Articles by "Wanita"

YOGYAKARTA -- Kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan data Forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (PK2PA) DIY pada tahun 2010 setidaknya ada 1.305 kasus kekerasan yang ditangani. Sementara pada tahun 2011 meningkat menjadi 1.666 kasus.

Sebagian besar kekerasan tersebut merupakan kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan  korban kekerasan 87 persen dialami perempuan.

“Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di DIY tidak hanya menunjukkan peningkatan dalam kuantitas, tapi juga kualitas. Misalnya kasus kekerasan yang dialami pelajar SMA di Wonosari,” terang Ketua Umum Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) DIY GKR Hemas usai peresmian Gedung Pusat Pelayann Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) Rekso Dyah Utami Jumat (1/2).

Pihaknya menyadari ke depan persoalan-persoalan perlindungan perempuan dan anak tidak mudah, karena kasus yang muncul makin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan Forum dari segi SDM, sistem dan anggaran tidak sedikit.

Untuk menekan kasus kekerasan itu diperlukan sosialisasi dan pemahaman agar berani melapor. Pihaknya akan memanfaatkan jaringan forum penanganan kekerasan yang sudah dibentuk di masing-masing daerah. Sosialisasi tentang penanganan korban kekerasan juga menjadi tugas kepala daerah.

“Ini juga menjadi kewajiban  masyarakat dan semua stake holder. Baik di bidang pendidikan, Kepolisian dan PKK. Ke depan kami juga memaksimalkan kinerja FPKK dalam koordinasi, pelayanan korban kekerasan agar cepat dan tepat serta memenuhi unsur keadailan,”  papar Hemas.

Pelayanan P2TPA Rekso Dyah Utami yang berada di bawah Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) sendiri tidak sebatas memberikan pendampingan psikologis. Kabid Perlindungan hak-hak Perempuan BPPM DIY Sri Maryani mengatakan pelayanan juga berupa advokasi, layanan medis dan kerohanian.  Bagi anak-anak juga menyediakan konsultasi layanan Telepon Sahabat Anak di no 129.

Sosialisasi dan pemahmanan tentang kekerasan perempuan juga terus dilakukan di forum tingkat kabupaten dan kecamatan. “Kami juga menyediakan shelter untuk keamanan korban kekerasan dengan pendampingan secara gratis,” kata Sri Maryani.

Sementara itu Ketua Forum Penggerak PKK Kota Yogyakarta, Tri Kirana Muslidatun mengatakan, sudah memiliki kader pendamping korban kekerasan di tiap RW. Di tingkat kecamatan juga akan dibentuk forum penanganan korban kekerasan.

“Kader ini tidak hanya menunggu laporan, tapi juga melakukan jemput bola. Memberikan pemahaman bagi warga yang sebenarnya tidak sadar  dirinya menjadi korban kekerasan,” tandasnya.

23.13 ,
Berbagai macam ajaran agama yang berkembang di Indonesia pernah dipelajarinya, dari Kristen Protestan hingga Hindu dan Buddha. Namun, itu semua belum membawa ketenangan dalam diri Tatiana SP Basuki.''Dari kecil, saya dididik sebagai seorang Katolik. Tapi, ketika beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja, saya mengalami kegelisahan. Kayaknya, saya tidak menemukan sesuatu dalam keyakinan yang saya anut,'' ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan spiritual perempuan yang biasa disapa Ana ini. Jika sedang beribadah, pikirannya tidak terfokus. Begitu juga ketika datang ke gereja, ia lebih banyak melamun. Sampai suatu ketika, salah seorang teman menawarkan kitab suci umat Islam, Alquran, kepada perempuan kelahiran Klaten, 20 Maret, ini. Ana menerima Tawaran temannya itu meski dalam hatinya timbul keraguan bahwa Alquran bisa mengusir kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Terlebih lagi, ia tidak paham sama sekali bahasa Arab. Kalaupun membaca dari terjemahan Alquran, tetap saja ia kesulitan untuk bisa mencerna makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran.''Alquran itu bahasanya puitis sekali sehingga buat saya susah untuk mencerna,'' tukasnya.

Kegelisahan yang ia rasakan makin membuatnya tidak nyaman. Hingga mencapai puncaknya di pertengahan malam, 5 Juni 1995 silam. Saat itu, menurut Ana, jam di kamarnya menunjukkan pukul 21.00 dan dirinya hendak beranjak tidur. Meski lampu penerangan di kamarnya sudah dipadamkan, hingga pukul 23.30 dirinya tidak juga bisa memejamkan mata.

Rasa gelisah terus menderanya malam itu. Lalu, antara sadar dan tidak sadar, ungkap Ana, ia merasakan ruangan dalam kamarnya yang seharusnya gelap tiba-tiba menjadi terang benderang. ''Padahal, saya tahu bahwa saya mematikan lampu. Tapi, suasana kamar saat itu justru terang sekali,'' tambahnya.

Tidak hanya itu, malam itu ia juga merasakan keanehan yang lain dengan datangnya suara seorang perempuan dalam kamarnya. Mengenai suara tanpa sosok nyata ini, Ana mendengar suara yang sangat lembut. Suara tersebut, menurutnya, mengucapkan serangkaian kalimat. Namun, ada satu perkataan yang disampaikan suara tersebut yang hingga kini masih ia ingat, ''Ya sudah, kalau kamu sudah memutuskan, mengapa harus menunggu.''

''Saat itu, saya berpikir memutuskan apa, ya? Saya pikir, ini mungkin pencarian religi saya. Akhirnya, saya bilang saya harus masuk Islam. Nggak tahu mengapa, pokoknya saat itu saya yakin harus masuk Islam,'' paparnya.Sejurus kemudian, Ana menghubungi salah seorang rekan kantornya. Karena teleponnya tak diangkat, ia pun meninggalkan pesan di mesin penjawab yang isinya meminta bantuan sang teman untuk mengislamkan dirinya.

Keesokan harinya, ketika Ana tiba di kantor, temannya meminta ia naik ke lantai eksekutif. Di ruangan tersebut, ungkapnya, sudah menunggu seorang ibu yang dianggap oleh temannya sebagai seorang ustazah dan siap mengislamkan dirinya. Ibu tersebut banyak memberikan masukan dan ceramah ke Ana sebelum dirinya mengucapkan syahadat di hadapan ustazah tersebut.

Meski sudah mengucapkan syahadat, ia berkata kepada ibu tersebut bahwa dirinya tetap harus bersyahadat di sebuah masjid untuk mendapatkan sertifikat bahwa dirinya sudah masuk Islam. ''Sertifikat ini diperlukan karena saya pastinya harus ganti KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga).''

Tanpa ia ketahui, ternyata salah seorang teman kantornya sudah menghubungi Masjid Sunda Kelapa yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kejutan lain dari para koleganya di kantor juga terjadi manakala ia tiba di Masjid Sunda Kelapa. ''Ternyata, banyak teman saya, bahkan bos-bos saya di kantor juga ada di masjid itu,'' ujarnya.

Alhasil, ia pun mengucapkan kembali dua kalimat syahadat yang disaksikan teman dan bosnya di Masjid Sunda Kelapa. Akhirnya, ia resmi masuk Islam pada 6 Juni 1995 setelah proses pencarian selama setahun. Entah bagaimana, ketika sudah resmi memeluk Islam, menurut Ana, semua perasaan gelisah yang selama ini menghantuinya hilang begitu saja. ''Tadinya, ada perasaan yang berat dan gelisah. Tetapi, begitu saya berikrar masuk Islam, semuanya jadi plong begitu saja,'' paparnya.

Didatangi penginjil

Begitu tersiar kabar bahwa dirinya masuk Islam, keesokan harinya Ana mendapatkan banyak kecaman dan teror. Teman-temannya yang non-Muslim protes atas keputusannya memeluk Islam.

''Banyak yang menelepon saya. Kok , bisa-bisanya saya ganti agama dan nggak bilang-bilang dulu kalau mau pindah (agama),'' tuturnya. Namun, semua itu ia tanggapi dengan tenang dan lapang dada.

Kecaman dan teror tersebut tidak hanya datang dari teman-teman non-Muslim, tetapi juga dari pihak lain. Menurutnya, setelah ia memutuskan masuk Islam, secara tiba-tiba ada seorang penginjil yang rajin mendatangi kantornya setiap hari. Setiap pagi dan sore, kata Ana, sang penginjil mendatanginya untuk memberikan ceramah tentang agama selama 10 menit. Begitu juga kalau mereka berpapasan di dalam lift. ''Tapi, tekad saya sudah bulat untuk memeluk Islam. Ya, semua itu tidak saya gubris. Akhirnya, lama-lama penginjil tersebut berhenti juga,'' ujarnya.

Meski sudah resmi memeluk Islam, Ana tidak lantas memberitahukan perihal tersebut kepada kedua orang tuanya yang pada saat itu tinggal di luar negeri. Ayahnya merupakan seorang pemeluk Islam, sedangkan ibunya seorang penganut Katolik. Namun, tidak adanya bimbingan agama yang jelas dari kedua orang tuanya membuat Ana harus memutuskan sendiri agamanya. Waktu itu, ia pun mengikuti agama ibunya hingga beranjak dewasa.

Perihal kepindahannya ke Islam, lanjutnya, baru diketahui sang bunda dari salah seorang temannya. ''Saya bilang ke beliau, ini pilihan saya dan ternyata ibu oke-oke saja. Meski orang tua berbeda (keyakinan), mereka mendukung setiap pilihan anaknya. Mereka paham ini sangat pribadi,'' tuturnya.

Dicurigai keluarga

Guna memperdalam pengetahuannya mengenai Islam, selain banyak membaca, ia juga mencari guru yang bisa membimbing dan mengajarinya. Untuk mendapatkan guru yang cocok, ungkapnya, butuh waktu yang cukup lama. Setelah bergonta-ganti guru, baru pada tahun 2001 ia menemukan seseorang yang dianggapnya cocok menjadi guru spiritualnya. ''Pada dasarnya, saya ini orang yang penasaran dan tidak pernah puas dengan satu jawaban.''

Sang guru banyak membimbingnya dan mengajarkannya bahwa kehidupan spiritual Islam laiknya sebuah samudra. ''Ketika menyelami samudra itu, kamu akan melihat betapa banyak yang akan dipelajari. Dan, kamu tidak akan bisa mempelajari semua itu walaupun sepanjang hidup kamu. Jadi, pelan-pelan saja, nikmati dan syukuri apa yang kamu ketahui,'' begitulah petuah sang guru. Falsafah itulah yang hingga kini dijadikan pegangan oleh Ana ketika mendalami Islam.

Kedekatannya dengan sang guru spiritual ini, diakui Ana, sempat membuat hubungannya dengan keluarga menjadi renggang. Hal ini bermula ketika ia kerap mengikuti pengajian sang guru hingga dini hari dan tak jarang pula ia mengikuti pengajian tersebut hingga ke luar kota. Ditambah lagi, pada saat itu sedang merebak isu kelompok NII (Negara Islam Indonesia).

''Karena pengajiannya di daerah tertentu, saya pulang pagi. Kalau pengajiannya di luar kota, pasti diadakan di daerah Puncak, Bogor. Maka itu, kemudian keluarga saya, terutama ibu, mencurigai saya ikut NII,'' ujarnya. Namun, kecurigaan keluarganya tersebut lambat laun sirna.

Kendati sang guru pernah dicurigai keluarga besarnya, ia mensyukuri karena oleh Allah SWT dipertemukan oleh beliau. Pasalnya, dari sang guru inilah ia banyak belajar mengenai arti syukur dan menghargai semua yang telah Allah berikan kepadanya. ''Saya itu dulu tipe orang yang selalu mengeluh dengan apa yang ada di sekeliling saya,'' tukasnya.

Dengan memeluk agama Islam, tambah Ana, ia juga belajar untuk lebih bisa berserah diri dan tawakal. Dengan begitu, menurutnya, ia menjadi jauh lebih tenang dalam menjalani kehidupannya. ''Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya perusahaan yang baru mau saya rintis kok belum mendapat klien. Kalau kita tidak yakin dan tawakal, gelisahnya pasti luar biasa, itu yang saya dapat dari Islam.''

Hingga kini, ia masih terus berusaha untuk bisa memanifestasikan sebagian dari Asmaul Husna (Nama-nama Allh yang baik) dalam dirinya. Selain itu, ia juga masih mempelajari apa tujuan seorang manusia diciptakan di muka bumi ini. ''Kalau dibilang, manusia adalah khalifah di bumi dan mereka punya misi tertentu. Itu yang saya tanyakan apa misi saya dilahirkan di bumi ini.'' nidia zurya (republika online http://www.republika.co.id/node/43603 )

Biodata
Nama : Tatiana SP Basuki
TTL : Klaten, Jawa Tengah, 20 Maret
Masuk Islam : 6 Juni 1995

Pekerjaan
- Direktur dan Psikolog Utama pada Firma Konsultasi Psikologis PT Nuage Personalis Konsultan
- Aktif sebagai psikolog pada Komite Nasional Lansia (Komnas Lansia) sejak November 2008 sampai sekarang
- Aktif sebagai psikolog pada Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YDGI) sejak November 2008 sampai sekarang
- Sebagai Ko-Terapis untuk Dr Adriana Ginanjar sejak Oktober 2008 sampai sekarang

Bagaimana dahsyatnya kekuatan doa dan shalat? Tanyakan pada penyanyi Ita Purnamasari. Istri dari musisi Dwiki Dharmawan ini akan bertutur panjang hebatnya kekuatan doa dan shalat. Penyanyi yang lebih dikenal sebagai rocker wanita ini, kini dalam setiap aktivitasnya tak akan bisa lepas dari doa dan shalat. Ceritanya bermula ketika ia dan sang suami berbulan madu kedua di Australia Maret 1997 silam. Ita yang dinikahi Dwiki 23 Oktober 1995, sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun "kosong", Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan. Untuk itu keduanya jalan-jalan ke Australia.
Alih-alih menikmati pesiar berdua, Ita justru mengalami diare hebat, akibat salah makan. Tiga hari ia terbaring di negeri kanguru itu. Jadwal jalan-jalan dibatalkan dan mereka kembali ke Tanah Air.

Ia meneruskan berobat di Jakarta. Dokter menvonisnya terkena radang usus. Namun hasil pencitraan ultrasonografi (USG) menunjukkan hasil yang berbeda. Ditemukan massa berukuran 5 X 6 cm di dalam hatinya. "Daging itu harus segera diambil. Itu semacam tumor atau bahkan kanker," ujar Ita menirukan sang dokter.

Perempuan kelahiran Surabaya 15 Juli 1967 ini panik. Ia jarang sakit. Dihadapkan ke meja operasi membuatnya sangat tersiksa. Ia meminta deteksi yang lebih canggih lagi, CT scan. Hasilnya, memang lebih akurat: tumor itu besarnya melebihi perkiraan USG! ntuk menenangkan diri, Itu memilih pulang ke Surabaya agar bisa dekat dengan sang ibu Hj Diah dan ayah H Soekarmeni. Kebetulan sejak menikah, ia jarang pulang ke Surabaya.

Di kota kelahirannya itu, ia diantar orang tuanya menemui dokter yang pernah menangani abses di livernya ketika remaja dulu. Massa di hatinya itu tepat berada di bekas absesnya. Sang dokter pun merujuknya ke koleganya di sebuah rumah sakit besar di Singapura.

Berangkatlah Ita dan suaminya ke negeri jiran itu. Mereka bahkan menyewa flat untuk tinggal, karena pengobatan diperkirakan memakan waktu.

Sebelum dioperasi, dokter di Singapura menyarankan untuk menjalani pencitraan MRI (magnetic resonance imaging scan). Ia diwajibkan berpuasa mulai pukul 21.00 waktu setempat. Malam itu pula Dwiki mengajaknya shalat dan berdoa kepada Allah. "saya sambil menagis berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk, minta disembuhkan. Saya berdoa jangan sampai kena penyakit yang membahayakan,'' kisah Ita.

Untuk menjalani tes, prosedurnya sangat rumit. Ia harus menandatangani surat yang menyebutkan tidak dalam keadaan hamil, karena kalau hamil pihak rumah sakit tak akan bertanggung jawab. Yakin tidak sedang hamil, ia pun teken. Namun hasil tes urin berkata sebaliknya: ia hamil.

Giliran dokternya yang kelabakan. Usia kehamilannya sudah lima pekan. Kalau pengobatan diteruskan, artinya Ita harus merelakan janinnya diaborsi. Ita disuruh membuat pilihan.

Ia meminta operasi ditunda. Shalat istikharah pun dilakukannya. ''Malam itu saya shalat dalam keadaan lelah jiwa dan raga," lanjutnya. Dwiki selalu menberikan semangat padanya.

Pagi hari putusan itu diambil. Mereka sepakat untuk pulang ke Jakarta. Hari-hari Ita dihabiskannya di atas sajadah. Di suai kehamilannya yang kedua bulan, ia memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang sama di Singapura. Hasilnya, janinnya sehat.

Ia sejenak melupakan penyakitnya, dan berkonsentrasi pada kandungannya. Sembilan bulan kemudian, tepatnya tanggal 4 Desember 1997, buah hatinya, Fernanda, dikeluarkan melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa. Ia dan Dwiki tak henti-hentinya mengucap syukur.

Dua bulan setelah melahirkan, ia kembali mendatangi dokter livernya. Deteksi dilakukan lagi. Ia pasrah dengan apapun hasil USG dan CT scan yang dilakukan berturut-turut.

Namun Allah berkehendak lain. Massa di dalam hatinya yang tadinya besar itu telah mengecil dan kering. Pemeriksaan lain menunjukkan, massa itu hanyalah bekas asbesnya dulu yang membekas dan tampak seperti daging ketika dilakukan scanning.

''Jadi, dokter itu memastikan bahwa daging itu bekas luka lever abses tahun 1994 yang sudah sembuh tapi masih meninggalkan bekas. Dia sewaktu-waktu bisa kumat kalau saya makannya sembarangan," ujarnya. Ita meyakini, kuasa Allah lah yang membuat semuanya berbalik. "Itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami sekeluarga. Jangan pernah lepas dari shalat dan doa. Jangan pernah jauh dari Allah," ujarnya.

Ita Purnamasari :
Tanggal lahir : 15 Juli 1967
Suami : Dwiki Dharmawan
Anak : Muhammad Fernanda Dharmawan
Album : Penari Ular, Sanggupkah Aku, Selamat Tinggal Mimpi, Cintaku Padamu, Dengan Menyebut Nama Allah.
( tri/republika )

14.40 ,

Pilkada-DKI-Jakarta-antarafoto.com_
JAKARTA– Pemilukada DKI Jakarta masih memposisikan kaum perempuan sebagai pengumpul suara. Karena itulah, mereka sangat rentan terhadap politik uang. Bukan cuma itu, disinyalir masih banyak kaum perempuan yang miskin dan minim pengetahuan sehingga merupakan sasaran yang empuk untuk dibujuk memilih salah satu pasangan calon dengan diimingi-imingi uang atau kebutuhan rumah tangga lainnya.
Ketua Komunitas Solidaritas Perempuan Wahidah Rustam menegaskan hal itu, kemarin. Menurut dia, dari berbagai diskusi kampung yang dilakukannya dengan melibatkan perempuan, pihaknya banyak menerima keluhan dari kaum perempuan Jakarta bila program pembangunan belum menyuarakan kepentingan perempuan. Bahkan perempuan tidak dilibatkan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
“Kaum perempuan paling rawan terhadap politik uang, karena banyak yang menganggap kaum perempuan tidak punya kekuatan menyuarakan haknya, karena masih banyak yang miskin dan minim pengetahuan,” kata Wahidah dalam seminar Perludem dengan tema Bersama Mengawal Putaran Dua Pilkada Jakarta: Pemilu Jakarta Antipolitik Uang, Jakarta, Kamis (13/9).
Atas dasar itulah, kata Wahidah, hampir sebanyak 52,25 persen perempuan di Jakarta menjadi target dari politik uang. Kepentingan perempuan sering diabaikan, terkadan ada kekerasan dan perlakuan diskriminatif, manipulasi dan program kerja yang tidak memperhatikan permasalahan perempuan.
“Berdasarkan analisis visi misi dan program kerja kandidat pada putaran pertama, tidak ada yang memperhatikan atau terlihat keseriusannya memperhatikan persoalan perempuan. Program lebih condong memarginalisasikan perempuan. Misalnya PKK, posyandu dan sebagainya yang menempatkan perempuan pada peran domestik saja,” ujarnya.
Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR) Yustrifiadi menjelaskan terdapat tujuh titik rawan yang akan mengakibatkan permasalahan dan pelanggaran serta menimbulkan ketidak percayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilukada, bila tidak dikawal dengan partisipasi warga Jakarta.
“Jadi kita jangan hanya fokus pada pengawalan politik uang saja. Tetapi kita juga harus fokus pada tujuh titik rawan permasalahan pemilukada,” kata Yustrifiadi.
Sementara itu mantan tim sukses (Timses) Faisal Basri-Biem Benjamin, Burhan Saidi, menyayangkan sikap mantan cagub dan cawagub dari jalur independen itu yang belum menentukan akan dibawa kemana suara independen. Terlebih menjelang putaran kedua yang akan digelar 20 September 2012 mendatang.
“Mengenai pemikirannya tentang proses Pemilukada DKI ini menyangkut keputusan Bang Faisal yang tidak mengarahkan dukungannya. Beliau mencoba menuangkan pendapat, bahwa perjalanan independen tak boleh berhenti sampai pemilihan gubernur saja. Mereka harus berlanjut menyuarakan visi dan misi ndependen,” kata Burhan Saidi di Jakarta, Kamis (13/9).
Terkait sikap diam Faisal Basri, Burhan mengaku resah, apalagi jumlah suara Faisal-Biem pada pemilukada mencapai 215.000 pemilih atau 5 prsen dari suara yang sah.”Perlu kita ingat ada 215.300 orang telah mempercayakan suaranya ke gerbong Faisal-Biem.”
____________________________________________________________

Foto HL
ARTIS film dan penyanyi yang kerap tampil seksi, Julia Perez, telah memutuskan tidak akan menerima dan beradegan seksi lagi dalam film. Artis yang akrab disapa Jupe beralasan karena dirinya pernah ditegur oleh Meutia Hatta untuk tidak lagi main dilm seksi.
“Saya pernah ditegur Meutia Hatta, saya enggak boleh main film seksi. Jadi, pas main film saya enggak mau main seksi,” kata Jupe ditemui di Restaurant Gado-Gado Boplo, Jalan Dr. Satrio, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Selanjutnya Jupe akan lebih mengedepankan aktingnya di depan kamera. Namun sebelum menerima tawaran film, Jupe harus mengetahui konsep dan jalan ceritanya seperti apa.
“Saya harus memilah akting. Kalau main film saya harus tahu dulu ceritanya seperti apa, dan sebagainya. Kenapa saya di kolam renang, kenapa begini, itu memang bagian dari cerita,” katanya.
Jupe menegaskan kedepannya, ia akan mengubah imejnya sebagai bintang film yang kerap mengumbar tubuh. Jupe ingin tampil lebih tertutup.
Ketika disinggung soal kabar kekasihnya Gaston Castano yang berniat jadi mualaf, Jupe berharap kabar tersebut menjadi yang terbaik buatnya.
“Alhamdulilah, kita doakan saja (Gaston mualaf). Mudah-mudahan ada kabar baik. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan tidak sia-sia,” ujar Jupe.
Meski belum membenarkan kabar tersebut, namun Jupe selalu mendoakan yang terbaik untuk Gaston. Jupe berharap, Gaston benar-benar mau berpindah agama, supaya seiman dengannya. “Kita Liat aja. Doain aja. Mudah-mudahan,” ujar Jupe.
____________________________________________________________


guruh dan dewi perssik
BEBERAPA hari lalu merebak kabar pedangdut Dewi Perssik, akan dilamar Guruh Soekarnoputra, meski kabar tersebut kemudian dibantah yang bersangkutan. Ada ihwal apa gerangan tiba-tiba Depe begitu Dewi Perssik biasa disapa dikaitkan dengn putra proklamator ini?
Usut-punya usut ternyata Dewi tergolong pengagum berat koreografer terkenal ini. “Dengan Mas Guruh aku memang dekat, tapi sebatas dekat saja. Ibarat, kata stafnya, beliau ngefans sama Dewi Persik,” ujar Depe ditemui di Jalan Wolter Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun demikian, bukan berarti pemilik goiyang gergaji itu menutup hati untuk Guruh. Jika memang berjodoh, Dewi akan menerima lamaran pria manapun.
“Kalau ada yang demikian, siapapun laki-lakinya berhak melamar saya, karena laki-laki kan harus melamar wanita. Tapi biarkan jodoh hanya Allah yang tahu,” ujarnya. Meski membantah kabar tersebut, namun Depe mengaku kagum dengan sosok putra mantan Presiden Soekarno itu.
Bagi Depe, Guruh adalah sosok yang sangat ia kagumi. Menurutnya, wanita mana yang tidak jatuh hati kepada adik kandung Megawati Soekarnoputri itu. “Saya hanya melihat sosoknya, saya kagum sama beliau. Kami memang dekat. Siapa sih yang nggak mau sama Mas Guruh Soekarno Putra,” kata Depe.
Guruh dimata janda Saiful Jamil dan Aldi Taher ini memiliki kepribadian menarik dan dewasa, rendah hati. “Sosoknya mapan, dewasa, low profile, itu yang saya suka. Dia mau makan di pinggir jalan sama saya, itu yang membuat saya salut,” tutur Depe.
____________________________________________________________

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget