Articles by "Islam Asia"

Voice Of Muslim - BANDA ACEH – Ketua DPD Gerindra Aceh T.A Khalid menyerahkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di Posko Tidar Aceh Peduli, bantuan yang disumbangkan tersebut diterima ketua PD Tidar Aceh Agussalim CH, di Banda Aceh Sabtu 23 Mei 2015

T.A Khalid menyatakan, bantuan dalam bentuk sembako, mie instant dan pakaian layak pakai yang disumbangkanya tersebut, diserahkan sebagai bentuk kecintaan dan rasa kemanusian yang besar kepada muslim Rohingya yang datang untuk “Peusiblah Tuboeh” ( menghidari diri dari kekejaman) Junta militer Nyanmar ke tanoeh Aceh, yang mana masyarakatnya memang dikenal mempunyai kepedulian yang besar dan ukhuwah yang kuat apalagi sesama Muslim.

“Sumbangan dari kami ini adalah merupakan tali penyambung persaudaraan kita dengan Muslim Rohingya, yang dengan keterpaksaan mereka mengarung laut menghindar dari dari kekejaman yang tak manusiawi di negara asal mereka” Kata T.A Khalid

Dalam kesempatan ini, T.A Khalid juga mendesak pemerintah Indonesia, untuk menunjukan aksi nyatanya membantu pengungsi Rohingya. ” Kita mendesak pemerintah Indonesia menujukan simpatinya kepada mereka, apabila kondisi di negara Nyanmar tidak kondusif dalam memperlakukan suku Rohingya ini, lebih baik mereka tinggal disini selama lamanya, dari pada mereka di perlakukan kejam di negeri asalnya” Tambahnya.

Katanya lagi, saatnya pemerintah Indonesia menunjukan aksi nyatanya memainkan peran poliknya sebangai bangsa yang besar pendiri Asean, bukan hanya berkoar koar dimedia.
Ditempat yang sama, anggota DPRA dari Gerindra Kartini Ibrahim juga mendonasikan sumbanganya melalui Posko organisasi sayap Partai Gerindra tersebut, yang berharap sumbangannya ini bisa dipergunakan dengan baik, terutama untuk Perempuan dan Anak anak yang memang perlu perlakuan yang lebih dari laki laki.

Sementara itu, ketua PD Tidar Aceh  Agussalami, mengucapkan  terima kasih atas sumbangan masyarakat yang sudah di amanahkan kepada mereka dan ditambahkannya lagi, semua sumbangan ini akan diantarkan ke titik pengungsian yang ada di Aceh Utara dan Langsa.
“Banyak  sumbangan yang di amanahkan ke Tidar Aceh dan kebanyakan sumbangan yang kita terima adalah dari kader Tidar dan Gerindra serta masyarakat Aceh, bahkan dari luar Aceh juga banyak menitipkan donasinya kepada kami” tambah Agussalim. (Tarmizi)

10.03 ,
Voice Of Muslim - Munculnya kisah tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah Myanmar, Burma, adalah gambaran sebuah kisah yang sangat menyedihkan, kisah suatu kaum yang seharusnya mendapatkan hak untuk hidup layak, tetapi malah diperlakukan dengan tidak semena-mena. Kebiadaban biksu Ahsin Wirathu yang mengusir etnis Rohingya dari Myanmar sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Terlebih, dirinya sering bersuara untuk mengajak pengikutnya agar memerangi kaum minoritas yang beragama Islam. Untuk diketahui jika kelompok etnis Rohingya merupakan kaum keturunan etnis Bengali, lebih spesifiknya dari sub-etnis ‘Chittagonia’ yang mayoritas tinggal di Bangladesh bagian tenggara. Adapun bangsa Burma sendiri adalah berasal dari rumpun ‘Thai-Kadal’, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan.
Namun, permasalahan di Burma memiliki kebijakan yang berbeda, suku Rohingya tidak diakui sama sekali sebagai bagian dari masyarakat Burma, bahkan, bila perlu mereka harus diusir atau seperti yang terjadi saat ini, dibantai sebagian, agar sebagian yang lainnya dapat mengungsi karena ketakutan.
Artinya, etnis Rohingya ini, semenjak negara Burma merdeka di tahun 1942 dari pemerintahan kolonial Inggris, telah dianggap sebagai imigran gelap. Padahal, pada kenyataannya eksistensi mereka sudah ada berabad-abad sebelum Burma merdeka.
Penderitaan seperti ini kerap berangsur-angsur setiap tahunnya. Sementara itu, Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengatakan, dengan adanya masalah Rohingya adalah timbulnya gemuruh dalam Hak Asasi Manusia (HAM).
“Saat ini kita sudah tidak lagi melihat masalah ini sebagai lingkup nasional, tetapi juga masalah regional dan internasional yang tersambung satu sama lain. Persoalan manusia sejatinya tidak boleh dibatasi sekat-sekat administrasi teritori,” tuturnya melalui pesan singkat, Sabtu (23/5).
Lebih lanjut, Maneger khawatir jika permasalahan itu berdampak secara domino pada negara-negara tetangga khususnya Indonesia yang dahulu sempat dimayoritaskan umat Buddha. Adapun peranan Pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik etnis.
Sebelumnya, Wajah Ashin menghias cover depan majalah Time, dan diberi judul ’The Face of Buddhist Terror’. Majalah terkemuka asal Amerika Serikat (AS) juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.
Dalam kutipanya di Time, Rabu (20/5) lalu, Ashin menyatakan jika ‘Sekarang bukan saatnya untuk diam’ Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.
Sosok Ashin itu tak hanya menarik minat Timesaja, the Washington Post juga menyorot sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin dalam pergerakan pembantaian Rohingya. “Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila!” papar Ashin.
Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada etnis Muslim Rohingya. Perawakannya yang tenang, pakaiannya yang sederhana, seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya. Ashin pria berkepala plontos pun tak segan-segan dengan keji menghabiskan nyawa manusia yang tak berdosa.  (Rol)

Voice Of Muslim - Pengungsi Rohingnya asal Myanmar yang ditolak tiga negara ASEAN terpaksa meminum air kencing sendiri dalam upaya bertahan hidup. "Kami melihat ada orang yang minum air kencing mereka sendiri dari botol. Kami sudah melemparkan botol air untuk mereka, segala sesuatu yang kami punya di kapal," kata Jonathan Head, wartawan BBC, seperti yang dilansir Independent, Kamis, 14 Mei 2015.
Selain itu, setidaknya sepuluh pengungsi tewas akibat kelaparan dan kehausan di perahu nelayan yang telah terkatung-katung selama seminggu terakhir di Laut Andaman, yang terletak di antara Myanmar selatan dan Thailand barat. Seorang muslim Rohingya mengatakan mayat-mayat orang-orang yang meninggal dibuang ke laut.

Diperkirakan 6.000 pengungsi asal Myanmar berada di tengah laut akibat ditolak berlindung di negara-negara di ASEAN. Menurut laporan, lebih dari 120 ribu warga minoritas muslim Myanmar tersebut telah naik perahu ke negara-negara lain dalam upaya melarikan diri dari Myanmar.

Meski PBB dan badan-badan bantuan telah menyerukan pihak berwenang di Thailand, Indonesia, dan Malaysia untuk menyelamatkan para pengungsi itu, mereka tampak tidak mau mengambil para pengungsi. Sebelumnya, TNI Angkatan Laut memberi bantuan makanan dan air bersih serta membiarkan perahu kayu yang ditumpangi muslim Rohingya melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Wan Junaidi Jaafar mengatakan sekitar 500 orang berada di kapal yang ditemukan pada Rabu, 13 Mei 2015, di lepas pantai utara Penang. Setelah diberi beberapa perlengkapan, mereka diminta meninggalkan perairan Malaysia. "Apa yang Anda harapkan untuk kami lakukan," ucap Junaidi.

Junaidi menuturkan pemerintahnya sudah berbaik hati terhadap para pengungsi tersebut. "Kami sudah sangat baik untuk orang-orang yang masuk ke perbatasan negara kami. Kami telah memperlakukan mereka secara manusiawi, tapi mereka tidak dapat membanjiri pantai kami dengan cara seperti ini," ujarnya.

Perdana Menteri Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha mengatakan, "Jika kami membawa mereka semua ke dalam negara kami, siapa saja yang ingin datang akan datang dengan bebas. Saya menanyakan, apakah Thailand mampu merawat mereka semua? Lantas dari mana anggarannya?"

Matthew Smith, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia nirlaba Fortify Hak, menyatakan, "Ini adalah krisis kemanusiaan serius yang menuntut tanggapan segera."

Aparat yang seharusnya melindungi warga, justru melakukan hal ini.

Voice Of Muslim - Aparat keamanan membunuh dan memperkosa serta menahan secara ilegal ratusan warga Muslim etnis Rohingya di Myanmar. Aparat juga diam saja melihat aksi kekerasan dan penyiksaan warga oleh orang budha menambah panjang daftar dosa negara yang baru menyentuh demokrasi tersebut.

Hal ini didasarkan atas laporan terbaru Human Right Watch (HRW) berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini" seperti dilansir Reuters, Rabu 1 Agustus 2012. Laporan setebal 56 halaman itu tersebut didasarkan atas 57 wawancara dengan warga etnis Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Arakan untuk mencari fakta dan membuktikan janji pemerintahan baru Myanmar yang katanya menjunjung tinggi HAM.

Dalam laporan, tentara Myanmar yang seharusnya menjaga Muslim Rohingya paska bentrokan dengan etnis Rakhine Juni lalu malah membunuhi warga. Saat kerusuhan, tulis laporan, beberapa Muslim Rohingya yang mencoba kabur atau memadamkan rumah mereka yang terbakar justru ditembak oleh pasukan paramiliter, tidak peduli wanita atau anak-anak.

Berbagai kasus perkosaan juga tercatat dilakukan oleh tentara Myanmar. Tentara juga bergeming saat massa di Rakhine memukuli Muslim Rohingya hingga menjemput ajal. Tenaga medis, bantuan kemanusiaan internasional dan media dilarang masuk ke lokasi, beberapa dari sukarelawan bahkan ditangkap. Hingga saat ini, akses ke tempat itu tertutup.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dan 109 terluka. Namun, data ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Jumlah lain disampaikan berbagai media, termasuk Press TV Iran, yang mengatakan korban tewas mencapai 600 orang.
Puluhan ribu warga Rohingya mengungsi ke tempat aman. Beberapa memilih mengungsi ke Bangladesh pakai perahu. Namun di negara ini, Rohingya tidak diterima, seperti status mereka di Myanmar: warga tak diinginkan.

Kekerasan di Arakan dimulai saat seorang wanita Rakhine diduga diperkosa oleh tiga lelaki Rohingya pada 28 Mei lalu. Ketiganya telah divonis mati. Ketegangan kedua etnis diperparah saat 10 Muslim Rohingya dibunuh saat bepergian menggunakan bus.

"Aparat keamanan Myanmar gagal melindungi Rakhine dan Rohingya dari satu sama lain dan malah melakukan kampanye kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Pemerintah Myanmar mengklaim berkomitmen menghentikan konflik etnis, tapi apa yang terjadi sebaliknya, kekerasan dan diskriminasi justru didukung pemerintah," kata Brad Adams, Direktur HRW untuk Asia.

Voice Of Muslim - Kekerasan antara umat Muslim dan Buddha di Myanmar semakin menjadi. Beberapa lembaga HAM mengatakan bahwa ini adalah kekerasan sistematis yang dilakukan warga dan pemerintah terhadap etnis Muslim Rohingya.

Banyak timbul pertanyaan, mengapa umat Buddha yang menjunjung tinggi prinsip welas asih mendadak brutal di Rakhine, Myanmar. Hal ini ternyata tidak lepas dari peran seorang biksu yang dengan bangga menyebut dirinya sendiri "Bin Laden dari Burma."

Biksu bernama asli Wirathu ini memang dikenal radikal dan pembuat onar. Karena ulahnya itu, pada 2003 dia ditahan dan divonis penjara 25 tahun oleh pemerintahan junta militer Myanmar karena menghasut aksi kekerasan terhadap warga Muslim. Masalahnya, dia dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik lainnya sebagai salah satu bagian dari program reformasi demokrasi Myanmar.

The Guardian dalam sebuah artikelnya mengulas nama Wirathu mengemuka sejak 2001 lalu. Putus sekolah pada usia 14 tahun, dia lalu menjadi biksu di biara Mandalay. Wirathu dikenal kerap membuat DVD anti Islam dan provokasi-provokasi lainnya di media sosial.

Sejak bebas, pria 45 tahun ini menggagas "Gerakan 969", sebuah kampanye memboikot umat Islam yang memicu kekerasan di Rakhine. Kampanye ini menyerukan umat Buddha untuk tidak berbelanja di toko-toko orang Muslim, juga tidak menikahi, mempekerjakan dan menjual properti kepada mereka.

Nama "969" sendiri diambil Wirathu dari sembilan nama Buddha, enam langkah Buddha dan sembilan jalan kebiksuan. Pendukung kampanye ini menempelkan stiker bertuliskan "969" di toko-toko mereka, rumah, taksi dan bus, menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Wirathu.

Kemudian terjadi pembantaian umat Muslim Rohingya di Rakhine. Sebanyak 43 orang--pria, wanita dan anak-anak--terbunuh saat itu. Puluhan ribu Muslim Rohingya terpaksa hengkang. Peristiwa terbaru, sebanyak 25 Muslim Rohingya dibantai di Meikhtila April lalu.
Human Right Watch dalam penyelidikannya menemukan adanya penyebaran leaflet anti Islam berstempel 969 di Meikhtila, sebelum bentrok pecah. Puluhan saksi juga menyatakan bahwa pemimpin massa adalah para biksu--yang seharusnya jadi ikon demokrasi di Myanmar.
Tudingan Wirathu
Wirathu mengaku punya alasan kuat mengapa dia menggelar kampanye itu. Seperti kelompok radikal lainnya--dari kalangan dan agama apapun--kebanyakan alasannya tidak bisa dibuktikan dan terdengar ngawur.

Salah satunya, menurut dia, Muslim Rohingya memaksakan agama mereka pada orang lain dengan ancaman pembunuhan dan perkosaan. Selain itu, dia mengatakan, cara Muslim menyembelih hewan tidak bisa diterima umat Buddha.

"Pembunuhan hewan oleh Muslim membuat orang familiar dengan darah. Hal ini akan mengancam perdamaian dunia jika memuncak ke tingkat tertentu," ujarnya.

Masih menurut dia, minoritas Muslim di Myanmar yang jumlahnya hanya lima persen didanai oleh kekuatan di Timur Tengah. "Muslim lokal sangat kejam karena ada kelompok ekstremis yang mengendalikan, membantu mereka dengan dana, dan pelatihan militer," dia menuding.
Pemahaman Wirutha ditentang oleh para pemuka Buddha di Myanmar, salah satunya datang biksu Abbot Arriya Wuttha Bewuntha dari biara Myawaddy Sayadaw Mandalay. Dia mengatakan bahwa apa yang disampaikan Wirathu mengarah pada kebencian, bukan ini yang diajarkan Buddha.

"Ini bukanlah yang diajarkan Buddha. Yang diajarkan Budha adalah kebencian itu tidak bagus, Karena Buddha melihat semua orang setara. Buddha tidak menilai orang berdasarkan agamanya," kata Bewuntha.

Hal yang sama dikatakan seorang penganut Zen Buddha dari Amerika Serikat, James Ure, dalam blognya www.thebuddhistblog.blogspot.com. Dia bahkan mengatakan bahwa dalam praktiknya, Wirathu bukan penganut Buddha.

"Mungkin dia mengenakan jubah biksu, tapi dia tidak menyebarkan pesan yang dibawa Buddha soal kasih sayang dan toleransi," kata Ure.

Pemerintah terlibat?
Kelompok HAM internasional menyayangkan aksi kelompok Buddha radikal ini. Selain itu, HRW mensinyalir pemerintah dan aparat keamanan Myanmar turut terlibat dalam pembantaian Muslim Rohingya di negeri ini.

Beberapa saksi mata mengatakan tentara dan polisi Myanmar turut menyiksa dan memperkosa wanita Rohingya. HRW mendesak pemerintah Myanmar bertindak mengatasi gelombang kebrutalan ini.

"Kampanye 969 lebih dari aksi boikot. Kampanye ini telah memicu kekerasan yang tidak rasional," kata Jim Della-Giacoma, Direktur Asia Tenggara, International Crisis Group.
Pengamat mengatakan bahwa masyarakat internasional tidak boleh tebang pilih dan harus segera mengambil langkah untuk menghentikan aksi Wirathu. Pasalnya, dia semakin bebas menyuarakan kebencian dan hasutannya diamini oleh sejumlah biksu lain di Myanmar.
"Jika gerakan kebencian seperti '969' di Burma, katakanlah, terjadi di Eropa melawan orang Yahudi, pasti tidak ada pemerintah Eropa yang membiarkannya," kata aktivis Myanmar dari London School of Economics, Maung Zarni. "Lalu kenapa sekarang Uni Eropa tidak menanggapinya dengan serius? Padahal ini terjadi di negara penerima dana bantuan besar dari Eropa."

Massa FPI
Voice Of Muslim - Front Pembela Islam meminta segala bentuk penindasan yang dialami oleh muslim Rohingya segera dihentikan. Bahkan, FPI siap untuk terjun langsung berjihad di Myanmar jika tuntutan ini tidak diindahkan oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau tuntutan ini tidak diselesaikan dan genoside tetap terjadi, FPI, Majelis Muslim Indonesia, Jamaah Anshar Tauhid, dan seluruh ormas Islam di Indonesia bahkan ASEAN akan mengobarkan jihad," ujar Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq, Jumat 3 Mei 2013.

Selain itu, FPI menuntut agar pemerintah Myanmar membatalkan undang-undang yang mencabut kewarganegaraan penduduk Rohingya. UU ini, Habib melanjutkan, yang memicu terjadinya konflik horizontal hingga terjadinya pembantaian besar-besaran penduduk Rohingya di Myanmar.

"Mereka (Rohingya) dibunuh, dibantai, diperkosa, dan banyak diusir dari pengungsian. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa," lanjut Habib.

Menurut Habib, Persatuan Bangsa-Bangsa sudah mengakui adanya genoside di Myanmar, namun ternyata tidak melakukan apa-apa. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah dinilai tutup mata dengan adanya peristiwa ini.

"Kalau PBB tidak mampu melakukan apa-apa dan negara Arab menutup mata dari kedzaliman yang ada di Myanmar, kami umat Islam yang akan memutuskan dengan cara kami. Tidak ada jalan lain kecuali jihad ke Myanmar," kata Habib.

Dalam aksi tersebut, Habib Rizieq berusaha menemui Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, namun gagal. Duta Besar tidak ada di tempat, karena sedang mengikuti rapat di Sekretariat Jenderal ASEAN.

"Kami hanya bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, mereka tidak dapat memberikan kepastian. Tapi, insya Allah dalam dua hari ini akan ada dialog antara Duta Besar dan ormas-ormas Islam," ujar Habib.

Habib mengatakan, jika Duta Besar Myanmar menutup pintu dialog, FPI siap untuk melakukan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar.

"Apapun yang terjadi dengan kedutaan ini, kami tidak tanggung jawab kalau mereka menutup pintu dialog," sambung Habib.

Terkait penangkapan teroris tadi malam yang diduga akan meledakkan Kedubes Myanmar, Habib menyatakan FPI tidak ada kaitannya dengan itu. "Tidak ada kaitan demo ini dengan tindak teroris hari ini," kata Habib Rizieq.

Ia menyampaikan, unjuk rasa hari ini murni bentuk keprihatinan terhadap permasalahan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar.

Voice Of Muslim - Satu orang tewas dan sepuluh lainnya luka dalam kerusuhan anti-muslim teranyar di Okkan, sekitar 110 kilometer sebelah utara Kota Yangon, Myanmar, hari ini.

Stasiun televisi Aljazeera melaporkan, Kamis (2/5), sekelompok umat Buddha membakar ratusan rumah dan merusak dua masjid di wilayah itu.

Di Desa Chauk Tal kobaran api masih terlihat di bekas-bekas bangunan hancur. Warga desa tampak menangis dan lainnya menyiramkan air dari ember untuk memadamkan api yang membakar rumah mereka.

Warga desa mengatakan sekitar 400 umat Buddha bersenjata batu dan tongkat menyerang wilayah mereka.

"Mereka datang sekitar pukul 13.00 dan kebanyakan dair mereka adalah warga kota ini, bukan dari luar," kata penjaga toko Khin Maung, 60, di Okkan.

Kekerasan semacam itu belum pernah terjadi di wilayah pusat Myanmar. Hal itu menunjukkan kekerasan sudah semakin menyebar.

Sebanyak 18 orang telah ditangkap dalam insiden itu.

Massa mengincar toko-toko milik umat muslim dan merusak dua masjid. Sekitar 20 polisi anti huru-hara dikerahkan untuk menangani kerusuhan itu.

Voice Of Muslim - Media lokal Myanmar (Burma) M-Mediagroup, yang fokus pada hak-hak kaum minoritas Muslim dan etnis minoritas lainnya di Burma, melaporkan bahwa dalam sebuah pidato keagamaan Buddha yang disampaikan oleh Bhiksu U Wirathu pada 20-22 April 2013 malam di vihara Me-Baung di kota Pha-An, Karen State (Kayin State). Dan di sepanjang ceramahnya, hanya sentimen anti-Islam yang banyak dibicarakan. Karena saat ceramahnya menggunakan speaker, semua penduduk sekitar bisa mendengar apa yang dia katakan.
Bhiksu U Wirathu
Ceramah U Wirathu benar-benar menghina dan memfitnah Islam serta memprovokasi kebencian terhadap Islam. Warga lokal Pha-An yang mendengar ceramah U Wirathu melaporkan kepada M-Media penggalan ceramah U Wirathu yang menyingung Muslim, berikut terjemahannya.

1. Masjid-masjid dibangun oleh musuh, jadi tidak berdosa untuk menghancurkan Masjid karena berarti hanya bangunan musuh itu yang dihancurkan.

2. Menurut ajaran Islamjika seorang Muslim Kalar (Kalar adalah istilah yang digunakan untuk merendahkan yang dalam bahasa Burma mengacu pada Muslim, M-Mediagroup memperkosa seorang gadis Buddhis, dia akan sangat tinggi derajatnya. (U  Wirathu menuduh)

3. Karena Presiden U Thein Sein mengatakan menentang orang-orang Rohingya (Muslim) secara terang-terangan, dia patut dikagumi. Wanita yang disebut Ibunda Su (mengacu pada Daw Aung San Suu Kyi) tidak melakukan atau mengatakan apapun. Oleh karena itu, doa mendukung kata-kata Presiden digelar di Mandalay, untuk mendukung apa yang presiden kita katakan.,

4. Mereka yang menghancurkan Masjid-masjid di Pegu (Bago) membuat saya malu. Ini benar-benar tidak adil.

5. Mereka (Muslim) tinggal di Myanmar, dan mereka tidak memakan daging babi. Di Myanmar hanya babi yang tersedia sebagai daging, jadi mereka harus memakan itu. Sekarang mereka tidak memakan babi, tetapi mereka mengejar gadis-gadis Burma yang memiliki mulut yang telah memakan babi (U Wirathu menuduh pria Muslim mengejar gadis musyrik Buddhis, red). Jadi bagaimana bisa Saya memahami mereka (Muslim)?

6. Para gadis Muslim mengerudungi seluruh tubuh mereka. Sebagian bahkan menutup mata mereka. Hal itu seperti neraka bagi mereka pada saat musim panas. Mereka bahkan mengatakan bahwa gadis-gadis Burma tidak beradab. Tidakkah kita beruntung memiliki agama dengan kebebasan? (klaim U Wirathu)

7. Ada orang-orang dengan janggut dan memakai Taik Pone (Jaket tradisional Myanmar) di NLD. Mereka terlihat seperti kambing dan sangat menjijikan! Mereka tidak tahu cara memakai Taik Pone yang baik, dan itu membuat mereka benar-benar aneh.

8. Salah satu gadis Buddhis sangat jatuh cinta pada seorang pria Muslim, bahkan dia meracuni orang tuanya. Kemudian dia dipaksa untuk menginjak gambar Buddha, dan untuk memeluk Islam.

9. Kita harus bersatu seperti orang-orang Meikhtila. Apakah kalian ingin Karen State akan untuk orang-orang Kalar (Muslim) suatu hari nanti?

10. Orang-orang menyerang saya di Facebook. Saya tidak mempedulikan mereka sama sekali (Sebenarnya, dia menggunakan istilah merendahkan dalam bahasa Burma, serupa dengan “Saya tidak pedulikan itu”). Saya adalah pejuang agama.

11. Kita tidak perlu takut akan orang-orang hitam itu (mengacu pada Muslim), Saya bersumpah; suatu hari nanti, hanya mereka akan merendahkan kepala mereka ketika mereka melihat orang-orang Burma (Buddhis).

12. Orang-orang Kalar (Muslim) datang kepada saya hanya ketika mereka tidak berdaya. Jangan berinteraksi dengan mereka, kalian juga akan secara otomatis kasar seperti mereka.

Menurut laporan warga lokal, sepanjang acara tiga malam itu isi ceramah U Wirathu hanya menghasut konflik keagamaan dan menuduh Islam serta Muslim dengan peenghinaan dan tuduhan yang keji dan palsu.

23.30
Voice Of Muslim -JAKARTA – “Kami Butuh Senjata” ujar Dr. Yunus seorang pemimpin perlawanan muslim Rohingnya Arakan dalam perbincangan via telepon satelit dengan Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam. ‘Kami tidak perlu bantuan makanan, sandang, obat-obatan ataupun uang, yang kami butuhkan sekarang adalah senjata”, demikian lanjut Dr. Yunus menekankan. Time to act, dan itu adalah dengan mengobarkan jihad bumi Rohingnya Arakan.

Sangat logis dan masuk akal permintaan tersebut,hal ini didasari pada kenyataan dan kondisi di lapangan, ummat Islam yang tadinya berjumlah 4 juta jiwa di Rohingnya Arkan sekarang tinggal 750 ribu saja. Dari jumlah itupun yang biasa dijumpai hanya 50 ribu saja di kamp pengungsi bentukan rezim militer Budha Miyanmar atas desakan PBB.

Sampai hari ini umat Islam rohingya terutama muslim Arakan mengalami penderitaan dan kesengsaraan atas kezholiman dan kebiadaban rezim Myanmar dan orang-orang Budha. Ratusan masjid dan mushola sudah menjadi puing hancur berantakan, jutaan orang mengungsi lari ketakutan. Banyak anak-anak menjadi yatim dan piatu, banyak istri kehilangan suami sekarang telah menjadi janda, banyak mereka berpisah dari keluarga, harta benda mereka habis dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar, anak-anak perempuan mereka diperkosa, para pengungsi hidup di bawah tekanan.

Dari negeri ini Indonesia, mayoritas penduduknya muslim, dan letak geografis yang satu zona, asia tenggara seruan jihad itu telah bergema. Dan akan semakin massif dengan aksi mengepung kedutaan besar Myanmar pada aksi FUI (Forum Umat Islam) dan KAMRA (Komite Nasional Advokasi untuk Muslim Rohingya-Arakan) yang Insyaallah dilaksanakan hari jum’at, 3 Mei 2013 jam 13.00, dengan berkumpul di bundaran HI.

Sekjen KAMRA, Ustadz Bernard Abdul Jabbar, dalam siaran persnya menyerukan kaum muslimin Indonesia aktif, menekan dan mengutuk pemerintah Myanmar untuk menghentikan kezhalimannya dan menyiapkan pundi-pundi rupiah untuk mengisi kantong-kantong Save Rohingya.

(azmuttaqin/arrahmah.com)

08.00
Seorang wanita pengungsi Rohingya menangis sambil menggendong bayinya.
Voice Of Muslim - Seorang warga Rohingya mengubur ibunya. Dia tertusuk pisau di kepala dan leher. Perempuan itu tewas jelang senja."Saya bersama dengannya waktu itu. Kami tak bisa melakukan apapun untuknya,"ujar warga yang dikutip dalam laporan Human Right Watch , 22 April 2013.

Kemudian, pria itu menerima izin dari otoritas setempat untuk menguburnya bersama saudara lain yang turut menjadi korban. Bersama warga lainnya, dia menggali kuburan massal yang terletak di Desa Yan Thei, Mrauk U, Myanmar.
Orang-orang Arakan menyerang Yan Thei pada 23 Oktober 2012. Setidaknya, 52 orang tewas akibat pembunuhan massal tersebut. Hanya, dua saksi mengklaim terdapat 70 warga Rohingya yang terbunuh. Mereka bilang ada belasan orang lain yang meninggal dunia setelah menderita luka parah.
Pada 25 Oktober, warga desa mulai menggali kuburan untuk para korban. Beberapa penggali yang diwawancara HRW mengaku, kerap diawasi polisi dan tentara. Aparat pun menyuruh mereka menggali lobang yang lebih besar karena banyaknya korban.
Seorang warga Rohingya lain mengaku telah mengubur sebelas pria, 20 perempuan dan 30 anak-anak. Ketika itu, puluhan bocah tak bisa kabur bersama orang tua mereka. "Semuanya dibunuh dengan pisau dan mereka melemparkannya ke api,"ujarnya.
Mayat-mayat terbakar itu tak langsung dikubur. Warga harus menunggu izin dari polisi dan tentara untuk menggabungkannya dengan korban lain.
HRW membongkar bukti adanya empat kuburan massal di Provinsi Arakan. Tiga diantaranya digali pada kekerasan Juni. Selebihnya, pada Oktober. Penggalian tersebut diperintahkan oleh otoritas di empat daerah yakni Desa Yan Thei dan tiga lainnya dekat Ba Du Baw IDP di luar Sittwe.

Voice Of Muslim - Puluhan kapal kayu sederhana yang dipenuhi oleh muslim Rohingya yang melarikan diri dari aksi kekerasan telah kembali ke daratan pada hari Sabtu (27/10), setelah dua hari berada di laut.

Masyarakat muslim melarikan diri dengan menggunakan sejumlah perahu untuk mencapai kamp pengungsian serta mencari perlindungan di pulau-pulau dan desa-desa pesisir. Namun sembilan perahu masih belum ditemukan hingga saat ini, menurut beberapa sumber pengungsi Rohingya

Seorang prajurit berjalan di tengah puing perkampungan Pauktaw yang dibakar dalam kekerasan baru-baru di Rakhine,Myanmar, Sabtu (27/10). (Soe Zeya Tun/Reuters) 

Sejumlah orang mengumpulkan potongan logam dari puing perkampungan Pauktaw yang dibakar dalam kekerasan baru-baru ini di Rakhine,Myanmar, Sabtu (27/10). (Soe Zeya Tun/Reuters) 

Sejumlah orang mengumpulkan potongan logam dari puing perkampungan Pauktaw yang dibakar dalam kekerasan baru-baru ini di Rakhine,Myanmar, Sabtu (27/10). (Soe Zeya Tun/Reuters) 

 Seorang anak mengumpulkan potongan logam dari puing perkampungan Pauktaw yang dibakar dalam kekerasan baru-baru ini di Rakhine,Myanmar, Sabtu (27/10). (Soe Zeya Tun/Reuters)

 

Sebuah perahu terlihat dari reruntuhan sebuah masjid yang hancur di salah satu sudut kota Pauktaw yang dibakar dalam kekerasan baru-baru ini di Rakhine,Myanmar, Sabtu (27/10). (Soe Zeya Tun/Reuters)

Voice Of Muslim - Menurut data organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sekitar  22.587 warga sipil kini telah mengungsi  dan setidaknya 84 orang meninggal dunia akibat kerusuhan antara penduduk muslim Rohingya dan mayoritas penduduk Rakhine yang beragama Buddha.

Seorang warga mengambil air di sebuah kamp pengungsi bagi warga muslim yang terlantar akibat aksi kekerasan awal tahun ini di luar Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10). (Soe Zeya Tun/Reuters) 

Seorang anak pengungsi berdiri di belakang pompa air di sebuah kamp pengungsi bagi warga muslim yang terlantar akibat aksi kekerasan awal tahun ini luar Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10). (Soe Zeya Tun/Reuters)

Seorang wanita muslim duduk dengan bayinya di sebuah kamp pengungsi bagi mereka yang terlantar akibat aksi kekerasan awal tahun ini luar Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10). (Soe Zeya Tun/Reuters)

Seorang warga mengambil air di sebuah kamp pengungsi bagi warga muslim yang terlantar akibat aksi kekerasan awal tahun ini di luar Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10). (Soe Zeya Tun/Reuters) 

Sejumlah warga mengambil air di sebuah kamp pengungsi bagi warga muslim yang terlantar akibat aksi kekerasan awal tahun ini di luar Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10). (Soe Zeya Tun/Reuters)

16.17
MYANMAR  – 400 ekstrimis Budda tengah malam Senin (25/03/13)menyerang rumah-rumah dan masjid-masjid Muslim Rohingya di kawasan Bago yang terletak 60 km sebelah utara Rangoon, sementara tidak ada intervensi dari pihak otoritas dalam upaya pencegahan kekerasan tersebut.
Kantor berita Rohingya menyebutka, para pelaku mengahncurkan masjid, madrasah diniyyah dan membunuh kaum muslimin yang berusaha mempertahankan rumahdan kehormatan mereka.
Kantor berita itu menambahkan, polisi dan aparat anti huru hara mengamati serangan tersebut tanpa melakukan intervensi untuk mencegah dengan alasan banyaknya jumlah para pelaku anarkis itu.
Informasi-informasi yang didapatkan menunjukkan bahwa 70 KK muslim lebih tinggal di kawasan Bago. Sementara kelompok ekstrinmis Budhha yang lain menghancurkan masjid, toko-toko dan membunuh muslimin di desa Taok, wilayah Shan. Masjid tersebut pertama kali di wilayah Shan dibangun oleh Muslim Turki sejak 260 tahun lalu

PATANI, THAILAND SELATAN - Pejuang Islam Patani melancarkan hampir 50 serangan pemboman dan pembakaran terkordinasi sejak Sabtu hingga Ahad di distrik Muang dan Yaring di Patani dalam rentetan serangan yang dipercaya oleh para pengamat sebagai pembalasan atas kematian 16 rekan mereka dalam serangan di pangkalan militer Thailand di Narathiwat pekan lalu.
Serangan-serangan tersebut termasuk ledakan bom di luar sebuah restoran di kota Patani sekitar tengah hari yang menewaskan tiga anggota paramiliter Thailand yang bertugas di sebuah menara jam. Ledakan itu juga melukai puluhan lainnya.

Ledakan itu merupakan bagian dari serangkaian serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh pejuang Islam di distrik Muang dan Yaring Patani yang dimulai pada hari Sabtu (16/2/2013) pukul 6 sore.

Ledakan mematikan itu terjadi tepat sebelum tengah hari di luar sebuah restoran tiga lantai dekat lingkaran menara jam di wilayah kota tempat pasukan paramiliter Thailand berjaga.

Dua pasukan paramiliter, Wirot Janthasiri dan Sukree Duereh, tewas di tempat. Korban ketiga, Itthipol Ahsae, dinyatakan meninggal di rumah sakit. Ledakan itu juga merusak sebuah mobil dan 10 sepeda motor.

Pihak berwenang mengatakan dua bom disiapakan untuk meledak. Salah satunya meledak namun tidak berfungsi sepenuhnya. Kedua bom, yang beratnya masing-masing 10kg berat, tersembunyi di dalam tabung pemadam kebakaran.

Sekitar satu jam kemudian, sebuah bom ditemukan di dekat supermarket Diana dan berhasil dijinakkan sebelum meledak.

Supermarket tersebut, terletak di Udom Vithi Road, rusak 12 jam sebelumnya dalam kobaran api yang dipicu oleh ledakan bom.

Perangkat peledak lain ditemukan pukul 6:40 malam pada hari Sabtu di luar toko Paisal di Udom Vithi Road. Bom ini disiapkan untuk meledak sesaat sebelum tengah malam.

Bom lain meledak sekitar pukul 7 malam di dekat sebuah bar karaoke di Jalan Ramkomut, melukai satu orang. Bom tersebut tidak berfungsi sepenuhnya.

Sebuah perangkat ketiga, sepeda motor sarat dengan bom seberat 50kg, berhasil dijinakkan. Polisi mengumpulkan sidik jari untuk pemeriksaan.

Dua bom molotov ditemukan dan dijinakkan di dua toko yang berbeda sebelum Diana supermarket terbakar.

Bersamaan dengan itu, bom meledak di sebuah toko peralatan masak di Jalan Mongkol Suwan..

Sebuah pos pasukan paramiliter, menara sinyal telepon seluler dan kamera CCTV dibakar dalam tiga serangan pembakaran di distrik Yarang Ahad pagi, ketika rentetan serangan dari para pejuang Islam terus berlanjut.

Api pertama di Yaring dilaporkan sekitar 3:30 pagi ketika tempat tinggal dari tim anggota paramiliter Ban Pulato Rayo dibakar dengan penyerang menggunakan ban sepeda motor yang direndam  dengan bensin.

Pada saat yang sama, menara sinyal telepon seluler di Ban Posan dibakar dengan ban sepeda motor tua. Kerusakan diperkirakan sebesar 8 juta baht.

Lima kamere CCTV di tiga lokasi dibakar, termasuk satu di depan Yarang Rumah Sakit.

Pitak Korkiatpitak, walikota distrik Muang Patani mengatakan ia enggan untuk menghubungkan serangan akhir pekan dengan kematian dari 16 pejuang Islam di Narathiwat pekan lalu. "Para pejuang Islam menyerang setiap kali mereka melihat kesempatan. Kita harus meningkatkan keamanan dan pengawasan," katanya.

Sekitar 50 pria bersenjata menyerbu bersenjata sebuah pangkalan militer di Narathiwat, Rabu tetapi digagalkan dalam serangan balik yang menewaskan 16 penyerang.

Beberapa pengamat percaya bahwa para pejuang Islam akan meningkatkan lebih banyak serangan untuk membalas kematian rekan-rekan mereka.

05.10 ,
Ribuan bhiksu Buddha telah berpawai melalui jalan-jalan kota kedua terbesar di Myanmar, Mandalay, memerotes upaya Organisasi Konferensi Islam - OKI - untuk membantu masyarakat Muslim Rohingya di kawasan resah Rakhine di negara itu.
Para bhiksu yang membawa poster bertulisan "Myanmar Menolak OKI", berhimpun utuk mendesak pemerintah agar membendung segala upaya OKI untuk membuka perwakilan di negara tersebut.

Ketegangan antar-agama menjadi sengit menyusul bentrokan antara Umat Buddha dan masyarakat Muslim Rohingya bulan Juni lalu di kawasan barat negara itu, Rakhine, yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan memaksa puluhan ribu lainnya mencari suaka di tempat-tempat penampungan sementara.

Unjukrasa anti Umat Islam Jum'at kemarin adalah yang kedua dalam beberapa pekan ini di Mandalay yang melibatkan para bhiksu yang mengatakan akan melancarkan protes nasional Minggu esok apabila pemerintah tidak menanggapi tuntutan mereka itu.

18.04
Huru-hara antara kedua kelompok berlanjut hingga Selasa di kota terpencil Minbyar dan Mrauk-U, di sebelah utara ibukota Sittwe.
Para pengungsi di pinggiran kota Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine di Burma Barat. Foto diambil awal bulan ini (10/10).

Media pemerintah Burma mengatakan lebih dari seribu rumah terbakar habis sewaktu terjadi kekerasan antara warga beragama Budha dan Islam yang merebak pekan ini di negara bagian Rakhine, Burma bagian Barat.

Harian The New Light of Myanmar menyatakan huru-hara berlanjut hingga Selasa di kota terpencil Minbyar dan Mrauk-U, di sebelah utara ibukota Sittwe. Disebutkan bahwa dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.

Hakim Agung negara bagian Rakhine U Hla Thein mengatakan kepada VOA Selasa (23/10) bahwa tiga orang tewas.

Ini merupakan kerusuhan terburuk di kawasan sejak Juni lalu, sewaktu bentrokan luas antara warga Budha dan Muslim Rohingya mengakibatkan puluhan orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

Matthew Smith, seorang peneliti Burma untuk Human Rights Watch, mengatakan massa warga Budha menyulut api pada rumah warga Muslim Rohingya, walaupun ada laporan kedua belah pihak terlibat dalam aksi kekerasan.

Pemerintah Burma, yang berada di bawah tekanan masyarakat Budha yang merupakan mayoritas di negara ini, membatalkan keputusan sebelumnya dan menolak permintaan dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membuka kantornya di Burma. 

18.00
Jumlah korban tewas meningkat di negara bagian Rakhine, Burma barat sementara bentrokan antara warga Budha dan Muslim terus berlanjut.
Warga muslim Burma diungsikan ke tempat yang aman di Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine setelah kekerasan sektarian kembali terjadi di sana (foto: dok).

Pejabat-pejabat negara bagian Rakhine hari Kamis mengatakan sedikitnya 12 orang tewas dalam bentrokan sejak hari Rabu. Mereka memperingatkan jumlah korban tewas sejak aksi kekerasan itu meletus hari Minggu bisa mencapai 50. Mereka mengatakan puluhan lainnya luka-luka dan banyak orang hilang.

Para pejabat Burma hari Kamis juga mengatakan hampir 2.000 rumah kini terbakar habis, berikut delapan rumah ibadah, sejak bentrokan meletus.

Zaw Htay, di kantor presiden, memberitahu VOA pemerintah Burma mengambil tindakan.

Jam malam juga sedang diberlakukan di empat kota di tengah-tengah kekerasan itu – Myebon, Minbya, Kayuk Phyu dan Mrauk Oo.

Bentrokan itu telah menarik perhatian PBB. Dari Rangoon, koordinator PBB Ashok Nigam mengeluarkan pernyataan yang mengatakan PBB "sangat prihatin," dan menambahkan bentrokan itu "telah memaksa ribuan orang, termasuk perempuan dan anak-anak, mengungsi."

Ini adalah kerusuhan terburuk di wilayah itu sejak Juni, ketika bentrokan meluas antara umat Buddha dan Muslim Rohingya mengakibatkan puluhan orang tewas dan puluhan ribu mengungsi.


VOA_ Amerika

19.58
BURMA  - Presiden Burma (Myanmar) telah mengakui terjadinya aksi penghancuran besar-besaran terhadap desa-desa dan kota di negara bagian Rakhine (Arakan), Burma Barat, BBC melaporkan.
"Telah terjadi insiden seluruh desa dan bagian-bagian kota dibakar di negara bagian Rakhine," kata juru bicara Presiden Thein Sein kepada BBC.
Pernyataan ini muncul setelah Human Rights Watch (HRW) -pemerhati HAM internasional- merilis gambar yang diambil dari satelit yang menunjukkan ratusan bangunan hancur di kota Kyaukpyu saja, belum termasuk kota lainnya.
"Seluruh daerah telah dibakar habis, para penduduk terlihat jelas semuanya tiada," kata Phil Robertson dari HRW.
HRW juga mengkonfirmasi bahwa warga Muslim Rohingya telah diserang oleh warga Buddhis.
Juru bicara kepresidenan Zaw Htay mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah telah memperketat keamanan di Arakan, jam malam telah diberlakukan.
Foto yang diambil dari satelit itu menunjukkan kondisi distrik Kyaukpyu pada 9 Oktober 2012 dan pada 25 Oktober 2012.
Pada 9 Oktober, sebelum terjadi serangan, ratusan rumah masih bisa terlihat di semenanjung kota, serta sejumlah rumah perahu di sepanjang garis pantai utara.
Tetapi foto yang diambil pada hari Kamis (25/10/2012), distrik seluas 35 hektar itu hampir semuanya rata, rumah-rumah tak terlihat lagi, hanya beberapa perahu yang masih ada.
Seorang wartawan lokal yang mengunjungi tempat kejadia mengatakan kepada cabang BBC di Burma bahwa daerah tersebut benar-benar hancur, dengan sebagian rumah masih mengeluarkan asap.
Di distrik lainnya, dengan populasi sekitar 3.000, hanya terlihat tiang-tiang rumah dan batang-batang pohon yang hangus.
Menurut laporan sementara, lebih dari 360 Muslim telah gugur akibat serangan dari warga Buddhis yang dibantu pasukan keamanan sejak Ahad pekan lalu dan lebih dari 3500 rumah ludes dilalap api. Ratusan Muslim terpaksa dikuburkan secara massal dalam satu liang karena keterbatasan yang ada.
Ribuan Muslim lainnya yang masih hidup berusaha menyelamatkan diri mereka dengan pergi menggunakan perahu-perahu untuk mencari tempat yang aman, namun mereka juga harus menghadapi hambatan tambahan, yaitu dikejar-kejar dan dihalangi oleh warga Buddhis dan pasukan keamanan. (siraaj/arrahmah.com)


pembantaian-muslim-rohingya
RIYADH — Organisasi Kerjasama Islam OKI kemarin mengusulkan pengiriman tim pencari fakta untuk mengusut ‘pembantaian’ Muslim Rohingya di Myanmar yang penduduknya mayoritas beragama Budha.
OKI akan mencoba membujuk pemerintah Yangon untuk menerima misi tim pencari fakta OKI, jelas Ekmeleddin Ihsanoglu dalam pertemuan komite eksekutif kemarin.
Ihsanoglu merasa kecewa aTas kegagalan dunia untuk mengambil tindakan dalam mencegah pembantaian, kekerasan, penindasan dan pembersihan etnis oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya. Kekerasan pecah pada Juni lalu di negara bagian Rakhine antara kelompok Buddha dan Rohingya yang menewaskan 80 orang dari kedua pihak.
Kelompok pembela HAM, Human Rights Watch menegaskan jumlah korban tewas masih terlalu rendah. Mereka menuding aparat terang-terangan menembaki umat Muslim dan melakukan perkosaan. Ratusan pria dan anak laki-laki Rohingya telah ditangkap dan hilang di bagian barat negara yang dulunya bernama Burma.
Sebelumnya seorang utusan PBB menyerukan pembentukan “komisi kebenaran” atas pelanggaran HAM yang terjadi di Myanmar selama puluhan tahun untuk membuktikan bahwa negara itu mulai mengalami transisi menuju demokrasi.
Utusan PBB Tomas Ejea Quintana mengatakan investigasi oleh sebuah komisi parlemen Myanmar atas berbagai penyiksaan terhadap berbagai kelompok etnis diharapkan dapat mengatasi masalah itu.
Dalam kunjungannya, Quintana juga bertemu dengan beberapa staf PBB yang sempat ditahan sejak pecah bentrokan antara kelompok Muslim Rohingya dan etnis Budha di negara bagian Rakhine. Ia merasa prihatin atas penahanan para staf PBB tanpa alasan yang masuk akal.


Rahib
YANGOON — Ribuan pendeta atau rahib Budha menggelar aksi protes di Myanmar dan menuntut pengusiran etnis Muslim Bengali yang disebut dengan Rohingya dari negara itu.
Menurut Wirathu, pemimpin rahib, aksi protes digelar agar dunia tahu bahwa Rohingya bukan bagian dari kelompok etnis Myanmar.
Aksi protes digelar Minggu lalu di Mandalay, kota terbesar kedua, dimana ribuan rahib menuntut pengusiran Muslim Rohingya.
Pada Juli lalu, Presiden Myanmar memberikan komentar pada situs website Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Antonio Gueterres bahwa ‘tidak mungkin menerima orang-orang Rohingga yang masuk ke sana secara ilegal dan bukan masuk dalam etnis mereka. Ia bahkan menganjurkan pengiriman Rohingya Muslim ke negara ketiga atau ke kamp penampungan yang dikelola PBB.
Sebagai salah satu etnis minoritas paling tertindas di dunia menurut PBB, orang Muslim Rohingya menghadapi berbagai perlakuan diskriminatif di Myanmar. Mereka tidak mendapatkan hak kewarganegaraan sejak berlaku amandemen UU kewarganegaraan pada 1982 dan dianggap sebagai imigran ilegal di negeri sendiri.
Pemerintah Myanmar dan juga mayoritas Budha menolak mengakui istilah “Rohingya” dan lebih suka menyebut mereka dengan sebutan orang “Bengali”.
Ribuan Muslim Rohingya dipaksa mengungsi dari kampung halaman setelah pecah kekerasan etnis di barat negara bagian Rakhine pada Juli lalu setelah insiden pembunuhan 10 orang muslim dalam sebuah serangan yang dilakukan massa Budha di dalam bus yang mereka naiki.
Serangan itu terjadi menyusul kasus perkosaan dan pembunuhan seorang wanita Budha dan tiga orang Rohingya telah dijatuhi hukuman mati.
Ratusan pria dan anak laki-laki Rohingya ditangkap dan nasibnya hingga kini belum diketahui sejak insiden itu. Berbagai kelompok HAM menuding polisi dan tentara telah menggunakan kekerasan yang berlebihan dan menangkap orang-orang Rohingya.
Namun aksi protes para rahib Budha dikecam para kelompok HAM karena memicu kebencian terhadap orang Muslim Rohingya. Pada 2007 lalu, para rahib memimpin protes untuk memaksa junta militer memperkenalkan reformasi di negara itu. (onislam/meidia)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget