Articles by "Australia"

06.32
Pihak kepolisian di Sydney, Australia, mengatakan 6 orang telah dikenai dakwaan sehubungan dengan protes anti-Amerika di pusat kota Sydney pada hari Sabtu, dan memperingatkan akan dilakukan penahanan lebih lanjut.
Tindak kekerasan tercetus di sekitar Hyde Park, setelah demonstran berkumpul menentang film Amerika yang mengolok-olok Nabi Muhammad, yang telah mengundang kemarahan di dunia Islam.
Paling tidak sudah jatuh sembilan korban jiwa dan puluhan lagi cedera dalam gelombang protes di seluruh dunia gara-gara film 13 menit di internet berjudul Innocence of Muslims itu.
Diantara demonstran di Sydney terdapat paling tidak seorang anak yang membawa poster menyerukan dipenggalnya orang-orang yang menghina nabi.
Dua orang demonstran dan sejumlah polisi cedera dalam bentrokan antara polisi dan demonstran yang memprotes film anti-Islam 'Innocence of Muslims' di luar konsulat Amerika di Sydney.
 
Kepala polisi New South Wales mengatakan, akan diperlukan waktu untuk memeriksa rekaman video dari bentrokan di Sydney itu guna mengidentifikasi orang-orang yang disebutnya "ekstrimis" dan "kriminal".
 
Kepala polisi Andrew Scipione mengatakan, sementara orang berhak untuk memprotes video anti-Islam itu, demonstrasi hari Sabtu itu ditunggangi oleh kaum ekstremis yang ingin mengacau.
 
Sementara itu, Menlu Carr memuji tindakan polisi Australia dalam menghadapi protes hari Sabtu di luar konsulat Amerika di Sydney yang berubah menjadi kekerasan.
 
Menlu Australia Bob Carr menyebut pembuat film kontroversial itu tidak waras.
 
Katanya, pemerintah akan meresponsnya dengan berbicara tenang kepada masyarakat Islam Australia, mengatakan bahwa film itu tidak ada kaitannya dengan pemerintah Amerika dan dibuat oleh seorang individu yang tidak waras.
 
Menlu Carr mengatakan, Australia adalah suatu masyarakat multibudaya yang menerima semua.
 
Ia mengimbau masyarakat Australia agar tidak menyalahkan semua Muslim atas tindakan segelintir kecil orang.
Dalam wawancara dengan ABC Bob Carr mengatakan, segelintir minoritas yang berdemonstrasi itu tidak ada urusan dengan masyarakat Islam yang ia kagumi, dan sebagian isi poster dalam demonstrasi itu memuakkan bagi rakyat Australia, khususnya warga Muslim.
Mariam Veiszadeh, advokat bagi masyarakat Muslim, mengatakan kepada ABC bahwa banyak warga Muslim marah melihat kekerasan di hari Sabtu itu.
Katanya, orang-orang yang bertanggungjawab atas cetusan tindak kekerasan itu samasekali bertetangan dengan tradisi Isla, dan diharapkan kejadian itu tidak merusak lebih lanjut hubungan antara masyarakat Muslim Australia dan masyarakat Australia yang lebih luas.
Sementara itu seorang jurubicara Hizbut Tahrir dari Inggris yang sedang berada di Australia, Taji Mustafa, mengatakan dunia Barat menempuh taktik menakut-nakuti untuk menyebarkan rasa takut terhadap Islam.
Hal itu dikemukakan Taji Mustafa hari Minggu kemarin dalam suatu konferensi di Sydney membahas masadepan masyarakat Muslim menyusul berbagai kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara.
 
Pihak oposisi Australia menghendaki visa Mustafa dicabut karena dikatakan Hizbut Tahrir merestui khotbah yang bernada kebencian.
 
Pemimpin oposisi Tony Abbott mengatakan, seharusnya Taji Mustafa tidak diijinkan masuk Australia.
 
Seruan itu disampaikan Abbott sebelum demonstrasi yang diwarnai kekerasan di Sydney pada hari Sabtu.
 
Akan tetapi Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan, pemerintah tidak mempertimbangkan untuk mendeportasi pemuka Hizbut Tahrir itu.
 
Namun Perdana Menteri Gillard menyatakan terkejut dan gusar bahwa anak-anak diikut-sertakan dalam protes yang diwarnai kekerasan di Sydney hari Sabtu.
 
Gillard terutama prihatin melihat gambar anak-anak membawa poster yang menyerukan dipenggalnya kepala orang-orang yang menghina Nabi Muhammad.
 
Sementara ketua Badan Anti-Diskriminasi New South Wales mengatakan, poster-poster itu tidak bisa diterima.
 
Kata Perdana Menteri Gillard, video anti-Islam yang mengundang kemarahan masyarakat Muslim di seluruh dunia itu memuakkan, tapi tidak bisa dijadikan alasan untuk tindakan kekerasan.

Menteri Imigrasi Chris Bowen menyatakan ada kemungkinan ia akan meminta penarikan visa bagi pengunjuk rasa yang bukan warga negara Australia akhir pekan lalu di Australia.

Enam orang yang terlibat dalam aksi protes yang berakhir dengan bentrokan di Sydney akhir pekan kemarin telah ditahan pihak kepolisian.
Aksi bentrokan tersebut mendapat kecaman keras dari sejumlah politisi di Australia, termasuk juga dari sejumlah muslim di Australia.
Unjuk rasa yang berakhir dengan bentrokan dipicu dengan beredarnya video yang menghina Nabi Muhammad.
Seorang senator mengatakan bentrokan yang terjadi di Sydney adalah sebagai pertanda bagi mereka yang sebelumnya tidak percaya tentang potensi kebangkitan Islam di Australia.
"Apa yang terjadi menjadi pertanda bagi mereka yang tidak terlalu tahu soal agenda para fundamentalis Islam dan paham sedikit soal misi mereka secara global," ujar Senator Cory Bernardi di situsnya.
Sementara itu anggota parlemen George Christensen mengatakan mereka yang terbukti bersalah dalam bentrokan tersebut terancam dideportasi bila ternyata bukan warga negara Australia.
"Saya pikir, mayoritas warga Australia akan berpikir jika mereka terlibat dalam kekerasan dan bukan warga negara Australia, kembalilah ke negara asal mereka karena kekerasan tidak dibenarkan di negara ini," ujarnya kepada ABC News Online.
"Ini juga meragukan soal multikulturalisme yang sudah ditekankan selama 20 atau 30 tahun kebelakang," ujarnya.
Menteri Imigrasi, Chris Bowen masih akan mencari pilihan bagi mereka yang bukan warga negara Australia dan terlibat dalam aksi unjuk rasa tersebut, tetapi ia menentang keras kekerasan.
"Jelas bahwa ini bukan dikerjakan atas nama Islam atau multikulturalisme, tapi dikerjakan dengan nama kejahatan, tidak lebih dari itu," ujarnya.
Kemarahan publik
Kemarahan publik pada unjuk rasa yang berakhir dengan kekerasan akhir pekan kemarin dipicu dengan kata-kata yang tertulis dalam papan yang dipakai oleh para pengunjuk rasa. Salah satunya berisi, "Penggal kepala mereka yang menghina nabi".
Bahkan sejumlah papan diusung oleh anak-anak yang disuruh oleh orang tuanya.
Senator Christensen mengatakan mereka yang menulis dan menyebarkan papan-papan tersebut adalah idiot.
"Islam adalah adalah agama yang sarat dengan perdamaian, saya pikir Nabi Muhammad bisa kembali dari kuburnya untuk melihat tulisan-tulisan yang menyatakan mari penggal kepala mereka yang menghina Nabi Muhammad dan Islam."
"Terlebih jika papan-papan itu dibawa oleh anak-anak kecil, situasi yang sangat memalukan."
Sementara itu Menteri Imigrasi Bob Carr mengatakan papan yang diusung hanyalah usaha dari pihak-pihak yang berusaha melakukan bentrokan antar budaya. Ia meminta masyarakat agar tidak terprovokasi.
"Demonstrasi yang berakhir dengan kekerasan telah mengecewakan saya, tetapi saya berharap, masih ada kesempatan untuk bisa surut segera," ujar Carr kepada ABC Radio National.

Siap siaga

Komisaris Andrew Scipione mengaku pihak kepolisian telah mengetahui soal unjuk rasa ketika mendapatkan pesan pendek dari seorang anggota komunitas muslim.
"Banyak dari pesan yang dikirim kepada kami dari mereka yang resah dengan isi SMS atau Facebook, sehingga mereka menarik perhatian kita," katanya.
Kini, pihak kepolisian Sydney bersiap siaga untuk mengantisipasi jika ada unjuk rasa serupa.

Dua pria telah ditahan dan narkoba bernilai $237 juta disita dalam razia "signifikan" terhadap jaringan narkoba internasional yang beroperasi di Australia.
Polisi mengatakan, seorang pria Kanada dan seorang Amerika yang ditangkap minggu ini adalah gembong-gembong utama dalam suatu jaringan kejahatan terorganisir internasional yang merencanakan untuk mengimpor narkoba ke Australia dengan disembunyikan dalam mesin-mesin berat.
Penjabat Komisaris Kepolisian Federal Australia, David Sharpe, mengatakan, narkoba yang disita terdiri dari 235 kg methamphetamine dan 115 kg kokain dengan nilai jual hingga $237 juta.
Pada hari Minggu kepolisian menggerebek sebuah di Avalon, utara Sydney, dan menahan pria Kanada berusia 34 tahun itu.
Ia dihadapkan ke pengadilan dan dikenai sejumlah dakwaan yang berkaitan dengan impor narkoba.
Dalam penggerebekan di sebuah rumah di Leichhardt pada hari Selasan, polisi menahan seorang pria Amerika berusia 34 tahun dan menemukan uang tunai $150,000.
Orang itu telah dikenai beberapa dakwaan yang berkaitan dengan pelanggaran impor.
Pada bulan September tahun ini, Kepolisian Federal Australia menemukan 350 kg narkoba ilegal yang disembunyikan dalam sebuah mesin berat dari Cina ke Port Botany.
Penjabat Komisaris David Sharpe mengatakan, penangkapan lebih jauh mungkin akan dilakukan.

Seorang perwira tinggi purnawirawan Australia yang pernah bertugas di Afghanistan membantah kekuatiran mengenai perasaan anti-Muslim dalam pasukan pertahanan Australia.
Keadaan sudah tenang di jalan-jalan sejak kerusuhan oleh demonstran Muslim di Sydney hampir dua minggu lalu, tapi hal itu tidak menghalangi munculnya pesan-pesan yang berpotensi menyulut  di dunia cyber.
 
Tentara dari Rezimen Australia yang berbasis di Townsville dan pernah bertugas di Afghanistan guyon dalam Facebook mengenai menggunakan senjata untuk menembak orang-orang Islam yang terlibat dalam protes sengit di Sydney bulan ini.
 
Protes itu dipicu oleh film Innocence of Muslims yang melecehkan Nabi Muhammad.
 
Majelis Islam New South Wales meminta polisi dan Pasukan Pertahanan Australia untuk mengusut apa yang disebut sebagai komentar-komentar mengkhawatirkan di media sosial oleh mantan personel pertahanan maupun yang masih bertugas.
 
Sejumlah organisasi Muslim, termasuk Majelis Islam New South Wales, telah diberitahu mengenai pesan-pesan di Facebook itu.
 
Ketua Majelis, Khaled Sukkarieh, mengatakan, ia harapkan komentar di Facebook itu cuma bualan saja oleh segelintir minoritas personel dan tidak mencerminkan adanya Islamophobia di lingkungan Pasukan Pertahanan Australia.
 
"Kami akan sangat kuatir kalau personel Pasukan Pertahanan Australia baik yang mantan maupun yang masih bertugas punya pandangan seperti itu, khususnya kalau mereka pernah bertugas di negara-negara Islam atau sedang bertugas di negara-negara Islam seperti Irak atau Afghanistan" katanya.
 
Akan tetapi Mayjen purnawirawan John Cantwell yang pernaj bertugas di Afghanistan berpendapat tidak ada perasaan anti-Muslim, dan mengatakan tentara Australia tampak  mewakili yang terbaik dari nilai-nilai masyarakat Australia dalam hubungan dengan budaya dan agama lain.
 
Sementara itu Asosiasi Pertahanan Australia mengatakan dalam statement kepada ABC, kalau orang-orang bersangkutan masih bertugas dalam Pasukan Pertahanan Australia, mereka telah melanggar peraturan mengenai pemakaian social media yang bertanggung jawab.
Mereka juga boleh jadi telah melanggar peraturan lain: yakni tidak mempersulit para tentara di garis depan dengan mengeluarkan komentar seperti itu.

04.58
Brisbane (ANTARA News) - Gelombang demonstrasi warga Australia menentang aksi pembantaian rakyat Palestina di Jalur Gaza terus berlanjut. Setelah aksi demonstrasi damai ratusan warga Australia pro-Palestina di Brisbane, Sabtu (3/1), ribuan orang menggelar aksi yang sama di Sydney dan Melbourne, Minggu.

Media Australia melaporkan, aksi demonstrasi di Sydney diwarnai dengan pembakaran bendera Israel dan protes keras para aktivis pada "sikap diam" pemerintah Australia terhadap isu Palestina. Mereka juga mengeritik pemerintah Mesir karena tidak membuka wilayah perbatasannya bagi masuknya pengungsi dan bantuan.

Aksi pemboman militer Israel yang telah menewaskan lebih dari 400 warga Palestina dan melukai ribuan orang lainnya di wilayah Gaza yang dikuasai pemerintah Palestina dari kubu Hamas itu disebut Tokoh Masyarakat Palestina di Australia, Fouad Shriedy, sebagai "pembantaian".

Demonstrasi menentang pembantaian rakyat Palestina juga digelar ribuan warga Australia di Melbourne. Dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di Federation Square itu, mereka juga membakar bendera Israel.

Sementara itu, di luar gedung parlemen negara bagian Victoria, Melbourne, kelompok pro-Israel juga menggelar aksi demonstrasi. Mereka meminta Hamas menghentikan serangan roket ke wilayah selatan Israel.

Sehari sebelumnya, di tengah guyuran hujan deras, ratusan orang di Brisbane berunjuk rasa menentang aksi brutal militer Israel di Jalur Gaza. Mereka juga menyuarakan dukungan pada kemerdekaan bangsa Palestina dan mengutuk kejahatan kemanusiaan Israel di Jalur Gaza.

Gelombang aksi demonstrasi anti-Israel pecah di Australia sejak 29 Desember lalu. Pada aksi demonstrasi 29 Desember yang berlangsung di depan kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Sydney itu, para demonstran mengecam pernyataan Wakil Perdana Menteri Australia Julia Gillard yang mendukung aksi militer Israel di Gaza.

Ribuan warga Arab Australia yang berdemo menegaskan ketidaksetujuan mereka pada tudingan Julia Gillard bahwa Partai Hamas adalah pihak yang memulai permusuhan dengan Israel.

Julia Gillard menegaskan pemerintahnya mengakui "hak Israel untuk mempertahankan diri" dan mengutuk keras aksi Hamas dan kelompok militan Palestina lainnya yang menembakkan roket dan mortar ke wilayah selatan Israel.  (*)

Pendiri WikiLeaks Julian Assange, yang membocorkan ratusan ribu kawat-kawat rahasia pemerintah AS, berbicara di muka umum dari balkon kedutaan Ekuador di London hari Minggu (19/8).

Pendiri WikiLeaks Julian Assange, muncul di muka umum pertama kalinya dalam waktu dua bulan, dan berbicara dari balkon kedutaan Ekuador di London (19/8). 
 
Pendiri situs WikiLeaks Julian Assange menuduh Amerika melancarkan upaya mencari kambing hitam, ketika ia muncul di muka umum pertama kalinya dalam waktu dua bulan sejak ia berlindung di kedutaan Ekuador di London.

Aktivis WikiLeaks yang telah membocorkan ratusan ribu kawat-kawat rahasia pemerintah Amerika itu, berbicara dari balkon kedutaan Ekuador di London.

Pengacara Baltasar Garzon mengatakan Assange, warga Australia itu bertekad untuk memperjuangkan supaya hak-haknya dan hak WikiLeaks untuk beroperasi dihormati.

Hari Kamis Presiden Ekuador Rafael Correa memberikan suaka politik kepada Assange, untuk mencegah Amerika mengusut Assange atas tuduhan pembocoran dokumen rahasia Amerika. Pemerintah Amerika marah karena WikiLeaks memasang ratusan ribu dokumen rahasia Amerika dalam situs WikiLeaks tahun 2010.

Assange menuduh Amerika telah menciptakan dunia yang berbahaya dan menekan kebebasan pers. Kalau WikiLeaks terus mendapat ancaman, katanya, itu berarti kebebasan menyatakan pendapat dan hak semua masyarakat dunia juga terancam.

Assange minta perlindungan di kedutaan Ekuador untuk menghindari ekstradisi ke Swedia, karena para pejabat di sana ingin menanyai nya tentang tuduhan melakukan pelanggaran seks.

Kalau Assange keluar dari kedutaan Ekuador, ia kemungkinan akan segera ditangkap oleh polisi Inggris yang telah mengepung kedutaan itu. 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget