Latest Post

11.49

(Menjawab Serangan Penginjil terhadap Islam)


JUM'AT AGUNG (Good Friday) adalah hari yang istimewa bagi umat kristiani, yang jauh lebih agung daripada hari Jum’at biasanya. Mereka meyakini bahwa pada hari Jum’at Agung itulah Yesus yang adalah penjelmaan Tuhan itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas gantungan tiang salib untuk menebus dosa manusia. Pada kalender Masehi tahun ini, hari Jum’at Agung itu jatuh pada tanggal 6 April. Pada kalender nasional, tanggal ini berwarna merah karena hari libur nasional dengan penjelasan “Hari Wafat Yesus Kristus” atau “Hari Wafat Isa Almasih.”
Ekspresi kegembiraan itu dilakukan secara overdosis oleh para penginjil dengan menodai agama lain. Sebuah situs kristenisasi berkedok Islam (www.######islam.com), memposting artikel “Bagaimana Allah Dapat Mati?” untuk menyanjung doktrin kematian Tuhan pada hari Jum’at Agung.
“Kebenaran yang paling mendasar dari agama Kristen adalah, fakta bahwa Allah mati bagi manusia. Kebenaran ini membuat orang Islam tersinggung. Bahkan, kebenaran ini menjadi batu sandungan bagi manusia selama ribuan tahun. Orang Islam menolak untuk menerima kematian Allah. Padahal, bila mereka mengenal Allah seperti diuraikan dalam Injil, mereka akan mengerti apa yang dimaksudkan dengan kematian Allah.
Isa Al-Masih adalah Allah yang dibungkus oleh daging. Untuk mengerti bagaimana Allah dapat mati, kita harus mengerti Pribadi Isa Al-Masih (Yesus Kristus).
Jika Isa hanya manusia biasa seperti yang dipercaya orang Islam, maka Allah tidak mati. Kita harus menyangkal firman Allah jika percaya hal ini. Menurut Injil, Isa adalah Allah yang dibungkus oleh daging. Injil mengatakan, “…Firman (Isa) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman (Isa) itu adalah Allah...” (Injil Yohanes 1:1). Berarti, Isa Al-Masih adalah Firman Allah yang kekal.”
Tidak benar tuduhan para penginjil bahwa umat Islam tersinggung terhadap doktrin Kristen tentang kematian Tuhan untuk menebus dosa manusia. Karena akidah umat Islam sudah ilmiah, ilahiah dan baku sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Isa sama sekali tidak pernah disalib.“...Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa” (Qs An-Nisa’ 157).
Justru umat Kristenlah yang tersinggung dengan ayat ini. Karena satu ayat ini meruntuhkan seluruh doktrin kekafiran umat kristiani yang berpangkal dari penyaliban Yesus. Bila tidak meyakini penyaliban Yesus, maka seluruh doktrin kristiani akan rontok tak tersisa. Tanpa penyaliban Yesus, maka gugurlah doktrin ketuhanan Yesus, dosa waris, penebusan dosa, inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus, doktrin Yesus juru selamat dosa, dan sebagainya.
Makanya surat Al-Qur'an surat An-Nisa’ 157 ini sangat dibenci oleh para misionaris Kristen. Secara sederhana, ayat ini menyatakan banyak hal untuk membuktikan batilnya anggapan penyaliban Yesus, di antaranya:
Pertama, Nabi Isa tidak disalib karena orang yang disalib itu adalah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa. Kenyataan ini didukung fakta-fakta dalam Bibel bahwa rezim yang menangkap Yesus tidak mengenal wajah Yesus, sehingga membayar Yudas untuk mengenali wajah Yesus dengan imbalan 30 keping perak (Matius 26:14-16). Selain itu, Bibel mencatat bahwa Yesus memiliki mukjizat bisa menghilang dari pandangan musuh (Lukas 4: 29-30) dan bisa merubah wajah (Matius 17: 2).
Kedua, orang-orang berselisih soal penyaliban. Betapa tidak, Bibel sendiri berselisih (kontradiktif) ketika menceritakan penyaliban Yesus, misalnya soal waktu penyaliban. Injil Markus 15:25 menyatakan bahwa Yesus disalib pada jam 9. Sementara Injil Yohanes 19:14 menceritakan bahwa pada jam 12 Yesus belum disalib, karena baru persiapan paskah. Adanya kontradiksi ini membuktikan bahwa para penulis Bibel hanya mengikuti per­sangkaan dan dugaan belaka.
Argumen penginjil berdasarkan Injil Yohanes 1:1 untuk meyakini Yesus sebagai wujud Tuhan yang dibungkus daging juga mengandung persoalan berat. Para ilmuwan Kristen sendiri meragukan keabsahan ayat ini, karena terbukti ayat ini bukan firman Tuhan, melainkan ayat palsu buatan manusia.
Selengkapnya, Injil Yohanes 1:1-14 ini berasal dari hymne Platonis yang diperkenalkan oleh cendekiawan Yahudi bernama Philo dari Alexandria. Bunyi kalimat pertama adalah: “Pada mulanya adalah Logos (firman), Logos (firman) itu bersama dengan Tuhan, dan Logos (firman) itu berasal dari Tuhan.”
Penyalin Kitab Yohanes kemudian mengadopsi hymne ini dan menempatkannya sebagai pembukaan Injil Yohanes, lalu merubah kalimat: “Logos itu berasal dari Tuhan” menjadi “Firman itu adalah Tuhan.”
Pencaplokan ajaran Platonis oleh penyalin Injil Yohanes ini, dijelaskan oleh bapa gereja Santo Agustinus sbb:
...Jika doktrin keselamatan melalui jalan pintas penebusan dosa oleh penjelmaan Tuhan ditopang oleh ayat palsu, maka bisa jadi surganya juga fatamorgana...
“...Book of the Platonist that had been translated out of Greek into Latin. In then I read, not indeed in these words but much the same thought, enforced by many varied arguments that: In the beginning was the word, and the word was with God and the word was God. All things were made by him, and without him nothing was made” (John K. Ryan, The Confession of St. Augustine, Doubleday, New York, 1960).
(...Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Di dalamnya salah baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya sama, didukung dengan berbagai argumen bahwa: Pada mulanya adalah firman, dan firman itu bersama Tuhan, dan firman itu adalah (dari) dari Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan).
Kepalsuan Injil Yohanes 1:1-14 ini diperkuat oleh catatan kaki Alkitab, bahwa Yohanes 1:1-18 bukanlah bagian Injil Yohanes, melainkan karya lepas yang kemudian dimasukkan menjadi pembuka kitab Yohanes tersebut:
“John 1:1-18; “The prologue is a hymn, formally poetic in style –perhap originally an independent composition and only later adapted and edited to serve as an overture to the Gospel” (The New Testament of the New American Bible, St. Paul Publication, 1970 hal. 203).
(Yohanes 1:1-18; pembukaan ini merupakan hymne berbentuk syair –mungkin berasal dari karya bebas, yang kemudian baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai pembuka Injil).
Jika doktrin keselamatan melalui jalan pintas penebusan dosa oleh penjelmaan Tuhan ditopang oleh ayat palsu, maka bisa jadi surganya juga fatamorgana. Bagian 2 >>>

11.47


(Menjawab Serangan Penginjil terhadap Islam-2)

Untuk menjustifikasi doktrin penyaliban Yesus untuk menebus dosa, penginjil membandingkan Al-Qur'an dan Yesus. Menurut mereka, keduanya adalah firman Allah yang berbeda status. Firman Allah dalam wujud kertas Al-Qur'an bisa musnah terbakar, sedangkan firman Allah dalam wujud Yesus akan kekal abadi. Demikian kutipannya:
“Orang Islam percaya setiap ayat Al-Quran adalah firman Allah yang kekal. Orang Kristen percaya Isa Al-Masih adalah Firman Allah yang kekal. Firman kekal umat Muslim memakai bentuk kertas dan tinta, diproduksi massal dengan mesin cetak. Firman ini secara tidak sengaja, dapat dimusnahkan oleh api atau rusak tenggelam akibat banjir. Firman Allah yang sejati datang dalam wujud manusia. Dia lahir dari seorang perawan. Hidup tanpa dosa. Mati bagi dosa manusia. Bangkit dari kematian dan naik kembali ke surga. Dia memberi hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya dan karya-Nya.”
Kata orang Arab, penginjil ini mengalami jahil murakkab (bodoh kuadrat). Sudah salah tapi sok pintar. Kalamullah Al-Qur'an itu tidak akan pernah musnah dengan terbakar atau kebanjiran, karena ayat-ayat Al-Qur'an itu dihafal oleh jutaan manusia dan dijaga langsung oleh Allah. Sedangkan yang ujudnya kertas, itu bukan Al-Qur'an, melainkan mushaf Al-Qur'an. Karenanya, jika seluruh mushaf di dunia ini dibakar habis, Al-Qur'an tetap kekal karena dijaga oleh para penghafal (hafidz) Al-Qur'an.
Tentu saja status Al-Qur'an ini tidak bisa disamakan dengan keyakinan Kristen bahwa Yesus adalah penjelmaan Firman (logos) Tuhan. Karena ayat rujukan doktrin ini benar-benar palsu buatan manusia.
Para penginjil tak usah bersilat lidah mengajak umat Islam ke dalam kesesatan doktrin penebusan dosa dan penyaliban Yesus. Sebaiknya mereka berpikir dan merenungi keyakinan mereka. Dengarkan pendapat ilmuwan Kristen yang berpikir objektif dan rasional. DR Iohanes Rakhmat, mantan pendeta GKI dan dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ) mengkritisi doktrin ini sbb:
“Hemat saya, soteriologi salib atau jalan keselamatan melalui azab, kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib memang memuat permasalahan-permasalahan teologis berat yang sangat sulit diatasi, atau bahkan tidak dapat diatasi sehingga merongrong validitas inti iman Kristen.
Pertama, kalau dosa manusia itu (dosa warisan ataupun dosa pribadi) dipandang Allah sebagai suatu tindak kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya dan terhadap diri Allah sendiri, maka apakah tindak kekerasan yang Allah sendiri telah lakukan terhadap Yesus (dengan mengharuskannya menempuh jalan penderitaan dan kematian mengenaskan di kayu salib) akan bisa menghapus kekerasan dosa-dosa manusia? Apakah suatu tindak kekerasan bisa meniadakan suatu tindak kekerasan lainnya? Apakah tindak kekerasan Allah terhadap Yesus bisa mengeliminasi tindak kekerasan yang manusia lakukan terhadap sesamanya dan terhadap Allah? Bukankah pendapat kita adalah bahwa kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru, bukan menghapuskannya? Bukankah dosa manusia tidak bisa dihapuskan oleh kekerasan ilahi? Bukankah dosa Allah tidak bisa menghapus dosa manusia? Bukankah dosa hanya menumpuk dosa, bukan melenyapkannya?
Kedua, bukankah teologi tentang penebusan dosa melalui penderitaan dan kematian biadab Yesus di kayu salib telah melegitimasi dan malah telah melakukan sakralisasi terhadap perbuatan biadab para pemimpin Yahudi dan gubernur Romawi Pontius Pilatus terhadap Yesus dari Nazaret yang sebetulnya tidak bersalah? Dengan kata lain, bukankah ketika gereja sedunia merayakan Jumat Agung, mereka sebenarnya sedang melegitimasi dan menyakralisasi kekejaman dan kekerasan serta kebiadaban sekelompok penguasa keagamaan dan politis kepada Yesus dari Nazaret? Bukankah tidak ada kekerasan yang sakral sehingga kekerasan ini boleh dilakukan?” (Membedah Soteriologi Salib, Sebuah Pergulatan Orang Dalam, hlm. 29-30).
Pernyataan mantan pendeta ini tak bisa diabaikan begitu saja, karena dikemukakan melalui penelitian panjang. Kompetensinya pun tak bisa dipandang sebelah mata, karena Iohanes Rakhmat berpendidikan formal purnasarjana di bidang pengkajian Yesus Sejarah (The Historical Jesus) dan Kekristenan Perdana. Afala ta’qilun, wahai misionaris Kristen? [A. Ahmad Hizbullah MAG/suara islam]

11.45


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang menunjuki dan menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang diberinya petunjuk niscaya tak ada seorangpun yang mampu menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tak satupun yang mampu memberi petunjuk. Ya Allah tunjukilah kami kepada jalan-Mu yang lurus.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang telah menyampaikan risalah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenarnya. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga, para sahabat, dan umatnya yang senantiasa meniti jalan hidupnya.
Kondisi umat Islam, diakui, dalam kondisi terpuruk. Negeri tempat tinggal mereka berada dibawah tekanan dan kendali bangsa-bangsa kafir, khususnya Amerika dan sekutunya. Syariat Islam yang menjadi aturan kehidupan mereka tidak boleh diterapkan. Bahkan bercita-cita tegaknya syariah saja sudah diancam. Sehingga dengan sukarela atau terpaksa kaum muslimin di atur dengan syariat dan aturan yang tidak diridhai Rabb mereka.
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50)

Di sisi lain dari kehidupan kaum muslimin, terdapat kelompok-kelompok yang serius dan konsisten mengembalikan kejayaan umat Islam. Mereka berjuang untuk tegaknya kepemimpinan Islam yang lepas dari tekanan bangsa kafir. Tujuannya, agar syariat Allah bisa ditegakkan. Kaum muslimin hidup mulia di bawah syariat Tuhannya.
Jalan perjuangan yang ditempuh untuk tercapainya tujuan di atas memang beragam. Namun ringkasnya, jalan dakwah -dengan bermacam bentuknya- dan jihad menjadi pilihan untuk sampainya kepada tujuan. Karena keduanya telah ditempuh teladan umat Islam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, untuk memenangkan Islam dan meninggikan kalimatnya.
Dalam perjalanan perjuangan Islam tadi, sekarang, kaum muslimin sedang mengalami keterpurukan. Pejuang Islam satu demi satu gugur di tangan lawan. Sebagiannya ditangkap dan dipenjara, bahkan ada yang dieksekusi mati dengan tuduhan teroris. Para tokohnya dirusak nama baiknya, sehingga umat Islam yang awam menjadi benci kepada mereka dan tidak memberikan dukungannya.
Di tataran kelompok dan jamaah umat Islam, lembaga-lembaga yang konsisten mengusung Dakwah Wal Jihad demi tegaknya syariah mendapat perlawanan hebat dari bangsa kafir. Para thaghut penentang syariat dari kalangan munafikin yang menjadi cecunguk kafirin berada di barisan terdepannya. Mereka bersatu padu untuk memberi stigma buruk terhadap gerakan dakwah dan jihad, sebagai kelompok teroris dan fundamentalis. Akibatnya, kelompok dan jamaah tersebut diancam dibubarkan.
Kondisi yang tidak menyenangkan ini mengakibatkan beberapa pejuang Islam membelot dari jalan perjuangan. Tidak lagi membela dakwah dan jihad Islam, tapi berbalik menjadi corong untuk padamnya cahaya perjuangan, -entah apa sebabnya, tapi urusan fulus terlihat ada di baliknya-. Para pembelot tersebut bersama para thaghut dan kafirin memerangi kaum muslimin. Mereka membuka semua rahasia yang menjadi strategi perjuangan, sehingga semakin mudahlah musuh memusnahkan pergerakan.
Melihat realita ini sebagian umat yang dahulu punya semangat menjadi melemah. Bahkan sebagian menganggap ujian demi ujian yang datang sebagai indikasi salahnya jalan. Sehingga ia meninggalkan jalan jihad dan memilih jalan berislam yang aman dari ancaman. Bagaimanakah hakikat perjuangan, khususnya di akhir zaman ini? Apakah kekalahan dan keterpurukan menjadi indikasi salahnya jalan sehingga harus ditinggalkan? Bagaimana seharusnya kaum Mujahidin menyikapi realita yang kurang menyenangkan ini?  
Ujian Untuk Penyaringan
Di antara sunah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam perjuangan, adanya tamhis (penyaringan/seleksi) dalam barisan pejuang Islam sebelum tibanya kemenangan. Karena kemenangan tidak akan diberikan kecuali melalui tangan hamba-hamba pilihan. Kemenangan yang beturut-turut dan cepat akan mengakibatkan masuknya manusia yang beragam kualitas iman dan kejujurannya dalam barisan pemenang. Karena itu, Allah memberikan ujian kepada para hamba-Nya sehingga hanya tinggal pasukan pilihan. Tidak ada dalam barisan mujahidin kecuali orang yang jujur dan teguh, mereka itulah yang akan Allah tolong sesudah itu, sebagaimana yang terjadi pada ghazwah (perang) Uhud.
SesudahAllah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada perang Badar, banyak orang madinah yang masuk Islam, di antara mereka ada golongan munafikin. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mentakdirkan perang Uhud sesudahnya sebagai tamhis (penyaringan dan seleksi), sebagaimana firman Allah Ta'ala sesudah terjadinya perang ini,
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)." (QS. Ali Imran: 140) Maka nampak dengan jelas kaum munafikin sesudah perang ini.
Tamhis ini juga sebagaimana yang dialami Thalut dan pasukannya saat bicara kepada pasukan yang bersamanya, "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka." (QS. Al-Baqarah: 249) Maka menjadi bersihlah barisan Thalut dari para pendusta dengan ujian ini, lalu yang sedikit inilah yang mampu mengalahkan Jalut dan pasukannya.
Saat manusia masuk Islam berbondong-bondong di Jazirah Arab pada akhir kehidupan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, padahal saat itu Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menyampaikan risalah ini kepada seluruh umat, maka haruslah dilakukan tamhis (seleksi) terhadap mereka sebelum mereka berangkat menyebarkan Islam dan memerangi Persia dan Romawi. Adalah wafatnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam merupakan ujian yang menampakkan muslim yang jujur dalam beragama dari pendustanya. Sehingga muncullah kelompok-kelompok murtadin yang lalu diperangi kaum muslimin. Hasilnya, barisan kaum muslimin menjadi bersih kembali sehingga kemenangan-kemenangan besar dapat diraih sesudah itu.
. . . Karena kemenangan tidak akan diberikan kecuali melalui tangan hamba-hamba pilihan. . .
Penutup
Karenanya, kepada mujahidin, janganlah kalian melemah semangat dalam memperjuangkan agama Allah ini. Sesungguhnya tugas kalian adalah berjuang sungguh-sungguh dengan beristi'anah (meminta pertolongan) dan tawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kemenangan ada di tangan-Nya. "Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 126)
Ingatlah teguran Allah kepada sahabat Nabi yang melemah dalam perang Uhud sesudah mendapatkan keterpurukan, "Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah  kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran: 146)
Sabarkan diri Anda dan perkuat kesabaran itu. Sesungguhnya keterpurukan ini tidaklah abadi. Sesudah malam pasti terbitlah siang. Sesudah keterpurukan pasti akan datang kemenangan, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-A'raf: 128)
Keterpurukan ini terjadi dengan izin Allah dan hikmah yang dikehendaki oleh-Nya. Yaitu untuk menyaring orang-orang yang jujur dan sungguh-sungguh dalam berjuang dari para pendusta dan penyusup. Supaya bersih barisan jihad dari munafikin dan pecundang, sehingga Allah akan datangkan kemenangan melalui tangan-tangan hamba pilihan. Wallahu Ta'ala A'lam [PurWD/voa-islam.com]
  • Disarikan dari tulisan Nashir al-Fahd ('Alim dan Mujahid yang sedang tertawan), dari situs Mimbar al-Tauhid wa al-Jihad.

11.43

WASHINGTON DC, AS (voa-islam.com) – Bertepatan dengan momen Paskah kristiani April 2012 ini, wajah majalah Newsweek tampil cukup mengejutkan bagi umat kristiani, dengan judul besar “Forget The Church Follow Jesus” (Lupakan Gereja, Ikuti Yesus). Headline majalah terkemuka AS tersebut menampilkan artikel tulisan Andrew Sullivan berjudul “Christianity in Crisis.”
Sullivan mengawali tulisannya dengan menggunakan pandangan Thomas Jefferson, penulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA). Jefferson menyatakan dirinya sebagai pengikut Yesus, namun menolak mengikuti doktrin gereja.
Sullivan memuji tindakan Jefferson yang telah mengedit ulang Alkitab (Bibel) selama 77 tahun sejak berusia 27 tahun pada 1820 silam. Presiden ketiga AS menyusun Alkitab baru dengan mengamputasi semua hal yang menurutnya tidak bisa diterima akal seperti mukjizat dan kelahiran Yesus, untuk mendapatkan apa yang menurutnya ‘Ajaran Asli Yesus.’ Hasilnya, Alkitab yang lebih tipis itu diberi nama “The Jefferson Bible.”
Lebih jauh lagi, Jefferson mengkritik gereja, pendeta, ahli teologi, bahkan Rasul Paulus karena mereka dianggap telah mengotori ajaran Yesus dengan berbagai paham-paham mereka yang memecah belah. Dengan begitu, gereja diharapkan bisa berdiri terpisah dari negara, apalagi politik praktis, sehingga ia tidak perlu mengotori tangannya dengan kekerasan dan paksaan dalam kekuasaan
Tak bisa disangkal memang, sekarang ini banyak sekali isu yang melanda gereja. Salah satu yang terbesar adalah skandal seks gereja Katolik, ketika banyak pastur dan uskup yang menolak untuk mengakui maha-skandal ini dan memilih berlindung di balik pengacara. Lebih buruk lagi, agama dan gereja telah dibawa ke ranah politik di AS akhir-akhir ini, di mana 3 dari 4 calon presiden dari partai Republik terang-terangan membawa pandangan agama sebagai pandangan politik. Bahkan Obama juga telah membawa isu agama dengan mengaitkan kebijakannya dengan ajaran Yesus tentang ‘mengasihi sesama seperti diri sendiri’. Fenomena itu dinilai mengotori agama dengan politik praktis dan kepentingan sesaat.
Blak-blakan Sullivan memaparkan bagaimana dunia kekristenan dewasa ini dirusak dengan politik, skandal dalam gereja, dan pendeta-pendeta evangelis yang menyuarakan ajaran ‘kemakmuran’. Ia juga mengkritik keras ‘perkawinan’ antara kekuasaan dengan ajaran Yesus, di mana agama yang mengajarkan kedamaian beralih menggunakan kekerasan sebagai alat, karena kekuasaan tak bisa dipisahkan dari penggunaan kekerasan.
Dengan keras Andrew Sullivan menyatakan bahwa agama Kristen telah dihancurkan oleh politisi, penginjil dan juga para pendeta. “Christianity has been destroyed by politics, priests, and get-rich evangelists,” kecam mantan editor The New Republic, kolumnis mingguan Sunday Times of London yang telah menulis beberapa buku itu. [taz/dbs]

11.36


Mantan Uskup Mormon Kevin Kloosterman, mengatakan "keluar" dari komunitas Gereja Mormon, tahun lalu. "Saya keluar dari Gereja Mormon sebagai bentuk permintaan maaf pribadi kepada kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender", ucapnya. "Orang benar-benar tidak memahami mereka, tidak memahami masalah mereka, dan tidak memahami kehidupan mereka, dan saya berusaha memahami mereka", tambah Kevin, kepada CNN.
Kevin tidak berbicara atas nama gereja, kemudian mantan Uskup Mormon berdiri di depan kerumunan kaum gay, saat berlangsung konferensi November, yang mengambil tema dan isu gay dan lesbian di Salt Lake City, Utah. Di mana Salt Lake City merupakan markas kaum Mormon.

Di depan para gay, lesbian, dan biseksual itu, Kevin mengatakan, "Maaf - sangat, sangat menyesal," ucap Kevin Kloosterman.  "Satu-satunya yang bisa saya katakan kepada anda adalah sabar. Saya telah melakukan begitu banyak untuk anda, mencari perubahan kecil dengan orang yang anda cintai, khususnya dengan jemaat Mormon jemaat, dan pemimpin gereja", tambahnya.
Permintaan maaf Kloosterman adalah salah satu contoh dari apa yang banyak pengamat Mormon dan Gereja melihat sebagai pergeseran baru dalam postur komunitas Mormon terhadap kaum gay dan lesbian, termasuk oleh gereja resmi itu sendiri.
Meskipun awalnya  doktrin gereja mengutuk perilaku homoseksualitas, dan gereja tetap menentang perkawinan sesama jenis, tetapi perlahan-lahan gereja di Barat telah berubah. Semakin banyak gereja mengadopsi gaya dan kaum lebi, dan bahkan mulai ada pemimpin gereja yang berasal dari kaum gay. Bahkan, sekarang gereja secara formal melegalkan perkawinan dikalangan sesama jenis. Di Inggris dan Amerika serikat para pendeta sudah menjadi jamak mengawinkan para gay. Sekarang gereja memperjuangkan hak-hak dasar masyarakt lesbian gay, biseksual dan transgender, termasuk dukungan menyuarakan untuk beberapa hak-hak gay.

Sementara seorang gay dari  Mormon di San Francisco terpilih tahun lalu menjadi pemimpin gereja. Serangkaian konferensi kaum gay dan lesbi yang menjadi pengikut  Mormon, beberapa bulan lalu, mendapatkan sambutan yang luas dari kalangan gay dan lesbi.
Juru bicara Gereja Mormon Michael Purdy mengatakan,
"Dalam Gereja, kami berusaha  mengikuti Yesus Kristus yang menunjukkan cinta besar dan kasih sayang terhadap semua kehendak anak Allah", ujarnya.
Sekarang di produki video tentang kehidupan gay, lesbi, dan biseksual, dan mendapatkan sambutan yang hangat dikalangan pemuda  di Amerika, ujar   Jensen. "Gambar-gambar viedo tentang kehidupan gay, lesbi dan biseksual dilihat hampir 400.000 kali di YouTube, dan  "sangat positif", ujar Jensen.
Gereja di Barat, tertmasuk Mormon yang begitu ketat dalam tradisi agama, tidak dapat bertahan mengahadapi hantaman, perubahan sikap masyarakat di Barat, yang berubah. Mereka tidak lagi dengan perkawinan yang wajar - laki dan perempuan. Perilaku menyimpang terus berkembang dengna pesat. Termasuk semakin maraknya gaya hidup kaum "Luth". Di seluruh dunia Barat.
Di seantero Eropa dan Amerika, di mana gereja mulai ditinggalkan pemeluknya, dan tidak tertarik lagi dengan gereja. Maka terpaksa gereja mengakomodasi perilaku menyimpang para pengikutnya. Di dalam kehidpan seksual mereka. Inilah sebuah gejala baru yang dapat menghancurkan perabadan dan bangsa Barat, tanpa harus diperangi mereka akan punah.
Di hampir seluruh daratan Eropa, Amerika dan Jepang,  orang-orang yang berusia diatas 60 tahun semakin bertambah banyak, jumlah  mencapai 67 persen. Usia yang tidak produktif. Anak-anak muda tidak tumbuh. Karena masyarakat Barat, menjadi pengikut "Luth", yang tidak mau bertanggung jawab.
Mereka ingin menikmati sek, tetapi mereka tidak mau mempunyai anak. Inilah yang akan menghancurkan Barat di masa depan. Gereja sekarang mengikuti kecenderungan masyarakat,  dan bahkan sudah mulai mengadopsi mereka, termasuk adanya uskup dan pendeta dari gay. (af)

Sumber : Gay Menjadi Pemimpin Gereja

Terkadang kita menghadapi beberapa masalah yang memiliki urgensi (tingkat kepentingan) yang sama bagi kita. Kita pun ingin memohon dengan cara istikharah, tapi bingung tentang tata caranya. Mudah-mudahan tulisan berikut ini bisa jadi jalan keluarnya.

Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan. Sebelum datangnya Islam, masyarakat jahiliyah melakukan istikharah (menentukan pilihan) dengan azlam (undian). Setelah Islam datang, Allah melarang cara semacam ini dan diganti dengan shalat istikharah.
Dalil disyariatkannya shalat istikharah
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Teks Doa Istikharah

Teks doa istikharah ada dua:
Pertama,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih
Kedua, sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu:
Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Sehingga, Teks lengkapnya:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.

Kapan doa istikharah diucapkan?

Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul berkata, “Waktu doa istikharah adalah setelah salam, berdasarkan sabda beliau shallallahu Alaihi wa Sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ
Jika salah seorang di antara kalian berkehendak atas suatu urusan, hendaklah ia shalat dua rakaat yang bukan wajib, kemudian ia berdoa…..
Teks hadis menunjukkan setelah melaksanakan dua rakaat, artinya setengah salam.” (Bughyatul Mutathawi‘, Hal. 46)

Apakah ada bacaan khusus ketika shalat?

Tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya bacaan surat atau ayat khusus ketika shalat istikharah. Jadi, orang yang melakukan shalat istikharah bisa membaca surat atau ayat apapun, yang dia hafal. Al-Allamah Zainuddin Al-Iraqi mengatakan, “Aku tidak menemukan satu pun dalil dari berbagai hadis istikharah yang menganjurkan bacaan surat tertentu ketika istikharah.”
Apakah istikharah harus dengan shalat khusus ataukah boleh dengan semua shalat sunnah?
Pada hadis tentang shalat istikharah di atas dinyatakan,
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
Kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu…
Berdasarkan kalimat ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa melakukan istikharah tidak harus dengan shalat khusus, tapi bisa dengan semua shalat sunah. Artinya, seseorang bisa melakukan shalat rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, atau shalat sunah lainnya, kemudian setelah shalat dia membaca doa istikharah. Imam An-Nawawi mengatakan,
والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب ، وبتحية المسجد، وغيرها من النوافل
“Teks hadis menunjukkan bahwa doa istikharah bisa dilakukan setelah melaksanakan shalat rawatib, tahiyatul masjid, atau shalat sunnah lainnya.” (Bughyatul Mutathawi’, Hal. 45)
Jawaban dalam mimpi?
Banyak orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam mimpi. Ini adalah anggapan yang yang sama sekali tidak berdalil. Karena tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah mengatakan,
Mimpi tidak bisa dijadikan acuan hukum fiqih. Karena dalam mimpi setan memiliki peluang besar untuk memainkan perannya, sehingga bisa jadi setan menggunakan mimpi untuk mempermainkan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرؤيا ثلاثة، من الرحمن ومن الشيطان وحديث نفس
Mimpi ada 3 macam: dari Allah, dari setan, dan bisikan hati.”
Beliau juga menjelaskan bahwa mimpi tidak bisa untuk menetapkan hukum, namun hanya sebatas diketahui. Dan tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi. Karena itu, tidak disyaratkan, bahwa setiap istikharah pasti diikuti dengan mimpi. Hanya saja, jika ada orang yang istikharah kemudian dia tidur dan bermimpi yang baik, bisa jadi ini merupakan tanda baik baginya dan melapangkan jiwa. Tetapi, tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. (Al-Fatwa Al-Masyhuriyah: http://almenhaj.net/makal.php?linkid=124)

Apa yang harus dilakukan setelah istikharah?

Para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Imam An-Nawawi mengatakan,
إذا استخار مضى لما شرح له صدره
“Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya.”

Kesimpulan

Berdasarkan keterangan di atas, tata cara shalat istikharah sebagai berikut:
  1. Istikharah dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan satu hal tertentu, bukan sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan kepada Allah.
  2. Bersuci, baik wudhu atau tayammum.
  3. Melaksanakan shalat dua rakaat. Shalat sunnah dua rakaat ini bebas, tidak harus shalat khusus. Bisa juga berupa shalat rawatib, shalat tahiyatul masjid, shalat dhuha, dll, yang penting dua rakaat.
  4. Tidak ada bacaan surat khusus ketika shalat. Artinya cukup membaca Al-Fatihah (ini wajib) dan surat atau ayat yang dihafal.
  5. Berdoa setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. Caranya: membaca salah satu diantara dua pilihan doa di atas. Selesai doa dia langsung menyebutkan keinginannya dengan bahasa bebas. Misalnya: bekerja di perushaan A atau menikah dengan B atau berangkat ke kota C, dst.
  6. Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi pada anda.
  7. Apapun hasil akhir setelah istikharah, itulah yang terbaik bagi kita. Meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, kita harus berusaha ridha dan lapang dada dengan pilihan Allah untuk kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa di atas, dengan menyatakan, [ ثُمَّ أَرْضِنِى] “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya” maksudnya adalah ridha dengan pilihan-Mu ya Allah, meskipun tidak sesuai keinginanku.
Allahu a’lam.
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

23.42
Dalam Injil Kitab Matius 1: 1 6 (Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru), diterangkan silsilah Yesus, antara lain tersebut sebagai berikut:
1. Bahwa inilah silsilah Kristus, yaitu anak Daud, anak Ibrahim.
2. Maka Ibrahim memperanakkan Ishak; dan Ishak memperanakkan Yakub; dan Yakub memperanakkan Yahuda serta adik-beradik.
3. maka Yahuda dengan Tamar memperanakkan Paris dan Zarah; dan Paris memperanakkan Ezrom; Ezrom memperanakkan Aram.
4. maka Aram memperanakkan Aminadab, dan Aminadab memperanakkan Nahsyun; dan Nahsyun memperanakkan Salmun.
5. maka Salmun dengan Rahab memperanakkan Boaz; dan Boaz memperanakkan Obe’d memperanakkan Yisai.
6. dan Yisai memperanakkan baginda Daud; maka Daud dengan bekas istri Uria memperanakkan Sulaiman.
Dari silsilah Yesus yang tersebut di atas, ada lima orang yang hendak diperkatakan, yaitu: 1). Yahuda, 2). Tamar, 3). Paris, 4). Rahab, 5). bekas istri Uria. Kelima orang tersebut termasuk orang-orang yang asal-usul turunan Yesus.
Menurut silsilah itu Paris disebut anak Yahuda dari istrinya Tamar. Dalam Injil Kitab Kejadian 38: 13 – 29 (Zabur/Taurat/Injil Perjanjian Lama) tersebut, Paris adalah anak zina, yaitu Yahuda berzina dengan Tamar menantunya sendiri. Dari perzinaan itu lahir Paris. Maka segala turunan Paris menurut Injil termasuk Yesus sendiri adalah menjadi turunan anak zina (dan anak pezina; peny.).
Rahab yang menjadi ibu bagi Boaz, menurut Injil Kitab Yusak 2: 1; 22 – 23 (Taurat/Zabur/Injil Perjanjian Lama) dan Injil Kitab Ibrani 11 – 31 (Taurat/Zabur/Injil Perjanjian Lama), adalah seorang pelacur. Jadi Boaz dan turunannya termasuk Yesus sendiri adalah menjadi turunan pelacur.
Bekas istri Uria yang menjadi istri Daud dan beranakkan Sulaiman, menurut Injil Kitab 2 Semuel 11: 4 (Taurat/Zabur/Injil Perjanjian Lama), adalah seorang perempuan yang telah berzina dengan Daud hingga mengandung (dan melahirkan Sulaiman; peny.). Dengan demikian turunannya (Sulaiman, dll; peny.) termasuk Yesus sendiri adalah turunan perempuan yang telah berzina (dan anak zina; peny.).
Dari keterangan Injil di atas, diketahui bahwa Yahuda sudah berzina, Tamar sudah berzina, Paris anak zina, Rahab adalah pelacur, Boaz anak Rahab anak pelacur, bekas istri Uria sudah berzina dan raja Daud disebut Injil telah berzina juga hingga lahir Sulaiman. Maka menurut Injil, silsilah turunan Yesus adalah dari pada orang-orang yang tersebut.
Dengan demikian diketahui bahwa menurut keterangan Injil yang dipercayai orang Kristen sebagai kitab suci, Yesus menurut silsilahnya adalah turunan anak zina, turunan pelacur, dan turunan orang-orang yang berzina. Inilah sebagai akibat perbuatan-perbuatan kotor yang diceritakan Injil itu sendiri mengenai riwayat hidup Yesus.

10.22
Terdapat banyak definisi tentang epilepsi diantaranya adalah:
  1. Epilepsi merupakan lepas muatan listrik yang berlebihan dan mendadak, sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dalam/dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuh terganggu.
  2. Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007)
  3. Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
  4. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)
Jenis Epilepsi meliputi, epilepsi tonik klonik (grandmal), epilepsi absans (petit mal), epilepsi parsial sederhana, epilepsi parsial komplek, epilepsi atonik, dan epilepsi mioklonik. Penyakit efpilepsi disebabkan oleh bayak hal diantaranya: faktor genetik/turunan (meski relatif kecil antara 5-10 persen), kelainan pada menjelang-sesudah persalinan, cedera kepala, radang selaput otak, tumor otak, kelainan pembuluh darah otak, adanya genangan darah/nanah di otak, atau pernah mengalami operasi otak. Selain itu, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan peredarah darah, keracunan, alergi dan cacat bawaan




Penyakit tersebut juga telah di alami RASUL PAULUS:


Mari kita simak baik-baik:

Saint Paul
born 5-15 AD in Tarsus/Cilicia, died approx. 64 AD in Rome
In old Ireland, epilepsy was known as 'Saint Paul's disease'. The name points to the centuries-old assumption that the apostle suffered from epilepsy.
To support this view, people usually point to Saint Paul's experience on the road to Damascus, reported in the Acts of the Apostles in the New Testament (Acts 9, 3-9), in which Paul, or Saul as he was known before his conversion to Christianity, is reported to have a fit similar to an epileptic seizure: '...suddenly a light from the sky flashed around him. He fell to the ground and heard a voice saying to him: ''Saul, Saul! Why do you persecute me?''...Saul got up from the ground and opened his eyes, but he could not see a thing... For three days he was not able to see, and during that time he did not eat or drink anything.'
Saul's sudden fall, the fact that he first lay motionless on the ground but was then able to get up unaided, led people very early on to suspect that this dramatic incident might have been caused by a grand mal seizure. In more recent times, this opinion has found support from the fact that sight impediment-including temporary blindness lasting from several hours to several days-has been observed as being a symptom or result of an epileptic seizure and has been mentioned in many case reports.
In his letters St Paul occasionally gives discreet hints about his 'physical ailment', by which he perhaps means a chronic illness. In the second letter to the Corinthians, for instance, he states: 'But to keep me from being puffed up with pride... I was given a painful physical ailment, which acts as Satan's messenger to beat me and keep me from being proud.' (2 Corinthians, 12,7). In his letter to the Galatians, Paul again describes his physical weakness: 'You remember why I preached the gospel to you the first time; it was because I was ill. But even though my physical condition was a great trial to you, you did not despise or reject me.' (Galatians 4, 13-14) In ancient times people used to spit at 'epileptics', either out of disgust or in order to ward off what they thought to be the 'contagious matter' (epilepsy as 'morbus insputatus': the illness at which one spits).
--- close this window ---
© German Epilepsymuseum Kork - Museum for epilepsy and the history of epilepsy

TERJEMAHAN BEBAS

Santo Paulus

5-15 lahir di Tarsus AD / Kilikia, meninggal sekitar. 64 Masehi di Roma

Di Irlandia tua, epilepsi dikenal sebagai 'penyakit Santo Paulus ". Poin nama ke abad-asumsi lama bahwa Paulus menderita epilepsi.

Untuk mendukung pandangan ini, orang biasanya menunjuk pada pengalaman Santo Paulus di jalan ke Damaskus, dilaporkan dalam Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru (Kis. 9, 3-9), di mana Paulus, atau Saul karena ia dikenal sebelum nya konversi ke Kristen, dilaporkan telah cocok mirip dengan kejang epilepsi: "... tiba-tiba suatu sinar dari langit berkelebat di sekelilingnya. Dia jatuh ke tanah dan mendengar suara berkata kepadanya:''Saulus, Saulus! Mengapa engkau menganiaya Aku Saul bangun dari tanah dan membuka matanya, tetapi ia tidak bisa melihat apa-apa ... ?''... Selama tiga hari ia tidak bisa melihat, dan selama waktu itu ia tidak makan atau minum apa pun. "

Saul tiba-tiba jatuh, fakta bahwa ia pertama kali meletakkan bergerak di tanah, tetapi kemudian bisa bangun tanpa bantuan, orang yang dipimpin sangat awal untuk mencurigai bahwa peristiwa dramatis mungkin disebabkan oleh kejang grand mal. Dalam masa yang lebih baru, pendapat ini telah mendapat dukungan dari fakta bahwa pandangan hambatan-termasuk kebutaan sementara yang berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari-telah diamati sebagai gejala atau akibat dari serangan epilepsi dan telah disebutkan dalam laporan kasus banyak.

Dalam surat-suratnya Santo Paulus kadang-kadang memberikan petunjuk-hati tentang 'penyakit fisik' nya, di mana ia mungkin berarti penyakit kronis. Dalam surat kedua ke Korintus, misalnya, ia menyatakan: "Tapi untuk menjaga saya dari menjadi sombong dengan bangga ... Aku diberi penyakit fisik yang menyakitkan, yang bertindak sebagai utusan Iblis untuk mengalahkan saya dan menjaga saya dari menjadi bangga. " (2 Korintus, 12,7). Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus sekali lagi menggambarkan kelemahan fisik nya: "Kau ingat mengapa saya memberitakan Injil kepada Anda pertama kali; itu karena aku sakit. Tapi meskipun kondisi fisik saya adalah cobaan yang besar kepada Anda, Anda tidak merendahkan atau menolak saya. " (Galatia 4, 13-14) Pada zaman kuno yang digunakan orang untuk meludahi 'epilepsi', entah karena jijik atau dalam rangka untuk menangkal apa yang mereka pikir sebagai 'materi menular' (epilepsi sebagai 'morbus insputatus': penyakit di mana salah satu meludah).

Tutup jendela ini --- ---

© Jerman Epilepsymuseum Kork - Museum untuk epilepsi dan sejarah epilepsi



Sumber: http://www.epilepsiemuseum.de/alt/paulusen.html



Dan baca juga:

Religious Figures

According to Dr. Jerome Engel, a number of men and women who have attained religious prominence may have done so in spite of, or perhaps due to, their epileptic signs and symptoms. In fact epilepsy, as "the sacred disease," has been profoundly intertwined with religious practices throughout the ages and the world.

Saint Paul's seizure-like experiences are the best documented of the major religious figures. On the road to Damascus he saw a bright light flashing around him, fell to the ground and was left temporarily blinded by his vision and unable to eat or drink. Paul is thought by some physicians to have had facial motor and sensitive disturbances coming after ecstatic seizures; they have diagnosed him with temporal lobe epilepsy which occasionally developed into secondary tonic-clonic attacks.

Joan of Arc was an uneducated farmer's daughter in a remote village of medieval France who altered the course of history through her amazing military victories. From age thirteen Joan reported ecstatic moments in which she saw flashes of light coming from the side, heard voices of saints and saw visions of angels.

In the opinion of the neurologist Dr. Lydia Bayne, Joan's blissful experiences "in which she felt that the secrets of the universe were about to be revealed to her"- were seizures, and they were triggered by the ringing of church bells. Joan displayed symptoms of a temporal lobe focus epilepsy: specifically, a musicogenic form of reflex epilepsy with an ecstatic aura. Musicogenic epilepsy is generally triggered by particular music which has an emotional significance to the individual. Joan's voices and visions propelled her to become an heroic soldier in the effort to save France from English domination and led to her martyrdom in 1431, burned at the stake as a heretic when she was 19 years old.

Soren Kierkegaard, the brilliant Danish philosopher and religious thinker considered to be the father of existentialism, worked hard at keeping his epilepsy secret.

Adapted with permission from Epilepsy Toronto

Topic Editor: Steven C. Schachter, M.D.
Last Reviewed:12/15/06

TERJEMAHAN BEBAS

Menurut Dr Jerome Engel, sejumlah pria dan wanita yang telah mencapai keunggulan agama mungkin telah melakukannya meskipun, atau mungkin karena, tanda-tanda dan gejala epilepsi mereka. Pada epilepsi Bahkan, sebagai "penyakit suci," telah sangat terkait dengan praktik-praktik keagamaan sepanjang zaman dan dunia.

Kejang-seperti Santo Paulus pengalaman adalah yang terbaik didokumentasikan tokoh agama besar. Di jalan ke Damaskus ia melihat cahaya terang di sekitarnya berkedip, jatuh ke tanah dan ditinggalkan sementara dibutakan oleh visi dan tidak bisa makan atau minum. Paulus dianggap oleh beberapa dokter untuk memiliki wajah dan gangguan motorik sensitif datang setelah kejang ekstase; mereka telah didiagnosa dia dengan epilepsi lobus temporal yang kadang-kadang berkembang menjadi tonik-klonik sekunder serangan.

Joan of Arc adalah putri seorang petani tak berpendidikan di sebuah desa terpencil Prancis abad pertengahan yang mengubah jalannya sejarah melalui kemenangan menakjubkan militer. Dari usia tiga belas Joan dilaporkan saat ekstase di mana dia melihat kilatan cahaya yang datang dari samping, mendengar suara-suara orang-orang kudus dan melihat visi malaikat.

Menurut pendapat ahli saraf Dr Lydia Bayne, pengalaman bahagia Joan "di mana dia merasa bahwa rahasia alam semesta yang hendak mengungkapkan padanya" - kejang, dan mereka dipicu oleh dering lonceng gereja. Joan ditampilkan gejala epilepsi lobus temporal fokus: secara khusus, suatu bentuk epilepsi refleks musicogenic dengan aura gembira. Musicogenic epilepsi umumnya dipicu oleh musik tertentu yang memiliki makna emosional dengan individu. Joan suara dan visi mendorongnya untuk menjadi seorang prajurit heroik dalam upaya untuk menyelamatkan Prancis dari dominasi bahasa Inggris dan menyebabkan kemartiran di 1431, dibakar di tiang pancang sebagai bidaah saat ia berusia 19 tahun.

Soren Kierkegaard, filsuf Denmark brilian dan pemikir agama dianggap sebagai bapak eksistensialisme, bekerja keras menjaga rahasia epilepsi nya.

Diadaptasi dengan ijin dari Epilepsi Toronto

Topik Editor: Steven C. Schachter, M.D.
Terakhir Diulas: 12/15/06

Sumber: http://www.epilepsy.com/epilepsy/famous_religious

Dan juga

St Paul converted by epileptic fit, suggests BBC


By Jonathan Petre, Religion Correspondent and Jonathan Wynne-Jones
12:01AM BST 19 Apr 2003


A documentary about St Paul has infuriated Christians by suggesting that the apostle's conversion on the road to Damascus may have been caused by an epileptic fit or a freak lightning bolt.

In one of the Bible's most dramatic stories, Paul was transformed from a zealous persecutor of Christianity into one of its most powerful advocates after being struck down by a blinding light.

Trembling and on his knees, he heard the voice of God asking: "Why do you persecute me?" Soon after, he began the missionary journeys that spread Christianity across the Roman Empire.

The documentary, to be broadcast on BBC1 on May 11, is presented by Jonathan Edwards, the athlete and evangelical. It challenges the belief that Paul's conversion was caused by divine intervention by quoting scientists who link religious experience with epilepsy.

It suggests that the apostle's reference to an ailment which he described as "a thorn in the flesh, which acts as Satan's messenger to beat me, and keep me from being proud" could be the condition.


Professor Vilayanur Ramachandran, the neuroscientist who delivered this year's Reith lectures, told the programme that patients who suffered seizures often had intense mystical experiences like Paul's.
He argued, however, that this did not rule out a divine role. "If God exists and he is interacting with us humans, he could have put an antenna in your brain to be sensitive to him or her," he said. But Canon Tom Wright, a leading theologian who regularly advises the BBC, said that there was "no shred of evidence whatsoever" for the claims.
The Canon, the next Bishop of Durham, told The Church of England Newspaper: "It is a reductionist way of explaining St Paul's conversion and as a theologian I find it offensive that such an idea could be suggested.
"As someone with a family member who suffers from epilepsy, I also find it personally offensive. This casual use is very dismissive of people who suffer from it."
Elaine Storkey, another leading Church of England theologian, told the programme: "An epileptic fit doesn't turn someone's life around. Something else was happening at a much deeper level."
An even more bizarre theory, suggested by Dr John Derr, an American earthquake expert, is that Paul could have been struck by a bolt of electro-magnetic energy, similar to ball lightning, released by an earthquake.
The programme quotes scientists saying that such an event could have triggered what Paul would believe to be a mystical experience, as well as leaving him blind for several days.
While the documentary is inconclusive, and culminates with Mr Edwards praising Paul's "miraculous" mission, it will anger Christians because it follows a series of controversial BBC programmes on religion.
A documentary on the Virgin Mary at Christmas, which contained the claim that she had been raped by a Roman soldier, provoked more than 1,000 complaints. It was condemned by the Vatican and the Roman Catholic Bishop of Portsmouth, the Rt Rev Crispin Hollis, wrote to the Greg Dyke, the BBC's director-general, accusing the corporation of offending millions.
And two years ago, Canon Wright was highly critical of the BBC's Son of God documentary, on which he was an adviser, saying it was deeply flawed and presented Christ as "a politically correct social worker".
A spokesman for Alan Bookbinder, the BBC's head of religion and ethics, said: "The views of millions of Christians who believe that Paul did have a vision of God are fully explored in the programme. Indeed, this view is shared by the presenter, Jonathan Edwards."
Paul's conversion is thought to have occurred around AD 35, and his apostolic journeys took place from AD 47 until he was arrested in Jerusalem in AD 58. According to tradition he was beheaded in Rome.

TERJEMAHAN BEBAS:
Oleh Jonathan Petre, Koresponden Agama dan Jonathan Wynne-Jones

12:01 WIB 19 Apr 2003

Sebuah dokumenter tentang St Paulus telah membuat marah orang-orang Kristen dengan mengatakan bahwa konversi rasul di jalan ke Damaskus mungkin telah disebabkan oleh ayan atau petir aneh.

Dalam salah satu kisah Alkitab yang paling dramatis, Paulus berubah dari seorang penganiaya bersemangat Kekristenan menjadi salah satu pendukung yang paling kuat setelah tertimpa oleh cahaya menyilaukan.

Gemetar dan berlutut, ia mendengar suara Tuhan bertanya: "Mengapa engkau menganiaya Aku?" Segera setelah itu, ia mulai perjalanan misionaris yang menyebarkan agama Kristen di seluruh Kekaisaran Romawi.

Film dokumenter, yang akan disiarkan di BBC1 pada 11 Mei disajikan oleh Jonathan Edwards, atlet dan evangelis. Ini tantangan keyakinan bahwa pertobatan Paulus itu disebabkan oleh campur tangan ilahi dengan mengutip ilmuwan yang menghubungkan pengalaman religius dengan epilepsy.

Ini menunjukkan bahwa referensi rasul untuk suatu penyakit yang dia digambarkan sebagai "duri dalam daging, yang bertindak sebagai utusan Iblis untuk mengalahkan saya, dan menjaga saya dari menjadi bangga" bisa menjadi kondisi.
Related Articles

   

Profesor Ramachandran Vilayanur, para neuroscientist yang melahirkan kuliah Reith tahun ini, mengatakan kepada program bahwa pasien yang menderita kejang sering memiliki pengalaman mistik yang intens seperti Paulus.

Dia berpendapat, bagaimanapun, bahwa ini tidak mengesampingkan peran ilahi. "Jika Tuhan ada dan ia berinteraksi dengan kita manusia, ia bisa menempatkan antena di otak Anda terasa sensitif kepadanya," katanya. Tapi Canon Tom Wright, seorang teolog terkemuka yang teratur menyarankan BBC, mengatakan bahwa "tidak ada secuilpun bukti apapun" untuk klaim.

Canon, Uskup Durham berikutnya, mengatakan Gereja koran Inggris: "Ini adalah cara reduksionis menjelaskan pertobatan St Paulus dan sebagai teolog saya merasa menyinggung bahwa seperti ide bisa disarankan.

"Sebagai orang dengan anggota keluarga yang menderita epilepsi, saya juga menemukan pribadi ofensif ini menggunakan kasual sangat meremehkan orang yang menderita dari itu.."

Elaine Storkey, Gereja lain teolog terkemuka Inggris, mengatakan program ini: "Sebuah ayan tidak mengubah hidup seseorang sekitar Sesuatu yang lain yang terjadi pada tingkat yang jauh lebih dalam.."

Sebuah teori bahkan lebih aneh, disarankan oleh Dr John Derr, seorang ahli gempa Amerika, adalah bahwa Paulus telah terkena sambaran energi elektro-magnetik, mirip dengan bola petir, dirilis oleh gempa bumi.

Program ini mengutip ilmuwan mengatakan bahwa peristiwa seperti itu bisa memicu apa yang Paulus akan percaya menjadi pengalaman mistis, serta meninggalkan dia buta selama beberapa hari.

Sementara film dokumenter tidak meyakinkan, dan memuncak dengan Mr Edwards memuji "ajaib" Paulus misi, akan orang-orang Kristen marah karena mengikuti serangkaian program BBC kontroversial pada agama.

Sebuah film dokumenter tentang Perawan Maria pada hari Natal, yang berisi klaim bahwa dia telah diperkosa oleh seorang tentara Romawi, memprovokasi lebih dari 1.000 pengaduan. Itu dikutuk oleh Vatikan dan Uskup Katolik Roma dari Portsmouth, Rt Rev Crispin Hollis, menulis kepada Greg Dyke, wartawan BBC direktur jenderal, menuduh perusahaan jutaan menyinggung.

Dan dua tahun lalu, Canon Wright sangat kritis terhadap Anak BBC dokumenter Allah, di mana ia penasihat, dan mengatakan itu sangat cacat dan disajikan Kristus sebagai "pekerja sosial politik yang benar".

Seorang juru bicara Alan Bookbinder, kepala BBC agama dan etika, mengatakan: "Pandangan dari jutaan orang Kristen yang percaya bahwa Paulus memiliki visi Allah sepenuhnya dieksplorasi dalam program Memang, pandangan ini dianut oleh presenter,. Jonathan Edwards. "

Pertobatan Paulus diperkirakan terjadi sekitar tahun 35, dan perjalanan-perjalanan apostoliknya berlangsung dari AD 47 sampai ia ditangkap di Yerusalem pada tahun 58. Menurut tradisi ia dipenggal di Roma.

Sumber : http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/1427916/St-Paul-converted-by-epileptic-fit-suggests-BBC.html


Sebuah film hasil penelitian yang diproduksi oleh BBC Channel. Di situ dikupas bahwa menurut penelitian mereka, Paulus mengalami sindrom syaraf otak yang disebut Epilepsi.

mediafire.com tjeqxhs1zx0
mediafire.com z5ybbnuutc0
mediafire.com zndjmi0chm3
mediafire.com gd3bz3xymbg
mediafire.com bnxz93cyno0
mediafire.com dxxjgdytymt
mediafire.com nsuhmzqeq99
mediafire.com snzpenjug04
Silahkan memakai hjsplit utk menyatukan ke-8 file. Dan rename menjadi avi (ekstensi .out dihapus saja)
Subtitles ENGLISH:
mediafire.com ytwbfmflzhm

Special thank's to Allah SWT yang senantiasa memberikan CAHAYA KEBENARAN ISLAM.

Tartîb (Susunan) al-Qur’an artinya membacanya dengan sebagian mengikuti sebagian yang lainnya sesuai dengan yang tertulis di mushaf-mushaf dan yang dihafal di dada.

Dalam hal ini terdapat tiga klasifikasi:

Pertama, Susunan kata-kata. Setiap kata sudah eksis di posisinya dari ayat dan hal ini sudah valid berdasarkan nash dan ijma’. Mengenai kewajiban mengikuti hal itu dan keharaman menyelisihinya, kita tidak mengetahui ada pendapat yang menentangnya sehingga tidak boleh membaca,
الحمد لله رب العالمين
[al-Hamdulillâhi Rabbil ‘Alamîn]
dengan menggantinya,
لله الحمد رب العالمين
[Lillâhil Hamdu Rabbil ‘Alamîn]

Ke-dua, Susunan ayat-ayat. Setiap ayat sudah eksis di posisinya dari surat berdasarkan nash dan ijma’. Mengikuti hal ini adalah wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan haram menyelisihinya sehingga tidak boleh membaca,
الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين
[ar-Rahmânir Rahîm, Mâliki Yawmid Dîn]
dengan menggantinya,
مالك يوم الدين، الرحمن الرحيم
[Mâliki Yawmid Dîn, ar-Rahmânir Rahîm]

Di dalam Shahîh al-Bukhâry bahwasanya ‘Abdullah bin az-Zubair berkata kepada ‘Utsmân bin ‘Affân RA., mengenai firman Allah,
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ
“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi bafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” (al-Baqarah:240),
bahwa ayat ini telah di nasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat berikut ini,
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.” (al-Baqarah:234). Padahal ayat yang ini (ayat 234) ada sebelumnya (ayat 240), kenapa engkau menulisnya?. Maka, ‘Usman RA., menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku tidak mengubah sesuatupun dari posisinya…”

Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`iy dan at-Turmudzy meriwayatkan dari hadits ‘Utsman RA., bahwasanya surat-surat yang memiliki angka selalu diturunkan kepada Nabi SAW. Maka, bila ada sesuatu yang diturunkan kepadanya, beliau memanggil sebagian penulis seraya berkata, ‘Letakkan ayat-ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu…”

Ke-tiga, Susunan surat-surat. Setiap surat sudah eksis posisinya dari mushaf berdasarkan ijtihad sehingga tidak wajib hukumnya.
Di dalam Shahîh Muslim dari Hudzaifah al-Yaman RA., bahwasanya pada suatu malam dia melakukan shalat bersama Nabi SAW, lantas beliau SAW., membaca surat al-Baqarah, kemudian surat an-Nisâ`, kemudian surat Ali 'Imrân.

Imam al-Bukhâry juga meriwayatkan secara Mu’allaq dari al-Ahnaf bahwasanya beliau membaca pada raka’at pertama surat al-Kahfi dan pada raka’at kedua membaca surat Yûsuf atau Yûnus. Beliau (al-Bukhâry) juga menyebukan bahwasanya beliau SAW., pernah juga melakukan shalat shubuh bersama ‘Umar bin al-Khaththâb dengan kedua ayat tersebut.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah berkata, “Boleh membaca surat ini sebelum surat ini, demikian juga menulisnya. Oleh karena itulah, ada beragam macam penulisan mushaf yang dikenal di kalangan para shahabat RA. Sekalipun demikian, mereka tetap sepakat atas satu Mushaf pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan RA.

Jadi hal ini sudah menjadi sunnah para al-Khulafâ` ar-Râsyidûn sementara hadits Rasulullah menunjukkan bahwa sunnah mereka wajib diikuti.” [selesai ucapannya]
(SUMBER: Ushûl Fi at-Tafsîr karya Syaikh.Muhammad Shâlih al-‘Utsaimîn, h.19-21)

16.40
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Dalam Al-Qur'an surat Ali Imran : 54 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya"

Sebagian orang merasa berat memahami makna dari ayat ini. Bagaimana kita memahami bahwa Allah itu pembuat tipu daya yang terbaik ? Sementara tidak ada ta'wil untuk ayat tersebut ?

Jawaban.
Dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala, insya Allah masalah tersebut mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu bahwa tipu daya itu tidak selamanya jelek dan tercela dan sebaliknya tidak selamanya baik.

Misalnya ada seorang kafir yang akan membuat tipu daya terhadap seorang muslim, tetapi karena si muslim ini kebetulan seorang yang cerdik dan selalu waspada, maka dia balik membikin tipu daya agar niat jahat si kafir tersebut tidak sampai mengenai dirinya. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak bisa dikatakan bahwa si muslim ini telah berbuat kesalahan dan melanggar syari'at.

Hal ini akan lebih jelas ketika kita perhatikan sabda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Perang adalah tipuan" [Shahih Bukhari No. 3030, Shahih Muslim No. 1740]

Kata "tipuan" dalam hadits ini sama sifatnya dengan kata "tipu daya" pada ayat di atas. Seorang muslim yang menipu saudaranya sesama muslim jelas hukumnya adalah haram, tetapi seorang muslim yang menipu orang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam (di dalam peperangan), maka hal seperti itu tidaklah haram, bahkan hukumnya wajib.

Demikian juga tipu daya seorang muslim terhadap orang kafir yang lebih dulu berniat membuat tipu daya terhadap dirinya dengan tujuan untuk menyelamatkan dirinya seperti ini jelas tidak tercela, bahka ini adalah tipu daya yang baik. Tipu daya ini dilakukan oleh seorang manusia. Lalu bagaimana kalau tipu daya tersebut berasal dari Dzat yang menguasai seluruh alam ? Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, Apakah mungkin tipu daya-Nya tercela ?.

Kesimpulan.
Tipu daya itu ada yang jelek dan ada yang baik
Segala sesuatu yang tercela menurut angan-angan kita, maka akan menjadi terpuji (menjadi sebaliknya) apabila disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Angan-angan/anggapan yang tidak dikembalikan kepada Allah (tidak berdasarkan dalil) merupakan suatu kesalahan.

Ayat di atas mengandung pujian terhadap Allah, bukan mengandung sesuatu yang tidak boleh di-nisbat-kan (disandarkan) kepada Allah.



[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=356&bagian=0

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget