Latest Post

Voice Of Muslim - BANDA ACEH – Ketua DPD Gerindra Aceh T.A Khalid menyerahkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di Posko Tidar Aceh Peduli, bantuan yang disumbangkan tersebut diterima ketua PD Tidar Aceh Agussalim CH, di Banda Aceh Sabtu 23 Mei 2015

T.A Khalid menyatakan, bantuan dalam bentuk sembako, mie instant dan pakaian layak pakai yang disumbangkanya tersebut, diserahkan sebagai bentuk kecintaan dan rasa kemanusian yang besar kepada muslim Rohingya yang datang untuk “Peusiblah Tuboeh” ( menghidari diri dari kekejaman) Junta militer Nyanmar ke tanoeh Aceh, yang mana masyarakatnya memang dikenal mempunyai kepedulian yang besar dan ukhuwah yang kuat apalagi sesama Muslim.

“Sumbangan dari kami ini adalah merupakan tali penyambung persaudaraan kita dengan Muslim Rohingya, yang dengan keterpaksaan mereka mengarung laut menghindar dari dari kekejaman yang tak manusiawi di negara asal mereka” Kata T.A Khalid

Dalam kesempatan ini, T.A Khalid juga mendesak pemerintah Indonesia, untuk menunjukan aksi nyatanya membantu pengungsi Rohingya. ” Kita mendesak pemerintah Indonesia menujukan simpatinya kepada mereka, apabila kondisi di negara Nyanmar tidak kondusif dalam memperlakukan suku Rohingya ini, lebih baik mereka tinggal disini selama lamanya, dari pada mereka di perlakukan kejam di negeri asalnya” Tambahnya.

Katanya lagi, saatnya pemerintah Indonesia menunjukan aksi nyatanya memainkan peran poliknya sebangai bangsa yang besar pendiri Asean, bukan hanya berkoar koar dimedia.
Ditempat yang sama, anggota DPRA dari Gerindra Kartini Ibrahim juga mendonasikan sumbanganya melalui Posko organisasi sayap Partai Gerindra tersebut, yang berharap sumbangannya ini bisa dipergunakan dengan baik, terutama untuk Perempuan dan Anak anak yang memang perlu perlakuan yang lebih dari laki laki.

Sementara itu, ketua PD Tidar Aceh  Agussalami, mengucapkan  terima kasih atas sumbangan masyarakat yang sudah di amanahkan kepada mereka dan ditambahkannya lagi, semua sumbangan ini akan diantarkan ke titik pengungsian yang ada di Aceh Utara dan Langsa.
“Banyak  sumbangan yang di amanahkan ke Tidar Aceh dan kebanyakan sumbangan yang kita terima adalah dari kader Tidar dan Gerindra serta masyarakat Aceh, bahkan dari luar Aceh juga banyak menitipkan donasinya kepada kami” tambah Agussalim. (Tarmizi)

10.03 ,
Voice Of Muslim - Munculnya kisah tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah Myanmar, Burma, adalah gambaran sebuah kisah yang sangat menyedihkan, kisah suatu kaum yang seharusnya mendapatkan hak untuk hidup layak, tetapi malah diperlakukan dengan tidak semena-mena. Kebiadaban biksu Ahsin Wirathu yang mengusir etnis Rohingya dari Myanmar sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Terlebih, dirinya sering bersuara untuk mengajak pengikutnya agar memerangi kaum minoritas yang beragama Islam. Untuk diketahui jika kelompok etnis Rohingya merupakan kaum keturunan etnis Bengali, lebih spesifiknya dari sub-etnis ‘Chittagonia’ yang mayoritas tinggal di Bangladesh bagian tenggara. Adapun bangsa Burma sendiri adalah berasal dari rumpun ‘Thai-Kadal’, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan.
Namun, permasalahan di Burma memiliki kebijakan yang berbeda, suku Rohingya tidak diakui sama sekali sebagai bagian dari masyarakat Burma, bahkan, bila perlu mereka harus diusir atau seperti yang terjadi saat ini, dibantai sebagian, agar sebagian yang lainnya dapat mengungsi karena ketakutan.
Artinya, etnis Rohingya ini, semenjak negara Burma merdeka di tahun 1942 dari pemerintahan kolonial Inggris, telah dianggap sebagai imigran gelap. Padahal, pada kenyataannya eksistensi mereka sudah ada berabad-abad sebelum Burma merdeka.
Penderitaan seperti ini kerap berangsur-angsur setiap tahunnya. Sementara itu, Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengatakan, dengan adanya masalah Rohingya adalah timbulnya gemuruh dalam Hak Asasi Manusia (HAM).
“Saat ini kita sudah tidak lagi melihat masalah ini sebagai lingkup nasional, tetapi juga masalah regional dan internasional yang tersambung satu sama lain. Persoalan manusia sejatinya tidak boleh dibatasi sekat-sekat administrasi teritori,” tuturnya melalui pesan singkat, Sabtu (23/5).
Lebih lanjut, Maneger khawatir jika permasalahan itu berdampak secara domino pada negara-negara tetangga khususnya Indonesia yang dahulu sempat dimayoritaskan umat Buddha. Adapun peranan Pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik etnis.
Sebelumnya, Wajah Ashin menghias cover depan majalah Time, dan diberi judul ’The Face of Buddhist Terror’. Majalah terkemuka asal Amerika Serikat (AS) juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.
Dalam kutipanya di Time, Rabu (20/5) lalu, Ashin menyatakan jika ‘Sekarang bukan saatnya untuk diam’ Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.
Sosok Ashin itu tak hanya menarik minat Timesaja, the Washington Post juga menyorot sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin dalam pergerakan pembantaian Rohingya. “Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila!” papar Ashin.
Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada etnis Muslim Rohingya. Perawakannya yang tenang, pakaiannya yang sederhana, seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya. Ashin pria berkepala plontos pun tak segan-segan dengan keji menghabiskan nyawa manusia yang tak berdosa.  (Rol)

Voice Of Muslim - Pengungsi Rohingnya asal Myanmar yang ditolak tiga negara ASEAN terpaksa meminum air kencing sendiri dalam upaya bertahan hidup. "Kami melihat ada orang yang minum air kencing mereka sendiri dari botol. Kami sudah melemparkan botol air untuk mereka, segala sesuatu yang kami punya di kapal," kata Jonathan Head, wartawan BBC, seperti yang dilansir Independent, Kamis, 14 Mei 2015.
Selain itu, setidaknya sepuluh pengungsi tewas akibat kelaparan dan kehausan di perahu nelayan yang telah terkatung-katung selama seminggu terakhir di Laut Andaman, yang terletak di antara Myanmar selatan dan Thailand barat. Seorang muslim Rohingya mengatakan mayat-mayat orang-orang yang meninggal dibuang ke laut.

Diperkirakan 6.000 pengungsi asal Myanmar berada di tengah laut akibat ditolak berlindung di negara-negara di ASEAN. Menurut laporan, lebih dari 120 ribu warga minoritas muslim Myanmar tersebut telah naik perahu ke negara-negara lain dalam upaya melarikan diri dari Myanmar.

Meski PBB dan badan-badan bantuan telah menyerukan pihak berwenang di Thailand, Indonesia, dan Malaysia untuk menyelamatkan para pengungsi itu, mereka tampak tidak mau mengambil para pengungsi. Sebelumnya, TNI Angkatan Laut memberi bantuan makanan dan air bersih serta membiarkan perahu kayu yang ditumpangi muslim Rohingya melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Wan Junaidi Jaafar mengatakan sekitar 500 orang berada di kapal yang ditemukan pada Rabu, 13 Mei 2015, di lepas pantai utara Penang. Setelah diberi beberapa perlengkapan, mereka diminta meninggalkan perairan Malaysia. "Apa yang Anda harapkan untuk kami lakukan," ucap Junaidi.

Junaidi menuturkan pemerintahnya sudah berbaik hati terhadap para pengungsi tersebut. "Kami sudah sangat baik untuk orang-orang yang masuk ke perbatasan negara kami. Kami telah memperlakukan mereka secara manusiawi, tapi mereka tidak dapat membanjiri pantai kami dengan cara seperti ini," ujarnya.

Perdana Menteri Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha mengatakan, "Jika kami membawa mereka semua ke dalam negara kami, siapa saja yang ingin datang akan datang dengan bebas. Saya menanyakan, apakah Thailand mampu merawat mereka semua? Lantas dari mana anggarannya?"

Matthew Smith, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia nirlaba Fortify Hak, menyatakan, "Ini adalah krisis kemanusiaan serius yang menuntut tanggapan segera."

21.22
Voice Of Muslim - Barangkali banyak muslimah yang sekarang tidak tahu bahwa pada tahun 1970-1980an, jilbab pernah menjadi sesuatu yang haram keberadaannya di ruang publik, terutama di sekolah-sekolah. Pemerintah Orde Baru pernah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang mengatur bentuk dan pemakaian seragam bagi siswa di sekolah-sekolah negeri. Sebelum keluarnya SK tersebut, peraturan seragam sekolah ditetapkan oleh masing-masing sekolah negeri secara terpisah. Dengan adanya SK tersebut, maka peraturan seragam sekolah menjadi bersifat nasional dan diatur langsung oleh Departemen P & K (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

SK tersebut dapat dikatakan tidak mengakomodir kemungkinan untuk menggunakan seragam sekolah dalam bentuk lain sehingga berbenturan dengan keinginan beberapa siswi di sekolah-sekolah negeri yang ingin mengenakan jilbab. Pasca keluarnya SK tersebut, banyak siswi-siswi berjilbab yang memperoleh teguran, pelarangan, dan tekanan dari pihak sekolah. Siswi yang bersikeras untuk tetap mengenakan jilbab di lingkungan sekolah, pada akhirnya dikeluarkan dari sekolah negeri tempat mereka belajar dan pindah ke sekolah swasta.
Kasus jilbab yang pertama sejak keluarnya SK 052 adalah tekanan guru olah raga SMAN 3 Bandung terhadap delapan siswinya agar mereka melepaskan kerudung. Sejak itu, kasus-kasus jilbab di berbagai sekolah negeri lainnya segera bermunculan. Semakin lama semakin banyak siswi yang mengalami konflik dengan sekolah karena jilbab yang dikenakannya. Hal ini menimbulkan reaksi dari beberapa ormas Islam, terutama Pelajar Islam Indonesia (PII), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI mewakili lembaga-lembaga Islam lainnya, melakukan advokasi kepada Departemen P&K agar bersedia meninjau ulang kebijakan departemennya mengenai peraturan seragam sekolah tersebut.

Pada kurun waktu 1984/1985, Serial Media Dakwah menyebutkan bahwa 300 pelajar putri sekolah menengah negeri di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan, Surabaya, dan Sumenep, terpaksa pindah sekolah karena masalah kerudung ini. Hanya di Sumatera Barat dan Aceh jilbab tetap diperkenankan. Pada tahun 1988-1991, kasus jilbab juga mulai masuk ke ranah pengadilan, di antaranya SMA N 1 Bogor dan SMA N 68 Jakarta.[1] Kasus jilbab ini menarik perhatian berbagai media massa, di antaranya majalah Panji Masyarakat, Serial Media Dakwah, Editor, Tempo, Hai, Harian Terbit, Jayakarta, Pelita, Kompas, dan Pos Kota. Media-media massa ini menampilkan komentar masyarakat dan tokoh yang umumnya menyatakan keprihatinan mereka terhadap kasus yang menimpa siswi-siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri.

Bersamaan dengan memanasnya konflik jilbab di sekolah-sekolah negeri, kasus jilbab juga ikut merembet ke wilayah-wilayah lain. Di Tegal, sempat terjadi kasus penelanjangan gadis berjilbab oleh petugas keamanan sebuah toserba karena gadis tersebut dicurigai mencuri permen seharga Rp 160,00. Yang lebih ramai lagi adalah kabar tentang wanita berjilbab menebarkan racun di pasar-pasar. Isu ini sempat menyebabkan seorang ibu berjilbab nyaris meninggal dunia akibat dihakimi massa karena ia diteriaki sebagai penebar racun.

Akhirnya, pada tanggal 16 Februari 1991, SK seragam sekolah yang baru, yaitu SK 100/C/Kep/D/1991, ditandatangani secara resmi, setelah melalui konsultasi dengan banyak pihak. Hal ini disambut gembira oleh siswi-siswi berjilbab serta masyarakat yang bersimpati pada perjuangan mereka. Pada SK yang baru ini, keinginan para siswi berjilbab sudah diakomodir, lengkap dengan contoh gambar pakaiannya. Meskipun, istilah yang digunakan pada SK tersebut tetap ”seragam khas”, bukan jilbab.

Walaupun kewajiban untuk berjilbab telah tertera dengan sangat jelas dalam Al Qur’an (QS An Nur: 31 dan Al Ahzab: 59), namun kenyataan itulah yang terjadi pada tahun-tahun tersebut. Jilbab menjadi suatu identitas yang diharamkan keberadaannya di ruang publik. Para muslimah yang ingin memakai jilbab harus menghadapi tekanan dari aparat keamanan dan pemerintah. Mereka dituduh menyebarkan aliran sesat, mengikuti golongan tertentu, atau melawan kebijakan pemerintah. Pahitnya keadaan pada masa itu menjadikan para muslimah berjilbab benar-benar teruji kualitas dan militansinya. Muslimah yang masih ragu dengan jilbab atau belum kuat keislamannya, tidak akan berani mengenakan jilbab.

Sesuatu yang telah menjadi jamak seringkali justru diiringi dengan penurunan kualitas. Hal itu terjadi dalam banyak hal. Pendidikan, misalnya. Ketika akses pendidikan masih sulit dan hanya golongan terbatas saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi, sarjana-sarjana yang dihasilkan adalah sarjana yang berkualitas. Namun sekarang, ketika pendidikan tinggi telah terbuka bagi semua kalangan, berkat berbagai beasiswa dan juga semakin banyaknya perguruan tinggi yang lahir, kualitas sarjana yang dihasilkan tampaknya tidak lebih baik daripada dulu. Bahkan, ada kesan justru menurun. Banyak sarjana-sarjana yang melacurkan ilmu demi mencari kesenangan sendiri, tidak peka terhadap kondisi sosial, berpikir pragmatis, dan sebagainya.

Demikian juga kalau melihat dalam sejarah umat Islam. Pada masa-masa awal dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam, hanya sekelompok orang saja yang mengikut ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Namun, mereka adalah orang-orang terpilih yang benar-benar komitmen terhadap keislamannya. Mereka berani mempertaruhkan nyawa demi membela Islam. Sementara sekarang, banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi keislaman mereka bukannya membuat Islam semakin berjaya. Seperti sabda Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadits, umat Islam banyak tapi banyaknya seperti buih di lautan.

Tak terkecuali dalam hal berjilbab. Pada era 70-80an, muslimah berjilbab karena mereka menyadari perlunya jilbab sebagai penutup aurat. Muslimah yang berjilbab pada masa itu benar-benar mempertaruhkan sekolah, karier, bahkan keselamatannya demi mempertahankan keyakinannya mengenakan jilbab. Sekarang, banyak orang berjilbab tapi melupakan fungsi jilbab yang sebenarnya. Jilbab dikenakan hanya sekedar untuk mengikuti mode. Tak sampai berselang dua dekade sejak izin pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dikeluarkan pada tahun 1991, jilbab menjamur di mana-mana. Tren jilbab merebak di kalangan wanita-wanita muda, mulai dari pelajar, karyawan, pegawai negeri, para eksekutif, hingga artis. Model, warna, dan bahan kain jilbab yang dikenakan pun beraneka ragam. Selain itu, gejala yang tak kalah menarik adalah munculnya komunitas-komunitas Hijabers yang beranggotakan para remaja berjilbab.

Masuknya jilbab di ruang-ruang publik merupakan suatu peningkatan yang harus disyukuri. Namun, bersamaan dengan itu, fenomena yang timbul adalah turunnya pemaknaan muslimah terhadap jilbab. Jilbab hanya dipandang sebagai sehelai kain yang dikenakan untuk mengikuti trend fashion, bukan sebagai penutup aurat dan identitas muslimah. Dalam berjilbab, Islam sudah memberikan aturan-aturan, seperti harus menutup dada, tidak boleh ketat, kainnya tidak terawang, dan sebagainya. Ketika sekarang jilbab hanya difungsikan sebagai fashion, banyak ketentuan-ketentuan tersebut yang diabaikan oleh pemakainya. Yang lebih dipikirkan bukan lagi, ‘apakah jilbab ini sudah menutup dada dan tidak transparan’, tetapi ‘apakah jilbab ini serasi dengan baju dan mengikuti model jilbab yang tengah berkembang’. Di sisi lain, orang-orang yang memakai jilbab dengan benar –tapi tidak mengikuti mode- justru dipandang sebelah mata atau diidentikkan dengan golongan tertentu.

Jilbab adalah identitas keislaman seorang muslimah. Jilbab adalah kewajiban bagi seluruh muslimah yang Allah sampaikan dalam Al Qur’an. Jilbab bukan sekedar kain penutup kepala atau perwakilan dari gejala sosiokultural dalam masyarakat. Jilbab juga bukan sekedar objek penelitian antropologi tentang bagaimana suatu masyarakat berbusana. Perkembangan jilbab dari yang semula diharamkan hingga menjadi sesuatu yang lumrah di ruang publik hanya dalam waktu kurang dari dua puluh tahun menarik untuk dicermati. Terlebih, perkembangan ini juga diiringi dengan perubahan makna jilbab, dari yang semula merupakan penutup aurat yang disyariatkan Islam sampai akhirnya menjadi mode fashion. Realita ini tidak bisa dipandang hanya sebagai dinamika sosial semata, tetapi perlu menjadi sebuah perenungan, terutama bagi para muslimah di Indonesia. Bagaimana seharusnya muslimah mengartikan sehelai kain bernama jilbab?

Oleh: Kabul Astuti (Mahasiswi Pascasarjana Program Magister Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Voice Of Muslim - Amerika  - Sebanyak 24 karyawan Muslim dari perusahaan jasa ekspedisi DHL terpaksa harus kehilangan pekerjaan mereka di Hebron Amerika Serikat karena melakukan aktivitas shalat.
Insiden pemecatan ini terjadi pada tanggal 9 Oktober lalu setelah supervisor DHL menerapkan kebijakan waktu istirahat yang tidak memungkinkan karyawan Muslim untuk beribadah. Hal ini memicu protes karyawan Muslim.

Sedikitnya 11 pengaduan diajukan kepada komisi kesetaraan kerja AS yang menyatakan bahwa DHL Global Mail telah melanggar hak keagamaan para karyawan Muslim yang sebenarnya dilindungi secara hukum.

Kelompok hak sipil Muslim AS, CAIR lewat pengacaranya Booker Washington mengatakan, “Kami meminta semua upaya hukum yang diperbolehkan menurut Bab VII (Undang-Undang Hak Sipil federal 1964) serta Undang-undang Hak Sipil Kentucky, dan meminta adanya kepastian bahwa hak-hak sipil semua pekerja dihormati.”

Voice Of Muslim - Kaum Muslim seluruh dunia biasanya merayakan Idul Adha dengan bersuk acita, menikmati makanan yang enak serta menyantap daging kurban.   Akan tetapi di belahan yang lain, rakyat Suriah yang sangat kelaparan disuruh makan anjing, kucing dan keledai untuk bertahan hidup di negara yang dilanda perang tersebut.

Seorang Imam di kamp pengungsi Yarmouk ibukota Damaskus menfatwakan bahwa anjing, kucing dan keledai bisa dimakan “dalam keadaan darurat dan toko-toko makanan tidak cukup untuk memberi makan penduduk di bawah pengepungan.” Fatwa tersebut dikeluarkan saat shalat Jumat lalu di kamp Yarmouk yang telah dikepung selama berbulan-bulan oleh pasukan pemerintah Suriah.

Ummat Muslim yang mampu secara finansial diwajibkan untuk mengorbankan satu domba atau kambing atau bergabung dengan enam orang lainnya untuk mengorbankan unta atau sapi sebagai suatu tindakan ibadah selama empat hari perayaan Idul Adha. Idul Adha merupakan ritual memperingati bagaimana keikhlasan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah sebagai tindakan ketaatan dan kepatuhan.  IdulAdha adalah momen dimana Ummat Muslim seharusnya bersuka cita.
Akan tetapi kenyataan menyedihkan terlihat di kamp pengungsian di provinsi Idlib, Suriah utara. Idul Fitri dan Idul Adha dianggap seorang “tamu asing” yang datang ke daerah miskin.

“Sebelum krisis seperti ini kami bisa pergi ke toko dan membeli barang-barang, kami sangat senang,” kata Suad Zein salah satu warga di pengungsian. “Idul Fitri adalah liburan yang indah. Tetapi sekarang saya bahkan tidak bisa membelikan anakku celana, atau sepatu, atau bahkan sepotong roti.”
Suad Zein memiliki delapan anak, dia tidak dapat menafkahi mereka semua.  Mereka hidup dalam keputusasaan.

“Kami tidak punya apa-apa untuk merayakan Idul Adha. Dulu kami merayakan dengan makanan, minuman dan kue.  Sekarang kami tidak punya apa-apa,” kata warga Suriah yang lain dengan putus asa.

Kasus buruk serupa juga terjadi di kamp-kamp pengungsi di luar Suriah.  Di kota pesisir Libanon, Sidon, rasa putus asa sangat terasa di antara pengungsi miskin Suriah. Mereka tidak bisa merayakan lebaran seperti halnya Ummat Islam yang lain.

“Saya tidak ingin meninggalkan rumah,” Fatima bercerita sambil terisak. Fatima (32), ibu dari empat orang yang meninggalkan Aleppo setelah anggota keluarga tewas dan bisnis suaminya hancur oleh perang tahun lalu. Fatima sekarang tinggal di sebuah sekolah yang penuh sesak dengan keluarga Suriah lainnya di kamp pengungsi Ein volatil al- Helweih, pemukiman terbesar Libanon yang dibuat untuk pengungsi Palestina lebih dari 60 tahun yang lalu.

“Saya sangat bersimpati terhadap rakyat Palestina karena mereka hidup dalam kondisi yang buruk, dan saya tahu bahwa kita membuat situasi semakin buruk,” katanya dengan sedih.
Dalam keadaan putus asa dan sangat membutuhkan uang, Fatima terpaksa menjual dua selimut keluarganya seharga 15 dolar.

“Anak-anak saya tidak memiliki sepatu dan aku tidak dapat membelinya. Guru-guru mereka mengatakan bahwa mereka harus datang dengan sepatu yang layak. Anakku secara psikologis telah terkoyak. Dia duduk sendirian di sekolah sementara anak-anak lain bermain bersama . Dia tidak seperti ini sebelumnya. Fatima berharap bahwa ummat Muslim di seluruh dunia bisa melihat bagaimana kesedihan yang menimpa mereka. (M1/haninmazaya/arrahmah.com)

Voice Of Muslim - Jakarta - Muda, cerdas, cantik, enerjik, bertemu berbagai idola dunia dan diidolakan anak muda. Itulah Kristiane Backer pada akhir 1980-an. Saat itu dia berusia 24 tahun dan menjadi VJ MTV pertama di Eropa. Namun di tengah gemerlap dunia dan karier impian anak muda, Kristiane malah merasa hampa dan merindukan hidup jauh yang lebih memberi makna. Dia pun berkelana mencari Tuhan.
 "Sebenarnya Tuhanlah yang menemukan saya. Saya justru mengalami krisis setelah menjadi presenter di MTV Eropa sekitar 2 tahun. Tekanan gaya hidup yang tinggi, bekerja dan berpesta dengan keras sudah saya alami dan saya merasa depresi walaupun mendapatkan pekerjaan impian ini," jelas Kristiane Backer saat berbincang melalui surat elektronik, yang ditulis detikcom Rabu (16/10/2013).

Saat menjadi VJ MTV Eropa, dirinya mewawancarai hampir sebagian besar selebritis idola anak-anak muda di dunia. Bila Anda menjadi remaja yang tumbuh pada kurun 1990-an, sebutkan saja idola Anda waktu itu. Mulai dari Rolling Stone, U2, Lenny Kravitz, Annie Lennox, Prince, Take That dan sederet nama musisi tenar lainnya. Bahkan, Kristiane bersahabat dekat dengan beberapa musisi idola itu.

Kristiane Backer saat menjadi VJ MTV (kristianebacker.com)
Tak cuma menjadi presenter, karena lama disorot oleh MTV yang menjadi trendsetter video klip musik hingga gaya hidup remaja, lama-lama Kristiane ikut menjadi selebriti dan idola. Kristiane menjadi saksi kehidupan musisi yang glamor, pentas dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, dipuja dan dielukan fans namun di waktu lain mendapati kesendirian di kamar hotel, minuman keras dan narkoba menjadi pelarian.

Kristiane menganalogikan kehidupan musisi dunia itu sebagai 'roller coaster emosional', yang dialaminya juga dalam skala yang kecil. Di situlah Kristiane menyadari dirinya mengalami depresi.

 Hingga kemudian, dia bertemu dengan bintang olahragawan kriket asal Pakistan, Imran Khan, yang dinilai Kristiane sebagai sosok yang 'tinggi, berkulit gelap dan tampan' pada tahun 1992. Dari situlah Kristiane sering berdiskusi tentang kehidupan dan maknanya bersama Imran. Kristiane kagum bahwa Imran yang masyhur, sukses, dan kaya, melakukan kerja amal bagi orang miskin di negerinya.

"Iman! Yakinlah pada Tuhan, lalu lakukan perbuatan baik, itu yang selalu dikatakan Alquran," demikian ujar Imran kepada Kristiane.

Kristiane lantas penasaran akan nilai-nilai agama yang dianut Imran, Islam. Kristiane yang lantas menjadi teman dekat Imran berkunjung ke Pakistan. Perjalanan itu, menurut Kristane, menggugah kesadaran spiritualnya.

"Saya dikenalkan kepada Islam bukan oleh imam yang memakai atribut relijius namun oleh bintang olahraga yang ganteng yang juga berproses mencari Tuhan dalam keyakinannya. Dia memberiku buku-buku untuk dibaca, memperkenalkan Islam yang menyentuh saya dengan kemurahan hati dan martabat dalam menghadapi kesulitan," jelas perempuan kelahiran Hamburg, Jerman, 13 Desember 1965 ini.

Saat itu Kristiane juga mengagumi musik sufi dan kesenian Islam saat mengunjungi berbagai negara yang dia kunjungi seperti Maroko, Turki dan Mesir. Mengagumi kisah Nabi Muhammad SAW, dan karya para sufi seperti Jalaluddin Rumi, Abdul Qadir Jailani dan sebagainya. Menurutnya, musik dan segala seni Islam merujuk hanya kepada 'Yang Satu'.

Kendati kemudian tak menjadi teman dekat Imran lagi, namun pencarian Kristiane berlanjut. Seperti dituntun Tuhan, Kristiane bertemu dengan sederet cendekiawan Muslim di London, termasuk diplomat Inggris yang sudah memeluk Islam lebih dulu, Gai Eaton.

Hingga akhirnya Kristiane meneguhkan pencariannya akan Tuhan dalam Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 1995 di London.

"Saya menyadari Islam itu bukan latihan akademis, jika saya ingin merasakan dan membawa Tuhan dalam hidup saya, hanya ada satu cara, bersujud di atas sajadah dan mulai berdoa," kata Kristiane.
Menjadi muslimah yang baik menjadi tantangan Kristiane berikutnya. Salah satunya dengan menjalankan puasa wajib di bulan Ramadan. Kristiane mengatakan fase ini cukup menjadi godaan terberat baginya. Dalam dunianya menjadi VJ MTV, makan enak, minum alkohol dan clubbing lumrah mewarnai.

"Saya sih oke-oke saja dengan spaghetti carbonara dan alkohol hingga Ramadan pertama saya menjadi bencana karena saya clubbing malam sebelumnya dan sangat layu keesokan harinya karena tak boleh makan-minum. Namun Ramadan berikutnya, saya tak lagi minum alkohol. Alhamdulillah," ujar Kristiane saat ditanya godaan terbesarnya pasca menjadi mualaf.

Namun perubahan besar yang dirasakannya, Kristiane kini bisa setiap saat berdialog dengan Tuhan. Melalui salat, puasa dan nilai-nilai kebaikan yang diamalkan.

"Perubahan terbesar yang saya rasakan adalah sekarang saya menjalani kehidupan saya terkait hubungan dengan Tuhan. Saya memiliki waktu berdialog khusus dengan Tuhan. Dan kekosongan yang saya rasakan sebelumnya sekarang diisi dengan Tuhan," tutur Kristiane.

Kristiane mencari guru spiritual dalam pencariannya setelah menjadi mualaf, guru yang mengajarkan agama dalam kebaikan dan kedamaian, alih-alih menyalahkan dan mengutuk. Dia lantas memilih jalan sufi mulai dari membaca buku tasawuf karya Jalaludin Rumi, Al Gazali, Abdul Qadir Jaelani hingga guru spiritual di dunia nyata atas bantuan para sahabatnya. Guru yang sekaligus cendekiawan Islam Inggris itu adalah Dr Martin Lings atau yang juga dikenal sebagai Syaikh Abu Bakar Siraj ad Din di London.

Sosok populer anak muda yang menjadi mualaf pun disorot media Eropa. Kristiane juga sempat kehilangan pekerjaan karena keputusannya menjadi mualaf. Wacana benturan peradaban antara Barat dan Islam pun selalu menjadi bahasan yang ditujukan kepadanya.

Apalagi pada saat tragedi 9/11 di AS pada 2001. Terakhir, kasus penusukan militer Inggris Lee Rigby di jalanan London pada Mei 2013 lalu. Setiap kali ada peristiwa yang menimbulkan Islamofobia, setiap kali itu pula Kristiane berbicara meluruskan keyakinan yang dianutnya.

Apakah dirinya pernah merasa begitu frustasi dan lelah setiap meluruskan pandangan orang kala peristiwa Islamofobia timbul?

"Ya tentu saja saya pernah frustasi dan sedih berkali-kali saat meluruskan tendensi Islamofobia itu," kata Kristiane menjawab detikcom.

Kristiane Backer berkampanye tentang hak-hak perempuan dalam Islam (kristianebacker.com)
 Namun di tengah lelah dan frustasi, dia langsung membuka Alquran. Saat itulah, Kristiane merasakan bimbingan Allah yang berbicara kepadanya melalui ayat-ayat yang sedang dibukanya menjadi jawaban pertanyaan yang akan disampaikannya dengan sabar. Namun tak jarang, bila dia menghadapi orang yang ngeyel dan terus menyerangnya, Kristiane memilih pergi menjauh.

"Saya hanya meninggalkan mereka dan berdoa supaya mereka bisa mengerti dengan lebih baik," kata Kristiane yang telah menunaikan ibadah haji sekitar 10 tahun sejak menjadi mualaf.

Dia juga berlatih mencontoh nilai Islam dan pribadi Nabi Muhammad SAW, membalas perbuatan jahat dengan kebaikan. Kini, dia ingin tetap menjadi jembatan komunikasi dialog lintas agama mewakili Islam.

"Idealnya sih punya TV program sendiri yang ingin saya kembangkan, seperti gaya hidup muslim dan program hiburan. Namun jika hal lain terjadi yang mengizinkan saya melayani kemanusiaan dan Tuhan dalam jalan yang berbeda, saya sudah senang. Saya juga berdoa untuk memiliki pernikahan yang stabil dengan suami yang baik," kata Kristiane yang pernah 2 kali bercerai dari 2 pernikahannya ini.

Pesan damai dan perjalanan spiritualnya itu dia tuangkan dalam buku 'A Thousand Miles of Faith' Perjalanan Seorang VJ MTV Eropa Menemukan Hidayah Islam'. Dengan buku yang di Indonesia diterbitkan oleh Noura Books ini, Kristiane berharap bisa meluruskan citra negatif Islam yang diakibatkan para teroris memanfaatkan orang-orang tak berdosa atas nama Allah menjadi konsumsi media internasional, melalui pengalaman spiritual pribadinya.

"Tujuan saya adalah menyibak tirai itu dan menjelaskan dari pengalaman pribadi saya, bagaimana agama yang telah sangat difitnah ini sangat memberi saya, seorang perempuan Barat yang modern di media, menemukan kedamaian diri, pencerahan dan tujuan hidup. Saya juga ingin menginspirasi orang untuk melihat sisi spiritual mereka, yang seringkali terabaikan," tulis Kristiane.
Kristiane Backer saat meluncurkan bukunya From MTV to Mecca' (kristianebacker.com)
 Suatu saat, Kristiane mengaku ingin datang ke Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kristiane mengirimkan pesan damai agar Islam di Indonesia tidak terpecah antara Sunni dan Syiah.

"Itu berlawanan dengan semangat dan pengajaran Islam untuk melawan yang lain, Muslim lawan Muslim. Itu harus dihentikan segera. Menyedihkan bagi saya melihat umat Islam dunia terpecah-pecah. Kita tidak menyenangkan Tuhan yang menjadi satu-satunya tujuan kita. Mari bekerja bersama dalam kebaikan, kebersamaan, kedamaian, cahaya dan cinta," pesan dia.

Kristiane saat menghadiri Sharjah Book Fair 2012 (kristianebacker.com)

Voice Of Muslim - Pemerintah Iran menegaskan mereka tidak akan membiarkan Barat melancarkan serangannya ke Suriah. Presiden Iran Hassan Rohani mengatakan, Iran akan melakukan segala upaya mencegah agresi militer terhadap rezim Bashar al-Assad yang mereka dukung.

Diberitakan Al-Jazeera yang mengutip Press TV, Kamis 29 Agustus 2013, hal ini disampaikan Rohani pada Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sambungan telepon. Kedua negara ini memang dikenal sebagai pendukung nomor wahid rezim Suriah.

"Aksi militer akan memiliki dampak yang besar terhadap kawasan. Penting sekali untuk menerapkan seluruh upaya untuk mencegahnya," kata Rohani.

Dalam laporan percakapan kedua kepala negara, Rohani mengatakan bahwa Iran dan Rusia sama-sama berupaya agar serangan militer tidak dilakukan. Rohani bahkan menyebut agresi militer terhadap Suriah adalah "pelanggaran terbuka" terhadap hukum internasional.

Barat yang digawangi Amerika Serikat, Inggris dan Prancis sebelumnya menggelontorkan wacana aksi militer. Hal ini juga disampaikan Inggris dalam draft resolusi di Dewan Keamanan PBB yang akhirnya ditolak.

Barat menganggap pihak Assad sudah keterlaluan karena menyerang warga sipil dengan senjata kimia, menewaskan 1.700 orang. Kesimpulan penggunaan senjata kimia ini disampaikan para kepala negara, termasuk Barack Obama.

Rohani mengatakan bahwa Iran juga mengutuk penggunaan senjata kimia. Namun dia menghimbau semua pihak untuk berkepala dingin dan mencari fakta soal digunakannya senjata itu di wilayah Ghouta. Hal serupa disampaikan Rusia saat menolak draft resolusi Inggris di DK PBB.

"Penilaian yang terlalu dini sangat berbahaya, sebelum adanya klarifikasi yang menunjukkan bahwa Suriah benar-benar menggunakan senjata kimia," kata Rohani.


Voice Of Muslim - Seorang gadis remaja muslim Prancis dilaporkan mencoba bunuh diri setelah diserang oleh dua pria dekat Lapangan Berlioz pada 12 Agustus kemarin. Gadis yang tidak diketahui namanya itu mencoba melompat dari lantai empat rumahnya di kota Trappes, Paris, Prancis pada hari Senin 26 Agustus 2013.

Laman Dailymail, Selasa 27 Agustus 2013 melansir motif bunuh diri sesungguhnya remaja berusia 16 tahun itu belum diketahui dengan pasti.

Beruntung dia masih dapat diselamatkan. Remaja itu kemudian dilarikan ke RS terdekat untuk memperoleh pertolongan medis.

Peristiwa itu berawal saat remaja itu diserang oleh dua pria berwajah orang Eropa pada pukul 17.45 waktu setempat. Saat itu dia baru pulang dari rumah temannya. Usai peristiwa itu dia melapor kepada polisi.

Gadis itu menceritakan, kedua pria itu meneriakkan kalimat anti-Muslim dan bernada rasis kepadanya.

Kemudian kedua pria mengeluarkan sebuah pisau cutter yang digunakan untuk membuka cadarnya. Tidak hanya itu, salah satu pria bahkan melakukan pelecehan seksual kepada gadis itu.

"Pria pertama mulai menyentuh dada saya, namun saya berhasil menampar wajahnya. Tidak terima, dia lalu meninju saya di bagian dada," kata gadis itu kepada laman Huffington Post.

Sementara pisau cutter yang digunakan pria lainnya berhasil mengenai wajah dan tenggorokan si gadis. Akibatnya dia mengalami luka.

Kedua pria itu akhirnya kabur dengan menggunakan sebuah mobil, saat seorang warga lain muncul. Polisi di Yveslines saat ini tengah menyelidiki kasus tersebut.

Mereka memeriksa potongan rekaman video CCTV yang ada di sekitar lapangan untuk memperoleh bukti, karena saat peristiwa itu terjadi tidak ada satu pun saksi. Khawatir kasus bunuh diri gadis remaja itu akan kembali memicu konflik dan kemarahan umat Muslim di kota Trappes, maka polisi menyiagakan anggotanya di sekitar kota itu pada Senin malam.

Menurut media Perancis, Le Parisien, aksi bunuh diri gadis itu bukan kali ini saja. Dia juga pernah melakukan upaya bunuh diri pekan lalu dengan menenggak obat-obatan sehingga over dosis.

Aksi kerusuhan sebelumnya pernah terjadi di kota Trappes pada bulan Juli lalu.

Hal itu dipicu aksi polisi yang memaksa untuk memeriksa seorang wanita muslim yang mengenakan cadarnya. Sementara sang suami yang mencoba melarang pemeriksaan itu malah ditahan polisi.

Alhasil, ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor polisi menuntut pembebasan pria tersebut. Unjuk rasa itu berakhir ricuh yang menyebabkan remaja berusia 14 tahun mengalami luka serius di bagian mata.

Sementara empat petugas polisi dilaporkan ikut terluka. Kontroversi mengenai jilbab penutup wajah atau burka terus muncul sejak Pemerintah Perancis memberlakukan larangan penggunaannya tahun 2011 silam.

Bagi wanita yang melanggar, maka dapat dikenai denda senilai 150 Euro atau Rp2,1 juta dan dipaksa mengikuti kelas kewarganegaraan.

Voice Of Muslim - Eskalasi krisis keamanan di Suriah terus meningkat, seiring dengan pernyataan pejabat Amerika Serikat tentang niat negeri adidaya itu untuk melakukan aksi militer terhadap Suriah, Selasa lalu (27/8/2013).



Tapi bagaimana dengan negara-negara lain? Siapa yang mendukung aksi militer AS terhadap Suriah, dan siapa pula yang menentang?





Pendukung

Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry menuding rezim Assad menggunakan senjata kimia untuk menyerang rakyatnya. Kapal-kapal perang Amerika pun telah berada di kawasan Mediterania sehingga spekulasi serangan Amerika ke Suriah terus menguat. Para analis percaya bahwa aksi militer Amerika akan dilakukan dari laut, dan menargetkan penghancuran instalasi-instalasi militer Suriah.

Inggris
Sebagai sekutu utama Amerika, Inggris pun menyatakan dukungannya terhadap aksi militer terhadap Suriah. Alasan utama pembenaran ide serangan militer terhadap Suriah adalah bahwa penggunaan senjata kimia "tidak bisa digunakan secara bebas dan lepas dari hukuman".

Prancis
Prancis adalah negara barat pertama yang mengakui koalisi oposisi Suriah, dan mengakuinya sebagai perwakilan resmi Suriah. Bahkan Prancis melobi agar Uni Eropa boleh menyuplai lebih banyak senjata ke pemberontak yang berniat menjungkalkan rejim Assad.

Turki
Negara ini sudah sejak awal mendukung upaya penggulingan Presiden Bashar al-Assad. Sehari sebelum Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel mengatakan pasukan negaranya siap melancarkan serangan terhadap rezim Suriah atas tuduhan serangan-serangan dengan menggunakan senjata kimia, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menyatakan negaranya siap bergabung dengan koalisi internasional yang ingin menyerang Suriah, bahkan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB sekalipun.

Saudi Arabia

Negara monarki ini secara terang-terangan membiayai dan memasok barisan oposisi sekuler untuk menggulingkan rezim Assad. Bahkan mantan Dubes Saudi untuk Amerika Pangeran Bandar bin Sultan dikabarkan giat menggalang dukungan internasional untuk membantu pasukan oposisi di Suriah.

Israel
Israel telah melancarkan serangan terhadap Suriah, sedikitnya 3 kali pada tahun ini. Pejabat Israel mengutuk penggunaan senjata kimia yang dikabarkan dipakai oleh rezim Assad. Spekulasi serangan militer Amerika terhadap Suriah membuat sipil Israel memborong masker gas.


Penentang

Lebanon
Menteri Luar Negeri Lebanon Adana Mansour menilai aksi militer terhadap Suriah tidak akan memberikan solusi perdamaian bagi kawasan. Di Lebanon, terdapat pengungsi Suriah dengan jumlah terbanyak dibandingkan negara-negara lain. Kalangan Syiah mendukung rezim Assad dengan turut berperang di Suriah, sementara penganut Sunni berperang bersama pasukan oposisi.

Iran
sebagai negara Syiah, Iran adalah negara pendukung utama rezim Assad. Menurut Iran, justru "pemberontaklah" yang menggunakan senjata kimia. Pejabat Iran pun mengingatkan petinggi PBB yang berkunjung ke Teheran bahwa serangan militer terhadap Suriah hanya akan mengakibatkan kerugian sangat serius bagi negeri itu.

Rusia
Dalam hal ini, Rusia lebih menghendaki adanya solusi yang bersifat politis daripada militer. Rusia secara tajam mengkritik ide-ide Barat yang ingin menyerang Suriah. Menurut Rusia, setiap aksi yang dilakukan di luar persetujuan Dewan Keamanan PBB akan menimbulkan kehancuran yang luar biasa bagi negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara.

China
Seperti halnya Rusia, China juga menolak ide serangan militer terhadap Suriah di Dewan Keamanan PBB. Kantor Berita Xinhua menyebutkan bahwa kekuatan negara Barat terlalu terburu-buru membuat kesimpulan tentang siapa yang sebenarnya menggunakan senjata kimia di negeri itu, karena tim investigasi dari PBB pun belum rampung menyelesaikan inspeksinya.

sumber: antara

Voice Of Muslim - Mengenakan jaket loreng, celana kargo khaki, dan bersepatu boot, beberapa wanita ini tidak kenal takut. Menyandang senapan pemburu, dia siap meledakkan kepala-kepala tentara pembantaian suruhan rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Para penembak jitu ini seakan menentang anggapan umum: Wanita jangan dekat-dekat medan perang. Bertindak sebagai penembak jitu alias sniper. Para wanita ini menjadi andalan pemberontak di beberapa kota di Suriah itu untuk membunuh para tentara Assad.

Tugas ini, ujarnya, membutuhkan kesabaran, kecepatan dan kecerdasan. Dia mengaku harus duduk berjam-jam menunggu warga sipil menyingkir dari jalan dan tentara Suriah masuk dalam kekerannya. Masuk dalam jangkauan tembak, pelatuk ditarik, beberapa tentara tertembus peluru.

PBB mencatat, lebih dari dua tahun konflik Suriah berlangsung, korban tewas melampaui 60.000 orang. Bashar al-Assad bersikeras tidak akan turun tahta dan tetap menggempur warga sipil, dengan dalih mencari pemberontak. Sementara itu upaya komunitas internasional juga belum membuahkan hasil.

Berikut salah satu kisah Guevara, Sniper Wanita di Medan Perang Suriah.

"Guevara", wanita di kota Aleppo, mengambil nama tokoh revolusi Argentina, bekas guru bahasa Inggris ini sering bertempur bersama dengan sekitar 30 orang pria menghadapi tentara yang beringas.
Dia tergerak turun ke medan juang setelah dua anaknya yang berusia 10 dan tujuh tahun tewas terbunuh beberapa bulan lalu. Saat itu, rumahnya digempur jet tempur pemerintah Suriah. Guevara ingin menuntut balas.

Dia mengatakan, sangat ingin membunuh para tentara Suriah di kotanya. "Saya suka berperang. Ketika saya melihat teman saya di katiba (salah satu divisi pemberontak) terbunuh, saya ingin mengambil senjata dan balas dendam," kata Guevara


 Posnya adalah di berbagai gedung yang telah kosong di Aleppo. Dengan senapan di tangan dan mata setajam elang, Guevara membidik calon korbannya.

Guevara mengatakan dia telah menembak sedikitnya empat atau lima orang tentara. "Ini membuat kami senang. Ketika tembakan saya mengenai salah satu dari mereka, saya teriak 'Yes!'," kata dia.

Wanita cantik ini berasal dari Palestina dan pernah menjalani latihan militer yang digelar Hamas di Lebanon. Dia bahkan tergabung dengan partai bawah tanah warga Palestina untuk menggulingkan Bashar al-Assad.

Pernikahannya dengan suaminya yang pertama gagal karena dia menganggap lelaki itu kurang militan. Dia juga mengancam meninggalkan suaminya yang baru, seorang komandan brigade tempur pemberontak, jika tidak diizinkan terjun berperang.

Dia pernah melihat lebih dari 100 mayat dalam beberapa bulan terakhir. Dia sendiri sering bersinggungan dengan malaikat maut. Salah satunya saat sebuah bom meledak dekat mobil yang dikendarainya beberapa waktu lalu.


Video-video para sniper wanita di Suriah


Voice Of Muslim - 27 Juli 2013 adalah hari yang tak akan dilupakan oleh orang Mesir selamanya, peristiwa pembantaian itu telah membuat lubang besar dalam memori sejarah orang-orang Mesir yang mulia.

Saat aparat kementerian dalam negeri rezim pemerintahan kudeta militer dengan bantuan para preman-yang didirikan dan dipersiapkan oleh aparat keamanan di era rezim Mubarak untuk hari naas seperti saat ini di Mesir- Mereka membunuh lebih dari dua ratus orang Mesir dalam pembantaian yang disaksikan oleh mata dunia.


Peristiwa pembantaian itu berlangsung di saat media mainstrem Mesir dan media Arab memainkan peran penting dalam menciptakan ketegangan dan menyalakan bara api dalam masyarakat yang menyerang seluruh rumah-rumah rakyat Mesir, jadilah rakyat Mesir terjatuh dalam benturan sesama mereka.
Berikut adalah video-video yang akan menjadi catatan sejarah dan akan menjadi saksi kekejaman dan penumpahan darah yang disebabkan oleh elit-elit politik, media, militer yang rusak dan korup yang disaksikan oleh dunia dengan menjadi agen Amerika dan Israel, kunjungan El-Baradae ke Israel pasca kudeta masih segar dalam ingatan kita. Syuhada pertama pada pembantain Rabaa


Tindakan medis rumah sakit lapangan Rabaa korban penembakan peluru panas

kepala menjadi sasaran sniper aparat keamanan pemerintahan kudeta militer

Seorang demonstran yang bisu menuliskan kalimat syahadat setelah menderita dengan kepala retak pada pembantaian Rabaa 
 

Korban-korban sekarat setelah aparat kudeta melepaskan tembakan ke arah demonstran Rabaa

Salah seorang demonstran yang kehilangan salah satu matanya menceritakan bagaimana awal mula serangan aparat polisi dan preman ke demonstran Rabaa

Voice Of Muslim - Sebuah video yang merekam penembakan jama’ah shalat di sebuah masjid di Mesir beredar, Sabtu (6/7). Tampak dalam video berdurasi 6 menit 31 detik itu jama’ah shalat berhamburan setelah mereka ditembaki dalam posisi sujud. Mereka membatalkan shalatnya demi menyelematkan diri, termasuk orang-orang yang mengenakan kaos bergambar Presiden Mursi.

Setelah suara rentetan tembakan selesai, tampak umat Islam menyerbu ke arah tembakan. Terdengar kemarahan warga atas serangan itu, tetapi kemudian datang jet-jet (helikopter) tempur berputar-putar di atas mereka pada menit ke 5:30.

Lebih jelasnya, silahkan simak video di bawah ini:

Aparat yang seharusnya melindungi warga, justru melakukan hal ini.

Voice Of Muslim - Aparat keamanan membunuh dan memperkosa serta menahan secara ilegal ratusan warga Muslim etnis Rohingya di Myanmar. Aparat juga diam saja melihat aksi kekerasan dan penyiksaan warga oleh orang budha menambah panjang daftar dosa negara yang baru menyentuh demokrasi tersebut.

Hal ini didasarkan atas laporan terbaru Human Right Watch (HRW) berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini" seperti dilansir Reuters, Rabu 1 Agustus 2012. Laporan setebal 56 halaman itu tersebut didasarkan atas 57 wawancara dengan warga etnis Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Arakan untuk mencari fakta dan membuktikan janji pemerintahan baru Myanmar yang katanya menjunjung tinggi HAM.

Dalam laporan, tentara Myanmar yang seharusnya menjaga Muslim Rohingya paska bentrokan dengan etnis Rakhine Juni lalu malah membunuhi warga. Saat kerusuhan, tulis laporan, beberapa Muslim Rohingya yang mencoba kabur atau memadamkan rumah mereka yang terbakar justru ditembak oleh pasukan paramiliter, tidak peduli wanita atau anak-anak.

Berbagai kasus perkosaan juga tercatat dilakukan oleh tentara Myanmar. Tentara juga bergeming saat massa di Rakhine memukuli Muslim Rohingya hingga menjemput ajal. Tenaga medis, bantuan kemanusiaan internasional dan media dilarang masuk ke lokasi, beberapa dari sukarelawan bahkan ditangkap. Hingga saat ini, akses ke tempat itu tertutup.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dan 109 terluka. Namun, data ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Jumlah lain disampaikan berbagai media, termasuk Press TV Iran, yang mengatakan korban tewas mencapai 600 orang.
Puluhan ribu warga Rohingya mengungsi ke tempat aman. Beberapa memilih mengungsi ke Bangladesh pakai perahu. Namun di negara ini, Rohingya tidak diterima, seperti status mereka di Myanmar: warga tak diinginkan.

Kekerasan di Arakan dimulai saat seorang wanita Rakhine diduga diperkosa oleh tiga lelaki Rohingya pada 28 Mei lalu. Ketiganya telah divonis mati. Ketegangan kedua etnis diperparah saat 10 Muslim Rohingya dibunuh saat bepergian menggunakan bus.

"Aparat keamanan Myanmar gagal melindungi Rakhine dan Rohingya dari satu sama lain dan malah melakukan kampanye kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Pemerintah Myanmar mengklaim berkomitmen menghentikan konflik etnis, tapi apa yang terjadi sebaliknya, kekerasan dan diskriminasi justru didukung pemerintah," kata Brad Adams, Direktur HRW untuk Asia.

Voice Of Muslim - Kekerasan antara umat Muslim dan Buddha di Myanmar semakin menjadi. Beberapa lembaga HAM mengatakan bahwa ini adalah kekerasan sistematis yang dilakukan warga dan pemerintah terhadap etnis Muslim Rohingya.

Banyak timbul pertanyaan, mengapa umat Buddha yang menjunjung tinggi prinsip welas asih mendadak brutal di Rakhine, Myanmar. Hal ini ternyata tidak lepas dari peran seorang biksu yang dengan bangga menyebut dirinya sendiri "Bin Laden dari Burma."

Biksu bernama asli Wirathu ini memang dikenal radikal dan pembuat onar. Karena ulahnya itu, pada 2003 dia ditahan dan divonis penjara 25 tahun oleh pemerintahan junta militer Myanmar karena menghasut aksi kekerasan terhadap warga Muslim. Masalahnya, dia dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik lainnya sebagai salah satu bagian dari program reformasi demokrasi Myanmar.

The Guardian dalam sebuah artikelnya mengulas nama Wirathu mengemuka sejak 2001 lalu. Putus sekolah pada usia 14 tahun, dia lalu menjadi biksu di biara Mandalay. Wirathu dikenal kerap membuat DVD anti Islam dan provokasi-provokasi lainnya di media sosial.

Sejak bebas, pria 45 tahun ini menggagas "Gerakan 969", sebuah kampanye memboikot umat Islam yang memicu kekerasan di Rakhine. Kampanye ini menyerukan umat Buddha untuk tidak berbelanja di toko-toko orang Muslim, juga tidak menikahi, mempekerjakan dan menjual properti kepada mereka.

Nama "969" sendiri diambil Wirathu dari sembilan nama Buddha, enam langkah Buddha dan sembilan jalan kebiksuan. Pendukung kampanye ini menempelkan stiker bertuliskan "969" di toko-toko mereka, rumah, taksi dan bus, menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Wirathu.

Kemudian terjadi pembantaian umat Muslim Rohingya di Rakhine. Sebanyak 43 orang--pria, wanita dan anak-anak--terbunuh saat itu. Puluhan ribu Muslim Rohingya terpaksa hengkang. Peristiwa terbaru, sebanyak 25 Muslim Rohingya dibantai di Meikhtila April lalu.
Human Right Watch dalam penyelidikannya menemukan adanya penyebaran leaflet anti Islam berstempel 969 di Meikhtila, sebelum bentrok pecah. Puluhan saksi juga menyatakan bahwa pemimpin massa adalah para biksu--yang seharusnya jadi ikon demokrasi di Myanmar.
Tudingan Wirathu
Wirathu mengaku punya alasan kuat mengapa dia menggelar kampanye itu. Seperti kelompok radikal lainnya--dari kalangan dan agama apapun--kebanyakan alasannya tidak bisa dibuktikan dan terdengar ngawur.

Salah satunya, menurut dia, Muslim Rohingya memaksakan agama mereka pada orang lain dengan ancaman pembunuhan dan perkosaan. Selain itu, dia mengatakan, cara Muslim menyembelih hewan tidak bisa diterima umat Buddha.

"Pembunuhan hewan oleh Muslim membuat orang familiar dengan darah. Hal ini akan mengancam perdamaian dunia jika memuncak ke tingkat tertentu," ujarnya.

Masih menurut dia, minoritas Muslim di Myanmar yang jumlahnya hanya lima persen didanai oleh kekuatan di Timur Tengah. "Muslim lokal sangat kejam karena ada kelompok ekstremis yang mengendalikan, membantu mereka dengan dana, dan pelatihan militer," dia menuding.
Pemahaman Wirutha ditentang oleh para pemuka Buddha di Myanmar, salah satunya datang biksu Abbot Arriya Wuttha Bewuntha dari biara Myawaddy Sayadaw Mandalay. Dia mengatakan bahwa apa yang disampaikan Wirathu mengarah pada kebencian, bukan ini yang diajarkan Buddha.

"Ini bukanlah yang diajarkan Buddha. Yang diajarkan Budha adalah kebencian itu tidak bagus, Karena Buddha melihat semua orang setara. Buddha tidak menilai orang berdasarkan agamanya," kata Bewuntha.

Hal yang sama dikatakan seorang penganut Zen Buddha dari Amerika Serikat, James Ure, dalam blognya www.thebuddhistblog.blogspot.com. Dia bahkan mengatakan bahwa dalam praktiknya, Wirathu bukan penganut Buddha.

"Mungkin dia mengenakan jubah biksu, tapi dia tidak menyebarkan pesan yang dibawa Buddha soal kasih sayang dan toleransi," kata Ure.

Pemerintah terlibat?
Kelompok HAM internasional menyayangkan aksi kelompok Buddha radikal ini. Selain itu, HRW mensinyalir pemerintah dan aparat keamanan Myanmar turut terlibat dalam pembantaian Muslim Rohingya di negeri ini.

Beberapa saksi mata mengatakan tentara dan polisi Myanmar turut menyiksa dan memperkosa wanita Rohingya. HRW mendesak pemerintah Myanmar bertindak mengatasi gelombang kebrutalan ini.

"Kampanye 969 lebih dari aksi boikot. Kampanye ini telah memicu kekerasan yang tidak rasional," kata Jim Della-Giacoma, Direktur Asia Tenggara, International Crisis Group.
Pengamat mengatakan bahwa masyarakat internasional tidak boleh tebang pilih dan harus segera mengambil langkah untuk menghentikan aksi Wirathu. Pasalnya, dia semakin bebas menyuarakan kebencian dan hasutannya diamini oleh sejumlah biksu lain di Myanmar.
"Jika gerakan kebencian seperti '969' di Burma, katakanlah, terjadi di Eropa melawan orang Yahudi, pasti tidak ada pemerintah Eropa yang membiarkannya," kata aktivis Myanmar dari London School of Economics, Maung Zarni. "Lalu kenapa sekarang Uni Eropa tidak menanggapinya dengan serius? Padahal ini terjadi di negara penerima dana bantuan besar dari Eropa."

Massa FPI
Voice Of Muslim - Front Pembela Islam meminta segala bentuk penindasan yang dialami oleh muslim Rohingya segera dihentikan. Bahkan, FPI siap untuk terjun langsung berjihad di Myanmar jika tuntutan ini tidak diindahkan oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau tuntutan ini tidak diselesaikan dan genoside tetap terjadi, FPI, Majelis Muslim Indonesia, Jamaah Anshar Tauhid, dan seluruh ormas Islam di Indonesia bahkan ASEAN akan mengobarkan jihad," ujar Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq, Jumat 3 Mei 2013.

Selain itu, FPI menuntut agar pemerintah Myanmar membatalkan undang-undang yang mencabut kewarganegaraan penduduk Rohingya. UU ini, Habib melanjutkan, yang memicu terjadinya konflik horizontal hingga terjadinya pembantaian besar-besaran penduduk Rohingya di Myanmar.

"Mereka (Rohingya) dibunuh, dibantai, diperkosa, dan banyak diusir dari pengungsian. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa," lanjut Habib.

Menurut Habib, Persatuan Bangsa-Bangsa sudah mengakui adanya genoside di Myanmar, namun ternyata tidak melakukan apa-apa. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah dinilai tutup mata dengan adanya peristiwa ini.

"Kalau PBB tidak mampu melakukan apa-apa dan negara Arab menutup mata dari kedzaliman yang ada di Myanmar, kami umat Islam yang akan memutuskan dengan cara kami. Tidak ada jalan lain kecuali jihad ke Myanmar," kata Habib.

Dalam aksi tersebut, Habib Rizieq berusaha menemui Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, namun gagal. Duta Besar tidak ada di tempat, karena sedang mengikuti rapat di Sekretariat Jenderal ASEAN.

"Kami hanya bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, mereka tidak dapat memberikan kepastian. Tapi, insya Allah dalam dua hari ini akan ada dialog antara Duta Besar dan ormas-ormas Islam," ujar Habib.

Habib mengatakan, jika Duta Besar Myanmar menutup pintu dialog, FPI siap untuk melakukan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar.

"Apapun yang terjadi dengan kedutaan ini, kami tidak tanggung jawab kalau mereka menutup pintu dialog," sambung Habib.

Terkait penangkapan teroris tadi malam yang diduga akan meledakkan Kedubes Myanmar, Habib menyatakan FPI tidak ada kaitannya dengan itu. "Tidak ada kaitan demo ini dengan tindak teroris hari ini," kata Habib Rizieq.

Ia menyampaikan, unjuk rasa hari ini murni bentuk keprihatinan terhadap permasalahan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget