Latest Post

16.03
alt
Untuk menopang teologi rasialisnya, mereka mengutip ayat-ayat Bibel dengan gaya ‘semau gue’ secara parsial

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Adil dalam segala ketentuan, peraturan dan takdir-Nya. Dengan keadilan yang mutlak, Dia tidak akan menilai dan memandang umat manusia berdasarkan penampilan lahiriah, melainkan berdasarkan ketakwaan dan amal shalih masing-masing hamba-Nya. Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Qs. Al-Hujurat 13).

Belakangan, jagat teologi diramaikan dengan munculnya para pendeta dan penginjil pro-Israel yang menjajakan teologi rasialis. Berbagai buku dan brosur mereka sebarkan secara gratis untuk menanamkan teologi pro-Israel dan anti-Arab, di antaranya: “Siapakah Yang Bernama Allah itu?” (27 halaman), “Kristus dan Kristen dalam Al-Qur’an” (76 halaman), “Yesus Bukan Allah Tetapi Eloim” (69 halaman), brosur “Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim” (6 halaman), brosur “Stop!! Siapakah yang bernama Allah itu?” (6 halaman), majalah Midrash Talmiddim edisi 3, dll.

Kesimpulan semua buku tersebut seperti koor yang mengajarkan fanatisme rasial kepada Israel dan kebencian teologis terhadap segala yang berbau Arab. Ide yang menonjol adalah mengganti seluruh istilah dari bahasa Arab dalam teologi Kristen, dengan istilah-istilah Israel (bahasa Ibrani). Misalnya: mengganti kata “Allah” dengan “Yahweh,” kata “Tuhan” diganti dengan “Adonai,” “Yesus Kristus” diganti dengan “Yeshua Hamasiah,” dll. Kristen Israel ini keukeuh dengan dalih bahwa Israel adalah rujukan iman Kristen.

Soal ide membuang seluruh istilah Arab dari kekristenan, kita tidak perlu ikut campur. Silahkan mereka berpolemik internal dengan lembaga resmi Katolik dan Protestan untuk merombak seluruh istilah yang sudah telanjur mereka pakai. Silakan mengganti nama kitab suci “Alkitab” atau “Bible” dengan istilah Ibrani. Ganti saja semua nama-nama surat dalam Bibel: Hakim-hakim, Pengkhotbah, Kisah Para Rasul, Kitab Wahyu, dll karena semuanya istilah Arab. Silahkan merombak seluruh istilah Arab dalam ribuan ayat, misalnya: silsilah, nabi, rasul, kudus, ilah, dll. Jangan lupa, nama agama “Kristen” juga harus diganti, karena ini bukan bahasa Ibrani, tapi istilah Yunani.

Untuk menopang teologi rasialisnya, mereka mengutip ayat-ayat Bibel dengan gaya “semau gue” secara parsial. Pada halaman 1 misalnya, mereka mengutip kitab Kejadian 17:18-19, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak memperkenankan leluhur bangsa Arab, yaitu Nabi Ismail untuk hidup di hadapan-Nya. Ayat yang ditampilkan adalah sbb: 

“Dan Abraham berkata kepada Tuhan: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak.” (Kej. 17:18-19).

Kutipan tak utuh ini memberikan pengertian seolah-olah Ismail tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham) memohon kepada Tuhan agar Ismail anaknya diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, permohonan itu ditolak mentah-mentah dengan satu kata “Tidak!”

Kesimpulan bahwa Nabi Ismail adalah nabi yang tidak diberkati Tuhan ini ditonjolkan untuk menanamkan sikap kebencian anti Arab, karena Ismail adalah leluhur bangsa Arab, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Benarkah tuduhan pendeta rasialis itu, mari kita baca ayat selengkapnya satu perikop: “Lalu sujudlah Abraham, tetapi ia tertawa ketika berpikir, “Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sara melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?” Lalu berkatalah ia kepada Allah, “Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli waris saya.” Tetapi Allah berkata, “Tidak. Sara istrimu akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakannya Ishak...” (Kejadian 17:17-19, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Dengan membaca ayat secara utuh, jelaslah maksud ayat yang sesungguhnya adalah kisah tentang Nabi Ibrahim yang merasa ragu usianya (100 tahun) dan usia istrinya (90 tahun) untuk bisa melahirkan seorang bayi. Maka Ibrahim sudah merasa cukup dengan anak tunggal dari istri keduanya, Hagar, sebagai pewarisnya. Tuhan menjawabnya pernyataan optimis bahwa Ibrahim akan dikaruniai anak yang kedua, Ishak sebagai ahli warisnya juga di samping Ismail.

Pengertian ini sinkron dengan Alkitab tahun 1941: “Maka sembah Ibrahim kepada Allah: Ya Tuhan, biar apalah Ismail sahaja hidup di hadapan-Mu Maka firman Allah: Bahwa sesungguhnya Sarah, istrimu itu beranak kelak bagimu laki-laki seorang; hendaklah engkau namai akan dia Ishak.”

Ajaran rasialis pendeta ini kontradiktif dengan ayat Bibel yang menyatakan Tuhan tidak menilai dan membeda-bedakan orang berdasarkan jasad lahiriah, suku bangsa dan status sosial, kecuali menurut ketakwaan dan amal shalih: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamal¬kan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:34-35).

Bila Tuhan menilai seseorang berdasarkan amal perbuatannya, maka siapapun yang bersalah akan menerima hukuman atas kesalahannya, tak peduli dari bangsa apa dia. Keputusan dan keadilan Tuhan tidak bisa disuap dengan ras Israel.

“Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang” (Kolose 3:25).

“…Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap” (Ulangan 10:17).

Bila para Kristen rasialis itu tetap memaksakan kitab Kejadian sebagai legitimasi untuk mengklaim Nabi Ismail dan bangsa Arab keturunannya sebagai umat yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, maka ayat-ayat Bibel di atas harus disensor.

Tudingan Kristen Israel bahwa Nabi Ismail dan keturunannya (bangsa Arab) sebagai bangsa yang tidak diberkati Tuhan, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bibel sendiri membantahnya dengan fakta-fakta sbb:

Pertama, Allah juga menurunkan berkat-Nya kepada keturunan Ibrahim dari istrinya, Hagar (Kejadian 17:20). Kedua, Tuhan berkenan menerima domba pengorbanan yang dipersembahkan oleh Kedar dan Nebayot (Yesaya 60:7). Padahal Kedar dan Nebayot itu menurut Bibel adalah anak kandung Nabi Ismail (I Tawarikh 1:28-29).

Jika Tuhan tidak memperkenankan Nabi Ismail dan seluruh keturunannya hidup di hadapan-Nya, mengapa Tuhan menerima pengorbanan domba putra kandung Nabi Ismail?

Jelaslah bahwa semua bangsa layak diberkati Tuhan jika beriman dan bertakwa kepada-Nya. Justru, yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan adalah teologi rasialis Kristen Israel itu!!

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

 
Israel Sumber Iman atau Inspirasi Kejahatan?

Para pendeta Kristen rasialis ingin berkiblat 100 persen kepada Israel, dengan satu apologi bahwa rujukan iman Kristen bukan dari Arab, tapi dari Israel.

“…Sebab nara sumber iman Nasrani bukan dari orang Timur Tengah Arab, tetapi dari orang Israel. Mzm 147:19-20, Yes 2:3, Rm 3:1-2.” (Siapakah Yang Bernama Allah itu, hlm. 15).

Keyakinan ini harus ditinjau ulang karena tidak sesuai dengan fakta-fakta Alkitabiah. Dalam Bibel, Nabi Musa menjuluki orang-orang Israel sebagai “orang degil” dan “tegar tengkuk” terhadap Tuhan (Ulangan 31: 27) dan “penentang Tuhan” (Ulangan 9: 24). Mikha menyebut bani Israel sebagai “orang yang muak ter¬hadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus,” karena para kepalanya memu¬tus¬¬kan hukum karena suap, dan para imamnya mem¬beri peng-ajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang (Mikha 3: 9-11).

Dalam Perjanjian Baru, Yesus yang notabene diutus Tuhan khusus untuk bani Israel (Matius 10: 5-6), dan sering menunjukkan mukjizat kepada kaumnya, ternyata ditolak mentah-mentah. Bahkan sebagai balas budinya, mereka melakukan penganiayaan dan kekejian terhadap Yesus. Berbagai ayat Bibel mengisahkan Yesus dikhianati, ditangkap, disiksa, dicambuk, ditelanjangi, diludahi, disesah, diarak, dan disalib dengan cara keji sampai mati dengan tragisnya.

Tak heran jika Yesus mencerca mereka dengan panggilan “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!” (Matius 23:33) dan “angkatan yang jahat” (Matius 12:39).

Itulah tipologi bangsa yang menjadi rujukan iman para pendeta Kristen Israel. []

15.56
Maraknya gerakan pengkristenan terhadap umat Islam yang dilakukan oleh para penginjil dengan segala cara, membuat Insan Mokoginta memeras otak. Mantan Katolik China-Manado sebelumnya bernama Wenceslaus Mokoginta ini berpikir keras, mengapa para misionaris yang mengaku sebagai pengikut Yesus itu getol mengkristenkan umat Islam? Apakah Yesus beragama Kristen, dan apakah Yesus mengajarkan Kristen?

Tergelitik dengan pertanyaan sederhana ini, Mokoginta menulis buku “Mustahil Kristen Bisa Menjawab:  Berhadiah Mobil BMW.” Buku berisi sepuluh pertanyaan sayembara teologi ini disediakan masing-masing pertanyaan satu hadiah uang tunai total 100 juta dan sebuah mobil BMW.

Kuis teologi berhadiah ini diawali dengan pertanyaan pertama, “Mana pengakuan Yesus dalam Alkitab (Bibel) bahwa dia beragama Kristen?”

Mokoginta menjelaskan, semua pengikut Yesus pasti mengakui bahwa mereka beragama Kristen. Tetapi apakah ada di antara mereka bisa memberikan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang tertulis di dalam Alkitab bahwa Yesus beragama Kristen? Jika Yesus ternyata bukan beragama Kristen, lalu apa nama agama Yesus yang sebenarnya? Karena dalam seumur hidupnya Yesus tidak pernah tahu kalau agama yang dibawanya dinamai Kristen, sebab nama “Kristen” itu baru muncul jauh setelah Yesus mati.

Reaksinya bisa ditebak, para pendeta kebakaran jenggot dengan kuis teologi berhadiah tersebut. Dari kawasan Surabaya, Budi Asali, M.Div merasa tersengat dengan tantangan Mokoginta. Reaksioner, pendeta dari Gereja Kristen Rahmani Indonesia ini menulis buku tanggapan balik “Siapa Bilang Kristen Tidak Bisa Menjawab?”

Dengan nada sinis, Budi Asali balik menyerang Mokoginta sebagai orang bodoh. “Ini suatu pertanyaan bodoh dari orang sok pintar. Sudah barang tentu ia (Yesus, pen.) tidak pernah mengakui hal itu, karena ia memang tidak beragama Kristen.”

Anehnya, setelah menuduh orang lain sebagai orang bodoh yang sok pintar, Pendeta Asali memamerkan sifat yang dituduhkan tersebut pada dirinya sendiri dalam tulisan berikut:

“Sekalipun dalam sepanjang hidup Yesus, nama orang Kristen tidak pernah ada, itu tidak berarti bahwa tidak mungkin Yesus yang memberikan nama itu. Yesus bisa saja memberikan nama itu setelah dia bangkit dari antara orang mati. Lebih-lebih, kalau kita meninjau Yesus sebagai Allah, maka kematian dari manusia Yesus jelas tak menghalangi dia untuk memberi nama itu kepada para muridnya” (hlm. 25).

Seandainya, pengandaian pendeta itu diterima mentah-mentah, bahwa setelah mati disalib lalu dikubur, Yesus bangkit dari kubur untuk memberi nama “Kristen” terhadap agamanya. Lantas, kenapa tidak ayat Bibel yang mengabadikan peristiwa penting tersebut? Karena argumen ini tidak didasarkan pada ayat Alkitab, berarti Apologi pendeta ini sangat tidak cerdas dan tidak ada rujukan ilmiahnya. Sebagai orang yang gampang menuding orang lain bodoh dan sok pintar, semestinya Pendeta Asali bicara masalah agama sesuai dengan dasar kitab suci. Jangan mengumbar ‘teologi khayalan’ yang hanya dilandasi praduga mentah belaka.

Tantangan Mokoginta tersebut sebenarnya cukup beralasan dan ilmiah. Karena dalam keempat Injil dalam Bibel, tak sepatah kata “Kristen” pun terucap dari mulut Yesus. Bahkan kata “Kristen” dalam Bibel diungkapkan jauh setelah Yesus tidak ada di dunia, sesuai dengan ayat berikut:

“Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kisah Para Rasul 11:25-26).
Dalam buku Comparative Religions on File: Facts on File Library of World History,” disebutkan bahwa Yesus lahir sekitar tahun 4 Sebelum Masehi dan wafat sekitar tahun 29 Masehi. Sementara Paulus dan Barnabas memberi nama “Kristen” terhadap agama yang mereka bentuk, sekitar tahun 42 M. Berarti agama Kristen baru muncul sekitar 13 tahun setelah Yesus tidak ada di dunia.

Di sinilah letak keistimewaan Islam dibandingkan Kristen. Sebagai agama (din) yang haqq, Allah sendiri yang memberi nama dan meridhainya dalam Al-Qur’anul Karim:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Qs Ali Imran 19).

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs Ali Imran 85). [a ahmad hizbullah]

Ternyata Yesus Bukan Orang Kristen
Mengenai teka-teki agama yang dianut Yesus, Pendeta Budi Asali M.Div. masih mau mengakui bahwa Yesus memang tidak beragama Kristen, melainkan beragama Yahudi.

“Sebagai manusia, Yesus beragama Yahudi, dan ini terlihat dari fakta dalam Alkitab bahwa ia memang menjalani semua upacara dan hukum-hukum Yahudi, seperti disunat, merayakan Paskah Perjanjian Lama, merayakan hari-hari raya Yahudi, berbakti di Bait Allah/sinagog, dsb.” (hlm. 26).

Tetapi, jawaban ini justru menimbulkan pertanyaan baru yang pelik. Jika Yesus beragama Yahudi, kenapa para paus, pastur, pendeta, penginjil dan orang awam lainnya yang mengaku sebagai pengikut Yesus itu beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan? Kenapa mereka tidak beragama Yahudi seperti Yesus yang mereka teladani?

Karena dalam praktiknya, doktrin agama Kristen yang ada saat ini sudah menyimpang dari ajaran agama yang dianut oleh Yesus. Michael H. Hart dalam penelitiannya menyebut Paulus sebagai aktor utama dalam penghancuran ajaran Yesus dan terbentuknya ajaran Kristen beserta doktrin-doktrinnya:

 “Paul, more than any other man, was responsible for the transformation of Christianity from a Jewish sect into a world religion. His central ideas of the divinity of Christ and of justification by faith alone have remained basic Christian thought throughout all the intervening centuries. All subsequent Christian theologians, including Augustine, Aquinas, Luther, and Calvin, have been profoundly influenced by his writings. Indeed, the influence of Paul’s ideas has been so great that some scholars have claimed that her, rather than Jesus, should be regarded as the principal founder of the Christian Religion” (Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, p. 34-35)

(Paulus, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan (transformasi) Agama Kristen dari sekte Yahudi menjadi agama besar dunia. Ide sentralnya tentang keilahian Yesus dan pengakuan berdasar kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya.

Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Agustine, Aquinas, Luther dan Calvin, semuanya terpengaruh oleh tulisan-tulisan Paulus. Sampai-sampai banyak sarjana mengklaim bahwa Pauluslah yang menjadi pendiri agama Kristen, dan bukannya Yesus).

Kenyataan ini pula yang merangsang Clayton Sullivan, seorang profesor dan pendeta Gereja Baptis dari Mississippi untuk membersihkan ajaran Yesus dari orang Kristen. Pemikiran itu dituangkannya dalam buku Rescuing Jesus from Christians (Menyelamatkan Yesus dari Orang Kristen) yang diterbitkan oleh Trinity Press International (2002).

Tak hanya itu, doktrin penebusan dosa manusia oleh kematian Yesus di tiang salib pun digugat oleh rohaniawan Kristen sendiri. Uskup John Shelby Spong dalam buku Why Christianity Must Change or Die menyerukan untuk mencabut doktrin Yesus Juruselamat: “So we must free Jesus from the rescuer role.. Jesus portrayed in the creedal statement ‘as one who, for us and for our salvation, came down from heaven’ simply no longer communicates to our world. Those concepts must be uprooted and dismissed” (p. 99).

(Oleh karena itu kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juruselamat... Yesus yang digambarkan di dalam pernyataan keimanan sebagai seseorang yang demi kita dan demi keselamatan kita, turun dari surga, sudah tidak cocok untuk alam kita sekarang ini. Ajaran ini harus dicabut dan disingkirkan).
Walhasil, para pendeta dan penginjil aktivis pemurtadan itu harus berpikir seribu kali sebelum mengkristenkan umat Islam.

Karena Kristen yang mereka perjuangkan itu bukanlah agama Yesus. Sebab jika misi itu bertentangan dengan ajaran Yesus, maka di sorga kelak mereka pasti dihardik Yesus: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
A. AHMAD HIZBULLAH MAG
[www.ahmad-hizbullah.co.cc]

15.54


alt
Islam dan Kristen kembali berhadap-hadapan. Kali ini dalam polemik Undang-undang Penodaan Agama yang sedang digodog Mahkamah Konstitusi.

Dengan berbagai alasan yang rasional dan faktual, umat Islam melalui MUI dan ormas-ormas Islam baik Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) maupun Nahdlatul Ulama, Departemen Agama dan Pemerintah sepakat bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama itu mutlak diperlukan.

Sementara itu, pihak Kristen baik Protestan dan Katolik sama-sama mendukung pencabutan undang-undang tersebut.

Katolik Alergi Undang-undang Penodaan Agama
Selaku Pihak Terkait, umat Katolik diwakili oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Dalam pandangan KWI yang disampaikan oleh Pastur Benny Susetyo dan Pastur Ignatius Ismartono dalam sidang MK di Jakarta tanggal 10 Februari 2010, KWI menyimpulkan bahwa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1/1965 ini bertentangan dengan semangat kebebasan beragama dan kebebasan dalam menyuarakan keyakinan dan kebebasan berpendapat. 

KWI sepakat dengan makna kebebasan beragama dalam persepsi HAM yang dikategorikan bersifat mutlak, dan oleh karenanya berada dalam freedom to be. Dengan kebebasan ini, keputusan beragama dan beribadat merupakan persoalan individu dan bukan persoalan negara. Negara tidak perlu mengatur mana ajaran agama yang harus atau tidak harus dilakukan oleh warga negara.

Pandangan KWI yang menolak campur tangan negara dalam wilayah agama itu sangat aneh, terutama bagi orang yang memahami sejarah Gereja Katolik. Karena sepanjang sejarah, dalam kekatolikan tidak ada kebebasan beragama yang mutlak. Vatikan bertindak otoriter menyikapi paham lain yang berbeda.
Dalam sejarah panjang Trinitas, pada tahun 395 M Kaisar Theodosius membentuk institusi gereja Kristen yang dikenal dengan Inkuisisi (Inquisition). Inkuisisi adalah institusi hukum yang dibentuk untuk memberantas kaum heretic yang dianggap menyerang doktrin Gereja. Inkuisisi memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Siapapun yang dianggap berbahaya ditangkap dan dijatuhi hukuman yang berat: divonis kafir, digantung, dibakar hidup-hidup, dibunuh pelan-pelan, giginya dicabut satu persatu, kulitnya dikelupas, dan seterusnya.

Contohnya, tahun 1142 gereja membakar hidup-hidup Abelard, seorang filosof dan tokoh Kristen di Prancis. Tahun 1415 di Spanyol dibakar 31.000 orang yang menentang gereja. Tahun 1416 gereja membakar John Hus dan Jerome sampai mati di Bohemia.

Tanggal 27 Oktober 1553, Michael Serveteus, dokter paru-paru ahli Injil dibakar pelan-pelan sehingga meronta-ronta dan berteriak-teriak kesakitan selama dua jam lalu mati tragis. Dokter ini dibakar karena menulis buku De Trinitas Erroribus (Kesalahan Trinitas). Di Nederland, ribuan orang dipotong lehernya pada tahun 1568.

Nama-nama tenar Martin Cellarius, Ludwig Hoetzer, Louis Socianus, George Blandrata beserta ribuan pengikutnya di Hongaria, Gregory Pauli, Francis David, dan masih banyak lagi menjadi korban kebiadaban Inkuisisi yang menegakkan doktrin Trinitas. Mereka adalah saksi mata bahwa tidak ada “kebebasan beragama yang mutlak” dalam Katolik.

Pada era 1990-an, sejumlah teolog Katolik dipecat Vatikan karena memiliki pandangan berbeda dengan Vatikan. Profesor Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma, dijatuhi sanksi karena menulis berjudul Toward a Christian Theology of Religious Pluralism.

Dalam bukunya, sang profesor dari Serikat Jesuit ini menyatakan bahwa ‘kebenaran penuh’ (fullness of truth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Penganut agama lain juga akan mengalami keselamatan tanpa melalui Yesus.  Karena ajarannya itulah, pada Oktober 1988 ia mendapat notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman. Ia dinyatakan ”tidak bisa dipandang sebagai seorang teolog Katolik.” Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger, yang kini menjadi Paus Benediktus XVI.

Logikanya, jika dalam Katolik ada pemegang otoritas keagamaan untuk menilai suatu faham itu menyimpang atau tidak, seharusnya KWI tidak merasa asing dengan umat Islam yang memiliki Majelis Ulama yang berhak menyatakan suatu tarekat menyimpang dari ajaran agama Islam. Begitupun agama-agama lain. Sehingga, keterlibatan otoritas keagamaan dalam UU Penodaan Agama sangat diperlukan. Maka, penolakan KWI terhadap undang-undang ini dengan dalih kebebasan beragama menjadi tidak relevan.

Terlepas dari kotroversi UU Penodaan Agama, ada fakta lain bahwa KWI secara kelembagaan juga hobi menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an sesuai seleranya dengan dalih “dialog agama” untuk menjembatani perbedaan kepercayaan Katolik dan Islam.

Dalam buku Beberapa Contoh Dialog Agama terbitan resmi Komisi Hubungan Antar Agama Dan Kepercayaan (Komisi HAK-KWI), ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak diimaninya, dicomot-comot sedemikian rupa untuk menjelaskan doktrin-doktrin Katolik kepada umat Islam.

Apakah pihak KWI menolak Undang-undang Penodaan Agama agar bisa leluasa menyalurkan hobi menafsirkan kitab suci agama lain untuk memasarkan doktrin Katolik?

Protestan Alergi Undang-undang Penodaan Agama
Sementara pihak Protestan yang diwakili oleh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), mendukung pencabutan UU Penodaan Agama dengan bahasa yang agak halus. Dalam sikap resminya, PGI minta agar UU Penodaan Agama itu dikritisi dalam soal fungsi dan isinya karena multitafsir dan cenderung multi tafsir dan dikhawatirkan akan terjadi intervensi negara yang terlalu jauh terhadap kehidupan beragama.

Menyikapi berbagai perbedaan penafsiran terhadap ajaran suatu agama yang beragam, PGI berpendapat bahwa ajaran dan doktrin agama boleh berubah, berbeda bahkan bertentangan, karena hanya  Kitab Suci saya yang tidak berubah.

PGI mencontohkan dinamika pertentangan doktrin yang melanda umat Kristen:

“Agama Kristen itu ditetapkan oleh mekanisme internal, apakah itu sidang di dalam gereja atau sinode atau konsili dan itulah mekanisme yang  ditempuh oleh agama Kristen dalam menetapkan ajaran-ajarannya yang benar. Bagi agama Kristen setiap ajaran itu bisa diuji, ditafsirkan kembali berdasarkan Alkitab. Hanya Alkitab yang tidak boleh berubah  tetapi pemahaman, penafsiran atau bagaimana kita menggali ajaran dari Alkitab itu, produk ajaran etika atau doktrin itu dapat berubah. 

Alkitab adalah inti dari  sumber ajaran agama Kristen. Ajaran boleh berubah, boleh berbeda tetapi kitab suci tetap, tidak boleh diubah dan itu dialami oleh umat Kristen sampai sekarang yang menghimpun berbagai aliran atau doktrin gereja yang terhimpun dalam Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.”

Apabila terjadi hal-hal yang dikategorikan atau yang dianggap penodaan atau penyimpangan, maka itu hendaknya disikapi atau diselesaikan dengan pembinaan internal tanpa kekerasan,” demikian sikap PGI yang dibacakan oleh Pendeta Einer Sitompul, Kamis (4/2/2010).

Pandangan PGI tersebut juga banyak kejanggalannya. pernyataan bahwa doktrin dan ajaran Kristen boleh berubah, yang tidak boleh berubah adalah Alkitab (Bibel). Pernyataan ini adalah kebohongan besar. Realitanya, dalam kekristenan, yang berubah-ubah bukan hanya doktrin gereja, tapi kitab suci pun mengalami pasang surut yang bisa berubah dan direvisi setiap saat.

Pernyataan PGI untuk melakukan penyelesaian dan pembinaan internal terhadap hal-hal yang dikategorikan penodaan agama juga patut dipertanyakan. Pasalnya, di antara penginjil dan pendeta yang sering melakukan penghujatan Islam adalah dari kalangan Protestan. Tapi PGI menerapkan jurus penyangkalan: “PGI tidak mengenal mereka karena mereka bukan anggota PGI.”

Tahun 2001 misalnya, ketika umat Islam dihebohkan dengan penghujatan agama yang dilakukan oleh Pendeta Suradi ben Abraham. Dengan entengnya, Pendeta Dr I.P. Lambe, Sekretaris Umum PGI berlepas tangan dengan jurus kilahnya, “mereka bukan anggota PGI.” (Majalah Gatra, 10 Maret 2001).
Padahal, soal penghinaan agama melalui penafsiran kitab suci agama lain secara salah tidak hanya dilakukan oleh pendeta non-PGI. Pengurus PGI sendiri tak asing dengan penodaan agama terhadap kitab suci umat Islam.

Contohnya, Pendeta Wienata Sairin MTh, salah seorang pengurus PGI, menulis buku berjudul “Tempat Dan Peran Yesus Di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam.”

Judul buku tersebut mengecoh umat Islam, sehingga di berbagai toko buku umum, buku tersebut dijual bebas bahkan dipajang di stand buku bacaan Islam. Dalam buku setebal 81 halaman terbitan Pustaka Sinar Harapan tersebut Pendeta PGI ini menuduh Al Quran sebagai kitab suci yang kontradiktif (hlm. 45-46).
Bagaimana mungkin PGI melakukan pembinaan internal terhadap pendeta yang melakukan penodaan agama, jika Pendeta PGI sendiri hobi menodai agama lain?

A. AHMAD HIZBULLAH MAG
ahmadhizbullah@gmail.com

15.36
alt

A. Ahmad Hizbullah MAG [www.ahmad-hizbullah.com]

Jika kekeliruan akidah menimpa kaum awam yang tidak punya pengikut, maka bahayanya relatif kecil hanya kepada dirinya sendiri. Tapi kesesatan akidah akan menjadi musibah besar bila menimpa tokoh dan pemimpin ormas Islam yang memiliki puluhan juta pengikut.

Adalah Bambang Noorsena, pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), Komunitas Kristen Ortodoks Syria (KOS) di Indonesia. Untuk sosialisasi KOS di Indonesia, Bambang Noorsena menulis buku “Menuju Dialog Teologis Kristen–Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Kristen Yayasan Andi Yogyakarta.


Buku setebal 172 halaman ini berisi kumpulan makalah, artikel, berbagai karya lepas, liputan, wawancara dan komentar media massa seputar Kristen Ortodoks Syria. Intinya, berusaha menjelaskan kekristenan dan keilahian (ketuhanan) Yesus versi KOS yang diyakini sebagai upaya menembus kebuntuan dialog teologis Kristen dan Islam.

Ciri khas KOS yang berbeda dengan aliran Kristen lainnya adalah identitas kearaban ala Timur Tengah. Istilah-istilah teologi banyak menggunakan bahasa Arab, bukan istilah barat ataupun Yunani. Misalnya, memakai kata “Sayyidina Isa Almasih” untuk menyebut Yesus Kristus, memakai jilbab bagi jemaat wanita ketika beribadat, dan pemakaian Bibel berbahasa Arab. “Kitab kami Injil berbahasa Arab. Karena itu kami juga bisa membaca Al-Qur’an,” jelas Bambang yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang itu pada halaman 143.

Untuk menambah pamor, ulasan KOS dalam buku ini ditutup dengan dua bagian, yaitu wacana mitra Islam dan lampiran Qanun Al-Iman Al-Muqaddas.

Dalam wacana mitra Islam (hlm. 163-166), Prof Dr KH Said Aqiel Siradj MA menulis artikel tanggapan sebagai umpan balik terhadap gagasan dan teologi Kristen Ortodoks Syria. Sedangkan pada halaman lampiran (hlm 167-169), disertakan kutipan “Qanun Al-Iman Al-Muqaddas” yang berisi 12 pernyataan iman KOS. Pernyataan iman ini sama dengan doktrin keyakinan Kristen lainnya yang menyebutnya sebagai “12 Pengakuan Iman Rasuli” atau “Sahadat Iman Rasuli,” yang dialihbahasakan dari Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel
(Credo Niceano-Constantinopolitanum).

Meski secara lahiriyah identitas KOS kental dengan nuansa Arab, namun teologinya tidak berbeda dengan aliran Kristen lainnya. Mereka sama-sama meyakini ketuhanan Yesus, penyaliban Yesus, penebusan dosa dan ketuhanan trinitas.

Arabisasi istilah tidak bisa merubah kekafiran suatu keyakinan. Meskipun memakai bahasa Arab, doktrin KOS dalam “Qanun Al-Iman Al-Muqaddas” tetap kafir dalam pandangan Islam jika mempersekutukan Allah. Salah satu doktrin menonjol dalam Qanun KOS ini menyebutkan bahwa Yesus adalah satu-satunya tuhan (rabb):
“nukmin birabbin wahid Isa Almasih ibnullahi al-masih” (kami beriman kepada satu-satunya tuhan yaitu Isa Al-Masih, Putra Allah Yang Tunggal). Juga disebutkan bahwa Maryam adalah ibunya Tuhan: “Wa min maryam al-adzraa al-bathuul waalidatul ilah” (dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan).

Anehnya, meski secara terang-terangan KOS meyakini ketuhanan Yesus dan keberadaan Bunda Tuhan, namun KH Said Aqiel Sirajd berani menjamin bahwa akidah Islam dengan akidah Kristen memiliki persamaan yang sangat substansial dan tak ada perbedaan berarti. Pada Bab 16 (Wacana Mitra), kiyai jebolan Universitas Ummul Qura Mekkah ini menulis artikel berjudul “Laa Ilaaha Illallah Juga,” demikian kutipannya:

“Dari ketiga macam tauhid di atas, tauhid Kanisah Ortodoks Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyah, Kristen Ortodoks Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyah ia juga telah mengikrarkan Laa ilaaha illallah: “Tiada tuhan (ilah) selain Allah,” sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak jauh berbeda, hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut.... Walhasil, keyakinan Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni), walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syari’ah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid” (hal. 163-166).

Pendapat KH Said Aqiel Sirajd ini tidak jelas juntrungnya. Teologi cap apa yang ditelannya, sehingga kiyai yang sekarang menjabat Ketua Umum PBNU itu berani menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani?

Menurut Kristen Ortodoks Syria (KOS), Yesus adalah satu-satunya Tuhan (Rabb), sedangkan Allah SWT dalam Al-Qur'an Al-Ma’idah 72 mengafirkan doktrin ketuhanan Yesus, dan mengharamkan surga bagi orang yang meyakini Yesus sebagai Tuhan.

KOS mengimani Yesus sebagai Anak Allah (ibnullah al-wahiid), sedangkan Al-Qur'an menolak doktrin yang meyakini Yesus sebagai putra Allah (Qs. Al-Ikhlash 1-4).

Lalu menurut doktrin KOS, Maryam adalah ibunda Tuhan (walidatul ilah), sedangkan Islam menyangkal keyakinan bahwa Tuhan punya ibu dan bapak (Qs. Al-Ikhlash 3).

Dengan demikian, jelaslah bahwa akidah Islam tidak sama dengan trinitas kristiani, bahkan secara bertolak belakang secara substansial. Siapapun yang berani menyamakan akidah Islam dengan trinitas kristiani, harus segera bertaubat. Karena salah satu perkara yang bisa menggugurkan keislaman adalah tidak mau mengafirkan agama kafir; man lam yukaffir kaafiran fahuwa kafir!

Jika Anak SD Bisa Bedakan Tauhid dan Syirik, Mengapa Profesor Doktor Tergelincir?


Secara kasat mata, perbedaan akidah Islam dengan trinitas Kristen Ortodoks sangat tajam. Pada halaman 167-169 dikutip lampiran Qanun Al-Iman Al-Muqaddas (syahadat Kristen Ortodoks), antara lain sebagai berikut:

“Qaanuun al-iimaan al-muqaddas: Nu’min birobbin waahidin ‘Iisaa al-Masiih ibnullaahil-waahidi, al-mauluudu minal-aabi qabla kullid-duhuur, nuurun min nuurin, ilaahun haqq min ilaahin haqq, mauluudun ghoiru makhluuqin, waahidun ma’al-aabi fid-dzaati, alladzii bihi kaana kullu syai`in, haadzaal-ladzii min ajlina nahnul-basyar, wamin ajli kholaashinaa, nazala minas-samaa’... wa min maryam al-adzraa al-bathuul waalidatul ilah...”

Terjemah Indonesia: Dan beriman kepada satu-satu¬nya Tuhan (Rabb) yaitu Isa Almasih, Putra Allah Yang Tunggal, yang dilahir¬kan dari Bapa sebelum segala abad, Terang yang keluar dari sumber Terang, Allah yang keluar dari (Wujud) Allah, dilahir¬kan dan bukan dicipta¬kan, yang satu dengan Allah dalam Dzat-Nya yang Esa, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan. Untuk kita manusia dan demi keselamatan kita, telah nuzul dari surga, dan menjelma dengan kuasa Roh Kudus, dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan dan telah menjadi manusia...”

Dari Syahadat Kristen Ortodoks itu, dapat diketahui bahwa secara rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat, keyakinan Kristen Ortodoks bertentangan dengan akidah Islam.

Secara Rububiyah, doktrin KOS yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (Rabb) adalah akidah batil. Karena menurut Al-Qur'an, hanya Allah saja Tuhan (Rabb) yang Maha memiliki, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, memberi manfaat, mendatangkan bahaya, pemilik segala urusan dan kebaikan.

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Qs. Al-Fatihah 2, Al-Baqarah 21-22, Az-Zumar 62, Hud 6, Al-Ma’idah 120, Al-Mu’minun 86-89).

Secara Uluhiyah, meyakini kematian  Yesus di tiang salib sebagai penebus dosa jelas sebuah kebatilan yang bertolak belakang dengan akidah Islam yang menekankan hanya Allah saja yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

“Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Baqarah 163).

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Qs. Al-Fatihah 5).

Menurut Tauhid Asma wa Sifat, doktrin KOS yang meyakini adanya Anak Tuhan (ibnullah) dan Bunda Tuhan (walidatul ilah) juga sebuah kekafiran tersendiri yang bertentangan dengan Al-Qur’an (Qs. Al-Ikhlash 1-4, Qs. Asy-Syura 11, dll).

Sebenarnya, dengan kemajuan kurikulum pendidikan Islam, saat ini anak SD sudah sangat memahami tauhid, sehingga mereka tidak akan menyamakan akidah Islam dengan doktrin trinitas Kristen. Perhatikan pelajaran mereka: “Orang bertauhid meyakini hanya Allah Yang Maha Satu, yang menghidupkan, mematikan dan mengatur seluruh alam semesta. Orang bertauhid beribadah kepada hanya Allah Ta’ala dan melaksanakan seluruh perintah Allah. Lawan dari tauhid adalah syirik, artinya menyekutukan Allah. Orang yang berbuat syirik disebut musyrik. Orang musyrik tidak akan masuk surga dan kekal di dalam neraka selama-lamanya. Orang musyrik menyembah selain Allah, mereka berdoa dan beribadah kepada makhluk,” (Aqidah Akhlak untuk Sekolah Dasar Kelas 2, Tim Penulis FKLPI, hlm. 8-9).

Jika anak SD sudah bisa memahami makna tauhid dengan benar, mengapa profesor doktor bisa tergelincir? Aneh bin ajaib!! []

12.34

Sebuah iklan kristenisasi berlabel “Kursus Ilmu Perbandingan Agama” di situs berita nasional, meresahkan para netter Muslim. Dalam iklan tersebut terpampang kalimat menggiurkan sbb: “Ilmu Perbandingan Agama. Tahukah Sdr. Siapakah Isa Al-Masih? Free Kursus Online dengan Sertifikat. www.######islam.com.”
Iklan tersebut meresahkan umat Islam, karena website yang menamakan diri komunitas “Isa&Islam” tersebut adalah murni pemurtadan/kristenisasi dengan membelok-belokkan pengertian ayat-ayat Al-Qur'an. Parahnya, iklan  kristenisasi itu terpampang dalam berita bertajuk “info haji.” 
Sebetulnya, bagi orang yang paham agama, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari website pemurtadan itu. Namun situs itu berbahaya bagi orang awam yang jahil terhadap agamanya.
Semua materi yang diajarkan dalam kursus gratis ini dangkal dan mengelikan, hanya mengandalkan pelesetan kata yang tidak logis dan tidak ilmiah. Misalnya, untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, admin website mengutip surat Al-Fatihah 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Ayat ini diparalelkan dengan Injil Yohanes 14:6 bahwa satu-satunya jalan kebenaran itu hanyalah Yesus.
Ajaran seperti ini jelas penyesatan yang sangat dipaksakan. Padahal pengertian surat Al-Fatihah ayat 6 itu dijelaskan pada ayat berikutnya (ayat 7) bahwa jalan yang lurus itu bukan jalan orang yang dimurkai (Yahudi) dan juga bukan jalan orang yang sesat (Nasrani).
Dalam artikel berjudul “Apakah Benar Taurat Dan Injil Yang Sekarang Tidak Murni?” admin “Isa&Islam” menantang pembaca untuk membuktikan kepalsuan Bibel. Menurutnya, tuduhan pemalsuan dalam Taurat Bibel mustahil untuk dibuktikan:
“Kami kira sukar untuk membuktikan bahwa kitab Taurat dan Injil yang sekarang ada telah tercampur dengan tangan manusia. Memang sering terdengar suara semacam itu, tetapi di mana buktinya?... Jika benar kitab Taurat dan Injil hendak diubah oleh manusia, apakah mungkin Allah sendiri (yang telah mewahyukan kitab-kitab itu) akan tinggal diam begitu saja dan membiarkan Firman-Nya dirusak oleh tangan manusia? Rasanya tidak mungkin Allah yang Mahakuasa akan membiarkan itu terjadi!”
Kalimat itu membuktikan bahwa ia tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu?) fakta kepalsuan Bibel. Karena semua pakar bibliologi mengakui adanya penyisipan (insersi) ayat Trinitas 1 Yohanes 5:7 adalah palsu yang disisipkan secara bertahap. Tahap pertama ayat itu disisipkan sebagai catatan kaki pada abad keempat. Karena dianggap mendukung Trinitas, maka catatan kaki itu naik pangkat menjadi ayat 7 pada Bibel edisi 1550 dengan sebutan “Teks Yang Diterima” sebagai Authorized Version. Semua teolog mengakui kepalsuan ayat ini, tapi tidak malu-malu mengakuinya sebagai teks yang diterima.  (baca Christology sebelumnya: Kuis Bibel Berhadiah Pesawat Boeing 747: Jawaban untuk Pendeta Budi Asali)
Untuk menutupi kepalsuan Bibel, admin Isa&Islam ‘mengambinghitamkan’ Tuhan dengan dalih “mustahil Tuhan membiarkan wahyu-Nya dipalsukan manusia.”
TIPUAN!! Berwajah Islam, ajarkan kekristenan.
Apologi ini jelas keliru besar. Adanya pemalsuan kitab-kitab terdahulu itu justru sesuai dengan firman Tuhan. Dalam banyak ayat, Allah telah menjamin terjadinya pemalsuan dalam kitab-kitab terdahulu:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Qs. Al-Baqarah 75).
“Mereka (Ahli Kitab) suka mengubah kalimat-kalimat Allah daripada tempat-tempatnya dan mereka itu (sengaja) melupakan perkara-perkara yang telah diperingatkan (dinasihatkan) kepada mereka…” (Qs. Al-Ma’idah 13).
“Sebagian dari orang-orang Yahudi, mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya” (Qs. An-Nisa’ 46, baca juga: Al-Baqarah 7, Ali Imran 71).
Untuk menjaga kemurnian firman-Nya, Allah mewahyukan Al-Qur'an sebagai kitab suci pamungkas kepada penutup nabi dan rasul. Sebagai kitab suci pamungkas, Al-Qur'an diistimewakan dengan banyak kelebihan, antara lain: dijamin keasliannya (Qs. Al-Hijr 9); mudah dihafal, dipahami dan diamalkan (Qs. Al-Qamar 17); berlaku universal untuk seluruh alam (Qs. Al-Furqan 1); ajarannya sempurna atau mencakup seluruh aspek kehidupan (Qs. Al-An’am 38).
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguh­nya Kami yang akan menjaganya” (Qs. al-Hijr 9).
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (Qs Al-Qamar 17).
Terhadap kitab-kitab terdahulu, Al-Qur'an berfungsi sebagai nasikh (penghapus), muhaimin (batu ujian kebenaran), mushaddiq (korektor) terhadap kitab-kitab sebelumnya (Qs. Al-Ma’idah 48, Al-Baqarah 23, 185).
LICIK!! Iklan kristenisasi berkedok Islam di situs berita nasional.

AHLI KITAB YANG MENGOTORI ALKITAB
Untuk membela otentisitas Bibel, admin Isa&Islam membabi buta berapologi memuji kejujuran orang Yahudi dan Kristen dalam menjaga keaslian Bibel, dengan kalimat berikut:
“Naskah-naskah tua dari kitab Taurat dan Injil seperti Codex Vaticanus dan Codex Alexandrius paling sedikit sudah ada sekitar 350 tahun sebelum Al-Quran ada, dan isinya tetap sama dengan Taurat & Injil yang sekarang.
Bagaimana mungkin mengubah Firman Allah mengingat orang Yahudi dan orang Kristen sangat gigih mempertahankan dan menjaganya karena yakin Firman ini adalah wahyu Allah? Lantas, untuk apa orang Kristen berusaha mengubah/merusak Kitab Suci-nya sendiri? Keuntungan apa yang akan didapat dari melakukan hal itu?”
....Inilah teologi asal gobleh yang tidak berdasar, tidak realistis dan bertentangan dengan fakta-fakta Bibel....
Inilah teologi asal-asalan (Betawi: asal gobleh) yang tidak berdasar, tidak realistis dan bertentangan dengan fakta-fakta Bibel:
Pertama, naskah asli Bibel sudah punah. Dalam sejarah imperium Yunani, disebutkan bahwa Raja Antiokhus IV dari kerajaan Seleucos berusaha membinasakan agama Yahudi dengan membakar seluruh catatan kitab sucinya, dan mengharuskan bangsa Yahudi mengikuti kebiasaan hidup Yunani. Karenanya, pada masa Origenes Adamantios (185-254) sudah tidak ada lagi teks asli Septuaginta, kecuali salinan-salinannya yang berlian-lainan. Perkembangan selanjutnya, salinan teks Septuaginta ini dirusak oleh penulis-penulis gereja Kristen dalam pertengkarannya dengan kaum Yahudi, akibat pemisahan diri jemaat Nasrani dari Jemaat Yahudi yang melahirkan agama Kristen.
“Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli Kitab Suci, sebab teks itu memang tidak ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan-salinan terdahulu, dan di antara bermacam-macam salinan yang kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan” (Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, , hal. 74).
....Dalam Bibel, Tuhan justru mengecam perilaku umat terdahulu yang buruk dan hobi memutarbalikkan kitab suci....
Kedua, dalam Bibel, Tuhan justru mengecam perilaku umat terdahulu yang buruk dan hobi memutarbalikkan kitab suci:       
“Kataku: Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Mereka merobek kulit dari tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya” (Mikha 3: 1-2).
“Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus” (Mikha 3: 9).
Nabi Musa juga mencela bani Israel yang tegar tengkuk terhadap ajaran kitab suci dan degil terhadap Tuhan semasa Nabi Musa masih hidup: “Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap Tuhan, terlebih lagi nanti sesudah aku mati” (Ulangan 31: 27).
Bila admin Isa&Islam mempelajari sejarah imperium Yunani dan membaca ayat-ayat kedegilan Yahudi tersebut, seharusnya mereka malu membuka kursus penyesatan berkedok perbandingan agama gratis. [a. ahmad hizbullah mag/suara islam]

12.22


Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia (6)
Setelah menghina ibadah shalat sebagai yang dilakukan umat Islam secara rutin lima kali sehari menghadap qiblat, penginjil Curt Fletemier membangga-banggakan agama Kristen sebagai agama yang bebas. Menurutnya, umat Kristen bebas beribadah kapan saja, dengan cara apa saja, dan menghadap ke mana saja.
“Orang Kristen dapat berdoa dari segala arah karena Tuhan yang sejati dapat ditemukan di mana saja. Tidak ada suatu mandat ritual dalam doa umat Kristen, tidak ada suatu posisi tertentu, atau pakaian tertentu atau upacara tertentu. Doa yang sejati dan penyembahan yang benar adalah yang dilakukan dalam Roh dan kebenaran.” (hlm. 148).
“Orang Kristen dapat berdoa dari segala arah karena Tuhan yang sejati dapat ditemukan di mana saja. Tidak ada suatu mandat ritual dalam doa umat Kristen, tidak ada suatu posisi tertentu, atau pakaian tertentu atau upacara tertentu. Doa yang sejati dan penyembahan yang benar adalah yang dilakukan dalam Roh dan kebenaran. Tuhan tinggal dalam hati manusia yang percaya pada-Nya, karena itu tubuh kita adalah Bait Tuhan yang benar. Umat Kristen tidak perlu sujud ke arah bait yang lain. Penyembahan kita adalah sesuatu yang alami, karena menyembah adalah suatu hal yang alami.” (hlm. 148).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa penginjil Curt Fletemier cs awam dalam sejarah gereja, khususnya umat Kristen jemaat permulaan. Dalam babad gereja perdana, sejak semula kekristenan yang mula-mula (Kristen generasi awal/Gereja Purba) mereka melakukan ibadah dan berdoa pada waktu-waktu tertentu. Gereja permulaan berakar pada Keyahudiyan, sehingga mereka melakukan ibadah harian atau sembahyang tiga kali sehari, yaitu petang, pagi dan tengah hari (Mazmur 55:18, Daniel 6:10), dengan ritual tertentu.
....penginjil Curt Fletemier awam sejarah gereja, khususnya umat Kristen jemaat permulaan...
Sampai saat ini, Gereja Timur masih melestarikan sembahyang harian yang dikenal dengan istilah “Shalat Tujuh Waktu.” Gereja Ortidox Syria menyebut sembahyang ini sebagai shalat fardu (wajib). Ketujuh waktu shalat Gereja Ortodox Syria itu adalah: Shalatus sa’atul awal (shalat jam pertama) pada jam 6 pagi; Shalatus sa’atuts tsalis (shalat jam ketiga) pada jam 9 pagi; Shalatus sa’atus sadis (shalat jam keenam) pada jam 12 siang; Shalatus sa’atut tis’ah (shalat jam kesembilan) pada jam 3 sore; Shalatus sa’atul ghurub (shalat jam terbenamnya matahari) pada jam 6 sore; Shalatun naum (shalat malam) pada jam 7 malam; dan Shalatus satar (shalat tutup malam) pada jam 12 malam. (Kitabus Sab’ush Sholawat: Sekilas Soal Sholat Tujuh Waktu dalam Gereja Orthodox, hlm. 12).
Sebelum melakukan ibadah sembahyang, menurut Tradisi Gereja dan Bibel, umat Kristen Orthodox pun juga “bersuci” dengan jalan membasuh telapak tangan, membasuh wajah dan kepala, membasuh tungkai kaki, serta seluruh kaki. Ini semua tertulis dalam Kitab Mazmur 26:1-12. Sedangkan “kiblat” sewaktu sembahyang adalah menghadap ke Timur, ke Ka’bah Baitullah di Yerusalem berdasarkan Injil Yohanes 2:9-21.
Dengan data ini, maka teologi ibadah bebas tanpa aturan yang diajarkan penginjil Curt Fletemier ini terbantah oleh teologi Kristen sendiri.
Jika Curt tegar tengkuk membanggakan ibadah bebas tanpa aturan, yang penting ibadah dalam roh dan kebenaran, maka ini adalah kebanggaan yang keliru. Sesuatu yang seharusnya memalukan, malah dibanggakan.
...Ibadah adalah inti agama. Jika suatu agama kosong dari tatacara ibadah, berdoa dan sembahyang, apakah masih layak disebut sebagai agama berketuhanan?...
Ibadah adalah inti agama setelah keyakinan (aqidah). Jika suatu agama kosong dari tatacara ibadah, berdoa, pengabdian dan sembahyang, apakah ia masih layak disebut sebagai agama yang berketuhanan?
Jika teologi penginjil Curt diikuti, bahwa umat boleh berdoa kapan saja dan dengan cara apa saja, yang penting dalam roh dan kebenaran, maka dari seribu umat bisa melahirkan dua ribu ritual ibadah.
Dan jika ibadah/sembahyang/kebaktian kepada Tuhan boleh dilakukan di mana saja karena Tuhan bisa ditemukan di mana saja, sesuai dengan ajaran penginjil Curlt Fletemier, maka betapa rusak dan kotornya suatu agama. Nanti bisa-bisa akan ada kebaktian di WC umum, di tempat sampah, di kuburan, di lokalisasi kemesuman, dan sebagainya.
Ajaran ini bertentangan dengan Islam yang begitu indah, yang menekankan bahwa Tuhan itu Maha Suci (Al-Quddus) yang mencintai kesucian. Bersambung [A. Ahmad Hizbullah MAG/suara islam]

12.17


JAKARTA (voa-islam.com) - Lebih dari 80 lokasi gua Maria telah berdiri di berbagai propinsi mengepung Indonesia. Rumah ibadah berkedok tempat wisata ziarah ini tersebar membentang dari mulai Papua hingga Sumatra. Gua Maria adalah tempat ziarah umat Katolik, biasanya bangunan utamanya dibentuk seperti gua lalu ditempatkannya patung Bunda Maria pada gua tersebut.
Fenomena gua Maria ini pertama kali muncul di Mexico saat salah seorang suku Aztec bernama Quauhtlatoatzin dibaptis oleh pastur Franciscan, lalu berganti nama menjadi Juan Diego. Ia mengaku melihat penampakan bunda Maria di Tepeyac, sebuah bukit di timur laut kota Cuautitlan (sekarang Mexico) lalu memerintahkan uskup supaya membangun sebuah kuil di sana.
Bak jamur di musim hujan gua-gua Maria tumbuh subur di Indonesia, bukan hanya di daerah pedalaman di kota besar seperti Jakarta yang sama sekali tidak pernah ada gua pun dibangun gua Maria. Data-data lokasi gua maria tersebut  bisa dilihat di www.guamaria.com.
Selain berupa gua, bangunan semisal yang dimotori oleh Kristen Katolik ini juga ada yang berbentuk candi seperti candi/gereja Hati Kudus Tuhan Yesus di Dusun Ganjuran, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul. Di lokasi ini bahkan para peziarah Kristen kerap membasuh tangan, muka dan kaki -seperti berwudhu dalam Islam-  ketika hendak berziarah.
Seolah ingin meniru Hindu dan Islam yang memiliki banyak situs sejarah purbakala dan wisata ziarah, umat Kristen pun latah mendirikan candi dan gua rekayasa yang nantinya lama kelamaan seolah dianggap sebagai peninggalan sejarah.
Ustadz Abu Deedat Shihab, MH wakil Ketua KDK (Komisi Dakwah Khusus) MUI Pusat mengatakan bahwa pendirian gua Maria selain menjadi tempat wisata ziarah umat Kristen adalah sebagai upaya untuk membuat-buat sejarah seolah-olah bunda Maria turun di tempat tersebut.
“Adanya patung bunda Maria atau gua Maria dan Candi Yesus Kristus  itu adalah upaya membuat-buat sejarah yang seoalah-olah bunda Maria turun di tempat itu atau jejak sejarah agama Katolik masuk di tempat itu disamping menjadikan sebagai tempat ziarah,” ungkapnya kepada voa-islam.com, Selasa (27/12).
Ia juga merasa khawatir menjamurnya gua Maria nantinya menjadi penyesatan sejarah kepada anak cucu bangsa ini padahal kenyataannya pendirian gua Maria di berbagai tempat tersebut tak ada kaitannya dengan sejarah Katolik.
“Jadi kalau anak-anak kita tidak tahu asal usulnya nanti timbulnya mereka menyangka di situlah penjelmaan atau turunnya bunda Maria, tempat pertama agama Katolik masuk dan lain-lain padahal tidak ada kaitannya dengan sejarah Katolik,” jelas Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bekasi ini.
Ustadz Abu Deedat pun menghimbau agar umat Islam mewaspadai Kristenisasi dalam bentuk lain lewat  menjamurnya gua Maria di berbagai daerah. Ia juga mendesak ormas-ormas Islam segera mengambil sikap tegas. (Ahmed Widad)

12.09

WARWICKSHIRE  Wanita bermoral bejat dan pezina kelas berat ini seharusnya tak layak bekerja di institusi pendidikan.
Anehnya, Kerri Mallier yang berprofesi sebagai sekretaris di sebuah sekolah Katolik, bisa bekerja sambilan sebagai pelacur bertarif 150 poundsterling per jam. Tidak hanya itu, Mallier juga menawarkan jasanya sebagai biseksual.
Dalam sebuah situs dewasa, Kerri Mallier mengiklankan dirinya sebagai ‘berkelas, menakjubkan dan sangat nakal’. Wanita 40 tahun ini bisa menghasilkan hingga 800 poundsterling untuk pemesanan semalam penuh atas nama Keri Ann.
Kegiatan ekstrakurikuler Mallier terungkap setelah orangtua murid di Sekolah Katolik Trinity di Leamington Spa, Warwickshire, melihat foto-foto wanita mungil berambut coklat itu di sebuah situs dewasa.
Mallier yang memegang jabatan kepala administrasi sekolah tersebut mengatakan kepada wartawan, bahwa  profesi sampingannya itu adalah ‘hobinya’.
Dalam profilnya di situs dewasa, Mallier memasang foto bugilnya, dan mengklaim sebagai ‘biseksual yang menawarkan pengalaman pacar yang sungguh luar biasa’.
Dia menambahkan, “I love what I do, offering my services to men, women and couples, including an exceptional girlfriend experience,” tulis Mellier seperti disitir dari MailOnline, Rabu (18/1/2012).
[Saya mencintai apa yang saya lakukan, menawarkan jasa saya untuk pria, wanita dan pasutri]
Di situs itu dia menawarkan tarif dan meminta pembayaran ‘dalam lima menit pertama’.
Mallier mengatakan kepada wartawan yang menyamar sebagai pelanggannya, “Saya bekerja di sekolah. Alasan saya melakukan ini adalah supaya bisa lolos dari anak-anak.”
Wanita yang telah menikah ini bekerja selama lima tahun di sekolah khusus seni dan teknologi itu, dengan 1.145 siswa berusia 11-18 tahun.
Meski demikian, Mallier menolak berkomentar. Tidak lama setelah profesi sampingannya terungkap, profilnya pun dihapus dari situs tersebut.
Sementara, Kepala Trinity Catholic School Dr Jim Ferguson mengatakan, “Kami tidak memiliki komentar apapun untuk saat ini.” [taz/okz]


BELANDA (voa-islam.com) – Banyaknya warga Belanda yang hijrah masuk Islam dan derasnya arus sekularisasi, menurunkan jumlah penganut Kristen Belanda secara drastis. Untuk meningkatkan jumlah jemaat gereja, para misionaris menggencarkan gerakan kristenisasi kepada imigran Muslim. Jurus kristenisasi berkedok Islam dan makan gratis pun jadi andalan misionaris.

Saat ini makin banyak saja kalangan misionaris yang aktif bekerja di kompleks pemukiman, mengajak warga pendatang untuk memeluk agama Kristen. Demikian laporan Dagblad de Pers, salah satu koran gratis yang beredar di Belanda.
Dagblad de Pers mengangkat kegiatan pendeta muda, Serge de Boer, usia 31 tahun, dari gereja Oase voor Nieuwe West, di wilayah Slotermeer, Amsterdam.
Setiap dua pekan, beberapa orang anggota pengurus gereja Oase voor Nieuw-West aktif beroperasi di lokasi pusat perbelanjaan di Slotermeer, antara pukul empat hingga enam sore, saat warga masyarakat setempat berbelanja untuk kebutuhan makan malam.
Selain orang Belanda, di wilayah ini banyak tinggal warga pendatang yang berasal dari Suriname, Antila Belanda, Maroko, Turki, Irak dan Afghanistan.
...Jumlah jemaat semakin berkurang. Jika gereja tetap ingin punya pengaruh di wilayah ini, para pendatang baru tersebut harus didekati, kata pendeta Serge de Boer...
Kristenisasi Berkedok Makan Gratis
“Kami mengundang mereka untuk hadir dalam acara makan bersama. Betul, kami mendekati semua orang dari berbagai latar belakang budaya. Kami mengabdi bagi semua warga masyarakat di sini. Termasuk warga Muslim,” kata pendeta Serge de Boer.
Pada acara makan bersama biasanya hadir sekitar 30 atau 40 orang. Pihak gereja menyediakan makanan vegetaris atau hidangan halal. Kegiatan ini didukung oleh induk gereja Protestan di Slotermeer, gereja De Bron.
Penganut Kristen Habis Digerus Sekularisasi
Semua gereja ini menghadapi masalah klasik: jumlah jemaat semakin berkurang. Penyebabnya juga sudah diketahui: penduduk asli setempat banyak yang pindah, usia yang tinggal semakin tua, dan proses sekularisasi.
Saat ini, 25 persen populasi penduduk Slotermeer terdiri dari pendatang asal Maroko, 17 persen asal Turki dan delapan persen asal Suriname. Dan separoh dari penduduk Slotermeer adalah Muslim. Menurut pendeta Serge de Boer, jika gereja tetap ingin punya pengaruh di wilayah ini, para pendatang baru tersebut harus didekati.
Kristenisasi Berkedok Islam
Di Belanda, sudah ada banyak gereja yang melakukan hal ini. Jumlahnya sudah puluhan. Di kalangan gereja Protestan saja (gereformeerd) tercatat 18 orang pekerja misionaris, yang aktif beroperasi di berbagai kompleks pemukiman.
Saat ini terdapat 25 “interculturele geloofgemeenschappen” atau masyarakat keagamaan antar budaya. Suatu bagian dari jaringan “International Church Plans.”
Juga ada yayasan “Evangelie & Moslims” untuk mengkristenkan umat Islam. Yayasan ini menyediakan berbagai paket perlengkapan dan pelatihan untuk melaksanakan kegiatan seperti itu. Misalnya, bagaimana cara memberi salam jika bertemu dengan kalangan Muslim.
...Para misionaris Belanda membuat yayasan 'Evangelie & Moslims' untuk mengkristenkan umat Islam...
Dalam berbagai kegiatan tersebut, gereja Oase voor Nieuw-West tidak pernah menggunakan istilah “kebaktian”. Cukup dengan nama pertemuan. Lagu-lagu gereja juga diusahakan dinyanyikan dengan menggunakan bahasa kalangan pendatang.
Tampaknya, upaya ini membuahkan hasil. Harian Dagblad de Pers berhasil menemui seorang pemuda, yang berasal dari kalangan Islam, dan kini murtad menjadi Kristen. “Ini urusan saya pribadi dengan Tuhan,” ujar pemuda yang minta dirahasiakan nama dan asal negaranya itu.
<blink>Warga Asli Belanda Masuk Islam Ribuan Imigran Iran Murtad Jadi Kristen</blink>
Dagblad de Pers memperkirakan, kelompok pendatang yang paling banyak pindah agama adalah imigran asal Iran. Dari sekitar 33.000 warga asal Iran yang tinggal di Belanda, beberapa ribu di antaranya beralih menjadi pemeluk agama Kristen.
...Bagaimana pun saat ini lebih banyak warga asli Belanda yang menyatakan diri menjadi Muslim ketimbang sebaliknya...
Menurut pendeta Serge de Boer, banyak imigran Iran masuk Kristen dengan motif tak tulus, di antaranya sebagai ungkapan protes terhadap kesewenang-wenangan penguasa di Iran sekarang ini.
Motif lainnya, imigran Iran masuk Kristen supaya lebih mudah mendapat izin tinggal.
Pendeta Serge de Boer mengakui bahwa hal ini memang masalah sangat peka. Harian Dagblad de Pers menutup laporan ini dengan kalimat: bagaimana pun saat ini lebih banyak warga asli Belanda yang menyatakan diri menjadi Muslim ketimbang sebaliknya. [taz/rnw]

11.57


MANILA-FILIPINA Uskup Agung Filipina berang! Tepat pada hari Jumat Agung beberapa waktu lalu, para gadis turis berpose narsis dengan pakaian tak senonoh di atas kayu salib. Padahal salib itu dipersiapkan untuk ritual peringatan hari kematian Yesus Kristus yang mereka yakini sebagai Tuhan.
Foto-foto gadis yang sedang berpose di atas salib  telah menyebar seperti virus di media online. Aksi sensitif yang dinilai sebagai penodaan agama di Filipina itu menyulut amarah dan kecaman umat Katolik.
Foto-foto narsis di atas Salib ini diunggah pertama kali ke jejaring sosial Facebook oleh Maike Domingo, seorang penggemar fotografi.
Kepada interaksyon.com, Domingo mengatakan, insiden itu terjadi di desa Lourdes di Angeles City pada perayaan Jumat Agung. Foto itu adalah satu dari sedikitnya lima foto wisatawan yang bergiliran berpose di kayu salib, dan merasa gembira seolah-olah mereka telah disalibkan.
 Domingo memaparkan, para  gadis turis itu menyelinap masuk ke tempat yang dilarang di mana tiga salib diletakkan dan sedang dipersiapkan untuk ritual “Senakulo” jam 3 sore.  Seyogianya, salib itu akan digunakan oleh umat Katolik untuk merenungkan kembali kisah penyaliban Kristus.
Saat itu, Domingo dan 15 penggemar fotografer lainnya beristirahat di dekat lokasi itu sekitar tengah hari. Dia memotret gadis yang berpose di salib itu bersama dengan beberapa anak.
Para remaja dan bahkan orang asing pun bergantian untuk mengambil gambar mereka dengan berpose pada  salib itu.
Pada jam 4 sore hari berikutnya, atau 20 jam setelah pemotretan, foto-foto narsis itupun diupload ke internet. Sontak foto-foto hasil jepretan Domingo itu telah dishare lebih dari 1.200 kali oleh para facebooker. Akibatnya, beberapa orang berkomentar dengan cemas dan marah.
Domingo yang kebanjiran protes, menegaskan dirinya tidak tahu identitas gadis yang berpose narsis di atas salib itu. "Saya hanya mengambil foto dari apa yang saya meskipun itu mengganggu perilaku," katanya. "Tapi sekarang, saya terganggu juga."
Uskup Emeritus Mgr Agung Oscar V. Cruz mengatakan kepada News 5 bahwa Gereja Katolik prihatin melihat aksi para wisatawan di kayu salib itu. Menurutnya, meskipun gadis itu tidak berniat untuk menghina,  aksinya yang berpose di kayu salib itu patut disayangkan.
Uskup Agung Cruz meminta masyarakat agar berhati-hati sebelum posting gambar seperti itu di media online yang mungkin menyakiti orang lain. [bornaskopen/dbs]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget