Articles by "Syi'ah"

DAMASKUS - Setidaknya 68 pria yang terdiri dari pemuda dan remaja tewas dieksekusi dengan tembakan di kepala dan leher di kota Aleppo, Suriah. Mayat-mayat tersebut ditemukan di sungai Quweiq, yang memisahkan kota Bustan Al-Qasr kabupaten Ansari di barat daya kota Suriah.

Seperti dilansir AFP, Rabu (30/1), seorang kapten Tentara Suriah, Abu Sada di tempat kejadian mengatakan, sedikitnya 68 mayat telah ditemukan dan masih banyak lagi korban yang harus diseret dari dalam air.

"Sampai sekarang kami telah mengangkut 68 mayat, sebagian dari mereka remaja. Tapi masih ada 100 orang lagi di dalam air dan kami berusaha untuk memulihkan mereka," ujar kapten Abu Sada.

Seorang relawan sambil membantu memuat salah satu mayat di truk mengatakan ,"Kami tidak tahu siapa mereka karena tidak ada ID pada mereka,". Setidaknya 15 mayat sudah diangkut ke dalam truk. Abu Sada mengatakan, mereka akan dibawa ke rumah sakit agar para keluarga dan kerabat dapat mengidentifikasi mereka. "Bagi yang tidak teridentifikasi akan dimakamkan di pemakaman umum," katanya.

Pekan lalu, organisasi aktivis Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan lebih dari 100 orang dibantai di kota Homs oleh pasukan rezim pemerintah Suriah. Menurut laporan yang dikutip Reuters, para korban ditembaki, ditikam atau dibakar hingga tewas oleh para tentara Presiden Bashar al-Assad.

Menurut organisasi yang berbasis di Inggris ini, sebanyak 106 tewas terbunuh, termasuk wanita dan anak-anak di wilayah Basatin al-Hasawiya, pinggiran kota Homs, Selasa pekan lalu.

Pembantaian ini terjadi berbarengan harinya dengan dua ledakan di kampus Aleppo yang  menewaskan lebih dari 80 orang. Hal ini akan memperparah kondisi warga di Aleppo yang juga sedang berjuang melawan dingin di musim salju.

Aktivis mengatakan di antara para korban adalah keluarga besar Khazam yang berjumlah 17 orang. Rumah mereka di Basati al-Hasawiya dibom oleh pasukan Suriah. "Organisasi kami telah mempublikasikan nama 14 orang dalam satu keluarga, termasuk tiga anak kecil, dan kami dapat informasi satu keluarga besar terbunuh," ujat Rami Abdelrahman, kepala Syrian Observatory for Human Rights.

Banyaknya korban tewas tidak ayal akan memperpanjang angka kematian yang dirilis PBB beberapa waktu lalu. Menurut laporan PBB, sejak 22 bulan konflik, telah lebih dari 60.000 orang yang tewas.

Pemerintah Assad bergeming dengan tuntutan internasional dan menolak menyerahkan tampuk kekuasaannya pada kehendak rakyat. Dengan dalih menggempur sarang pemberontak, dia dengan bala tentaranya membunuh warga sipil, termasuk anak-anak tidak berdosa. dtc, viv

Mayat Syi'ah
SURIAH. – Kamis, 24 Januari 2013, salah seorang perwira Bashar Al-Asad yang membelot yang berada bandara militer Kwers mengatakan bahwa jasad pasukan Bashar Al-asad memenuhi bandara.

Komando Umum Tentara Pembebasan Suriah , melalui halaman di jejaring sosial Facebook, bahwa perwiran Al-Asad yang membelot itu berhasil keluar dengan selamat dari bandara. Di mana di tempat itu berlangsung pertempuran mereka dengan pasukan oposisi, dalam upaya pembebasan bandara tersebut dari pasukan Bashar Al-Assad.

Halaman tersebut menukil perkataan seorang perwira tersebut bahwa jasad dan mayat para perwira dan tentara memenuhi tempat itu dan bagian tubuh mmereka berserakan di sudut – sudut bandara, dan kondisi di sana susah untuk di gambarkan serta tentara pemerintah tidak akan bertahan dan bisa bangkit dalam waktu yang lama.

Nasib Presiden Bashar al-Assad hanyalah akan menghitung jari tangan, dan kekuatan militer terus rontok, akibat pembelotan, dan terus bergabung dengan para pejuang oposisi yang berjuang menggulingkan Bashar al-Assad yang sangat biadab dan keji. (usama/imo)

Mujahidin Irak
SAMARA'  – Rezim Syiah Irak melancarkan serangan gabungan terhadap mujahidin Daulah Islam Irak pada Senin (21/1/2013) pagi di distrik Samara'. Operasi gabungan itu melibatkan Pasukan Divisi IV, Komando Operasi Samara' dan milisi Shahwat loyalis rezim Syiah Irak untuk wilayah Samara', Hadidi dan Jazirah.
Operasi gabungan itu diikuti oleh lebih dari seribu tentara dan milisi loyalis rezim Syiah Irak. Namun pasukan besar dengan persenjataan lengkap itu terperangkap dalam jebakan kesatuan-kesatuan mujahidin di distrik Samara'. Mereka masuk dalam killing zone mujahidin dan menjadi sasaran empuk penyergapan mujahidin yang lebih menguasai medan pertempuran di wilayah tersebut.
Baku tembak sengit terjadi antara mujahidin Irak dan pasukan gabunan rezim Syiah Irak. Pasukan rezim Syiah Irak mengalami kerugian sangat besar. Puluhan tentara tewas dan kendaraan militer mereka hancur.
Kendaraan Land Cruiser yang dikendarai oleh Panglima Komando Operasi Samara', letjen Shakir Halil Muawin hancur total dan terbakar oleh tembakan mujahidin. Letjen Shakir sendiri mengalami luka parah dan dilarikan ke Rumah Sakit Samara' untuk mendapatkan perawatan medis. Perwira tinggi lainnya yang tewas dalam pertempuran itu adalah Letkol Mahdi Ja'far, Perwira Intelijen Komando Operasi Samara', laporan harian Sumeria News.
Pasukan gabungan rezim Syiah Irak didesak oleh serangan mujahidin ke kawasan Khuzaimi, sebuah kawasan gurun yang terbuka. Mereka menjadi sasaran empuk serangan mujahidin. Lebih dari 100 perwira, tentara dan milisi Shahwat tewas dalam baku tembak sengit tersebut. Komandan milisi Shahwat wilayah Samara', Majid Al-Bazi Abu Faruq, tewas dalam pertempuran dan kendaraan Salvador yang dikendarainya hancur terkena roket mujahidin.
Setelah beberapa jam menjadi bulan-bulanan mujahidin, pesawat tempur rezim Syiah Irak dikerahkan untuk menyelamatkan sisa-sisa pasukan yang terjebak di kawasan Al-Khuzaimi. Pesawat tempur membombardir wilayah sekitar jalan raya Syaikh Muhammad di pinggiran Al-Khuzaimi. Bombardir udara itu ditujukan kepada rumah-rumah penduduk sehingga menewaskan banyak warga sipil setempat. (muhib almajdi/arrahmah.com)

02.24
Para mantan pengikut  aliran sesat Syi’ah di Sampang  Madura pimpinan Tajul Muluk itu beralasan selama ini merasa dibohongi dengan ajaran yang dibawa Tajul Muluk.

Sebanyak 30 pasangan keluarga pengikut Tajul Muluk, tokoh pembawa ajaran Syiah di Kecamatan Omben, Sampang dikabarkan telah menyatakan diri kembali pada keyainan semula, Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Kabar ini disampaikan pertama kali oleh KH. Syaifuddin, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Kecamatan Omben, Sampang, Madura.
Kembalinya mantan pengikut Tajul Muluk ke Ahlus Sunnah Wal Jamaah ini ditandai pembacaan ikrar  pada hari Rabu (24/10/2012) sore, dua hari sebelum Hari Raya Idul Adha. Pembacaan pernyataan perpindahan ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Kecamatan Omben, Sampang.
“Acaranya sangat mendadak. Yang mewakili pihak pria saja, karena pihak wanita dan anak-anak tidak ikut,” ujar KH. Syaifuddin kepada hidayatullah.com, Senin (29/10/2012).
Menurut Rois Syuriah NU Sampang ini, acara pengikraran ini sebenarnya difasilitasi pengurus NU Kecamatan Omben, Sampang. Acaranya sendiri berlangsung sederhana dengan dihadiri beberapa saksi. Diantararanya; Kepala Kantor Kementerian Agama Sampang, Ahmad Mujalli, Wakil Badan Kesatuan Bangsa(Bakesbang) Sampang, Kapolsek Sampang dan beberapa kiai setempat.
Haji Abdul Manan, Ketua Tanfidziyah Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Omben,  yang juga fasilitator pembacaan ikrar ini, menceritakan, sebelum berjanji di hadapan banyak orang, ia kedatangan pengikut Tajul Muluk yang meminta difasilitasi untuk kembali ke ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah (dalam hal ini kembali ke NU).
Menurut pengakuan Abdul Manan, para mantan pengikut Tajul Muluk itu beralasan selama ini merasa dibohongi dengan ajaran yang dibawa Tajul Muluk.
“Alasan mereka kembali ke Ahlus Sunnah Wal Jamaah ada dua. Pertama mereka mengaku merasa dibohongi selama ini dan kedua, mereka dan keluarganya ingin ketenangan dan aman,” ujarnya kepadahidayatullah.com.
Menurut Manan, sebelum meminta difasilitasi menghadap para kiai, mantan pengikut Tajul Muluk ini mengaku kaget saat menjadi saksi dalam persidangan Tajul Muluk. Sebab, apa yang selama ini ia yakini ternyata tidak sesuai kenyataan yang mereka pahami.
“Diantaranya, dalam persidangan rupanya mereka kaget ada rukun Syiah enam. Selama ini mereka mengira ajarannya yang dibawa Tajul sama dengan yang ia pahami. Mereka tidak paham jika ajaran itu selama ini difatwakan sesat para ulama,” tambah Manan.
Karena itulah akhirnya mereka atas kesadaran sendiri memutuskan kembali ke ajaran  semula, yakni Ahlus Sunnah Wal Jamaah (NU, red).
Menurut Abdul Manan, ikrar yang disaksikan para ulama setempat itu setidaknya berisi tiga poin. Pertama mereka berjanji kembali ke ajaran semula, yakni Ahlus Sunnah Wal Jamaah (NU, red). Kedua, mereka siap mengamalkan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan ketiga, siap meninggalkan ajaran yang dinilai sesat para ulama.*
Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar Senin, 29 Oktober 2012
Hidayatullah.com— judul: Mengaku Tertipu, 30 Mantan Pengikut Tajul Kembali ke NU

11.42 ,


KRONOLOGIS BENTROK ANTARA SYI’AH – SUNNI DI SAMPANG
TANGGAL 26 AGUSTUS 2012
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh MUI Jawa Timur tanggal 27 Agustus 2012 terkait dengan bentrok  antara warga masyarakat dari dua desa, yaitu  dusun Nangkernang – desa Karang Gayam - Kecamatan Omben dan desa Blu’uran – Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang Madura, yang melibatkan dua kelompok masyarakat yaitu Pengikut Tajul Muluk yang berfaham Syi’ah dan warga Karang Gayam dan Blu’uran yang berfaham Ahlus Sunnah.
Berikut kronologis kejadian yang melatar belakangi bentrok fisik antara warga Syi’ah dan Sunni pada tanggal 26 Agustus 2012 pukul 10.00 WIB di desa Karang gayam Kecamatan Omben :
I. Pada tanggal 19 Juli 2012 Masyarakat Karang Gayam menyampaikan beberapa pernyataan  kepada Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura  (BASSRA) agar disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sampang, dengan isi pernyataan tersebut sebagai berikut:
  1. Masyarakat Karang Gayam mengucapkan terima kasih kepada BASSRA yang telah mengawal proses hukum Tajul Muluk hingga divonis selama 2 tahun penjara. 
  2. Bila Tajul Muluk telah divonis sesat maka pengikutnya harus dikembalikan  kepada faham semula yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah  atau diproses hukum  sebagaimana Tajul Muluk. 
  3. Masyarakat Karang Gayam menginginkan desa mereka seperti desa yang lain, tidak terdapat Syiah. 
  4. Meminta kepada para Ulama untuk  menyampaikan pernyataan sikap ini kepada pihak – pihak yang berwenang.
II. Setelah menerima pernyataan sikap dari Masyarakat, BASSRA mengadakan audiensi dengan Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA) pada tanggal 7 Agustus 2012 dan menyampaikan tuntutan masyarakat , dari hasil diskusi tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain sebagai berikut :
  1. Proses pengembalian para pengikut Tajul Muluk ke faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sedang diupayakan bersama oleh gabungan antara Kapolres Sampang, Nahdhatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Ulama setempat dibawah koordinasi Pemkab Sampang. 
  2. Kapolres harus mengaktifkan pelarangan senjata tajam (Sajam) di Karang Gayam, Blu’uran, Sampang. 
  3. Anak-anak warga Syiah yang dibeasiswakan ke pondok-pondok Syiah adalah tanggung jawab Pemkab Sampang untuk memulangkan dan memasukkan ke pondok-pondok Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA) dengan biaya dari Pemkab. 
  4. Ulama BASSRA bersama pemerintah Sampang akan mengawal naik banding Tajul Muluk dengan audiensi kepada  Gubernur Jatim. 
  5. Khusus untuk jangka pendek kasus Sampang disepakati tidak mengangkat sebutan Syi’ah, cukup sebutan aliran sesat agar proses hukum Tajul Muluk berjalan lancar. 
  6. Mengupayakan agar BAKORPAKEM Sampang bisa memutuskan dan menetapkan bahwa Syiah itu sesat dan harus dilarang di Madura, keputusan itu diajukan ke BAKORPAKEM Jatim bahkan ke Pusat. 
III. Pada tanggal 23 Agustus 2012, masyarakat Karang Gayam menuntut  kepada BASSRA terkait dengan enam item janji Pemkab Sampang yang disampaikan kepada Ulama BASSRA pada tanggal 7 Agustus 2012 karena mereka melihat bahwa belum ada realisasi dan penanganan dari pihak manapun
IV. Menurut rencana BASSRA dan ulama setempat akan melakukan pertemuan dengan Pemkab Sampang, namun pada tanggal 26 Agustus 2012 terjadi bentrokan antara masyarakat dengan pengikut Tajul Muluk sekitar jam 10.00 WIB, yang dipicu oleh beberapa hal sebagai berikut :
  1. Anak-anak para pengikut Syi’ah yang dipondokkan ke YAPI Bangil dan Pekalongan akan kembali pasca libur lebaran, sementara masyarakat meyakini bahwa anak-anak tersebut tidak akan kembali lagi ke YAPI Bangil dan Pekalongan karena dijamin beaya pendidikannya oleh Pemkab Sampang untuk disekolahkan / dipondokkan di lembaga pendidikan dan pesantren di sampang agar tidak tercerabut dari akar budaya, Tradisi dan adat istiadatnya setempat,  dan masyarakat menilai kalau mereka tetap kembali akan menjadi kader Syi’ah dan kelak akan menjadi persoalan baru yang lebih besar. 
  2. Karena pemahaman masyarakat seperti tersebut diatas, maka masyarakat Karang Gayam mencegah mereka dan secara baik menyarankan untuk kembali lagi ke rumah, tidak ada sedikitpun kekerasan dilakukan dan masyarakat Sunni tidak membawa senjata tajam. 
  3. Selama perjalanan kembali tidak ada tanda-tanda perlawanan dari mereka sampai mendekati rumah kediaman Tajul muluk, komunitas Syi’ah mulai mengolok-olok masyarakat Sunni dan nampaknya komunitas syi’ah sudah mempersiapkan senjata- sesampai di komplek kediaman tersebut terjadilah insiden penyerangan oleh pihak Syiah kepada masyarakat dengan melakukan pelemparan menggunakan batu, bom Molotov yang sudah mereka persiapkan,  ranjau-ranjau yang siap meledak ketika diinjak, bahkan bahan-bahan  peledak yang mereka bawa dikantong saku mereka yang didalamnya berisi butiran kelereng. 
  4. Penyerangan tersebut tidak hanya berbentuk pelemparan tetapi juga dengan memprovokasi massa agar masuk ke pekarangan rumah tersebut, ketika masyarakat terprovokasi dan masuk ke halaman rumah, kemudian  terdengarlah bunyi ledakan yang berasal dari ranjau yang mereka pasang dan bom Molotov yang mereka lempar sehingga ada beberapa masyarakat yang terluka oleh serpihan dari ledakan yang berupa kelereng, baik yang masih utuh maupun yang pecah semua korban adalah masyarakat yang berfaham Sunni- diantara mereka ada yang jari jemarinya putus, ada yang luka di bagian paha dan didalamnya terdapat kelereng yang masih utuh, ada yang luka di bahu dan kepala. 
  5. Ketika korban berjatuhan dipihak masyarakat Sunni– rupanya komunitas syi’ah membekali diri dengan ilmu kebal, hal ini terbukti bahwa peledak yang dibawa disaku mereka ketika meledak sama sekali tidak mencederai tubuh mereka, tetapi mencederai tubuh-tubuh masyarakat sunni yang memang sama sekali tidak mempersiapkan diri dengan senjata maupun perlengkapan yang memadai sehingga masyarakat Sunni mundur, situasi ini memancing masyarakat untuk meminta bantuan dan mengambil persenjataan yang memadai untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh komunitas Syi’ah, diantaranya dengan disuarakan lewat teriakan dan  pengeras suara yang ada di mushalla, kemudian masyarakat berdatangan  untuk memberi pertolongan dan bantuan kepada mereka sehingga terjadilah bentrok yang tidak terelakkan diantara kedua belah pihak yang sama-sama membawa senjata. 
  6. Seorang yang bernama bapak Hamamah dari komunitas Syi’ah  secara provokatif dan demonstratif dengan memamerkan kekebalan tubuhnya merangsek kedalam kerumunan masyarakat Karang Gayam dengan menyerang secara membabi buta menggunakan senjata tajam berbentuk celurit panjang, dan masyarakat pun melawan dengan senjata pula, yang mengejutkan tidak satupun sabetan yang diarahkan ke tubuh bapak Hamamah mencederai tubuhnya.selanjutnya terjadilah bentrok yang berakhir pada terbunuhnya bapak Hamamah, disebabkan diantara masyarakat mengetahui cara menghadapi ilmu kebal tersebut dengan cara menyerang dari belakang. 
  7. Ada kejadian yang mengejutkan bahwa ternyata rumah Tajul Muluk yang dibakar oleh massa menimbulkan  ledakan yang cukup besar, yang belakangan diketahui bahwa ledakan tersebut dipicu oleh remote control. 
  8. Dari bentrok tersebut yang menjadi korban adalah 1 orang meninggal bernama Hamamah, 1 orang kritis bernama Thohir dan 5 orang luka-luka terkena serpihan bom Molotov, ranjau  dan peledak  yang dibawa oleh komunitas Syi’ah, korban luka-luka ini semuanya dari masyarakat Sunni. 
  9. Dari bentrok yang terjadi, sampai saat ini kepolisian menangkap sekitar 7 orang atau versi lain 8 orang tetapi yang di tangkap adalah  masyarakat yang berfaham Sunni, tidak satupun komunitas Syi’ah yang memicu konflik diamankan oleh kepolisian samentara ini. 
  10. Jumlah rumah yang dibakar menurut laporan yang kami dapat sebanyak 9 rumah, dengan pemahaman bahwa setiap rumah yang ada disampang terdiri dari minimal 3 bangunan, yaitu rumah, dapur dan mushalla, hal inilah yang menyebabkan perbedaan jumlah yang dilaporkan.
V. Pada Tanggal 26 Agustus 2012 sekitar jam 12.00 WIB banyak media massa yang meminta wawancara khusus terkait kasus ini kepada KH Abdusshomad Buchori (Ketua Umum MUI Jatim) namun dijanjikan untuk wawancaranya hari senin pagi dengan pertimbangan bahwa MUI perlu mengumpulkan bahan-bahan yang memadai,kemudian Ketua Umum mengutus salah satu Ketua MUI Jatim  yang bernama  Drs. KH Nuruddin A. Rahman,SH yang berdomisili di Bangkalan dan KH Buchori Maksum (Ketua Umum MUI Sampang)  untuk memantau situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, diantaranya Kapolres Sampang, MUI Sampang, Ulama BASSRA, ulama dan tokoh masyarakat setempat kemudian  melaporkan perkembangan yang terjadi kepada MUI Jawa Timur.
VI. Pada Hari Senin tanggal 27 Agustus 2012 jam 10.00 WIB wawancara dilakukan oleh KH Abdusshomad Buchori dengan beberapa media Cetak, Elektronik dan Online dengan statement sebagai berikut :
  1. MUI Jatim meminta kepada masyarakat agar tetap waspada dan menahan  diri, baik masyarakat Karang Gayam yang berfaham Sunni, maupun Komunitas Syi’ah agar skala konflik tidak meluas. 
  2. Meminta kepada aparatur pemerintah agar melakukan langkah-langkah produktif dalam rangka menyelesaikan konflik yang terjadi demi terwujudnya situasi yang kondusif bagi ketenteraman dan ketertiban masyarakat di Jawa Timur. 
  3. Kasus seperti ini sudah beberapa kali terjadi, tetapi penyelesaian yang dilakukan tidak tuntas dan komprehensif, sehingga dibutuhkan mekanisme penyelesaikan yang tidak hanya fokus pada kejadiannya saja, tetapi akar persoalan yang menjadi pemicu juga harus diselesaikan dengan baik, sehingga tidak terjadi lagi kasus serupa dikemudian hari.
  4. Ada statement keliru  yang disampaikan sebagian tokoh masyarakat terkait dengan penyebab terjadinya kekerasan  yang diakibatkan oleh fatwa MUI,  oleh karena itu perlu disampaikan  bahwa, fatwa kesesatan Syi’ah tersebut sebagai guidance untuk menjaga Aqidah dan Syari’at bagi ummat Islam di Jawa Timur yang berjumlah 96, 76 % dari 38 juta penduduk Jawa Timur yang pada umumnya berfaham Sunni, kalau semua faham menyimpang dan sesat dibiarkan berkembang dimasyarakat, maka akan terjadi disharmoni bangsa, bahkan didalam fatwa tersebut ada klausul untuk tidak anarkhis.

VII. Pada Hari Senin tanggal 27 Agustus 2012 pukul 16.30 WIB, MUI Jawa Timur melakukan kunjungan ke Kabupaten Sampang yang diikuti oleh KH Abdusshomad Buchori (Ketua Umum), Drs.H.Abdurrachman Azis,M.Si (Ketua Bid. Infokom), Drs.H.Masduki,SH (Bendahara Umum) dan Mochammad Yunus,SIP (Sekretaris) untuk melakukan silaturrahim dengan MUI kabupaten Sampang, Ulama BASSRA, tokoh masyarakat, Paramedis yang menangani korban dan beberapa masyarakat yang menjadi saksi kejadian serta pihak kepolisian.
VIII. Pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2012 pukul 13.30 WIB, MUI Jawa Timur mengikuti rapat bersama dengan PW NU Jatim, PC NU Sampang, MUI Sampang dan beberapa aktivis yang menyaksikan bentrokan yang terjadi, diantaranya adalah Ustad Nuruddin dan  Ustadz Ridho’i (ketua banser setempat), dalam rapat tersebut disepakati bahwa :
  1. Masyarakat yang tinggal di desa Karang Gayam dan sekitarnya merasa aman, tenteram dan kondusif sebelum kedatangan Tajul Muluk dengan membawa aliran Syi’ah, gangguan keamanan,ketenteraman dan ketertiban terjadi  setelah masuknya ajaran Syi’ah didesa mereka yang dibawa oleh Tajul Muluk.
  2. Yang  menjadi pemicu terjadinya konflik dimasyarakat Karang Gayam dan Sekitar adalah keberadaan Tajul Muluk dengan ajaran Syi’ah yang sampaikan  dengan menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan iming-iming dana  kepada masyarakat setempat. 
  3. Kesimpulan rapat tersebut adalah bahwa kalau Syi’ah dikembangkan di Indonesia maka membuat Indonesia tidak aman dan berpotensi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
IX. Pada tanggal 29 Agustus 2012, kemudian dilakukan klarifikasi kepada pihak kepolisian terkait dengan kebenaran hasil investigasi MUI Jatim, pihak kepolisian membenarkan hasil temuan tersebut.
X. Komunitas Syi’ah yang ada memiliki kecenderungan kepercayaan diri berlebihan bahwa Syi’ah akan menjadi besar di Indonesia disebabkan oleh komentar-komentar para tokoh yang mengeluarkan statement akan melindungi Minoritas di Indonesia dengan dalih Hak Azasi manusia, pemikiran seperti ini memiliki pengaruh besar terhadap usaha-usaha mereka untuk mengembangkan eksistensinya ,karena merasa disokong oleh tokoh-tokoh yang berpengaruh di negeri ini, dan pada gilirannya membawa peluang terjadinya konflik yang lebih besar
XI. Untuk menjaga dan mengamankan keutuhan NKRI, pemerintah seharusnya meningkatkan kapasitas dan kualitas serta memelihara dengan baik eksistensi Sunni di Indonesia dengan memberikan payung hukum terhadap keberadaannya, karena secara realitas Indonesia adalah Bumi Sunni.
XII. Berdasarkan diskusi internal beberapa pengurus Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur, dengan memperhatikan pernyataan Syeh Yusuf Qaradhawi terkait dengan hubungan Syia’ah dan Sunni di dunia, bahwa ajaran Syiah dan Sunni memiliki perbedaan pokok yang mendasar sehingga apabila ajaran Syi’ah dikembangkan di suatu Negara yang berfaham Sunni maka tidak akan memiliki titik temu, demikian pula sebaliknya, hendaklah pengambil keputusan di negeri ini menjadikan statement tersebut  sebagai referensi dalam rangka mengambil keputusan terbaik dalam mengahadapi kasus – kasus konflik berlatar belakang Syi’ah – Sunni di Indonesia.
XIII. Mengharap agar Pemerintah dan Masyarakat mencermati pemberitaan media, baik cetak, elektronik dan online yang cenderung distorsif dengan menggunakan istilah – istilah yang provokatif semisal “Musibah Agama nodai Sampang”,”Penyerangan kaum Sunni kepada Komunitas Syi’ah”, “Warga Syi’ah kembali diserang”, “pembunuhan terhadap pak Hamamah” dan lain sebagainya, yang seharusnya istilah yang tepat adalah “terjadi bentrok”, “terbunuh”, karena kedua belah pihak terjadi pertikaian yang diawali dengan adanya provokasi, misalnya lemparan batu, ledakan bom Molotov dan ranjau yang ditanam oleh komunitas Syi’ah.
XIV. Pernyataan  Komnas HAM yang mendiskreditkan aparat keamanan, pemerintah setempat dan elemen-elemen lain di Kabupaten Sampang  adalah merupakan statement provokatif yang kurang bertanggung jawab dan justru membuat suasana semakin tidak kondusif bagi terciptanya ketenteraman dan ketertiban masyarakat.
XV. Mengharap dengan hormat agar pemerintah, baik Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Negarawan ,Akademisi, Politisi, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Budayawan, Seniman dan golongan “The have”, hendaklah memiliki pemikiran yang jernih, cerdas dan  visioner untuk menyelamatkan negeri tercinta Indonesia dari kehancuran.
XVI. Demikian informasi ini disampaikan, apabila ada perkembangan baru  akan kami sampaikan berikutnya.

Surabaya, 10 Syawal 1433   H
               28 Agustus 2012 M

 Ketua                                   Sekretaris

KH Abdusshomad Buchori       Mochammad Yunus,SIP   

Team Investigasi Kasus Bentrok Syi’ah – Sunni Sampang
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur

  1. KH Abdusshomad Buchori        (Ketua Team)
  2. Mochammad Yunus,SIP           (Sekretaris)
  3. Drs.H.Abdurrachman Azis,M.Si  (Anggota)
  4. Drs.H.Masduqi,SH                   (Anggota)

11.35
JAKARTA (voa-islam.com) - Sekretaris MUI Jawa Timur, KH. Mochammad Yunus mengungkapkan bentrokan antara umat Islam dengan aliran sesat Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012 justru diprovokasi oleh pengikut Syiah dengan melakukan penyerangan lebih dulu.

Saat itu anak-anak para pengikut Syi’ah yang dipondokkan ke YAPI Bangil dan Pekalongan akan kembali pasca libur lebaran, sementara masyarakat meyakini bahwa anak-anak tersebut tidak akan kembali lagi ke YAPI Bangil dan Pekalongan karena dijamin biaya pendidikannya oleh Pemkab Sampang untuk disekolahkan / dipondokkan di lembaga pendidikan dan pesantren di sampang agar tidak tercerabut dari akar budaya, tradisi dan adat istiadatnya setempat  dan masyarakat menilai kalau mereka tetap kembali akan menjadi kader Syi’ah dan kelak akan menjadi persoalan baru yang lebih besar.

Karena pemahaman masyarakat seperti tersebut diatas, maka masyarakat Karang Gayam mencegah mereka dan secara baik menyarankan untuk kembali lagi ke rumah, tidak ada sedikitpun kekerasan dilakukan dan masyarakat Sunni tidak membawa senjata tajam.

“Tidak ada perlawanan sampai akhirnya mendekati rumah Tajul Muluk. Ketika sudah mendekati rumah Tajul Muluk ini, apa yang terjadi bapak ibu sekalian? mereka mulai megolok-olok orang Karang Gayam, Bluuran, mereka mulai melempari dengan batu, mereka mulai memancing emosi masyarakat Karang Gayam,“ ungkap KH. Mochammad Yunus dalam tabligh akbar “Mengokohkan Ahlus Sunnah” di masjid Al-Furqon DDII, Jakarta, pada Ahad (16/9/2012).

“Nah, ketika masyarakat Karang Gayam terpancing emosi mereka mulai membuat garis putih di depan rumah Tajul Muluk, garis putih inilah ternyata batas antara pengikut Syiah dan umat Islam,” sambungnya.
...ranjau-ranjau yang mereka tanam meledak berhamburan kelereng-kelereng. Ada yang kena tangan seseorang sehingga tangannya putus...

Di sinilah menurut KH. Mochammad Yunus, para pengikut Syiah menjebak umat Islam lalu mereka terkena bom ranjau yang dipasang oleh pengikut Syiah.
"Di dalam garis putih itu ketika mereka memprovokasi masa agar masuk, setelah mereka masuk, apa yang terjadi? ranjau-ranjau yang mereka tanam meledak, berhamburan kelereng-kelereng. Ada yang kena tangan seseorang sehingga tangannya putus, ada yang masuk ke bahunya, ada yang masuk ke kepalanya, ada yang masuk di pahanya dalam bentuk kelereng itu masih utuh, akhirnya orang-orang pada ketakutan," bebernya.

Situasi itu memancing masyarakat untuk meminta bantuan dan mengambil persenjataan yang memadai untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh komunitas Syi’ah, diantaranya dengan disuarakan lewat teriakan dan  pengeras suara yang ada di mushalla , kemudian masyarakat berdatangan  untuk memberi pertolongan dan bantuan kepada mereka sehingga terjadilah bentrok yang tidak terelakkan diantara kedua belah pihak yang sama-sama membawa senjata.

Ia juga mengungkapkan sebuah misteri tewasnya seorang pengikut Syiah yang bernama Hamamah. Ia membantah sejumlah media yang memberitakan jika Hamamah adalah seorang perempuan.

“Terkait dengan hamamah, ini saya cukup sedih karena di media diberitakan bahwa orang-orang Sunni membunuh orang-orang perempuan namanya Hamamah, ini kan naif sekali. Hamamah itu laki-laki, jadi tradisi di sana, kenapa di dipanggil Hamamah karena anak pertamanya perempuan namanya Hamamah sehingga dipanggil pak Hamamah, “ ucapnya.
...Ketika bentrok itu terjadi hingga Hamamah meninggal, mereka semua kebal terhadap senjata tajam, termasuk juga Hamamah...

Para pengikut Syiah termasuk Hamamah ternyata kebal senjata tajam, meski begitu Hamamah akhirnya tewas dalam bentrokan tersebut.
"Orang ini ternyata ketika bom-bom itu meledak sama sekali tidak mencederai tubuh orang-orang Syiah, orang-orang Sunni itu kena, jadi korbannya itu orang-orang Sunni, ini kesaksian dari seorang bernama Ar Roih, dia adalah tenaga paramedis dari PMI, dia merawat semua orang Sunni yang menjadi korban. Ketika bentrok itu terjadi hingga Hamamah meninggal, mereka semua kebal terhadap senjata tajam, termasuk juga Hamamah," tuturnya.   

Dalam rilis hasil investigasi MUI Jawa Timur juga diceritakan bahwa bapak Hamamah secara provokatif dan demonstratif dengan memamerkan kekebalan tubuhnya merangsek kedalam kerumunan masyarakat Karang Gayam dengan menyerang secara membabi buta menggunakan senjata tajam berbentuk celurit panjang.
Masyarakat pun melawan dengan senjata pula, yang mengejutkan tidak satupun sabetan yang diarahkan ke tubuh bapak Hamamah mencederai tubuhnya. selanjutnya terjadilah bentrok yang berakhir pada terbunuhnya bapak Hamamah, disebabkan diantara masyarakat mengetahui cara menghadapi ilmu kebal tersebut dengan cara menyerang dari belakang.

Selain itu,  KH, Mochammad Yunus juga menceritakan kejadian mengejutkan yang tak pernah terungkap di media bahwa ternyata rumah Tajul Muluk yang dibakar oleh massa menimbulkan ledakan yang cukup besar, yang belakangan diketahui bahwa ledakan tersebut dipicu oleh remote control. [Ahmed Widad]
____________________________________________________________


BAGHDAD  – Rezim boneka Syiah Irak memulai pelaksanaan eksekusi mati terhadap sekitar 300 warga muslim dan muslimah sunni di Irak. Pada Rabu (29/8/2012) eksekusi dimulai terhadap 5 tawanan muslim sunni yang berada dalam penjara Syu'bah Khamisah, Baghdad.
Eksekusi mati terhadap 5 tawanan muslim sunni itu akan segera disusul dengan eksekusi-eksekusi berikutnya. Pada Kamis (30/8/20012) sebanyak 10 tawanan muslim sunni dipindahkan dari penjara Rushafat ke penjara Syu'bah Khamisah, Baghdad sebagai persiapan pelaksanaan eksekusi mati.
Media massa di Irak melakukan liputan khusus terhadap pelaksanaan eksekusi mati tersebut. Dalam salah satu liputan, kamerawan sebuah stasiun TV Irak merekam wajah Firas Al-Janabi. Tawanan muslim sunni yang berasal dari kawasan Mahmudiyah, Baghdad itu tampak tersenyum bahagia. Tidak nampak kesedihan dan ketakutan pada dirinya walau akan menjalani eksekusi mati. Dengan kedua tangan diborgol, ia mengangkat jari telunjuknya sebagai isyarat bersyahadat sebelum menjemput kematian.
Allahu akbar, begitulah para mujahid muslim sunni menyambut kematian di jalan Allah. Mati syahid bagi mereka adalah karunia tertinggi dari Allah Ta'ala. Semoga Allah menerima amalnya dan menempatkannya pada surga Firdaus yang tertinggi.

SURIAH  - Video ini adalah rekaman rahasia yang terungkap, salah satu kebiadaban pasukan rezim Syi'ah Nushairiyah pimpinan Bashar Assad. Video yang berdasarkan postingan di Youtube tercatat tahun 2011 ini, tidak diketahui di kota mana, menunjukkan sejumlah demonstran Muslim Suriah dikubur hidup-hidup - tampaknya pakaian mereka telah dilucuti - oleh bala tentara Assad di sebuah tempat yang nampaknya jauh dari keramaian dan seperti gurun pasir.
Kekejian ini semakin menambah perih hati kaum Muslimin, baru-baru ini seorang pria dikubur hidup-hidup oleh bala tentara Assad setelah ia ditangkap karena ketahuan sering mengirim video pembantaian yang dilakukan pasukan keji Assad (semoga Allah melaknat mereka) ke situs Aljazeera.
Semoga Allah melaknat orang-orang yang menyiksa dan membunuh kaum Muslimin tanpa alasan yang hak. Ini adalah satu dari sejumlah bukti kekejaman rezim Syi'ah Nushairiyah di Suriah.
"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,  Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (Al-Buruj: 8-10)


10.31 , ,


Oleh: Ust. Abu Misykah Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, para sahabatnya, dan umatnya yang senantiasa berpegang dengan sunnah-sunnahnya.
Pagi-pagi buta sampai kabar kepada kami, tadi malam ada kerusuhan antara Sunni-Syi'ah di Puger, Jember. Kabar yang dikirimkan seorang Ustad Alumnus Al-Azhar, Kairo menyebutkan, "Sekitar habis Maghrib, 7 orang Syi'ah mendatangi 4 orang Sunni yang berencana mengadakan pengajian tanggal 7 Juni besok dengan pembicara Habib Muhdhor al-Hamid, ulama Sunni yang anti Syi'ah. ketujuh orang Syi'ah tersebut meminta agar pengajian Ustadz Muhdhor digagalkan. Akhirnya terjadi perang mulut dan berakhir dengan pembacokan oleh orang-orang Syi'ah terhadap orang Sunni, sampai berdarah-darah."
"Setelah pembacokan, massa berdatangan. Akhirnya 7 orang Syi'ah itu kabur. 2 sepeda motor mereka ada yang tertinggal, kemudian dibakar massa. Tadi malam 2 orang Syi'ahnya sudah tertangkap Polisi," kelanjutan pesan yang dikirim kepada kami.
Sebenarnya konflik Sunni–Syi'ah bukan persoalan baru. Sejak beberapa abad yang lalu sudah terjadi. Hal itu di antara sebabnya, karena prinsip dari ajaran Syi'ah yang bersifat antagonis dan kemarahan terhadap pihak yang berseberangan paham dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Mereka, kaum Syi'ah menghina dan mengafirkan Abu Bakar as-Sidiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan, dan mayoritas sahabat Nabi Ridhwanullah 'Alaihim. Kebencian terhadap para sahabat tadi berimbas dan diberlakukan kepada siapa saja yang loyal kepada mereka. Bahkan takfir (hukum kafir) kepada sahabat juga mereka berlakukan kepada umat yang mencintai dan mengikuti mereka, khususnya  dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.  
Masyarakat muslim Indonesia mayoritas bermadhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Sunni). Maka saat faham Syi'ah berkembang di negeri ini dan semakin banyak pengikutnya gesekan pasti tak bisa dihindarkan. Dan terlebih ajaran Syi'ah sendiri mengajarkan untuk menunjukkan kebencian kepada Ahlus Sunnah. Contoh kasusnya seperti penyerangan terhadap Pesantren Syi’ah YAPI di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, pada Selasa (15/2/2011), beberapa knflik di Jember dan tempat lainnya.
Biasanya saat terjadi perseteruan antara Sunni-Syi'ah selalu yang dianggap tidak toleran adalah kelompok mayoritas. Padahal tidak demikian. Sebaliknya, ajaran akidah Syi'ah-lah yang mengajarkan untuk memusuhi dan membenci kelompok mayoritas. Bahkan sampai menghalalkan darah dan harta mereka, seperti menyikapi orang kafir harbi. Sehingga jika ingin terjadi hubungan yang harmonis, kelompok Syi'ah harus meninggalkan ajaran mereka yang menghina ajaran dan keyakinan kaum muslimin Ahlus Sunnah.
Berikut ini kami paparkan akidah dan ajaran syi’ah –yang tergolong minoritas- terhadap Ahlus sunnah yang menjadi mayoritas? Apakah ajaran golongan minoritas tersebut tidak berisi kebencian dan pengafiran terhadap selain mereka, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah? Mari kita melihat bagaimana ajaran Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah dari kitab-kitab yang ditulis para ulama Syi’ah dan diakui sebagai rujukan agama mereka.
Akidah Syi’ah Terhadap Ahlussunnah
Akidah Syi’ah terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah kebencian dan cacian, bahkan sampai pengafiran dan penghalalan darah dan harta. Menurut keyakinan mereka, kekufuran Ahlus Sunnah lebih besar daripada kekufuran Yahudi dan Nashrani. Kenapa bisa begitu? Menurut mereka, kekafian Yahudi dan Nashrani adalah kekafiran asli, sedangkan kekafiran ahlus sunnah adalah karena murtad. Dan menurut ijma’, kekafiran karena murtad lebih besar daripada kekafiran asli.
Berikut ini kami sebutkan beberapa keyakinan mereka tentang Ahlus Sunnah yang berasal dari ucapan ulama-ulama mereka yang tertulis dalam kitab-kitab mereka sendiri.
1. Syaikh Husain bin Ali ‘Ushfur al-Darari al-Bahrani dalam kitabnya, al-Mahasin al-Nafsaniyyah fii Ajwibah al-Masaa-il al-Khurasaaniyyah, hal. 17: Orang-orang Syi’ah menggelari orang-orang Sunni atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan al-Naashibah. Menurut keyakinan Syi’ah, mereka lebih najis daripada anjing dan lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani.
Dia mengatakan,
بَلْ أَخْبَارُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلامُ تُنَادِي بِأَنَّ النَّاصِبَ هُوِ مَا يُقَالُ لَهُ عِنْدَهُمْ سُنِّياًّ
Bahkan kabar-kabar dari mereka (para imam) 'alaihis salam menyerukan bahwa yang dimaksud al-Nashib adalah yang dikenal dikalangan mereka dengan Sunni.
2. Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, Juz: 101, hal. 85: Abu Abdilllah berkata: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala terlebih dahulu melihat orang-orang yang menziarahi kuburan Husain bin Ali pada sore hari ‘Arafah.” Beliau ditanya, “(Apakah) sebelum melihat orang-orang yang sedang wukuf?” Beliau menjawab, “Ya.” Beliau ditanya lagi, “Bagaimana bisa begitu?”  Beliau menjawab,
لِأَنَّ فِي أُولَئِكَ أَوْلادُ زِنَا ولَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ أَوْلادُ زِنَا
Karena di tengah-tengah mereka (orang-orang yang wukuf di Arafah) terdapat anak-anak zina, sedangkan di tengah-tengah mereka (peziarah kuburan Husain) tidak ada anak-anak zina.
3. Al-Kulaini, dalam al-Raudhah min al-Kaafi, Juz 8, hal. 285, menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Abdillah yang berkata kepada Abu Hamzah:
وَاللهِ يَا أَبَا حَمْزَةَ، إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَوْلادُ زِنَا مَا خَلا شِيْعَتُنَا
Demi Allah hai Abu Hamzah, sesungguhnya manusia seluruhnya merupakan anak-anak pelacur kecuali Syi’ah kita.
4. Muhammad al-Tijani, dalam kitabnya al-Syi'ah Hum Ahlus Sunnah, hal. 161, lebih terang-terangan lagi menyatakan bahwa al-Nawasib (yang mereka kafirkan dan musuhi) adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dia berkata,
وَعُنِيَ عَنِ التَّعْرِيْفِ بِأَنَّ مَذْهَبَ النَّوَاصِبَ هُوَ مَذْهَبُ ((أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ)) فَنَاصِرُ مَذْهَبِ النَّوَاصِبِ اَلْمُتَوَكِّل هُوَ نَفْسُهُ (( مُحْيِي السُّنَّةِ )) فَافْهَمْ
Dan tidak membutuhkan pengenalan lagi bahwa madhab al-Nawashib adalah madhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan al-Mutawwil adalah pembela madhab Al Nawashib, dia itu sendiri yang bergelar muhyis sunnah (pengidup sunnah), maka pahamilah.
Menurut keyakinan al-Tijani, mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama'ah-lah yang menyimpang dari keluarga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia menjuluki al-Mutawwil sebagai tokoh utama al-Nawashib (yang memusuhi) Ali dan Ahlul Bait. Bahkan kedengkiannya sudah sampai membongkar makam Husain, melarang menziarahinya, dan membunuh orang-orang yang menggunakan nama Ali. Al-Khawirizmi dalam Rasail-nya menyebutkan bahwa al-Mutawakkil tidak akan memberikan harta atau bantuan kecuali kepada orang yang mencela keluarga Ali bin Abi Thalib dan membela madhab al-Nawashib.
(Namun ini merupakan tuduhan semata dari al-Tijani yang menunjukkan kedengkian dan kebenciannya terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama'ah).
5. Muhammad al-‘Ayasyi, dalam tafsirnya al-‘Ayasyi, Juz 2, hal. 398, menukil riwayat dari Ibrahim bin Abi Yahya. Dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata: “Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali ada satu Iblis yang mendatanginya. Jika Allah mengetahui bahwa dia dari Syi'ah kami, maka Allah akan menghijabinya dari syetan itu. Dan jika bukan dari Syi'ah kami, maka syetan akan menancapkan jari telunjuknya di duburnya, lalu ia akan menjadi orang yang buruk, oleh karenanya zakar keluar di depan. Dan jika ia seorang perempuan, syetan akan menancapkan jari telunjuknya di kemaluannya sehingga ia menjadi pezina. Di saat itulah seorang bayi akan menangis dengan kencang jika ia keluar dari perut ibunya. Dan setelah itu, Allah akan menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul kitab.”
6. Ni’matullah al-Jazairi, dalam al-Anwar al-Nu’maniyah, 2/307: Bahwa Syi’ah menghalalkan darah dan harta Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yakni membunuh dan merampas harta mereka. Diriwayatkan oleh al-Shaduq, ia bertanya kepada Abu Abdillah, “Apa pendapat Anda tentang membunuh orang al-Nashib (Ahlus Sunnah)?” Ia menjawab, “Darahnya halal (boleh membunuhnya), tetapi aku khawatir atas (keselamatan)-mu. Jika kamu bisa, robohkan dinding (timpakan) atasnya atau kamu tenggelamkan di air supaya tidak bisa memberikan kesaksian (yang memberatkan) atasmu, maka lakukanlah.” Aku bertanya lagi, “Apa pendapat Anda dalam hartanya?” Ia menjawab, “Ambillah hartanya semampumu.”
7. Ni’matullah al-Jazaairi, dalam Nuur al-Barahin, hal. 57, bahwa firqah-firqah yang menyelisihi Firqah Imamiyah, berdasarkan nash-nash yang banyak sekali, menunjukkan mereka kekal di neraka. Dan ikrar syahadat mereka tidak bermanfaat sedikitpun kecuali dalam penjagaan darah dan harta mereka serta pelaksanaan hukum-hukum Islam yang berlaku bagi mereka.
Catatan Penulis: Bagi Syi'ah, seluruh kaum muslimin adalah Nawashib, karena mereka tidak mendahulukan Ali atas Abu Bakar dan Umar, kecuali Syi'ah saja.
8. Yusuf al-Bahrani, dalam al-Hadaa-iq al-Nadhirah fi Ahkaam al-‘Ithrah al-Thaahirah, hal.  136 dalam Bab “Orang yang menyelisihi (Syi’ah), hakikatnya bukan orang Islam. Dan sesungguhnya orang yang menyelisihi (Syi'ah) sebenarnya adalah kafir.” Ia tidak membedakan antara kufur kepada Allah dan kufur kepada para imam, dengan alasan bahwa imamah termasuk masalah ushuluddien (pokok agama) berdasarkan nash ayat dan hadits yang sangat jelas.  Di antaranya pernyataannya, “Pertama: engkau telah mengetahui bahwa orang yang menyelisihi (Syi'ah) adalah kafir, tidak memiliki bagian dalam Islam dari berbagai sisinya, sebagaimana telah kami pastikan dalam kitab kami al-Syihab al-Syaqib.”
Catatan Penulis: Beginilah Syi’ah dengan mudahnya menisbatkan kekafiran kepada orang yang mereka sebut sebagai wahabiyyin. Jangan heran jika mereka sangat membenci dan suka menghina Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena memang beginilah ajaran agama mereka.
. . .engkau telah mengetahui bahwa orang yang menyelisihi (Syi'ah) adalah kafir, tidak memiliki bagian dalam Islam dari berbagai sisinya, sebagaimana telah kami pastikan dalam kitab kami al-Syihab al-Syaqib. . . (Ulama Syi'ah Yusuf al-Bahrani, dalam al-Hadaa-iq al-Nadhirah fi Ahkaam al-‘Ithrah al-Thaahirah)
9. Muhammad bin al-Hasan al-Thusi, dalam kitabnya Tahdziib al-Ahkaam: 3/197, menyebutkan: Imam mereka (Abu Abdillah), ikut menyalatkan jenazah orang munafik (yang mereka maksud adalah Ahlus Sunnah,- red), tapi ia melaknatnya, isi doanya:
اَللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاناً عَبْدَكَ أَلْفَ لَعْنَةٍ مُؤْتَلَفَةٍ غَيْرَ مُخْتَلَفَةٍ اللَّهُمَّ اخْزِ عَبْدَكَ فِي عِبَادِكَ وَبِلادِكَ وَأَصِلْهُ حَرَّ نَارِكَ وَأَذِقْهُ أَشَدَّ عَذَابِكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَتَوَلَّى أَعْدَاءَكَ وَيُعَادِيْ أَوْلِيَاءَكَ وَيُبْغِضُ أَهْلَ بَيْتِ نَبِيِّكَ
Allahu Akbar, Ya Allah laknatlah fulan hamba-Mu dengan seribu laknat yang terkumpul, bukan terberai. Ya Allah, hinakanlah hamba-Mu ini  di tengah hamba-hamba-Mu dan di dalam negeri-Mu, sampaikanlah ia panasnya neraka-Mu, dan timpakan padanya adzab-Mu yang paling pedih, karena ia mengangkat musuh-musuh-Mu sebagai pemimpin, memusuhi para wali-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu.
Catatan Penulis: Maka jangan heran jika kita melihat seorang pengikut Syi'ah ikut menyalatkan jenazah seorang muslim, lalu laknat ini yang ia bacakan kepadanya. Karena menurut mereka, setiap orang yang menyelisihi Syi'ah disebut munafik.
10. Al-Hurr al-‘Aamili dalam Wasail al-Syi’ah: 2/771, Bab: Bagaimana cara menyalatkan orang yang sunni yang menyimpang, dari Muhammad bin Muslim dan salah seorang kedunya berkata: “Jika ia seorang penentang kebenaran, maka ucapkan:
اَللّهُمَّ أَمْلِأْ جَوْفَهُ نَاراً وَقَبْرَهُ نَاراً وَسَلِّطْ عَلَيْهِ الْحَيَاتَ وَالْعَقَارِبَ
Ya Allah penuhilah lambungnya dengan api, kuburnya dengan api, dan kuasakan ular dan kalajengking atas mereka.”
11. Al-Maaqami, dalam Tanqih al-Maqaal fii ‘Ilmi al-Rijal, pada faidah yang ke-20, hal. 208, menukil dari al-Muhaqqiq al-Bahrani dan dari riwayat-riwayat yang banyak bahwa orang yang bukan Syi'ah Istna ‘Asyariyah adalah kafir dan musyrik.
12. Muhsin al-Mu’allim, dalam kitabnya al-Nushbu wa al-Nawashib, hal. 609. Sesudah menyebutkan sejumlah Nawashib, di antaranya: Abu Bakar, Umar, Ustman, ‘Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan sejumlah sahabat, serta Imam Malik, dan al-Bukhari radhiyallahu 'anhum, ia menyebutkan kafirnya para nawashib dari perkataan para ulama Syi'ah:
“Sayyid al-Khu-i semoga Allah meridhainya berkata: dan lebih jelasnya seorang nashib hukumnya kafir walau ia menampakkan (ucapan) dua kalimat syahadat dan keyakinan kepada hari kiamat.”
Sayyid al-Shadr berkata tentang orang-orang yang ia kecualikan dari najisnya orang kafir, ia memasukkan di antaranya: Ahlul Kitab, ghulat, lalu menyebut Nawashib. Ia berkata, “Begitulah nawashib yang menyatakan permusuhannya kepada Ahlul Bait yang mereka itu telah Allah hilangkan kotoran (najis) dari mereka dan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Sesungguhnya mereka itu, para pemberontak dan nawashib, adalah kafir. Tetapi mereka suci menurut syariat selama mereka menisbatkan diri kepada Islam.”
“Mengambil dalil dari apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Ya’fur dalam al-Mautsiq, dari Abu Abdillah, dalam sebuah hadits ia berkata: Janganlah kalian mandi dari tempat pemandian umum, karena di dalamnya digunakan mandi orang Yahudi, Nashrani, Majusi, dan al-Nashib (para pembeci) terhadap kita ahlul Bait. Maka dia itu adalah yang terburuk dari mereka. Dan sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala tidak pernah menciptakan satu makhluk yang lebih najis daripada anjing. Dan sesungguhnya al-Nashib (orang-orang yang memusuhi) kita ahlul bait, jauh lebih najis daripada anjing.”
. . . Dan sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala tidak pernah menciptakan satu makhluk yang lebih najis daripada anjing. Dan sesungguhnya al-Nashib (orang-orang yang memusuhi) kita ahlul bait, jauh lebih najis daripada anjing. . . (Riwayat Syi'ah)
13. Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, 23/390 meyebutkan, seluruh kaum muslimin yang tidak meyakini keimamahan para imam dua belas (artinya; selai kelompok Syi'ah) adalah kafir, sesat, dan kekal dalam neraka. Berikut pernyataannya:
- “Ketahuilah, sesunguhnya keumuman lafadz syirik dan kufur atas orang yang tidak meyakini keimamahan amirul mukminin dan para imam sesudahnya dari anak-anaknya, dan lebih mengutamakan yang lain atas mereka itu menunjukkan bahwa mereka adalah kafir yang kekal di neraka.”
- "Syaikh al-Mufid dalam kitab al-Masa’il berkata: “Imamiyah bersepakat atas orang yang mengingkari keimamahan salah seorang imam (yang dua belas) dan menentang apa yang Allah wajibkan kepadanya berupa kewajiban taat (kepada para imam) adalah kafir, sesat, dan wajib kekal di neraka.”
. . . kaum Syi'ah mengafirkan kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang merupakan kelompok mayoritas kaum muslimin Indonesia. . .
Penutup
Dari pernyataan-pernyataan para ulama syi’ah dalam kitab-kitab mereka sendiri di atas, nampak jelas bahwa kaum Syi'ah mengafirkan kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang merupakan kelompok mayoritas kaum muslimin Indonesia. Akidah mereka juga mengajarkan untuk membenci dan menimpakan kemudharatan kepada Ahlus Sunnah. Bahkan sampai menghalalkan harta dan darah kaum Sunni. Maka bukti terjadinya gesekan dan konflik saat Syi'ah mulain meningkat jumlahnya adalah tuntutan dari ajaran akidah Syi'ah. Oleh sebab itu, ajaran yang semacam ini layaklah untuk segera dilarang beredar di Indonesia. Jika mereka masih ingin tinggal di negeri ini dan hidup rukun dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, hendaknya mereka meninggalkan ajaran yang berisi provokasi dan suka menghina kelompok lain. Kemudian kembali kepada kesatuan ajaran Islam, Al-Qur’an dan Sunnah shahihah sesuai dengan yang dipahami para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim. Wallahu Ta’ala a’lam.

10.29
JEMBER (voa-islam.com) – Pengikut  Syi’ah kembali memancing kerusuhan. Tak senang diselenggarakan sebuah kajian yang membahas tentang kesesatan Syi’ah di Puger, Jember, Jawa Timur, pengikut Syi’ah memaksa menggagalkan kajian tersebut hingga berujung pada tindakan anarkis.
Ketua Rois Syuriah PCNU Kencong, KH. Khoir Zad Maddah menyampaikan kronologis aksi anarkis yang terjadi pada Rabu malam (30/5/2012).
Hari Kamis tanggal 7 Juni 2012 rencananya akan diselenggarakan acara pengajian di rumah salah seorang tokoh di Puger, Jember. Isi pengajian itu adalah dialog tentang Syi’ah, sebab di Puger sudah marak penyebaran ajaran Syi’ah yang diantaranya diajarkan oleh Habib Ali, hanya saja Habib Ali tidak pernah mengakui kalau dirinya Syi’ah.
Dalam pengajian yang diselenggarakan bulan Juni nanti, akan dihadirkan pembicara Habib Muhdhor Al Hamid yang dikenal tegas terrhadap Syi’ah. Pihak Syi'ah ternyata ingin menggagalkan pengajian tersebut dengan mendatangi rumah salah satu tokoh masyarakat bernama ustadz Fauzi dan melakukan tindakan anarkis.
“Ada tujuh orang yang memaksa supaya kegiatan itu diurungkan pada tanggal tujuh itu. Dalam dialog itu agak panas sehingga terjadi saling pukul, akhirnya salah satu muridnya ustadz Fauzi terkena bacokan di kening, tapi tidak lebar,” kata KH. Khoir Zad Maddah saat dihubungi voa-islam.com, Kamis (31/5/2012).
Setelah terjadi ribut-ribut warga pun berdatangan, lalu tujuh orang itu melarikan diri. Kyai Khoir, sapaan akrabnya, menengarai salah satu dari tujuh orang tersebut ada keluarga Habib Ali.  “Salah satu dari tujuh orang itu ada keluarga Habib Ali,” ujarnya.
Masalah ini sekarang sudah ditangani pihak Polres Jember dan keluarga Habib Ali pun sudah hadir di Polres Jember untuk dimintai keterangan. Menurut informasi sudah ada dua orang yang diamankan di Polres Jember.
KH. Khoir Zad Maddah menyampaikan bahwa ia sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi kembali. Karena ajaran Syi’ah sudah difatwakan sesat oleh MUI Jawa Timur  ia meminta aparat bertindak tegas terhadap kegiatan Syi’ah yang telah meresahkan warga Jember.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan teman-teman di PCNU Kencong untuk mengupayakan agar peristiwa itu tidak terjadi. Tentunya kami memohon terhadap aparat, karena keberadaan Syi’ah itu membikin resah, sesuai keputusan MUI bahwa Syi’ah Imamiyah itu dinyatakan sesat, sebisa mungkin aparat merespon masyarakat supaya kegiatan Syi’ah paling tidak di Puger itu ditutup,” ungkapnya. [Ahmed Widad]

09.07 ,

JAKARTA (voa-islam.com) - Pernyataan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj kembali menimbulkan kontroversi. Ketika umat Islam di Indonesia resah dengan pelecehan agama yang dilakukan aliran sesat Syiah, Said Aqil justru membela Syiah dengan menyatakan bahwa Syiah bukan aliran sesat.
"Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita," kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.
Bahkan terkait fatwa MUI Sampang yang menyatakan Syiah adalah sesat, menurut Said Aqil hanya ditujukan kepada Syiah pimpinan Tajul Muluk, bukan Syiah secara keseluruhan. "Yang sesat itu aliran Tajul Muluk, Syiah-nya Tajul Muluk. Bukan Syiah secara keseluruhan," ucapnya.
Mendengar pernyataan Said Aqil Siradj tersebut, Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdusshomad Buchori yang menandatangani fatwa sesat ajaran Syiah, dengan tegas membantah pernyataan Said Aqil.
“Fatwa MUI Provinsi Jawa Timur tentang kesesatan ajaran Syiah, karena Syiah itu banyak; ada Syiah Zaidiyah, Syiah Itsna ‘Asyariyah, Syiah Ismailiyah, Syiah Sabaiyah, itu antara lain. Tapi, yang masuk di Indonesia itu Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, Ziadiyah tidak ada, Ismailiyah juga tidak ada. Jadi yang ada di Indonesia itu Syiah 12 Imam yang ma’sum (Imamiyah Itsa ‘Asyariyah) itu ditolak oleh MUI,” Jelasnya kepada voa-islam.com dari ujung telepon, Kamis (30/8/2012).
Ia menegaskan bahwa keluarnya fatwa sesat ajaran Syiah dari MUI Sampang dan diperkuat MUI Jawa Timur bukan semata-mata khusus bagi Tajul Muluk.
“Fatwa MUI bukan karena Tajul. Fatwa MUI ini karena proses, sebab masalah Syiah sudah cukup lama, di Jawa Timur itu bukan hanya kasus Sampang, tapi juga Bondowoso, Jember, Malang, Pasuruan dan tempat-tempat lain,” sanggahnya.
...Fatwa MUI ini ketika kami keluarkan, kami tanda tangani ini sudah kami presentasikan di PBNU, tapi pada saat itu pak Said Aqil tidak rawuh

Menurutnya, ia bersama para ‘alim ‘ulama Jawa Timur, serta ulama dari Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA), secara terbuka telah mempresentasikan fatwa sesatnya ajaran Syiah ke sejumlah instansi, termasuk ke PBNU, namun sayangnya Said Aqil waktu itu tidak hadir. (Baca: Ulama Jatim Juluki Said Aqil "Pengecut & Pendusta Pembela Syi'ah")
“Fatwa MUI ini ketika kami keluarkan, kami tanda tangani ini sudah kami presentasikan di PBNU, tapi pada saat itu pak Said Aqil tidak rawuh (hadir, red.). Dengan ulama BASSRA kami membawa 30 orang ulama maksudnya kan kita sharing dengan para tokoh nasional, kami presentasi di MUI, PBNU, Kementrian Agama, di Mahkamah Konstitusi pak Mahfud MD dan di Komisi VIII. Artinya, kami ini terbuka, mestinya kalau ada sesuatu dicounter pada waktu itu,” ungkapnya.
KH. Abdusshomad Buchori menambahkan bahwa fatwa MUI Jatim dirumuskan melalui berbagai dasar pertimbangan yang membuktikan secara jelas penyimpangan aliran sesat Syiah.
“Fatwa MUI itu adalah secara faktual studi literatur kitab mereka, studi lapangan kasus-kasus yang terjadi. Intinya ajaran Syiah itu sangat beda dengan Sunni di Indonesia. Misalnya dengan mengatakan Al-Qur’an itu kurang, tidak lengkap. Abu Bakar, Umar, Utsman menjadi Khalifah dengan merampok jabatannya Ali bin Abi Thalib. Nikah mut’ah itu boleh, mencaci maki ‘Aisyah,” imbuhnya. [Ahmed Widad]

15.34

Kontroversi sosok Umar Shihab yang merupakan salah satu ketua MUI Pusat terkait pembelaannya terhadap ajaran sesat Syiah, menjadi bahan pertanyaan oleh salah seorang peserta Seminar Al-Quran di Masjid Al-Ikhlash Jati Padang, Pasar Minggu Jakarta Selatan, Ahad kemarin (8/4).
"Bagaimana bisa sosok pembela Syiah bisa masuk dalam jajaran pengurus MUI Pusat," tanya seorang peserta seminar kepada ustadz Cholil Ridwan, Lc yang menjadi salah satu pembicara dalam acara seminar Al-Quran tersebut.
Ustadz Cholil Ridwan, yang juga merupakan salah satu ketua MUI Pusat, cukup kerepotan untuk menjelaskan bagaimana bisa Umar Shihab - yang sering membela Syiah dalam setiap pernyataannya dengan mengatakan Syiah sama dengan kaum Muslimin kebanyakan dan tidak sesat - bisa menjadi salah satu pengurus pusat MUI.
Diakui oleh Ustadz Cholil bahwa Umar Shihab memang sering secara terang-terangan membela Syiah di dalam forum-forum internal MUI. "Iya, beliau memang di internal MUI sendiri pun, jadi pembela Syiah jika ada anggota yang menyatakan bahwa Syiah itu sesat," kata Ustadz Cholil. "Saya sendiri sering berdebat dengan Umar Shihab terkait sesatnya Syiah, beliau (Umar Shihab) memang diamanahi sebagai ketua MUI urusan ukhuwah Islamiyah," tambahnya.
Menurut ustadz Cholil, Umar Shihab yang paling rajin kalau urusan berhubungan dengan kedubes Iran atau melakukan kunjungan ke Iran dengan mengajak anggota MUI lainnya. Hanya dia dan ustad Yunahar Ilyas yang tidak pernah mau diajak oleh Umar Shihab untuk melakukan kunjungan ke negeri Syiah Iran.
"Umar Shihab memang mengaku bukan Syiah, namun harus diingat bahwa Syiah ada ajaran taqiyyah. Saya tidak tahu, apakah Umar Shihab sengaja disusupkan Syiah ke dalam MUI atau beliau yang memang jadi alat oleh kalangan Syiah untuk membela ajaran sesat Syiah," tegas ustadz Cholil.
Sebelumnya pada akhir Maret lalu, Ustadz Farid Ahmad Okbah dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, membongkar habis bukti-bukti kesesatan Syiah di tanah air. Ia menukil banyak sekali kitab asli Syiah baik yang diterbitkan di Iran maupun Indonesia yang penuh dengan caci maki pada sahabat nabi maupun fitnah terhadap istri nabi.
Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.
Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.(fq)


15.32

Laporan menyatakan bahwa telah terjadi pertumbuhan akan pengaruh Syiah di Nigeria dan perluasan gerakan tersebut hingga ke titik di mana pengaruh mereka bisa digambarkan sebagai "negara dalam negara" yang menjadi ancaman nyata terhadap negara Nigeria sendiri.
Kota Kaduna, kubu gerakan Syiah utama Nigeria, dilaporkan Syiah telah memiliki surat kabar harian yang berkembang selama lebih dari dua dekade dan mengatakan akan segera menyiarkan informasi tentang mereka berbasis internet dan stasiun radio berbahasa Hausa serta memulai sebuah saluran TV baru.
Di Kaduna juga banyak beredar film-film dokumenter menyanjung para pemimpin agama Syiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Hausa lokal, dengan ratusan VCD, DVD dijual kepada penduduk setempat setiap bulannya.
Beberapa pihak khawatir bahwa gerakan ini dapat tumbuh tak terkendali oleh kekuatan-kekuatan yang berkuasa saat ini.
Pemimpinnya, Syaikh Ibrahim Zakzaky, menjadi pendukung Syiah sejak revolusi Syiah Iran di mulai tahun 1979 lalu. Meskipun ia menyangkal gerakannya mendapat dana apapun dari Iran, ia juga sangat keras mengumandangkan sikap anti-Amerika.
Syaikh Zakzaky sendiri adalah tahanan politik selama sembilan tahun selama tahun 1980 hingga 1990, dituduh oleh rezim militer melakukan pembangkangan sipil.
Para pendukungnya pernah terlibat dalam bentrokan kekerasan dengan negara selama beberapa dekade - 120 dari pengikutnya saat ini berada di dalam penjara - dan analis politik Muhammad Kabir Isa mengatakan mereka merupakan ancaman yang nyata bagi Nigeria.
Muhammad Kabir Isa, seorang peneliti senior di Ahmadu Bello University, menjelaskan gerakan Syiah Syaikh Zakzaky sebagai "negara dalam negara" di Nigeria sendiri.
Isa juga menuduh pendukung gerakan itu sekarang telah menjadi jauh lebih berpengaruh di tengah masyarakat.
"Saya tahu misalnya dia (Syaikh Zakzay) memastikan anggotanya direkrut menjadi tentara, anggotanya direkrut di kepolisian, ia memiliki orang yang bekerja untuknya di dalam pelayanan keamanan negara," tegasnya.(fq/imo)


15.30

Masalah Syiah sudah menjadi duri dalam daging di tubuh umat Islam. Syiah terus-menerus mengklaim mereka juga bagian dari komunitas kaum muslimin kebanyakan, namun di belakang mereka melakukan tikaman terhadap umat Islam itu sendiri.
"Syiah rafidhah itu mainnya halus namun sangat menusuk," ujar Dr. Daud Rasyid, MA, yang merupakan salah seorang pakar hadits, dalam pernyataan penegasannya kepada Eramuslim Ahad kemarin (8/4), setelah sebelumnya memaparkan hal tersebut dalam sebuah seminar Al-Quran di masjid Al-Ikhlash Jati Padang Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Dalam paparannya di acara Seminar Al-Quran yang bertajuk, "Menyongsong Generasi Gemilang Bersama Cahaya Al-Quran", ustadz kelahiran Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara ini dengan runutnya menjelaskan kesesatan Syiah. Menurutnya Syiah sudah menjadi duri dalam daging di tubuh umat Islam, mereka dengan halus menyebarkan ajaran-ajaran sesatnya di kalangan Ahlus Sunnah dengan kedok persatuan dan sejenisnya.
Ustadz Daud, begitu kebanyakan orang memanggilnya, dalam seminar Ahad kemarin menceritakan juga tentang salah satu proyek Syiah di Indonesia yang memanfaatkan media radio untuk menyebarkan paham-paham sesat mereka namun dikemas dengan cara yang menarik sehingga banyak menipu kaum Muslimin.
Tanpa menyebut nama radio tersebut, ustadz Daud hanya menjelaskan bahwa radio itu terletak di wilayah Cibubur dan merupakan anti tesis dari radio dakwah yang berada tidak jauh dari Cibubur, tepatnya di Cileungsi. Dan pembina utama radio itu, menurut beliau sering melakukan "tasykik" atau membuar keragu-raguan di kalangan umat Islam, khususnya masalah hadits Bukhari-Muslim.
"Kalian semua tahulah apa nama radio itu dan siapa pembinanya, tidak perlu saya sebutkan di sini," ujar ustadz Daud kepada para peserta seminar Al-Quran yang jumlahnya hampir 2.000 an tersebut.
"Saya dalam sebuah perjalanan, hampir satu jam mendengar pembina radio ini menyebarkan tasykik kepada kaum muslimin, khususnya masalah hadits Bukhari-Muslim. Bagi umat Islam yang awam strategi pembina radio ini bisa mempengaruhi pemahamanan mereka terhadap hadits, namun orang yang memiliki pengetahuan tentang hadits tidak bisa tertipu dengan cara-cara tasykik seperti ini," tegas beliau.
Beliau juga menjelaskan untuk menutup-nutupi ke Syiah-an radio ini, pengelola radio memasang banyak ustadz-ustadz dari kalangan ahlus Sunnah untuk berbicara di sana, namun itu semua hanyalah kamuflase, menurut beliau, karena inti dari radio tersebut adalah pembinanya yang memang sering melakukan tasykik terhadap kaum muslimin dan sering mengelabui umat Islam dengan slogan persatuannya.
Dalam penjelasannya secara langsung kepada Eramuslim, ustadz Daud juga menyatakan bahwa nama beliau juga dicatut oleh radio tersebut, jadi seakan-akan beliau juga mendukung radio itu, bisa jadi dengan ustadz-ustadz yang lain yang juga mereka klaim sebagai pendukung radio mereka.(fq)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget