Voice Of Muslim - PADA suatu waktu, seorang putri terkemuka anggota kerajaan
Inggris dari wangsa Saxe-Coburg, berdialog dengan seorang pria Jawa
gelap berwajah kearab-araban. Mereka berdua berkenalan baik, meski
berasal dari dua budaya yang jauh berseberangan penuh perbedaan. Sang
putri ingin sekali sahabatnya itu mau mengikuti keyakinannya.
“Bagaimana
saya bisa seperti itu, kalau penganutnya melakukan kekejian terhadap
bangsa saya”, jawab si pria dengan jujur, yang lama menetap di benua
Eropa. Sang putri tidak bisa meyakinkan keinginannya kepada sahabatnya
itu. Padahal secara genealogis, kedua sahabat itu bersaudara atau masih
pertalian darah. Lho koq bisa?
Sang putri itu bernama Victoria dari keluarga bangsawan terhormat
Saxe-Coburg. Dia menantu dari Raja George III dari Inggris. Suaminya
adalah Edward, yang bergelar Duke of Kent. Dengan demikian Victoria bergelar Duchess of Kent
sekaligus ibu kandung Ratu Victoria, ratu Inggris terbesar dan terlama
dalam monarki Inggris. Menurut ahli genealogis keduanya bersaudara
sedarah berjauhan sekali. Victoria adalah keturunan Nabi Muhammad,
melalui para khalifah yang berkuasa di Spanyol (lihat silsilah seri 22).
Sedangkan Raden Saleh bernama asli Sayyid Shaleh bin Husain bin Yahya
atau sering dipanggil Raden Saleh Syarif Bustaman. Ayahnya bernama
Sayyid Hussein bin Alwi bin Awal bin Yahya dan ibunya adalah cucu Sayyid
Abdullah Bustaman dari keluarga Bustaman yang terkenal. Raden Saleh
berasal dari keluarga bin Yahya yang merupakan satu dari banyak keluarga
atau marga Alawiyah di Indonesia, yaitu keluarga keturunan Nabi
Muhammad. Raden Saleh sering diasuh pamannya yang juga menjadi menantu
raja Jawa, KGPAA Mangkunegara I. Pengakuan atas pembuktian para
ahli silsilah di barat, bahwa Nabi Muhammad menurunkan anak-anak cucu
pada kalangan bangsawan di Eropa, banyak mendapat tanggapan yang
cenderung menihilkan pendapat itu. Meskipun banyak yang yakin hal itu
mungkin terjadi. Bahkan kalangan yang meyakinkan darah Nabi mengalir di
setiap anggota kerajaan Eropa, tetap berkukuh akan ada selalu cara
membuktikannya. Kalau misalnya bangsawan Eropa bukan merupakan keturunan
Nabvi Muhammad melalui si A, mereka dapat membuktikannya melalui si B.
Jika tidak bisa atau tidak diterima sejarah, mereka akan membuktikannya
melalui si C tetapi melalui dinasti A atau B atau C. Ada banyak
kemungkinan untuk hal itu. Dan mereka selalu berlomba untuk melakukan
hal itu berikut pembuktian ilmiah dengan mempertaruhkan kredibilitasnya.
Misalnya,
banyak ahli yang meributkan status Putri Zaida (lihat silsilah seri
22). Ada yang berpendapat dia bukan anak Muhammad II al Mutamid, si Emir
di Sevilla. Dia adalah keponakan sang Emir atau anak dari saudara
kandungnya. Hal ini secara genealogis tidak masalah, karena anak atau
bukan tetap memiliki hubungan darah, selama sang putri dianggap sebagai
keponakannya.
Yang menjadi masalah lagi adalah status Putri Zaida
sendiri. Zaida memang bukan pasangan tunggal dari Raja Alfonso VI dari
Leon dan Castile. Si Alfonso memiliki beberapa istri, yang menurut
catatan sejarah ada lima orang istri. Bonusnya, dia juga punya selir
diantaranya adalah Zaida. Jadi Zaida itu menurut pendapat beberapa
sejarahwan adalah selir Alfonso VI. Zaida dibaptis dengan nama Isabelle
dan hanya memberikan seorang anak untuk Alfonso VI, yang mati muda dan
diberi nama Infante Don Sancho yang tewas dalam Pertempuran Ucles bulan
Mei 1108.
Pertengkaran tentang status Putri Zaida, bukan berarti
menghilangkan banyak upaya orang untuk mencari hubungan darah antara
Nabi Muhammad dengan bangsawan Eropa. Ada beberapa ahli genealogi
bersikukuh adanya pertalian darah antara Nabi dengan bangsawan Eropa
itu. Misalnya ada yang menyebut bahwa ada dua anak perempuan Nabi yang
menikah dengan Khalifah Usman bin Affan secara berturut-turut (turun
ranjang). Dari perkawinan itu membuah anak yang menjadi istri Marwan.
Marwan adalah sekretaris pribadinya Khalifah Usman bin Affan dan
akhirnya menjadi Khalifah ke 3 dalam dinasti Ummayah. Dari perkawinan
dengan anak Nabi itu, Marwan menurunkan para khalifah dinasti Ummayah,
hingga berkuasa di Spanyol.
Selama di Spanyol itu, ada keturunan
mereka yang bernama Abu Nazar Lovesendes, yang menetap di dekat kota
Oporto di bagian utara Portugal. Di sana Abu Nazar mendirikan biara
Santo Tirso de Ribadave. Yang menarik disini, dia dan banyak anggota
keluarganya menggunakan ‘cid’, yang berasal dari kata as-Sayyid,
sebuah gelar yang sering digunakan para keluarga Ummayah. Sebuah buku
yang diterbitkan pada abad 13 di Portugal, menggambarkan Abu Nazar itu
sebagai cucu dari cucunya Aboail Rey de Cordova. Sekarang ini keturunan
mereka memakai nama keluarga de Maya, yang mungkin berasal dari nama
nenek moyang mereka yaitu dinasti Ummayah. Keluarga de Maya menguasai
daerah utara Portugal yang keturunannya kini menjadi anggota keluarga
kerajaan Portugal dan Brazil, yaitu Braganca. Brasil adalah jajahan
Portugal yang dulunya berbentuk monarki sebelum menjadi republik.
Dan
anehnya, para pangeran lokal di Brasil yang kakek moyangnya pernah
menjadi raja Brasil, begitu bangga dapat ditelusuri bahwa moyang mereka
adalah Nabi Muhammad, melalui Abu Nazar.
Banyak memang celah
untuk mencari jejak para nenek moyang bangsawan Eropa hingga ke Nabi
Muhammad. Ini disebabkan karena para penguasa Arab terlalu lama berkuasa
di Sppanyol untuk rentang selama 800 tahun. Selama masa itu, sangat
mustahil tidak terjadi perkawinan antara pendatang dengan penguasa local
yang berlainan agama. Apalagi saat Islam berkuasa lama di Spanyol dan
Portugal, sering terjadi perkawinan silang antara Islam dan Kristen. Ini
dilakukan untuk sekedar konsolidasi kekuatan agar kekuasaan mereka
tetap utuh dan tidak goyah.
Apapun jalur silsilah yang ingin
dicari dari Nabi Muhammad sampai kepada bangsawan Eropa, banyak akan
melalui Ratu Victoria. Dari sang ratu ini, menurunkan para anggota
kerajaan di banyak negara monarki Eropa. Jadi tak mengherankan Ratu
Victoria sering disebut “Mother of Europe” dalam arti yang sebenarnya.
Dalam monarki Inggris, dia adalah nenek dari kakeknya Ratu Elizabeth II.
Anak tertua Ratu Victoria, yaitu Putri Victoria menikah dengan Kaisar
Jerman Frederick III. Putranya, Arthur yang bergelar Duke of Connaught
menikah dengan Putri Louise Margaret dari Prussia. Pasangan ini
dikarunia putri bernama Margaret yang dipersunting oleh Raja Swedia
Gustav VI Adolf, yang kemudian memiliki seorang putri yang menikah
dengan Frederik IX, raja Denmark, sekaligus ibunda dari Ratu Margrethe
II dari Denmark yang berkuasa sekarang. Denmark adalah negeri yang
pernah bermasalah dengan masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad
beberapa waktu lalu. Ratu Victoria juga menurunkan raja-raja
Norwegia, melalui anaknya yang juga menjadi raja Inggris, Edward VII.
Sang raja punya putri bernama Maud yang menikah dengan Raja Norwegia
Haakon VII, yang menjadi ayah Raja Olav V dan kakek dari raja Norwegia
sekarang, Harald V. Cucu Ratu Victoria yang bernama Margaret pernah
menjadi istri pertama dari Raja Swedia Gustav VI Adolf, yang kemudian
menjadi kakek dari Raja Carl XVI Gustal, raja Swedia sekarang. Ratu
Victoria juga mempunyai seorang cucu, seorang putri bernama Victoria
Eugenia yang dinikahi oleh Raja Spanyol Alfonso XIII. Pasangan ini
menjadi nenek kakek dari Raja Juan Carlos I, raja Spanyol sekarang.
Ratu
Beatrix dari Belanda juga sedarah dengan Ratu Victoria melalui Raja
George II dari Inggris. Kakek Ratu Victoria, yaitu Raja George III
adalah cucu dari Raja George II. Nah, George II ini punya seorang putri
bernama Anne yang menikah dengan Willem V, Pangeran Oranje. Cicit mereka
adalah Raja Belanda yang bernama Willem II, yang akhirnya dikarunia
juga cicit yang bernama Juliana, ibunda Ratu Beatrix, ratu Belanda
sekarang. Begitupun dengan wangsa Romanov yang berkuasa di Rusia sebelum
tsar mereka yang terakhir dieksekusi mati oleh kaum Bolshevik tahun
1917.
Tsar Nikolas II dari Rusia menikah dengan cucu Ratu
Victoria yang bernama Alexandra. Mereka dikarunia beberapa anak, namun
yang paling controversial adalah Anastasia. Banyak yang menduga
Anastasia lolos dari eksekusi dan menjadi legenda hidup sampai sekarang.
Masih banyak lagi anggota bangsawan Eropa, seperti Liechtenstein,
Monako, Yunani, Yugoslavia, bahkan keluarga Grimaldi dari Monako, yang
beberapa menjadi keturunan Ratu Victoria dan bisa ditelusuri sampai ke
nenek moyang mereka dari Arab, Nabi Muhammad.
Dengan demikian,
silsilah Nabi Muhammad sampai kepada anggota keluarga kerajaan
negara-negara monarki Eropa dapat ditelusuri dengan baik, meskipun
selalu ada perdebatan terhadap beberapa tokoh yang selalu dipertanyakan
oleh ahli silsilah. Seperti dalam silsilah pada serial 22, dari Nabi
Muhammad sampai pada generasi ke 18, masih bisa diterima oleh sejarah.
Artinya tidak banyak yang mempertanyakan status perkawinan atau status
anak dari mereka. Begitupun juga dari generasi ke 22 hingga generasi ke
31, yaitu keluarga Plantagenet, yang menjadi moyang banyak monarkis
Eropa. Sedangkan dari generasi 31 sampai sekarang, tidak ada penolakan
sama sekali dari para ahli sejarah maupun genenlogi. Artinya keabsahan
keturunan itu diterima dengan baik oleh semua pihak dan tentunya oleh
sejarah sebagai sebuah kebenaran.
Hanya saja masalah Putri Zaida
selalu menjadi perdebatan hangat hingga kini. Namun, seperti saya tulis,
tetap saja ada upaya untuk menghubung-hubungkan antara Nabi Muhammad
dengan kaum bangsawan Eropa dengan kajian sejarah yang amat luas dengan
kredibilitas serta keabsahan yang tinggi.
Kalau kenyataannya mereka
saling bersaudara, mengapa mereka saling berseteru. Jerman yang
jelas-jelas kaisarnya menjadi menantu Ratu Victoria, berani-beraninya
berperang dan menyerang Inggris pada perang jagat awal tahun 1940an.
Padahal Adolf Hitler pernah memuji kecantikan Ratu Elizabeth II ketika
dia masih anak-anak, tetapi memberi julukan yang sebaliknya kepada ibu
suri (ibunda Ratu Elizabeth II), sebagai “the most dangerous woman in Europe”.


Posting Komentar
Jika anda menyertakan link dalam komentar,baik itu link hidup maupun link biasa,maka admin akan menghapus komentar anda..
Terima Kasih.