Articles by "Islam Nusantara"

Massa FPI
Voice Of Muslim - Front Pembela Islam meminta segala bentuk penindasan yang dialami oleh muslim Rohingya segera dihentikan. Bahkan, FPI siap untuk terjun langsung berjihad di Myanmar jika tuntutan ini tidak diindahkan oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau tuntutan ini tidak diselesaikan dan genoside tetap terjadi, FPI, Majelis Muslim Indonesia, Jamaah Anshar Tauhid, dan seluruh ormas Islam di Indonesia bahkan ASEAN akan mengobarkan jihad," ujar Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq, Jumat 3 Mei 2013.

Selain itu, FPI menuntut agar pemerintah Myanmar membatalkan undang-undang yang mencabut kewarganegaraan penduduk Rohingya. UU ini, Habib melanjutkan, yang memicu terjadinya konflik horizontal hingga terjadinya pembantaian besar-besaran penduduk Rohingya di Myanmar.

"Mereka (Rohingya) dibunuh, dibantai, diperkosa, dan banyak diusir dari pengungsian. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa," lanjut Habib.

Menurut Habib, Persatuan Bangsa-Bangsa sudah mengakui adanya genoside di Myanmar, namun ternyata tidak melakukan apa-apa. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah dinilai tutup mata dengan adanya peristiwa ini.

"Kalau PBB tidak mampu melakukan apa-apa dan negara Arab menutup mata dari kedzaliman yang ada di Myanmar, kami umat Islam yang akan memutuskan dengan cara kami. Tidak ada jalan lain kecuali jihad ke Myanmar," kata Habib.

Dalam aksi tersebut, Habib Rizieq berusaha menemui Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, namun gagal. Duta Besar tidak ada di tempat, karena sedang mengikuti rapat di Sekretariat Jenderal ASEAN.

"Kami hanya bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, mereka tidak dapat memberikan kepastian. Tapi, insya Allah dalam dua hari ini akan ada dialog antara Duta Besar dan ormas-ormas Islam," ujar Habib.

Habib mengatakan, jika Duta Besar Myanmar menutup pintu dialog, FPI siap untuk melakukan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar.

"Apapun yang terjadi dengan kedutaan ini, kami tidak tanggung jawab kalau mereka menutup pintu dialog," sambung Habib.

Terkait penangkapan teroris tadi malam yang diduga akan meledakkan Kedubes Myanmar, Habib menyatakan FPI tidak ada kaitannya dengan itu. "Tidak ada kaitan demo ini dengan tindak teroris hari ini," kata Habib Rizieq.

Ia menyampaikan, unjuk rasa hari ini murni bentuk keprihatinan terhadap permasalahan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar.

Voice Of Muslim -
Ustaz Jeffry Al Buchori meninggal dalam usia 40 tahun. Da'i yang dikenal gaul ini meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Uje, panggilan akrab Ustaz Jeffry, meninggalkan sejuta kenangan bagi keluarga dan penggemarnya. Uje memang dikenal sebagai ustaz gaul. Gaya ceramahnya yang membumi dan moderat membuatnya disukai semua lapisan. Bahkan tak jarang Uje menggunakan sapaan seperti 'Ya nggak jek' untuk mendekatkan diri dengan jamaahnya yang muda-muda.

Sebelum menjadi da'i kondang, Uje awalnya hanya remaja biasa. Bahkan Uje tergolong remaja yang nakal. Uje pernah terjerumus dalam jerat narkoba. Namun setelah mendapat hidayah, Uje akhirnya berubah 180 derajat. Uje bahkan menjadi da'i kondang dan selalu diundang sebagai penceramah di mana-mana.
Banyak juga yang menyebut Uje meninggal dalam kondisi khusnul khotimah. Setelah meninggal, keistimewaan pria berusia 40 tahun ini pun terlihat.

Berikut 4 keistimewaan ustaz Uje saat meninggal dunia.

1. Jenazah Uje diantar ribuan orang

 

Uje memang bukan sembarang dai. Hal ini terlihat dari para pengantarnya yang mencapai ribuan orang.
Ribuan orang rela berjalan kaki dari Masjid Istiqlal untuk menghantarkan Uje ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Karet Tengsin, Jakarta Pusat.
Selama dalam perjalanan, tak henti-hentinya salawat berkumandang mengiringi jenazah Uje. Ribuan orang berduka dengan kepergian Uje.

2. Uje meninggal di Hari Surga

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menyebut Ustaz Jeffry Al-Buchori meninggal dalam keadaan syahid. Sebabnya Ustaz Uje, demikian ia disapa, meninggal pada hari Jumat atau hari surga.
Ketua MUI Jawa Barat KH Hafid Utsman menuturkan ciri-ciri masuk surga itu Tuhan memanggilnya pada hari Jumat.
"Kepergian Uje ke Rahmatullah itu bagus menurut agama sebab di hari Jumat. Jumat seperti hari surga atau syahid," katanya di Bandung, Jumat (26/4).
Meski demikian, kata dia, pada dasarnya tidak ada hari yang buruk. Namun Jumat adalah hari yang baik. "Insya Allah Ustaz Uje masuk surga," jelasnya.

3. Mulai dari presiden, menteri hingga rakyat berduka

Meninggalnya Ustaz Jeffry menjadi dukacita bagi seluruh rakyat Indonesia. Presiden SBY, menteri dan seluruh kalangan menyampaikan salam perpisahan untuk Uje.
Dalam status twitternya, Presiden menilai Uje sebagai sosok yang mencerahkan. "Kita kehilangan lagi orang baik yg mencerahkan. Selamat jalan Ustadz Jefri, semoga nilai yg disebarkan bisa menginspirasi kita semua. *SBY*," tulis Presiden SBY dalam akun twitter @SBYudhoyono miliknya.
Karangan bunga pun berderet dari para pejabat. Mulai dari Menteri Pendidikan Muhammad Nuh hingga Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengirimkan rangkaian duka cita.
Sementara itu ribuan masyarakat mengantarkan Uje ke peristirahatan terakhirnya.

4. Meski meninggal, Uje tetap memberi manfaat

 
 

Banyaknya pelawat yang berdatangan ke makam Ustaz Jeffry di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Tengsin, Blok A II, Jakarta Pusat mendatangkan keuntungan bagi para pedagang. Pedagang dadakan tersebut sengaja datang ke area sekitar makam Uje untuk berjualan.

"Pas saya dengar berita meninggalnya Uje, saya langsung ke sini. Saya tahu bakal ramai nih. Makanya saya dagang di sini," kata Hendry (31), pedagang minuman saat ditemui TPU Karet Tengsin, Sabtu (27/4).
Pria asal Lampung ini mengaku mendapat untung berlipat sejak berjualan dari kemarin. Jika dalam sehari, dirinya bisa menjual tiga galon es teh, maka di depan makam Uje, sebanyak tiga galon sudah habis dalam waktu setengah hari.

Keuntungan besar tidak hanya ditangguk oleh pedagang makanan dan minuman, loper koran pun memanfaatkan kedatangan para peziarah ke makam Uje. Salah satunya seperti yang dilakukan Hamsir (60).
"Saya emang sengaja datang ke sini. Biasanya saya mangkal di Slipi. Banyak orang yang beli koran yang gambar depannya Uje," ujar pria yang biasa disapa Bang Kumis ini.

Meski telah meninggal Uje masih memberikan manfaat bagi sesamanya.

Subhanallah..

JAKARTA  - Pihak mujahidin di LP Salemba Jakarta Pusat menyayangkan sikap diskriminatif petugas LP terkait pengeroyokan yang dilakukan preman Ambon kafir.
Menurut, salah seorang mujahidin yang menghuni LP Salemba, sejak awal kedatangan preman Ambon kafir kelompok Edo yang terlibat kasus Narkoba dan penyerangan di RSPAD, mereka sudah begitu pongah.
Namun pihak LP justru menyambutnya dan seolah memberikan perlakuan istimewa tak seperti narapidana yang lain.

“Mereka masuk dengan membawa tas seperti orang yang mau camping aja,” kata Hanzholah, salah seorang mujahidin di LP Klas II A Salemba.
Menurut informasi, preman Ambon di Blok A juga kerap melakukan pesta sabu-sabu.
Bukan hanya itu, mereka juga berani memarahi sipir dan sempat bersitegang hingga menyobek surat mutasi di depan sipir.
Apalagi usai insiden pengeroyokan mujahidin, tak ada satu pun dari mereka yang diproses hukum namun hanya dipindahkan ke LP Klas I Tangerang.
Preman Ambon  yang dipindahkan ke LP Klas I Tangerang diantaranya: Toni Poce Rattu (vonis 3 tahun ), Jhon Robet Palyamu (vonis 3 tahun), Abraham Tuhenay (vonis 3 tahun), Youngky Maslebo (vonis 2,6 tahun) dan Rein Pentury (vonis 2,5 tahun).
Termasuk sweeping senjata tajam pun tak dilakukan pihak LP. Padahal Hendra Ali yang menjadi korban pengeroyokan ratusan preman Ambon kafir tersebut mendapatkan luka sobek di perut akibat senjata tajam.
Kelompok preman Ambon di Blok A memang dikenal sewenang-wenang, tak jarang mereka meneror napi lainnya. Salah seorang napi yang hanya ikut menolong Hendra Ali untuk dibawa ke klinik pun dianiaya ketika kembali ke Blok A.
Bahkan hingga saat ini, preman Ambon kafir Blok A masih mengancam akan kembali menyerang mujahidin dan siapa pun yang membelanya.
Kemudian, pihak LP Salemba juga bertindak diskriminatif bahkan cenderung zalim. Kelompok mujahidin yang menjadi korban penganiayaan kini malah dimasukkan ke sel tikus (sel isolasi) dengan alasan mereka melakukan aksi balasan.
Menurut informasi dari salah seorang istri mujahidin, kemungkinan besar mereka akan dipindah ke Nusakambangan. Ia pun menyatakan kekecewaannya dan tetap menuntut qishash terhadap preman Ambon tersebut.

“Bismillah, ini benar-benar penzaliman terhadap kaum Muslimin. Setelah dibiarkan oleh thaghut laknatullah dianiaya oleh kafir Ambon dan konco-konconya, suami ana dan ikhwan-ikhwan di Salemba akan dipindah ke Nusakambangan. Mohon doa dan bantuan kaum muslimin agar mengqishash mereka. QISHASH! ALLAHU AKBAR!” demikian isi pesan singkat tersebut yang diforward ke redaksi voa-islam.com.
Perkembangan terbaru dari kasus penganiayaan preman Ambon kafir, siang ini kelompok Ambon di luar melakukan aksi balasan mendatangi LP Klas I Tangerang untuk menekan petugas LP. Mereka kecewa teman-temannya dipindahkan ke tempat lain dan meminta agar mujahidin saja yang dipindahkan dari LP. [Ahmed Widad]

Sumber : voa-islam.com

Oleh: Lembaga Penelitian Dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta

Ketika Orde Baru berjaya, banyak para pejabat yang tidak percaya adanya Kristenisasi besar-besaran yang telah terjadi di Indonesia. Tetapi setelah dikeluarkan buku “Fakta dan Data tentang Kristenisasi di Indonesia” oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, semua pihak terperangah dan yakin bahwa pihak Misionaris Zending telah bekerja keras siang-malam untuk mengkristenkan umat Islam secara khusus.
Pada Orde Reformasi mereka semakin berani melakukan Kristenisasi secara terbuka bahkan keji. Mereka menggunakan Al-Qur`an dan Hadits dengan diputarbalikkan untuk membenarkan ajaran sesat mereka, dan untuk mengelabui umat Islam. Gerakan Kristenisasi bergerilya dengan kedok dakwah ukhuwwah dan shirathal mustaqim secara gencar dan tersembunyi, gerakan itu dikoordinasi oleh Yayasan NEHEMIA yang dipelopori Dr. Suadi Ben Abraham, Kholil Dinata dan Drs. Poernama Winangun alias H. Amos.
Mereka telah mengeluarkan beberapa buku di antaranya:
  1. Upacara Ibadah Haji
  2. Ayat-ayat yang menyelamatkan
  3. Isa Alaihis salam dalam pandangan Islam
  4. Riwayat singkat pusaka peninggalan Nabi Muhammad saw
  5. Membina kerukunan umat beragama
  6. Rahasia jalan ke surga
  7. Siapakah yang bernama Allah itu?
Isi buku-buku dan brosur tersebut di atas diantaranya:
  1. Upacara Ibadah Haji adalah penyembahan berhala tertutup
  2. Islam agama khusus untuk orang Arab, Al-Qur`an kitab suci orang Arab dan Nabi Muhammad saw adalah nabi untuk orang Arab yang mengajarkan penyembahan berhala dan tidak akan selamat di akhirat
  3. Tuhan orang Islam adalah batu hitam (hajar aswad)
  4. Waktu shalat sangat kacau dan Al-Qur`an tidak relevan
  5. Nabi Muhammad saw memperkosa gadis dibawah umur
  6. Al-Qur`an untuk Iblis, Injil petunjuk bagi umat Islam yang taqwa
  7. Bapaknya Yesus adalah Allah subhanahu wa ta`ala
  8. Semua umat masuk Neraka kecuali umat Kristen
  9. Nabi Muhammad saw wafat mewariskan kitab Injil
  10. Khadijah, istri Nabi Muhammad saw beragama Kristen.
Sanggahan terhadap tuduhan-tuduhan keji tersebut:
1.       Ibadah Haji dituduh sebagai penyembahan berhala tertutup, itu tuduhan keji. Tidak bolehnya orang non muslim ke Mekkah bukan untuk menutupi upacara ibadah haji. Dan ibadah haji itu tidak ada penyembahan berhala seperti dituduhkan H. Amos orang Kristen. Namun itu perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.(Q.S. At-Taubah 9:28). Tuduhan itu juga bertentangan dengan kenyataan, karena upacara ibadah haji ditayangkan pula ke berbagai negara di dunia lewat televisi. Terbukti tak ada penyembahan berhala dalam upacara ibadah haji dan tidak tertutup.

2.      Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dituduh hanya rasul untuk bangsa Arab, dan tidak akan selamat di akhirat. Tuduhan itu sangat jahat, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala  telah menegaskan dalam Al-Qur`an yang artinya: Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al-Anbiya 21:107). Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S.Saba`34:28). Al-Qur`an adalah suatu peringatan untuk semesta alam. (Q.S. At-Takwir 81:27 dan Al-Qalam 68:52). Dan Kami turunkan Al-Qur`an kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir. (Q.S. An-Nahl 16:44). Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi, dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab 33:40).
3·      Tuduhan tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  tidak selamat di akhirat, maka harus dibacakan shalawat, itu tuduhan keji pula. Bisa diperbandingkan dengan keadaan bahwa bayi yang meninggal dunia pasti selamat akan masuk surga. Namun bayi yang meninggal itu tetap dishalati dan didoakan. Orang yang menshalati, mendoakan dan menguburkan mayit bayi ini akan mendapat pahala.
Terhadap bayi yang belum berjasa saja harus didoakan, apalagi terhadap seorang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang telah sangat berjasa bagi umat manusia. Ini sudah pas dari segi ajaran agama maupun akal yang mau menerimanya.

4.      Tuduhan bahwa Islam mengajarkan penyembahan berhala batu hitam bernama Hajar Aswad, itu tuduhan yang amat keji dan licik. H. Amos memutarbalikkan fakta, Hajar Aswad dianggap sebagai berhala yang disisakan setelah 359 berhala dihancurkan, dengan mengutip hadits Bukhari tanpa disertai teksnya. Ternyata H. Amos sebagai orang Kristen bohong, karena Hajar Aswad bukan termasuk berhala. Teksnya Hadits Bukhari nomor 832, terjemahnya:
Dari Ibnu `Abbas ra katanya: Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mula-mula tiba di Makkah, beliau enggan hendak masuk Ka`bah karena di dalamnya banyak patung. Beliau memerintahkan supaya mengeluarkan patung-patung itu, maka dikeluarkan mereka semuanya termasuk patung Nabi Ibrahim dan Isma`il yang sedang memegang Azlam (alat untuk mengundi). Melihat itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  bersabda: Terkutuklah orang yang membuat patung itu!, Demi Allah sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah melakukan undian dengan Azlam, sekali-kali tidak. Kemudian beliau masuk ke dalam Ka`bah, lalu takbir di setiap pojok dan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam shalat di dalamnya. (Shahih Bukhari No. 832).

5.      Tuduhan tentang waktu shalat sangat kacau, itu tuduhan yang sangat mengada-ada. Penuduh membentrokkan ayat-ayat dengan hadits Bukhari tanpa mau memahami Q.S. Al-Isra 17:78 dan Q.S. Hud 11:114, dibentrokkan dengan hadits Bukhari nomor 211, lalu dikomentari bahwa yang dipakai hadits, bukan Al-Qur`an. Maka dituduh kacau. Padahal kalau mau memahami, ayat-ayat maupun hadits tersebut semuanya bermakna bahwa shalat wajib adalah 5 waktu sehari semalam, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan `Isya.

6.      Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dituduh memperkosa gadis dibawah umur, itu tuduhan yang sangat menghina. Tuduhan itu hanya menunjukkan kebencian yang amat sangat, dan tidak bisa mengemukakan bukti-bukti larangan tentang menikahi gadis dalam batasan umur. Padahal umur 9 tahun seperti `Aisyah yang mulai diajak berumah tangga oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam setelah dinikahi pada umur 6 tahun, itu tidak ada larangan. Sedangkan gadis-gadis Arab-pun dalam usia 9 tahu sudah mungkin sekali haid, berarti dewasa. Jadi tuduhan itu hanyalah kebencian yang membabi buta. (lihat: Apakah Siti 'Aisyah Menikah Dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Pada Usia 9 Tahun?)
Tuduhan-tuduhan lain yang mereka lontarkan terhadap Islam sifatnya sama; hanyalah kebencian dan kebohongan belaka. Orang-orang yang mau berpikir pasti paham bahwa tuduhan-tuduhan mereka itu menunjukkan betapa rendahnya moral mereka.
Orang-orang Kristen telah lama melancarkan program Kristenisasi dengan berbagai cara. Apa upaya kita dalam menghadapi kejahatan Kristenisasi?
[Dikutip dari brosur “Kristenisasi dan Kejahatan-Kejahatannya” terbitan Lembaga Penelitian Dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta]

Haris Abu Ulya
Berikut penuturan beberapa keluarga korban penembakan brutal Densus 88 di Makassar, terkait beberapa fakta yang tidak terungkap di media massa. Penuturan ini dihimpun oleh tim investigasi CIIA yang disampaika kepada redaksi arrahmah.com.


Oleh: Harits Abu Ulya
Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA (The Community of Ideological Islamic Analyst)
"Amat disayangkan…", itulah kira-kira ungkapan yang mewakili banyak orang. Ketika membaca tangapan dari pihak Polri  atas evaluasi Komnas HAM terhadap aksi Densus88 dalam penindakan yang dipandang sudah banyak melakukan pelanggaran HAM.Pihak Polri berkelit, bahwasanya evaluasi itu boleh saja tapi perlu diingat para teroris itu juga melanggar HAM. Seperti yang diberitakan oleh laman detik.com ; "Kita menghormati hasil evaluasi tersebut, tapi teroris yang membunuh orang juga melanggar HAM," kata Karopenmas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar saat dihubungi detikcom, Selasa (15/1/2013). Dari sini tampak alergi dan skeptisnya aparat terhadap kritik. Terkesan maunya urusan kontra terorisme minus kritik, khususnya terkait penindakan yang dilakukan oleh Densus 88.
Betapa bopengnya hukum dan penegakkannya di Indonesia, tidak lagi bisa dibedakan mana hukum dan penegak hukumnya. Maling itu melakukan pelanggaran hukum, koruptor itu melakukan pelanggaran hukum, pemerkosa itu melanggar hukum, menipu orang melanggar hukum dan pelakunya harus mendapatkan penindakan dan hukuman yang setimpal. Tapi apakah karena mereka dianggap atau diduga melakukan pelanggaran hukum lantas kemudian aparat penegak hukum bebas melakukan "pengadilan jalanan"? Dan boleh nabrak semua rambu-rambu hukum dan melanggar hak-hak dasar dan prinsip setiap individu yang dianggap kriminil. Inilah ketimpangan pratek law enforcement pada kasus terorisme. Dalam kasus terorisme koridor-koridor (criminal juctice system) seolah di buang ke tong sampah, hanya karena dalih terorisme adalah extra ordinary crime. Padahal Korupsi, pembalakan liar hutan dan pencurian kekayaan laut juga masuk kategori extra ordinary crime, tapi tetap saja berbeda perlakuan bagi pelakunya dari pihak aparat penegak hukum. Tindakan yang extra ordinary hanya untuk kasus terorisme.
Berikut beberapa penuturan dari keluarga korban di Makassar dan Kab.Enrekang terkait kasus terorisme versi Densus88. Kita buka disini agar menjadi preferensi dan perspektif yang berbeda untuk memahami tentang pentingnya menghargai manusia layaknya manusia. Jika haruspun seseorang dihukum karena tindak kejahatannya, maka biarlah berjalan mengikuti mekanisme hukum yang juga manusiawi. Dan untuk melahirkan kepercayaan masyarakat bahwa benar negeri ini adalah negeri yang tegak berdiri diatas hukum yang bisa dipertanggungjawabkan.Maka tuntutannya adalah harus memiliki substansi hukum yang memadai dan penegak hukum yang bermoral dan kredibel selain punya kapasitas yang cukup profesional ketika kerja di lapangan.
Kali ini Komnas HAM juga di uji nyalinya, masyarakat luas berharap kasus ini tidak menjadi seperti lipstick yang demikian mudah luntur. Dari kasus saat ini komnas HAM harus mendorong pada langkah tegas untuk evaluasi kinerja Densus dan BNPT. Karena mereka semua bekerja dan makan dengan uang rakyat (APBN). Lain soal, jika mereka dibayar oleh asing. Tapi akan menambah panjang pertanyaan, jadi aparat penegak hukum di negeri ini bekerja untuk kepentingan siapa? Jika kasus ini menguap begitu saja, maka ini sama saja semacam provokasi terhadap umat Islam untuk melakukan advokasi dengan cara yang mereka suka. Ada yang bermain api dengan umat Islam yang dinamis menggeliat menuju kebangkitannya.Sangat riskan!.
  1. Bunga Rosi (Istri Tamrin bin Panganro)
Rosi menuturkan kepada CIIA; Tamrin di Makassar tinggal di Jalan Pajaiyang belakang pasar Daya. Nama lain  Tamrin yang di ketahui istrinya tidak ada. Dan beberapa latar belakang sebelum kejadian yaitu pada hari Kamis 3 Januari berangkat dari Kajang Bulukumba dan tiba di Makassar sekitar jam 23.00 wita. Kemudian kejadiannya esok harinya Jumat tanggal 4 januari 2013, sekitar jam 14.00 wita (setelah solat jumat).  Selama ini kami menekuni usaha dagang Gula Merah. Ke Makassar dalam rangka ingin membenahi rumah yang pernah dibeli untuk kemudian ditinggali. Dari Kajang beliau mengendarai sepeda motor Shogun- R warna hitam. Rencananya ingin membeli kap motor dan membayar pajaknya yang sudah tiga tahun menunggak. Juga Ingin ganti plat kendaraan dan perbarui STNK. Tamrin bolak balik Makassar-Bulukumba kurang lebih sudah sebulan.
Hari Jumat saat kejadian, beliau keluar setelah solat jumat di mesjid dekat rumah untuk mengganti kap motor. Rencana setelah ganti kap motor ingin mengganti (memperbarui) STNK. Keluar hanya membawa dompet. Dalam perjalanannya beliau bertemu dengan Arbain yang menanyakan hendak kemana tujuan Tamrin.Tamrin kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya untuk membeli kap motor namun mengaku belum menguasai seluk beluk jalan yang akan dilaluinya karena baru datang. Arbain pun kemudian menawarkan jasa untuk mengantarkan beliau sambil menunjukkan jalan. Saya (Rosi) sama sekali tidak tahu apa salahnya Arbain hingga ikut di tangkap Densus juga.
Saya (Rosi) tidak menyaksikan proses penangkapan suami saya. Dan mengetahui jika beliau ditangkap hanya dari orang-orang di luar. Sebagian informasi kami dapatkan dari media. Saya kemudian menduga jika suami saya menjadi salah satu korban penangkapan. Sampai detik ini tidak ada satupun aparat yang pernah menghubungi saya menyampaikan perihal keberadaan suami saya sekarang padahal sudah dua pekan lebih sejak penangkapan. Saya tidak pernah melihat suami saya lagi sejak Jumat itu. Saya dan keluarga sudah keliling mencari dan bertanya namun tidak menemukan.
Selama ini Tamrin hanya menggeluti usaha gula merah yang sebelumnya pernah menjadi tukang kayu, dagang sapi, dan menyadap kelapa untuk membuat gula merah. Kami pindah ke Makassar atas usul dari salah satu saudara saya dan kemudian saya menjual tanah saya di Kajang. Sebelumnya saya tidak merasa dibuntuti atau diikuti. Karena selama ini kami hanya menggeluti usaha gula merah.Tamrin juga sangat jarang keluar rumah.
Saya tidak mengenal Arbain bin Yusuf karena dia orang sini (Makassar). Mungkin juga dia punya usaha lain. Saat ini saya tidak tahu bagaimana keadaan Tamrin. Saya ingin sekali mendapat kabar tentang suami saya.
Kini istri Tamrin bersama anak-anak kecilnya tidak tau harus berbuat apa.Karena sampai penuturan ini dipublish juga belum ada informasi dari Densus88 perihal Tamrin. Dan hari-harinya menjadi serba tidak menentu dengan beban pikiran dan perasan yang tidak bisa dilukiskan.semua jadi serba berat menjalani tanpa kehadiran seorang suami.
Samad (adik Tamrin), menambahkan penuturanya Rosi;
Saya tidak ada dilokasi saat penangkapan tapi dikota. Saya tidak tahu kasus penangkapan itu dan belum ada informasi dari pihak kepolisian bahwa kakak saya ditangkap. Belum ada penjelasan kepada keluarga. Hari jumat ditangkap sekitar jam 14.00 wita di belakang pasar Daya lama di Jalan Paccerakkang.Tamrin boncengan sama Arbain bin Yusuf keluar dari Kompleks Graha Pesona.
Belum ada informasi dimana tempat penahanannya kalau ditahan dan kalaulah luka dimana diobati. Sudah ada beberapa tempat saya cari, di markas Brimob di Jl. KS. Tubun, di Brimob di Jl. St. Alauddin, RS Bayangkara tidak ada dan istrinya kemarin ke rumah sakit Daya juga tidak ada. Hanya di Polda belum dicoba. Pernah jumpa pers  depan media Celebes TV dan Metro TV untuk meminta informasi tentang keberadaan kakak saya.
Saya kehilangan jejak kakak saya. Saya pernah ke LBH tapi saya tidak dapat jalan keluar. LBH juga tidak memberi petunjuk tentang keberadaannya kakak saya. Namun belum tahu langkah apa yang mau diambil karena belum ditahu dimana tempatnya Tamrin.
Hari jumat siang anaknya Tamrin dari RS Bhayangkara, 1 minggu dirawat namun sudah keluar pagi tadi. Yang mau saya tau dimana lokasi kakak saya. Tidak pernah ada yang datang untuk menggeledah rumah. Hanya dipasar Daya saja langsung diculik.
Kalau polisi punya indikasi terhadap Arbain kan dicari dulu dirumahnya, dan memberi tahu keluarganya jika ada kejadian/tindakan. Tapi tidak pernah ada pencarian yang berarti tidak ada indikasi. Sekarang kehilangan jejak tentang keberadaan Tamrin. Tamrin tiga anaknya masih kecil-kecil juga.
Kondisi keluarga masih bingung karena belum ditahu keberadaannya.seandainya ditahu keberadaannya bisa diobati atau dibesuk. Dia keluar jam setegah dua ba'da jumat untuk beli alat alat motor. Kamis malam sekitar jam 23.00 wita dari Bulukumba.
Tau Arbain bin Yusuf tapi tidak terlalu kenal. Baru 2 bulan tinggal disini tanggal 3 desember. Ditangkap 2 orang yang ditembak tamrin. Tolong fasilitasi saya untuk mencari tahu keberadaan kakak saya. Tamrin kelahiran 1972. Kalau dia (Densus) melakukan ini luar biasa, langsung menembak saja tidak pernah ada pemberitahuan kepada keluarga padahal bawa tanda pengenal (sebagai penegak hukum). Saya rencana ke Polda sekarang.
Kalau upaya hukum, insyaAllah masih hidup dia sendiri yang akan menyampaikan sama kita.Sekarang tidak bisa karena tidak diketahui statusya sehingga langkah hukum tidak bisa dipastikan. Yang penting dulu menemukannya. Karena banyak ketidak jelasan jadi saya tidak bisa menyampaikan apa-apa. Terhadap pengelola negara sangat mengharapkan informasi tentang keberadaan kepada kakak saya.Dimana dia? Kok seperti lenyap ditelan bumi. Padahal jelas-jelas Densus yang ambil.
  1. Hanadiah (Istri Asmar/korban meninggal)
 Ia istri dari Syamsuddin alias Asmar alias Abu Uswah menuturkan; pas saat jelang kejadian Asmar sempat masuk ke dalam rumah sakit, tiba-tiba dia keluar pergi wudhu trus masuk masjid untuk solat dhuha. Tiba-tiba temannya ditembak. Kemudian selang beberapa menit dia nyusul dari belakang karena tidak tahu mungkin tentang hal itu. Ia pun kemudian ditembak di paha kirinya. Setelah itu dia bangun, mungkin mau lari atau apalah saya tidak tahu, karena almarhum sendiri tidak tahu apa kesalahnnya. Saat itu kakinya dilumpuhkan dua-duanya. Ini menurut penuturan orang  yang menyaksikan disana kepada saya. Almarhum  kemudian saat akan dibawa masih sempat disiksa, dipukuli dan ditendang pake sepatu laras. Kemudian ditembak lagi didadanya, diberondong peluru setelah tewas kemudian dimasukin kedalam kantong plastik baru dimasukin kedalam mobil.
Saya tidak pernah melihat jenasah almarhum. Hanya foto yang saat kejadian yang saya sempat lihat, itupun dari mereka yang menyaksikan dilokasi. Mereka mendokumentasikan dengan HP. Hari itu dia cuma pamit katanya ingin menjenguk teman di rumah sakit. Tidak ada sama sekali dia membawa apa yang seperti dituduhkan. Dia dituduh membawa granat, granat dari mana? Yang saya tahu dia berangkat hanya untuk menjenguk temannya yang lagi sakit. Katanya ke rumah sakit diantar teman, tatapi saya sendiri tidak tahu temannya itu siapa.
Sampai saat ini tidak ada informasi dari Densus. Saya hanya ikuti melalui berita di televisi saja. Tidak ada pemberitahuan atau surat penangkapan.
Saya tinggal disini, KTP suami saya di BTN Mangga tiga karena saya pernah tinggal di sana. Menurut saya kelakuan Densus seperti binatang. Mereka seenaknya memberondong. Orang yang lagi solat kok ditembak, tanpa ada pemberitahuan dan peringatan.
Bagi saya, almarhum seperti halnya orang kebanyakan, ya biasa-biasa. Meski pendiam tapi biasa juga Bermain dengan anak-anak, bergaul dengan masyarakat. Biasalah. Tidak ada yang aneh-aneh dari beliau. Beliau sering dirumah. Kalau keluar paling dia ke masjid untuk solat, atau keluar belanja. Tidak ada kegiatan yang aneh. Sehari-hari almarhum kerjanya serabutan, kerja apa yang bisa. Kadang diajak oleh temannya kerja bangunan. Saya juga kaget dengan adanya peristiwa di rumah sakit itu. Tiba-tiba koq begitu kejadiannya. Saya tidak tahu apa kegiatannya, apa pekerjaannya terkait peristiwa. Demikian juga yang sudah saya sampaikan di Polda beberapa hari setelah kejadiannya. Sekitar tiga atau empat hari setelah kejadian. Saya menyampaikan bahwa saya tidak tahu semua tentang yang mereka tuduhkan. Polisi sempat mengatakan bahwa mungkin mereka (polisi) lebih tahu. Kemudian saya jawab, iya, kalian yang lebih tahu berarti kalian sendiri yang menciptakan ini semua. Saya tidak tahu dan tidak pernah bertanya tentang itu. Kalau pulang kerumah, paling-paling bergurau dengan anak-anak.
Almarhum meninggalkan tiga orang anak. Yang paling tua, Uswatun Mawaddah saat ini kelas 5 SD. Yang kedua laki-laki 5 tahun, Muhammad Fatih, dan yang ketiga, Lulu, 2,4 tahun. Almarhum adalah tulang punggung keluarga selama ini. Entahlah, kedepannya seperti apa setelah almarhum tidak ada. Belum jelas karena masih dalam keadaan berduka.
Harapannya agar jenazah almarhum segera dikembalikan. Karena keluarga menunggu untuk dimakamkan. Densus juga harus benar dalam melakukan tugasnya. Teliti dangan baik, Selidiki dulu dengan benar.  Apalagi jika peristiwa itu terjadi di rumah Allah SWT (masjid), sangat disayangkan. Ini sudah menyepelekan kaum muslimin!.
  1. Athrizah Dwi Hatmawan (Istri Arbain bin Yusuf)
Arbain di tangkap bersama tamrin saat mau belanja barang di pasar daya.Dwi menuturkan; Pagi sekitar jam 09.00 wita Arbain masih dirumah,  tidur dirumah dan mau shalat  Jumat di mesjid setempat.Tapi saya ada jadwal masak untuk santri, makanya saya minta tolong suami saya untuk belanja kepasar. Dia ngajak pak Tamrin karena katanya sekalian mau beli kap motor.  Habis shalat jumat sampe sore suami saya tidak pulang. Lalu saya liat berita kalau ada yang ditangkap dipasar Daya. Lalu Saya liat di internet kalo Arbain dan Tamrin dibuntuti dari sini.
Sempat ada kabar kalau Arbain sudah meninggal. Namun ada teman yang cari info ternyata sudah ada di Jakarta. Dikasih nomor telpon atas nama pak Norman (081280464020) pengacara Densus dari jakarta. Teman saya cuma pesan sebatas itu saja dan pada Hari jumat dapat surat penangkapan 1 minggu setelah kejadian.
Ada rencana mau dipindahkan taunya dari berita saja. Sekarang masih belum tahu bagaimana kepindahannya.Sempat ada kabar dan kasih informasi ke kesaya. Hari kamis bapak saya yang di Jawa berangkat ke Jakarta sempat melihat kondisi suami saya. Kondisinya luka ditangan bekas penangkapan namun tidak tau pasti karena penjagaannya ketat sekali. Dan tidak sempat banyak bertanya jadi tidak tahu persis. Tapi masih baik kondisinya.
Saya tidak melihat kejadian secara langsung tapi hanya melihat dari berita.
Harapan saya, Kalau pun suami saya memang salah, harusnya sesuai dengan prodesur yaitu dikasih surat penangkapan dulu. Kalau pun suami saya disangka terlibat dalam jaringan teroris faktanya Suami saya itu sehari harinya hanya menjual dan tidak pernah kemana mana. Namun pun demikian jika bersalah harusnya sesuai prosedur penangkapan dengan memberikan surat penangkapan bukan langsung main tangkap.  Saya berharap bisa lebih maksimal dukungannya dari umat Islam. 
  1. MuthmaInna (istri Syarifuddin)
Densus juga mengobok-ngobok daerah Enrekang (sekitar 5 jam perjalanan darat dari kota Makassar), dan ada 9 orang lainya yang ditarget untuk di ambil. Dan yang menjadi target utama oleh Densus adalah Syarifudin, dengan alasan menyembunyikan bom rakitan yang siap digunakan. Dan istri Syarifudin menuturkan seputar penangkapan sebagai berikut;
Saya berada di lokasi tapi tidak melihat kejadian, tetapi adik saya yang lihat. Saya saat itu akan sholat maghrib, dan diberitahu setelah sholat. Kejadiannya malam Sabtu pukul 18.30. Katanya, saat itu suami saya (Syarifuddin) baru mau naik ke jalanan masuk masjid untuk sholat maghrib, tiba-tiba motornya ditendang sama Densus dan jatuh dari motor dan diringkus Densus. Dan ketika bilang mau solat magrib, dibentak densus "tidak perlu solat!". Dan bahkan izin mau pakai celana dalam dulu, itupun ditolak karena saat itu dia hanya pakai sarung untuk pakaian bawahnya. Adik saya yang lihat karena suaminya juga sempat ditangkap Densus namun telah dilepaskan.
Tempatnya kejadian di Kampung Kalimbua Kelurahan Kalosi Selatan, Kecamatan Alla Enrekang. Kejadiannya sangat tiba-tiba saja. Saya sama sekali sebelumnya tidak pernah dihubungi atau tahu kejadian apa. Sebelum kejadian saya sekeluarga hanya di Enrekang saja. Saya pernah baca di media bahwa  suami saya pernah keluar selama dua bulan, saya bilang ini omomg kosong dan saya bantah karena kenyataanya suami saya selama ini berada di Enrekang sejak tahun lalu sampai tahun sekarang.
Suami saya kegiatannya hanya sehari-hari jual tahu sama tempe. Kalau pagi berangkat jual tahu tempe sampai jam 9 pagi, lalu berangkat ke kebun sampai dhuhur. Setelah itu membuat tahu tempe sampai sore, begitu terus kegiatannya sampai penangkapan.
Saya setelah maghrib mencari suami saya namun sudah tidak ketemu dan masjid sudah kosong. Saya cuma diberitahu bahwa tadi ada penangkapan Densus yang datang dengan 9 mobil avansa, mereka berpakaian preman yang jumlahnya lebih dari 50 orang.
Setelah penangkapan saya sudah dihubungi dan katanya sekarang dia sudah di Mabes. kalau mau menghubungi (Syarifuddin) harus melalui pengacara  saya yang sudah disiapkan Densus.
Saya tidak menerima kalau suami saya dituduh karena pernah lama ke luar kota, karena suami saya tidak pernah tinggalkan daerah. Hanya pernah ke luar ke Makassar paling lama 5 (lima) hari pergi pengajian, tidak lebih dari itu dan itu pun bersama saya.
Kejadian penangkapan sekitar 100 meter dari rumah saya, kejadian dekat masjid At-Taqwa. Saat kejadian tiga orang yang ditangkap Densus, terakhir lagi kemenakan saya Fadil alias Fahri juga diambil Densus. Yang diambil sama Densus semua keluarga saya.
Di rumah saya Densus mengambil barang-barang tombak, bensin 5  liter yang saya baru beli untuk pabrik tahu, parang, pupuk untuk berkebun, bahkan celengan kaleng yang berisi duit sekitar 400 ribu juga di ambil, Densus juga membawa ember-ember. Barang-barang yang dibawa itu selama ini dipakai untuk buat tahu tempe.Rumah saya sudah dua kali digerebek dan katanya ada senjata. Motor cicilan saya juga diambil sama Densus. Setahu saya yang ada di pabrik tahu saya cuma parang. Yang dikasih garis polisi kebun saya yang katanya ada senjata, jaraknya 5 kilo meter dari rumah saya. Saya merasa suami saya tidak punya salah atau bukti kejahatan karena saya tahu kegiatnnya sehari-hari.
  1. Mutthoharah (Istri  Sukardi)
Istri Sukardi menuturkan; Kejadiannya Jumat sore pukul 18.30 wita, saya tidak liat pas kejadian seperti apa dan bagaimana, sampai bapaknya abu dzar (Syarifuddin) jatuh, cuma pas jatuh saya sempat dengar dia berteriak "apa salah saya". Dia sempat memberotak tapi langsung dibekuk tangannya kemudian kakinya, setelah itu dia diangkat dinaikkan ke mobil Avanza, kalau tidak salah warna hijau, karena saya melihatnya dari atas rumah. Jadi agak jauh.
Waktu itu Saya kira ada kejadian biasa seperti  tabrakan. Saya tidak tahu kalau kejadian ternyata lain. Jadi saya masuk kembali kedalam rumah, turun untuk ambil air wudhu kemudian naik lagi ke atas dan saya liat sudah penuh dengan Densus. Saya melihat Densus dengan bersejata lengkap. Ada satu orang tingi besar, memakai semacam rompi  mendekati  jamaah sambil bertanya;"siapa namanya Fadli?" Suami saya menjawab bukan.
Waktu itu suami saya duduk di teras masjid. Karena tiga kali dipanggil tidak bergerak, akhirnya orang tadi mendekatinya dan membekuk lehernya kemudian dibawa pergi. Karena kaget saya kemudian turun dan lompat dari rumah, masuk gorong-gorong. Begitu mereka  lihat saya keluar lalu mengarahkan senjata sambil membentak menyuruh masuk. Katanya "Masuk!", trus saya bilang saya mau pergi ambil anakku, jadi saya bilang "anakku, anakku".
Saya kemudian mendatangi anak-anak dan bertanya "mana bapaknya syahrul?" Saat saya bertanya itulah saya melihat dia diseret bersama tiga orang lainnya. saya mendengar suami saya bilang "apa salah saya?" mereka lalu bilang "kamu keluar!, kamu keluar!" suami saya bilang "saya ndak keluar-keluar". Terus dia lari sambil bilang "anakku, anakku", terus mereka jawab bawa saja dengan anakknya. Jadi saya mecoba menarik tangan suamiku sambil berkata "tunggu dulu, apa salahnya suamiku?" jadi dua tangan saya masing-masing menarik suami dan anak saya.
Terus mereka bilang "Bapak keluar, bapak keluar toh?", saya jawab "kemana? Tidak, bapak tidak pernah keluar. Tunggu dulu, apa salahnya suamiku ?" mereka bilang "sebentar bu, kita mau minta keterangan saja".
Keterangan apa? Suamiku tidak bersalah saya bilang. Nah, disaat saya sedang menarik tangan suamiku, kemudian datang lagi satu orang yang badannya besar dan berkata "kalo memang tidak mau, tembak saja dia!" jadi saya bilang tunggu dulu. Saya kemudian berhenti menarik, dan setengah berbisik  ke telinga  suami saya "Pergimiki. Isya Allah itu Allah melindungiki kalo kita tidak pernah salah. karena kita memang tidak pernahji keluar."
Karena waktu itu banyak sekali mobil, saya tidak tahu ke arah mana suami saya dibawa. Jadi waktu penangkapan itu  ada banyak orang, ada  jamaah di dalam masjid. Jadi Waktu suami saya ditangkap dia sedang menemani anak saya ke belakang yang ingin buang air besar. Itu yang kemudian Densus katakan bahwa suami saya ingin melarikan diri. Bagaimana dia mau melarikan diri sedang saat itu dia sedang bersama anaknya.
Pak Sukaradi ditangkap pas setelah salat maghrib. Kalau pak syarifuddin pas saat solat, kalau tidak salah saat rakaat pertama. Yang saya dengar, Saat itu dia minta untuk solat dulu. Kata penduduk ditunggui ji memang tapi mereka menendang motor pak Syarifuddin. Karena kaget, dia balik dan bertanya, ada apa ini? Apa salah saya, saya mau solat dulu. Tapi mereka bilang "tidak usahmi solat!".
Lokasi kejadiannya di Masjid Taqwa. Saat itu ada sekitar sepuluh jamaah di dalam.
  1. Nurlaila (Istri Fadli)
Nurlaila menuturkan kepada CIIA; Tidak tahu apa alasan penangkapan karena saat itu pas lagi solat maghrib. Pak Syarifuddin ditangkap saat solat, tapi Fadli setelah solat maghrib.
Barang yang diambil jirigen, juga uang. Rumah digeledah isinya. Ada tiga rumah yang digeledah. Setelah penangkapan tidak ada yang dihubungi. Ada beberapa berita dari internet yang kurang sesuai. Diberitakan suami saya melakukan perlawanan padahal tidak ada sama sekali perlawanan waktu ditangkap.
Densus Waktu itu ada sekitar sembilan mobil. Jadi waktu malam sabtu itu ada tiga orang yang dibawa.[13 Jan 2013, Makassar].(bilal/arrahmah.com)

CILACAP  - Para mujahidin yang menjadi tahanan kembali mendapat perlakuan zalim petugas Lembaga Pemasyarakatan. Setelah beberapa waktu lalu terjadi penganiayaan petugas LP Cipinang terhadap mujahidin yang ditahan, hal yang sama terjadi di LP Permisan, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Achmad Michdan, koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) menyampaikan kronologis penganiayaan oleh petugas LP Kembang Kuning terhadap ustadz Amir dan ustadz Suparjo alias Sarwo Edi di LP Permisan, Nusakambangan.

Pada hari Rabu (16/1/2013) di LP Permisan ada pertandingan futsal antar napi, diantaranya tim tamu dari LP Kembang Kuning. Pertandingan ini sudah sering, kadang tim futsal LP Permisan pun ke LP Batu.
Ketika pertandingan berlangsung, tim dari LP Kembang kuning mulai main kasar, ketika ada pelanggaran keras, salah satu napi ustadz Sarwo Edi berteriak, ini pelanggaran, kartu kuning! Tetapi wasitnya tidak mengeluarkan kartu kuning. Wasitnya itu adalah petugas LP dari Kembang Kuning. Maka supporter dari LP Permisan pun kecewa karena wasit seolah membela timnya sendiri.

Lalu ustadz Amir protes dan sempat terjadi adu mulut. Tiba-tiba ustadz Amir diserbu dan dipukuli oleh petugas pengawal dari LP Kembang Kuning. Jadi dua orang memegang ustadz Amir dan satu orang memukulinya hingga tersungkur.

Lalu datanglah ustadz Sarwo Edi untuk membantu ustadz Amir yang dianiaya sipir. Namun akhirnya ustadz Sarwo Edi pun dipukuli juga. Akibatnya, kedua orang tersebut menderita luka-luka, bibirnya pecah, memar-memar, kepalanya bengkak dan lehernya kaku.

Pihak napi sudah minta supaya discan di Rumah Sakit tetapi sampai saat ini tidak dikabulkan. Pihak sipir hanya mendatangkan dokter dari LP Batu. Tetapi menurut napi, mereka khawatir ada luka dalam akibat korban penganiayaan. Ustadz Amir misalnya, kepalanya dipukuli dan pagi harinya mual-mual.    
Identitas sipir LP Kembang Kuning yang melakukan pemukulan itu adalah; Shodiq, Andi, Moko dan Sukisno. Kejadian penganiayaan itu di aula tempat pertandingan futsal. Demikian kronologis singkat yang dipaparkan TPM.

Rencananya, pihak TPM akan melakukan investigasi terhadap kasus penganiayaan tersebut dan akan menindaklanjuti dengan proses hukum. Sementara itu, ustadz Amir dan Sarwo Edi selaku korban penganiayaan dikabarkan akan menghadapi persidangan di PN Cilacap, pada Rabu (23/1/2013), sekitar pukul 09.00 WIB.  [El Raid]

Sumber : (voa-islam.com)

JAKARTA  - Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Natsir meminta kepada segenap tokoh Nasional untuk segera mengusut kasus penembakan Densus 88 di sejumlah Daerah; Makassar, Dompu dan Bima.
Densus 88 yang menembak mati 2 orang muslim di masjid Nur Al Afiah, Makassar telah melukai hati umat Islam dan berlindung di balik UU Terorisme.
“Ini sudah melukai hati umat, meskipun mereka berlindung di balik Undang-Undang anti terorisme yang mereka buat sendiri dan disetujui oleh DPR,” kata ustadz Bactiar Nasir kepada voa-islam.com, Jum’at (18/1/2012).
...Ini sudah melukai hati umat, meskipun mereka berlindung di balik Undang-Undang anti terorisme yang mereka buat sendiri dan disetujui oleh DPR
Atas nama umat Islam, ustadz Bachtiar menyerukan agar tokoh Islam mengusut tuntas kasus ini dan meminta klarifikasi Densus 88.
“Atas nama umat Islam saya menganjurkan kepada tokoh-tokoh nasional, tokoh politik dari kalangan muslimin untuk mengusut kasus ini, meminta klarifikasi apa yang dilakukan Densus 88,” ucapnya.
Sikap main tembak yang dilakukan Densus 88 menurutnya telah menjadikan era saat ini mundur ke belakang, seperti zaman Petrus di masa orde baru.
“Sesungguhnya ini sudah sangat berlebihan, seakan-akan kita sudah kembali ke zaman Petrus (penembak misterius, red.) dulu, atau zaman dimana penembakan dilakukan sesuka hati,” tuturnya.
...seakan-akan kita sudah kembali ke zaman Petrus (penembak misterius, red.) dulu, atau zaman dimana penembakan dilakukan sesuka hati
Dari kasus penemban yang dilakukan Densus 88 itu, kata ustadz Bachtiar semakin terungkap maksud dan tujuan dibuatnya Undang-Undang Anti Terorisme.
“Ini sebetulnya sudah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tingkat berat, tetapi dilakukan atas nama Undang-Undang. Sebab kebenaran itu kan nantinya harus dibuktikan di pengadilan, siapa yang salah dan siapa yang benar. Tetapi dengan Undang-Undang yang mereka buat inilah sesungguhnya nampak maksud dan tujuan mereka, mereka sesungguhnya mau apa? Ternyata ini yang mereka mau lakukan di balik semua Undang-Undang itu,” jelasnya.
...Kita menuntut agar pelaku yang bersalah ini dihukum walaupun dia anggota Densus 88 dan siapa pun yang terlibat di dalamnya
Namun ia meminta agar umat Islam tak perlu terprovokasi, umat tidak perlu terpancing emosinya, karena tindakan Densus 88 bisa dituntut secara hukum. “Mudah-mudahan tokoh-tokoh umat ini bisa segera bergerak untuk menangani kasus ini,” tambahnya.
Ustadz Bactiar Nasir pun menuntut agar para pelaku penembakan tersebut diadili dan dihukum meskipun mereka anggota Densus 88 termasuk siapa pun yang terlibat di dalamnya.
“Menurut saya ini bisa dituntut balik, dengan cara mengumpulkan data dari keluarga korban. Kita menuntut agar pelaku yang bersalah ini dihukum walaupun dia anggota Densus 88 dan siapa pun yang terlibat di dalamnya, kita harus tuntut secara hukum!” tegasnya. [Ahmed Widad]

Sumber : (voa-islam.com)

Laporan CIIA: Setelah Ditembak Densus 88 Tamrin tak Jelas Rimbanya
Oleh: Harits Abu Ulya

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)
VOA-ISLAM.COM - Pada hari Jumat 4 Januari 2013 setelah penembakan Densus 88 terhadap Ahmad Kholil dan Abu Uswah di teras masjid Nur Al Afiah, Makassar, ada dua orang yang di tangkap Densus 88 di pasar Daya Lama Makassar sekitar pukul 14.00 WITA. Keduanya ditangkap ketika naik motor berboncengan dan hendak belanja ke pasar.
Satu orang bernama Arbain Yusuf alias Yusuf alias Bain Abu Fadil alias Fadil dan yang kedua bernama Tamrin bin Pangaro. Namun nasib Tamrin sampai kini belum jelas dan keluarga Tamrin juga merasa bingung kemana harus mencari. Karena sampai hari Senen (14/1/2013) sepekan lebih paska penangkapan Tamrin, pihak aparat belum memberitaukan kepada keluarga perihal penangkapan dan penahanannya.
Tamrin sendiri ditembak Densus dibagian kaki atas (paha) saat penangkapan. Dan saksi mata mengatakan tidak ada perlawanan dan tidak membawa senjata. Sementara Arbain, pihak aparat Densus 88 sudah menyampaikan surat penangkapan dan penahanan kepda keluarga dengan nomor surat: B/17/I/2012 Densus tertanggal 07 Jan 2013 dan Surat:B/19/I/2013/Densus, tertanggal 10 Januari 2013.
Tamrin yang ditembak Densus 88 belum jelas kemana dan dimana tidak jelas juntrungannya. Menurut kami, ini adalah contoh betapa terzaliminya pihak keluarga atas tindakan Densus 88 seperti yang menimpa Tamrin.
Hak-hak keluarga korban sering diremehkan begitu saja, kemudian bagaimana proses advokasinya kalau keluarga tidak tahu rimbanya si Tamrin. Kalau pun sudah jelas posisi orang-orang yang tertuduh atau diduga teroris, Densus secara sepihak memilihkan pengacara untuk mereka dan ini tidak fair.
Karena itu, harusnya para pengusung HAM juga harus mengambil tindakan. Karena dalam proses penegakkan hukum dalam isu terorisme betul-betul mekanisme hukum (criminal juctice system) dibuang ditong sampah.
Densus main tangkap, surat penangkapan dibuat menyusul berikut penahannya. Kalaupun salah tangkap, kemudian setelah 7x24 jam dilepas dan tidak ada rehabilitasi atas nama korban.
Ini adalah bentuk pelanggaran yang mengajarkan rakyat atau siapapun bahwa mekanisme hukum tak diperlukan lagi jika mau mencapai tujuan-tujuannya. Atau yang pasti, cara-cara seperti ini menjadikan kepercayaan masyarakat makin tergerus. [Ahmed Widad]

Surabaya (VoA-Islam) – JAT telah menurunkan tim pencari fakta ke Ngajuk guna menelusuri lebih jauh bagaimana perlakuan aparat kepolisian selama ini kepada para siswa.
Diduga, para siswa ini telah mengalami trauma akibat perlakuan aparat kepolisian. Atas perlakuan polisi, JAT Jawa Timur akan segera membawa persoalan nasib 49 siswa Pondok Pesantren (PP) Darul Akhfiya ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak).
''Kami sedang mengumpulkan berbagai bukti soal itu. Tim akan segera berada di lapangan untuk mewawancarai sejumlah sumber di sana. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bukti-bukti itu sudah cukup untuk diserahkan ke Komnas Anak,'' ungkap Sekretaris Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Jawa Timur Ahmad Arif kepada hidcom.
Menurutnya, ada persoalan serius yang dihadapi oleh para remaja yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren itu. ''Mereka menuntut ilmu, dan bukan ilmu yang aneh-aneh seperti yang dituduhkan oleh pihak-pihak lain. Itu ilmu agama saja, dan juga pembekalan ilmu umum, hanya itu,'' ujar pria ini dalam sebuah pertemuan di Surabaya, Selasa (30/11/2012).
Soal perlakuan apa saja yang telah diterima oleh para siswa remaja Darul Akhfiya, pria yang akrab disapa Arif itu secara diplomatis menyatakan pihaknya masih akan mencari tahu secara rinci.
''Kami memang menerima laporan, kalau ada siswa yang sampai difoto-foto oleh aparat. Perlakuan ini kan mirip kriminalisasi pada santri yang sedang mencari ilmu.  Kasihan, mereka tidak ada yang membela dan pasrah sembari was-was,'' urainya.
Sementara itu, berkas-berkas kasus Ngajuk yang sebelumnya ditangani TPM Nganjuk, kini sudah dialihkan ke TPM Jatim. Ketua TPM Jatim Ahmad Yulianto SH mengaku dirinya sedang mempelajari berkas-bekas itu.
''Ya, kami sudah menerima berkas-berkas tersebut dan kami sedang mempelajarinya. Soal nasib yang menimpa para siswa Darul Akhfiya itu, juga menjadi keprihatinan kami,'' ungkapnya.
Fitnah Keji Polisi
Seperti diberitakan sebelumnya, pihak kepolisian telah mengamankan 49 santri sebuah pondok Pesantren Darul Akfiah di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, Selasa (13/11/2012). Polisi menuduh, Pondok pesantren tersebut mendapatkan reaksi dari  masyarakat sekitar karena di Ponpes itu diinformasikan ada kegiatan-kegiatan tidak wajar.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar sesumbar, dalam aktivitasnya pondok pesantren tersebut mengajarkan santri-santrinya menggunakan senjata api dan berbagai senjata tajam. Santri pun difitnah polisi, terlibat jaringan teroris.
"Mereka sering latihan bela diri, bahkan mereka mempunyai lapangan mirip untuk latihan militer di belakang pondok. Kami curiga, mereka adalah jaringan teroris," kata Boy.
Rata-rata usia santri yang ada di pondok masih belasan tahun, pelajar setingkat SMP atau SMA yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Banyuwangi, Pasuruan, Ambon, dan daerah lainnya.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Nasirudin membantah tudingan jika ia terlibat jaringan terorisme. Selama ini, ia mengajarkan kegiatan pengajian saja. "Kami tidak mengajarkan gerakan terorisme, namun hanya ilmu agama seperti pesantren umumnya. Selain itu, kami juga mengajarkan ilmu beladiri," ujar Nasirudin.
Dari hasil pemeriksaan, tidak ada unsur pidana yang terkait. Mereka yang ditahan sejak Selasa (13/11/2012) itu dianggap tak bersalah oleh pihak berwenang.
Polisi kemudian memulangkan ke 49 santri tersebut pada Rabu (14/11/2012) sore dan dikembalikan kepada pihak keluarga. Namun santri tetap meninggalkan trauma yang mendalam. Desastian/dbs

NGANJUK, muslimdaily.net - Puluhan anak muda berbaring di atas karpet Kantor BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Nganjuk, Selasa (13/11/2012). Beberapa dari mereka ada juga yang sedang khusuk membaca kitab suci Al Qur'an. Anak-anak muda itu adalah santri Ponpes Darul Akhfiya, yang beralamat di Jalan Puntodewo Desa Kepuh Kecamatan Kertosono.
Mereka ditangkap karena dicurigai sebagai bagian dari gerakan terorisme. Benarkah mereka teroris seperti yang dituduhkan itu?
"Kami bukan teroris. Kami di Darul Akhfiya untuk menghafal Al Qur'an," kata Khoirul (18), santri yang sudah satu tahun belajar di Ponpes tersebut, seperti dilaporkan Itoday.
Khoirul merupakan warga asli Tulungagung. Oleh orang tuanya, ia disuruh belajar di Darul Akhfiya. Menurutnya, tidak ada hal yang aneh saat belajar di kelompoknya itu. Setiap hari, mereka selalu belajar mengaji, lebih spesifiknya menghafal Al Qur'an.
"Darul Akhfiya merupakan Ponpes Tanfidzil Qur'an (pengahafal Al Quran), jadi setiap hari kami diajari mengaji," katanya.
Lantas bagaimana dengan latihan bela diri yang digelar setiap petang? Khorul mengakui, semua santri ikut kegiatan bela diri itu. Akan tetapi, hal tersebut hanya sebagai sarana berolahraga saja, tidak lebih. "Bela diri kan olahraga. Jadi bukan sesuatu yang aneh," tambahnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Jito (19), santri Darul Akhfiya asal Sumbawa. Jito mengaku, sudah satu tahun belajar di Ponpes tersebut. Ia juga keberatan jika kegiatan yang dilakukannya dianggap membuat keresahan di masyarakat. Karena, kata Jito, kegiatan yang ia lakukan hanya mengaji. Sedangkan bela diri, hanya sebagai selingan saja.
"Olahraga bela diri itu hanya untuk kegiatan selingan saja. Kegiatan utamanya ya menghafal Al Quran. Dengan begitu ada keseimbangan antara jasmani dan rohani," katanya sembari menebar senyum.
Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko mengatakan bahwa anggota Gamis (Gabungan Masyarakat Islam) yang ada di Jalan Puntodewo Desa Kepuh Kecamatan Kertosono, Nganjuk sering melakukan latihan lempar pisau. Permainan lempar pisau terkategori sebagai kegiatan terorisme?

Presiden menanggapi peristiwa Monas seakan kudeta. Kedubes AS pun melibatkan diri. Padahal itu tawuran biasa yang selalu terjadi di Indonesia. Ada apa? SKB sudah terbit. Tapi peristiwa ini adalah “pelajaran!”

Oleh: Amran Nasution *
Kiranjit Ahluwalia memang membunuh Deepak. Suatu malam di bulan Mei 1989, ketika sang suami tidur lelap ia siram kedua kakinya dengan bensin, ia sulut dengan korek api. Lima hari kemudian, Deepak menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Wanita beranak dua itu pun ditangkap polisi.
Pada mulanya peristiwa di Southall, pinggiran barat London ini, dianggap pembunuhan biasa. Pengadilan memvonis wanita asal Punjab, India, yang berimigrasi ke Inggris itu, dengan hukuman seumur hidup. Tapi guru bahasa Inggrisnya di penjara melaporkan kasusnya kepada seorang pengacara berpengaruh.
Dari sini cerita menjadi seru. Terutama setelah kelompok pembela hak perempuan Asia dan kulit hitam, Southall Black Sisters, aktif berdemonstrasi membela Kiranjit agar dibebaskan dari penjara. Pers berebut meliputnya, para ahli hukum memperdebatkannya, para kolumnis menganalisanya.
Ternyata Kiranjit adalah kisah wanita Timur yang tabah, mengabdi kepada suami, menjaga martabat keluarga, tapi provokasi demi provokasi dari Deepak berujung pembunuhan.
Deepak pecandu alkohol berat, punya hobi menyiksa istri. Kalau sudah marah apa yang ada di tangannya ia pukulkan, dan itu sering terjadi di depan mata dua anak mereka yang masih kecil. Ke mana pun Kiranjit lari, ia kejar sampai dapat dan babak-belur.
Itulah yang terjadi di malam nahas. Setelah puas menyiksa istrinya Deepak tertidur dalam mabuk beratnya. Ketika itu Kiranjit berpikir, baik kalau kaki Deepak ia bakar agar tak mampu lagi mengejarnya. Dengan demikian ia bisa lepas dari siksaan. Maka wanita yang sehari-hari bekerja menyortir surat di sebuah kantor pos, membakar kaki suaminya.
Pengadilan banding pada 1992, memvonis bebas Kiranjit yang telah tiga tahun mendekam di penjara. Hakim berpendapat ia memang tak berniat membunuh.  Kata Kiranjit di depan sidang, ‘’Saya tak pernah berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.’’
Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris.  Tahun lalu, sutradara asal India di London, Jag Mundhra, mengangkat tragedi ini ke dalam film berjudul: Provoked: A True Story (Provokasi: Sebuah Kisah Nyata).
Bila diamati peristiwa Monas (Monumen Nasional), Minggu, 1 Juni 2008, kelompok Front Pembela Islam (FPI) adalah Kiranjit: pihak yang melakukan tindakan melawan hukum akibat tak tahan menghadapi provokasi demi provokasi para tokoh liberal yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
Kelompok-kelompok Islam ini – termasuk MUI – sudah lama menjadi bulan-bulanan pemberitaan media massa yang lebih berpihak kepada kelompok liberal dan isu-isu yang mereka bawa. Mulai kasus RUU Pornografi dan Pornoaksi, berbagai aliran sesat, dan terakhir Ahmadiah.
Adnan Buyung Nasution, misalnya, seenaknya bilang MUI supaya dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden itu mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya sesama penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam ini, MUI harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. Buyung beberapa kali menantang-nantang mereka dengan sangat emosional.
Tulisan para aktivis liberal di koran, majalah, atau wawancara di televisi, selalu menyerang atau mengejek-ejek mereka atau sesuatu yang mereka yakini dan muliakan. Di dalam selebaran untuk mengerahkan pendukungnya ke Monas, 1 Juni 2008, AKKBB menuduh kelompok anti --Ahmadiah adalah anti-- UUD dan Pancasila serta persatuan nasional. Mereka akan memaksakan rencana mendirikan negara Islam, mengganti dasar negara.
Di bawah pernyataan tercantum 289 nama, sejumlah di antaranya tokoh terkenal. Mulai Gus Dur, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, Marsilam Simanjuntak, Asmara Nababan, Rahman Tolong, Ulil Abshar Abdala, sampai Syafii Maarif dan Amien Rais.  Selebaran dimuat di koran sebagai iklan, selain tersebar ke mana-mana. Itu amat meresahkan FPI, FUI, dan lainnya yang sejak lama berpendapat Ahmadiah harus dilarang karena mencederai Islam. Sebagaimana Kiranjit mereka tampaknya terus diprovokasi.
Amat wajar polisi berusaha agar massa kelompok FPI dan AKKBB tak bertemu ketika 1 Juni 2008, keduanya melakukan demonstrasi.  Kenyataannya kelompok AKKBB tak peduli. Mereka seakan ingin berhadapan dengan kelompok FPI. 
Kedutaan Besar Amerika
Siang itu di depan Istana Merdeka, massa Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), FPI, MMI, dan FUI, melakukan demo anti-kenaikan harga BBM. Dari arah Hotel Indonesia muncul massa AKKBB yang berdemo menentang pelarangan Ahmadiyah. Dari pengeras suara di atas mobil terdengar suara mengejek FPI sebagai ‘’laskar kapir’’, ‘’laskar setan’’.
Provokasi itu menyebabkan kelompok massa FPI yang dipimpin Munarman kehilangan kesabaran. Meski salah seorang dari massa AKKBB mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas sampai empat kali, tak ada gunanya. Saat itu pistol lebih berfungsi sebagai alat provokasi daripada pencegahan. Terjadilah insiden. Sejumlah massa AKKBB terluka, beberapa sempat dirawat di rumah sakit.
Bentrokan sesungguhnya kecil saja. Setidaknya lebih kecil dibanding banyak kerusuhan pemilihan kepala daerah (Pilkada).  Di Ternate, Maluku Utara, misalnya, sejumlah rumah dibakar. Sebelumnya, dalam pemilihan Bupati Tuban, Jawa Timur, bukan cuma rumah, pendopo bupati, kantor KPU, kantor partai, mobil dan beberapa properti lain dibakar. Apalagi kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon, Poso, atau pembantaian orang Madura di Kalimantan.
Tapi kali ini hiruk-pikuknya bukan kepalang. Koran, radio, dan televisi menjadikannya berita utama dengan tema menyerang kelompok FPI. Ormas itu harus dibubarkan karena merupakan organisasi kekerasan.
Saking bersemangat, koran TEMPO memuat mencolok foto Munarman mencekik seseorang yang disebutnya anggota AKKBB, tanpa pengecekan. Ternyata Munarman sedang berusaha mencegah anggotanya sendiri berbuat anarkis. Berita foto itu sangat menjatuhkan Munarman dan tampaknya akan menjadi kasus hukum.
Demonstrasi menuntut pembubaran FPI pecah di pelbagai daerah terutama di Jawa Timur, basis Gus Dur. Berbagai tindak kekerasan diterima FPI daerah. Malah di Banyuwangi, mucikari dan pelacur turut berpartisipasi mendemo FPI.
Seakan negara dalam keadaan darurat, Presiden SBY tampil menyampaikan pernyataan resmi dari Istana. ‘’Negara tak boleh kalah oleh kekerasan,’’ katanya. Gaya penampilan Presiden, mimiknya, tekanan kalimatnya, menggambarkan seakan FPI dan kelompoknya telah melakukan kudeta. Gaya Presiden yang berlebihan itu tambah memojokkan FPI.
Padahal kalau bentrok begitu saja harus ditanggapi Presiden langsung, setiap hari ia harus tampil. Ikutilah radio atau televisi, hampir setiap hari ada bentrok massa. Penyebabnya macam-macam, mulai Pilkada, demonstrasi BBM, tawuran antar-kampus atau antar-sekolah, tawuran antar-geng motor, rebutan lahan parkir, sampai sengketa tapal batas desa. Penyerbuan polisi ke Universitas Nasional, sebelumnya jauh lebih keras dari peristiwa Monas. Tapi Presiden diam saja.
Yang jelas bentrokan Monas menguntungkan pemerintah. Soalnya, FPI, Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), dan ormas Islam lainnya, merencanakan demonstrasi besar-besaran anti-kenaikan harga BBM mulai 6 Juni 2007. Demonstrasi itu akan diteruskan dengan gerakan mogok massal nasional. Berbagai persiapan sudah dilakukan.
Ketika polisi menggerebek kantor FPI ditemukan segepok selebaran berjudul, ‘’Lumat SBY-YK’’. Lumat singkatan lima tuntutan ummat: batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga sembako, nasionalisasi aset negara yang dikuasai asing, bubarkan dan nyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang, dan usir NAMRU-2 dari Indonesia serta bersihkan kabinet dari antek Amerika Serikat.
Melihat tema yang mereka usung, gerakan itu akan merepotkan pemerintah sekalian menyulut gerakan anti-Amerika di Indonesia. Aksi itu rupanya harus dicegat jangan sampai terjadi maka meletuslah peristiwa Monas.
Lihatlah aktivitas Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta. John Heffern, Kuasa Usahanya, sibuk mengunjungi korban dari AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan hari, Kedubes mengirimkan pernyataan resmi ke media massa mengutuk aksi kekerasan Monas. Belum cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah Indonesia agar menjunjung kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD. Itu jelas intervensi urusan dalam negeri Indonesia.
Bagaimana mungkin orang-orang Kedubes itu masih punya keberanian moral mengutuk kekerasan Monas, sementara negaranya adalah imperium kekerasan yang sudah membunuh 1 juta manusia di Iraq. Menangkap, menahan, dan menyiksa ratusan orang di Guantanamo, tanpa mengadilinya lalu diam-diam melepaskannya.
Pantas Naomi Wolf, aktivis dan kolumnis dari New York, penulis buku laris The Beauty Myth, menuduh negeri itu sedang menuju pemerintahan fasis (fascist shiff). Riset yang dilakukan wanita ini menemukan seluruh ciri-ciri pemerintahan Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, dan Augusto Pinochet di Chili, ada pada pemerintahan Bush.
Bagaimana mereka mengajari kebebasan beragama di Indonesia, padahal banyak pendeta dan pengikut Mormon mendekam di penjara Amerika karena melakukan poligami sesuai ajaran agama yang mereka yakini. Apa beda mereka dengan Ahmadiah? Pendeta David Koresh dan puluhan pengikutnya diledakkan polisi federal FBI sampai terbakar berkeping-keping karena mendirikan sekte Kristen sendiri. Masih ada cerita lain yang mengerikan seperti itu.
Di Guantanamo, Al-Quran mereka cemplungkan ke dalam WC – seakan hal lumrah – agar orang yang mereka periksa marah dan bicara terbuka. Dari pengakuan eks tahanan Guantanamo yang telah bebas, penghinaan Al-Quran jadi metode pemeriksaan tersendiri, selain berbagai model penyiksaan lainnya seperti waterboarding, menyiramkan air ke wajah sehingga korban sesak bernapas seakan tenggelam.
Di Iraq, tentaranya latihan menembak dengan Al-Quran sebagai target. Apakah mereka masih berhak bicara kebebasan beragama? [berlanjut/hidayatullah]
* Penulis Direktur Institute For Policy Studies
Sumber: Hidayatullah

AKARTA  - Keluarga Nanto menyesalkan tindakan Densus 88 yang melakukan penangkapan terhadap Aktivis Masjid Baitul Karim tersebut , tanpa surat penangkapan. Nanto sendiri ditangkap Densus 88 saat bersama saudara kembarnya ketika sedang membagi-bagikan daging Qurban ke warga masyarakat setempat. "Saat adik saya disergap saya sempat meminta mereka untuk menunjukkan surat penangkapan, tapi mereka hanya mengatakan iini resmi ada suratnya. Tapi, hingga saat ini keluarga tidak satupun yang melihat surat itu. Kita merasa ditipu," Kata Saudara kembar Nanto, Sunardi kepada arrahmah.com dirumah orang tuanya yang menjadi lokasi penggerbekan, Jl Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu malam (27/10).
Lebih dari itu, saat penggeledahan di rumah orang tuanya Densus 88 enggan ditemani oleh pihak keluarga ataupun RT setempat, hal ini memicu kekecewaan keluarga.
"Aneh sekali mereka menggeledah rumah, tapi tidk mau disaksikan oleh perwakilan warga dan Masyarakat," ungkap pria yang biasa di sapa Nandi tersebut.
Tidak Ada Bom
Nandi juga membantah berita yang beredar terkait tuduhan ada bom yang ditemukan dirumah orang tuanya. Pasalnya ketika Polisi selesai menggeledah dan menunjukkan tas ransel yang dibawa Nanto keluarga dan masyarakat telah menyaksikan bersama bahwa di tas tersebut tidak ada baha peledak dan sejenisnya.
"Tas itu sudah kita sama-sama lihat, dan isinya hanya laptop. Saya sudah tegaskan ke Polisi bahwa kita jadi saksi jika suatu saat beritanya berbeda, Kalau benar ada BOM, pasti daerah sini sudah disterilkan dari jarak beberapa meter. Tapi, itukan tidak dilakukan" ujarnya.
Kata Nandi, Pihak Polisi juga sudah mempermainkan dirinya dan keluarganya terutama Istri dari adiknya. Saat keluarga mencari informasi keberadaan Nanto setelah penyergapan, Polisi mengarahkan ke beberapa tempat yang tidak ada keberadaan adiknya tersebt.
"Saya mau meminta surat Kuasa Hukum untuk dihubungkan ke TPM, saat diinfokan adik saya mereka bilang di Polsek Palmerah, tapi ketika kesana tidak ada dan mereka bilang ada dikontrakan, kesana pun saya tidak mendapatkan adik saya,"bebernya.
Nandi pun, membantah adiknya terlibat aksi-aksi yang ditudhkan Densus 88 dan media massa. Menurutnya keseharian adiknya hanyalah berdakwah berhubung adiknya juga merupakan skretaris bidang dakwah di Masjid Baitul Karim, Kebon Kacang.
"Aktifitas adik saya itu terbuka, semua masyarakat sini sudah sangat mengenalnya sejak lama, bisa dilihat dan dinilai secara terbuka," tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Densus 88 menyergap 3 orang aktifis masjid di Palmerah dan Tanah Abang dengan tuduhan terlibat jaringan terorisme. Diantara nama yang sudah dirilis Herman, David, dan Sunarto alias Nanto (bilal/arrahmah.com)
Foto : Nandi saudara kembar Nanto

Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi telah menunjukkan KETINGGIAN SIKAP TOLERANSI dan KEBESARAN JIWA terhadap Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan membiarkan jemaatnya melakukan kebaktian setiap Ahad di rumah tinggal seorang warga perumahan Mustika Jaya - Ciketing - Bekasi.

Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tidak pernah keberatan, apalagi usil dan mengganggu ibadah Jemaat HKBP di tempat tersebut.

Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tetap tidak protes dengan adanya Jemaat HKBP yang datang dari luar perumahan, bahkan luar Bekasi, ke tempat tersebut.

Namun, setelah dua puluh tahun, seiring dengan makin banyaknya Jemaat HKBP yang datang ke tempat tersebut dari berbagai daerah, maka Jemaat HKBP  mulai tidak terkendali. Bahkan Jemaat HKBP mulai arogan, tidak ramah lingkungan, tidak menghargai warga sekitar yang mayoritas muslim, seenaknya menutup jalan perumahan untuk setiap kegiatan mereka, bertingkah bak penguasa, merusak tatanan kehidupan bertetangga, menciptakan berbagai problem sosial dan hukum. Puncaknya, HKBP ingin menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai GEREJA LIAR.

Setelah dua puluh tahun, umat Islam Bekasi, khususnya warga perumahan Mustika Jaya - Ciketing, mulai gerah dan merasa terganggu dengan pola tingkah Jemaat HKBP yang semakin hari semakin arogan, bahkan nekat memanipulasi perizinan warga sekitar untuk GEREJA LIAR mereka.

Sekali pun kesal, kecewa dan marah, umat Islam Bekasi tetap patuh hukum dan taat undang-undang. GEREJA LIAR HKBP di Ciketing diprotes dan digugat melalui koridor hukum yang sah, sehingga akhirnya GEREJA LIAR tersebut disegel oleh Pemkot Bekasi. Tapi HKBP tetap ngotot dengan GEREJA LIAR nya, bahkan solusi yang diberikan Pemkot Bekasi untuk dipindahkan ke tempat lain secara sah dan legal pun ditolak.

HKBP menebar FITNAH bahwa umat Islam Bekasi melarang mereka beribadah dan mengganggu rumah ibadah mereka. Lalu secara demonstratif jemaat HKBP setiap Ahad keliling melakukan KONVOI RITUAL LIAR dengan berjalan kaki, dari GEREJA LIAR yang telah disegel ke lapangan terbuka dalam perumahan di depan batang hidung warga muslim Ciketing, dengan menyanyikan lagu-lagu gereja, tanpa mempedulikan perasaan dan kehormatan warga muslim disana.

Akhirnya, terjadi insiden bentrokan antara HKBP dengan warga muslim Ciketing pada Ahad 8 Agustus 2010, tiga hari sebelum Ramadhan 1431 H. Dalam insiden tersebut, dua pendeta HKBP sempat mengeluarkan PISTOL dan menembakkannya.

Selanjutnya, tatkala umat Islam Bekasi masih dalam suasana Idul Fithri, pada Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 September 2010 M, Pendeta dan Jemaat HKBP kembali melakukan provokasi dengan menggelar KONVOI RITUAL LIAR sebagaimana yang dulu sering mereka lakukan. Kali ini terjadi insiden bentrokan antara 200 orang HKBP dengan 9 IKHWAN WARGA BEKASI yang berpapasan saat konvoi. Peristiwa tersebut DIDRAMATISIR oleh HKBP sebagai penghadangan dan penusukan pendeta.

Media pun memelintir berita peristiwa tersebut, sehingga terjadi PENYESATAN OPINI. Akhirnya, banyak anggota masyarakat menjadi KORBAN MEDIA, termasuk Presiden sekali pun.

Peristiwa Bekasi Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 Sept 2010 M, BUKAN perencanaan tapi insiden, BUKAN penghadangan tapi perkelahian, BUKAN penusukan tapi tertusuk, karena 9 warga Bekasi yang dituduh sebagai pelaku adalah IKHWAN yang sedang lewat berpapasan dengan KONVOI RITUAL LIAR yang dilakukan 200 HKBP bersama beberapa pendetanya di lingkungan perkampungan warga muslim Ciketing. Lalu terjadi perkelahian, saling pukul, saling serang, saling tusuk dan saling terluka.

Pendeta dan jemaat HKBP yang dirawat di Rumah Sakit dibesuk pejabat tinggi, mendapat perhatian khusus Presiden dan Menteri, namun siapa peduli dengan warga Bekasi yang juga terluka dan dirawat di Rumah Sakit ? Bahkan salah seorang dari 9 warga Bekasi tersebut, justru ditangkap saat sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit akibat luka sabetan senjata tajam HKBP.

Mari gunakan LOGIKA SEHAT : Jika peristiwa tersebut PERENCANAAN, mana mungkin 9 ikhwan melakukannya secara terang-terangan dengan busana muslim dan identitas terbuka ! Jika peristiwa tersebut PENGHADANGAN, mana mungkin 9 orang menghadang 200 orang, apa tidak sebaliknya ?! Jika peristiwa tersebut PENUSUKAN, mana mungkin 9 ikhwan lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada yang tertusuk juga !

Soal PENON-AKTIFAN Ketua FPI Bekasi Raya oleh DPP-FPI bukan karena salah, tapi untuk melancarkan roda organisasi FPI Bekasi Raya yang teramat BERAT tantangannya, sekaligus meringankan beban tugas sang Ketua yang sedang menghadapi UJIAN BERAT dalam menghadapi tuduhan dan proses hukum. Jadi, putusan tersebut sudah tepat, dan merupakan langkah brillian dari DPP mau pun DPW FPI Bekasi.

Langkah tersebut bukan saja cerdas, tapi menjadi bukti TRADISI FPI yang berani, tegas dan bertanggung-jawab. Ketua FPI Bekasi Raya, baru disebut-sebut namanya saja oleh pihak kepolisian, sudah dengan gagah langsung serahkan diiri ke Polda Metro Jaya secara sukarela didampingi DPP-FPI untuk diperiksa. Dan siap menjalani proses hukum bila dinilai bertanggung-jawab dalam insiden Bekasi, walau pun beliau tidak ada di lokasi kejadian. Bandingkan dengan SIKAP PENGECUT Pemred Palyboy Erwin Arnada yang melarikan diri dari VONIS DUA TAHUN PENJARA yang sudah ditetapkan Mahkamah Agung sejak 29 Juli 2009. Bandingkan dengan sikap pengecut DEWAN PERS dan LSM KOMPRADOR yang berusaha melindungi dan membantu Sang TERORIS MORAL tersebut dari putusan tetap Mahkamah Agung.

Bagi segenap pengurus, anggota, aktivis, laskar dan simpatisan FPI dari Pusat hingga ke Daerah, bahwa Ketua FPI Bekasi Raya adalah PEJUANG bukan pecundang. Beliau TIDAK ADA DI LOKASI kejadian saat peristiwa. Beliau hanya kirim SMS AJAKAN kepada umat Islam untuk membela warga Ciketing beberapa hari sebelum peristiwa, tapi dituduh sebagai provokator, sedang Para Pendeta HKBP yang mengajak, membawa dan memimpin massa Kristen serta memprovokasi warga muslim dengan KONVOI RITUAL LIAR, tak satu pun diperiksa.

Kini yang menjadi pertanyaan adalah :
  1. Kenapa Para Pendeta HKBP yang jadi PROVOKATOR dan PENGACAU tidak diperiksa ?
  2. Kenapa kegiatan HKBP setiap Ahad di Ciketing yang menggelar KONVOI RITUAL LIAR keliling  perumahan warga muslim dengan lagu2 Gereja secara demonstratif dibiarkan ?
  3. Kenapa dua pendeta yang bawa PISTOL &  menembakannya ke warga pada insiden 8 Agustus 2010 tidak ditangkap ?
  4. Kenapa dua jemaat HKBP, Purba &  Sinaga, yang bawa PISAU saat insiden 12 September 2010 sudah ditangkap lalu  dilepas kembali ?
  5. Kenapa jemaat HKBP yang memukul dan  menusuk 9 ikhwan warga Bekasi tidak ditangkap ?
  6. Kenapa Presiden dan Para Menteri serta pejabat dan sederetan Tokoh Nasional memberikan simpatik kepada PENGACAU sambil menyalahkan warga muslim Bekasi ?
  7. Kenapa banyak pihak senang mengambil  kesimpulan dan keputusan hanya berdasarkan OPINI dan ISSUE media ?
  8. Kenapa di Indonesia yang merupakan negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, justru yang terjadi adalah MAYORITAS TERTINDAS OLEH TIRANI MINORITAS ?
  9. Kenapa MINORITAS di Indonesia terlalu dimanjakan, sehingga mereka jadi tidak tahu diri, bahkan menjadi angkuh dan sok jago ?
  10. Kenapa ketika terjadi insiden kecil terhadap SEORANG PENDETA semua teriak  nyaring, tapi ketika RIBUAN umat Islam dibantai di Ambon, Sampit dan Poso teriakan macam itu tak terdengar ? Bahkan saat sebuah Masjid dibakar di Medan belum lama ini tidak ada satupun media nasional meliputnya, kemana suara yang selalu mengatasnamakan kebebasan beragama dan beribadah ?

Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah. Jawablah semua pertanyaan tersebut dengan jiwa bersih dan akal sehat serta argumentasi Syariat.

Oleh sebab itu, Keadilan harus ditegakkan ! Hukum tidak pilih kasih ! Jika 9 Ikhwan warga Bekasi sudah ditahan karena dituduh terlibat langsung dalam perkelahian tersebut, dan Ketua FPI Bekasi Raya pun sudah ditahan karena dituduh terlibat secara tidak langsung, maka mereka yang terlibat langsung mau pun tidak langsung dari kelompok HKBP harus ditahan juga !
Karenanya, segenap pengacara Bantuan Hukum Front (BHF) dari DPP-FPI dan Kongres Umat Islam Bekasi (KUIB) akan tetap dan terus berjuang melakukan pembelaan hukum terhadap Ketua FPI Bekasi Raya dan seluruh warga Bekasi yang ditahan akibat peristiwa tersebut. Tekad Bulat BHF dan KUIB adalah membuktikan bahwa mereka TIDAK BERSALAH, karena mereka hanya KORBAN AROGANSI HKBP dan OPINI SESAT MEDIA MASSA. Bahkan BHF dan KUIB akan tetap dan terus berjuang membela hak-hak warga Ciketing yang selama ini dirampas dan dirusak oleh HKBP.

Bekasi kota religi. Bekasi kota Islami. Siapa ingin kotori atau kacaukan Bekasi silakan keluar dari Bekasi !

Sebar luaskan berita ini agar umat Islam tidak menjadi KORBAN MEDIA !

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil, Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir.
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget