MALI.AFRIKA. – Kamis (31/01/13) diberitakan oleh media – media lokal bahwa tentara Negro yang berafiliasi kepada tentara Perancis, yang melancarkan perang terhadap kaum muslimin di Mali Utara, melakukan pembantaian terhadap anak – anak dan membakar madrasah – madrasah tahfiz Al-Qur’an.
Sebuah pernyataan yang dilansir oleh surat kabar Aljazair, Alsyuruq, menegaskan bahwa milisi ini melakukan “pembersihan” etnis penduduk Arab lokal dan Tuarek. Mereka dibantai karena satu alasan, mujahidin masuk kota mereka atau mereka membantu mujahidin.
Pernyataan tersebut mengutip dari para saksi di daerah Diabala yang mengatakan bahwa orang – orang Negro yang bersenjata itu mendatangi desa dengan mengendarai mobil militer Kamis pagi, mencari keluarga – keluarga dari etnis Arab dan Tuarek. Mereka membunuh beberapa orang dan menculik wanita.
“kami bangun dan kaget yang membuat kami keluar dari rumah kami. Kami mengira bahwa ada pembantaian penduduk desa. Terutama karena tentara Mali tahu bahwa mereka sebelumnya menerima kedatngan para islamis dan mereka tinggal di desa kami beberapa hari serta kami tidak melihat dari mereka kecuali kebaikan dan keadilan. Dan setelah itu, kami tahu bahwa peritiwa itu terjadi pada tetangga kami, keluarga Khairi walad Hama, dan kami mendengar teriakan dan tangisan” tutur salah seorang saksi mata.
“Darah orang Arab dan Tuarek ditumpahkan dihadapan dunia dan tidak ada yang bergerak. Mereka (milisi) menggap telah membebaskan Mali utara dari pejuang Islami, tapi sungguh mereka telah memberikan kerusakan, kehancuran dan pembantaian kepada kami….. Sekarang mereka datang dengan menggunakan pakaian tentara Mali bersama milisi dan beberapa orang kulit putih berbahasa Inggris. Mereka merusak pintu rumah dan berbuat kerusakan di dalamnya. Mereka mengumpulkan remaja, yang berusia kurang dari 18 tahun, kemudian mereka bunuh tanpa belas kasih. Mereka juga menghancurkan tempat – tempat belajar Al-Qur’an, merusak mushaf dan papan tulis dari kayu. Setelah itu mereka keluar meninggalkan desa” tambah saksi mata tersebut. (usamah/dbs)
Pesawat tempur dan helikopter tempur penjajah salibis Perancis telah membombardir mujahidin Anshar Ad-Din dan Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam (AQIM) sejak Jum'at (11/1/2013) dalam pertempuran di kota Sevare dan Kona, Mali Utara. Invasi militer telah digelar negara penjajah salibis Perancis di Mali Utara.
Presiden Perancis Francois Hollande, Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius dan Mentri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian menggebu-gebu menggalang dukungan Inggris, Amerika, Barat dan ECOWAS untuk segera menerjunkan pasukannya dalam rangka dukungan terhadap invasi militer salibis internasional tersebut.
Dunia internasional saat ini sedang mengikuti berita dan perkembangan invasi militer ttersebut dengan penuh tanda tanya. Banyak pihak yang masih belum memahami hakekat persoalan yang terjadi di Mali Utara dan invasi militer tersebut. Lebih banyak lagi pihak yang mempertanyakan dampak invasi militer tersebut terhadap aspek ekonomi, politik dan keamanan Negara Mali, negara-negara Afrika Barat dan Barat sendiri.
Seberapa jauh persiapan dan kemampuan mujahidin Anshar Ad-Din dan Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam (AQIM) untuk melawan invasi militer "keroyokan" tersebut? Apa upaya kedua kelompok jihad Islam tersebut untuk menggalang dukungan dari rakyat Mali, negara-negara Afrika Barat dan dunia Islam pada umumnya? Bagaimana pandangan kedua kelompok jihad Islam itu terhadap rakyat negara-negara Afrika Barat dan Barat sendiri?
Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, kami menurunkan terjemahan dari video Amir Mujahidin Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam (AQIM), asy-syaikh al-mujahid Abu Mush'ab Abdul Wadud hafizhahullah. Video yang dirilis oleh Yayasan Al-Andalus, sayap media AQIM dan Markaz Al-Fajr lil-I'lam pada 3 Desember 2012 tersebut berjudul Ghazwu Mali…Harbun Faransiyatun bil-Wakaalah atau Invasi Militer ke Mali…Perang Agen Perancis.
Syaikh Abu Mush'ab Abdul Wadud, Amir Mujahidin Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam (AQIM)
Dalam video yang berdurasi 26 menit 11 detik dan dipublikasikan sekitar lima minggu sebelum dimulainya invasi militer Perancis di Mali Utara tersebut, syaikh Abu Mush'ab Abdul Wadud menyampaikan enam pesan.
Pesan pertama membongkar tujuan sebenarnya dari invasi militer yang digelar Perancis, Barat dan ECOWAS di Mali Utara.
Pesan kedua menjelaskan tujuan mujahidin adalah melindungi agama, tanah air dan kepentingan kaum muslimin dengan melawan penjajahan kekuatan zionis-salibis internasional dan menghentikan intervensi mereka atas urusan dalam negeri kaum muslimin.
Pesan ketiga merupakan ucapan selamat kepada para pemuda Mali Utara yang bergabung dengan mujahidin untuk menegakkan proyek penerapan syariat Islam. Pesan itu juga menyerukan kepada rakyat muslim Mali, para ulama, juru dakwah, pemuda, orang tua, orang-orang cerdas dan cendekiawannya serta seluruh sukunya untuk melindungi proyek penerapan syariat Islam dengan mendukung mujahidin Anshar Ad-Din.
Pesan keempat merupakan seruan kepada bangsa-bangsa Afrika untuk mendukung mujahidin dan menentang kezaliman penjajah salibis Barat.
Pesan kelima merupakan seruan kepada bangsa Perancis untuk melawan kebijakan invasi militer Presiden Perancis dan melengserkannya guna menghindarkan rakyat Perancis dari krisis ekonomi dan politik yang lebih parah.
Pesan keenam merupakan pernyataan sikap tegas kepada Presiden Perancis dan para pemimpin negara ECOWAS yang terlibat dalam invasi militer di Mali Utara. AQIM menjanjikan perang gerilya dalam jangka panjang yang akan menguras habis kemampuan ekonomi dan militer para aggressor. AQIM juga menjanjikan serangan terhadap kepentingan-kepentingan penjajah salibis Perancis di Afrika Barat.
Video pernyataan sikap Amir AQIM tersebut merepresentasikan kematangan visi ideologi, ekonomi, politik dan militer mujahidin AQIM dan Anshar Ad-Din. Dengan dimulainya invasi militer pasukan udara Perancis di Mali Utara pada Jum'at (11/1/2013) lalu, maka genderang jihad Islam versus perang salib baru telah dimulai di bumi Afrika Barat. Dengan izin Allah, padang sahara Afrika Barat akan mengubur tentara penjajah salibis Barat dan sekuleris Afrika Barat agen Barat. Insya Allah.
"Dan mereka akan senantiasa memerangi kalian sehingga mereka memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka mampu. Maka barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya kemudian ia mati dalam keadaan kafir, niscaya mereka itu telah terhapus amal kebajikannya di dunia dan di akhirat kelak mereka adalah penduduk neraka, kekal mereka di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Saudara-saudaraku kaum muslimin di semua tempat…
As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh…
Pesan saya ini datang pada saat Perancis dan negara-negara salibis Barat menabuh gendering perang melalui agennya di kawasan pesisir Afrika (Afrika Barat). Pada waktu ini yang semestinya dikeluarkan resolusi internasional dan resolusi regional untuk menghentikan pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh rezim biadab Suriah terhadap anak-anak, wanita dan rakyat muslim Suriah…dalam waktu yang sulit ini, justru Dewan Keamanan PBB mengeluarkan rezolusi no. 2071 yang memberikan lampu hijau bagi penjajahan terhadap negeri kaum muslimin di Mali, negeri yang miskin di mana penduduknya mengalami kemiskinan, kelaparan dan ketidak berdayaan akibat kekayaan alamnya dirampok oleh salibis Barat.
Setelah perampokan kekayaan alam tersebut, maka resolusi yang zalim ini datang untuk menambahkan penjajahan secara langsung dan perampokan lebih jauh, sebagai tambahan dari penjajahan terhadap Palestina, Irak, Afghanistan dan Somalia.
Ini adalah sebuah serial baru dari serial-serial invasi zionis-salibis terhadap negeri-negeri kaum muslimin, yang menjelaskan dengan sangat terang rambu-rambu hukum rimba internasional yang terfokus pada gabungan dari standar penilaian dan kebijakan zalim yang diterapkan oleh pihak-pihak yang kuat terhadap pihak-pihak yang lemah, dipaksakan oleh para tirani terhadap orang-orang yang tertindas.
Siapa yang bisa membayangkan atau terbetik dalam benaknya akan digelar pertemuan-pertemuan (negara-negara salibis Barat dan Afrika Barat) yang begitu cepat, mobilisasi dan tatap muka digalakkan pada zaman yang berat ini sehingga terjadi pertemuan-pertemuuan PBB, DK PBB, Uni Eropa dan Uni Afrika?
Bukan untuk menjatuhkan sang jagal durjana Bashar Asad, juga bukan menghentikan kebiadaban Israel yang terus berlanjut terhadap rakyat kita yang terkepung di Gaza…namun justru untuk memerangi Mali dengan dalih mencegah kaum muslimin di Mali dari pemberlakuan hukm syariat Islam di sana dan untuk menghentikan "bahaya Islam yang menyerang", yang jaraknya dari Eropa tak lebih dari 3000 km belaka, seperti klaim mereka!
"Dan mereka akan senantiasa memerangi kalian sehingga mereka memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka mampu." (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Wahai kaum muslimin yang tertindas….
Wahai rakyat Afrika yang kekayaan alamnya dirampok oleh Perancis…
Wahai penduduk dunia yang merindukan penegakan keadilan di antara seluruh umat manusia..
Hari ini kita berada di hadapan kesempatan sejarah yang sangat penting, dimana kebohongan terhadap penduduk dunia kembali dipasarkan dan metode-metode penyesatan ala setan dikloning kembali…ini adalah suatu kesempatan yang menarik memori kita ke belakang…mengingatkan kita akan hari-hari sebelum terjadinya invasi militer ke Irak, mengingatkan kita akan kebohongan terbesar Amerika yang dijajakan oleh George W. Bush dan Collin Powel dengan tujuan menggalang kekuatan untuk melangsungkan peperangan. Apakah kalian bisa mengingat hal itu? Itulah kebohongan tentang senjata kimia dan bahwa Shadam Husain memiliki kaitan erat dengan jaringan Al-Qaeda dan Abu Mush'ab Az-Zarqawi.
Hari ini, inilah dia negara salibis Perancis mengulang skenario Amerika untuk menjustifikasi invasi militernya, memainkan peranan kotor dan buruk yang sama…maka Menteri Luar Negeri Perancis lari kesana dan kemari untuk menggerakkan dunia agar memerangi Mali dengan cara membuat-buat kebohongan-kebohongan palsu yang menjustifikasi peperangan yang zalim ini, yang dipaksakan oleh Perancis kepada semua pihak, terutama kepada Afrika dan negara-negara pesisir (Afrika Barat).
Inilah dia (Presiden Perancis) Francois Hollande berbohong dan menjadikan Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam sebagai "hanger pakaian" tempat ia menggantungkan kegagalan-kegagalan politik dalam negerinya….agar ia bisa menyembunyikan di baliknya tujuan-tujuan berbahaya dan membawa bencana yang akan menyebabkan penjajahan, pencabik-cabikan dan penghancuran terhadap Mali…di mana pecahan-pecahan bencana tersebut akan berhamburan mengenai setiap Negara tetangga dalam kawasan Afrika Barat, tidak mungkin tidak hal (kehancuran luas di kawasan Afrika Barat) itu pasti akan terjadi.
Kita mendengar dan menyaksikan sendiri pada hari ini bagaimana media massa Perancis menempuh taktik terror dan berbohong kepada dunia, kepada penduduk Afrika, kepada penduduk Perancis…membodohi penduduk Perancis sendiri dan mengesankan kepada mereka bahwa ada ratusan mujahidin dari Perancis dan Arab yang mengalir ke wilayah Mali, setelah itu mereka akan berangkat untuk menyerang Eropa…menyebar di Afrika dan memerangi penduduk Afrika. Ini adalah cara-cara kebohongan yang selalu menjadi kebiasaan para rezim tiran, sejak George Bush, Qaddafi, Bashar Ashar dan kini diulangi lagi oleh Hollande.
Presiden Perancis Francois Hollande membohongi rakyat Perancis dan publik internasional untuk menjustifikasi invasi militer di Mali Utara
Dari titik tanggung jawab sejarah dan guna menjelaskan beberapa kenyataan serta membuat beberapa poin penjelasan penting, dalam surat ini saya hendak menyampaikan beberapa surat kepada beberapa pihak.
Pesan pertama
Saya ingin membongkar tujuan-tujuan tersembunyi dan sebab-sebab sebenarnya yang melatar belakangi invasi militer yang melalui agennya Perancis ingin memaksakan kehendaknya kepada bangsa-bangsa di kawasan (Afrika Barat) ini.
Tujuan tersembunyi dan sebab sebenarnya adalah Perancis ingin mendapatkan tambahan jaminan untuk merampok kekayaan kaum muslimin dan bangsa-bangsa Afrika dengan terus mengalirnya secara deras Uranium dan minyak bumi kepada industri Perancis tanpa Perancis membayar harga semestinya, dengan menguras tenaga dan keringat para pekerja Nigeria yang miskin. Sehingga perbendaharaan emas dan perak di Mali dan negara-negara sekitarnya bisa dirampok oleh Perancis dengan harga paling murah, sementara bangsa Mali tetap mendekam dalam kubangan lumpur penderitaan dan kemiskinan. Sehingga anak-anak Eropa tetap bisa menikmati lezatnya coklat, di saat anak-anak Mali menangis di ladang-ladang Kakao di wilayah pedalaman.
Di samping itu, ada kedengkian salibis hitam yang turun-menurun dalam perasaan dan lubuk hati Perancis, yang membuat Perancis menodai kehormatan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam dengan cara mempublikasikan gambar-gambar yang melecehkan beliau shallallahu 'alaihi wa salam; Perancis juga melarang para muslimat di Perancis dari hak privat mereka untuk memakai niqab (cadar), Perancis menekan kaum muslimin di sana. Kedengkian yang sama telah mendorong Perancis untuk memobilisasi peperangan yang mencegah kaum muslimin dari hak mereka untuk hidup dengan berkomitmen kepada syariat mereka dan keislam an mereka di negeri mereka sendiri yang 90 persen warganya adalah muslim.
Secara sederhana saja sudah sangat jelas bahwa ini adalah perang Perancis yang zalim dengan memakai agennya, didorong oleh ambisi material yang bercampur baur dengan kedengkian salibis terhadap Islam dan kaum muslimin.
Guna merealisasikan ambisi-ambisinya, setiap hari Perancis rajin melakukan intervensi dan menempatkan kekuatan militernya yang pada gilirannya akan menjadi penempatan permanen di Mali Utara.
Bukan itu saja. Bahkan hal itu barulah langkah pertama, jika Perancis sukses ---dengan izin Allah, Perancis tidak akan sukses--- akan menjadi benteng pertahanan yang kokoh, darinya Perancis akan melanjutkan rencana-rencana setannya yang berporos pada taktik menyalakan konflik-konflik di kawasan Afrika Barat dan mendorong pencabik-cabikan wilayah-wilayah yang telah lebih dahulu tercabik-cabik. Sehingga rencana jahat Perancis ini bukan saja mengancam Mali, namun juga mengancam seluruh negara di Kawasan ini dengan bencana, peperangan dan pencabaik-cabikan wilayah. Pembagian negara Sudan belum berlalu lama dari ingatan kita semua.
Pesan Kedua
Saya ingin menegaskan bahwa tanzhim Al-Qaeda belum dan tidak akan menjadi sebuah ancaman, tidak bagi Mali, tidak bagi negara-negara tetangga, tidak pula bagi negara-negara Afrika, tidak seperti berita bohong dan klaim palsu Perancis. Sebab tujuan mujahidin sudah jelas, yaitu membela agama mereka dan kepentingan-kepentingan umat mereka dengan cara menargetkan aliansi zionis-salibis sehingga aliansi zionis-salibis menghentikan penjajahannya terhadap negeri-negeri kaum muslimin dan intervensi mereka terhadap urusan dalam negeri kaum muslimin.
Adapun negara-negara tetangga Mali dan negara-negara Afrika, maka tidak menjadi target-target kami kecuali sebatas pembelaan terhadap nyawa kami. Oleh karena itu para pemimpin negara-negara tersebut jangan sampai terseret kepada peperangan yang sebenarnya bukan peperangan (untuk kepentingan) mereka; mereka harus belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain; mereka harus mengetahui bahwa Perancis hanya menginginkan kepentingan Perancis, bukan kepentingan mereka. Perancis ingin menjadikan kepala negara-negara Afrika, tentara mereka dan rakyat mereka sebagai bahan bakar bagi gejolak api yang kobarannya akan menjangkaui ibukota-ibukota negara mereka; sementara pada saat yang rakyat Perancis merasakan keamanan, menikmati kekayaan alam negara-negara Afrika dan berlindung di balik lautan yang jauh.
Oleh karena itu saya nasehatkan kepada para pemimpin negara-negara Afrika, janganlah mereka berbaris di belakang (Presiden Perancis) Francois Hollande jika mereka benar-benar menginginkan kebaikan bagi negara dan rakyat mereka. Hendaknya mereka mengambil pelajaran dari kata pepatah yang berbunyi: "Jika rumahmu terbuat dari kaca, maka janganlah engkau melempari manusia dengan batu!"
Sudah sama-sama diketahui bahwa "rumah" Aljazair terbuat dari kaca, demikian juga "rumah" Senegal, Niger dan Mauritania. Dari arah kami sendiri, kami tidaklah berambisi dan tidak memiliki keinginan untuk melempari "rumah-rumah" tersebut dengan batu, kecuali jika batu-batu mereka mengenai kami, maka pada saat tersebut kami terpaksa akan melempari "rumah kaca mereka yang rapuh" tersebut dengan batu.
Pesan Ketiga
Kepada bangsa muslim Mali yang perwira, memegang teguh agamanya dan kebudayaan Islamnya yang telah mendarah daging…saya katakan kepada mereka: Sesungguhnya problem lama yang kini dihidupkan kembali di negara kalian adalah problem dalam negeri di antara kaum muslimin, bisa diselesaikan dalam negeri melalui perdamaian di antara sesama kaum muslimin sendiritanpaharus menumpahkan satu tetes darah sekalipun.
Setiap cendekiawan, tokoh masyarakat dan pemimpin di negara kalian memahami hal itu dan mengetahui solusi damai di antara sesama kalian itu memungkinkan untuk ditempuh. Maka untuk apa kehadiran orang-orang kafir yang asing di negara kalian? Untuk apa para penjajah salibis turut campur dalam urusan-urusan kaum muslimin? Kapan kekuatan superpower arogansi dan tirani internasional yang menjadi penumpah darah orang-orang tak berdosa dan para pedagang perang tiba-tiba memiliki keinginan kuat untuk memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin, kalau bukan karena mereka semakin berambisi terhadap minak bumi yang bercampur dengan darah seorang muslim?
Sesungguhnya Perancis berdusta kepada kalian ketika Perancis mengklaim sangat menginginkan persatuan Mali, padahal seluruh bukti-bukti menunjukkan secara jelas fakta sebaliknya dan menegaskan bahwa Perancis adalah pihak yang paling berambisi untuk memecah-belah Mali. Bukankah Perancis adalah pihak yang mendukung Gerakan Nasional Pembebasan Azawad dengan tujuan menjadikannya mampu menguasai Mali Utara dan mendirikan negara sendiri?
Namun, segala puji bagi Allah, saudara-saudara kalian mujahidin dan putra-putra kalian dari kalangan aktifis Islam di Mali Utara berhasil menghancurkan program-program setan Perancis dan merusak rencana-rencana penuh makar Perancis.
Hari ini Perancis ingin mengulang usaha yang sama dengan cara mirip yang bersandar, pertama, pada intervensi militer, kemudian kedua pada pembagi-bagian wilayah di mana wilayah Mali Utara akan tetap tunduk kepada agen-agen dan antek-antek Perancis selamanya. Namun usaha mereka itu akan mustahil berhasil, mustahil berhasil.
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin di Mali…
Sesungguhnya jaminan yang sesungguhnya bagi persatuan Mali dan penyatuan bangsa Mali adalah proyek Islam yang akan mencegah pembagi-bagian wilayah, menjaga darah, merealisasikan keadilan, mengembalikan hak-hak, mempersaudarakan dan menyatukan di antara setiap kelompok bangsa kalian.
Hari ini ada kesempatan emas dan berharga untuk saling memahami dan bersepakat sekitar proyek Islam ini di antara putra-putra bangsa muslim yang satu dan saudara-saudara seagama yang satu, yang jauh dari kekuatan superpower arogansi internasional dan jauh dari intervensi militer yang didorong oleh negara salibis Perancis, yang tidak akan mendatangkan bagi kalian selain kehancuran, keruntuhan dan bencana. Maka janganlah kalian melewatkan kesempatan emas tersebut dan dukunglah upaya tersebut dengan segenap kekuatan dan tekad baja.
Di sini saya mempergunakan kesempatan ini:
Pertama, saya sampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada rakyat kami di Mali Utara, di mana sejumlah besar para pemudanya yang memiliki semangat pembelaan terhadap agama dan tanah airnya bangkit dan bergabung dengan barisan-barisan mujahidin untuk membela Islam dan berperan dalam melawan para penjajah yang ingin menjajah negeri mereka.
Kedua, saya serukan kepada rakyat muslim Mali…hendaklah para ulama, juru dakwah, pemuda, orang tua, orang-orang cerdas dan cendekiawannya serta seluruh sukunya bangkit untuk melindungi proyek Islam dengan cara meletakkan tangan mereka pada tangan saudara-saudara mereka Gerakan Anshar Ad-Din, hendaklah mereka membangun kesepahaman dengan saudara-saudara mereka Gerakan Anshar Ad-Din, hendaklah menjadi tangan yang satu dan barisan yang saling menguatkan demi menyelamatkan negara Mali dari pemecah-belahan dan menghilangkan kesempatan para pengintai jahat yang tidak mempedulikan kepetingan negara dan kepentingan rakyat. Dengan izin Allah, barisan mereka yang saling menguatkan tersebut akan menjadi benteng kokoh yang menghadang dan mencerai beraikan ambisi-ambisi penjajah salibis dari luar negeri yang sedang menunggu-nunggu kesempatan.
Saya juga menyerukan kepada kaum muslimin di setiap tempat untuk menolong saudara-saudara mereka di Mali dan memberikan kepada mereka semua bentuk bantuan dan dukungan. Sebab seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya dan kaum beriman itu bagaikan satu tubuh.
Mujahidin Anshar Ad-Din Mali Utara dengan senapan mesin penangkis serangan udara
Pesan Keempat
Pesan ini saya tujukan kepada bangsa-bangsa Afrika.
Saya ingin menjelaskan kepada mereka bahwa peperangan Al-Qaeda dan mujahidin melawan penjajah Barat yang ganas bukanlah untuk membela kepentingan-kepentingan kaum muslimin semata. Namun ia juga merupakan pembelaan terhadap orang-orang yang dizalimi dan ditindas di seluruh dunia; ia merupakan perlawanan terhadap kezaliman yang menjajah seluruh umat manusia, secara khusus penjajahan terhadap bangsa-bangsa Afrika yang diperbudak oleh orang Barat dan digiring sebagai budak yang terikat dengan rantai-rantai mereka melalui samudra-samudra agar orang Barat bisa membangun perdabannya di atas penderitaan dan nestapa bangsa-bangsa Afrika.
Kami ingin kalian, wahai bangsa-bangsa Afrika, membebaskan diri dari dominasi Barat dan menghancurkan belenggu-belenggu Barat. Karena di antara tujuan kami adalah membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesame manusia menuju peribadatan kepada Tuhannya manusia. Kami juga ingin keadilan menyebar rata di antara seluruh manusia tanpa ada diskriminasi antara warga kulit hitam dan warga kulit putih, kecuali perbedaan atas dasar ketakwaan.
Maka kemenangan mujahidin melawan Barat yang merampok kekayaan alam kalian dan membangun kemewahan bangsa-bangsa Barat di atas kemiskinan dan kelaparan anak-anak kalian, pada hakekatnya adalah kemenangan bangsa-bangsa Afrika dan perolehan hasil mereka yang besar.
Pesan Kelima
Saya sampaikan kepada bangsa Perancis. Saya katakana kepada mereka: Sesungguhnya Hollande yang popularitasnya anjlok ingin menutup-nutupi kegagalan politik dalam negerinya dengan cara melarikan diri ke depan. Dengan hal itu, ia ingin menjerumuskan kalian lebih jauh lagi dari keterjerumusan kalian sebelumnya dalam perang Afghanistan. Hal serupa sebelumnya telah dilakukan oleh George W. Bush, namun ia gagal dan kecewa.
Hollande ingin mempertaruhkan keamanan kalian, kepentingan-kepentingan kalian dan kehidupan anak-anak kalian ke dalam bahaya yang lebih besar dari waktu-waktu yang telah lalu.
Maka hendaklah kalian bertanya kepada setiap pakar ekonomi: Apakah peperangan-peperangan yang telah diterjuni atas keputusan para politikus Barat di Afghanistan, Irak dan Somalia menambah kemakmuran Eropa? Ataukah ia justru menjerumuskan Eropa dalam krisis ekonomi parah yang sebelumnya belum pernah terjadi sehingga berpotensi meruntuhkan Eropa?
Hendaklah kalian bertanya kepada para ibu yang anak-anaknya menjadi tentara-tentara Perancis dan tewas di Afghanistan; Apakah keputusan ikut dalam peperangan di Afghanistan ditanggung akibatnya oleh (Presiden Perancis periode tersebut, Nicolas) Sarkozy ataukah dampak-dampaknya menjadi penderitaan dan kerugian bagi negara Perancis?
Jika para cendekiawan kalian sepakat bahwa keputusan ikut serta dalam perang di Afghanistan tersebut adalah keputusan yang salah, maka ketahuilah oleh kalian bahwa keputusan Hollande yang menggelar peperangan di kawasan pesisir (Afrika Barat) pada hari-hari mendatang akan membuktikan kepada kalian bahwa ia lebih buruk bahayanya dari keputusan Sarkozy, harganya akan sangat mahal dan anggarannya akan jauh lebih besar.
Tentara-tentara penjajah salibis Perancis tewas di Afghanistan dalam pertempuran dengan mujahidin Taliban
Sesungguhnya cara menjaga kepentingan-kepentingan Perancis adalah hendaknya Perancis meninggalkan sarana-sarana dan kebijakan-kebijakan yang menjadikan Perancis sebagai target serangan. Kepentingan-kepentingan Perancis, bagi para cendekiawan kalian, bisa dijaga dengan cara-cara yang mudah dan berbiaya jauh lebih murah dibandingkan biaya-biaya peperangan yang dilancarkan oleh Hollande. Mereka cukup menempuh arah yang benar saja, maka kepentingan-kepentingan Perancis akan terlindungi.
Maka ambillah inisiatif, sebagaimana nenek moyang kalian para revolusioner mengambil inisiatif dan bergerak sebelum kesempatannya lewat, guna menghentikan dan melengserkan Presiden yang gagal ini, yang ingin menutup-nutupi kegagalannya dengan menenggelamkan kalian lebih dalam dan lebih dalam lagi dalam perang yang gagal, di mana karakter paling menonjolnya adalah akan memberikan legalitas lebih besar bagi persoalan kami, membuat kami memperoleh simpati lebih luas dan membuat kami semakin tegar dan bersemangat baja untuk menghantam kepentingan-kepentingan kalian. Dan alangkah banyaknya kepentingan-kepentingan sangat vital Perancis di negara-negara pesisir (Afrika Barat) yang sampai saat ini belum kami putuskan kapan akan menjadi target serangan.
Dalam kesempatan ini, saya tidak lupa untuk mengingatkan keluarga para sandera warga Perancis yang berada di tangan kami…kami tegaskan kepada mereka satu perkara penting…
Presiden kalian, Hollande, bersikap kontradiktif dan membodohi kalian dalam perkara anak-anak kalian. Di satu sisi Hollande mengumumkan kepada kalian bahwa ia bekerja untuk menyelamatkan mereka, namun pada realita di lapangan ia ngotot melangsungkan intervensi militer dan melakukan pergerakan militer secara rahasia yang berarti ia sedang menggali kuburan bagi anak-anak kalian dan ingin melepaskan diri dari tanggung jawab terhadap pembebasan mereka.
Maka saya nasehatkan kepada kalian untuk melakukan gerakan ternag-terangan secara cepat dan melalui media massa untuk menyelamatkan anak-anak kalian yang akan dikorbankan oleh Presiden Hollande untuk kepentingan pribadi dan politiknya belaka. Seandainya orang-orang yang disandera adalah kerabat-kerabat Hollande sendiri, tentu sepenuhnya ia akan melakukan pendekatan yang berbeda guna menyelesaikan kasus ini.
Pesan Terakhir saya
Saya sampaikan kepada setiap orang yang memobilisasi dan nekat menggelar perang yang zalim ini, di mana pemimpinnya adalah Presiden Perancis dan sebagian pemimpin negara-negara pesisir barat Afrika yang berbaris di belakang Presiden Perancis.
Saya katakan kepada mereka…
Jika kalian menginginkan perdamaian dan keselamatan di negara kalian dan negara-negara pesisir (Afrika Barat) serta negara-negara sekitarnya, maka kami menyambut baik keinginan tersebut…
Namun jika kalian menginginkan peperangan maka kami pun akan melayani keinginan kalian…padang sahara yang luas akan menjadi kuburan bagi tentara-tentara kalian dan kehancuran bagi harta-harta kalian, dengan izin Allah…
Kami adalah putra-putra perang…kami tumbuh dewasa dalam suasana perang dan kami memiliki pengalaman yang kaya dalam persoalan perang yang membuat kami akan memenangkan peperangan seperti ini…
Kami sampaikan kabar gembira kepada kalian bahwa kami memiliki nafas yang sangat panjang…dahulu kami telah menerjuni peperangan yang memakan waktu dua puluh tahun dengan berbekal senapan berburu dan beberapa pucuk senapan mesin belaka. Adapun sekarang Allah telah mengaruniakan kepada kami perbendaharaan yang besar berupa persenjataan, amunisi dan para pemuda yang bersemangat baja. Maka kami mampu membalas segala bentuk serangan dan kami mampu memberikan perlawanan untuk satu abad ke depan…kami akan antusias menjadikan perang ini sebagai perang jangka panjang yang menguras energi kalian dan memperdalam krisis ekonomi dan politik kalian. Dan kami akan sangat antusias menjadikan pecahan-pecahan perang ini menghantam setiap rumah kaca lemah yang pemiliknya turut serta dalam menyerang kami.
Mujahidin Al-Qaeda Negeri Maghrib Islam (AQIM)
Kami akan menerjuni peperangan suci demi Islam dan membela tanah air Islam, dengan meminta pertolongan kepada Rabb kami dan percaya sepenuhnya akan pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sesungguhnya Allah yang telah mengalahkan Amerika dan antek-anteknya di di Afghanistan dan Irak akan mampu untuk mengalahkan Perancis dan antek-anteknya di gurun sahara terluas, yang akan menenggelamkan mereka dalam lautan pasirnya yang panas membakar.
Jika kalian menginginkan perang, maka kami menyambutnya dan akan menambahnya, dan kami akan meraih kemenangan dengan kekuatan dan pertolongan Allah semata. Sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla firmankan dalam kitab suci-Nya,
"Orang-orang yang yakin bahwa mereka kelak akan menghadap Allah, mereka itu mengatakan: "Betapa sering terjadi satu kelompok kecil mengalahkan satu kelompok besar atas izin Allah dan Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 249)
Uni Afrika telah menyetujui rencana untuk melakukan intervensi militer di Mali, di mana kelompok Islam telah menguasai wilayah gurun utara itu, Komisaris Uni Afrika untuk Perdamaian dan Keamanan mengatakan Selasa kemarin (13/11).
Dewan Uni Afrika untuk Perdamaian dan Keamanan telah memutuskan untuk mendukung konsep harmonisasi operasi untuk penyebaran pasukan militer seperti yang direncanakan, yang merupakan misi Uni Afrika untuk mendukung Mali,” kata Ramtane Lamamra kepada wartawan, berbicara setelah Dewan Uni Afrika untuk Perdamaian dan Keamanan mengadakan pertemuan di ibukota Ethiopia, Addis Ababa. Lamamra tidak memberikan rincian misi lebih lanjut, tetapi mengatakan misi bertujuan untuk “merebut kembali wilayah yang diduduki di utara negara itu, membongkar jaringan teroris dan kriminal serta mengembalikan efektif otoritas negara atas seluruh wilayah nasional.” Ia mengatakan Uni Afrika telah mendesak PBB untuk mengotorisasi untuk periode awal dari satu tahun penyebaran pasukan yang direncanakan. Para pemimpin Afrika Barat pada pertemuan puncak darurat di Abuja pada hari Minggu lalu menyetujui penyebaran 3.300 tentara ke Mali untuk merebut kendali wilayah utara dari kelompok Islam. Lamamra mengatakan dia yakin PBB akan mengeluarkan resolusi menyetujui misi tersebut sebelum akhir tahun, namun tidak mengkonfirmasi kapan pasukan pertama bisa dikerahkan. Pasukan diharapkan datang dari anggota 15-negara dari komunitas Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS), tetapi juga mungkin dari negara-negara di luar blok regional, menurut Lamamra.(fq/afp)
Benghazi (voa-islam.com) Kemarahan meledak diseantora Arab dan Afrika Utara, akibat film yang menghina Nabi. Puluhan ribu rakyat di Cairo dan Benghazi (Libya), tak dapat lagi menahan amarah mereka. Dengan massa menyerbu kedutaan AS Serikat di Bengazhi dan Cairo, sebagai protes kejahatan para pembuat film, yang sengaja menistakan manusia yang paling dicintai dan didoakan setiap saat oleh beratus juta Muslim di seluruh dunia. Sementara itu, dilaporkan dari Benghazi (Libya) massa dengan menggunakan roket menyerbu Konsulat Amerika di Benghazi, dan dan mengakibatkan Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) untuk Libya, J Christopher Stevens, beserta tiga orang staf diplomatiknya tewas. Mereka tewas dalam serangan yang dilakukan para demonstran di kantor Konsulat AS di Benghazi.
"Dubes tewas terbunuh bersama 3 staf diplomatik lainnya," ujar Wakil Menteri Dalam Negeri Libya, Wanis al-Sharud, seperti dilansir AFP, Rabu (12/9/2012).
Kabar tewasnya Dubes Stevens ini juga dipastikan oleh Wakil Perdana Menteri Libya Mustafa Abu Shagur dalam akun Twitter-nya. Stevens yang memulai kariernya dari Kementerian Luar Negeri AS ini telah menjalankan tugasnya sebagai Dubes AS di Libya sejak Mei lalu. Komisi Keamanan Tinggi Benghazi Fawzi Wanis memastikan bahwa Stevens berada di dalam kantor konsulat saat para demonstran menyerang. Namun tidak diketahui ada keperluan apa Stevens berada di kantor konsulat AS itu, karena kantornya sehari-hari berada di Tripoli, ibukota Libya.
Dubes Stevens tewas ketika ratusan demonstran bersenjata menyerang kantor Konsulat AS di Benghazi. Para demonstran tengah memprotes sebuah film yang dinilai merendahkan Islam dan Nabi Muhammad. Masih berkaitan dengan film yang diunggah ke YouTube ini, warga di Kairo, Mesir juga melakukan unjuk rasa dan menyerbu kantor Kedubes AS di sana.
Menurut Wall Street Journal, film yang dipermasalahkan oleh para demonstran ini merupakan film buatan seorang sutradara keturunan Israel-Amerika (sebelumnya disebut warga Mesir). Film ini dinilai telah mengambarkan Islam seperti penyakit 'kanker' dan menggambarkan Nabi Muhammad dengan sangat nista dan biadab. Pantas mereka mereka itu menerima imbalannya. Para agen-agen Zionis-Israel dengan tangan-tangan mereka telah menistakan RasulullahShallahu Alaihi Wassalam. Inilah perang yang mereka nyatakan kepada seluruh Muslim di seluruh dunia. Dibagian lain, Presiden Barack Obama mengutuk pembunuhan Dubes AS, Stevens, yang Yahudi itu. Tetapi, tidak mengutuk pembuat film, yang menghina dan menghujat manusia yang paling mulia, Muhammad Rasulullah Shallahu Alaihi Wasslam. af/aby
Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini? Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya. Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan. Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat. Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Ini karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam. Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Singkatnya lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid. Profesor Prancis Joseph Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu 10 hari hingga mirip dengan batu aslinya.
DI suatu tempat di Prancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim. Ia adalah orangtua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen di mana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama “Jad” berumur 7 tahun. Jad, si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat di mana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah. Setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya. Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya. “Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu”, ujar Jad sebagai tanda persetujun. Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang seorang Muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad. Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi. 14 Tahun Berlalu
Muslim Afsel Jad kini telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun. Alkisah, Ibrahim akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya di mana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi. Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak. Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim-lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya, dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya. Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya. Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi. Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut. Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, “Buku apa ini?” Ia menjawab, “Ini adalah Al-Qur’an, kitab sucinya orang Islam!” Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub, Jad lalu kembali bertanya, “Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?” Temannya menjawab, “Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!” Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!
Peta Afrika Selatan Islamkan 6 juta orang Kini Jad sudah menjadi seorang Muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur’an. Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani. Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua Afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat : ((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ…!!)) “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!…” [QS. An-Nahl; 125] Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya. Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang di antaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zulu, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya. Akhir Hayat Jadullah Al-Qur’ani Jadullah Al-Qur’ani, seorang Muslim sejati, da’i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang. Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah. Kisah pun belum selesai Ibu Jadullah Al-Qur’ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun. Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar. Yang menjadi pertanyaannya, “Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?” Jadullah Al-Qur’ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: “Hai orang kafir!” atau “Hai Yahudi!” bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: “Masuklah agama Islam!” Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua Muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an. Kemudian dari kesaksian Dr. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zulu. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur’ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci. Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur’ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai “Syaikh Kaum Revolusioner Mesir”. Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam. Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur’ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid’ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim. Dulu da’i-da’i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang. Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –’alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir’aun. Allah berfirman, ((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى)) “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” Bayangkan, Fir’aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut, tanpa menyebut dia Kafir Laknatullah! Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari Fir’aun, di mana Al-Qur’an pun merekam kekafirannya hingga kini? Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur’an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun? Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini. Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam. Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na’udzubillah tsumma Na’udzubillahi min Dzalik. Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –’alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah! Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun “menggerogoti” akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja. Wallahu Ta’ala A’la Wa A’lam Bis-Shawab.* Penulis adalah mahasiswa Program Licence Universitas Al-Azhar Kairo Konsentrasi Hukum Islam. Facebook; Mustamid Keterangan: Foto Penulis dan Muslim Afsel
Syekh Yusuf adalah ulama, sufi dan penyebar Islam hingga tanah Afrika.
Makam Syah Yusuf, penyebar Islam di Afrika (Foto: Rahmat Zeena, Makassar)
Muhammad Yusuf, atau sekarang lebih dikenal dengan Syekh Yusuf, adalah salah seorang tokoh spiritual dan fenomenal asal Sulawesi Selatan pada masanya hingga saat ini. Pria yang dilahirkan di Gowa, tahun 1626, atau empat abad silam, adalah ulama, sufi, dan penyebar Islam hingga tanah Afrika.
Ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah Abul Mahasin, konon adalah seorang rakyat jelata tapi memiliki latar belakang keislaman yang kuat. Sebaliknya ibu Syekh Yusuf yang bernama Aminah, adalah seseorang yang masih memiliki keturunan langsung dari Sultan Al Aladin.
Berdasarkan penuturan asisten juru kunci Makam Syekh Yusuf, Rahmat, Syekh Yusuf remaja sejak awal memang dididik oleh keluarga secara islami. Ia ditempa dengan berbagai ilmu seperti ilmu tauhid, fikih dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun, ia memperdalam ilmu agamanya ke Syekh Jalaluddin Al-Aidid di Cikoang, wilayah pesisir Kabupaten Takalar.
Syekh Yusuf dikenal sebagai seorang yang haus dengan ilmu agama. Hanya tiga tahun menempa ilmu di Cikoang, atau berusia sekitar 18 tahun, ia kembali ke Makassar dan menikah dengan Putri Raja Gowa. Masih dalam suasana pengantin baru, ia kemudian nekad meninggalkan tanah kelahirannya, dan pergi ke Timur Tengah. Tujuannya untuk lebih memperdalam ilmu agama yang telah dimilikinya.
Dalam perjalannya itu, tutur Rahmat, Ia mula-mula naik kapal Melayu dari Pelabahuan Makasar menuju Pelabuhan Banten. Di daerah tersebut, ia menetap beberapa lama untuk belajar ilmu agama serta menjalin hubungan pribadi yang erat dengan kalangan elite Kesultanan Banten, yang saat itu diperintah oleh Abul Mafakhir Abdul Qadir’ (1037-63/1626-51).
Dari Banten, Yusuf kemudian berangkat menuju Aceh dan berguru pada Ar-Raniri, kemudian ke India, dan berakhir di Yaman, Timur Tengah. Di Yaman ia berguru kepada Muhammad Abdul Baqi An-Naqsyabandi dan Sayyid Ali Az-Zabidi.
"Dari Yaman, ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Mekkah dan Madinah," papar Rahmat lagi.
Beberapa catatan sejarah menyebutkan, ulama-ulama yang menjadi gurunya selama di Makkah dan di Madinah adalah Ahmad Al-Qusyasyi, Ibrahim Al-Kurani, dan Hasan Al-‘Ajami.
Tak cukup di Saudi Arabia, Yusuf masih melanjutkan perjalanan ke pusat pengetahuan Islam di Timur Tengah, Damaskus. Yusuf belajar dengan salah seorang ulamanya yang terkemuka Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Ad-Dimasyqi Al-Khalwati.
"Di Damaskulah ia mendapat gelar At-Tajul Khalwati, atau Mahkota Khalwati," ujar Rahmat lagi.
Dari Damaskus, ia kemudian kembali ke Mekah sebelum pulang ke kampung halamannya, yang saat itu masih bernama Nusantara. Dalam perjalanan mencari ilmu itu, memakan waktu sekitar 20 tahun, dan pada usia 38 tahun, ia sempat menjadi pengajar di Arab Saudi.
Sekembalinya dari Timur Tengah, Syekh Yusuf tidak langsung pulang ke Makassar. Ia justru singgah di Banten dan mengembangkan seluruh ilmunya di tanah Banten. Tidak disebutkan alasan utama sehingga memilih Banten, namun beberapa informasi menyebutkan, Yusuf tidak kembali ke Goa, sekarang Gowa, karena Islam tidak diperlakukan semestinya. Banyak perbuatan yang dianggap melecehkan Islam, seperti berjudi, mengadu ayam, meminun arak serta menghidupkan lagi animisme tanpa ditindak oleh Sultan.
Ia kemudian memilih Banten dan menjadi penasihat agama bagi Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten itu pula, Syekh Yusuf tidak hanya menjadi guru dan ulama. Tapi Syekh Yusuf ikut serta melakukan gerilya melawan Belanda dengan memimpin 4.000 tentara asal Bugis Makassar.
Perlawanan yang gigih terhadap penjajah itu akhirnya berakhir pada pada tahun 1682. Tepatnya di bulan September, Syekh Yusuf bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid dan sejumlah pembantunya ditangkap dan dibuang di Seilon (kini Srilanka).
Di negara itu, Syekh Yusuf lagi-lagi berbagi ilmu dan banyak menulis buku-buku keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Dia juga mengorganisir orang-orang Nusantara yang melakukan haji dan singgah di Srilanka.
Pemerintah Kumpeni rupanya terusik dengan aktivitas Syekh Yusuf yang masih gencar melakukan dakwah. "Karena masih merasa terancam, penjajah kemudian memindahkan Syekh Yusuf ke Kaapstad di Afrika Selatan," ungkap Rahmat.
Saat itu, Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya ditempatkan di Zandveliet dekat muara Sungai Eerste, 35 kilometer dari ibu kota Afrika Selatan, Cape Town. Tempat ini belakangan diubah oleh masyarakat Afrika menjadi Macassar Downs dan pantai bernama Macassar Beach.
Meski diasingkan, aktivitas dakwah tidak berhenti begitu saja. Ia bahkan semakin memantapkan pengajaran Islam kepada pengikut-pengikutnya. Ia juga mempengaruhi orang-orang buangan lainnya, yang kebanyakan berasal dari budak, untuk melakukan perlawanan.
Berselang lima tahun, atau pada 23 Mei 1699, Syekh Yusuf meninggal dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di tempat itu juga. Kabar meninggalnya ulama yang bergelar Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ini langsung beredar luas, termasuk pemerintah kompeni di Batavia dan Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil.
Atas permintaan Raja Gowa, tahun 1705, jenazah Syekh Yusuf dipulangkan ke Makassar, dan dimakamkan di Lakiung, atau saat ini lebih dikenal dengan Ko'bang, yang berada di Jalan Syekh Yusuf, perbatasan Gowa dan Makassar.
"Beliau yang mulia dimakamkan pada 6 April 1705 atau 12 Zulhijjah 1116 H," pungkas Rahmat. (Laporan: Rahmat Zeena, Makassar)
Kedatangan Islam di Afrika Utara terjadi pada masa kekhalifahan Umar Ibn al-Khathab. Pada masa itu kekuasaan Islam di tahun 640 M, sudah berhasil memasuki Mesir di bawah komando ‘Amr ibn al-‘Ash.
Pada masa kekhalifahan Usman ibn Affan penaklukan Islam sudah meluas sampai ke Barqah dan Tripoli. Penaklukan atas dua wilayah itu dimaksudkan untuk menjaga keamanan daerah Mesir. Penaklukan itu tidak berlangsung lama, karena gubernur-gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang telah ditinggalkan itu. Namun kekejaman dan pemerasan yang mereka lakukan telah mengusik ketenteraman pendududk asli, sehingga tidak lama kemudian penduduk asli sendiri memohon kepada orang-orang muslim untuk membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Pada waktu kekuasaan Islam sudah berpindah kepada Muawwiyah Ibn Sufyan khalifah pertama bani Ummayah. Ia bertekad untuk memberikan pukulan terakhir kepada kekuasaan Romawi di Afrika Utara, dan mempercayakan tugas ini kepada seorang panglima masyhur Uqbah Ibn Nafi al-Fikri (W. 683 M), yang telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukan.
Pada tahun 50 H/670 M ‘Uqbah mendirikan kota militer yang termasyhur, Kairawan, disebelah selatan Tunisia. Tujuannnya adalah untuk mengendalikan orang-orang Barbar yang ganas dan sukar diatur,dan juga untuk menjaga terhadap perusakan-perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Romawi dari laut. Perjalanan ‘Uqbah yang cemerlang itu dan pukulan-pukulannya yang menghancurkan orang-orang Romawi dan Barbar, telah membuat negeri itu aman selama beberapa tahun.
Akan tetapi, pada tahun 683 M orang-orang Islam di Afrika utara mengalami kemunduran yang hebat, karena orang-orang Barbar dibawah kepemimpinan Kusailah bangkit memberontak dan mengalahkan ‘Uqbah. Dia dan seluruh pasukannya tewas dalam pertempuran. Sejak saat itu orang-orang Islam tidak berdaya mengembalikan kekuasaannya di Afrika Utara, karena selain berhadapan dengan bangsa Barbar juga ada bangsa Romawi yang memanfaatkan kesempatan dalam pemberontakan tersebut.
Dalam kondisi seperti ini penyebaran Islam tidak bisa menyebar dengan baik keadaan ini berlanjut hingga terjadi pergantian Gubernur dari Hasan Ibn Nu’man kepada Musa Ibn Nusair tahun 708 M, pada awal pemerintahan al-Walid Ibn Abdul Malik (86-96 H)/705-715 M. bahkan pergantian pimpinan ini pun juga mendorong orang-orang Barbar mengadakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Musa dapat mematahkan pemberontakan mereka, dan untuk mengantisipasi timbulnya pemberontakan lagi dia menetapkan kebijakan “Perujukan”, yaitu menempatkan orang-orang Barbar kedalam pemerintahan orang-orang Islam.
Ketika pemerintahahan dipegang oleh Musa, di Afrika Utara terjadi perubahan sosial dan politik yang cukup drastis. Perlawanan orang-orang Barbar yang ganas dapat dihancurkan domanasi politik berada di tangan orang orang muslim dan da’wah Islam yang menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Hal-hal inilah yang menyebabkan sebagian sejarawan menganggap Musa Ibn Nusair sebagai penakluk yang sesungguhnya atas Afrika Utara.
Satu hal perlu dikemukakan bahwa seluruh pemberontakan yang terjadi di Afrika Utara dilakukan oleh orang-orang Barbar dan kaum Khawarij. Tidak diketahui bagaimana faham Khorijiah masuk ke daerah itu dan kemudian menyebar disana. Yang pasti semangat egalitarian dan karakter oposisinya terhadap pemerintahan Bani Umayyah telah mereflesikan aspirasi orang-orang Barbar.
Oleh karena itu, dapat diduga bahwa kesamaan aspirasi itulah yang menyebabkan faham keagamaan tersebut mudah diterima oleh orang-orang Barbar, bahkan kira-kira pada tahun 132 H/750 M, hampir seluruh orang Afrika Utara menganut faham ini.
Adapun proses masuknya Islam ke Andalusia terjadi pada masa Khalifah al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum dikalahkan dan kemudian di kuasai Islam dikawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan islam sesudah kawasan ini betul-betul sudah dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Andalusia. Dengan demikian, Afrika utara menjadi batu loncatan bagi kaum Muslimin dalam penaklukan wilayah Andalusia.6.
Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tarif Ibn Malik, Tariq Bin Ibn Ziyad dan Musa Ibn Nushair. Tarif dapat dikatakan sebagai perintis dan penyelidik. Yang menyeberangi selat yang ada diantara selat Marokko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang telah disediakan oleh Julian.7 Dalam penyerbuan itu tarif tidak mendapatkan perlawanan yang berarti ia kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilah Tarif dan kemelut yang terjadi dalam kerajaaan Gothik serta didorong untuk memperoleh harta rampasan perang Musa Ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Andalusia sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad8.
Thariq Ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid.
Pasukan Tariq dapat menaklukan kota-kota penting seperti cordova, Granada, dan Toledo (Ibu kota kerajaan Gothia).
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq Ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa Ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu masukan yang besar ia berangkat saat itu menyebrangi selat Gibraltar dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukan musa dapat menaklukan Sidonia, Carmona, Sevile, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothia, Theodomir di Orihuela. Kemudian ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh umat islam nampak begitu mudah hal itu tidak dipisahkan dari adanya faktor Eksternal dan Internal yang menguntungkan. Yang dimaksud dengan faktor Eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam negeri spanyol sendiri pada masa penaklukan Andalusia oleh orang-orang islam kondisi social, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Secara politik wilayah Andalusia terkoyak-koyak dan terbagi-bagi dalam beberapa Negara kecil.
Didalam suatu kondisi seperti itu kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam.
Buruknya kondisi social, ekonomi dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan raja Roderick, raja Gothia terakhir yang dikalahkan islam.
Adapun yang dimaksud faktor Internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Andalusia. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, dan penuh percaya diri.
Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukan oleh tentara Islam yaitu toleransi persaudaraan, dan gotong royong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Andalusia menyambut kehadiran islam disana9.
Pada periode awal pemerintahan Islam di Andalusia pemerintahan dijabat oleh para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah di Damaskus pada periode ini stabilitas politik belum tercapai secara sempurna sering terjadi gangguan dari dalam maupun dari luar.gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifan di Damaskus dan Gubernur di Afrika Utara yang berpusat di Kairawan, oleh karena itu terjadi dua puluh kali pergantian wali dalam kurun waktu yang amat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintah islam.
Sharif-uddin (atau Sharif-iddin) Khalifa, adalahAnak ajaib, lahir di Arusha, di bagian utara Tanzania (sebuah negara di Afrika Timur), pada bulan Desember 1993. Muslim hanya sebagian kecil di Tanzania dan berbahasa Arab bukan asli di Tanzania. Orang tuanya adalah orang Kristen Katolik. Bahasa asli mereka adalah Swahili dan mereka tidak tahu bahasa Arab. Ketika ia masih kecil, orang tuanya (yang Kristen) menyadari bahwa ia mampu membaca seluruh Quran dengan hati, meskipun tubuh tidak pernah mengajarinya untuk melakukannya. Pada usia dua bulan, ia menolak untuk menyusu susu ibunya.
Pada usia empat bulan, ia mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Pada saat ia berusia satu tahun, ia mampu membaca seluruh Quran dan melanjutkan untuk dapat berkhotbah dalam bahasa Arab, Swahili dan Perancis tanpa pendidikan formal.
Hal ini melaporkan bahwa kata-kata pertamanya adalah: "Anda orang bertobat dan Anda akan diterima oleh Allah" dan ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab. Orang tua yang bersangkutan awalnya mengira ia kerasukan setan dan disebut pendeta Kristen untuk berdoa bagi bayi. Akhirnya, tetangga Muslim mampu menafsirkan pidato asing Sharif. Setelah orang tuanya diakui bahwa pentingnya apa yang anak mereka katakan dan bahwa ia adalah keajaiban dari Tuhan, orang tuanya masuk Islam. Selanjutnya, meskipun fakta bahwa ia adalah dari Tanzania, ia berbicara bahasa Arab dengan lancar selain 4 bahasa lain (Inggris, Perancis, Italia, dan Swahili) Dia mampu mengambil bahasa yang sangat cepat, ia pernah berkata: "Saya pergi ke Kongo dan orang mendengar berbicara Lingala (bahasa lokal) saya langsung. bisa mulai berbicara itu. " Hari ini, dia memberikan khotbah dan ceramah di Afrika dan Eropa yang menarik ribuan orang untuk mendengarkan dia.Karena anak ini, ribuan orang telah masuk Islam. Berikut ini adalah artikel tentang dirinya yang dimuat di sebuah surat kabar Skotlandia pada Agustus 8,1999: BOY, 5, Converts 1,000+ To Islam Full Version Pt 1/4
BOY, 5, Converts 1,000+ To Islam Full Version Pt 2/4 BOY, 5, BOY, 5, Converts 1,000+ To Islam Full Version Pt 3/4 BOY, 5, BOY, 5, Converts 1,000+ To Islam Full Version Pt 4/4 BOY, 5,