Latest Post


Apakah pengertian ayat: "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada­Ku" 26 . Apakah pengertian `wafat' di ayat ini adalah makna sesungguhnya atau tidak?

Jawab:

Makna `wafat' yang tepat adalah `tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, `tidur' sah dipakaikan dengan makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah yang artinya:
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang befum mati di waktu tidurnya; maka la tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. " 27 .

Maksudnya, orang hidup wafat di dalam tidur, ketika ruh mereka secara khusus terpisah, mereka kehilangan kepekaan, tidak bersuara, tiada gerakan-gerakan kesengajaan, kemudian ketika bangun ruh itu kembali.

Dalam hadits disebutkan, Nabi saw. berdoa ketika hendak tidur: "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". 28 . Ketika Rasulullah saw. bangun, ia membaca doa: "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali". 29 . dan membaca: "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." 30 .

Dengan adanya bukti hadits-hadits ini jelaslah, bahwa makna ayat tersebut adalah: Sesungguhnya Aku mematikanmu seperti rupa yang mati waktu tidur, ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit. Artinya, nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit, sesuai dengan kehendak Allah. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit.

Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, tapi sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup.31 .

Mathar al-Warraq menafsirkan ayat `sesungguhnya Aku mewafatkanmu...' yaitu mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa adalah diangkatnya dari dunia karena ia tidak ahli dunia, ia juga tidak memerlukan kebutuhan yang dibutuhkan penduduk dunia seperti makan dan minum, bangun dan tidur, dan sebagainya. Hadits-hadits cukup banyak mengkabarkan turunnya nabi Isa di akhir zaman nanti, dan ia akan memakai hukum Islam, ia mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti/pajak, dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat dengan firman Allah swt. yang artinya:

"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" 32 .. Wallahu'alam.33 .



CATATAN
KAKI





26. QS. Ali `Imran 3 : 55.
27. QS. az-Zumar 39 : 42.
28. HR. Bukhari dengan nomor hadits: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaon doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
29. HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ompun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari al­Barra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doo, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.
30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.
31. Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah-dalam tafsir Jami' al­Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit. Atasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah saw. di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Dan menurut asy-Syaukani -rahimahullah- dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah, hadits shahih dari Nabi saw. yang mengabarkan turunnya nabi Isa dan akan membunuh Dajjal. Sebenamya masih ada juga pendapat selain ini yang menafsirkan, bahwa Allah swt. mewafatkan nabi Isa se(ama tiga jam di siang hari kemudian, diangkat ke langit. Namun, pendapat ini lemah karena tidak memiliki bukti yang akurat.
32. QS. an-Nisa' 4 : 159.
33. Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, -rahimahullah- menulis dalam bukunya Majmu' AI Fatawa, bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaon dengannya (1/ 433): Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/ diwafatkan) yang ada dalam ayat ""(Ingotlah), ketika Allah berfirman: "Hai `/sa, sesungguhnyaAku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku". Pendapat-pendapat tersebut di antaranya, pertamo: Yang dimaksud dengan wafat di situ adalah wafat yang bermakna mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut, jika tidak dibandingkan dengan bukti-bukti terkait yang lain. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al­Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat: "Kotokanloh: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..." (QS. as-Sajadah 32:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihot ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya mem ukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehm u siksa neraka yang membakar" (QS. al-Anfal 8:50). Di ayat lain, kata waffa juga memiliki penger tian `mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim dan ta'khir.
Keduo, dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat prioritas pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut sebagai berikut: Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku. Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffa di ayat tersebut, yaitu: towaffaitu maali min fulan, maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan.
Ketiga, maksud wafat di ayat tersebut adalah wafat yang berarti `tidur'. Sebab, kata naum (tidur) dalam bahasa Arab diartikan juga dengan wafat (mati). Maka, seharusnya pemaknaan ayat tersebut yang paling tepat adalah dengan arti tidur dengan alasan beberapa dalil dari ayat, seperti firman Allah swt. yang artinya: "Dan Dialah yong menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya don (memegang) jiwa (orang) yang bel um mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan". Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung dengan dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa nabi isa as. diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Ia belum pernah meti, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat di kemudian hari ia akan turun ke bumi. la menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya sesuai dengan yang diberitakan lewat hadits­hadits shahih dari Nabi Muhammad saw. Kemudian, setelah menyelesaikan tugas, nabi Isa akan mati mengikuti takdir yang sudah ditetapkan Allah. Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata `yatawaffa' dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya diasumsikan pendapat itu benar, sudah barang tentu yang dimaksud itu adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Dengan demikian, penyebutan kata itu sebelum kejadian pengangkatan tennasuk gaya bahasa mendahulukan sesuatu (taqdim) dengan makna diakhrikan (ta'khir). Sebab, sebagaimana diingatkan oleh ulama ahli bahasa Arab, huruf waw (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan). Wabillahittaufiq.
Adapun anggapan bahwa nabi Isa tewas dibunuh atau tewas disalib, teks ayat al­Quran terang-terangan membatalkan dan menolaknya. Begitu juga dengan pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa tidak diangkat ke langit, tapi hijrah ke Kashmir, ia lama bertahan hidup di sana dan wafat di sana secara normal. Dan ia tidak turun sebelum hari Kiamat, yang akan datang adalah duplikat nabi Isa. Pendapat ini benar­benar pendapat batil, lantang terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat Allah swt. dan hadits Rasulullah saw.
Nabi Isa as. senantiasa hidup sampai sekarang, dan akan turun di kemudian hari seperti diberitakan Rasulullah saw. Dari keterangan-keterangan di atas, diharapkan penanya atau pun bukan bisa mengerti bahwa barangsiapa mengklaim nabi Isa tewas terbunuh dan disalib, atau ia mengatakan, bahwa nabi Isa berhijrah ke negeri Kashmir dan ia bertahan hidup di sana cukup lama lalu mati dengan cara yang normal, dan setelah mati pun tidak diangkat ke langit, ini adalah pendapat paling lantang kepada Allah dan ia mendustakan Aflah swt. dan Rasul saw. Kita tahu, barangsiapa yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya kafir. Diharapkan orang berperniapat demikian agar segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Diberi keterangan yang jelas dari Kitab Suci al-Quran dan hadits. Jika ia sudah bertaubat dan kembali ke jalan yang benar ia selamat, dan jika tidak, ia mati dalam kekufuran.
Dalil-dalil yang dapat dijadikan bukti cukup banyak dan mudah diketahui, di antaranya firman Allah tentang nabi Isa as. di surat an-Nisa' ayat 157-158:
"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan antara lain dari hadits-hadits Rasulullah saw. yang memberitakan turunnya nabi Isa as. di akhir zaman menjadi hakim adil. la akan membunuh Dajjal Sang Sesat, kemudian mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti/pajak, dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam. Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status keshahihannya akurat berasal dari Rasulullah saw. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diterima dan diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan dalam buku-buku akidah. Barangsiapa yang menolak dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak bisa menotaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan makna manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak al-Masih as., bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum, bukan dengan teks/ redaksi hukum, pendapat ini jelas-jelas `keliru', batil, menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam, bahkan terang-terangan menolak nash yang tsabit (fakta) dan mutowatir, merupakan tindakan kriminal terhadap syariah, lantang terhadap Islam dan nabi yang ma'shum Muhammd saw., menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, serta keluar dari kebenaran dan petunjuk. Orang yang berpegang teguh dengan syariat, yang percaya seratus persen kepada nabi yang membawa syariat tersebut, yang mengagungkan hukum serta segala nash ajarannya, orang yang sampai sedemikian rupa tidak mungkin berani mengatakan demikian. Pendapat yang mengatakan hadits yang membawa berita turunnya nabi Isa adalah hadits ahad yang tidak bisa dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitab sunan dan kitab musnad para ulama hadits, dengan thariqul hadits serta sanad yang bervariasi, mencukupi kriteria mutawatir. Lalu, bagaimana mungkin orang yang berpengetahuan rendah tentang syariah mengatakan tidak menerima dan tidak mau berpegang dengan hadits­hadits itu? Sekiranya pun kita asumsikan, bahwa hadits itu adalah hadits ahad, tidak semua hadits ahad yang tidak layak dijadikan landasan hukum. Yang paling tepat, sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits, bahwa hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak, sanadnya lurus dan tidak cacat, sah dijadikan landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Tiada ahsan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut, ia sah dijadikan dalil, baik itu dinamakan hadits ahaad ataupun hadits mutawatir. Dengan demikian, penanya atau siapa saja diharapkan mengerti kekeliruan syubhat dan penyelewengan pendapat tersebut dari jalan yang benar. Tindakan yang paling parah dan kelantangan paling dahsyat terhadap Allah swt. dan Rasul-Nya saw. adalah pendapat yang mentakwilkan hadits tersebut ke pengertian yang tiada sangkut pautnya dengan dalil hadits. Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan, yaitu pendustaan atas nash dan ketidak percayaannya akan berita yang disebutkan hadits tentang turunnya nabi Isa as, tentang nabi Isa akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, tentang nabi Isa membunuh Dajjal dan sebagainya. Secara tidak langsung, pelaku tersebut telah mengidentikkan Rasulullah saw. selaku orang paling tahu soal syariat Allah, menjadi orang yang mencampur-adukkan hukum serta orang yang tidak sesuai antara ucapan dan maksud tujuannya, padahal redaksi ucapannya cukup je(as. Ini adalah puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat yang seharusnya tidak masuk dalam kriteria seorang rasul. Orang yang suka mentakwilkan ini persis seperti pemeluk paham ateis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas manusia dan menurut mereka, yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat. Kita berdoa, semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dari godaan syeitan. Dan kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syeitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyefamatkan kita kecuali kekuatan Alfah yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Kami berharap, keterangan-keterangan yang kami berikan dapat memuaskan penanya dan dapat memperjelas jalan yang benar. Alhamdulillahirabbil'alamin.

Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Setiap hari dalam kehidupan kita pasti selalu berdoa kepada Allah SWT, meminta apapun yang kita inginkan. Doa menjadi hobi yang paling digemari oleh manusia ketika mereka mengalami kesusahan Setelah berdoa akan selalu hadir rasa optimis dan berkecambahnya harapan baru dalam melewati titian kehidupan. Hadir rasa yang teramat melegakan hati, seolah-olah tumpukan masalah jatuh satu persatu dari punggung kita.
Namun, pernahkahkita menyadari bahwa kita cenderung egois dalam berdoa, seringkali bahkan teramat sering lantunan doa yang terucap dari lisan kita teruntuk diri kita sendiri. Seandainya kita berdoa hanya lima kali sehari, yakni setiap habis menunaikan shalat fardhu lima waktu. Coba hitung adakah di antara lima kali doa tersebut pernah terlantunkan buat ayah, ibu, kakak, abang, adik, keluarga terdekat, dan teman-teman seperjuangan? Pernahkah dalam lima waktu tersebut ada waktu khusus yang kita sediakan untuk mendoakan mereka? Kalau jawabannya iya, maka bersyukurlah dan tingkatkan kualitas ketulusanmu dalam mendoakan mereka setiap harinya.
Jika tidak mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan kita agar ada waktu special yang kita jadikan sebagai waktu memberikan kado terindah buat orang-orang terbaik yang menemani kehidupan kita. Ada banyak orang terdekat kita yang “cahaya hidayah” belum menyinari qalbu mereka. Ada banyak orang terdekat kita yang masih terbiasa bermaksiat, tak patuh jalankan syariat. Kalau nasihat tulus tak selalu dapat kita berikan kepada mereka, bukankah sebuah kiriman doa dapat selalu kita hadiahkan setiap harinya.
Jangan sampai ada kata-kata seperti ini
Hah….dasar kalian pelit wahai anakku. Setiap hari doamu hanya untukmu, tanpa pernah sedetik pun mengangkat tanganmu berdoa untuk ayah bundamu. Sungguh kami semakin menua,usia kamipun tak tahu sampai berapa lama.Tak risaukah kau anakmu dengan keadaan kami,sampai detik ini masih belum bersujud kepada Allah SWT,pencipta kita.Padahal dalam surah Adz Zariyaat ayat 56,telah jelas-jelas disebutkan,bahwa hadirnya kita didunia ini adalah untuk menyembahnya.Kami tak tahu kenapa hidayah itu belum singgah dihati? Kalau banyak nasihat belum mampu menyadarkan kami, mudah-mudahan kiriman doa tulus dari anak saleh yang kami cinta sepanjang hayat, mampu membuka kran hidayah “Allah” untuk kami. Sungguh kami menginginkan, sebelum menutup mata, kami telah berserah diri kepada Allahhurabbi, merasakan kenikmatan jadi manusia pengabdi.

Hah…dasar kau egois saudaraku. Setiap hari tadahan tanganmu, komat-kamit mulutmu hanya untukmu tanpa pernah tersisakan doa itu untuk kami saudara sepertalian darah denganmu. Tak pedulikah kau dengan kondisi kami yang hari ini masih belum bisa shalat, belum mau menutup aurat dan semakin biasa meninggalkan syariat. Apakah kau hanya menginginkan surga itu untukmu wahai saudaraku. Kalau nasihat tulus jarang kau berikan, kenapalah doa yang teramat mudah dilantunkan pun tak kau berikan kepada kami. Apakah engkau hanya menginginkan persaudaraan kita di dunia ini saja. Sementara kita berpisah dan tak pernah bertemu kembali di akhirat nanti?
Hah….dasar kau egois Mutarabbiku. Tak pernah kau doakan kami murabbimu. Padahal ketahuilah,keimanan itu terkadang naik dan turun.Tak pedulikah kau,seandainya kami tak mampu bertahan dijalan ini.Boleh jadi kehadiranmu dan ketulusan doamulah yang membuat kami sanggup bertahan dalam menghadapi suka duka perjalanan ini.Boleh jadi kiriman doamulah,yang buat pelita keimanan dihati kami masih terus menyala.Ketahuilah pelita itu akan padam,jika sumbu hidayah habis termakan api ketidakihlasan dan minyak bahan bakar semangatnya telah habis.Maka doakanlah agar sumbu-sumbu pelita itu selalu diperbaru setiap harinya dan minyak “kekokohan” tekadnya selalu tersedia.
Hah…dasar kalian pelit wahai temanku. Doamu hanya untukmu saja. Tak gusarkah hatimu melihat keadaan kami hari ini. Embun hidayah itu belum mau jatuh di hati kami. Maka wajar kalau kami masih tak tergerak shalat, tak sempat baca Qur’an, tak tertarik mengikuti kajian, tak mau dengarkan nasihat tulus darimu. Hadirkanlah wajah-wajah kami di dalam doamu. Mudah-mudahan embun yang kami rindu itu benar-benar menetes di hati kami. Karena kami yakin tak selamanya kau sempat menasihati kami, tapi kami yakin doa tulus darimu kan dapat kau lakukan walau mungkin hanya sedetik, bukankah doa seorang teman/sahabat yang tulus di kala sepi dan tak diketahui teman/sahabat yang didoakan lebih mudah diijabah?

Spesial untukmu yang selalu melewati hari dengan berdoa untukmu sendiri.
Mari sempatkan satu waktu khusus untuk
mendoakan ayah& ibu, kakak adik & abang.
Keluarga-keluarga dan orang terdekat kita.
Teman-teman yang menemani kita
melewati pergantian hari. Guru, murabbi
dan orang yang telah memberikan inspirasi kebaikan buat kita.
Doakan agar “air hidayah” menyirami hati mereka yang kering kerontang.
Doakan agar “Pelita Keimanan” di hati mereka selalu menyala.
Kalau nasihat tulus tak mulu bisa kau berikan, bukankah doa kan selalu dapat kita lakukan?

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19937/kenapa-kita-masih-egois/#ixzz1sghKxI7W


BISMILLAHIRAMANIRAHIMI
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Menyayangi
Ummu Salamah r.a. berkata, "Rasulullah saw. telah membaca Bismillahirrahmanirrahim ketika membaca Fatihah dalam salat. (Hadis da'if Riwayat Ibnu Khuzaimah). Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).
Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.
Adapun dalam mazhab Imam Malik tidak membaca Basmalah berdasarkan hadis Aisyah r.a. yang berkata, "Biasa Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin. (HR. Muslim).
Anas r.a. berkata, "Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin". (Bukhari, Muslim).
Dan sunat membaca Bismillahirrahmanirrahim pada setiap perkataan dan perbuatan. karena sabda Nabi saw. yang berbunyi:
"Tiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maka terputus berkatnya."
Juga sunat membaca Basmalah ketika wudu, karena sabda Nabi saw.:
"Tiada sempurna wudu orang yang tidak membaca Bismillah"
Dan sunat juga dibaca ketika menyembelih (membantai) binatang, juga sunat ketika makan, karena sabda Nabi saw. ke- ada Umar bin Abi Salamah yang berbunyi, "Bacalah Bismil- lah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu". (HR. Muslim). Juga membaca Basmalah ketika akan jima' (bersetubuh) sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a. Rasullah saw. bersabda: Andaikan salah satu kamu jika akan bersetubuh (jima') de- ngan istrinya membaca, "engan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari rezeki yang Tuhan berikan kepada kami. Maka jika ditakdirkan mendapat anak dari jima' tidak mudah diganggu oleh setan untuk selamanya". (HR. Bukhari, Muslim).

Bismillah ( Dengan nama ALLAH )
Dengan nama Allah. Susunan kalimat yang demikian ini dalam bahasa Arab berarti ada susunan kata-kata yang mendahuluinya yaitu: Aku mulai perbuatan ini dengan nama Allah, atau: Permulaan dalam perbuatanku ini dengan nama Allah; untuk mendapat berkat dan pertolongan rahmat Allah sehingga dapat selesai dengan sempurna dan baik. Juga untuk menyedari kembali sebagai makhluk Allah, bahawa segalanya bergantung kepada rahmat kurnia Allah. Hidup, mati dan daya upaya semata-semata terserah kepada rahmat kurnia Allah Azza wa Jalla.
ALLAH
Nama Zat Allah Ta'ala. Nama Allah khusus bagi Allah, tidak dinamakan pada zat yang lain selain Allah. Haram menamakan dengan nama Allah pada zat yang lain selain Allah melainkan dengan menyandarkan sesuatu seperti Abdullah (hamba Allah) atau Amatullah (hamba perempuan Allah).
Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Murah Yang Maha Penyayang)
Ar-Rahman (Yang Pemurah) yakni yang penuh rahmatNya kepada semua makhluk di dunia hingga di akhirat, kepada yang mukmin maupun yang kafir. Adapun Ar-Rahim (Yang Penyayang) khusus rahimNya buat kaum mukmin sahaja. Firman Allah: "Arrahman alal arsyi istawa", untuk menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi (memenuhi) seiuruh Arsy. Dan firman Allah: "Wa kaana bil mu'miniina rahiima" (Dan terhadap kaum mukminin sangat belas kasih). Nama Rahman ini juga khusus bagi Allah, tidak dapat dipakai oleh lain-lainNya. Karena itu ketika Musailama al-Kadzdzab berani menamakan dirinya Rahmanul Yamamah, maka Allah membuka kepalsuan dan kedustaannya, sehingga dikenal di tengah-tengah masyarakat Musailamah al-Khadzdzab bukan sahaja bagi penduduk kota bahkan orang-orang Baduwi juga menyebutnya Musailamah al-Khadzdzab iaitu Musailamah Yang Pembohong. Kesimpulan di dalam asma (nama-nama) Allah ada yang dapat dipakai oleh lain-Nya dan ada juga yang tidak dapat dipakai oleh lain-Nya seperti Allah, Ar-Rahman, Al-Khalik, Ar-Razak dan lain-lainnya. Dan yang boleh seperti Ar-Rahim, As-Sami', Al-Bashir seperti firman Allah, "Faja'alnaahu samii'an bashiira" (Maka Kami jadikan manusia itu mendengar lagi melihat).


(2) ALHAMDU LILLAHIR RABBIL ALAMIN
Segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara alam semesta.
Ibn Jarir berkata, "Alhamdu lillah, syukur yang ikhlas melulu kepada Allah tidak kepada lain-lain-Nya daripada makhluk-Nya, syukur itu karena nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-Nya yang tidak dapat dihitung dan tidak terbatas, seperti alat anggota manusia untuk menunaikan kewajiban taat kepada-Nya, di samping rezeki yang diberikan kepada semua makhluk manusia, jin dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup, karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata-mata.
Alhamdullilah
Pujian Allah pada diri-Nya, yang mengandung tuntunan kepada hamba-Nya supaya mereka memuji Allah seperti seakan-akan perintah Allah, "Bacalah olehmu Alhamdulillah". Alhamd pujian dengan lidah terhadap sifat-sifat pribadi, maupun sifat yang menjalar kepada orang lain, sebaliknya syukur itu pujian terhadap sifat yang menjalar, tetapi syukur dapat dilaksanakan dengan hati, lidah dan anggota badan. Alhamd berarti memuji sifat keberanian, kecerdasan-Nya atau karena pemberian-Nya. Syukur khusus untuk pemberian-Nya. Alhamd (puji) lawan kata Adzzam (cela). Ibn Abbas r.a. berkata, Umar r.a. berkata kepada sahabat- sahabat, "Kami telah mengerti dan mengetahui kalimat Subanallah, laa ilaha illallah dan Allahu Akbar, maka apakah Alhamdu Lillahi itu?" Jawab Ali r.a., "Suatu yang dipilih oleh Allah untuk memuji Zat-Nya". Ibn Abbas berkata, 'Alhamdu Lillah kalimat syukur, maka jika seorang membaca Alhamdu Lillah, Allah menjawab, "HambaKu telah syukur pada-Ku". Jabir bin Abdullah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Seutama-utamanya zikir ialah "La ilaha illallah", dan seutama-utamanya doa ialah "Alhamdu Lillah". (HR. at-Tirmidzi, hadis Hasan Gharib). Anas. bin Malik r.a. berkata, Nabi saw. bersabda: Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba- Nya, kemudian hamba itu mengucap "Alhamdu Lillah", melainkan apa yang diberi itu lebih utama (afdhal) dari yang ia terima. (Yakni ucapan "Alhamdu Lillah" lebih be- sar nilainya dari nikmat dunia itu). (HR. Ibnu Majah). Anas r.a. juga meriwayatkan Nabi saw. bersabda, "Andaikan dunia sepenuhnya ini di tangan seorang dari umatku kemudian ia membaca 'Alhamdu Lillah' maka pasti kalimat Alhamdu Lillah lebih besar dari dunia yang di tangannya itu". 'Al' dalam kalimat Al-hamdu berarti segala jenis puja dan puji bagi Allah. Sebagaimana tersebut dalam hadis "Allahumma lakal hamdu kulluhu walakal mulku kulluhu wa biyadikal khair kullihi wa ilaika yar ji'ul amru kulluhu" (Ya Allah bagi-Mu segala puji semuanya, dan bagi-Mu kerajaan semuanya dan di tangan-Mu kebaikan semuanya, dan kepada-Mu kembali segala urusan semuanya).
Rabb
Bererti pemilik yang berhak penuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan, dan semua makhluk alam semesta. Alam ialah segala sesuatu selain Allah. Maka Allah Rabb dari semua alam itu sebagai pencipta, yang mcmelihara, memperbaiki dan menjamin. Sebagaimana tersebut dalam surat asy- Syu'araa 23-24. Fir'aun bertanya, "Apakah rabbul alamin itu?" Jawab Musa, "Tuhan Pencipta, Pemelihara penjamin langit dan bumi dan apa saja yang di antara keduanya, jika kalian mahu percaya dan yakin." Alam itu juga pecahan dari alamat (tanda) sebab alam ini semua menunjukkan dan membuktikan kcpada orang yang memperhatikannya sebagai tanda adanya Allah Tuhan yang menjadikannya.


(3) AR-RAHMAN AR-RAHIM


Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Ar-Rahman
yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya seperti nikmat makan, minum, harta benda dan lain-lain.
Ar-Rahim
yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, seperti nikmat iman dan islam. Jika anda akan menghitung nikmat kurnia Allah maka takkan dapat menghitungnya.

(4) MALIKI YAUMIDIN


Raja yang memiliki pembalasan
Maliki
Dapat dibaca: Maliki (Raja), dan Maaliki (Pemilik - Yang Memiliki). Maaliki sesuai dengan ayat: "Sesungguhnya Kami yang mewarisi bumi dan semua yang di atasnya, dan kepada Kami mereka akan kembali." (Maryam 40). Maliki sesuai dengan ayat: Katakanlah, "Aku berlindung dengan Tuhannya manusia. Rajanya manusia". (an-Naas 1-2) . "Bagi siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Bagi Allah Yang Esa yang memaksa (perkasa)." (al-Mu'min = Ghafir 16). Kerajaan yang sesungguhnya pada hari itu hanya bagi Ar: Rahman. (al-Furqan 26).
Ad-Din (Pembalasan dan Perhitungan).
Sesuai dengan ayat: "Apakah kami akan dibalas (diperhitungkan)". (as-Shafaat 53). Umar r.a. berkata, "Andaikan perhitungan bagi dirimu sebelum kamu dihisab (diperhitungkan) dan pertimbangkan untuk dirimu sebelum kamu ditimbang, dan siap-siaplah untuk menghadapi perhitungan yang besar, menghadap kepada Tuhan yang tidak tersembunyi pada-Nya sedikit pun dari amal perbuatanmu. Pada hari kiamat kelak kalian akan dihadapkan kepada Tuhan dan tidak tersembunyi pada-Nya suatu apa pun."

(5) Iyyaka na'budu wa iyyaka nas ta'iin.


Hanya kepadaMu (Allah) kami mengabdi (menyembah) dan hanya kepada-Mu pula kami minta pertolongan.
Adh-Dhahaak dari Ibn Abbas berkata,
"Iyyaka na'budu bermaksud Kepada-Mu kami menyembah mengesakan dan takut dan berharap, wahai Tuhan tidak ada lain-Mu". Dan Iyyaka nasta'in bermaksud "Kami minta tolohg kepada-Mu untuk menjalankan taat dan untuk mencapai semua hajat kepentinganku"
Qatadah berkata,
Dalam Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, Allah menyuruh supaya tulus ikhlas dalam melakukan ibadat kepada Allah dan supaya benar-benar mengharap bantuan pertolongan Allah dalam segala urusan."

(6) Ihdinaas Shiraathal mustaqiim


Pimpinlah kami ke jalan yang lurus.
Shirath dapat dibaca dengan shad, siin dan zai dan tidak berubah arti. Shiraathal mustaqiim, jalan yang lurus yang jelas tidak berliku-liku. Shiraatal mustaqiim, ialah mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Asshiratul mustaqiim kitabullah'. Juga berarti Islam, sebagai agama Allah yang tidak akan diterima lainnya.
An Nawas bin Sam'aan r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Allah mengadakan contoh perumpamaan suatu jalan (shirrat) yang lurus, sedang di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka, pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, "Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu dipenngatkan, 'Celaka anda, jangan membuka, sungguh jika anda membuka pasti akan masuk'. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah- sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dn seruan di atas shiraf ialah seruan nasihat dalam hati tiap orang muslim. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa'i).
Tujuan ayat ini minta taufik hidayat semoga tetap mengikuti apa yang diridai Allah, sebab siapa yang mendapat taufik hidayat untuk apa yang diridai Allah maka ia termasuk golongan mereka yang mendapa nikmat dari Allah daripada Nabi shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan siapa yang mendapat taufik hidayat sedemikian berarti ia benar-benar Islam berpegang pada kitab Allah dan sunnaturrasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan syariat agama. Jika ditanya, "Mengapakah seorang mukmin harus minta hidayat, padahal ia bersalat itu berarti hidayat?"
Jawabnya, "Seorang memerlukan hidayat itu pada setiap saat dan dalam segala hal keadaan kepada Allah supaya tetap terus terpimpin oleh hidayat Tuhan itu, karena itulah Allah menunjukkan jalan kepadanya supaya minta kepada Allah untuk mendapat hidayat taufik dan pimpinan-Nya. Maka seorang yang bahagia hanyalah orang yang selalu mendapat taufik hidayat Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam ayat 136, surat an-Nisa:
"Hal orang beriman percayalah kepada Allah dan Rasulullah" (an-Nisa 136).
Dalam ayat ini orang mukmin disuruh beriman, yang maksudnya supaya terus tetap imannya dan melakukan semua perintah dan menjauhi larangan, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqamah hingga mati.


(7) Shiraathalladzina an'amta alaihim ghairil magh dhubi alaihim waladh dhaallin


Jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan atas mereka, dan bukan jalan yang dimurkai Tuhan atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang sesat.
Inilah maksud jalan yang lurus itu, yaitu yang dahulu sudah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat rida dan nikmat dari Allah ialah mereka yang tersebut dalam ayat 69 an-Nisa:
Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasulullah maka mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, dan merekalah sebaik-baik kawan. (an-Nisa 69).
Dilanjutkan oleh Allah dengan ayat:
"Dzalikal fadh lu minallahi wakafa billahi aliimaa" (Itulah kurnia Allah dan cukup Allah yang Maha Mengetahui.)
Ibnu Abbas berkata, "Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Tuhan kepada mereka sehingga dapat menjalankan taat ibadat serta istiqamah seperti Malaikat, Nabi-nabi, Shiddiqin, syuhada dan shalihin. Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran hak tetapi tidak melaksanakannya seperti orang-orang Yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya, juga bukan jalan orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengetahui.
Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi saw., "Siapakah yang dimurkai Allah itu?" Jawab Nabi saw., "Alyahud (Yahudi)". "Dan siapakah yang sesat itu?" Jawab Nabi saw. "An-Nashara (Kristen/Nasrani)".
Orang Yahudi disebut dalam ayat "Man la'anabullahu wa ghadhiba alaihi"(Orang yang dikutuk (dilaknat) oleh Allah dan dimurkai, sehingga dijadikan di antara mereka kera dan babi.)
Orang Nashara disebut dalam ayat "Qad dhallu min qablu, wa adhallu katsiera wa dhallu an sawaa issabiil" (Mereka yangtelah sesat sejak dahulu, dan menyesatkan orang banyak, dan tersesat dari jalan yang benar.)

Pasal:


Surat ini hanya tujuh ayat, mengandung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, lalu menyebut hal Hari Kemudian, pembalasan dan tuntutan, kemudian menganjurkan kepada hamba supaya meminta kepada Allah dan merendah diri pada Allah, serta lepas bebas dari daya kekuatan diri menuju kepada tulus ikhlas dalam melakukan ibadat dan tauhid pada Allah, kemudian menganjurkan kepada hamba sahaya selalu minta hidayat taufik dan pimpinan Allah untuk dapat mengikuti shirat mustaqiim supaya dapat tergolong dari golongan hamba-hamba Allah yang telah mendapat nikmat dari golongan Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik mengerjakan amal saleh jangan sampai tergolong orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.

Meta Susanti
Ketua Divisi Publikasi LSI An Nidaa


Akhir-akhir ini kita menyaksikan begitu banyaknya saudari kita yang memiliki kesadaran untuk berbusana muslimah. Bahkan sebagian besar sekolah di Jakarta, dengan sangat membanggakan telah mendesain sendiri busana muslimah sebagai seragam sekolah para siswinya. Tak ketinggalan, perusahaan yang konon katanya sulit menerima karyawati berkerudung, dewasa ini perlahan-lahan mulai menghapus image tersebut. Di banyak perkantoran, kita tak akan lagi menemui kesulitan untuk mendapati  karyawati yang mengenakan kerudung ketika ngantor.

Hal tersebut tentu saja layak kita syukuri. Sebab, paling tidak telah ada kesadaran dari sebagian besar muslimah untuk menutupi auratnya. Kita tidak akan lupa, belakangan ini marak terjadi kejahatan seksual terhadap kaum wanita, yang penyebabnya antara lain karena si wanita tersebut dengan tanpa risih mengenakan pakaian yang tidak menutup auratnya, tapi justru malah menampakkan lekuk tubuhnya. Dengan kesadaran yang timbul dari banyak wanita untuk berbusana muslimah, diharapkan tindak kejahatan semacam itu akan semakin berkurang. Selain tentu saja, berbusana muslimah yang sesuai dengan syariat adalah merupakan perintah Allah SWT yang wajib ditaati oleh seluruh wanita Islam tanpa terkecuali. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur : 31)

Jadi jelas kan, bahwa menutup aurat bagi muslimah itu adalah perintah Allah SWT yang tidak bisa ditawar. Jadi sudah semestinya, bukan karena takut menjadi korban kejahatan seorang muslimah itu menutup auratnya, juga bukan karena artis anu tiba-tiba mengenakan kerudung, kemudian ikut-ikutan. Tapi memang perintah Allah’lah yang membuat muslimah dengan penuh kesadaran menutup auratnya dengan berbusana muslimah yang sesuai syariat.

Ragam Busana Muslimah


Meningkatnya kesadaran para muslimah untuk menutup aurat juga dibarengi dengan membanjirnya produsen busana muslimah dengan berbagai merk dan ciri khas masing-masing. Jika kita membaca majalah wanita Islami, lihat saja, betapa para produsen busana muslimah itu berlomba-lomba untuk mengiklankan produknya. Masing-masing menawarkan keunikan desain yang berbeda, juga menonjolkan berbagai kelebihan busana yang diproduksi. Satu yang sama, para produsen busana muslimah itu sama-sama mengklaim bahwa produknya itu yang paling Islami dan sesuai dengan syariat.

Model busana muslimah yang ditawarkan pun bermacam-macam. Ada kerudung yang modelnya dibuat sedemikian rupa hingga mencekik leher. Juga ada disain busana muslimah berbentuk celana mirip kostum Alibaba. Tak ketinggalan, model busana berbentuk gamis yang elegan disertai kerudung panjang yang tak kalah menarik. Semua menawarkan mode yang berbeda-beda. Yang jika dicermati dengan seksama, maka, siapa yang mampu menarik peminat lebih banyak dengan berbagai strategi marketing, ialah yang akhirnya memenangkan persaingan menjadi trend di kalangan muslimah.

Mode Islami


Jika kita amati, ternyata busana muslimah yang trend belakangan ini adalah justru busana yang didesain dengan bahan minimalis. Sehingga begitu dikenakan, pakaian tersebut akan menampakkan lekuk tubuh si pemakai. Kerudungnya pun seperti yang telah disebutkan di atas, banyak muslimah yang kita temui memilih untuk mengenakan kerudung dengan model pemakaian yang dililit-lilit di leher dan tidak panjang menjuntai menutupi dada.

Ketika berbicara mengenai busana muslimah, banyak kalangan yang mempertanyakan, “Dalam Islam, boleh nggak sih kita mengikuti mode?” Maka jawabannya, tentu saja boleh. Sebagai muslimah yang membawa misi dakwah Islam justru kita jangan sampai ketinggalan jaman dalam berbusana, alias kuno. Sebisa mungkin, kita harus menunjukkan wajah Islam dengan segala keindahannya termasuk dalam hal berbusana.

Tapi yang perlu kita perhatikan adalah rambu-rambu yang telah digariskan Islam dalam berbusana. Lalu, seperti apa mode busana muslimah yang sesuai dengan syariat Islam?

Pertama, harus menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman’Nya,

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Azhab : 59)

Yang dimaksud jilbab dalam ayat ini adalah baju terusan panjang yang diulurkan ke seluruh tubuh. Ingat, seluruh tubuh, bukan tubuh bagian atas sepotong, ditambah bagian bawah sepotong. Melainkan adalah model pakaian yang langsung menutupi seluruh tubuh, dari atas hingga bawah. Nah, kebanyakan kita biasa menyebutnya gamis. Adapun penutup kepalanya adalah seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nuur ayat 31 tadi,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya...”


Ya, ternyata kerudung yang sesuai dengan perintah Allah SWT adalah kerudung yang jika dipakai dapat menutup seluruh bagian kepala hingga ke dada. Dan soal ini tidak ada tawar menawar.

Kedua, pakaian yang dikenakan bukan dari kain yang tipis dan tembus pandang. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,

“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Diatas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum yang terkutuk” (HR. Ahmad 2/223.Menurut Al-Haitsami rijal Ahmad adalah rijal shahih)

Ketiga, longgar dan tidak ketat sehingga dapat menampakkan lekuk tubuh.
Keempat, tidak diberi wewangian / parfum. Harus kita waspadai, di dunia barat sekuler  salah satu “fungsi” parfum adalah sebagai alat seducing man (menggoda laki-laki). Begitulah mudharat dari parfum yang dipakai oleh perempuan (di luar rumah). Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasanya ia berkta Rasulullah bersabda :

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina”(
HR.An-Nasai II:38,Abu dawud II:92, At-Tirmidzi IV:17, At-Tirmidzi menyatakan hasan shahih)

Kelima, tidak tasyabbuh (menyamai) pakaian orang kafir. Tasyabbuh sudah jelas dilarang oleh Rasulullah, baik itu dilakukan oleh muslim ataupun muslimah. Dari Abdullah bin Amru bin Ash dia berkata:

“Rasulullah melihat saya mengenakan dua buah kain yang dicelup dengan warna ushfur, maka beliau bersabda: Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir maka jangan memakainya”
(HR. Muslim 6/144, hadits Shahih)

Keenam, Isbal (panjang melewati mata kaki). Berbeda dengan laki-laki yang diharamkan isbal, maka perempuan diwajibkan untuk isbal. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa menghela pakaiannya lantaran angkuh, maka Allah tidak akan sudi melihatnya pada hari kiamat. Lantas Ummu Salamah bertanya:”Lalu, bagaimana yang mesti dilakukan oleh kaum wanita denngan bagian ujung pakaiannya? Beliau menjawab: hendaklah mereka menurunkan satu jengkal!Ummu Salamah berkata: Kalau begitu telapak kaki mereka terbuka jadinya. Lalu Nabi bersabda lagi:Kalau begitu hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan jangan lebih dari itu!” (HR.Tirmidzi (III/47) At-Tirmidzi berkata hadits ini Shahih)

Jelas kan, bagaimana Islam telah mengatur secara gamblang tentang bagaimana seharusnya muslimah berpakaian. Jadi, jika kita bingung oleh banyaknya mode busana muslimah, kembalikan saja standar berpakaian itu sesuai dengan syariat Islam.

Muslimah Harus Modis


Nah, jika demikian syarat berbusana bagi muslimah, lalu muslimah tidak akan bisa tampil modis dong? Kata siapa?! Sebenarnya yang membuat kita terlihat modis atau tidaknya dalam berpakaian bukanlah bagaimana bentuk pakaian yang kita kenakan. Melainkan terletak pada kemampuan kita dalam memadu padankan busana yang kita pakai.

Pernahkah suatu hari kita menyaksikan seorang muslimah (atau bahkan kita sendiri) mengenakan gamis bercorak loreng-loreng kemudian dipadukan dengan kerudung motif bunga-bunga? Atau mungkin kita juga pernah mendapati orang (atau kita sendiri, sekali lagi) mengenakan gamis berwarna ungu, dipadukan dengan kerudung berwarna hijau dan kaos kaki berwarna merah marun? Tentu sekali dua kali, pernah kan. Hmm...adakah yang salah dengan busana muslimah yang demikian? Tentu saja tidak. Sebab apa yang dikenakan tersebut telah memenuhi standar berbusana yang sesuai dengan syariat.

Namun ketahuilah, bahwa masalah berpakaian bukan hanya masalah selembar kain di badan atau selembar kerudung di kepala. Jangan sampai kita berfikiran, “Peduli apa dengan penampilan. Mau gamis merah, kerudung biru, dapadu kaos kaki coklat. Yang penting kan sesuai dengan syariat.”. Memang betul, tapi kita juga harus menyadari, bahwa pakaian yang kita kenakan hakikatnya juga mengusung jauh lebih banyak dari yang terlihat. Ada gambaran pendidikan, ekonomi, politik, budaya, sosial, akhlaq, dan terlebih keimanan. Sehingga ketika memutuskan untuk berpakaian, tentunya kita juga harus benar-benar memperhatikan kesesuaian busana yang kita pakai. Jangan sampai niatan kita untuk mensyiarkan ajaran Islam dalam berpakaian, justru dipandang sebelah mata hanya karena apa yang kita kenakan terkesan asal.

Menganggap warna apa saja cocok bagi kita, tanpa menyadari bahwa ada warna-warna tertentu yang justru pas bagi kita, adalah sebuah kesalahan. Warna yang tidak tepat bisa membuat kulit kita terlihat lebih gelap, wajah lebih tua, dan bahhkan membuat kita tidak terlihat smart atau well educated. Juga sebaliknya, warna yang tepat akan membuat kulit kita terlihat lebih terang, wajah lebih muda dari usia, serta membuat kita tampak cerdas, bahkan jika kita tidak memiliki pendidikan yang tinggi sekalipun. Tentu saja hal ini tidak tergantung warna, tapi yang lebih penting adalah bergantung pada akhlaq kita.

Warna atau motif gamis dan kerudung juga harus dilihat benar padu padannya. Jangan sampai warna tersebut kelihatan tidak pas. Sehingga penampilan kita terkesan keramaian, atau bahkan senyap alias hambar. Sebagai contoh, jika kita ingin mengenakan gamis dengan corak bunga-bunga warna biru, tak perlu lagi kita kenakan kerudung dengan motif batik atau kotak-kotak. Tetapi cukup kenakan kerudung yang polos dengan warna senada.

Itu hanya sebagian contoh kecil bagaimana kita bisa menampilkan syariat dalam berbusana tanpa mengabaikan keindahan Islam itu sendiri. Jadi sekarang, tak ada alasan untuk berpakaian yang benar-benar sesuai dengan aturan Islam hanya karena takut terlihat tidak modis, atau terkesan kuno dan ketinggalan jaman. Sebab, gamis lebar dan kerudung panjang yang wajib kita kenakan itu pun dapat menjadikan kita tampil modis, elegan, dan smart dengan kemampuan kita memadu padankan busana yang kita pakai.

Ala kulli hal,
semua harus kembali pada niat. Karena kitalah yang tahu desir apa di balik detak jantung kita. Teguhkan niat, bahwa hanya dalam rangka beribadah kepada Allah saja kita melakukan setiap hal. Dengan adanya aturan mengenai busana muslimah, Allah tidak menginginkan seorang muslimah menjadi tontonan berjalan dan cantik karena riasan. Namun dengan pakaian, Allah hendak memberi cahaya penjagaan diri bagi seluruh wanita shalihah. Wallahu’alam.

Hingga kini, banyak di antara umat Islam yang masih saja tidak percaya jika dikatakan bahwa pe-nangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir adalah pesanan Amerika Serikat, meski beragam fakta dibeberkan kepada mere-ka. Maklum, media massa yang dibaca, dilihat dan didengar oleh umat Islam me-mang sedikit sekali yang berpihak pada Islam.
Belakangan setelah Ustadz Abu divo-nis 15 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan berkurang menjadi 9 tahun penjara dalam penga-dilan banding, rekayasa (makar) atas kasus beliau terkuak juga. Adalah M. Luthfie Hakim, pengacara senior sekali-gus pembela Ustadz Abu yang men-dengar informasi itu. Bersumber dari 'dalam'. “Perkara Ustadz Abu memang direkayasa demi memenuhi tuntutan AS, bila pemerintahan SBY ingin Obama datang ke Indonesia”, kata Luthfie.
Tahun lalu, kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia memang beberapa kali tertunda. Hingga akhirnya pada bulan November 2010, Obama benar-benar 'mampir' untuk berwisata kuliner, makan bakso dan sate di Jakarta. Obama baru datang, setelah Densus 88 mempersembahkan kado istimewa beru-pa penangkapan secara tidak manusiawi Ustadz Abu di depan Mapolres Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat  dua bulan sebelum kedatangannya.
Makar itu rupanya kini berulang. Menjelang kedatangan Obama untuk kedua kalinya pada November 2011 ini, Densus 88 kembali memutar 'drama' penangkapan teroris. Pada Sabtu (12/11/2011), Kadiv Humas Mabes Polri Irjen (Pol) Saud Usman Nasution, menga-barkan bahwa Densus 88 telah menang-kap tiga orang yang diduga sebagai teroris di Tangerang, Banten. Ketiga orang itu, DAP (34 tahun), BH (35 tahun) dan A (32 tahun) termasuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dituduh po-lisi sebagai bagian dari kelompok Abu Omar di Indonesia. Lagi-lagi, penangka-pan teroris adalah kado istimewa untuk Tuan Obama.

Makar Keji
Stigmatisasi terorisme kepada Islam dan umat Islam adalah bentuk makar yang keji. Mengidentikkan aktivitas jihad sebagai tindakan terorisme juga merupa-kan tipu muslihat yang terang-terangan. Sementara membunuh umat Islam seca-ra membabi buta dan tidak manusiawi atas nama pemberantasan terorisme telah menunjukkan kebencian yang nyata terhadap umat Islam.
Selain pembunuhan secara fisik, ak-tivitas makar terhadap Islam juga gencar dilakukan dengan cara yang mereka se-but sebagai deradikalisasi. Motor peng-geraknya adalah Badan Nasional Penang-gulangan Terorisme (BNPT) yang dikepa-lai Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai. Sebe-lum menjadi badan, lembaga ini berben-tuk desk anti terorisme di Kemenpolhu-kam.
Ansyaad Mbai dengan lantangnya se-lalu mengatakan bahwa tujuan terorisme aktual adalah Khilafah Islamiyah dan Syariat Islam. Padahal urusan definisi terorismenya sendiri, ia mengatakan, “no global consensus”. Tetapi, tanpa merasa salah kemanapun ia pergi dan dimana-pun ia bicara selalu materi itu yang disampaikan. Tak berlebihan jika ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab menuding bahwa target utama proyek deradikali-sasi BNPT adalah umat Islam. “Proyek ini 'sama percis' seperti program yang dibuat oleh Rand Corporation”, kata Habib Rizieq.

Balasan bagi Pembuat Makar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indone-sia (KBBI) kata makar memiliki beberapa makna. Makar dapat diartikan sebagai akal busuk atau tipu muslihat. Makar juga dimaknai sebagai perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan yang terakhir, makar bisa pula diartikan sebagai per-buatan (usaha) menjatuhkan pemerin-tah yang sah.
Al Qur'anul Karim telah membicara-kan persoalan makar para musuh Islam ini di dalam surat Al Anfaal ayat 30. Allah Swt berfirman: “dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menang-kap dan memenjarakanmu atau membu-nuhmu, atau mengusirmu. Mereka memi-kirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah Sebaik-baik pem-balas tipu daya.” (QS. Al Anfaal [08]: 30)
Menurut Imam Jalaludin as Suyuthi dalam kitabnya Lubaabun Nuquul fi Asbaabun Nuzuul, ayat ini turun berkai-tan dengan peristiwa konspirasi orang-orang kafir Qurays di Darun Nadwah yang hendak membunuh Rasulullah Saw. Demikian pula yang ditulis oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa sebaik apapun makar untuk menghen-tikan perjuangan umat Islam pasti akan kandas. Secanggih apapun cara untuk membungkam umat Islam pasti akan sia-sia. Sebaliknya, azab Allah yang sangat pedih pasti akan menimpa mereka. Karena makar Allah SWT jauh lebih sempurna dari pada makar orang-orang kafir. Ibnu Abbas ketika menafsirkan Wallāhu khairul mākirīn (dan Allah ada-lah sebaik-baik Pembuat makar), beliau mengatakan bahwa Allah adalah Pembi-nasa yang paling hebat.
Pertanyaannya sekarang, apa balasan bagi pembuat makar itu?.
Pertama, Allah SWT dengan segala kekuasaannya dengan sangat mudah dapat menelanjangi dan membongkar kebusukan kelompok-kelompok yang berbuat makar kepada umat Islam.  Dalam sebuah acara di Universitas Paramadina Jakarta awal Mei lalu, Ansyaad Mbai sukses dipermalukan seorang jurnalis muslim gara-gara menyebut Usamah bin Ladin telah dika-firkan ulama Saudi. Ia juga pernah menja-di bahan tertawaan para jurnalis karena 'keseleo' lidah saat menyebut salah satu situs radikal, dengan sebutan: arrah-man.com. Padahal situs itu adalah milik komposer lagu-lagu Bolywood, AR Rahman.
Kisruh di internal BNPT juga diung-kap seorang penulis bernama Adi Nanang dalam laman Kompasiana tang-gal 1 Maret 2011. Nanang mem-posting sebuah tulisan dengan judul 'Kisruh di Badan Nasional Penanggulanan Terroris-me (BNPT)'. Konon, kisruh pertama terjadi di BNPT pada akhir Desember. Ada tiga pejabat BNPT yang sudah dilan-tik dan mengepalai urusan keuangan, umum dan pengadaan ternyata orang-orang tersebut bermasalah. Ketiga peja-bat itu pernah mendapatkan sanksi ka-rena kasus korupsi tiket saat Menkopol-hukam dijabat Laksamana (purn) Widodo AS. Anehnya setelah dihukum Widodo, 3 staf tersebut dapat promosi jabatan di BPNT eselon 2 dan 3. Ka-barnya, Ansyaad sudah diberitahu ten-tang track record mereka tapi tidak pe-duli.
Berkembang juga isu yang menyebut-kan adanya keberatan para agen BNPT soal pemilihan kantor di Jalan Imam Bonjol 53, Menteng, Jakarta Pusat itu. Mereka beralasan tempat itu tidak aman dan berpotensi diserang bom mobil. Ka-renanya lebih baik menyewa kantor di gedung bertingkat yang pengamanannya relatif lebih ketat.
Ditulis pula dalam artikel itu adanya 'keresahan' sejumlah diplomat asing yang negaranya mengucurkan dana ban-tuan untuk BNPT. Apalagi setelah angga-rannya dinaikkan secara fantastis. Seper-ti diberitakan JPNN, Sabtu (17/9/2011) dalam APBN 2012, BNPT mendapatkan alokasi dana hampir setengah triliyun, tepatnya Rp 476. 610.160.701.000.- Uang tiket saja dikorupsi, bagaimana dengaan uang ratusan milyar?.
Kedua, makar itu akan terbongkar wujud palsunya. Adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta yang telah memainkan perannya sebagai penjaga dan pengawal akidah umat Islam. MUI Surakarta telah menerbitkan sebuah buku berjudul 'Kritik Evaluasi & Dekon-truksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia'. Buku putih sete-bal 128 halaman itu menjawab tuntas tudingan BNPT kepada umat Islam melalui proyek 'Halaqah Penanggulang-an Terorisme (HPT)' yang digelar oleh MUI Pusat dan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN) di enam kota; Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Palu dan Medan. Buku itu 'menelanjangi' satu per satu dari empat judul slide yang dipaparkan dalam HPT dengan hujah yang kuat dan cerdas.
“Buku putih ini kita buat untuk melu-ruskan halaqah tersebut. Buku ini ber-sifat ilmiah sehingga selalu ada referen-sinya”, kata Ketua MUI Surakarta, Prof. Dr. dr. H. Zainal Arifin Adnan, Sp.PD, FINASIM.
Tanpa bermaksud membandingkan, terbukti MUI Surakarta lebih berani ke-timbang MUI Pusat yang malah meneken kerjasama dalam proyek deradikalisasi. “Saya kasihan sama Kepala BNPT Ansyaad Mbai, sebab beliau bukan ahli tentang Islam tetapi menilai Islam”, katanya. 
Ketiga, balasan kepada para pembuat makar adalah siksa Allah yang pedih selama di dunia dan adzab Allah di akhirat. Hal ini telah difirmankan Allah Swt dalam Surat Al Buruuj ayat 10. Allah Swtt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan ke-pada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al Buruuj [85]-10).
Orang-orang kafir yang telah menyik-sa umat Islam, yang tidak mau bertaubat, pasti mendapatkan azab yang membakar, baik di dunia maupun di akhirat. Di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam atau sejenis azab sebagai tambahan dari azab jahanam. Sedangkan azab membakar sebagai azab dunia dapat dilihat dari riwayat bahwa kaum kafir Ashabul Ukhdud yang memba-kar orang-orang mukmin ternyata di-sambar oleh api yang mereka buat sen-diri. Api dalam parit yang membakar orang-orang mukmin itu berkobar dan menyambar orang-orang kafir Ashabul Ukhdud yang ada di sekeliling parit yang sedang menyaksikan pembakaran orang-orang mukmin itu. Na'udzubillahi min-dzalik!.
Karena itu, siapapun di antara pejabat dan kaum kafir yang bengis kepada umat Islam dan melakukan penyiksaaan-penyiksaan kepada kaum muslimin yang berjuang untuk tegaknya Islam di bumi ini, maka hendaknya mereka segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar, sebelum datangnya keputusan Allah yang akan membalas segala kebengisan dan kekejian serta penyiksaan yang mereka lakukan. Pasti balasan Allah akan sangat keras, jauh lebih keras dari siksaan yang mereka buat. Wallahu a'lam! (Shodiq Ramadhan)

02.03

Dalam tabel berikut dapat dilihat sejumlah kemiripan maupun perbedaan antara Buddha (Siddharta Gautama) dan Yesus.

14.59
Jika menurut anda blog ini bagus dan bermanfaat serta layak untuk diketahui teman anda,
silahkan isi form dibawah ini untuk memberitahu teman anda.






Nama anda :

E-mail Anda :

Nama teman anda :

E-mail teman anda :

Pesan buat teman anda :






KeAgungan dan Kebesaran Illahi kembali terlihat di di ujung Banda. Tsunami menggulung Aceh, namun di setiap musibah ada suatu keajaiban dan mukjizat Alloh SWT. Salah satunya bangunan-bangunan mesjid yang masih tetap berdiri meski sekitarnya porak-poranda.
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [QS. Al- Fushshilat]
 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget