Latest Post

00.17
Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke senatero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (eramuslim.com, 1/2/2010)
Sang Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu Kini Masuk IslamDaniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke senatero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (eramuslim.com, 1/2/2010)

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Islamic Center of Washington, Masjid terbesar di Washington DC, tidak hanya menjadi destinasi favorit pengunjung dan warga Muslim setempat, tapi juga bagi banyak non-Muslim yang datang untuk menimba pengetahuan tentang agama Islam.
"Kami berusaha menyebarkan pengetahuan Islam seperti yang diajarkan oleh kitab suci Al Quran, melalui kebijaksanaan dan bimbingan yang baik," ujar Imam Abdullah M. Khiuj, direktur Islamic Center, kepada IslamOnline.net.
Masjid bersejarah itu, yang berlokasi di dekat jantung kota Washington di Massachusetts Avenue, adalah destinasi bagi orang-orang non-Muslim baik yang dari Amerika maupun luar untuk ikut serta dalam tur Masjid.
"Setiap hari kami menerima sekitar 10 hingga 600 pengunjung," ujar Imam Khouj.
Beberapa dari tur itu diadakan untuk para pejabat Departemen Luar Negeri yang akan ditugaskan di dunia Muslim atau untuk para pelajar yang akan belajar di negara Muslim.
"Mereka datang ke Islamic Center dan kami memberi mereka ceramah dan seminar mengenai situasi di Timur Tengah dan apa yang akan dihadapi serta bagaimana berperilaku di sebuah negara Muslim," jelas Imam Khouj.
Islamic Center ini adalah Masjid tertua di wilayah Metropolitan Washington.
"Pembangunan Masjid ini dimulai tahun 1947 dan dibuka untuk publik tahun 1952," ujar sang imam.
Ketika dibuka, Masjid ini menjadi tempat ibadah kaum Muslim yang terbesar di wilayah Barat.
Khouj mengatakan bahwa ide pembangunan Masjid pertama kali muncul di tahun 1944, ketika tidak ada satu Masjid pun di ibukota AS ini.
"Masjid itu adalah upaya kolaboratif dari kaum Muslim di sini dan duta besar-duta besar dari negara-negara Islam," jelasnya.
"Pada saat itu mereka sedang berada di upacara pemakaman seorang duta besar Turki  di mana mereka membahas kemungkinan memiliki sebuah tempat bagi kaum Muslim untuk mempraktikkan ajaran agamanya dan itulah bagaimana Masjid ini berdri."
Islamic Center itu dikelola oleh dewan direktur  yang terdiri atas semua duta besar dari negara-negara Muslim yang dipercaya oleh AS.
Selama tur, pengelola Masjid juga memberikan informasi tentang Islam, ajarannya, dan Nabi Muhammad serta menjawab berbagai pertanyaan dari pengunjung yang penasaran.
"Banyak yang menanyakan status Yesus Kristus dalam Islam, dan saya jawab bahwa kau tidak bisa menjadi seorang Muslim sejati jika kau tidak meyakini Yesus," ujar Abbassie Koroma, koordinator kunjungan kelompok.
"Yang lainnya menanyakan jika Islam bersifat toleran dan penuh damai lalu mengapa banyak Muslim yang menjadi teroris. Saya menjawab bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan perilaku buruk individu."
Koroma berbicara setelah menyelesaikan sebuah tur untuk sekelompok pelajar dari sekolah Minggu Kristen yang mendengarkan dengan penuh seksama saat ia membahas lima rukun Islam dan apa artinya menjadi seorang Muslim.
"Kami datang ke sini karena saya ingin para murid memahami kaum Muslim dan agama mereka," ujar Tom Clumet dari sekolah Minggu itu.
Dean, salah satu murid, bergabung dengan tur itu karena sahabatnya adalah seorang Muslim dan ia ingin tahu lebih jauh tentang agama sahabatnya itu.
Ia terkesima ketika mendengar berbagai penjelasan yang diberikan.
"Informasi yang saya peroleh sangat berguna. Kini saya merasa telah tahu lebih banyak tentang Islam."
Seperti Masjid-masjid lainnya di seluruh AS, Islamic Center ini juga menawarkan berbagai jenis layanan bagi komunitas lokal.
"Tempat ini adalah pusat bagi setiap Muslim yang ada di wilayah ini," ujar Khouj.
"Kami mencoba untuk menjadi Islamic Center yang edukasional, kultural, dan sosial di samping sebagai tempat yang relijius."
Masjid tersebut memiliki sebuah perpustakaan yang sangat besar dengan berbagai buku tentang Islam serta kelas-kelas untuk pelajaran bahasa Arab, Al Quran, hukum Islam, dan subyek-subyek relijius lainnya.
"Sayangnya lahan yang tersedia tidak memungkinkan bagi kami untuk membangun sebuah sekolah di sini, namun kami berhasil membuka beberapa kelas pada hari Sabtu dan Minggu untuk murid-murid kelas enam."
Masjid ini juga terlibat dalam kehidupan sosial komunitas dan mencoba memecahkan beberapa dari persoalan yang mereka hadapi.
"Kami memberikan konseling pernikahan, kami membantu orang-orang memahami prosedur pemakaman dan penguburan, kami mencoba membantu orang-orang yang belum menikah untuk mencari pendamping hidup," ujar Imam Khouj.
"Kami membeli sebuah lahan pemakaman yang tersedia bagi kaum Muslim secara gratis, karena biaya pemakaman di AS sangat mahal."
Namun, layanan yang paling dibanggakan oleh Islamic Center ini adalah program dakwahnya.
"Kami menerima banyak orang yang masuk Islam di sini setiap bulannya," ujar Imam Khouj.
"Kami mengadakan seminar bagi para mualaf yang, demi untuk menjadi terlibat dengan agama barunya, harus memiliki pemahaman dan visi yang jelas dan tidak hanya sekedar mengikuti metode-metode tertentu."
Direktur Islamic Center ini juga menambahkan bahwa program outreach mereka telah meluas hingga ke luar Masjid.
"Kami memiliki partisipan yang membantu kami mengirimkan buku-buku ke institusi di seluruh AS, terutama di penjara-penjara di mana banyak orang yang ingin tahu tentang Islam," ujarnya.
"Dan kami menerima sejumlah surat dari para petugas penjara yang berterima kasih karena setelah masuk Islam perilaku para tahanan itu berubah dan mereka menjadi manusia yang lebih baik."
Khouj mempercayai bahwa membantu menyebarkan pesan Islam adalah peran utama dari setiap Masjid.
"Kami mengirim banyak orang ke sekolah-sekolah, organisasi, dan penjara untuk memberikan ceramah tentang Islam."
"Kami berusaha keras untuk berpegang pada agama kami dan mewakili Islam sebagaimana ia seharusnya diwakili." (rin/iqna) www.suaramedia.com

Sosok almarhum K.H. Bahaudin Mudhary (1920-1979) tentu tidak asing bagi peminat studi Perbandingan Agama di Indonesia. Namanya mencuat seiring terbitnya buku berjudul Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, hasil dialognya dengan Antonius Widuri, penganut Kristen Katolik Roma. Dialog seputar masalah ketuhanan Yesus itu direkam dan disaksikan oleh sejumlah pengurus Yayasan Pesantren Sumenep. Dialog itu pun mengantarkan Antonius pada cahaya Islam.
Beragam tanggapan muncul atas terbitnya karya ini. Terakhir, buku Dialog itu diterbitkan ulang oleh Cambridge University Press,  Inggris dan juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda “Dialoog over de Goddelijkheid van Jezus”. Buku ini diakui  sebagai salah satu rujukan otoritatif dalam diskursus ilmiah terkait.
K.H. Bahaudin Mudhary adalah pria kelahiran Sumenep, Madura,  23 April 1920. Ia menguasai sejumlah bahasa asing antara lain Bahasa Arab, Jepang, Jerman, Perancis, dan Belanda. Penguasaan bahasa ini cukup membantu dalam mengakses berbagai versi Bibel. Kekayaaan bahasa inilah yang cukup menonjol mewarnai alur dialogis bukunya.
Pilihan hidupnya adalah menjadi da’i dan membaktikan ilmu bagi pendidikan masyarakat. Pada 1947, ia pernah menjadi komandan Resimen Hizbullah. Tahun 1949, mendirikan Yayasan Pesantren Sumenep. Selanjutnya pada 1954, ia  menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Sumenep. Kyai Bahaudin juga pernah diamanahi sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Sumenep, Ketua Umum GUPPI Jawa Timur, ketua MUI Jawa Timur, dan anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur. Hingga akhir hayat, ia  mengabdikan diri sebagai pengasuh Pesantren Kepanjian Sumenep. (Lihat K.H. Bahaudin Mudhary. Dialog Masalah Ketuhanan Yesus. Cetakan VI. (Pustaka Dai, Surabaya, 1998).
Sebenarnya buku karya Kyai dari Sumenep ini tentang Kristologi bukan hanya Dialog Masalah Ketuhanan Yesus. Ia juga menulis buku Dialog Masalah Kebenaran Bibel, dokumentasi hasil dialog pula sebagaimana buku pertama. Pria kelahiran Sumenep tersebut juga memiliki karya tulis seputar agama Islam yang telah dibukukan. Hanya saja karya lainnya nampak kurang dikenal dibandingkan karya monumental tentang “Ketuhanan Yesus” tersebut.

“Penyesuaian”

Membaca buku  Dialog Masalah Ketuhanan Yesus perlu kecermatan tambahan. Pasalnya, ayat-ayat Bibel saat ini memiliki “perbedaan” redaksional dengan Bibel yang digunakan sekitar masa kehidupan Sang Kiai. Almarhum menggunakan rujukan Bibel terbitan semasa hidupnya. Sementara Bibel yang terbit saat ini telah mengalami berbagai proses editing bahasa.  Perubahan itu juga berdampak pada substansi persoalan.
Misal, Kiai Bahaudin Mudhary menyebutkan bahwa dalam II Samuel 8: 9 dan 10, nama raja Hamat adalah Toi. Namun dalam kitab I Tawarikh 18: 9 nama raja Hamat adalah Tohu. (Mudhary,1998: 88-89). Dalam “Alkitab” terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1968 kedua perbedaan nama raja Hamat tersebut masih dapat ditemukan. Menurut, Holy Bible King James Version, nama raja Hamat dalam II Samuel 8: 9-10 adalah To-i, sedangkan dalam I Tawarikh 18: 9 bernama To-u. (Lihat Holy Bible Authorised King James Version. (Colins World, Amerika)). Akan tetapi “Alkitab” terbitan LAI tahun 2007, baik dalam II Samuel 8: 9-10 maupun I Tawarikh 18: 9, nama raja Hamat adalah Tou.
Kontradiksi yang lain dapat ditemui dalam II Samuel 23: 8 dan I Tawarikh 11: 11. (Mudhary, 1998: 92-93). Dalam II Samuel 23: 8  “Alkitab” terbitan LAI tahun 1968 masih dapat dijumpai bunyi ayat berikut:

Bermula, maka inilah nama segala pahlawan jang pada Daud, Josjeb Basjebet bin Tachkemoni, kepala segala penghulu, ia pun bergelar pentjutjuk dan penikam lembing, sebab ditikamnja akan delapan ratus orang dalam sekali sadja perang.”

Informasi II Samuel 23: 8 di atas berbeda dengan keterangan yang diberikan dalam  I Tawarikh 11: 11  terbitan LAI tahun 1968, sebagai berikut:

Maka inilah bilangan segala pahlawan jang pada Daud itu: Jasobam bin Hachmoni, kepala orang tiga puluh, jang berlajamkan lembingnya kepada orang tiga ratus, ditikamnja akan mereka itu sekalian dalam sekali berperang.”

Sementara itu, King James Version yang menyebutkan rincian sebagai berikut:

These be the names of the mighty men whom David had: The Tachmonite that sat in the seat, chief among the captains; the same was Adino the Eznite: he lift up his spear against eight hundred, whom he slew at one time.(II Samuel 23: 8).

And this is the number of the mighty men whom David had; Jashobeam, an Hachmonite, the chief of the captains: he lifted up his spear against three hundred slain by him at one time.” (I Tawarikh/Chronicles 11: 11).

Perubahan itu kemudian tampak nyata jika dibandingkan dengan versi “Alkitab” terbitan LAI tahun 2007 sebagai berikut:

“Inilah nama para pahlawan yang mengiringi Daud: Isybaal, orang Hakhmoni, kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan delapan ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran.” (II Samuel 23: 8).
Inilah daftar para pahlawan yang mengiringi Daud: Yasobam bin Hakhmoni, kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan tiga ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran.” (I Tawarikh 11: 11)

Kontradiksi dan “penyesuaian” serupa banyak dijumpai dalam Bibel. Hasil dialog K.H. Bahaudin Mudhary tersebut setidaknya menjadi salah satu “saksi” dokumentatif adanya pengubahan redaksional “kitab suci”. Andaikan Kyai Bahaudin masih hidup, masalah ini tentu akan menjadi kajian yang menarik baginya. Soal perubahan dan keragaman teks telah menjadi bagian yang lazim dalam sejarah perkembangan teks Bibel.
Bart D. Ehrman, Pakar New Testament University of Carolina menulis “We can expect that in the earliest copies, especially, mistakes were commonly made in transcription. Indeed, we have solved evidence that this was the case, as it was matter of occasional complaint by Christians reading those text and trying to uncover the original words of their authors”, tegas Ehrman. (Lihat Bart. D. Ehrman. Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why. (HarperCollins Publishers, San Francisco, 2005).
Jadi, meskipun telah terjadi perkembangan terhadap versi teks Bibel yang menjadi rujukan Kyai Bahauddin saat dialognya,  karya monumental Dialog Masalah Ketuhanan Yesus ini tidak akan kehilangan “semangat” dan relevansinya. Karya  ini telah memberikan sumbangan besar dalam studi Kristologi di Indonesia, bahkan di dunia internasional.
Lahir, hadir, dan berpulang meninggalkan buah pikir, demikianlah K.H. Bahaudin Mudhary. Sosok kharismatik dan humoris ini wafat pada 4 Desember 1979 di Surabaya. Jasad boleh berkalang tanah, namun gagasan dan semangatnya terus berpendar. (*Susiyanto*)
(Tulisan ini dimuat di Harian Republika Kamis, 23 Desember 2010 Hal. 19)

Sumber : insistnet.com

11.19
Ilmu astronomi berkembang seiring dengan kebutuhan penjelajahan kaum Muslim ke berbagai belahan dunia. Pasalnya, astronomi bermanfaat untuk navigasi dalam upaya menjangkau negerinegeri yang jauh dari wilayah kekuasaan Islam. Dengan demikian, astronomi membantu mengembangkan misi dakwah Islam, juga memperkuat perkembangan ilmu pengetahuan umat. Dalam proses menggapai dua misi itu, tak jarang umat Islam harus berhadapan dengan pasukan musuh yang menghadang. Maka dibutuhkan pasukan perang yang kuat dengan bekal pengetahuan perbintangan yang mumpuni. Dalam satu dekade sejak penaklukan Mesir, umat Islam berhadapan dengan Byzantium (Kekaisaran Romawi). Dalam persaingan itu, umat Islam berhasil menguasai Laut Tengah bagian timur, yakni Cyprus sekitar tahun 30 H (649 M), dan Rhodes pada tahun 52 H (672 M).

Pada saat itu, Kekaisaran Romawi memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya. Maka, umat Muslim berpikir bagaimana cara melawan angkatan laut yang tak terkalahkan itu. Sejak saat itulah dibentuk armada angkatan laut Muslim. Di sini navigasi diperlukan untuk menuntun arah hingga ke tempat-tempat yang mereka tuju.

Kaum Muslim berkeyakinan, makin teliti seorang navigator dalam menentukan posisinya di tengah laut, berdasarkan peredaran matahari, bulan, atau bintang, makin tinggi pula akurasi perhitungan waktu dan tempat yang dituju. Dengan demikian, persiapan logistik selama perjalanan pun dapat dilakukan secara lebih matang.

Ada kaidah berbunyi Ma laa yatimmul waajib illaa bihi, fahuwa wajib (apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban, hukumnya wajib pula). Kaidah ini menjadi pedoman bagi kaum Muslimin dalam menyiapkan peperangan melawan Kaisar Romawi ketika itu.

Mereka mulai mempelajari teknik perkapalan, navigasi dengan astronomi maupun kompas, dan mesiu. "Bangsa Arab sangat cepat menanggapi kebutuhan akan angkatan laut yang kuat untuk mempertahankan dan mempersatukan daerah kekuasaannya," jelas Ahmad Y. Al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya Islamic Technology: An Illustrated History.

Selama era kekuasaan Bani Ummayah, Khalifah Mu'awiyah (602M-680M) berusaha memulihkan kembali kesatuan wilayah Islam. Setelah berhasil mengamankan situasi dalam negeri, Mu'awiyah segera mengerahkan pasukan untuk perluasan wilayah kekuasaan.

Penaklukan Afrika Utara (647 M- 709 M) merupakan peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya. Gubernur Mesir kala itu, Amr Ibnu Ash, merasa terganggu oleh kekuasaan Romawi di Afrika Utara. Karenanya, Amr Ibnu Ash mengerahkan pasukan di bawah pimpinan Jenderal Uqbah untuk menaklukkan wilayah Afrika Utara itu.

Pasukan Uqbah akhirnya berhasil menguasai Kairowan hingga ke bagian selatan wilayah Tunisia. Khalifah Mu'awiyah kemudian membangun benteng untuk melindungi kota Kairowan dari serangan pasukan Berber dan menjadikan kota Kairowan sebagai ibukota propinsi Afrika Utara.

Mu'awiyah tercatat sebagai pendiri armada angkatan laut Islam. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Syria, ketika kekhalifahan Islam dipimpin oleh khalifah rasyidah ketiga, Ustman bin Affan. Selama itu pula Mu'awiyah telah memiliki lima puluh armada laut yang tangguh. Pasukan laut ini akhirnya berhasil menaklukkan Cyprus (649 M), Rhodes (672 M), dan kepulauan lainnya di sekitar Asia Kecil.

Dengan penaklukan Afrika Utara (647 M- 709 M) dan Spanyol (705-715 M), kirakira 40 tahun kemudian, armada angkatan laut Islam di seluruh Laut Tengah menjelma sebagai yang terkuat dan tak terkalahkan hingga dua abad berikutnya. Pasukan ekspedisi dari Afrika Utara menduduki Sisilia pada tahun 211 H (837 M). Angkatan laut tersebut hingga masuk ke wilayah pantai Italia dan Prancis Selatan.

11.12
Sejatinya kitab ini berjudul al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa'l-muqabala. Dalam bahasa Inggris kitab ini dikenal sebagai "The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing".  Kitab peletak dasar matematika modern itu biasa pula disebut Hisab al-jabr wal-muqabala. Kitab ini merupakan karya seorang ilmuwan Muslim pada abad ke-9 M yang sangat monumental.

Adalah Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi sang penulis kitab matematika itu. Matematikus Muslim asal Persia itu merampungkan kitab yang sangat populer dan menjadi rujukan para ahli matematika sepanjang zaman itu pada  820 M. Berkat kitab inilah, dunia matematika modern mengenal istilah Aljabar.  Aljabar berasal dari bahasa Arab al-gabr yang berarti ''pertemuan'' atau ''hubungan.'' Aljabar merupakan cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika. Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur aljabar abstrak, yaitu aljabar dalam sebuah bidang.  Carl B. Boyer dalam karyanya bertajuk "The Arabic Hegemony": A History of Mathematics, mengungkapkan,  Kitab Aljabar karya Khawarizmi menguraikan perhitungan yang lengkap dalam memecahkan akar positif  polynomial persamaan sampai dengan derajat kedua.

Boyer menambahkan, kitab karya Khawarizmi itu juga  memperkenalkan metode dasar "mengurangi" dan "keseimbangan/balancing", yang mengacu pada perubahan syarat-syarat mengurangi sisi lain sebuah persamaan yaitu pembatalan syarat-syarat seperti sisi berlawanan dari persamaan.

Kitab Aljabar juga telah menjadi rujukan ilmuwan sepanjang masa, baik itu bagi matematikus Islam maupun Barat.  Beberapa saintis terkemuka  juga telah menerbitkan buku dengan nama Kitab al-Gabr wa-l-muqabala, diantaranya; Abu Hanifa al-Dinawari serta Abu Kamil Shuja ibnu Aslam.

Selain itu, Abu Muhammad al-'Adli, Abu Yusuf al-Missisi, 'Abd Al-Hamid ibnu Turk, Sind ibnu 'Ali, Sahl ibnu Bišr, dan Sarafaddin al-Tusi juga termasuk ilmuwan Muslim yang banyak terpengaruh pemikiran Khawarizmi.

R Rashed dan Angela Armstrong dalam karyanya bertajuk The Development of Arabic Mathematics, menegasakan bahwa Aljabar karya Al-Khwarizmi  memiliki perbedaan yang signifikan dibanding karya Diophantus, yang kerap disebut-sebut sebagai penemu Aljabar. Dalam pandangan kedua ilmuwan itu, karya Khawarizmi jauh lebih baik di banding karya Diophantus.

"Teks karya Khwarizmi begitu berbeda, tidak hanya dari buku karya orang Babilonia, tetapi juga dari karya Arithmatika-nya Diophantus. Ini tidak lagi menyangkut sejumlah masalah untuk diselesaikan, namun sebuah pertunjukan yang dimulai dengan istilah sederhana yang kombinasinya memberikan semua kemungkinan untuk persamaan dasar, yang mulai saat ini secara eksplisit merupakan objek studi yang benar,'' papar Rasheed dan Armstrong.

Hal senada diungkapkan sejarawan sains  JJ O'Connor dan EF Robertson pada karyanya berjudul History of Mathematics.  Menurutnya,  karya  matematikus Persia itu merupakan karya yang revolusioner. "Mungkin salah satu kemajuan yang paling signifikan yang dibuat ahli matematika Arab  hingga saat ini adalah karya Khawarizmi, yakni Kitab Aljabar,'' ujar O'Connor dan Robertson.

Menurut keduanya, Kitab Aljabar sungguh sangat revolusioner, karena mampu beralih dari ari konsep matematika Yunani yang didasarkan pada geometri. 'Dalam pandangan O'Connor dan Robertson, Kitab Aljabar yang ditulis Khwarizmi berisikan teori pemersatu yang menyediakan angka-angka/bilangan rasional, angka-angka irasional, besar/jarak geometri, dan lain-lain.

O'Connor dan Robertson menambahkan semua bilangan tersebut diperlakukan sebagai "objek aljabar". Hal itu dinilai sebagai  sebuah perkembangan bagi matematika. Pasalnya, Kitab Aljabar telah membuka jalan baru bagi konsep yang telah ada sebelumnya.

"Dan ini merupakan sarana yang dapat menjadi kendaraan bagi pembangunan masa depan s. Aspek lain yang penting adalah aspek pengenalan gagasan  Aljabar yang telah disediakan matematika yang akan diterapkan untuk dirinya sendiri dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," papar  O'Connor dan Robertson.

Kitab karya Khawarizmi itu merupakan sebuah kompilasi dan perluasan aturan yang diketahui untuk memecahkan persamaan kuadrat dan untuk beberapa masalah lain, dan dianggap sebagai dasar aljabar moderen. Buku yang sangat populer ini mulai diperkenalkan ke dunia dunia Barat lewat terjemahan bahasa Latin oleh Robert of Chester berjudul Liber algebrae et almucabala.

Karena buku ini tidak memberikan sejumlah kutipan untuk penulis sebelumnya, sehingga tak diketahui pendapat siapa saja yang digunakan Khwarizmi sebagai referensi dalam karyanya itu. Sejarawan matematika modern mengomentari kitab itu berdasarkan analisis tekstual dari buku dan seluruh tubuh pengetahuan tentang dunia Muslim kontemporer.

Pastinya yang paling berhubungan dalam karya Khawarizmi adalah ilmu matematika India. Pasalnya, ia telah menulis buku berjudul Kitab al-Jam wa-l-tafriq-bi-hisab al-Hind atau The Book of Addition and Subtraction According to the Hindu Calculation yang membahas sistem bilangan Hindu-Arab.

Buku persamaan pengurangan kuadrat acak ke salah satu dari enam jenis dasar dan menyediakan metode aljabar dan geometri untuk memecahkan dasar utama.  "Pengurangan angka-angka abstrak modern dalam aljabarnya Khawarizmi adalah retorik menyeluruh, dengan tidak ada yang sinkopasi ditemukan pada Aritmatika Yunani atau karya Brahmagupta. Bahkan angka-angka yang ditulis lebih banyak dalam kata-kata daripada simbol,"  tutur  Carl B Boyer, dalam karyanya bertajuk A History of Mathematics.

Dengan demikian persamaan akan dijelaskan secara lisan dalam bentuk istilah "kuadrat" (sekarang menjadi "x2"), "akar" (sekarang menjadi "x") dan "angka"(biasa dibilang angka, seperti '40-2').  Enam jenis persamaan  dengan angka-angka modern, adalah:

* kuadarat sama dengan akar ( ax2 = bx )
* kuadrat sama dengan angka/bilangan ( ax2 = c )
* akar sama dengan angka ( bx = c )
* kuadrat dan akar sama dengan angka ( ax2 + bx = c )
* kuadrat dan angka sama dengan akar ( ax2 + c = bx )
* akar dan angka sama dengan kuadrat ( bx + c = ax2 )

Bagian berikutnya dari buku ini membahas contoh-contoh praktis dari penerapan peraturan yang telah dijelaskan. Bagian berikut,  berkaitan dengan penerapan masalah pengukuran luas dan volume atau isi. Bagian terakhir berkaitan dengan perhitungan yang melibatkan aturan yang sulit dari warisan Islam.

Kisah Hidup Bapak Aljabar

Bapak Aljabar. Begitulah  ilmuwan yang bernama lengkap Abu 'Abdallah Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi itu kerap dijuluki. Ia merupakan seorang ahli matematika dari Persia yang dilahirkan pada tahun 194 H/780 M, tepatnya di Khwarizm, Uzbeikistan.  Karena itulah,  ia kerap kali disapa dengan panggilan Khawarizmi.

Selain terkenal sebagai seorang ahli matematika yang agung, ia juga adalah astronomer, dan geografer yang hebat. Berkat kehebatannya,  Khawarizmi  terpilih sebagai ilmuwan penting  di pusat keilmuwan yang paling bergengsi pada zamannya, yakni Bait al-Hikmah  atau House of Wisdom yang didirikan khalifah Abbasiyah  di metropolis intelektual dunia, Baghdad.

Bait al-Hikmah  merupakan lembaga yang berfungsi sebagai pusat pendidikan tinggi. Dalam kurun dua abad, Bait al-Hikmah ternyata berhasil melahirkan banyak pemikir dan intelektual Islam. Di antaranya, nama-nama ilmuwan seperti Khwarizmi.

Khawarizmi adalah seorang ilmuwan jenius pada masa keemasan Islam di kota Baghdad, pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Ia  sangat berjasa besar dalam mengembangkan ilmu aljabar dan aritmetika. K

Kitab Aljabr Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan pertama kalinya dalam sejarah dimana istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu. Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal tersebut. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia. Bahasan yang banyak dinukil oleh ilmuwan barat dari karangan Khawarizmi adalah tentang persamaan kuadrat.

Sumbangan Al-Khwarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.

Selain mengarang al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, ia juga diketahui telah menulis beberapa buku dan banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmetikanya, satu diantaranya berjudul Kitab al-Jam'a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi (Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu).

Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa.  Khawarizmi meninggal pada tahun 262 H/846 M di Baghdad.(rp)

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an surat Al-Imran : 85

"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima"
Sementara dalam surat Al-Maidah : 69 disebutkan.

"Artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, dan orang-rang Nasrani apabila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih, maka tidak ada ketakutan dan kesedihan yang akan menimpa mereka"

Bagaimana caranya kita memahami dua ayat yang seolah-olah bertentangan ini ?

Jawaban.
Tak ada pertentangan antara dua ayat tersebut. Ayat pertama Ali Imran : 85 berlaku bagi kaum yang telah sampai da'wah Islam kepada mereka, sedangkan ayat kedua Al-Ma'idah : 69 berlaku bagi kaum yang hidup pada zaman mereka masing-masing (dengan cara mengikuti syari'at dari nabi/rasul mereka masing-masing, -pent-).

Adapun tentang shabi'in (shabi'ah) yang dikenal selama ini sebagai penyembah bintang, sebetulnya mereka dulunya adalah orang-orang yang bertauhid (dan mengikuti syari'at sebagian para rasul, -pent), akan tetapi setelah lewat masa yang panjang, sedikit demi sedikit mereka terjatuh ke dalam kemusyrikan dan akhirnya mereka menyembah bintang. Hal ini sama saja dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hari ini juga semuanya sudah terjatuh dalam kemusyrikan.

Nah... siapapun diantara mereka (shabi'ah, Yahudi , Nasrani) yang berpegang teguh dengan agamanya masing-masing dan mereka hidup sebelum datangnya Islam, maka mereka tidak akan ditimpa ketakutan dan kesedihan. Dan mereka adalah termasuk orang-orang yang beriman. Akan tetapi, setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dakwah Islam telah sampai kepada mereka, maka Allah tidak akan menerima agama mereka sebelum mereka masuk Islam.

Saat ini... ada satu masalah yang sangat besar yang menimpa sebagian kaum muslimin, yaitu orang-orang yang mengira bahwa mereka telah memeluk agama Islam dan telah menjalankan syari'at Islam tetapi sebenarnya mereka telah keluar dari Islam dan telah jatuh dalam kekafiran karena aqidah dan keyakinan mereka telah sesat dan menyimpang, sehingga membatalkan ke-Islam-an mereka. Mereka itu adalah kelompok Islam 'Ahamdiyah Qodiyan' yang berkeyakinan bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mereka ini sudah tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sudah disebutkan dalam surat Al-Maidah : 69 di atas, karena hujjah sudah tegak di hadapan mereka. Apabila mereka mengaku sebagai muslim, tentu mereka telah membaca/mendengar dari Al-Qur'an dan hadits tentang bagaimana prinsip-prinsip aqidah Islam.

Adapun orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar dakwah Islam, maka orang seperti ini tidak akan langsung divonis masuk neraka oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Orang yang meninggal dalam keadaan belum pernah mendengar dakwah Islam sama sekali akan mendapat perlakuan khusus dari Allah di akhirat dengan mengutus seorang rasul kepada mereka. orang-orang ini akan diuji oleh Allah lewat rasul tersebut, seperti Allah telah menguji manusia di dunia. Apabila orang-orang tersebut menyambut seruan rasul dan mentaatinya maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. Jika tidak, maka dia akan masuk neraka. [Ash-Shahihah No. 2468]



[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1181&bagian=0

13.19
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:
"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan:
"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York). "Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."
Adam Clarke melanjutkan:
"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot." "Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".
Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.
Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.


A. Penjelasan

Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya
termaktub dalam surat an-Nisa'-- menegaskan dan merinci
nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk
menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang
menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang
yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak
berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan
setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara
"tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah.

Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan
asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara
yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara
lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan
dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui
bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah
Yang Maha Bijaksana itu.

Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak
setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas
dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris
dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia
menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam
kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka,
menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak
membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati
orang-orang yang lemah.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga
ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat
hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid
memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya
menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut,
dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:


"Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada
orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada
orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal,
dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah.
Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal
pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak
mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan
tersebut. " (HR Daruquthni)

Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah
mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung
penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh
mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini.
Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia
(terutama pada masa kini) mengabaikan dan
melecehkannya."1


Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang
disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan
penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat
tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita
sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang
Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya.

Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam
hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain
dari ketiga ayat tersebut?

Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang
menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab),
akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti
diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya
adalah firman Allah berikut:

"Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta
peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada
hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan
kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang
telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu
sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang
bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75)

"... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu
sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah
daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin,
kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu
(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam
Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6)

Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan
masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya
sebutkan pada awal pembahasan.

Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6)
ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak
untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan
kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya.
Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum
Muhajirin.

Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam,
bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta
masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang
dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin
dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum
Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru
saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan.
Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama
yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan
ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu
mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa
penaklukan kota Mekah, Allah me-mansukh-kan (menghapuskan)
hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan,
dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan
kekerabatan.

Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan
tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua
jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT
menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta
dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris
mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan
keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa
membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki
ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang
banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak
rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat
pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah
membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang
disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat
tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah
besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai
istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global),
sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya
nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176).

Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di
antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian
kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal
kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di
samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan
baik moril maupun materiil?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan
beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan
bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut:

  1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan
    keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib
    diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau
    siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki
    kerabatnya.

  2. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada
    siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum lelakilah yang
    mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga
    dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya
    untuk memberi nafkah dari kerabatnya.

  3. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar
    dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum
    laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih
    besar dan banyak dibandingkan kaum wanita.

  4. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada
    istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya
    makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai
    anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan,
    dan papan.

  5. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit
    (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya
    pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita
    tidaklah demikian.
Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah.
Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
"... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233)
Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita.
Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta.
Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya.
Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis.
Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita.
1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56.

B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam

Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil.
Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah.
Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang.
Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'"
Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki.
Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan.
Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki.
Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya.
Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

Di Kutip dari:

Pembagian Waris Menurut Islam
oleh Muhammad Ali ash-Shabuni
penerjemah A.M.Basamalah

Special thank's to Allah SWT yang senantiasa memberikan CAHAYA KEBENARAN ISLAM.

12.14

ALLAH SELALU LEBIH UNGGUL DARIPADA YESUS? 

 YESUS tidak pernah mengaku sebagai Allah. Segala sesuatu
yang ia katakan tentang dirinya menunjukkan bahwa ia tidak
menganggap dirinya sama dengan Allah dalam hal apapun -tidak
dalam hal kuasa, tidak dalam pengetahuan, tidak dalam umur.

Dalam setiap periode keberadaannya, tidak soal di surga atau
di atas bumi, ucapan-ucapan dan tingkah lakunya mencerminkan
kedudukan yang lebih rendah daripada Allah. Allah selalu
yang lebih unggul, Yesus adalah pribadi yang lebih rendah
yang diciptakan oleh Allah.

Yesus Dibedakan Dari Allah

------------------------------------------------------------

BERULANG kali, Yesus menunjukkan bahwa ia adalah makhluk
yang terpisah dari Allah dan bahwa ia, Yesus, mempunyai
Allah di atas dirinya, Allah yang ia sembah, Allah yang ia
sebut "Bapa." Dalam doa kepada Allah, yaitu sang Bapa, Yesus
berkata, "Engkau, satu-satunya Allah yang benar." (Yohanes
17:3) Dalam Yohanes 20:17 ia berkata kepada Maria Magdalena:
"Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan
Allahmu." Dalam 2 Korintus 1:3 rasul Paulus meneguhkan
hubungan ini: "Terpujilah Allah, Bapa [dari] Tuhan kita
Yesus Kristus." Karena Yesus mempunyai Allah, Bapanya, ia
tidak mungkin pada waktu yang sama juga adalah Allah itu.

Rasul Paulus tidak mempunyai keraguan untuk menyebut Yesus
dan Allah sebagai pribadi-pribadi yang terpisah dan berbeda:
"Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,... dan
satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 8:6)
Rasul itu menunjukkan perbedaannya ketika ia menyebutkan "di
hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat malaikat
pilihanNya." (1 Timotius 5:21) Jadi sama seperti Paulus
menyebut Yesus dan para malaikat sebagai pribadi-pribadi
yang berbeda satu sama lain di surga, demikian pula Yesus
berbeda dengan Allah.

Kata-kata Yesus dalam Yohanes 8:17, 18 juga penting. Ia
berkata: "Dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian
dua orang adalah sah; Akulah yang bersaksi tentang diriKu
sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang
Aku." Di sini Yesus menunjukkan bahwa ia dan sang Bapa,
yaitu Allah Yang Mahakuasa, harus dua kesatuan yang berbeda,
jika tidak bagaimana mungkin benar-benar ada dua saksi?

Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang
terpisah dari Allah dengan mengatakan: "Mengapa kaukatakan
Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah
saja." (Markus 10:18) Jadi Yesus mengatakan bahwa tidak ada
pribadi lain manapun yang sebaik Allah, bahkan Yesus sendiri
tidak. Allah adalah baik dengan cara yang membuat Ia
terpisah dari Yesus.

Hamba Allah yang Menundukkan Diri

------------------------------------------------------------

BERULANG kali, Yesus memberikan pernyataan-pernyataan
seperti: "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya
sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya."
(Yohanes 5:19) "Aku telah turun dari sorga bukan untuk
melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia
yang telah mengutus Aku." (Yohanes 6:38) "AjaranKu tidak
berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah
mengutus Aku." (Yohanes 7:16) Bukankah yang mengutus lebih
unggul dari yang diutus?

Hubungan ini nyata dalam perumpamaan Yesus tentang kebun
anggur. Ia menyamakan Allah, Bapanya, dengan pemilik kebun
anggur, yang pergi ke luar negeri dan meninggalkan kebun itu
dalam tangan para penggarap, yang melambangkan imam-imam
Yahudi. Ketika sang pemilik kemudian mengutus seorang hamba
untuk mendapatkan hasil dari kebun anggur itu, para
penggarap memukul hamba tersebut dan mengusirnya dengan
tangan kosong. Kemudian sang pemilik mengutus hamba yang
kedua, dan kemudian yang ketiga, yang kedua-duanya mendapat
perlakuan sama. Akhirnya, pemilik kebun itu berkata: "Aku
akan menyuruh anakku [Yesus] yang kekasih, tentu ia mereka
segani." Namun para penggarap yang korup itu berkata: "Ia
adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini
menjadi milik kita. Lalu mereka melemparkan dia ke luar
kebun anggur itu dan membunuhnya." (Lukas 20:9-16) Jadi
Yesus menggambarkan kedudukannya sendiri sebagai pribadi
yang diutus oleh Allah untuk melakukan kehendak Allah, sama
seperti seorang ayah mengutus seorang anak yang tunduk.

Para pengikut Yesus selalu memandangnya sebagai hamba Allah
yang menundukkan diri, bukan sebagai pribadi yang sama
dengan Allah. Mereka berdoa kepada Allah mengenai "Yesus,
HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi,... tanda-tanda dan
mujizat-mujizat [dilakukan] oleh nama Yesus, HambaMu yang
kudus."-Kisah 4:23, 27, 30.

Allah Lebih Unggul Sepanjang Zaman

------------------------------------------------------------

PADA awal mula pelayanan Yesus, ketika ia ke luar dari air
pembaptisan, suara Allah dari surga berkata: "Inilah Anak
yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan." (Matius 3:16, 17)
Apakah Allah berkata bahwa Ia adalah Anak-Nya sendiri, bahwa
Ia berkenan kepada diri-Nya sendiri, bahwa Ia mengutus
diri-Nya sendiri? Tidak, Allah sang Pencipta mengatakan
bahwa Ia, sebagai yang lebih unggul, berkenan kepada pribadi
yang lebih rendah, Anak-Nya, Yesus, untuk melakukan
pekerjaan yang ada di hadapan.

Yesus menyatakan keunggulan Bapanya ketika ia berkata: "Roh
Tuhan [Yehuwa, NW] ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi
Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
miskin." (Lukas 4:18) Pengurapan adalah pemberian wewenang
atau tugas oleh orang yang lebih tinggi kepada seseorang
yang masih belum mempunyai wewenang. Di sini, Allah adalah
jelas yang lebih unggul, karena Ia mengurapi Yesus,
memberinya wewenang yang tidak ia miliki sebelumnya.

Yesus membuat jelas keunggulan Bapanya ketika ibu dari dua
murid memohon agar putra-putranya masing-masing duduk di
sebelah kanan dan di sebelah kiri Yesus bila ia memerintah
dalam Kerajaannya. Yesus menjawab: "Hal duduk di sebelah
kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak
memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi
siapa BapaKu [yaitu Allah] telah menyediakannya." (Matius
20:23) Jika Yesus adalah Allah Yang Mahakuasa, ia berhak
memberikan kedudukan tersebut. Namun Yesus tidak dapat
melakukan itu, karena ini adalah hak Allah, dan Yesus bukan
Allah.

Doa Yesus sendiri merupakan contoh yang ampuh dari
kedudukannya yang lebih rendah. Ketika Yesus akan mati, ia
memperlihatkan siapa pribadi yang lebih unggul daripada dia
dengan berdoa: "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah
cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan
kehendakMulah yang terjadi." (Lukas 22:42) Kepada siapakah
ia berdoa? Kepada sebagian dari dirinya sendiri? Tidak, ia
berdoa kepada pribadi yang sama sekali terpisah darinya,
Bapanya, Allah, yang kehendak-Nya lebih unggul dan bisa saja
berbeda dari kehendaknya sendiri, satu-satunya Pribadi yang
dapat 'mengambil cawan ini.'

Kemudian, ketika mendekati kematian, Yesus berseru:
"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Markus
15: 34) Kepada siapakah Yesus berseru? Kepada dirinya
sendiri atau bagian dari dirinya? Pasti seruan itu,
"Allahku," tidak berasal dari seseorang yang menganggap
dirinya sendiri Allah. Dan jika Yesus adalah Allah, maka
oleh siapa ia ditinggalkan? Dirinya sendiri? Hal itu tidak
masuk akal. Yesus juga berkata: "Ya Bapa, ke dalam tanganMu
Kuserahkan nyawaKu" (Lukas 23:46) Jika Yesus adalah Allah,
mengapa ia harus menyerahkan nyawanya kepada sang Bapa?

Setelah Yesus mati, ia berada dalam kuburan selama sebagian
dari tiga hari. Jika ia adalah Allah, maka Habakuk 1:12 (NW)
keliru ketika berkata: "Allahku, Yang Mahakudus, Engkau
tidak mati." Namun Alkitab berkata bahwa Yesus mati dan
tidak sadar dalam kuburan. Dan siapakah yang membangkitkan
Yesus dari antara orang mati? Dan jika ia benar-benar mati,
ia tidak mungkin membangkitkan dirinya sendiri. Sebaliknya
jika ia tidak benar-benar mati, kematiannya yang pura-pura
tidak akan membayar harga tebusan untuk dosa Adam. Tetapi ia
benar-benar membayar harga itu sepenuhnya melalui
kematiannya yang sungguh-sungguh. Jadi "Allah [yang]
membangkitkan [Yesus] dengan melepaskan Dia dari sengsara
maut." (Kisah 2:24) Yang lebih unggul, Allah Yang Mahakuasa,
membangkitkan yang kurang unggul, hamba-Nya Yesus, dari
kematian.

Apakah kesanggupan Yesus untuk melakukan mukjizat-mukjizat,
seperti membangkitkan orang, menunjukkan bahwa ia adalah
Allah? Nah, rasul-rasul dan nabi Elia serta nabi Elisa juga
mempunyai kuasa itu, namun hal itu tidak membuat mereka
lebih tinggi daripada manusia. Allah memberikan kuasa untuk
melakukan mukjizat-mukjizat kepada nabi-nabi, Yesus, dan
rasul-rasul untuk menunjukkan bahwa Ia mendukung mereka.
Namun hal itu tidak membuat mereka semua bagian dari
Keilahian yang jamak.

Pengetahuan Yesus Terbatas

------------------------------------------------------------

KETIKA Yesus memberikan nubuatnya mengenai akhir sistem ini,
ia berkata: "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak
seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan
Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32) Jika Yesus
adalah Anak yang setara, bagian dari Keilahian, ia pasti
mengetahui apa yang diketahui sang Bapa. Namun Yesus tidak
tahu, karena ia tidak setara dengan Allah.

Demikian pula, kita membaca dalam Ibrani 5:8 bahwa Yesus
"belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya."
Dapatkah kita membayangkan bahwa Allah harus belajar
sesuatu? Tidak, tetapi Yesus memang demikian, karena ia
tidak mengetahui segala sesuatu yang Allah ketahui. Dan ia
harus belajar sesuatu yang Allah tidak akan pernah perlu
pelajari -ketaatan. Allah tidak pernah harus menaati
siapapun.

Perbedaan antara apa yang Allah ketahui dan apa yang Kristus
ketahui juga nyata ketika Yesus dibangkitkan ke surga untuk
tinggal bersama Allah. Perhatikan kata-kata pertama dari
buku Alkitab yang terakhir: "Wahyu Yesus Kristus, yang
dikaruniakan Allah kepadaNya." (Wahyu 1:1) Jika Yesus
sendiri adalah bagian dari Keilahian, apakah ia perlu diberi
Wahyu oleh bagian lain dari Keilahian itu -Allah? Pasti ia
sudah mengetahui semuanya, karena Allah mengetahuinya. Namun
Yesus tidak tahu, karena ia bukan Allah.

Yesus Tetap Lebih Rendah Kedudukannya

------------------------------------------------------------

DALAM kehidupannya sebelum menjadi manusia, dan juga ketika
ia berada di atas bumi, Yesus lebih rendah dari Allah.
Setelah dibangkitkan, ia tetap berada dalam kedudukan yang
lebih rendah, nomor dua.

Ketika berbicara tentang kebangkitan Yesus, Petrus dan
orang-orang yang besertanya mengatakan kepada Sanhedrin
Yahudi: "Dialah [Yesus] yang telah ditinggikan oleh Allah
sendiri dengan ["ke," NW] tangan kananNya." (Kisah 5:31)
Paulus berkata: "Allah sangat meninggikan Dia." (Filipi 2:9)
Jika Yesus adalah Allah, bagaimana mungkin Yesus
ditinggikan, yaitu dinaikkan kepada kedudukan yang lebih
tinggi yang sudah ia miliki sebelumnya? Ia tentu sudah
merupakan bagian dari Tritunggal dengan kedudukan yang
tinggi. Jika, sebelum ditinggikan, Yesus setara dengan
Allah, meninggikan dia lebih tinggi lagi akan membuatnya
lebih unggul daripada Allah.

Paulus juga berkata bahwa Kristus masuk "ke dalam sorga
sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan
kita." (Ibrani 9:24) Jika anda muncul di hadapan hadirat
seseorang, bagaimana mungkin anda adalah orang itu juga?
Tidak mungkin. Anda harus berbeda dan terpisah.

Demikian pula, tepat sebelum dilempari batu sampai mati,
sang martir Stefanus "menatap ke langit, lalu melihat
kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah."
(Kisah 7:55) Maka jelas, ia melihat dua pribadi yang
terpisah -namun tidak melihat roh kudus, tidak melihat
Keilahian Tritunggal.

Dalam kisah di Wahyu 4: 8 sampai 5: 7, Allah diperlihatkan
duduk di atas takhta surgawi-Nya, tetapi Yesus tidak. Ia
harus menghampiri Allah untuk mengambil gulungan dari tangan
kanan Allah. Ini menunjukkan bahwa di surga Yesus bukan
Allah tetapi terpisah dari Dia.

Sesuai dengan yang dikatakan di atas, Bulletin of the John
Rylands Library di Manchester, Inggris, berkata: "Dalam
kehidupannya di surga setelah dibangkitkan, Yesus
digambarkan tetap memiliki kepribadian tersendiri sebagai
individu dalam segala hal, yang berbeda dan terpisah dari
pribadi Allah tepat seperti ketika ia hidup di atas bumi
sebagai Yesus di bumi. Di samping Allah dan dibandingkan
dengan Allah, ia memang muncul sebagai suatu pribadi surgawi
lain lagi di tempat surgawi Allah, sama seperti para
malaikat -walaupun sebagai Anak Allah, ia berada dalam
tingkatan yang berbeda, dan mempunyai kedudukan jauh di atas
mereka." -Bandingkan Filipi 2 :11.

Bulletin juga berkata: "Namun, apa yang dikatakan mengenai
kehidupan dan fungsi-fungsinya sebagai Kristus surgawi tidak
berarti ataupun menyatakan bahwa dalam status ilahi ia
berdiri setingkat dengan Allah sendiri dan adalah sepenuhnya
Allah. Sebaliknya, dalam gambaran Perjanjian Baru mengenai
pribadi surgawi dan pelayanannya kita melihat seorang tokoh
yang terpisah dari Allah dan lebih rendah daripadaNya."

Di masa depan yang kekal di surga, Yesus akan terus menjadi
hamba Allah yang terpisah dan lebih rendah. Alkitab
mengatakannya sebagai berikut: "Kemudian tiba kesudahannya,
yaitu bilamana Ia [Yesus di surga] menyerahkan Kerajaan
kepada

Allah Bapa ... maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan
diriNya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu
di bawahNya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua."-1
Korintus 15:24, 28.

Yesus Tidak Pernah Mengaku Sebagai Allah

------------------------------------------------------------

SIKAP Alkitab jelas. Allah Yang Mahakuasa, Yehuwa, bukan
hanya suatu Pribadi yang terpisah dari Yesus tetapi
sepanjang zaman Ia adalah Pribadi yang lebih unggul daripada
Yesus. Yesus selalu dinyatakan sebagai hamba Allah yang
rendah hati, terpisah dan lebih rendah. Itulah sebabnya
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa "Kepala dari Kristus
ialah Allah" dalam arti yang sama bahwa "Kepala dari
tiap-tiap laki-laki ialah Kristus." (1 Korintus 11:3) Dan
itulah sebabnya Yesus sendiri berkata: "Bapa lebih besar
dari padaAku."-Yohanes 14: 28.

Faktanya ialah, Yesus bukan Allah dan tidak pernah mengaku
demikian. Hal ini diakui oleh semakin banyak sarjana.
Seperti dikatakan Bulletin dari Rylands: "Faktanya harus
dihadapi bahwa penelitian Perjanjian Baru selama kira-kira
tiga puluh atau empat puluh tahun belakangan ini telah
menuntun semakin banyak sarjana Perjanjian Baru yang ternama
kepada kesimpulan bahwa Yesus ... jelas tidak pernah
menganggap dirinya sendiri Allah."

Bulletin itu juga mengatakan tentang orang-orang Kristen
abad pertama: "Maka, ketika mereka menyebut [Yesus] dengan
gelar-gelar penghormatan seperti Kristus, Anak manusia, Anak
Allah dan Tuhan, ini adalah cara mengatakan bahwa ia adalah,
bukan Allah, melainkan yang melakukan pekerjaan Allah."

Jadi, bahkan ada sarjana-sarjana yang mengakui bahwa gagasan
Yesus adalah Allah bertentangan dengan seluruh kesaksian
Alkitab. Di sana, Allah selalu yang lebih unggul, dan Yesus
adalah hamba yang lebih rendah.



Kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling populer. Apabila Anda berkata “Allah” maka apa yang anda ucapkan itu, telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedangkan bila anda mengucapkan nama-namanya yang lain, misalnya ar-Rahman, al-Malik dsb, maka ia hanya menggambarkan sifat rahmat, atau sifat kepemilikan-Nya. Di sisi lain, tidak satupun dapat dinamai Allah, baik secara hakikat maupun majaz, sedang sifat-sifat-Nya yang lain, secara umum dapat dikatakan bisa disandang oleh makhluk-makhluk-Nya. Bukankah kita dapat mengatakan atau menamai si Ali yang pengasih sebagai Rahim atau Ahmad yang berpengetahuan sebagai Alim ?.Secara tegas Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri yang menamai diri-Nya Allah. Allah berfirman:“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, Maka Sembahlah Aku” (QS Thaha 20 : 14). Dalam QS Maryam 19 : 65 Tuhan bertanya : “Hal Ta’lamu Lahu Samiyyan”. Ayat ini dipahami oleh pakar-pakar Al-Quran sebagai bermakna : Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti ini? Atau Apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana Pemilik nama itu (Allah)? Atau bermakna Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini? Juga dapat berarti Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung makna sanggahan ini, kesemuanya benar, karena hanya Tuhan Yang Maha Esa, yang wajib wujud-Nya itu yang berhak menyandang nama tersebut, sedangkan selainnya tidak ada, bahkan tidak boleh. Hanya Dia (Allah) juga yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan mutlak, sebagaimana tidak ada nama yang lebih agung dari nama-Nya itu.Para ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak. Sekian banyak ulama berpendapat bahwa kata Allah tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah nama yang menunjuk kepada Dzat yang wajib wujud-Nya, yang menguasai seluruh hidup dan kehidupan dan kepada-Nya seluruh makhluk mengabdi dan bermohon. Tetapi ada juga ulama yang berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah Ilah, yang dibubuhi huruf alif dan lam, dan dengan demikian Allah merupakan nama khusus karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya. Sedang Ilah adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jamak (plural) Alihah. Dalam bahasa Inggris baik yang bersifat umum maupun khusus, keduanya diterjemahkan dengan God, demikian juga dalam bahasa Indonesia keduanya dapat diterjemahkan dengan Tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Yang bersifat umum ditulis dengan huruf kecil god/tuhan, dan yang bermakna khusus ditulis dengan huruf besar God/Tuhan.Alif dan Lam yang dibubuhkan dalam kata Ilah berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi itu (dalam hal ini kata Ilah) merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua huruf tersebut di sini sama dengan The dalam bahasa Inggris, kedua huruf tambahan itu menjadikan kata yang dibubuhi menjadi bersifat ma’rifat atau definite (diketahui/dikenal). Penggunaan bahasa Arab mengakui bahwa Tuhan yang telah dikenal oleh benak mereka adalah Tuhan Pencipta, berbeda dengan tuhan-tuhan (Alihah, bentuk jamak dari Ilah) yang lain. Selanjutnya dalam perkembangan lebih jauh dan dengan alasan mempermudah, Hamzah yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata al-Ilah tidak dibaca lagi sehingga berbunyi Allah dan sejak itulah kata ini seakan-akan telah merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata sekaligus sejak itu pula kata Allah menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur alam raya yang wajib wujud-Nya.Sementara ulama berpendapat bahwa kata Ilah yang darinya terbentuk kata Allah, berakar dari kata al-Ilahah , al-uluhah, dan al-uluhiyah yang kesemuanya menurut mereka bermakna ibadah dan penyembahan , sehingga Allah secara harfiah bermakna Yang disembah. Ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata alaha dalam arti mengherankan atau menakjubkan karena segala perbuatan dan atau ciptaan-Nya menakjubkan, atau karena bila dibahas hakikat-Nya akan mengherankan akibat ketidaktahuan makhluk tentang hakikat Dzat Yang Maha Agung itu. Adapun yang terlintas di dalam benak menyangkut hakikat Dzat Allah, maka Allah tidak demikian. Itu sebabnya ditemukan sebuah riwayat yang menyatakan “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berfikir tentang Dzat-Nya” Ada juga yang berpendapat bahwa kata Allah terambil dari kata Aliha-Ya’lahu yang berarti tenang, karena hati menjadi tenang bersama-Nya, atau dalam arti menuju dan bermohon, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya dan kepada-Nya pula makhluk bermohon.Memang setiap yang dipertuhankan pasti disembah, dan kepada-Nya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan ciptaan-Nya. Tetapi apakah itu berarti bahwa kata Ilah-dan juga-Allah secara harfiah bermakna demikian?. Benar juga bahwa kamus-kamus bahasa seringkali memberi arti yang bermacam-macam terhadap makna satu kata sesuai pemakaian penggunanya, karena bahasa mengalami perkembangan dalam pengertian-pengertiannya, tetapi makna-makna itu belum tentu merupakan makna asal yang ditetapkan oleh bahasa. Kata sujud misalnya pada awalnya digunakan oleh bahasa dalam arti ketaatan, ketundukan, kerendahan atau kehinaan. Meletakkan dahi di lantai adalah sujud karena itu pertanda kepatuhan dan kerendahan. Manusia atau binatang yang menganggukkan kepala juga dinamai sujud. Mengarahkan pandangan secara berkesinambungan atau lama pada sesuatu, jika disertai dengan kerendahan hati, juga dinamai sujud , bahkan ada jenis mata uang logam tertentu yang dinamai isjad yang terambil dari kata sujud, karena pada uang logam itu terdapat gambar penguasa yang bila rakyatnya melihat sang penguasa akan sujud. Demikiana terlihat makna dari satu kata bisa beraneka ragam, selama ada benang merah yang mengaitkannya dengan makna asal.Kembali ke kata Ilah yang beraneka ragam maknanya seperti dikemukakan di atas, dapat dipertanyakan apakah bahasa atau Al-Quran menggunakannya untuk makna “yang disembah” ?.Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “Yang disembah” menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam, seperti penyembahan kepada Matahari, bintang, bulan, manusia atau berhala, maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni Dzat yang wajib wujud-Nya yakni Allah swt.Kalau anda memperhatikan semua kata-kata Ilah dalam Al-Quran niscaya akan anda temukan bahwa kata itu lebih dekat untuk dipahami sebagai penguasa pengatur alam raya atau dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu, walaupun tentunya yang meyakini demikian, ada yang salah pilih Ilah-nya. Bukankah seperti dikemukakan sebelum ini kata Ilah bersifat umum, sedang kata Allah bermakna khusus bagi penguasa (Tuhan) sesungguhnya.ILAH merujuk pada Tuhan buatan misalnya : Tuhan Manusia, Matahari, Dewa-Dewi, Dewa Matahari, Dewa Laut dll. Meskipun ada juga manusia yang menuhankan pikirannya, menuhankan nafsunya , menuhankan barang mistiknya dll. Sedangkan ALLAH adalah Tuhan dalam pengertian Pencipta seluruh makhluk di jagad raya.Kata Allah mempunyai ke-khusus-an yang tidak dimiliki oleh kata lain: ia adalah kata yang sempurna huruf-huruf dan maknanya, serta memiliki ke-khusus-an berkaitan dengan rahasianya, sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai Ism Allah al-azam (nama Allah yang paling mulia), yang bila diucapkan dalam do’a Allah akan mengabulkannya.Dari segi lafazh terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya. Bacalah kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi Lillah dalam arti Milik/bagi Allah. Kemudian hapus huruf awal dari kata Lillah itu akan terbaca Lahu dalam arti bagi-Nya. Selanjutnya hapus lagi huruf awal dari Lahu akan terdengar dalam ucapan Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila ini pun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pada hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pula sementara ulama berkata bahwa kata Allah terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya Fitrah dalam diri manusia. Al-Quran juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah ” Apabila kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah” ( QS Az-Zumar 39:38 )Dari segi makna dapat dikemukakan bahwa kata Allah mencakup segala sifat-sifat-Nya, bahkan Dia-lah yang menyandang sifat-sifat tersebut. Karena itu, jika anda berkata Ya Allah, maka semua nama-nama serta sifat-sifat-Nya telah dicakup oleh kata tersebut. Di sisi lain, jika anda berkata ar-Rahim (Yang Maha Pengasih) maka sesungguhnya yang anda maksud adalah Allah, demikian juga jika anda mengatakan : al-muntaqin (yang membalas kesalahan), namun kandungan makna ar-Rahim (Yang Maha Pengasih) tidak mencakup pembalasan-Nya, atau sifat-sifat-Nya yang lain. Itulah salah satu sebab mengapa dalam syahadat seseorang harus menggunaan kata Allah ketika mengucapkan Asyhadu an La Ilaha Illa Allah, dan tidak dibenarkan mengganti kata Allah tersebut dengan nama-nama-Nya yang lain, seperti Asyhadu An La Ilaha illa ar-Rahman atau ar-Rahim.Jika anda menyebut nama Allah, maka pasti akan tenang hati anda, demikian penegasan penyandang Ama’ul al-Husna, Allah swt. Dengan firman-Nya : Dengan mengingat Allah, akan menjadi tenteram hati (QS. AR-Ra’d 13 : 28)Ketenangan dan ketenteraman itu lahir bila anda percaya bahwa Allah adalah Penguasa Tunggal dan Pengatur alam raya dan yang dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu. Ketenangan itu akan dirasakan bila anda menghayati sifat-sifatnya, kuadrat dan kekuasaan-Nya dalam mengatur dan memelihara segala sesuatu.(Sumber : Tafsir Al-Misbah Vol. 1 hal : 17-21)Tuhan atau God bukanlah terjemahan yang tepat untuk Allah, Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa manapun. Kata : “GOD” tidak bisa dipakai karena kata itu dapat berubah makna jika ditambah kata. Misalnya kata GOD kita tambah ESS maka akan menjadi GODDESS (Tuhan Wanita/Dewi), jika ditambah kata FATHER akan menjadi GODFATHER (perwalian bayi, pemimpin gerombolan) dll. Allah diterjemahkan Tuhan juga tidak tepat, karena Tuhan adalah kata umum. Matahari bisa di-Tuhan-kan, Pohon besar bisa dianggap Tuhan, bahkan kepandaian bisa di-Tuhan-kan juga.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget