Articles by "Yahudi"

02.22
Seorang rabbi sedang memimpin upacara pernikahan pasangan Yahudi. (apracticalwedding.com)
Kelompok seminari Yahudi Masorti di Israel kemarin akhirnya mengizinkan seorang homoseksual mengikuti pendidikan agama dan dilantik menjadi rabbi. Keputusan ini hasil pemungutan suara alot antara para pemimpin sekte itu.

Surat kabar Haaretz melaporkan, Jumat (20/4), pemungutan suara itu diikuti 18 rabbi utama sekte Masorti. Hanya seorang abstain, sisanya sepakat membolehkan gay menjadi pemuka agama Yahudi.

Presiden Majelis Rabbi Konservatif Israel Mauricio Balter menyatakan dukungan atas keputusan para rahib kelompok Masorti. "Hal ini merupakan sebuah kemajuan dalam pengembangan hukum Yahudi, kita memang seharusnya menganggap gay dan lesbian setara manusia lainnya," ujar Balter.

Seminari Masorti memiliki seminari yang memberi pendidikan bagi calon rabbi. Selain pelajaran kitab seperti Talmud dan Taurat, kelompok ini juga membuka kajian agama secara formal hingga jenjang strata dua.

Masorti selama ini dikenal sebagai sekte berpaham Yahudi dan Zionisme garis keras, termasuk tidak mengizinkan kaum gay berpeluang menjabat pemuka agama. Namun, sikap kelompok ini akhirnya melunak karena tekanan kalangan Yahudi Amerika Serikat.

Seminari Masorti cabang Amerika sejak lima tahun terakhir sudah mengizinkan pria dengan orientasi seksual menyimpang belajar agama. Kelompok reformis dari Negeri Paman Sam ini mendesak pelbagai sekte konservatif di Israel buat melakukan hal serupa.

Meski demikian, keputusan ini bukan tanpa perlawanan dari kalangan konservatif. Merujuk hukum Taurat, hubungan sesama jenis dilarang keras. Tidak heran beberapa rabbi dari kelompok seminari Masorti memilih keluar karena organisasi mereka memberi izin seorang gay menjadi rohaniwan.

Dari seluruh seminari konservatif di penjuru dunia, tinggal Yerusalem dan Buenos Aires, Argentina, yang berkukuh melarang homoseksual mengikuti pendidikan mereka.

Anak-anak Palestina menuntut jawab, kenapa mereka harus jadi korban.

Seorang ibu histeris ketika mengetahui anaknya tewas akibat terkena serangan roket israel di Gaza, Palestina. Anak-anak dan perempuan memang menjadi korban tewas paling banyak dalam serangan Israel sejak Rabu pekan lalu.

Sampai saat ini, genap sepekan konflik berdarah Israel-Palestina, sudah 14 anak meninggal dunia dan 709 anak lainnya terluka. Anak-anak Palestina pun menuntut jawab, mengapa mereka yang harus menjadi korban serangan Israel.

“Kepada dunia dan seluruh dunia, kenapa kami yang harus terbunuh? Apa yang telah kami lakukan sehingga kami harus mengalami ini semua?” kata Nawal Azard, seorang anak perempuan Palestina.
Pertanyaan itu seolah menggantung di udara, seiring roket-roket Israel yang menghujami tanah tempat mereka berpijak. Lihat video bocah-bocah malang Palestina itu di tautan video ini.

Sementara itu, upaya diplomasi masih terus dilakukan sejumpah pihak untuk menghentikan kekerasan di Gaza. Hari ini, Selasa 20 November 2012, Sekretaris Jenderal PBB dijadwalkan tiba di Mesir untuk membicarakan upaya gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

“Saya mendesak kedua pihak untuk bekerja sama mencapai gencatan senjata yang dimediasi Mesir secepatnya,” kata Ban seperti dilansir Reuters. Sehari sebelumnya, Minggu, 19 November 2012, Mesir telah bertemu dengan pihak Israel dan Palestina. Mesir pun telah mengirim delegasi ke Kairo untuk melakukan perundingan.

Hamas disebut setuju melakukan gencatan senjata jika Israel menghentikan agresinya, menghentikan pembantaian, dan menghapuskan blokade Gaza.
Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Israel Moshe Yaloon menulis di akun twitter-nya, “Jika tidak ada roket dan rudal yang ditembakkan ke warga Israel, atau serangan teroris dari Jalur Gaza, kami tidak akan menyerang.”

02.17 , ,
JAKARTA (voa-islam.com) - Menyikapi beredarnya film “Innocence of Muslim” yang melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ketua MUI Pusat Bidang Seni dan Budaya, KH. Ahmad Cholil Ridwan mengecam keras film tersebut.

Ia menyerukan kepada para ulama, kyai, muballig dan yang lainnya agar menginformasikan kepada internal umat Islam bahwa film itu merupakan bukti kejahatan orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani.

“Ke dalam umat Islam harus diinformasikan, baik ulama, khatib, para kyai dan muballigh supaya menginformasikan kepada umat itulah kejahatan orang-orang barat kafir. Yahudi dan Nasrani itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menjelek-jelekan Islam. Katanya kita harus toleransi, tapi kok pemerintah Amerikan sendiri membiarkan ada warga negaranya yang membuat film seperti itu. Film itu pengaruhnya sangat besar, mudah beredar,” ungkapnya saat dihubungi voa-islam.com, Jum’at (14/9/2012).
...harus diinformasikan, baik ulama, khatib, para kyai dan muballigh supaya menginformasikan kepada umat itulah kejahatan orang-orang barat kafir. Yahudi dan Nasrani itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menjelek-jelekan Islam


Menurutnya penghinaan dalam film tersebut merupakan bukti kebenaran Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kebencian musuh-musuh Islam begitu besar.

“Jadi Al-Qur’an itu memang sangat benar, sejak 1400 tahun yang lalu di dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.. (Q.S. Ali Imran: 118).

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka… (Q.S. Al-Baqarah: 120),” ucap alumnus Universitas Islam, Madinah ini.
...Tokoh-tokoh Islam harus menyadarkan umat Islam, inilah common enemy (musuh bersama)


Ia juga mengimbau agar tokoh-tokoh Islam untuk tidak berpecah belah dan menyadari bahwa umat Islam memiliki musuh bersama yang harus dihadapi

“Tokoh-tokoh Islam harus menyadarkan umat Islam, inilah common enemy (musuh bersama), berhentilah kita gontok-gontokan sesama Muslim, karena di depan itu ada musuh yang nyata,” tegasnya. [Ahmed Widad]
____________________________________________________________

00.59 , , ,

kantor pos di berlin
BERLIN – Badan layanan pos Jerman berencana akan menerbitkan perangko untuk mengingatkan masyarakat Jerman bahwa nabi Isa atau Yesus pernah dikhitan saat masih berusia delapan hari. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya debat tentang praktek sunat untuk para penganut agama.
Perangko ini akan dikeluarkan untuk memperingati ulang tahun ke-200 Masyarakat Injil Jerman pada 11 September nanti. Perangko ini menunjukkan sebuah halaman dari Kitab Perjanjian Baru yang termasuk deskripsi nabi Isa telah dikhitan saat baru berusia delapan hari.
Sebelumnya debat sengit mengguncang masyarakat Jerman setelah sebuah pengadilan di Koln mengeluarkan putusan yang menyebutkan bahwa khitan termasuk kekerasan fisik dan kejahatan. Putusan ini menyusul kasus khitan seorang bocah laki-laki Muslim berusia 4 tahun oleh seorang dokter Jerman atas permintaan orangtuanya.
Pengadilan Koln menilai anak itu belum cukup usia untuk memberikan persetujuan bila bagian tubuhnya diambil atau dikhitan secara permanen dan orangtuanya semestinya menunggu hingga beberapa tahun lagi sampai anak itu bisa membuat keputusan.
Putusan yang kontroversial itu memicu kemarahan di kalangan pemimpin Muslim, Yahudi, dan Kristen. Mereka mengutuk putusan itu sebagai campur tangan serius atas kebebasan agama.
Khitan merupakan sunah dalam Islam dan termasuk tindakan yang berkhaitan dengan fitrah. Praktek ini juga wajib untuk laki-laki Yahudi. Sementara lainnya melakukan khitan untuk tujuan higienis, umumnya di kalangan anak laki-laki.
Yahudi mengkhitan bayi laki-laki delapan hari setelah lahir. Sedangkan usia anak laki-laki Muslim yang disunat bervariasi, tergantung pada keinginan keluarga, wilayah dan negara.
Di Jerman, setiap tahun ribuan anak laki-laki telah dikhitan, terutama di kalangan masyarakat Muslim dan Yahudi. Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperkirakan hampir satu dari tiga anak laki-laki di bawah usia 15 tahun telah dikhitan.


Sunatan Masal
LONDON — Berbagai kelompok Muslim dan Yahudi Eropa bersatu dalam membela praktek sunat bagi anak laki-laki untuk alasan agama setelah sebuah pengadilan wilayah di Jerman memutuskan bahwa sunat dapat membahayakan tubuh.
Dua kelompok umat beragama dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa praktek ini adalah hal pokok dalam agama mereka dan menyerukan agar sunat mendapat perlindungan hukum.
Putusan yang dikeluarkan pengadilan Koln tidak berlaku untuk seluruh wilayah Jermah. Putusan ini juga dikecam parlemen Israel. Namun Asosiasi Medis Jerman memberitahu para dokter agar tidak melakukan sunat.
Ribuan anak laki-laki Muslim dan Yahudi menjalani sunat di Jerman setiap tahun. Kesepakatan bersama ini ditandatangani oleh para pemimpin berbagai kelompok termasuk Pusat Rabbi Eropa, Parlemen Yahudi Eropa, Asosiasi Yahudi Eropa, Serikat Orang Islam-Turki untuk Urusan Agama dan Pusat Islam Brussels.
Mereka menganggap larangan sunat bertentangan dengan hak-hak agama dan kemanusiaan. Menurut dua pemimpin Islam dan Yahudi, sunat adalah ritual kuno yang menjadi hal utama dalam Islam dan Yahudi.
Para pemimpin Islam dan Yahudi mendesak parlemen dan seluruh partai politik Jerman untuk campur tangan dalam membatalkan keputusan pengadilan Koln.
Mereka juga bertemu dengan anggota parlemen Eropa dan Bundestag Jerman untuk mengungkapkan kemarahan mereka dan mendesak parlemen Jerman untuk membuat proteksi hukum yang jelas untuk sunat.
Putusan pengadilan Koln dikeluarkan menyusul kasus hukum yang melibatkan seorang dokter yang melakukan sunat atas permintaan orangtua terhadap seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang berakibat komplikasi medis.
Menurut pengadilan, anak berusia empat tahun belum cukup usia untuk memberikan persetujuan bila bagian tubuhnya disunat dan orangtua semestinya menunggu anak berusia lebih tua lagi agar anak dapat membuat keputusan.
Pengadilan memutuskan bahwa hak anak untuk keutuhan fisik melebihi hak agama dan hak orangtua. Namun pengadilan tidak memberikan batas usia minimum untuk sunat.
Dokter yang terlibat kasus itu akhirnya dibebaskan dari tuntutan dan putusan itu tidak bersifat mengikat. Namun berbagai kritik muncul karena kuatir bila kasus ini dapat menjadi preseden yang akan diikuti oleh pengadilan wilayah lain di Jerman.
Umat Islam di Jerman mencapai 4 juta jiwa dan Yahudi 120.000 jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperkirakan hampir satu dari tiga pria di bawah usia 15 tahun telah disunat.(bbc/onislam/meidia)

00.53 , ,

besa
WASHINGTON — Sebuah film dokumenter yang mengisahkan sikap heroik umat Muslim yang berani menanggung risiko demi menyelamatkan orang-orang Yahudi dari kebrutalan Nazi telah ditayangkan pertama kali pada akhir pekan lalu dalam Festival Film Yahudi San Francisco.
Film ini menyoroti sebuah kisah yang terjadi di zaman yang masih misterius selama puluhan tahun. “Film ini ibaratnya seperti potongan sejarah yang penting. Melihat orang-orang Muslim sebagai pahlawan bagi orang Yahudi. Hal semacam ini bukanlah sebuah cerita yang umum di dunia kami,” ujar Rachel Goslins, sutradara film dokumenter.
Film bertajuk “Besa: The Promise”, mengisahkan orang-orang Muslim Albannia yang berani mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi dari keganasan Nazi selama Perang Dunia II. Selama perang, warga Albania membuka pintu perbatasan dan rumah mereka untuk menampung orang-orang Yahudi yang terbuang ketika banyak warga Yahudi yang diusir dari rumah mereka di Eropa.
Sikap terbuka orang Muslim Albania ini tidaklah diikuti oleh negara Eropa lain. Atas keberhasilan itu, tak seorang pun warga Yahudi yang diserahkan ke pemerintah Nazi di Albania selama okupasi.Film ini menjadi pelajaran tentang kerjasama antaragama dan berfokus pada perjalanan dua pria dari latar belakang yang sangat berbeda.
Tokoh pertama adalah Norman Gershman, seorang fotografer Amerika keturunan Yahudi yang selama satu dekade telah memotret banyak orang Muslim Albania yang ikut dalam upaya melindungi orang-orang Yahudi.
Gershman terlibat dalam proyek film selama lima tahun yang mengisahkan berbagai kisah pahlawan orang-orang Muslim Albania dalam menyelamatkan ribuan orang Yahudi, yang tinggal di Albania atas mencari perlindungan di sana, selama PD II.
Proyek itu dimulai ketika Gershman mulai memotret orang-orang non-Yahudi yang telah membantu orang Yahudi selama peristiwa Holocaust di New York. Gershman merasa terkejut saat menemukan banyak nama orang Muslim yang berasal dari Albania.
Tokoh protagonis kedua dalam film itu adalah seorang penjaga toko Albania bernama Rexhep Hoxha, yang lahir setelah PD II tapi berjuang keras selama puluhan tahun untuk memenuhi sumpah ayahnya yang telah meninggal pada tahun 1940-an. Orangtua Hoxha telah melindungi sebuah keluarga Yahudi selama Holocaust.
Ketika anggota keluarga itu pergi ke Israel, mereka meninggalkan sejumlah buku agama dan Hoxha berjanji akan mengembalikan kepada mereka pada suatu hari.Tayangan pertama film mengharukan ini ditayangkan di Festival Film Yahudi San Francisco. Film ini juga akan diputar di sejumlah wilayah di Amerika.
Manifestasi dari ajaran Islam untuk memenuhi janji dan melindungi orang lemah, orang-orang Muslim Albania memiliki istilah Besa, yaitu kode kehormatan di kalangan orang Albania yang menganggap janji sebagai sumpah suci dan menjadi alasan utama untuk melindungi orang-orang Yahudi.
“Kami tidak melakukan hal khusus. Ini adalah besa,” ujar Hoxha yang pergi ke Israel untuk memenuhi janji ayahnya memulangkan buku agama kepada keluarga Yahudi yang telah mereka lindungi selama PD II.
Pesan sama juga dialami Gershman, yang mengunjungi sejumlah keluarga Albania yang telah melindungi orang-orang Yahudi selama PD II. Ia melihat bahwa banyak orang Muslim Albania menganggap tindakan itu sebagai hal yang biasa karena banyak dilakukan oleh orang Albania lain.
Film dokumenter ini bukanlah yang pertama yang menyoroti era kegelapan itu selama puluhan tahun. Film lain bertajuk “Free Man” dirilis pada 2011 lalu dan menyoroti sikap heroik pendiri Masjid Agung Paris dalam menyelamatkan orang-orang Yahudi dari kekejaman Nazi.
Film ini diluncurkan hampir lima tahun setelah Robert Satloff, direktur Washington Institute for Near East Policy, mengungkapkan berbagai kisah orang Arab yang menyelamatkan orang-orang Yahudi selama Holocaust dalam bukunya “Among the Righteous” pada 2006 lalu. Jumlah orang Yahudi yang tewas mencapai enam juta jiwa.


israel1
zion
-
Seperti kita ketahui, negara Israel yang berdiri pada tahun 1948 sepenuhnya mendapat dukungan Inggris, setelah 30 tahun sebelumnya didahului oleh Deklarasi Balfour November 1917 yang menyatakan bahwa pada suatu saat negara Zionisme harus menjadi kenyataan.
-
Arthur James Balfour (1848 – 1930) dari Partai Konservatif, pernah menjabat perdana menteri Inggris dan sebagai menteri luar negeri pada saat Deklarasi Balfour itu dikeluarkan. Isi pokok deklarasi ini adalah sebuah janji bahwa di tanah Pelestina akan didirikan sebuah negara Zionisme.
-
Balfour telah berupaya mendapat sokongan dari beberapa negara Barat, khususnya Amerika Serikat untuk proyek itu. Dengan demikian, Inggris sangat berjasa bagi berdirinya negara Israel ditengah bangsa Arab yang sering tak berdaya karena perpecahan yang selalu saja melanda dunia Arab.
-
John Rose, dosen sosiologi pada Southwork College dan Universitas Metropolitan London, yang menentang terhadap proyek Zionisme yang ekspansionisme dengan mengorbankan orang Arab setengah abad yang lalu, menyatakan dalam tulisannya (dalam artikelnya berjudul “Why Zionism is Wrong”): “Ideologi resmi negara Israel, Zionisme, telah menjadi malapetaka, baik bagi orang Yahudi maupun bagi orang Arab, yang mengabaikan sejarah hidup berdampingan secara damai yang pada masa dulu merupakan norma di seluruh Timur Tengah. Zionisme mengklaim bahwa orang Yahudi punya hak untuk kembali ketanah itu dimana agama mereka, Yudaisme, berakar, dengan tujuan menciptakan sebuah negara Yahudi eksklusif. Tanah Palestina adalah sebuah pusat penting dari 3 agama monoteisme yang akarnya terdapat di Timur Tengah : Yudaisme, Kristen dan Islam. Tak satupun di antara mereka dapat menyatakan klaim ekslusif sebagai pemilik tanah itu.”
-
Rose membantah klaim Zionisme yang mengaku bahwa Imperium Romawi telah meruntuhkan kuil Yahudi di Yerusalem pada tahun 70 M. Kenyataannya, sebagian besar orang Yahudi sudah tinggal di luar tanah Palestina pada masa Imperium Romawi itu. Sepanjang masa Imperium Romawi dan sesudahnya, diaspora Yahudi telah berkembang. Terdapat, misalnya, pusat kerajinan tangan mereka di kota Iskandaria, Mesir, jauh sebelum berdirinya Imperium Romawi. Juga terdapat pusat agama Yahudi di Babilonia, mulai 500 tahun sebelum Imperium Romawi dan masih berlangsung ratusan tahun sesudah itu. Kehidupan orang Yahudi di lingkungan non-Yahudi telah membentuk basis yang real dan dinamis bagi sejarah Yahudi.
-
Di Eropa, diabad pertengahan umat Kristen telah membinasakan orang-orang Yahudi karena alasan agama dan ekonomi. Di abad pertengahan tersebut, orang Yahudi punya peran dagang ekonomi yang istimewa. Mereka tak diizinkan punya tanah, tetapi sebagai pedagang dan saudagar, mereka melayani ekonomi feodal yang tertutup. Penguasa Kristen Eropa telah menggunakan dan menyalahgunakan mereka. Tidak jarang orang Yahudi diberi hak istimewa dan ini telah memicu keresahan di kalangan petani. Juga, ini berarti bahwa orang-orang Yahudi telah dijadikan kambing hitam terbaik bagi penguasa bila saja pemerasan mereka atas petani menimbulkan kerusuhan dan kegoncangan yang meluas. Protes anti-Semitisme (anti Yahudi) marak di mana-mana.
-
Era pencerahan dan revolusi-revolusi Amerika dan Perancis pada abad ke-18 telah meletakkan dasar dalam mengatasi kecenderungan anti-Semitisme. Revolusi-revolusi ini telah menjamin hak-hak sama yang resmi bagi orang-orang Yahudi, sekalipun mereka harus berjuang untuk pelaksanaannya. Gesekan kreatif antara Yudaisme yang terbebaskan dan Gerakan Pencerahan telah melahirkan pemikiran (minds) besar Eropa abad ke-19 dan awal abad ke-20, seperti Karl Marx, Sigmund Freud, dan Albert Einstein. Kultur Eropa telah diperkaya oleh sumbangan tokoh-tokoh Yahudi itu.
-
Akar Zionisme yang berkembang kemudian semula berawal di Eropa Timur. Di akhir abad ke-19, lebih dari separuh orang Yahudi sedunia hidup di tengah-tengah imperium Tsar Rusia yang sedang oleng. Modernisasi Eropa menantang penguasa-penguasa feodal ini. Revolusi mengancam untuk menghabisi mereka dan orang-orang Yahudi dijadikan kambing hitam.
-
Tsar Rusia telah berlaku kejam terhadap orang Yahudi. Maka dimulailah orang-orang Yahudi pindah ke Eropa Barat dan Amerika. Tetapi, di antara mereka ada kelompok kecil yang menerima imbauan yang sedang muncul dari kaum Zionis (untuk mendirikan negara Zionisme di tanah Palestina), sehingga pergilah mereka ke Palestina.
-
Dengan kejadian ini bermulailah sebuah sejarah panjang yang kemudian berdarah-darah antara Yahudi di Palestina dan bangsa Arab. Sampai di awal abad ke 21 ini, perdamaian abadi belum menjadi kenyataan di kawasan itu. Amerika dan Eropa Barat punya kepentingan strategis terhadap negara Zionis Israel.
-
Pendatang Yahudi dari Eropa Timur ini merupakan inti pendudukan Zionis di Palestina. John Rose menulis: “Zionisme adalah sebuah gerakan kolonial yang didukung oleh kekuatan-kekuatan imperial Barat.”
-
Pendatang-pendatang Zionis mulailah menggusur petani-petani Arab yang telah mengerjakan tanah selama berabad-abad di sana. Zionisme adalah juga sebuah proyek imperialisme Barat. Inggris menduduki Palestina sebagai buah kemenangannya dalam Perang Dunia I. Winston Churchil pada tahun 1921 mengatakan : “Zionisme baik bagi Yahudi dan baik bagi Imperium Inggris.”
-
Pasca-Perang Dunia (PD) II, Amerika Serikat telah menjadi kekuatan dominan di kawasan itu, dan selalu mendukung Israel. Presiden Ronald Reagen tahun 1981 menjelaskan: “Dengan sebuah militer yang berpengalaman tempur, Israel adalah sebuah kekuatan di Timur Tengah yang sungguh bermanfaat bagi kita. Sekiranya tidak ada Israel dengan kekuatan itu, kita harus menyuplainya dengan kekuatan sendiri !”
-
Di akhir abad ke-20, Amerika telah mengucurkan dana sebesar 100 miliar dolar AS demi mendukung Israel. Karena dukungan dahsyat inilah Israel tetap bertahan, tetapi untuk berapa lama ?
-
Usai PD II, pihak Zionis menjadikan peristiwa pembinasaan Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa sebagai pembenaran terbentuknya negara Israel tahun 1948. Ini samasekali tidak dapat dibenarkan. Nazi yang punya ulah, mengapa tanah Palestina yang dikorbankan ? Pada saat itu hampir 1 juta rakyat Palestina dipaksa meninggalkan tanah airnya bagi terwujudnya negara Israel itu. Dengan kata lain, rakyat Palestina diharuskan membayar ongkos pembunuhan Nazi terhadap Yahudi. Cara yang semacam ini tidak lain adalah penyalahgunaan memori yang serius terhadap salah satu kejahatan yang paling buruk dalam sejarah !
-
Struktur negara Zionis menghalangi sebuah perdamaian yang wajar karena ia memberikan keistimewaan kepada orang Yahudi atas pengorbanan orang Arab. Hubungan Arab-Yahudi jauh lebih baik sebelum kedatangan pendukung Zionis, sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari masa lampau. Bahkan, seorang sarjana sayap kanan Yahudi, Bernard Lewis, mengakui apa yang disebutnya “simbiosisArab Islam-Yahudi pada puncak peradaban Islam, sebuah hubungan yang subur antara kedua bangsa dan sebuah kultur Islamic-Judeotelah terbentuk.
-
Di Irak misalnya, pasca-PD II, ada pemberontakan massal, al-Wathbah/Lompatan, terhadap pemerintahan monarkis boneka. Tidak sedikit anak muda Yahudi Irak yang terlibat dalam pemberontakan itu, bahkan kaum Zionis mengakuiera persaudaran” ini, sedangkan gagasan untuk pindah ke Palestina pada waktu itu masih terlihat “jauh”. Amat disayangkan, pemberontakan ini dikalahkan, kemudian kaum Zionis, Amerika, Inggris, dan pemerintah Irak memaksa penduduk kuno Yahudi itu hijrah ke Israel. Ini adalah tragedi yang hanya sedikit dikenal pada abad yang lalu.
-
Di awal abad lalu, tidak kurang dari sepertiga di antara 100 pemusik puncak Irak adalah orang Yahudi. Bukankah semuanya ini sedikit dapat dijadikan sinar untuk meneropong masa depan yang sangat berbeda ?
-
Banyak orang berharap bahwa Amerika di bawah pemerintahan Barack Obama akan mau belajar secara cerdas dan jernih dalam upaya turut menciptakan sebuah dunia yang lebih damai, termasuk penyelesaian sengketa Arab-Israel. Jelas tidak mudah karena trauma sejarah yang begitu gelap telah menghantui dunia Arab yang selalu merasa ditipu pihak Barat dan Zionis.
-
Sisi lain, perpecahan yang terus melanda dunia Arab pasti menguntungkan pihak Zionis untuk terus bercokol di tanah Palestina. Tetapi, siapa tahu dengan pendapat (tulisan) dari John Rose di atas, dunia beradap akan tersentak, karena ternyata hubungan Arab-Yahudi pra-Zionime pernah bagus dan saling mengisi.
-
SUMBER :
Dicuplik dan diedit dari artikel berjudul “John Rose tentang Zionisme” oleh Ahmad Syafii Maarif, harian Republika – 9 dan 16 Desember 2008.
-
Tanah Palestina yang dirampas Israel mulai tahun 1946 – 2000
-
peta-israel1
-
-
ZIONISME
-
zionisme1
-
Zionisme adalah sebuah gerakan politik internasional kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk membangun kembali tanah air mereka di tanah Palestina (bahasa Yahudi: Eretz Yisra’el).
-
Gerakan politik zionis pertama kali dirintis pada akhir abad 19 oleh seorang jurnalis Yahudi Austria, Mathias Acher (1864-1937), dengan tujuan membangkitkan semangat orang-orang Yahudi di perantauan (migrant) untuk mewujudkan “Tanah Air Yang Dijanjikan” (Promised Land).
-
Gerakan ini di organisasi oleh beberapa tokoh Yahudi lainnya seperti Dr Theodor Herrzl dan Dr. Chaim Weizmann.  Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya “Der Juden” (Negara Yahudi) (1896).
-
Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun  1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini. Hampir 40% dari seluruh penduduk Yahudi di dunia berada di negara Israel.
-
SUMBER :
Wikipedia
-
===================================================
SERANGAN ISRAEL KE PALESTINA DI JALUR GAZA
-
Serangan udara Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza yang dimulai pada tanggal 26 Desember 2008 dan telah memasuki hari ke 4 (30 Desember 2008), sudah memakan korban jiwa lebih dari 323 orang  dan 1.720 orang mengalami luka-luka. Selain serangan udara, Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak mengatakan, militer telah mengumpulkan kekuatan untuk memulai serangan darat, untuk menghentikan serangan roket dari Hamas (kelompok militan Palestina)
-
kekuatan
-
serangan1-
-
serangan2-
-
serangan3-
-
serangan4-
-
serangan5-
-
serangan61-
-
serangan7-
-
serangan8-
-
serangan9-
-
serangan10-
SUMBER :
http://www.nytimes.com/slideshow/2008/12/27/world/20081227-gaza_index.html

09.24 , ,
Image-6833 Nabi Isa AS -- yang oleh orang Nasrani disebut Yesus -- menjadi bahan kontroversi antara Islam, Nasrani, dan Yahudi. Orang Yahudi mempercayai bahwa mereka telah membunuh Isa, dan orang-orang Nasrani meyakini bahwa Isa telah disalib dan dikubur.
Namun, kaum Muslimin meyakini dengan jelas dan tegas bahwa Nabi Isa tidak disalib atau dibunuh, melainkan 'diangkat' oleh Allah SWT. Nabi Isa akan kembali ke dunia, di suatu masa, di akhir zaman.
''Ada 33 hadis shahih yang menegaskan bahwa Nabi Isa akan kembali turun ke bumi. Bahkan, ada yang mengatakan sampai 90 hadis,'' tutur Dr Muslih A Karim, dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada sebuah kesempatan.
Dia lalu menyebutkan, ada tujuh ciri kedatangan kembali Nabi Isa:
-    Pertama, Nabi Isa akan turun di Menara Putih, yakni Masjid Bani Umayyah di Damaskus Timur.
-    Kedua, Isa akan membunuh Dajjal (gembong penjahat yang mengaku sebagai penyelamat) di Dataran Tinggi Golan (Syria). 
-   Ketiga, Isa akan bertemu Ya'juz dan Ma'juz, dan semua tokoh jahat dan pengikutnya itu akan tewas. 
-   Keempat, Isa akan mendakwahkan agama Tauhid seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad maupun nabi-nabi lain sebelumnya.
-    Kelima, Isa akan melakukan haji dan umrah. 
-    Keenam, Isa datang, dunia penuh keberkahan. Misalnya, sebutir buah delima bisa membuat 40 orang kenyang.
-   Ketujuh, setelah Isa datang, selama tujuh tahun kondisi dunia sangat aman.
''Intinya, Nabi Isa sekarang ini belum meninggal. Dia akan turun lagi di akhir zaman untuk menegakkan Islam,'' ungkap Muslih.


DI suatu tempat di Prancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim. Ia adalah orangtua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen di mana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama “Jad” berumur 7 tahun.
Jad, si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat di mana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah. Setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.
Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.
“Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu”, ujar Jad sebagai tanda persetujun.
Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang seorang Muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi
Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.
Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.
14 Tahun Berlalu
Muslim Afsel
Jad kini telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.
Alkisah, Ibrahim akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya di mana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.
Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak. Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim-lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya, dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.
Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.
Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.
Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.
Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, “Buku apa ini?”
Ia menjawab, “Ini adalah Al-Qur’an, kitab sucinya orang Islam!”
Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,
Jad lalu kembali bertanya, “Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?”
Temannya menjawab, “Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!”
Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!
Peta Afrika Selatan
Islamkan 6 juta orang
Kini Jad sudah menjadi seorang Muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur’an.
Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua Afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :
((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ…!!))
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!…” [QS. An-Nahl; 125]
Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.
Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang di antaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zulu, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.
Akhir Hayat Jadullah Al-Qur’ani
Jadullah Al-Qur’ani, seorang Muslim sejati, da’i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.
Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.
Kisah pun belum selesai
Ibu Jadullah Al-Qur’ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.
Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.
Yang menjadi pertanyaannya, “Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?”
Jadullah Al-Qur’ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: “Hai orang kafir!” atau “Hai Yahudi!” bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: “Masuklah agama Islam!”
Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua Muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.
Kemudian dari kesaksian Dr. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zulu. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani.
Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur’ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.
Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur’ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai “Syaikh Kaum Revolusioner Mesir”. Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.
Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur’ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid’ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.
Dulu da’i-da’i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.
Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –’alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir’aun. Allah berfirman,
((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Bayangkan, Fir’aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut, tanpa menyebut dia Kafir Laknatullah! Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari Fir’aun, di mana Al-Qur’an pun merekam kekafirannya hingga kini?
Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur’an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?
Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini.
Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam.
Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na’udzubillah tsumma Na’udzubillahi min Dzalik.
Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –’alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!
Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun “menggerogoti” akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja. Wallahu Ta’ala A’la Wa A’lam Bis-Shawab.*
Penulis adalah mahasiswa Program Licence Universitas Al-Azhar Kairo Konsentrasi Hukum Islam.
Facebook; Mustamid
Keterangan: Foto Penulis dan Muslim Afsel

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget