Articles by "Entertainment"

Voice Of Muslim - Jakarta - Muda, cerdas, cantik, enerjik, bertemu berbagai idola dunia dan diidolakan anak muda. Itulah Kristiane Backer pada akhir 1980-an. Saat itu dia berusia 24 tahun dan menjadi VJ MTV pertama di Eropa. Namun di tengah gemerlap dunia dan karier impian anak muda, Kristiane malah merasa hampa dan merindukan hidup jauh yang lebih memberi makna. Dia pun berkelana mencari Tuhan.
 "Sebenarnya Tuhanlah yang menemukan saya. Saya justru mengalami krisis setelah menjadi presenter di MTV Eropa sekitar 2 tahun. Tekanan gaya hidup yang tinggi, bekerja dan berpesta dengan keras sudah saya alami dan saya merasa depresi walaupun mendapatkan pekerjaan impian ini," jelas Kristiane Backer saat berbincang melalui surat elektronik, yang ditulis detikcom Rabu (16/10/2013).

Saat menjadi VJ MTV Eropa, dirinya mewawancarai hampir sebagian besar selebritis idola anak-anak muda di dunia. Bila Anda menjadi remaja yang tumbuh pada kurun 1990-an, sebutkan saja idola Anda waktu itu. Mulai dari Rolling Stone, U2, Lenny Kravitz, Annie Lennox, Prince, Take That dan sederet nama musisi tenar lainnya. Bahkan, Kristiane bersahabat dekat dengan beberapa musisi idola itu.

Kristiane Backer saat menjadi VJ MTV (kristianebacker.com)
Tak cuma menjadi presenter, karena lama disorot oleh MTV yang menjadi trendsetter video klip musik hingga gaya hidup remaja, lama-lama Kristiane ikut menjadi selebriti dan idola. Kristiane menjadi saksi kehidupan musisi yang glamor, pentas dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, dipuja dan dielukan fans namun di waktu lain mendapati kesendirian di kamar hotel, minuman keras dan narkoba menjadi pelarian.

Kristiane menganalogikan kehidupan musisi dunia itu sebagai 'roller coaster emosional', yang dialaminya juga dalam skala yang kecil. Di situlah Kristiane menyadari dirinya mengalami depresi.

 Hingga kemudian, dia bertemu dengan bintang olahragawan kriket asal Pakistan, Imran Khan, yang dinilai Kristiane sebagai sosok yang 'tinggi, berkulit gelap dan tampan' pada tahun 1992. Dari situlah Kristiane sering berdiskusi tentang kehidupan dan maknanya bersama Imran. Kristiane kagum bahwa Imran yang masyhur, sukses, dan kaya, melakukan kerja amal bagi orang miskin di negerinya.

"Iman! Yakinlah pada Tuhan, lalu lakukan perbuatan baik, itu yang selalu dikatakan Alquran," demikian ujar Imran kepada Kristiane.

Kristiane lantas penasaran akan nilai-nilai agama yang dianut Imran, Islam. Kristiane yang lantas menjadi teman dekat Imran berkunjung ke Pakistan. Perjalanan itu, menurut Kristane, menggugah kesadaran spiritualnya.

"Saya dikenalkan kepada Islam bukan oleh imam yang memakai atribut relijius namun oleh bintang olahraga yang ganteng yang juga berproses mencari Tuhan dalam keyakinannya. Dia memberiku buku-buku untuk dibaca, memperkenalkan Islam yang menyentuh saya dengan kemurahan hati dan martabat dalam menghadapi kesulitan," jelas perempuan kelahiran Hamburg, Jerman, 13 Desember 1965 ini.

Saat itu Kristiane juga mengagumi musik sufi dan kesenian Islam saat mengunjungi berbagai negara yang dia kunjungi seperti Maroko, Turki dan Mesir. Mengagumi kisah Nabi Muhammad SAW, dan karya para sufi seperti Jalaluddin Rumi, Abdul Qadir Jailani dan sebagainya. Menurutnya, musik dan segala seni Islam merujuk hanya kepada 'Yang Satu'.

Kendati kemudian tak menjadi teman dekat Imran lagi, namun pencarian Kristiane berlanjut. Seperti dituntun Tuhan, Kristiane bertemu dengan sederet cendekiawan Muslim di London, termasuk diplomat Inggris yang sudah memeluk Islam lebih dulu, Gai Eaton.

Hingga akhirnya Kristiane meneguhkan pencariannya akan Tuhan dalam Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 1995 di London.

"Saya menyadari Islam itu bukan latihan akademis, jika saya ingin merasakan dan membawa Tuhan dalam hidup saya, hanya ada satu cara, bersujud di atas sajadah dan mulai berdoa," kata Kristiane.
Menjadi muslimah yang baik menjadi tantangan Kristiane berikutnya. Salah satunya dengan menjalankan puasa wajib di bulan Ramadan. Kristiane mengatakan fase ini cukup menjadi godaan terberat baginya. Dalam dunianya menjadi VJ MTV, makan enak, minum alkohol dan clubbing lumrah mewarnai.

"Saya sih oke-oke saja dengan spaghetti carbonara dan alkohol hingga Ramadan pertama saya menjadi bencana karena saya clubbing malam sebelumnya dan sangat layu keesokan harinya karena tak boleh makan-minum. Namun Ramadan berikutnya, saya tak lagi minum alkohol. Alhamdulillah," ujar Kristiane saat ditanya godaan terbesarnya pasca menjadi mualaf.

Namun perubahan besar yang dirasakannya, Kristiane kini bisa setiap saat berdialog dengan Tuhan. Melalui salat, puasa dan nilai-nilai kebaikan yang diamalkan.

"Perubahan terbesar yang saya rasakan adalah sekarang saya menjalani kehidupan saya terkait hubungan dengan Tuhan. Saya memiliki waktu berdialog khusus dengan Tuhan. Dan kekosongan yang saya rasakan sebelumnya sekarang diisi dengan Tuhan," tutur Kristiane.

Kristiane mencari guru spiritual dalam pencariannya setelah menjadi mualaf, guru yang mengajarkan agama dalam kebaikan dan kedamaian, alih-alih menyalahkan dan mengutuk. Dia lantas memilih jalan sufi mulai dari membaca buku tasawuf karya Jalaludin Rumi, Al Gazali, Abdul Qadir Jaelani hingga guru spiritual di dunia nyata atas bantuan para sahabatnya. Guru yang sekaligus cendekiawan Islam Inggris itu adalah Dr Martin Lings atau yang juga dikenal sebagai Syaikh Abu Bakar Siraj ad Din di London.

Sosok populer anak muda yang menjadi mualaf pun disorot media Eropa. Kristiane juga sempat kehilangan pekerjaan karena keputusannya menjadi mualaf. Wacana benturan peradaban antara Barat dan Islam pun selalu menjadi bahasan yang ditujukan kepadanya.

Apalagi pada saat tragedi 9/11 di AS pada 2001. Terakhir, kasus penusukan militer Inggris Lee Rigby di jalanan London pada Mei 2013 lalu. Setiap kali ada peristiwa yang menimbulkan Islamofobia, setiap kali itu pula Kristiane berbicara meluruskan keyakinan yang dianutnya.

Apakah dirinya pernah merasa begitu frustasi dan lelah setiap meluruskan pandangan orang kala peristiwa Islamofobia timbul?

"Ya tentu saja saya pernah frustasi dan sedih berkali-kali saat meluruskan tendensi Islamofobia itu," kata Kristiane menjawab detikcom.

Kristiane Backer berkampanye tentang hak-hak perempuan dalam Islam (kristianebacker.com)
 Namun di tengah lelah dan frustasi, dia langsung membuka Alquran. Saat itulah, Kristiane merasakan bimbingan Allah yang berbicara kepadanya melalui ayat-ayat yang sedang dibukanya menjadi jawaban pertanyaan yang akan disampaikannya dengan sabar. Namun tak jarang, bila dia menghadapi orang yang ngeyel dan terus menyerangnya, Kristiane memilih pergi menjauh.

"Saya hanya meninggalkan mereka dan berdoa supaya mereka bisa mengerti dengan lebih baik," kata Kristiane yang telah menunaikan ibadah haji sekitar 10 tahun sejak menjadi mualaf.

Dia juga berlatih mencontoh nilai Islam dan pribadi Nabi Muhammad SAW, membalas perbuatan jahat dengan kebaikan. Kini, dia ingin tetap menjadi jembatan komunikasi dialog lintas agama mewakili Islam.

"Idealnya sih punya TV program sendiri yang ingin saya kembangkan, seperti gaya hidup muslim dan program hiburan. Namun jika hal lain terjadi yang mengizinkan saya melayani kemanusiaan dan Tuhan dalam jalan yang berbeda, saya sudah senang. Saya juga berdoa untuk memiliki pernikahan yang stabil dengan suami yang baik," kata Kristiane yang pernah 2 kali bercerai dari 2 pernikahannya ini.

Pesan damai dan perjalanan spiritualnya itu dia tuangkan dalam buku 'A Thousand Miles of Faith' Perjalanan Seorang VJ MTV Eropa Menemukan Hidayah Islam'. Dengan buku yang di Indonesia diterbitkan oleh Noura Books ini, Kristiane berharap bisa meluruskan citra negatif Islam yang diakibatkan para teroris memanfaatkan orang-orang tak berdosa atas nama Allah menjadi konsumsi media internasional, melalui pengalaman spiritual pribadinya.

"Tujuan saya adalah menyibak tirai itu dan menjelaskan dari pengalaman pribadi saya, bagaimana agama yang telah sangat difitnah ini sangat memberi saya, seorang perempuan Barat yang modern di media, menemukan kedamaian diri, pencerahan dan tujuan hidup. Saya juga ingin menginspirasi orang untuk melihat sisi spiritual mereka, yang seringkali terabaikan," tulis Kristiane.
Kristiane Backer saat meluncurkan bukunya From MTV to Mecca' (kristianebacker.com)
 Suatu saat, Kristiane mengaku ingin datang ke Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kristiane mengirimkan pesan damai agar Islam di Indonesia tidak terpecah antara Sunni dan Syiah.

"Itu berlawanan dengan semangat dan pengajaran Islam untuk melawan yang lain, Muslim lawan Muslim. Itu harus dihentikan segera. Menyedihkan bagi saya melihat umat Islam dunia terpecah-pecah. Kita tidak menyenangkan Tuhan yang menjadi satu-satunya tujuan kita. Mari bekerja bersama dalam kebaikan, kebersamaan, kedamaian, cahaya dan cinta," pesan dia.

Kristiane saat menghadiri Sharjah Book Fair 2012 (kristianebacker.com)

Salah satu film perusak aqidah adalah Film “?” yang disutradarai oleh HANUNG BRAMANTYO dan diproduseri oleh ERICK TOHIR pimpinan MAHAKA PICTURE dan MAHAKA MEDIA yang menerbitkan HARIAN REPUBLIKA. Film “?” diiklankan seperempat halaman berwarna di Republika hari Kamis 7 April 2011 dengan tulisan besar di tengah iklan : “Masih pentingkah kita berbeda ?” Dan dalam deretan sponsor tertera logo tulisan “Republika”. Sehari sebelumnya, dalam Wawancara Eksklusif Republika yang menghabiskan satu halaman penuh, Hanung Bramantyo mempropagandakan film “?” dan menolak stempel pluralis mau pun liberalis untuk filmnya tersebut, dengan dalih “maksud” yang ada dalam hati dan benaknya tidak seperti yang “dipahami” orang lain.
Dalam kesempatan lain, sang sutradara menyebutkan hal- hal positif dalam filmnya untuk “menjustifikasi” hal-hal negatif dalam film tersebut yang disorot dan diprotes keras oleh masyarakat. Sang sutradara lupa atau pura-pura lupa bahwa pokok persoalannya bukan terletak pada hal-hal yang sudah positif, tapi justru terletak pada hal-hal negatif yang diprotes umat Islam. Lagi pula, walau dalam film tersebut ada berjuta kebaikan, namun jika dengan sengaja diselipkan suatu propaganda kesesatan, maka tetap sesat dan tetap akan jadi persoalan. Bahkan berjuta kebaikannya akan dipahami sebagai kamuflase untuk menutupi kesesatannya, sekaligus untuk dijadikan alasan justifikasi atas kesesatan tersebut.
Masyarakat awam adalah tingkatan kelompok orang yang lugu dan polos dengan pola pikir yang sangat sederhana. Mereka hanya “memahami” dari apa yang mereka dengar, lihat, tonton dan saksikan dari film tersebut, bukan “menafsirkan” apa yang dimaksud sang sutradara atau produsernya. Film “?” telah menyajikan sejumlah statement dan agenda yang memberi kesan kepada masyarakat awam sebagai berikut :
  • 1. Dalam film “?” ada adegan pendeta ditusuk, gereja dibom, restoran Cina diserang secara anarkis oleh sekelompok masyarakat muslim di Hari Lebaran, dan sekelompok pemuda muslim bersarung dan berpeci mencerca seorang Cina yang dibalas dengan bahasa Jawa yang artinya “Dasar Teroris Anjing”.
Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya orang Islam itu bengis, biadab dan jahat. Walau pun dalam adegan penusukan pendeta dan pengeboman gereja tidak jelas pelaku dan motifnya, namun dengan rentetan adegan lainnya tersebut mengarahkan kesan kepada umat Islam.
  • 2. Dalam film “?” ada cerita tentang Rika yang semula muslimah, kemudian murtad masuk nashrani karena kecewa suami berpolygami. Rika pun berdalih bahwa kemurtadannya bukan berarti membenci atau pun mengkhianati Tuhan. Sepanjang cerita Rika ditampilkan sebagai sosok yang ideal, toleran, arif dan bijak. Ibu dan anak Rika yang semula menentang kemurtadan Rika, akhirnya bisa menerima. Dalam cerita ini ada narasi : “…semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya :
a. Syariat polygami itu buruk karena merusak rumah-tangga dan menyebabkan orang murtad.
b. Murtad itu bukan mengkhianati Tuhan, sehingga tidak mengapa orang murtad.
c. Rika murtad tapi ideal, toleran, arif dan bijak, sehingga orang murtad pantas untuk diterima secara baik.
d. Sikap Ibu dan anak Rika yang menentang kemurtadan Rika adalah sikap “tidak toleran”, sehingga akhirnya dikalahkan oleh sikap “toleran” dengan menerima kemurtadan Rika.
e. Semua agama benar dan sama menuju Tuhan yang satu. (-Pluralisme-).
  • 3. Dalam film “?” ada cerita tentang Surya yang bermain drama pada Hari Raya Paskah di gereja dengan peran menjadi Yesus. Sebelum pentas, Surya latihan Yesus disalib di dalam masjid, lalu direstui oleh Ustadz yang mengajar di masjid tersebut. Saat pentas di gereja pun banyak orang berpenampilan muslimin dan muslimat yang ikut berpatisipasi menonton dan membagikan bingkisan Paskah kepada jemaat gereja.
Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya :
a. Orang Islam main drama di gereja dan berperan sebagai Yesus tidak mengapa.
b. Latihan drama Yesus disalib dalam masjid juga tidak mengapa.
c. Orang Islam ke gereja untuk ikut merayakan Paskah pun tidak mengapa.
d. Islam ke gereja , Yesus dan Salib ke Masjid sama saja. (-Pluralisme).
  • 4. Dalam film “?” ada cerita tentang Menuk, seorang wanita muslimah berjilbab, yang kerja di restoran Cina yang menjual dan menyajikan Babi. Saat shalat Menuk melaksanakan shalat di tempat kerjanya, dan saat tugas Menuk menghidangkan Babi dengan nyaman tanpa ada sikap galau atau pun riskan.
Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya menjadi seorang muslim tidak harus menjadi halangan untuk menjual / memotong / menghidangkan Babi. Bahkan ada kesan untuk mengajak masyarakat untuk menghalalkan Babi. Walau pun pemilik restoran menyatakan dalam film tersebut bahwa alat masak untuk Babi harus dipisah dengan alat masak untuk Udang, Cumi dan Ayam, tapi ia juga menyatakan bahwa Daging Babi itu “lebih gurih”, tidak perlu bumbu apa pun seperti memasak Udang, Cumi dan Ayam.
  • 5. Dalam film “?” ada cerita tentang Tan Kat Sun pemilik restoran Cina penjual Babi, yang toleran terhadap karyawan muslimnya dengan mempersilahkan shalat, namun akhirnya mati pasca penyerangan restoran Cinanya oleh sekelompok orang Islam. Diceritakan juga bahwa restoran Cina penjual Babi tersebut di bulan puasa ramadhan merugi karena sepi pengunjung.
Kesan untuk masyarakat awam bahwa orang non muslim sangat toleran terhadap umat Islam, tapi tidak sebaliknya. Dan juga mengesankan bahwa pelanggan restoran Cina penjual Babi tersebut adalah umat Islam, sehingga ketika umat Islam sedang puasa Ramadhan maka restoran menjadi sepi pengunjung.
Selain itu semua, masih ada lagi adegan Asmaul Husna dibaca dengan nada sinis dan melecehkan oleh pendeta di dalam gereja. Lalu ibu kost berjilbab yang judes dan bakhil.
Berdasarkan itu semua maka Front Pembela Islam mengingatkan segenap umat Islam :
1. Bahwa agama yang benar adalah Islam, selain Islam tidak benar.
2. Bahwa Islam sangat menghargai perbedaan agama (Pluralitas), tapi menolak pencampur-adukan agama (Pluralisme).
3. Bahwa Islam menolak segala bentuk penodaan terhadap agama apa pun.
4. Bahwa “Murtad” bukan bagian kebebasan beragama, tapi merupakan penodaan agama.
5. Bahwa “Murtad” adalah perbuatan terkutuk dan merupakan dosa besar yang haram dilakukan oleh umat Islam. Pelakunya wajib bertaubat atau dihukum mati.
6. Bahwa Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) adalah paham sesat dan menyesatkan bukan dari ajaran Islam.
7. Bahwa umat Islam haram mencampur-adukan aqidah dan ibadah dengan agama apa pun, termasuk merayakan hari besar umat beragama di luar Islam.
8. Bahwa Liberal adalah musuh besar Islam dan pembangkangan Liberal terhadap Allah SWT lebih Iblis daripada Iblis.
9. Bahwa umat Islam wajib tunduk dan patuh kepada Hukum Allah SWT.
10. Bahwa umat Islam wajib membela agamanya dari segala bentuk penodaan.

Selanjutnya Front Pembela Islam menyatakan :
  • 1. Bahwa Film “?” adalah FILM LIBERAL yang sesat dan menyesatkan, sehingga haram ditonton oleh umat Islam dan harus dilarang pemutarannya oleh pemerintah RI.
  • 2. Bahwa Erick Tohir dengan Mahaka Picture dan Mahaka Media serta Republikanya harus menarik film “?” dari peredaran, dan meminta maaf kepada umat Islam, serta berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahannya. Jika tidak, maka umat Islam diserukan untuk memboikot Erick Tohir dan semua medianya.
  • 3. Bahwa Hanung Barmantyo harus menghentikan peredaran film “?”, dan bertaubat kepada Allah SWT, serta menyudahi sikap Liberalnya selama ini yang selalu menyerang Islam. Jika tidak, maka umat Islam diserukan untuk menjadikannya sebagai musuh Islam.
  • 4. Bahwa Lembaga Sensor Film (LSF) tidak boleh meloloskan film apa pun yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”, serta wajib melakukan reformasi kepengurusan agar tidak disusupi atau ditunggangi oleh unsur-unsur Liberal dari kelompok mana pun. Jika tidak, maka bubarkan LSF dan kembalikan wewenang perfilman kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi atau kementerian lain yang berkompeten.
  • 5. Bahwa semua anggota masyarakat diserukan untuk tidak membeli / menyewa / memutar / menonton / mensponsori film apa pun yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”, dan diserukan pula kepada segenap anggota masyarakat untuk memboikot semua pihak yang terlibat dalam pembuatan dan peredaran film yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”.
Akhirnya, Front Pembela Islam menyatakan perang terhadap semua film yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam.
                   Allahu Akbar !                         Allahu Akbar !                         Allahu Akbar !
Jakarta, 28 Ramadhan 1432 H / 28 Agustus 2011 M
[slm/fpi]


Sumber :FPI

Sam Brodie
Artis internasional Sam Brodie memilih jalan hidupnya dalam menentukan keyakinan dengan menjadi seorang mualaf. Ini dilakukannya karena dorongan spiritualnya untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Selain itu, peran serta dan dorongan sahabatnya Maia Estianty juga menjadi andil dan keinginan kuat Sam mempelajari agama Islam.

"Dasarnya sebenarnya bukan karena apa-apa. Semua ini karena hati aku telah terbuka. Selain itu juga karena pacarku yang memang beragama Islam. Aku memilih menjadi mualaf dengan niat serius, karena ini adalah pilihan keyakinan. Peran serta Bunda Maia memang sangat besar, dua minggu setelah gabung dengan dia, aku menjadi mualaf," ungkap Sam saat berbincang dengan KapanLagi.com™ di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (21/1).

Pria yang mengaku dekat dengan Paris Hilton ini resmi menjadi mualaf sejak 8 Desember 2010 lalu di hadapan Kepala KUA kecamatan Jatih Asih, Bekasi. Saat ini, Sam memang tengah menjalani proses dalam menjalani ibadah yang memang sudah diatur dalam agama Islam.
"Awalnya memang tidak begitu langsung saja ya. Semuanya butuh proses. Saat ini aku memang ikut kelas bareng anak-anak kecil, ikut-ikut sholat. Baca doanya kan juga belum hapal. Belajar sedikit-sedikit nggak langsung tau semua. Kayak anak TK belajar. Kalau aku belajarnya di masjid, kelas mengaji dengan anak kecil di Masjid Attin. Terkadang malu juga, ikut mereka," kata Sam.
Dengan perubahan keyakinannya ini, Sam juga mengubah namanya dengan nama yang lebih islami. Jika dirinya memiliki nama lahir, Samuel Da Bettay, kini setelah masuk Islam dirinya mengganti nama menjadi Muhammad Samuel Da Bettay.

"Untungnya aku punya teman seperti Bunda Maia. Aku ini memang bisa dibilang baru banget. Dapat bimbingan baca Al Quran dari Maia Estianty. Kita juga sering berdebat mengenai sebuah ilmu Al Quran. Setelah ketemu seseorang yang hebat yaitu Maia Estianty, saya mendapatkan banyak ilmu terutama ilmu ikhlas," pungkasnya.

Berikut adalah photo Muhammad Samuel Da Bettay yang di ambil dari kapanlagi.com:

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay

Muhammad Samuel Da Bettay
 

Tamara Nathalia Christina Mayawati Bleszynski, itulah nama lengkap saya. Tapi saya lebih dikenal dengan nama Tamara Bleszynski. Papa saya berasal dari Polandia, Eropa Timur. Ia beragama Kristen Katolik. Sekangkan mama bernama Farida Gasik, orang jawa Barat, beragama Islam. Karena orang tua saya bercerai, akhirnya saya ikut papa dan sekaligus mengikuti agamanya.
Ketertarikan saya pada agama Islam, juga terpaut pada sisi ketaatan pemeluknya. Hal semacam ini menurut saya jauh berbeda dibanding dengan keyakinan saya yang lama. Saya juga penasaran dengan gambaran sosok Tuhan dan nabi dalam Islam. Saya mengamati, dalam agama lain, sosok Tuhan dan nabi digambarkan secara konkret. Walau pun demikian Tuhan dan Nabi sangat dekat dengan mereka, lebih dekat dari urat leher manusia.

Berawal dari rasa penasaran dan ketertarikan itulah saya mulai mempelajari beberapa buku mengenai Islam. Saya juga membaca Al-Qur'an untuk mengetahui dan membandingkan ajaran yang saya peluk dahulu. Ternyata ajaran-ajaran Al Kitab itu ada juga dalam AlQur'an, seperti kisah Nabi Isa. Namun Al-Qur'an lebih komplit, dan sisi pandangannya berbeda dengan keyakinan yang selama ini saya anut. Setelah melalui proses pengamatan dan belajar selama beberapa bulan, akhirnya saya putuskan untuk memeluk agama Islam.

Masuk Islam
Keinginan saya untuk masuk Islam saya sampaikan kepada mama. Keputusan itu membuat mama bahagia. Mama menyambut baik keputusan saya itu. Papa pun tak menghambat niat baik saya itu. Beliau memahami keputusan saya. Keluarga kami memang sangat demokratis. Walaupun papa seorang Katolik, toh ia sudah tinggal di Indonesia selama 40 tahun, dan memahami budaya kaum muslim. Papa sering menyumbang untuk pembangunan masjid, dan pada bulan puasa papa suka menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa. Hal inilah yang membuat saya bangga kepada papa. Singkat cerita, pada tahun 1995 lalu saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.

Selanjutnya, dalam proses perpindahan agama, awalnya saya akui cukup berat melakukan penyesuaian dengan agama baru itu. Berbagai cara saya lakukan untuk mempelajari Islam, terutama shalat. Antara lain membaca berbagai buku yang berisi tuntunan shalat. Saya juga menggunakan kaset penduan shalat. Mula-mula saya shalat memakai earphone, sambil mendengarkan petunjuk dari tape recorder. Tak sampai satu bulan saya sudah hafat semua bacaan dan gerakan shalat. Alhamdulillah, saya sudah dapat menjalankan shalat lima waktu.

Setelah masuk Islam saya merasakan berbagai perubahan yang mencolok dalam hidup saya. Pikiran saya lebih tenang dan terbuka, karena saya punya pedoman dalam menilai yang benar dan salah, yang haram dan halal, juga yang baik dan yang buruk.

Mendapat Jodoh
Perubahan yang mencolok saya akui pada perubahan rezeki. Saya merasa rezeki yang diberikan Allah SWT setelah masuk Islam, lebih memadai. Inilah yang patut saya syukuri. Dan terbesar yang saya dapatkan adalah jodoh yang sesuai dengan doa saya selama ini. Saya berdoa agar dapat jodoh yang seiman dan mampu membimbing saya dalam beragama. Ternyata Allah mengabulkan doa saya. Saya mendapatkan seorang pemuda muslim dari keluarga keturunan Arab-Aceh. Namanya Teuku Rafli Pasha, 24 tahun, anak kedua dari lima saudara. Rafli anak dari Teuku Syahrul, mantan anggota DPR RI dan Ibu Cut Ida Syahrul. Saya tak menyesal kawin muda, karena itu ibadah. Dan, suami saya ini sangat berperan dalam memberikan pemahaman tentang Islam kepada saya.

Saya dan Rafli akhirnya melangsungkan pernikahan di Tanah Suci Mekah dengan restu orang tua kami, setelah kami selesai melakukan Ibadah Umrah. Akad nika berlangsung di Masjidil Haram, disaksikan mama, serta H. Cecep, guru ngaji saya selama ini.

Saya dan Rafli sudah lama saling mengenal. Waktu itu kami bertemu di sebuah restoran di Jakarta. Sejak perkenalan itu, dalam tempo satu bulan kami mulai akrab, dan berusaha untuk lebih mengenal satu sama lain.

Akhirnya kami saling mencintai, dan juga mendapat restu dari orang tua kami, sehingga kami memutuskan untuk sekalian meresmikan pernikahan menjadi suami istri di Tanah Suci. Saya mendapatkan figur Rafli seorang yang ulet bekerja walau ia adalah lulusan Nortuidge Military College dia meraih gelar master dari Boston University, Amerika Serikat Tapi ia sangat taat beribadah. Ini yang saya dambakan . Kini suami saya bekerja di Uninet Jakarta.

Suami saya menyadari bahwa saya yang dipersunting telah memiliki karir yang cukup mapan sebagai model, model iklan, dan bintang sinetron, sehingga ia tidak melarang karier yang sedang saya jalani ini. Walaupun demikian, saya harus membatasi diri. Apa yang baik atau tidak baik untuk keluarga. Untuk itu saya memohon doa dari para pembaca, semoga saya menjadi muslimah yang baik dan dapat membina keluarga yang sakinah.

Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitulah yang terjadi pada diri Cindy Claudia Harahap, putri sulung dari musisi Rinto Harahap. Saat usia belasan tahun, hidup Cindy terombang-ambing di tengah-tengah keluarga Muslim dan non-Muslim. Keluarga ayahnya non-Muslim, sementara keluarga dari ibu beragama Islam.
Hingga suatu saat, sekitar tahun 1991, penyanyi kelahiran Jakarta pada 5 April 1975 ini, sedang tidur-tiduran di tengah malam di atas rumput halaman asrama di Australia. Saat itu, Cindy bersama sahabat karibnya yang juga artis Indonesia, Tamara Blezinsky, sedang menempuh pendidikan di St Brigidf College. Setiap hari mereka ngobrol karena hanya mereka berdua orang Indonesia.
Mereka juga mempunyai kondisi yang sama tentang orang tua. Suatu malam Cindy benar-benar diperlihatkan keagungan Allah. Ketika memandang ke langit yang cerah terlihat bulan sabit yang bersebelahan dengan bintang yang indah sekali. ''Saya bilang sama Tamara, kayaknya saya pernah lihat ini di mana ya, kok bagus banget. Kayaknya lambang sesuatu, apa ya?'', kenang penyanyi dan pencipta lagu ini. 

Tamara lantas menjawab kalau itu lambang masjid. ''Jangan-jangan ini petunjuk ya, kalau kita harus ke masjid,'' tukas Cindy selanjutnya. Ia memang jarang sekali melihat masjid selama di Australia. Mungkin karena dalam dirinya sudah mengalir 'Islam' dari darah ibunya, hal itu membuat Cindy tak perlu membutuhkan proses yang panjang untuk mengenal Islam. Cindy pun berfikir untuk masuk Islam sekaligus mengajak sahabatnya, Tamara. ''Suatu hari saya terpanggil untuk memeluk agama Islam,'' kata sulung tiga bersaudara.

Setelah kembali ke Indonesia, Cindy dan Tamara pun lama berpisah. Saat kemudian bertemu lagi di Jakarta, ternyata mereka sudah sama-sama menjadi mualaf. Pelantun tembang melankolis ini mengungkapkan, inti dirinya masuk Islam lebih pada panggilan jiwa dan hati. Karena, orang memeluk agama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, tergantung diri masing-masing.

Selain dari diri sendiri adakah pihak lain yang ikut membuatnya jatuh cinta kepada Islam? Cindy mengatakan, selain mamanya juga Mas Thoriq (Thoriq Eben Mahmud, suaminya). Dari awal saat pacaran, Cindy banyak belajar tentang Islam dari Thoriq, laki-laki keturunan Mesir. Mereka sering berdiskusi dan Thoriq pun menjelaskan dengan bijaksana dan kesabaran. Menurut Cindy, Thoriq tidak pernah memaksanya, bahkan dia sering membelikan buku-buku tentang Islam.

''Terkadang seperti anak TK, dibelikan juga buku cerita yang bergambar. Tapi justru jadi tertarik, sampai akhirnya saya dibelikan Alquran dan benar-benar saya baca apa artinya,'' tutur artis yang menikah 4 juli 1998. Cindy melisankan Dua Kalimat Syahadat di hadapan seorang guru agama Islam SMA 34 Jakarta. ''Di sebuah tempat yang sangat sederhana, tepatnya di mushalla kecil sekolah itu, saya mulai memeluk Islam,'' katanya.

Dalam proses mempelajari Islam, istri mantan pilot Sempati ini mengakui tidak menghadapi banyak kendala yang berarti, cuma memang harus menyesuaikan diri. Cindy sudah terbiasa melihat ibadah keluarganya yang beragama Islam. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah sering ikut-ikutan puasa. Keluarganya sangat toleran terhadap perbedaan agama karena pada dasarnya semua agama itu sama, mengajarkan yang baik dan hanya caranya yang berbeda-beda. ''Papa pernah bilang apapun agama yang saya putuskan untuk dianut itu terserah,'' tuturnya. ''Yang penting dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.''

Sebelum menjadi mualaf, Cindy sempat berfikir menjadi Muslimah sepertinya repot sekali. Kalau mau masuk masjid untuk shalat, misalnya, harus wudhu dan harus pakai mukena dulu. ''Mau shalat saja harus repot. Apalagi ada bulan Ramadhan yang harus puasa. Saya sempat berfikir kalau Islam agama yang repot,'' ujarnya.

Namun, setelah mempelajari Islam dengan benar, Cindy menyadari itulah kelebihan Islam bila dibandingkan dengan agama lain. ''Kalau kita hendak menghadap Allah, kita harus benar-benar dalam kondisi yang bersih. Bersih jiwa dan bersih diri,'' tuturnya. ''Alangkah bahagianya kita sebagai umat Islam dikasih bulan Ramadhan, di mana kita diberi kesempatan untuk membenahi diri. Menurut saya, bulan Ramadhan itu bulan bonus dan setiap tahun saya merasa kangen dengan Ramadhan.''

Cindy mengisahkan, beberapa bulan setelah menikah diberi hadiah pernikahan oleh mertua berupa umrah bersama suami. Ia merasa sangat berkesan saat pertama melihat Ka'bah karena sebelumnya hanya bisa menyaksikan melalui televisi atau gambar saja. Waktu itu, dia berangkat umrah bulan Ramadhan dan ia pun sedang hamil enam bulan. Cindy mengaku justru bisa menunaikan ibadah puasa di sana yang tadinya di Jakarta tidak bisa puasa. ''Alhamdulillah, sampai di sana tidak ada kendala atau kejadian buruk apapun.'' (Sumber: Republika Online)


Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang, saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin. Termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya Allah.
Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam. Sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protestan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dan lain sebagainya.
Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama. Sebenarnya, agama Islam tak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Id pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekadar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangatberkesan di dalam hati saya. Setelah shalat Id, saya jugs mengikuti nyekar (ziarah) ke makam leluhur papa dan mengikuti tahlilan.

Mulai Tertarik

Memang, saya sudah lama ingin masuk Islam, tepatnya sekitar bulan Februari-Maret 1998 lalu. Ketika itu, sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara azan magrib dari masjid sekitar rumah kos.
Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin shalat. Tapi, terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit. Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian melakukan shalat. Hingga tiba-tiba dari mulut Saya terlontar permintaan kepada sahabat saya, Vinny, untuk mengajarkan saya tata cara shalat.
Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu. Saya pun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian. Dengan wajah tak percaya, Vinny memandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu.
Mungkin Vinny tak percaya, karena selama ini saga tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ke tempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. irni mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.
 
Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, "Lentera Hati" yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi Islam. Saya pun semakin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian Nitami dan keluarga Vinny.
 
Walaupun saya terus mempelajari Islam melalui bukubuku yang diberikan oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan, yang mengantarkannya adalah Vinny sendiri: Memang, dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama coal agama. la pernah berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.
Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga setelah tak ada keraguan sedikit pun di hati, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk memeluk Islam.
Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan runah, mencari kado buat mama dan keluarga, dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi, pada saat itu, saga tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum nmemeluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.

Masuk Islam

Pada malam menjelang Tahun Baru, 31 Desember 1998 lalu, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof.Dr. H. Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di kawasan Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, dalam acara buka puasa bersama.

Setelah membaca rukun Islam yang pertama itu, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada ini plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi, tahun 1999 itu, buat saya, merupakan tahun untuk memulai "hidup baru" sebagai seorang muslimah.

Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali, tak apa-apa. Maka, pada hati Jumat tanggal 8 Desember 1999, dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kaliniat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah. Bukan apa-apa, tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip. Setelah saya jelaskan, beliau pun akhimya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.

Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang. Apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan tersebut, saya terus menjalankan ibadah puasa. Dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Jangankan menjalaninya, untuk bangun sahur saja berat sekali. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasa pun menjadi terasa ringan.

Selama ini saya sahur sendiri. Anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat. Dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan teve dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa para pembaca. Insya Allah. (Ages Salami Albaz)
 (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

MALAM mulai turun di sebuah kamar kost di bilangan Depok, Jawa Barat, tahun 1993. Seorang perempuan cantik, hatinya bergejolak. Malam itu, seorang mahasiswi Sastra Belanda Universitas Indonesia (UI), baru saja berdiskusi antarteman, masing-masing mempertahankan pendapatnya. Sharing pendapat ini bukan hal baru dilakukan, tetapi sudah sering berlangsung.
Hingga akhirnya, perdebatan itu menyisakan kepenasaran dan melahirkan sebuah pemikiran logis. Di suatu malam itulah, wanita bersuara merdu itu harus mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Perempuan yang dimaksud adalah artis penyanyi terkenal, Iga Mawarni, putri kelahiran Bogor, tetapi berdarah Solo. Lagu Kasmaran sempat melambungkan nama Iga Mawarni di tahun 1991. Tanpa dipengaruhi orang ketiga, penyanyi bersuara jezzi ini, akhirnya memutuskan meninggalkan kepercayaan lamanya dan memeluk Islam dengan pendekatan rasional. Ia melakukannnya dengan sepenuh hati, tanpa emosi sedikit pun.

Tidak ada pengalaman khusus yang saya temui untuk pindah keyakinan ini, misalnya mendengarkan azan sayup-sayup lalu hati saya bergetar. Bukan peristiwa itu. Keyakinan mengkristal justru berangkat dari lingkungan di mana saya tinggal. Sebagai anak kost kami sering berdebat, ketika kami masih kuliah di UI, cerita Iga Mawarni mengenang masa lalunya, ketika dihubungi PR, Rabu (13/10), ia tengah berlibur di Yogyakarta bersama anaknya Rajasa (3.5).

Setelah berikrar memeluk Islam, persoalan pun muncul, terutama dari keluarganya. Tadinya saya tidak ingin mengatakannya terus terang, tetapi semakin saya tutupi, justru perasaan bersalah saya muncul, desahnya.

Keputusan untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya itu, bukan tanpa risiko. Semua orang tua pasti tidak rela anaknya berkhianat terhadap agamanya. Saya memakluminya ketika ayah dan ibu saya menjauhi saya. Saya harus kuat, Allah sedang menguji kekuatan saya saat itu. Dan saya berhasil menerima ujian itu, kata Iga sedikit tersendat.

Yang membuat saya terharu, ketika pikiran saya mengingat mereka sebagai orang tua yang telah melahirkan saya. Begitu kuat rasa hormat itu muncul, tetapi di sisi lain saya seperti memperoleh kekuatan yang maha dahsyat untuk tetap bersikukuh, berdiri berseberangan dalam menegakkan keyakinan. Tadinya ada keinginan, semoga apa yang telah saya lakukan ini ditiru lingkungan keluarga besarku di Solo, tetapi tentu itu tidak mudah, tetapi Alhamdulillah adik kandung saya, sejak dua tahun silam telah mengikuti jejak saya menjadi pengikut Muhammad saw., kisah pengagum tokoh B.J. Habibie ini bahagia.

Dianggap tersesat
Konsekuensi memeluk Islam secara sadar, adalah perlakuan dari keluarga di Solo yang tidak lagi ramah. Hubungan komunikasi pun nyaris putus, bahkan suplai dana untuk biaya hidup di Jakarta dihentikan. Padahal saya butuh biaya untuk kuliah, skripsi, biaya hidup. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan pada umatnya. Saat itu saya terus berdoa, semoga diberi kekuatan. Maka timbul ide untuk bekerja secara part time di Jakarta. Tawaran nyanyi juga mengalir meski tidak gencar. Dari sana saya semakin meyakini kebenaran itu selalu ada, tegas Iga.

Tujuh tahun, ia harus saling menjaga jarak dengan keluarga. Jika tidak dihadapi dengan kepala dingin, mungkin segalanya bisa porak poranda. Iga berhasil meredam semuanya dengan tanpa gembar-gembor. Tujuh tahun saya lewati hari-hari saling menjaga perasaan, tidak pernah ada rasa gentar, atau takut. Saya pernah dianggap sebagai anak tersesat oleh keluargaku di Solo. Saya tetap menikmatinya sambil terus mempelajari kedalaman keyakinan saya lewat Alquran, buku-buku penunjang lainnya, sehingga saya mengetahui mana yang menjadi larangan dan mana yang dibolehkan, terang Iga.

Dalam pencarian memahami Islam itulah pada akhirnya ia dipertemuakan dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi suaminya sekarang, Charlie R. Arifin (pengusaha) yang satu ihwan. Saya bersyukur Tuhan mengutus laki-laki pendamping yang setia, saleh dan punya masa depan. Saat itu semakin teguh keyakinan saya memeluk Islam secara tulus ihlas.

Iga tak lagi sendiri mendirikan salat, atau berpuasa. Ia sudah menemukan imam dalam rumah tangganya. Bersama Charlie dan Rajasa, buah kasih mereka, terkadang melakukan salat berjamaah di rumah. Bila bulan Ramadan tiba, mereka melaksanakan salat tarawih di masjid raya. Dipilihnya Masjid At-Tien TMII Jakarta Timur, sebagai tempat salat terdekat dari rumah tinggalnya, di kawasan Jakarta Timur.

Saat puasa tiba, sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Karena ketika masih menganut Nasrani, ada juga instruksi mendirikan puasa. Saya juga suka melakukan puasa, hanya caranya yang berbeda, papar Iga yang mengaku semoga tahun ini ia bisa melaksanakan puasa dengan tanpa kekalahan yang berarti dan mendapat ampunan dosa-dosa dari Allah SWT. (Ratna Djuwita)***


Masih ingat Nella Regar? Artis yang pernah beken menemani Rano Karno bernyanyi pada tahun 1980-an telah berhijrah. Ia menutup tubuhnya dengan busana Muslim. ''Saya kini lebih tenang,'' katanya saat dihubungi beberapa hari lalu. Sudah sekian lama ia berbaju panjang plus jilbab dan berharap tetap teguh dengan pendiriannya. ''Makanya saya terus berdoa.'' Untuk memperteguh niatnya, ia menghadiri berbagai pengajian termasuk pengajian artis Arafah bersama Nia Daniati dan Ismi Azis. Ia duduk sebagai bendahara Yayasan Arafah.
Direncanakan tak jadi. Tak direncanakan malah direstui. Begitu cerita dia tentang niatnya memakai busana Muslim. Ia pernah mencoba berbusana Muslimah tahun 1997. Kala itu ia baru saja pulang umrah. ''Waktu itu mungkin niat saya belum kuat. Belum istiqamah,'' ujarnya. Maka setelah 40 hari, ia melepasnya.

Tahun 2001, ia tak punya rencana. Namun dorongan untuk berbusana Muslim makin kuat. Ia pun mengemukakan niatnya berkerudung kepada suaminya Faizal Ridha. Suaminya mengizinkan. Tapi, katanya, untuk even tertentu ia diminta melepas kerudungnya. Nella merasa suaminya belum ikhlas. Maka ia konsultasi dengan guru ngajinya. Kepada Nella, sang ustadz mengatakan istri memang harus tunduk pada suami. Tapi untuk menutup aurat, perintah datang dari Tuhan. Sebagai hamba, ia harus patuh. Nella masih belum berani melakukannya.

Dia pun masih membeli dua baju dengan potongan agak seksi. Warnanya biru dan ungu. Dua hari kemudian, anaknya Muthia Khansa (ketika itu berusia 6 tahun) harus menghadiri pesta ulang tahun di Mc Donalds Pondok Indah. Sore hari, katanya, ia mulai bersiap. Baju biru yang baru saja dibeli sudah ia letakkan di tempat tidur. Putrinya menunggu. Namun setelah mandi dan berhias, ia malah menuju lemari. Tanpa sadar, katanya, ia mengambil baju panjang dan memakai jilbab. Bukan selendang sebagaimana ia kenakan. Baju birunya ia biarkan tergeletak.

Putrinya yang duduk di SD Al Izhar Pondok Labu heran. Ia menyangka ibunya hendak pergi ke pengajian. Padahal, Khansa membujuk untuk hadir di ulang tahun. Dengan busana Muslim itu ia datang ke Pondok Indah. Rekannya sesama ibu menanyakan apakah ia hendak ke pengajian. Lagi-lagi ia menganggukkan kepala. Telanjur sayang. Ia tak mau lagi melepas kerudungnya. Ternyata suaminya malah mendukung. ''Malah sekarang ia selalu mengingatkan jika baju saya agak ketat.''

Busana Muslim memang bertolak belakang dengan dunia selebritis. Ia harus menutup aurat sementara tuntutan dalam dunianya adalah glamour dan seksi. Namun ia telah bersikap. Ibu dari Muthia Khansa dan Mohammad Riza Irsyad Billah ini nyaris meninggalkan dunianya terdahulu. ''Ya, 75 persen, saya jadi ibu rumah tangga.'' Hanya sesekali ia menerima tawaran menyanyi. Itupun jika ia diizinkan berbusana Muslim. Begitu juga dengan sinetron.

Beberapa waktu lalu ia ditawari main sinetron. Ia datang untuk negosiasi. Setelah selesai, ia minta diperlihatkan kostum. ''Saya ingin melihat warnanya agar bisa menyiapkan jilbab yang sesuai.'' Ternyata kru sinetron mengatakan ia harus melepas kerudungnya. Padahal, katanya, dalam sinetron ia berperan sebagai dosen. Busana, katanya, tak terlalu masalah. Tapi produser menginginkan lain. Ia pun mengundurkan diri. ''Tokohnya memang lain, tapi tubuhnya kan tetap saja Nella Regar,'' tegasnya.

Kini, mimpinya adalah membuat album lagu-lagu Islam. ''Saya ingin punya lagu yang bagus dan sarat nuansa keimanan.'' Namun ia yakin itu tak mudah. Lagu rohani tak telalu komersil hingga tak banyak produser yang melirik. Tapi, rizki memang kuasa Tuhan. Setelah berkerudung, ia malah menemukan peluang bisnis. Dari padu-padan busana, ia mulai menciptakan model busana yang akan dikenakan. Belakangan banyak yang menanyakan pakaiannya. Dengan penjahit kepercayaan, ia pun memulai bisnis busana Muslim. Khansa by Nella Regar namanya. ''Promosinya dari mulut ke mulut.''

Keringat bermanik-manik di wajahnya. Tubuhnya menggigil. Wajahnya yang tirus dan kuyu menyemburatkan rasa sakit yang sangat. Napasnya pun tersengal-sengal. Di puncak rasa sakit yang tak terperikan, anakmuda yang sakaw (ketigahan narkoba), teringat pada Allah. ''Ya, Allah, sembuhkan aku dari rasa sakit ini, bebaskan aku dari jerat narkoba,'' hatinya mengerung, memanjatkan doa. Sekonyong-konyong, ia merasa ada kesejukan, mengaliri jiwanya. Kesejukan itu bagaikan air yang merendam rasa sakit pada jasmaninya.
Bimbim, demikian anak muda yang sakaw itu, tak dapat melupakan pengalaman tersebut. Pengalaman itu, tak sekadar membekas di bilik hatinya, tetapi memicunya untuk mendekatkan diri pada-Nya sekaligus lebih menghayati agama Islam. Sepotong doa, baginya di puncak kritis, menjadi obat yang mengeluarkannya dari jerat narkoba.

Bimbim, siapa tak mengenal nama itu? Nama itu terpahat di benak para slanker, penggemar grup rock Slank. Bimbim bersama personel Slank, seperti jamaknya bagi sebagaian rocker pada kala itu, memang sempat menjadi budak narkoba. Narkoba bagaikan setan. Awalnya, mengiming-iming kebebasan berekspresi dan kekayaan kreativitas, sehingga mereka menggunakan narkoba untuk eksis di blantika musik Indonesia. ''Dulu dengan menggunakan narkoba memang bisa membantu,'' kisah Bimbim.

Tak mengherankan, narkoba menjadi gaya hidup, awak Slank. Tak hanya Bimbim, Kaka dan Irfan pun mengonsumsinya.Maka dengan mata celong, kelakukan tak terkontrol, mereka lebih mirip monster di panggung. Ironisnya, penggemarnya mengelu-elukannya. ''Yang ganjil malahan orang luar yang melihat kita. Kita sih ngerasa benar juga,'' kenang Bimbim.

Namun, narkoba itu laiknya setan. Setelah terjerumus kepada narkoba, Bimbim maupun Kaka belakangan merasa daya 'sihir' narkoba, berkurang. Sebaliknya, mereka merasa fisik dan jiwa kian layu, bahkan, mengutip istilah mereka, ''hampir mati.'' Merasakan dampak buruknya, awak Slank pun sepakat untuk keluar dari jebakan narkoba. Semula, mereka mencoba mengurangi dosis, dengan harapan kelak dapat berhenti.

Kenyataannya? Hingga lima tahun, mereka tak kunjung berhenti. ''Jadi kalau mau berhenti harus mendadak. Hari ini mau berhenti, ya hari itu juga nggak lagi mau bersentuhan dengan narkoba,'' jelas penabuh drum itu. Kaka, sang vokalis, berpendapat demikian. Ia melukiskan, obat dan dokter hanya pembantu, yang utama ialah niat untuk berhenti. Irfan, pemain bass, menambahkan dari semua itu kemauan memohon petunjuk Allah. ''Tanpa berdoa nggak mungkin kita bebas dari narkoba.'' Mereka yang tak percaya Allah mustahil keluar dari jerat narkoba.

Tanpa bantuan Allah dan dukungan keluarga, para awak Slank itu meyakini, mustahil dapat sembuh. ''Kita nggak lupa berdoa. Ya berdoa untuk karier kita dan supaya lepas dari narkoba. Alhamdulillah akhirnya dijawab oleh Allah dan kita diberi kesempatan sekali lagi,'' kisah Bimbim.

Di sisi lain, menurut Kaka, peran keluarga terutama Bunda (orangtua Bimbim) menyebabkan mereka sembuh. Bunda begitu sabar dan telaten merawat mereka. Menghadapi awak-awak Slank, Bunda memperlakukan mereka, tak ubahnya bayi. Berkat doa mereka sendiri maupun Bunda sekaligus ketawakkalan orangtua tersebut, mereka sembuh dari narkoba, pada 2000.


Kelimanya -- Bimbim, Kaka, Ridho, Abdi dan Ifan -- kini merasa lebih sehat jasmani maupun rohani dibandingkan dulu. Berhasil keluar dari kungkungan 'setan' tersebut, merupakan pengalaman ruhani yang terbesar, bagi awak Slank. ''Kalau dipikir-pikir mustahil kami dapat keluar, tanpa pertolongan Allah.''

Berkat pertolongan-Nya - yang jika Cuma menggunakan logika manusia mustahil mereka mendapatkan hidayah-Nya akibat keburukan perilaku - mereka menyadari betapa Allah maha pengasih. Mereka pun semakin berupaya mendekatkan diri kepada agama. Salah satu bentuknya berdoa sebelum konser. ''Ya bayangin aja, kita sering konser di banyak kota hanya dalam waktu tiga bulan. Kasarnya kalau bukan karena pertolongan Allah, kita pasti nggak akan kuat. Alhamdulillah konser berjalan lancar, '' ujar Bimbim.

Mengaku telah memulai ritual doa sebelum manggung sejak awal, Kaka mengisahkan, dengan semua awak Slank muslim, justru membuat kompak. ''Doanya bismillah dan baca fatihah,'' kisah Kaka. Slank pun lebih dewasa, bahkan, kini berupaya menanamkan kesadaran bagi penggemarnya di sela-sela pertunjukan.

Pengalaman berkesan lainnya bagi para rocker ini saat turut memeriahkan Konser Hijriyah yang diselenggarakan Republika pada dua tahun silam. ''Tanpa pikir panjang kami iyakan, ini berkah tersendiri,'' kenang Bimbim. Merupakan pengalaman musikal relijius pertama Slank, pada perhelatan keislaman itu, grup rock ini berkolaborasi dengan Hadad Alwi.

Apa yang dipetik dari pengalaman musikal relijius itu? mengandaikan konser itu merupakan bentuk lain ibadah Slank, Kaka mengakui ada nuansa berbeda karena sebelumnya tidak pernah menyanyikan lagu religius. Penjiwaan terhadap lagu inilah yang agak sulit dilakukan dalam tempo singkat. Bila untuk tembang pop rock biasanya hanya butuh waktu satu hari, tetapi menjiwai lagu religius baru bisa dua hari. Itupun setelah banyak bertanya kepada Hadad Alwi dan sejumlah orang yang memahami bahasa Arab.

Keseharian mereka pun kini kian islami terutama karena semua personelnya pemeluk Islam. Ini menciptakan suasana kondusif bagi Slank. Masing-masing menjadi bisa saling memberitahu dan memberi arah. Kadang salah satu dari kelimanya mengingatkan untuk shalat. Kendati kegiatan rutin keagamaan belum dilaksanakan, namun ada momen-momen tertentu yang mereka gunakan untuk berkumpul bersama. Semisal berbuka puasa, sahur dan takbiran bersama.

Bimbim pun kini lebih bening membandingkan masyarakat maju di negara sekuler. Di sana, menurutnya, sebagian penduduknya memang tak percaya Tuhan. Di Indonesia? Kendati hidup modern, masyarakatnya masih mengingat Allah. Bimbim pun berharap, mereka dapat mewujudkan impian di masa datang, yaitu menyelipnya nuansa reliji pada album-album barunya. Namun, Bimbim menegaskan, Islam tak harus identik dengan Arab, begitupun dengan musiknya. ''Bagi Slank, musik Islam dapat dibungkus dengan corak apapun, pop modern misalnya,'' ujarnya. (Yusuf Assidiq/Republika Online)

Bagaimana dahsyatnya kekuatan doa dan shalat? Tanyakan pada penyanyi Ita Purnamasari. Istri dari musisi Dwiki Dharmawan ini akan bertutur panjang hebatnya kekuatan doa dan shalat. Penyanyi yang lebih dikenal sebagai rocker wanita ini, kini dalam setiap aktivitasnya tak akan bisa lepas dari doa dan shalat. Ceritanya bermula ketika ia dan sang suami berbulan madu kedua di Australia Maret 1997 silam. Ita yang dinikahi Dwiki 23 Oktober 1995, sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun "kosong", Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan. Untuk itu keduanya jalan-jalan ke Australia.
Alih-alih menikmati pesiar berdua, Ita justru mengalami diare hebat, akibat salah makan. Tiga hari ia terbaring di negeri kanguru itu. Jadwal jalan-jalan dibatalkan dan mereka kembali ke Tanah Air.

Ia meneruskan berobat di Jakarta. Dokter menvonisnya terkena radang usus. Namun hasil pencitraan ultrasonografi (USG) menunjukkan hasil yang berbeda. Ditemukan massa berukuran 5 X 6 cm di dalam hatinya. "Daging itu harus segera diambil. Itu semacam tumor atau bahkan kanker," ujar Ita menirukan sang dokter.

Perempuan kelahiran Surabaya 15 Juli 1967 ini panik. Ia jarang sakit. Dihadapkan ke meja operasi membuatnya sangat tersiksa. Ia meminta deteksi yang lebih canggih lagi, CT scan. Hasilnya, memang lebih akurat: tumor itu besarnya melebihi perkiraan USG! ntuk menenangkan diri, Itu memilih pulang ke Surabaya agar bisa dekat dengan sang ibu Hj Diah dan ayah H Soekarmeni. Kebetulan sejak menikah, ia jarang pulang ke Surabaya.

Di kota kelahirannya itu, ia diantar orang tuanya menemui dokter yang pernah menangani abses di livernya ketika remaja dulu. Massa di hatinya itu tepat berada di bekas absesnya. Sang dokter pun merujuknya ke koleganya di sebuah rumah sakit besar di Singapura.

Berangkatlah Ita dan suaminya ke negeri jiran itu. Mereka bahkan menyewa flat untuk tinggal, karena pengobatan diperkirakan memakan waktu.

Sebelum dioperasi, dokter di Singapura menyarankan untuk menjalani pencitraan MRI (magnetic resonance imaging scan). Ia diwajibkan berpuasa mulai pukul 21.00 waktu setempat. Malam itu pula Dwiki mengajaknya shalat dan berdoa kepada Allah. "saya sambil menagis berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk, minta disembuhkan. Saya berdoa jangan sampai kena penyakit yang membahayakan,'' kisah Ita.

Untuk menjalani tes, prosedurnya sangat rumit. Ia harus menandatangani surat yang menyebutkan tidak dalam keadaan hamil, karena kalau hamil pihak rumah sakit tak akan bertanggung jawab. Yakin tidak sedang hamil, ia pun teken. Namun hasil tes urin berkata sebaliknya: ia hamil.

Giliran dokternya yang kelabakan. Usia kehamilannya sudah lima pekan. Kalau pengobatan diteruskan, artinya Ita harus merelakan janinnya diaborsi. Ita disuruh membuat pilihan.

Ia meminta operasi ditunda. Shalat istikharah pun dilakukannya. ''Malam itu saya shalat dalam keadaan lelah jiwa dan raga," lanjutnya. Dwiki selalu menberikan semangat padanya.

Pagi hari putusan itu diambil. Mereka sepakat untuk pulang ke Jakarta. Hari-hari Ita dihabiskannya di atas sajadah. Di suai kehamilannya yang kedua bulan, ia memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang sama di Singapura. Hasilnya, janinnya sehat.

Ia sejenak melupakan penyakitnya, dan berkonsentrasi pada kandungannya. Sembilan bulan kemudian, tepatnya tanggal 4 Desember 1997, buah hatinya, Fernanda, dikeluarkan melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa. Ia dan Dwiki tak henti-hentinya mengucap syukur.

Dua bulan setelah melahirkan, ia kembali mendatangi dokter livernya. Deteksi dilakukan lagi. Ia pasrah dengan apapun hasil USG dan CT scan yang dilakukan berturut-turut.

Namun Allah berkehendak lain. Massa di dalam hatinya yang tadinya besar itu telah mengecil dan kering. Pemeriksaan lain menunjukkan, massa itu hanyalah bekas asbesnya dulu yang membekas dan tampak seperti daging ketika dilakukan scanning.

''Jadi, dokter itu memastikan bahwa daging itu bekas luka lever abses tahun 1994 yang sudah sembuh tapi masih meninggalkan bekas. Dia sewaktu-waktu bisa kumat kalau saya makannya sembarangan," ujarnya. Ita meyakini, kuasa Allah lah yang membuat semuanya berbalik. "Itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami sekeluarga. Jangan pernah lepas dari shalat dan doa. Jangan pernah jauh dari Allah," ujarnya.

Ita Purnamasari :
Tanggal lahir : 15 Juli 1967
Suami : Dwiki Dharmawan
Anak : Muhammad Fernanda Dharmawan
Album : Penari Ular, Sanggupkah Aku, Selamat Tinggal Mimpi, Cintaku Padamu, Dengan Menyebut Nama Allah.
( tri/republika )

JAKARTA (voa-islam.com) - Hanung Bramantyo kembali meresahkan umat Islam lewat film yang dibuatnya. Kali ini Hanung memproduksi film kisah 2 orang gay yang diangkat dari sebuah puisi esay, karya karya Danny JA.

Film dengan inisial CTBDR ini menceritakan percintaan sejenis (homo seks) dua orang santri bernama Amir dan Bambang. Di pesantren, Amir dan Bambang selalu bersama hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Rencananya film ini secara luas akan diputar pada bulan Oktober 2012 untuk menyambut Hari Anti Diskriminasi Nasional, namun sebuah organisasi yang memayungi Lesbian, Gay, Biseks dan Transeksual/Transjender (LGBT) yang bergerak di bidang media, telah memutar film ini dalam komunitas LGBT. Ironisnya pemutaran film tersebut dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 2012 jelang 10 hari terkhir di bulan Ramadhan.
...Kalangan pondok pesantren sudah mesti melakukan protes dan juga menuntut supaya film ini dibatalkan

Menyikapi film homo karya Hanung Bramantyo itu Sekjen FPI, KH. Ahmad Shabri Lubis menyerukan kepada seluruh kalangan pondok pesantren untuk protes terhadap pemutaran film tersebut.

“Kalangan pondok pesantren sudah mesti melakukan protes dan juga menuntut supaya film ini dibatalkan,” tegasnya saat dihubungi voa-islam.com, Kamis (13/9/2012).

“Ini adalah agenda untuk merusak citra pondok pesantren,” tambahnya.

Ustadz Shabri menyatakan jika pelecehan terhadap Nabi Muhammad di luar negeri saja umat Islam bisa marah, maka jangan sampai ada film yang merusak citra Islam yang membuat umat Islam di Indonesia marah.
Selain itu, ia juga meminta ketegasan pemerintah khususnya Lembaga Sensor Film jika film yang seperti itu masih beredar maka  FPI akan menggugatnya.
“kita minta ketegasan pemerintan dan Lembaga Sensor Film, jika film seperti ini yang merusak akhlak, mengandung pelecehan pondok pesantren dan santri masih beredar akan kita gugat,” tutupnya. [Ahmed Widad]
____________________________________________________________

Foto HL
ARTIS film dan penyanyi yang kerap tampil seksi, Julia Perez, telah memutuskan tidak akan menerima dan beradegan seksi lagi dalam film. Artis yang akrab disapa Jupe beralasan karena dirinya pernah ditegur oleh Meutia Hatta untuk tidak lagi main dilm seksi.
“Saya pernah ditegur Meutia Hatta, saya enggak boleh main film seksi. Jadi, pas main film saya enggak mau main seksi,” kata Jupe ditemui di Restaurant Gado-Gado Boplo, Jalan Dr. Satrio, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Selanjutnya Jupe akan lebih mengedepankan aktingnya di depan kamera. Namun sebelum menerima tawaran film, Jupe harus mengetahui konsep dan jalan ceritanya seperti apa.
“Saya harus memilah akting. Kalau main film saya harus tahu dulu ceritanya seperti apa, dan sebagainya. Kenapa saya di kolam renang, kenapa begini, itu memang bagian dari cerita,” katanya.
Jupe menegaskan kedepannya, ia akan mengubah imejnya sebagai bintang film yang kerap mengumbar tubuh. Jupe ingin tampil lebih tertutup.
Ketika disinggung soal kabar kekasihnya Gaston Castano yang berniat jadi mualaf, Jupe berharap kabar tersebut menjadi yang terbaik buatnya.
“Alhamdulilah, kita doakan saja (Gaston mualaf). Mudah-mudahan ada kabar baik. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan tidak sia-sia,” ujar Jupe.
Meski belum membenarkan kabar tersebut, namun Jupe selalu mendoakan yang terbaik untuk Gaston. Jupe berharap, Gaston benar-benar mau berpindah agama, supaya seiman dengannya. “Kita Liat aja. Doain aja. Mudah-mudahan,” ujar Jupe.
____________________________________________________________


guruh dan dewi perssik
BEBERAPA hari lalu merebak kabar pedangdut Dewi Perssik, akan dilamar Guruh Soekarnoputra, meski kabar tersebut kemudian dibantah yang bersangkutan. Ada ihwal apa gerangan tiba-tiba Depe begitu Dewi Perssik biasa disapa dikaitkan dengn putra proklamator ini?
Usut-punya usut ternyata Dewi tergolong pengagum berat koreografer terkenal ini. “Dengan Mas Guruh aku memang dekat, tapi sebatas dekat saja. Ibarat, kata stafnya, beliau ngefans sama Dewi Persik,” ujar Depe ditemui di Jalan Wolter Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun demikian, bukan berarti pemilik goiyang gergaji itu menutup hati untuk Guruh. Jika memang berjodoh, Dewi akan menerima lamaran pria manapun.
“Kalau ada yang demikian, siapapun laki-lakinya berhak melamar saya, karena laki-laki kan harus melamar wanita. Tapi biarkan jodoh hanya Allah yang tahu,” ujarnya. Meski membantah kabar tersebut, namun Depe mengaku kagum dengan sosok putra mantan Presiden Soekarno itu.
Bagi Depe, Guruh adalah sosok yang sangat ia kagumi. Menurutnya, wanita mana yang tidak jatuh hati kepada adik kandung Megawati Soekarnoputri itu. “Saya hanya melihat sosoknya, saya kagum sama beliau. Kami memang dekat. Siapa sih yang nggak mau sama Mas Guruh Soekarno Putra,” kata Depe.
Guruh dimata janda Saiful Jamil dan Aldi Taher ini memiliki kepribadian menarik dan dewasa, rendah hati. “Sosoknya mapan, dewasa, low profile, itu yang saya suka. Dia mau makan di pinggir jalan sama saya, itu yang membuat saya salut,” tutur Depe.
____________________________________________________________

Julia-Perez-umroh2
SEJAK pulang dari ibadah Umroh, artis Julia Perez sedikit berubah. Bahkan artis yang kerap tampil dengan busana seksi itu, ingin selektif dan tidak ingin lagi terlibat dalam film berbau sensual.
Ketika ditanya soal rencananya tidak menerima tawaran main dalam film horor sensual, artis yang akrab disapa Jupe itu mengatakan dirinya tidak ingin disebut artis yang kerap menjual keseksian tubuh.
“Orang bilang saya jual tubuh, ini terakhir. Kalau kita ingin berubah dan udah niat akan jalan, step by step,” tegas Jupe, ditemui di Ali Baba, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru.
Bukan bermaksud mengumbar sensasi, Jupe mengaku sudah menolak 15 judul film horor seksi. Lebih lanjut Jupe mengatakan bahwa dirinya tidak takut kehilangan rezeki. Sebab, Jupe sudah mendapat kepercayaan dari seorang produser untuk membintangi lima film drama dan laga.
“Dan yang lebih mengagetkan ada film yang aku diharuskan mengenakan jilbab. Tapi apa masyarakat menerima film saya berjilbab, nangis, atau action, di situ tantangan saya,” ujar Jupe.
Lelang baju seksi
Selain tidak menerima tawaran film horror seksi, Jupe juga berencana akan melelang atau menghibahkan koleksi baju-baju seksinya. Menurut Jupe, ia sudah cukup berpenampilan seksi selama empat tahun meniti karier di dunia akting.
“Setiap manusia punya cita-cita dan keinginan. Begitu juga zaman selalu berubah. Jadi sekarang ini saatnya saya mulai mengambil sikap, bosan tampil seksi terus,” kata Jupe. (kandar)
____________________________________________________________

olla ramlan
NIAT Olla Ramlan menghapus tato yang menghias tubuhnya, termasuk tato yang bertuliskan nama mantan suaminya, akhirnya terwujud. Olla rela bedah kulit demi permintaan Aufar, kekasihnya.
Penyanyi dan presenter Olla Ramlan selama ini gemar mengoleksi tato di tubuhnya. Namun sejak cerai dari Alex Tian, dan menjalin kasih dengan Aufar Hutapea, Olla memutuskan akan menghapus semua tatonya. Berbagai macam cara sudah ia lakukan termasuk naik meja operasi.
Menurut Olla, kekasihnya Aufar tidak mengetahui tentang keputusannya melakukan operasi. “Dia nggak tahu, karena memang mendadak. Jadi itu saya memang niatnya ke dokter gigi, ke tempat Tompi. Terus lihat pasien yang habis hapus tato lewat operasi. Saya tanya Tompi, katanya bisa,” ujar Olla ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Selasa, (31/07).
Lebih lanjut Olla mengatakan, keputusannya menghapus tato bukan karena kekasihnya saja, melainkan karena Allah. Sebab, kekasihnya pernah mengatakan, Tuhan tidak menyukai orang yang menyakiti dirinya sendiri.
Ketika ditanya soal hasil operasi yang dilakukan Tompi, Olla mengaku puas dengan kerja keras Tompi. “Ada kepuasan sendiri ya, karena memang saya termasuk orang apa yang diomongin saya kerjain. Saya nggak hanya sembarangan mau ngilangin tato,” ungkap Olla.
Olla menegaskan, keinginannya menghapus tato di sekujur tubuhnya bukanlah syarat dari kekasihnya sebelum menikah. “Aufar tidak menuntut apa-apa sebenarnya. Dia cuma minta kalau bisa tatonya dihilangkan,” tutur Olla. (kandar)

____________________________________________________________

Siapa yang gak kenal batik? Pasti gak gaul deh kalo kalian gak kenal batik hasil budaya asli bangsa Indonesia. Batik tidak hanya terkenal di Indonesia, bahkan negara-negara tetangga pun kabarnya sempat iri kenapa Indonesia memiliki hasil karya budaya yang sungguh indah yaitu batik. Nah bicara soal batik tentunya nggak seru kalo cuma mengekspose artis dalam negeri saja yang memakai batik. Sekarang ini batik sudah Go Internasional dan banyak diminati warga asing bahkan sekelas artis Hollywood pun banyak yang suka menggenakan busana batik.

Batik telah dicatat sebagai warisan dunia dan menjadi hasil karya yang paling fenomenal karena banyak diminati. bahkan tidak hanya artis Hollywood saja yang menggenakan bati, Musisi, Presiden negara-negara luar pun kesengsem dan sempat tertangkap kamera sedang menggenakan pakain atau busana batik. Wawawawa...Indonesia memang Hebaat..:)

Nah, inilah foto-foto para artis dan orang terkenal dunia yang tertangkap kamera sedang menggenakan buasan Batik Indonesia. Cekidot:

1. Lenka menggenakan busana batik :)

2. Jessica Alba menggenakan busana batik :)
3. Drew Barrymore menggenakan tas batik :)

4. Reese Witherspoon menggenakan busana batik :)
5. Paris Hilton menggenakan long dress batik :)

6. Rachel Bilson menggenakan busana batik :)
7. Tim Manchester United menggenakan baju batik :)
8. Bassist U2 menggenakan dresscode batik waktu konser :)
9. Bill Gates menggenakan baju batik :)
10. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela menggenakan baju batik :)
Nah, itulah sekilas foto-foto dan gaya busana para artis Hollywood yang sedang menggenakan Batik. 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget