebagai dosen. Busana, katanya, tak terlalu masalah. Tapi produser menginginkan lain. Ia pun mengundurkan diri. ''Tokohnya memang lain, tapi tubuhnya kan tetap saja Nella Regar,'' tegasnya.

Kini, mimpinya adalah membuat album lagu-lagu Islam. ''Saya ingin punya lagu yang bagus dan sarat nuansa keimanan.'' Namun ia yakin itu tak mudah. Lagu rohani tak telalu komersil hingga tak banyak produser yang melirik. Tapi, rizki memang kuasa Tuhan. Setelah berkerudung, ia malah menemukan peluang bisnis. Dari padu-padan busana, ia mulai menciptakan model busana yang akan dikenakan. Belakangan banyak yang menanyakan pakaiannya. Dengan penjahit kepercayaan, ia pun memulai bisnis busana Muslim. Khansa by Nella Regar namanya. ''Promosinya dari mulut ke mulut.''

Bagaimana dahsyatnya kekuatan doa dan shalat? Tanyakan pada penyanyi Ita Purnamasari. Istri dari musisi Dwiki Dharmawan ini akan bertutur panjang hebatnya kekuatan doa dan shalat. Penyanyi yang lebih dikenal sebagai rocker wanita ini, kini dalam setiap aktivitasnya tak akan bisa lepas dari doa dan shalat. Ceritanya bermula ketika ia dan sang suami berbulan madu kedua di Australia Maret 1997 silam. Ita yang dinikahi Dwiki 23 Oktober 1995, sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun "kosong", Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan. Untuk itu keduanya jalan-jalan ke Australia.
Alih-alih menikmati pesiar berdua, Ita justru mengalami diare hebat, akibat salah makan. Tiga hari ia terbaring di negeri kanguru itu. Jadwal jalan-jalan dibatalkan dan mereka kembali ke Tanah Air.

Ia meneruskan berobat di Jakarta. Dokter menvonisnya terkena radang usus. Namun hasil pencitraan ultrasonografi (USG) menunjukkan hasil yang berbeda. Ditemukan massa berukuran 5 X 6 cm di dalam hatinya. "Daging itu harus segera diambil. Itu semacam tumor atau bahkan kanker," ujar Ita menirukan sang dokter.

Perempuan kelahiran Surabaya 15 Juli 1967 ini panik. Ia jarang sakit. Dihadapkan ke meja operasi membuatnya sangat tersiksa. Ia meminta deteksi yang lebih canggih lagi, CT scan. Hasilnya, memang lebih akurat: tumor itu besarnya melebihi perkiraan USG! ntuk menenangkan diri, Itu memilih pulang ke Surabaya agar bisa dekat dengan sang ibu Hj Diah dan ayah H Soekarmeni. Kebetulan sejak menikah, ia jarang pulang ke Surabaya.

Di kota kelahirannya itu, ia diantar orang tuanya menemui dokter yang pernah menangani abses di livernya ketika remaja dulu. Massa di hatinya itu tepat berada di bekas absesnya. Sang dokter pun merujuknya ke koleganya di sebuah rumah sakit besar di Singapura.

Berangkatlah Ita dan suaminya ke negeri jiran itu. Mereka bahkan menyewa flat untuk tinggal, karena pengobatan diperkirakan memakan waktu.

Sebelum dioperasi, dokter di Singapura menyarankan untuk menjalani pencitraan MRI (magnetic resonance imaging scan). Ia diwajibkan berpuasa mulai pukul 21.00 waktu setempat. Malam itu pula Dwiki mengajaknya shalat dan berdoa kepada Allah. "saya sambil menagis berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk, minta disembuhkan. Saya berdoa jangan sampai kena penyakit yang membahayakan,'' kisah Ita.

Untuk menjalani tes, prosedurnya sangat rumit. Ia harus menandatangani surat yang menyebutkan tidak dalam keadaan hamil, karena kalau hamil pihak rumah sakit tak akan bertanggung jawab. Yakin tidak sedang hamil, ia pun teken. Namun hasil tes urin berkata sebaliknya: ia hamil.

Giliran dokternya yang kelabakan. Usia kehamilannya sudah lima pekan. Kalau pengobatan diteruskan, artinya Ita harus merelakan janinnya diaborsi. Ita disuruh membuat pilihan.

Ia meminta operasi ditunda. Shalat istikharah pun dilakukannya. ''Malam itu saya shalat dalam keadaan lelah jiwa dan raga," lanjutnya. Dwiki selalu menberikan semangat padanya.

Pagi hari putusan itu diambil. Mereka sepakat untuk pulang ke Jakarta. Hari-hari Ita dihabiskannya di atas sajadah. Di suai kehamilannya yang kedua bulan, ia memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang sama di Singapura. Hasilnya, janinnya sehat.

Ia sejenak melupakan penyakitnya, dan berkonsentrasi pada kandungannya. Sembilan bulan kemudian, tepatnya tanggal 4 Desember 1997, buah hatinya, Fernanda, dikeluarkan melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa. Ia dan Dwiki tak henti-hentinya mengucap syukur.

Dua bulan setelah melahirkan, ia kembali mendatangi dokter livernya. Deteksi dilakukan lagi. Ia pasrah dengan apapun hasil USG dan CT scan yang dilakukan berturut-turut.

Namun Allah berkehendak lain. Massa di dalam hatinya yang tadinya besar itu telah mengecil dan kering. Pemeriksaan lain menunjukkan, massa itu hanyalah bekas asbesnya dulu yang membekas dan tampak seperti daging ketika dilakukan scanning.

''Jadi, dokter itu memastikan bahwa daging itu bekas luka lever abses tahun 1994 yang sudah sembuh tapi masih meninggalkan bekas. Dia sewaktu-waktu bisa kumat kalau saya makannya sembarangan," ujarnya. Ita meyakini, kuasa Allah lah yang membuat semuanya berbalik. "Itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami sekeluarga. Jangan pernah lepas dari shalat dan doa. Jangan pernah jauh dari Allah," ujarnya.

Ita Purnamasari :
Tanggal lahir : 15 Juli 1967
Suami : Dwiki Dharmawan
Anak : Muhammad Fernanda Dharmawan
Album : Penari Ular, Sanggupkah Aku, Selamat Tinggal Mimpi, Cintaku Padamu, Dengan Menyebut Nama Allah.
( tri/republika )

Siapa mau cantik? Semua pasti mau, kecuali kalo dia laki-laki, hehe. Allah SWT sendiri sangat mencintai kecantikan atau keindahan. Makanya seorang perempuan pasti suka lama kalo berdandan, karena dia ingin tampak cantik. Cantik di hadapan suami itu nomor satu, tapi kalo cantiknya itu untuk dipamerkan di depan umum, kayaknya mubadzir banget dech. Selain nggak dapet pahala, justru malah mendapat siksa di akhirat nanti.

Banyak yang ingin tampil cantik di depan umum, dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Apalagi banyak iming-iming kosmetik yang bisa bikin putih dan cantik. Ada juga yang rela mengorek koceknya untuk operasi plastik biar wajahnya tetap cantik. Mereka rela membayara berapapun agar tetap tampil cantik. Padahal kalo diingat, semua kecantikan itu pasti lama-lama akan pudar. Mau tahu kecantikan yang tidak akan pernah pudar? Kecantikan yang tidak akan pernah pudar itu adalah kecantikan hati. Kecantikan itu berupa ketaan pada Allah, kesederhanaan, kelembutan dan pengorbanan. Kalau lagunya Che-Bee2 itu..”kamu cantik, cantik dari hatimu”.

Dalam Surat An-Nahl (16) : 97 berbunyi : “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa telah mereka kerjakan”.

Melalui media elektronik kita bisa melihat, perempuan yang mempunyai paras cantik dan kepintaran, dipuja-puja di ajang Miss Universe. Tak dapat dipungkiri, jika beberapa remaja mengidolakan mereka. Melihat fenomena tersebut, para ibu harus menanamkan pada anak-anak mereka sejak dini, bahwa perempuan yang didamba syurga bukan mereka yang bergelar Miss Universe atau Putri Indonesia, tetapi seperti yang ada dalam sebuah hadist berikut ini:

“Wanita paling utama di surga adalah Khadijah binti Kuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imrah dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Khadijah yang tidak lelah berkorban, Fatimah yang sederhana, atau Asiyah yang halus perkataanya. Kalau di era modern ini, kita bisa melihat sosok Almarhum Ust.Yoyoh Yusroh atau Teh Ninih. Mereka selalu terlihat cantik dengan wajah berseri-seri. Apa rahasianya? Tidak lain adalah karena mereka selalu taat pada Allah SWT, tidak lepas dari berinteraksi dengan Al Qur’an, selalu rajin beramal sholeh, makan makanan yang halal dan sehat, serta berolahraga. Itulah sebenarnya kecantikan yang tidak akan termakan usia dan akan terbawa sampai akhirat kelak, menyinari wajah kita ketika berjumpa dengan Allah SWT.

Okelah kalo kita mau tetap cantik wajah kita atau penampilan kita dengan perawatan wajah dan tubuh. Namun jangan dilupakan untuk tetap melakukan perawatan akhlaq kita dengan akhlaq yang Islami.

Oleh : Dhew  Tatsbita

14.19

Sebuah komunike dikeluarkan oleh Departemen untuk urusan tawanan Palestina bahwa pendudukan Zionis Israel dalam periode terakhir melakukan serangan yang targetkan terfokus pada psikologis para tawanan perempuan, termasuk pemukulan, penyiraman dengan gas, dan pelecehan terhadap kehormatan perempuan. Semua ini merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan bertentangan dengan semua konvensi internasional dan kemanusiaan. Sehingga, Departemen untuk urusan tawanan Palestina menuntut untuk memberikan tekanan pada Zionis Israel agar membebaskan semua tawanan perempuan.
Dalam komunike itu dijelaskan bahwa dari 45 tawanan perempuan, tiga di antaranya adalah anak di bawah umur, usia mereka kurang dari delapan belas tahun. Mereka hingga kini masih berada dalam penjara Hasharon dan Damon. Mereka itu termasuk di antara tujuh ratus perempuan yang diculik selama berlangsungnya Intifada Al-Aqsa. Dijelaskan juga bahwa pendudukan Zionis Israel telah menculik hampir sepuluh ribu tawanan perempuan sejak tahun 1967.
Komunike itu memperingatkan bahwa salah seorang tawanan perempuan yang masih di bawah umur itu sering menghadapi tindakan percobaan pelecehan seksual. Hal ini terungkap melalui pengakuan para tawanan perempaun kepada para pengacara dari Departemen untuk urusan tawanan Palestina dalam kunjungannya yang terakhir, serta berbagai penderitaan lain yang dialami oleh para tawanan perempuan pada umumnya.
Penyiksaan Sistematis
Dalam komunike itu dikatakan bahwa intelijen Zionis Israel tidak membedakan antara tawanan laki-laki dan tawanan perempuan. Sebab, tawanan perempuan pun juga menghadapi pemukulan, penghinaan, intimidasi, dan perlakuan kejam. Sebagaimana pada unit tentara Zionis Israel tidak disertai dengan seorang tentara perempuan yang akan bertugas untuk menangkap kaum perempuan.
Dalam komunike itu dipaparkan kesaksian seorang tawanan perempuan, Qahirah Saadi, seorang ibu dari empat anak. Ia telah dijatuhi hukuman seumur hidup sebanyak tiga kali, di samping dijatuhi hukuman selama tiga puluh tahun. Ia mengatakan bahwa selama dalam penjara para tentara Zionis Israel, ia sering dipukuli, dicaci, dan dilecehkan dengan derbagai bentuk penghinaan, dengan menyebutnya sebagai perempuan keji dan kotor.
Ia mengatakan bahwa setelah ia ditangkap oleh tentara Zionis Israel, maka ia pun dipukuli dengan popor senapan, diinterogasi dalam keadaan telanjang, ditempatkan di tempat menakutkan selama beberapa hari sambil tangan dan kaki diikat pada kusi dalam sebuah ruang tahanan yang sepi dan sunyi. Tempat ini merupakan pusat interogasi para kepala sipir penjara yang ada di Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki Zionis Israel.
Saadi juga menjelaskan bahwa kemudian ia dipindahkan ke penjara bawah tanah yang tanpa cahaya, sangat lembab sekali, dan penuh dengan kecoak, serangga dan juga tikus. Ia dimasukkan dalam penjara bawah tanah ini selama sembilan hari.
Penderitaan Terus Berlanjut
Menurut komunike itu, para tawanan perempuan mengadukan tentang kondisi dalam penjara. Mereka menjelaskan bahwa mereka diperlakukan sangat kasar dan kejam. Mereka hidup dalam kondisi yang tak tertahankan termasuk aspek-aspek hidup dan psikologis oleh tindakan-tindakan manajemen penjara.
Mereka mengeluhkan bahwa hidup sangat berdesak-desakan di dalam ruang penjara, penyebaran penyakit kulit akibat kelembaban yang tinggi, dan mereka tidak mendapatkan pelayanan pengobatan (kesehatan) yang layak dari manajemen penjara.
Komunike itu memperingatkan bahwa penderitaan bagi para tawanan perempuan yang telah menikah adalah dua kali lipat. Dikatakan tentang keadaan tawanan perempuan yang dibebaskan, Khawlah Muhammad Zitawi, yang ditahan setelah suaminya, di mana ketika ditahan ia meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil. Dan selama tujuh hari dalam penjara ia mendapatkan berbagai model penyiksaan psikologis dan fisik.
Menurut sebuah pernyataan yang disertai dengan kutukan kepada Zionis Israel dari seorang perempuan yang pernah merasakan kejamnya penjara Israel. Ia berkata: “Saya ditempatkan di ruang sepi dan menakutkan sendirian di atas kursi. Kedua tangan saya diborgol ke belakang selama berjam-jam. Kemudian saya diinterogasi dengan alat pendeteksi kebohongan beberapa kali, dan pada saat diinterogasi itu saya pingsan. Sehingga, tiba-tiba saya merasa bahwa saya sudah ada di rumah sakit, dengan kedua tangan dan kaki saya diborgol, dan kedua mata saya juga ditutupi.”
Zitawi mengatakan bahwa para penculik itu mengancamnya, dengan ancaman bahwa ia selamanya tidak akan pernah lagi melihat anak-anaknya setelah hari ini, kecuali ia mau mengakui apa yang dituduhkan terhadap dirinya.
Tidak Boleh Ada Kunjungan
Komunike ini juga mejelaskan tentang apa yang dianggapnya sebagai hukuman kolektif terhadap para tawanan perempuan, tawanan politik, dan keluarganya melalui rintangan dan hambatan yang diciptakan oleh otoritas penjara di depan mereka, dengan persyaratan bahwa mereka telah mendapatkan izin khusus untuk dapat mengunjungi anak-anak mereka dan kerabat mereka yang ditangkap dan dipindahkan oleh Israel ke penjara-penjara yang ada di dalam wilayah Israel.
Komunike itu menegaskan bahwa tindakan kejam dan keji ini bertentangan dengan  pasal (49) dari konvensi Jenewa tentang perlindungan warga sipil di saat perang, yang melarang pemindahan secara massal maupun perorangan terhadap warga yang dilindungi dari wilayah yang dijajah ke wilayah penjajah, maka apapun alasannya pemindahan tersebut dilarang.
Beberapa tawanan perempuan mengatakan bahwa anggota keluarga mereka tidak dapat mengunjunginya, atau bahkan berbicara kepada mereka melalui telepon sekalipun tidak diperbolehkan.
Juga tidak memberikan kepada para tawanan perempuan waktu kunjungan khusus ke rumah, sekalipun dalam situasi yang paling darurat. Sebagaimana manajemen penjara membuat berbagai aturan kepada keluarga tawanan, seperti memeriksa dengan membuka seluruh pakaian, sebelum mereka diperbolehkan untuk memasuki ruang kunjungan, dan hal yang sama juga dilakukan terhadap anak-anak.
Seruan
Departemen untuk urusan tawanan dan mantan tawanan mengeluarkan seruan dalam komunikenya, yang isinya menuntut pembebasan semua tawanan Palestina, terutama para tawanan perempuan, dan menghentikan pelanggaran terhadap mereka.
Begitu juga meminta masyarakat internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia, lembaga-lembaga dan organisasi solidaritas rakyat Palestina untuk membuat tekanan kepada otoritas pendudukan Zionis Israel supaya menghentikan pelanggaran terhadap hak-hak tawanan perempuan Palestina, yang melebihi standar dan norma-norma kemanusiaan.
Dan menyerukan perlunya memberikan dukungan sebanyak mungkin terhadap masalah tawanan perempuan untuk memperkuat keteguhan mereka selama dalam penahanan.

13.34

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(Q.s. al-Ahzab [33]: 21)

Dalam Q.s. al-Ahzab [33]  ayat 21, Allah  menegaskan tentang adanya teladan yang baik pada diri Rasulullah. Dalam segala hal, terkait dengan peri kehidupan beliau. Maka sempat tebersit dalam benak saya ketika membaca fragmen awal dari kisah hidup beliau mulai dari dilahirkan lantas disusukan kepada halimah, kemudian dikembalikan lagi kepada ibundanya (Aminah).

Sebagaimana kita ketahui lazimnya pola asuh masyarakat Mekah kala itu, seorang anak akan diserahkan kepada ibu susu untuk disusukan selama dua tahun. Dan rata-rata asal keluarga ibu susu tersebut adalah dari kampung (Badwy). Masyarakat Mekah menganggap bahwa lingkungan di kota sudah rusak dan dipenuhi dengan penyakit-penyakit masyarakat. Tetapi tentu saja, pemilihan orangtua asuh tidak dilakukan dengan sembarangan, silsilah keluarga dan track recordnya di masyarakat juga dipertimbangkan. Dengan menyerahkan pengasuhan dan penyusuan kepada para orang-orang Badwy, mereka berharap anaknya kelak akan tumbuh lebih kuat,  jauh dari pengaruh buruk pergaulan kota serta diharapkan memiliki tutur kata yang santun dan fasih, sebagaimana dimaklumkan pada waktu itu bahwa rata-rata penyair ulung Arab berasal dari orang-orang Badwy.

Aminah, Ibunda Rasulullah, sebagaimana wanita Arab pada waktu itu juga memercayakan penyusuan anaknya pada orang-orang yang datang dari kampung tersebut. Setelah menunggu beberapa waktu, dengan takdir Allah, maka dipetemukanlah ia dengan Halimah as-Sa'diyah dan suaminya, Harits. Selanjutnya, selama 2 tahun itulah bersama suaminya, Halimah membesarkan Muhammad kecil di desa Badwy. Setelah genap 2 tahun masa penyusuan, Halimah berkunjung kembali ke Mekah untuk menemui Aminah, bukan untuk mengembalikan Muhammad kecil, melainkan meminta perpanjangan waktu pengasuhan.

Barulah pada saat usia Muhammad kecil kira-kira menginjak 4 tahun, Halimah mengembalikannya kepada Aminah. Dia merasa khawatir setelah sebelumnya, Abdullah, saudara sepersusuan Muhammad, bercerita telah melihat dua orang laki-laki berjubah membelah dada Muhammad kecil. Pada saat itu, Muhammad kecil telah berkembang menjadi anak yang santun dengan tutur kata yang fasih dan akhlak yang mulia. Bahkan dua tahun setelahnya, Muhammad kecil menunjukkan kualitasnya dengan tetap sabar dan santun merawat ibundanya yang jatuh sakit di perjalanan sedari berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib, sebelum akhirnya harus menanggung kesedihan dengan meninggalnya sang ibu.

Yang saya cermati dari sekilas kisah hidup beliau ini adalah cara pengasuhan terhadap baginda Nabi Saw. Di benak saya kemudian bermunculan pertanyaan-pertanyaan: “Apakah pola asuh semacam itu—membesarkan anak di daerah yang belum banyak terkontaminasi rusaknya pergaulan kota besar—bisa juga dilakukan pada saat ini? Masihkah itu relevan? Jika iya, bagaimana teknisnya? Apakah dengan mengambil ibu asuh sebagaimana Aminah? Ataukah mengasuhnya sendiri, orangtua saja yang pindah ke tempat semacam itu? Apakah tempat itu harus di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota ataukah tempat itu bisa di mana saja, tetapi memiliki kualitas dengan kualitas dan karakteristik lingkungan yang sepadan? Apakah waktu 4 tahun—Rasulullah dikembalikan kepada Aminah pada usia 4 tahun—sudah cukup untuk menyiapkannya menghadapi kehidupan kota yang  demikian semrawut?

Saya tertarik mendalami ini, karena pada akhirnya nanti, insya Allah, jika Allah mengizinkan, tentu saya juga akan punya anak. Tulisan ini murni ingin mengajak diskusi, barangkali ada teman-teman yang juga tertarik mengetahui hal yang sama, atau memiliki pendapat tersendiri soal ini, silakan disampaikan. Dan jika kolom tanggapan di bawah ini tidak cukup, kiranya berkenan untuk dibuat postingan di blog maupun notes antum. Kemudian menyertakan tautan di bawah postingan ini.

Saya sadar bahwa setiap apa yang ada pada diri Nabi memiliki rahasianya tersendiri, maka, pola pengasuhan semacam ini, saya yakin juga memiliki keunggulan tersendiri. “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(Q.s. Al-Ahzab [33]: 21).

Wallahu a'lam.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget