Articles by "Islam Australia"

Menteri Imigrasi Chris Bowen menyatakan ada kemungkinan ia akan meminta penarikan visa bagi pengunjuk rasa yang bukan warga negara Australia akhir pekan lalu di Australia.

Enam orang yang terlibat dalam aksi protes yang berakhir dengan bentrokan di Sydney akhir pekan kemarin telah ditahan pihak kepolisian.
Aksi bentrokan tersebut mendapat kecaman keras dari sejumlah politisi di Australia, termasuk juga dari sejumlah muslim di Australia.
Unjuk rasa yang berakhir dengan bentrokan dipicu dengan beredarnya video yang menghina Nabi Muhammad.
Seorang senator mengatakan bentrokan yang terjadi di Sydney adalah sebagai pertanda bagi mereka yang sebelumnya tidak percaya tentang potensi kebangkitan Islam di Australia.
"Apa yang terjadi menjadi pertanda bagi mereka yang tidak terlalu tahu soal agenda para fundamentalis Islam dan paham sedikit soal misi mereka secara global," ujar Senator Cory Bernardi di situsnya.
Sementara itu anggota parlemen George Christensen mengatakan mereka yang terbukti bersalah dalam bentrokan tersebut terancam dideportasi bila ternyata bukan warga negara Australia.
"Saya pikir, mayoritas warga Australia akan berpikir jika mereka terlibat dalam kekerasan dan bukan warga negara Australia, kembalilah ke negara asal mereka karena kekerasan tidak dibenarkan di negara ini," ujarnya kepada ABC News Online.
"Ini juga meragukan soal multikulturalisme yang sudah ditekankan selama 20 atau 30 tahun kebelakang," ujarnya.
Menteri Imigrasi, Chris Bowen masih akan mencari pilihan bagi mereka yang bukan warga negara Australia dan terlibat dalam aksi unjuk rasa tersebut, tetapi ia menentang keras kekerasan.
"Jelas bahwa ini bukan dikerjakan atas nama Islam atau multikulturalisme, tapi dikerjakan dengan nama kejahatan, tidak lebih dari itu," ujarnya.
Kemarahan publik
Kemarahan publik pada unjuk rasa yang berakhir dengan kekerasan akhir pekan kemarin dipicu dengan kata-kata yang tertulis dalam papan yang dipakai oleh para pengunjuk rasa. Salah satunya berisi, "Penggal kepala mereka yang menghina nabi".
Bahkan sejumlah papan diusung oleh anak-anak yang disuruh oleh orang tuanya.
Senator Christensen mengatakan mereka yang menulis dan menyebarkan papan-papan tersebut adalah idiot.
"Islam adalah adalah agama yang sarat dengan perdamaian, saya pikir Nabi Muhammad bisa kembali dari kuburnya untuk melihat tulisan-tulisan yang menyatakan mari penggal kepala mereka yang menghina Nabi Muhammad dan Islam."
"Terlebih jika papan-papan itu dibawa oleh anak-anak kecil, situasi yang sangat memalukan."
Sementara itu Menteri Imigrasi Bob Carr mengatakan papan yang diusung hanyalah usaha dari pihak-pihak yang berusaha melakukan bentrokan antar budaya. Ia meminta masyarakat agar tidak terprovokasi.
"Demonstrasi yang berakhir dengan kekerasan telah mengecewakan saya, tetapi saya berharap, masih ada kesempatan untuk bisa surut segera," ujar Carr kepada ABC Radio National.

Siap siaga

Komisaris Andrew Scipione mengaku pihak kepolisian telah mengetahui soal unjuk rasa ketika mendapatkan pesan pendek dari seorang anggota komunitas muslim.
"Banyak dari pesan yang dikirim kepada kami dari mereka yang resah dengan isi SMS atau Facebook, sehingga mereka menarik perhatian kita," katanya.
Kini, pihak kepolisian Sydney bersiap siaga untuk mengantisipasi jika ada unjuk rasa serupa.

Seorang perwira tinggi purnawirawan Australia yang pernah bertugas di Afghanistan membantah kekuatiran mengenai perasaan anti-Muslim dalam pasukan pertahanan Australia.
Keadaan sudah tenang di jalan-jalan sejak kerusuhan oleh demonstran Muslim di Sydney hampir dua minggu lalu, tapi hal itu tidak menghalangi munculnya pesan-pesan yang berpotensi menyulut  di dunia cyber.
 
Tentara dari Rezimen Australia yang berbasis di Townsville dan pernah bertugas di Afghanistan guyon dalam Facebook mengenai menggunakan senjata untuk menembak orang-orang Islam yang terlibat dalam protes sengit di Sydney bulan ini.
 
Protes itu dipicu oleh film Innocence of Muslims yang melecehkan Nabi Muhammad.
 
Majelis Islam New South Wales meminta polisi dan Pasukan Pertahanan Australia untuk mengusut apa yang disebut sebagai komentar-komentar mengkhawatirkan di media sosial oleh mantan personel pertahanan maupun yang masih bertugas.
 
Sejumlah organisasi Muslim, termasuk Majelis Islam New South Wales, telah diberitahu mengenai pesan-pesan di Facebook itu.
 
Ketua Majelis, Khaled Sukkarieh, mengatakan, ia harapkan komentar di Facebook itu cuma bualan saja oleh segelintir minoritas personel dan tidak mencerminkan adanya Islamophobia di lingkungan Pasukan Pertahanan Australia.
 
"Kami akan sangat kuatir kalau personel Pasukan Pertahanan Australia baik yang mantan maupun yang masih bertugas punya pandangan seperti itu, khususnya kalau mereka pernah bertugas di negara-negara Islam atau sedang bertugas di negara-negara Islam seperti Irak atau Afghanistan" katanya.
 
Akan tetapi Mayjen purnawirawan John Cantwell yang pernaj bertugas di Afghanistan berpendapat tidak ada perasaan anti-Muslim, dan mengatakan tentara Australia tampak  mewakili yang terbaik dari nilai-nilai masyarakat Australia dalam hubungan dengan budaya dan agama lain.
 
Sementara itu Asosiasi Pertahanan Australia mengatakan dalam statement kepada ABC, kalau orang-orang bersangkutan masih bertugas dalam Pasukan Pertahanan Australia, mereka telah melanggar peraturan mengenai pemakaian social media yang bertanggung jawab.
Mereka juga boleh jadi telah melanggar peraturan lain: yakni tidak mempersulit para tentara di garis depan dengan mengeluarkan komentar seperti itu.

JAKARTA — Museum Islam pertama di Australia akan dibuka tahun 2013, demikian kata pendirinya Moustafa Fahour kepada koresponden kantor berita Anadolu.
Pendiri Australia Islamic Museum, kepada Anadolu mengatakan, pihaknya memutuskan untuk membangkitkan seni budaya Islam dengan cara mendirikan museum. Fahour menceritakan, dua setengah tahun lalu museum sudah mulai dibangun.
“Pondasi bangunan diletakkan pada Mei 2012. Orang Kristen, Maronit, Buddha dan Hindu datang menghadiri upacara peletakan batu pertama itu. Setelah itu pekerjaan pembangunannya terus berlangsung.”
Rencananya, museum Islam pertama di benua Kanguru itu akan dibuka mulai November 2013.
Dalam pembangunannya, menurut keterangan Fahour, pemerintah Australia menyumbang 1,5 juta dolar AS, sementara pemerintah negara bagian Victoria memberikan donasi 500.000 dolar AS.
Dengan bantuan sejumlah bank dan perusahaan konstruksi, sampai saat ini panitia sudah berhasil mengumpulkan 9,5 juta dilar AS dari perkiraan biaya total 10 juta dolar AS.


Ned Mannon1
LIVERPOOL — Seorang anggota penasihat Muslim terpilih sebagai walikota Liverpool, sebuah kota di negara bagian New South Wales, pinggiran barat Australia setelah mengalahkan kandidat dari kubu berkuasa, Partai Buruh.
Walikota Ned Mannoun adalah seorang Muslim yang menjadi walikota Liverpool City setelah meraih 43,6 persen suara.
Kemenangannya mengakhiri cengkraman Partai Buruh di dewan penasihat Liverpool yang terletak di negara bagian New South Wales. Partai Buruh, yang mengendalikan kota itu selama dua dekade, mengalami penurunan dukungan. Mannoun sendiri memulai karir politik di Partai Buruh Australia.
Lahir di Boston dari seorang ibu keturunan Libanon dan ayah kelahiran Sierra Leon, Mannoun bangga menjadi seorang pria dengan latar belakang yang berbeda. Di Liverpool, bahasa Arab menjadi bahasa kedua yang dipakai masyarakat. Di kota itu, bahasa Serbia juga banyak digunakan.
Agama Katolik masih dominan dianut warga. Namun Islam menduduki posisi kedua. Menanggapi meningkatnya ketidakpuasan akan kekuasaan Buruh, Mannoun memutuskan untuk mencalonkan diri.
New South Wales dihuni sekitar 168.788 orang Muslim atau sekitar 49,6 persen dari seluruh populasi. Tak heran bila negara bagian ini menjadi habitas masyarakat Muslim terbesar di Australia berdasarkan sensu penduduk tahun 2006 lalu.
Umat Muslim sudah berada di Australia selama lebih dari 200 tahun dan mewakili 1,7 persen dari 20 juta penduduk. Islam adalah agama terbesar kedua di Australia setelah agama Kristen.


Mualaf Australia Ini Bangga Menjadi Muslim

Alexander Husseini
Australia bukanlah negara Islam. Kebudayaan Barat yang dianut Australia pun kerap bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.
Tetapi bagi Alexander Husseini, atau Alex, hal ini tidak membuatnya membatasi pergaulan.
"Islam mengajarkan pemeluknya untuk memiliki karakter yang kuat. Sebagai Muslim, kita harus tunjukkan kalau bertingkah laku yang beradab," ujarnya.
Usianya masih terbilang sangat muda, 21 tahun. Tetapi justru ia tidak ingin masa mudanya hilang begitu saja. Ia ingin terus teguh memegang keimanannya, sambil berharap bisa membantu orang lain.
Menurut Alex, jika kita mampu berperilaku seperti apa yang sudah diajarkan Islam, maka orang lain akan semakin menghormati kita. Tak jarang, bahkan menjadi panutan bagi yang lain.
Alex sehari-harinya bekerja membantu bisnis keluarganya, yakni sebuah toko keju yang selalu ramai dikunjungi di pasar terkemuka, Queen Victoria Market di Melbourne.
Ia bukanlah termasuk orang yang malu untuk mengakui dirinya adalah seorang Muslim, ditengah pemberitaan soal Islam yang kerap kali terdengar miring. "Saya jelaskan kepada teman yang lain, jika shalat itu adalah untuk membuat rileks setelah berbagai kesibukan. Juga tempat dimana kita berharap dan berdoa pada Sang Pencipta," kata Alex.
"Mungkin sama saja bagi sebagian yang melakukan yoga, ya itulah shalat bagi saya."
"Sementara, puasa adalah untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh mereka yang tidak mampu."
"Bulan Ramadan juga adalah saat yang tepat untuk berbagi. Bayangkan jika kita semua memberikan sumbangan kepada mereka yang membutuhkan, mungkin masalah kemiskinan bisa diatasi," tambahnya.
Di tengah kesibukannya, ia kerap bermain sepak bola, salah satu kegemarannya.
Tak jarang, beberapa diantara temannya kadang merayakan kemenangan dengan berpesta atau minum alkohol, hal yang dilarang dalam ajaran Islam. "Yang terpenting adalah selalu berperilaku terbaik untuk menjaga moral," tanggapnya soal bagaimana menolak ajakan dan godaan dari sekitar.
Alex pun merasa beruntung karena ia tidak pernah mengalami diskriminasi atau kekerasan yang berbau suku dan agama.
Menurutnya, warga Australia tidak akan langsung begitu saja dalam menghakimi atau menilai seseorang. "Di sini orang akan menilai kita secara bertahap, karenanya jika kita terus menunjukkan yang akhlak yang terbaik, maka orang pun akan sungkan menuduh kita macam-macam."
Alex memiliki harapan dan mimpi besar bagi Australia. "Kita antar umat beragama sebenarnya bisa mudah bersatu karena ada kesamaan."
"Kesamaan ajarannya adalah selalu ingin membantu orang yang kesusahan, membantu yang sakit, misalnya," tambahnya. "Jika ini yang dipersatukan, maka akan sangat bermanfaat dan berguna untuk orang lain"

Lembaga Amal Australia Gelar Tur Kuliner Ramadhan
The Benevolent Society’s tak menyia-nyiakan momentum Ramadhan untuk menggelar tur Taste Food Tours 
 
CANBERRA -- Lembaga amal The Benevolent Society’s tak menyia-nyiakan momentum Ramadhan untuk menggelar tur Taste Food Tours yang bertujuan mempromosikan pemahaman yang baik tentang Islam.

"Makanan adalah bagian yang sangat penting dalam bulan Ramadhan, nah kami coba menggelar tur wisata makanan Ramadhan," papar manajer The Benevolent Society’s, Cathy Quinn seperti dikutip Dailytelegraph.co.au, Rabu (15/8).

Quinn mengatakan publik tidak mengetahui bahwa umat Islam memiliki sajian khusus ketika Ramdahan seperti sup, daging, dan makanan penutup. Jadi, pihaknya mengajak peserta untuk mengetahui seperti apa menu berbuka umat Islam.

"Bagi umat Islam, Ramadhan menyimpan tradisi. Bagi kita, itu adalah kesempatan untuk mengenal apa yang menjadi tradisi umat Islam," kata dia.

Didirikan pada 1813, lembaga amal ini membantu masyarakat menghadapi individu yang menolak masuknya kelompok lain dalam masyarakat. Selama dua abad, mereka berhasil menyatukan berbagai kelompok dengan cara yang unik tapi tepat sasaran.

Bagi lembaga amal tersebut, mengenalkan masyarakat Australia tentang Ramadhan merupakan yang pertama. Mereka melihat Ramadhan menyimpan kekayaan spritual. "Apa yang luar biasa dari Ramadhan, setiap Muslim diajak untuk berpuasa. Setelah itu, umat Islam diajak untuk berkomunikasi dengan yang Maha Kuasa. Jadi, semangat spiritualnya tampak sekali," ungkap Quinn.

Populasi Muslim Australia mencapai 1.7 persen dari 20 juta populasi total. Selepas tragedi 9/11, Muslim Australia banyak dicurigai.  Hasil survei tahun 2007 yang dirili Lembaga Pendalaman Isu Australia (IDA) menyebut warga Australia umumnya melihat Islam sebagai ancaman. 

Ini bukan keputusan yang mudah bagi setiap orang untuk menempatkan dirinya pada posisi seseorang yang berlainan agama dan keyakinan yang sama sekali berbeda.
Banyak orang lebih suka berada pada posisi 'zona kenyamanan' (comfort zone) nya masing-masing, yang pada gilirannya akan menumbuhkan perasaan pasif mereka terhadap "orang lain" di sekitarnya.
Tetapi, selalu ada pengecualian!

Salah seorang diantara mereka yang mencoba keluar dari 'comfort zone' adalah Rachael Finch. Rachael merupakan seorang Top Supermodel Australia, bintang televisi, sekaligus mantan Miss Universe Australia.
Ia meluangkan waktu dengan menghabiskan satu hari penuh dengan mencoba mengenakan pakaian jilbab muslimah menutup aurat. Tak hanya itu, ia juga mencoba menyelami kehidupan umat Islam di Australia selama satu hari penuh untuk lebih mengenal secara dekat orang-orang muslim secara langsung.
Untuk mematahkan belenggu stereotip, Rachael memakai jilbab dan memulai langkah eksperimen sosial ekstrem dari 'biasanya' dimana ia berinteraksi dengan komunitas Muslim.

Rachael mencoba masuk mengikuti jejak langkah Rebecca Kay, seorang Muslimah Australia yang taat dan seorang ibu beranak empat. Rebecca lahir di Australia dan menjadi Muslim sekitar delapan tahun yang lalu. Sebelumnya, Rebecca adalah seorang peselancar wanita Wollongong.
"Sebelum saya menjadi seorang Muslim, saya merupakan seorang pembenci Islam. Saya dulu biasa mendengarkan radio dan saling berkomentar, dan memiliki sikap yang sama seperti kebanyakan pembenci Islam lainnya. Saya dulu suka berkata kepada orang-orang 'jika kalian (orang muslim_red) tidak senang di sini, maka silakan kalian kembali ke tempat asal kalian', "kata Kay seperti dilaporkan Muslimvillage.com.

Mengomentari eksperimen ekstremnya, Rachael mengatakan, "Senang rasanya saya bisa masuk dan mengikuti jejak posisi Rebecca, dan menyaksikan dengan sendiri bahwa stereotip terhadap perempuan muslim Australia (yang kerap digemborkan media_red) tidak terlalu benar," katanya.
"Ini merupakan keberhasilan -untuk melihat multikulturalisme adalah tentang melihat akhir dari hari, kita semua warga Australia tidak peduli apa warna kulit kita, atau apa yang kita yakini, atau apa latar belakang kita- kita semua sama." urainya.

"Mereka cerdas, mereka pintar, mereka mandiri, mereka ingin karir dan mereka menginginkan sebuah keluarga, dan bagi saya itu semua memberdayakan," pungkasnya.

Rebecca berharap bahwa sesuatu yang baik bisa datang dari pengalaman Rachael, dan hal itu diharapkan dapat mendorong orang untuk lebih berpikiran terbuka.
Saksikan laporan berita kisah Rachael Finch:
*Keterangan gambar: Rachael Finch mengenakan jilbab

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget