Mei 2015

Voice Of Muslim - BANDA ACEH – Ketua DPD Gerindra Aceh T.A Khalid menyerahkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di Posko Tidar Aceh Peduli, bantuan yang disumbangkan tersebut diterima ketua PD Tidar Aceh Agussalim CH, di Banda Aceh Sabtu 23 Mei 2015

T.A Khalid menyatakan, bantuan dalam bentuk sembako, mie instant dan pakaian layak pakai yang disumbangkanya tersebut, diserahkan sebagai bentuk kecintaan dan rasa kemanusian yang besar kepada muslim Rohingya yang datang untuk “Peusiblah Tuboeh” ( menghidari diri dari kekejaman) Junta militer Nyanmar ke tanoeh Aceh, yang mana masyarakatnya memang dikenal mempunyai kepedulian yang besar dan ukhuwah yang kuat apalagi sesama Muslim.

“Sumbangan dari kami ini adalah merupakan tali penyambung persaudaraan kita dengan Muslim Rohingya, yang dengan keterpaksaan mereka mengarung laut menghindar dari dari kekejaman yang tak manusiawi di negara asal mereka” Kata T.A Khalid

Dalam kesempatan ini, T.A Khalid juga mendesak pemerintah Indonesia, untuk menunjukan aksi nyatanya membantu pengungsi Rohingya. ” Kita mendesak pemerintah Indonesia menujukan simpatinya kepada mereka, apabila kondisi di negara Nyanmar tidak kondusif dalam memperlakukan suku Rohingya ini, lebih baik mereka tinggal disini selama lamanya, dari pada mereka di perlakukan kejam di negeri asalnya” Tambahnya.

Katanya lagi, saatnya pemerintah Indonesia menunjukan aksi nyatanya memainkan peran poliknya sebangai bangsa yang besar pendiri Asean, bukan hanya berkoar koar dimedia.
Ditempat yang sama, anggota DPRA dari Gerindra Kartini Ibrahim juga mendonasikan sumbanganya melalui Posko organisasi sayap Partai Gerindra tersebut, yang berharap sumbangannya ini bisa dipergunakan dengan baik, terutama untuk Perempuan dan Anak anak yang memang perlu perlakuan yang lebih dari laki laki.

Sementara itu, ketua PD Tidar Aceh  Agussalami, mengucapkan  terima kasih atas sumbangan masyarakat yang sudah di amanahkan kepada mereka dan ditambahkannya lagi, semua sumbangan ini akan diantarkan ke titik pengungsian yang ada di Aceh Utara dan Langsa.
“Banyak  sumbangan yang di amanahkan ke Tidar Aceh dan kebanyakan sumbangan yang kita terima adalah dari kader Tidar dan Gerindra serta masyarakat Aceh, bahkan dari luar Aceh juga banyak menitipkan donasinya kepada kami” tambah Agussalim. (Tarmizi)

10.03 ,
Voice Of Muslim - Munculnya kisah tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah Myanmar, Burma, adalah gambaran sebuah kisah yang sangat menyedihkan, kisah suatu kaum yang seharusnya mendapatkan hak untuk hidup layak, tetapi malah diperlakukan dengan tidak semena-mena. Kebiadaban biksu Ahsin Wirathu yang mengusir etnis Rohingya dari Myanmar sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Terlebih, dirinya sering bersuara untuk mengajak pengikutnya agar memerangi kaum minoritas yang beragama Islam. Untuk diketahui jika kelompok etnis Rohingya merupakan kaum keturunan etnis Bengali, lebih spesifiknya dari sub-etnis ‘Chittagonia’ yang mayoritas tinggal di Bangladesh bagian tenggara. Adapun bangsa Burma sendiri adalah berasal dari rumpun ‘Thai-Kadal’, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan.
Namun, permasalahan di Burma memiliki kebijakan yang berbeda, suku Rohingya tidak diakui sama sekali sebagai bagian dari masyarakat Burma, bahkan, bila perlu mereka harus diusir atau seperti yang terjadi saat ini, dibantai sebagian, agar sebagian yang lainnya dapat mengungsi karena ketakutan.
Artinya, etnis Rohingya ini, semenjak negara Burma merdeka di tahun 1942 dari pemerintahan kolonial Inggris, telah dianggap sebagai imigran gelap. Padahal, pada kenyataannya eksistensi mereka sudah ada berabad-abad sebelum Burma merdeka.
Penderitaan seperti ini kerap berangsur-angsur setiap tahunnya. Sementara itu, Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengatakan, dengan adanya masalah Rohingya adalah timbulnya gemuruh dalam Hak Asasi Manusia (HAM).
“Saat ini kita sudah tidak lagi melihat masalah ini sebagai lingkup nasional, tetapi juga masalah regional dan internasional yang tersambung satu sama lain. Persoalan manusia sejatinya tidak boleh dibatasi sekat-sekat administrasi teritori,” tuturnya melalui pesan singkat, Sabtu (23/5).
Lebih lanjut, Maneger khawatir jika permasalahan itu berdampak secara domino pada negara-negara tetangga khususnya Indonesia yang dahulu sempat dimayoritaskan umat Buddha. Adapun peranan Pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik etnis.
Sebelumnya, Wajah Ashin menghias cover depan majalah Time, dan diberi judul ’The Face of Buddhist Terror’. Majalah terkemuka asal Amerika Serikat (AS) juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.
Dalam kutipanya di Time, Rabu (20/5) lalu, Ashin menyatakan jika ‘Sekarang bukan saatnya untuk diam’ Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.
Sosok Ashin itu tak hanya menarik minat Timesaja, the Washington Post juga menyorot sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin dalam pergerakan pembantaian Rohingya. “Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila!” papar Ashin.
Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada etnis Muslim Rohingya. Perawakannya yang tenang, pakaiannya yang sederhana, seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya. Ashin pria berkepala plontos pun tak segan-segan dengan keji menghabiskan nyawa manusia yang tak berdosa.  (Rol)

Voice Of Muslim - Pengungsi Rohingnya asal Myanmar yang ditolak tiga negara ASEAN terpaksa meminum air kencing sendiri dalam upaya bertahan hidup. "Kami melihat ada orang yang minum air kencing mereka sendiri dari botol. Kami sudah melemparkan botol air untuk mereka, segala sesuatu yang kami punya di kapal," kata Jonathan Head, wartawan BBC, seperti yang dilansir Independent, Kamis, 14 Mei 2015.
Selain itu, setidaknya sepuluh pengungsi tewas akibat kelaparan dan kehausan di perahu nelayan yang telah terkatung-katung selama seminggu terakhir di Laut Andaman, yang terletak di antara Myanmar selatan dan Thailand barat. Seorang muslim Rohingya mengatakan mayat-mayat orang-orang yang meninggal dibuang ke laut.

Diperkirakan 6.000 pengungsi asal Myanmar berada di tengah laut akibat ditolak berlindung di negara-negara di ASEAN. Menurut laporan, lebih dari 120 ribu warga minoritas muslim Myanmar tersebut telah naik perahu ke negara-negara lain dalam upaya melarikan diri dari Myanmar.

Meski PBB dan badan-badan bantuan telah menyerukan pihak berwenang di Thailand, Indonesia, dan Malaysia untuk menyelamatkan para pengungsi itu, mereka tampak tidak mau mengambil para pengungsi. Sebelumnya, TNI Angkatan Laut memberi bantuan makanan dan air bersih serta membiarkan perahu kayu yang ditumpangi muslim Rohingya melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Wan Junaidi Jaafar mengatakan sekitar 500 orang berada di kapal yang ditemukan pada Rabu, 13 Mei 2015, di lepas pantai utara Penang. Setelah diberi beberapa perlengkapan, mereka diminta meninggalkan perairan Malaysia. "Apa yang Anda harapkan untuk kami lakukan," ucap Junaidi.

Junaidi menuturkan pemerintahnya sudah berbaik hati terhadap para pengungsi tersebut. "Kami sudah sangat baik untuk orang-orang yang masuk ke perbatasan negara kami. Kami telah memperlakukan mereka secara manusiawi, tapi mereka tidak dapat membanjiri pantai kami dengan cara seperti ini," ujarnya.

Perdana Menteri Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha mengatakan, "Jika kami membawa mereka semua ke dalam negara kami, siapa saja yang ingin datang akan datang dengan bebas. Saya menanyakan, apakah Thailand mampu merawat mereka semua? Lantas dari mana anggarannya?"

Matthew Smith, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia nirlaba Fortify Hak, menyatakan, "Ini adalah krisis kemanusiaan serius yang menuntut tanggapan segera."

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget