Latest Post

10.49

al-quran-yang-mulia.jpg (204×136)
أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ * أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ * وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ * وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ *
Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (QS al-QS al-Balad [90]: 7-10).
Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan mengenai kesalahan persangkaan sebagian manusia. Mereka menyangka tidak ada yang berkuasa atas dirinya. Padahal manusia diciptakan dalam keadaan sempit dan berkeluh-kesah. Realitas tersebut jelas menunjukkan kesalahan nyata persangkaan mereka. Ayat-ayat berikutnya masih membeberkan persangkaan yang salah beserta bantahan terhadapnya.
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman: Ayahsabu an lam yarahu ahad (Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihat dirinya?). Pengertian yahsabu dalam ayat ini, sebagaiamana ayat sebelumnya, bermakna yazhunnu (menduga, menyangka).1 Dijelaskan Ibnu Jarir ath-Thabari, pelakunya adalah orang yang mengatakan dalam ayat sebelumnya: Ahlaktu mâl[an] lubad[an] (Aku telah menghabiskan harta yang banyak). Dengan demikian ayat ini memberitakan:Apakah orang yang mengatakan perkataan tersebut menyangka tidak ada seorang pun yang melihat dia ketika menginfakkan hartanya?2 Qatadah menafsirkan ayat ini: Apakah mereka menyangka Allah tidak melihat dia serta tidak menanyakan tentang hartanya dari mana berasal dan untuk apa dibelanjakan.3
Menurut Ibnu Juzyi al-Kalbi, ayat ini bisa mendustakan perkataan orang yang disebutkan dalam ayat sebelumnya: Ahlaktu mâl[an] lubad[an] (Aku telah menghabiskan harta yang banyak) atau mengisyaratkan bahwa orang tersebut menginfakkan hartanya dengan riya’.4
Sebagaimana ayat sebelumnya, bentuk istifhâm dalam ayat ini juga bermaknainkâri li al-tawbîkh (pengingkaran yang berguna sebagai teguran).5 Artinya, ayat ini menyalahkan dan memberikan teguran kepada orang yang memiliki persangkaan bahwa tidak ada satu pun yang melihat mereka. Pasalnya, Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya, termasuk terhadap mereka (Lihat: QS Ali Imran [3]: 15).
Kemudian dalam ayat selanjutnya dijelaskan tentang berbagai kenikmatan yang dianugerahkan kepada mereka dengan firman-Nya: Alam naj’al lahu ‘aynayni(Bukankah Kami telah memberi dia dua buah mata). Kata al-‘ayn dalam konteks ayat inimenunjuk pada organ tubuh tertentu yang berfungsi sebagai indera penglihatan. Dengan organ tersebutlah manusia bisa melihat dan menyaksikan aneka realitas dan fakta dalam alam semesta.
Ditegaskan ayat ini, bahwa Allahlah yang telah menciptakan dua mata untuk manusia. Dijelaskan Wahbah az-Zuhaili, kalimat istifhâm dalam ayat ini bermakna istifhâm taqrîri (pertanyaan untuk menetapkan), berguna untuk mengingatkan berbagai kenikmatan. Penetapan ini jelas menepis persangkaan salah mereka. Mereka bukan pencipta dua mata tubuh mereka. Mata itu juga tidak menempel dengan sendirinya. Organ sangat penting itu diciptakan Allah SWT.
Tak hanya mata, namun juga: wa lisân[an] wa syafatayn (lidah dan dua buah bibir). Kata al-lisân menunjuk pada satu organ tubuh tertentu yang memiliki khasiat berbicara. Dengan lisan itu manusia bisa mengungkapkan apa yang dalam pikiran dan hati. Lidah juga berfungsi sebagai indera pengecap; bisa merasakan lezatnya aneka makanan dan minuman.6
Adapun kata as-safatayn berasal dari kata asy-syafah (bibir). Kedua bibir tersebut berfungsi untuk membantu manusia dalam berbicara, makan, minum dan meniup;7juga untuk memperindah wajah dan mulutnya.8
Semua itu menunjukkan besarnya kekuasaan Allah SWT atas manusia. Jika Allah SWT berkuasa membuat semua organ tubuh manusia tersebut, maka Dia juga berkuasa atas manusia dan mengetahui semua tindak-tanduk manusia. Ayat tersebut sekaligus mengingatkan manusia tentang besarnya kenikmatan yang telah mereka terima.
Kemudian disebutkan dalam ayat berikutnya: Wa hadaynânhu an-najdayn (dan Kami telah menunjukkan kepada dia dua jalan). Pada asalnya, kata an-najdberarti al-makân al-murtafi’ (tempat yang tinggi). Bentuk jamaknya an-nujûd.Dinamakan an-najd karena jalan tersebut naik atau mendaki setelah ada penurunan. Oleh karena itu, makna an-najdâyn adalah ath-tharîqâni al-‘âliyâni(jalan yang tinggi, mendaki).9 Dipaparkan Fakhruddin ar-Razi, seolah-olah tatkala berbagai petunjuk itu telah terang, maka petunjuk tersebut dijadikan seperti jalan yang mendaki tinggi. Sebab, petunjuk tersebut amat jelas bagi akal sebagaimana layaknya jalan yang mendaki tinggi bagi penglihatan. Ini merupakan penafsiran para mufassir mengenai an-najdyn, yakni dua jalan,sabîla al-khayr wa a-syarr (kebaikan dan keburukan).10
An-Najdayn dalam ayat ini yang berarti ath-tharîqayn (dua jalan) juga dikemukakan banyak mufassir seperti al-Qurthubi, az-Zamakhsyari, Ibnu Katsir, an-Nasafi, al-Baghawi, Ibnu Juzyi, dan lain-lain. Maknanya adalah tharîq al-khayr wa asy-syarr (kebaikan dan keburukan).11 Demikian juga menurut Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Ali, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abu Wail, Abu Shalih, Muhammad bin Kaab dan ‘Atha’ al-Khurasani.12
Dengan demikian pengertian ayat ini, sebagaimana dinyatakan az-Zujjaj, adalah: Bukankah Kami telah menerangkan kepada dia jalan kebaikan dan jalan keburukan, sebagaimana jelasnya dua jalan yang tinggi.13
Menurut al-Qurthubi ayat ini bermakna: Kami menjelaskan dua jalan tersebut kepada dia dengan mengutus para rasul.14
Memahami Nikmat dan Petunjuk Penggunaannya
Di antara perkara penting yang dikandung ayat-ayat ini adalah bantahan telak terhadap persangkaan sebagian manusia, yakni bantahan terhadap persangkaan bahwa tidak ada satu pun yang melihat perbuatan mereka.
Persangkaan tersebut jelas salah besar. Mungkin ketika melakukan suatu perbuatan, manusia bisa menyembunyikannya dari penglihatan orang lain. Akan tetapi, mustahil manusia bisa menghindar dari penglihatan Allah SWT. Di mana pun manusia berada, Allah SWT senantiasa mengawasi perbuatan mereka (Lihat: QS al-Mujadilah [58]: 7).
Ayat-ayat ini juga telah memberikan bantahan atas persangkaan salah mereka dengan argumentasi yang telak dan tak terbantahkan. Bukankah mata yang melekat pada tubuh mereka dan berguna sebagai indera penglihat diciptakan Allah SWT? Jika Allah SWT berkuasa menciptakan mata buat mereka sehingga mereka bisa melihat, bagaimana mungkin Dia tidak berkuasa melihat semua tingkah-polah mereka?
Dengan mata itu pula, seharusnya manusia bisa menyaksikan dengan jelas berbagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT di alam semesta. Alam semesta beserta isinya yang serba teratur, namun lemah dan terbatas jelas membutuhkan al-Khaliq yang menciptakan dan mengaturnya. Semua itu tak mungkin ada dan berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya. Maka dari itu, penglihatan manusia tersebut bisa mengantarkan manusia untuk beriman kepada-Nya. Itulah yang semestinya dilakukan dengan mata mereka.
Ayat-ayat ini juga mengingatkan keberadaan organ tubuh penting lainnya, yakni lidah dan dua bibir. Keduanya juga diciptakan Allah SWT untuk manusia. Dengan kedua organ tersebut manusia bisa mengungkapkan kesan dan kesimpulan dari apa yang dilihat oleh matanya, juga mengungkapkan semua hal yang terpikir dalam akalnya dan terlintas dalam benaknya. Ini merupakan kelebihan yang menjadi ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Meskipun hewan di sekitarnya juga memiliki lidah dan dua bibir, namun organ tersebut tidak bisa digunakan untuk berbicara. Kedua organ tersebut juga berguna sebagai indera pengecap yang dapat merasakan lezatnya aneka makanan dan menjadi pelengkap keindahan tubuh manusia. Sungguh, ini merupakan kenikmatan terkira buat manusia.
Realitas itu seharusnya memudahkan manusia untuk beriman dan bersyukur kepada Allah SWT. Keimanan itu melahirkan ketundukan terhadap semua perintah dan larangan-Nya. Adapun bersyukur atas anugerah kenikmatan-Nya diwujudkan dengan mempergunakannya sesuai dengan petunjuk-Nya. Untuk itu, manusia tidak perlu repot dan bingung. Sebab, Allah SWT telah memberikan petunjuk yang terang, jelas dan gamblang. Dalam ayat ini ditegaskan: Wa hadaynâhu al-najdayn (dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan). Pengertian an-najd adalah jalan naik dan mendaki setelah ada penurunan. Dengan demikian, dua jalan tersebut amat terang dan jelas sehingga memudahkan manusia dalam dalam memilih yang dia kehendaki.
Sebagaimana telah dipaparkan, dua jalan yang dimaksud adalah jalan kebaikan dan jalan keburukan; jalan yang mengantarkan pada kebahagiaan dan kesengsaraan; jalan al-fujûr dan al-taqwâ,seperti disebutkan dalam QS al-Syams [91]: 8; juga sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sesungguhnya Kami telah menunjuki dia jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (QS al-Insan [76]: 3).
Tatkala manusia dikaruniai mata untuk melihat, disertakan pula petunjuk penggunaannya. Apabila digunakan di jalan takwa, seperti belajar, membaca al-Quran, menuntunnya untuk melakukan jihad dan amal shalih lainnya, maka mata tersebut dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Sebaliknya, apabila mata itu digunakan di jalan kemaksiatan, seperti melihat perkara yang diharamkan, maka itu bisa mendatangkan dosa bagi pemiliknya. Abu Raihanah ra. Menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
حُرِّمَتِ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ دَمَعَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّه�$90 وحُرِّمَتِ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ سَهِرَتْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ،. قَالَ: وَنَسِيْتُ الثَّالِثَةَ. قَالَ أَبُو شُرَيْحٍ سَمِعْتُ بَعْدُ أَنَّهُ قَالَ: حُرِّمَتِ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ ، أَوْ عَيْنٍ فُقِئَتْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
“Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah.” Abu Raihanah berkata, “Aku lupa yang ketiganya.” Abu Syuraih berkata, “Saya mendengar setelah itu beliau bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah atau mata yang tercukil di jalan Allah.”’ (HR Ahmad al-Hakim).
Demikian pula dengan lidah dan dua bibir. Kedua organ tubuh tersebut juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaannya. Apabila digunakan di jalan ketakwaan seperti berzikir, membaca al-Quran, berdakwah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, amar makruf nahi munkar dan perkataan baik lainnya, maka itu dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Demikian pula dengan perkataan yang benar (kalimah haqq) yang disampaikan kepada penguasa zalim. Nabi saw menyebut itu sebagai afdhal al-jihâd (jihad yang paling utama) dan pelakunya yang terbunuh sebagai sayyid al-syuhadâ‘ (penghulu para syahid).
Namun sebaliknya, organ tersebut juga dapat menggelincirkan pelakunya ke dalam neraka apabila digunakan di jalan kemaksiatan, seperti berdoa kepada selain Allah, berdusta, bersaksi palsu, ghibah, memecah-belah umat Islam, dan merusak kehormatan seorang Muslim; juga ketika digunakan untuk mempropagandakan ide-ide kufur seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, demokrasi, pluralisme, dan lain-lain. Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Sesungguhnya ada seorang hamba yang benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Sesungguhnya ada seorang hamba yang benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahanam (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan pikirannya, tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu.15
Oleh karena itu, manusia harus berhati-hati dalam menggunakan lidah. Rasulullah saw. pernah ditanya oleh Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi, “Wahai Rasulullah, apakah yang paling Anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda, “Ini.” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Tak hanya menurunkan petunjuk bagi mata, lidah dan bibir manusia. Allah SWT telah memberikan petunjuk lengkap bagi manusia dalam menempuh kehidupannya. Dengan bekal petunjuk yang jelas, semestinya manusia tidak akan salah dalam memilih jalan hidupnya.
Semoga kita diberi kemudahan untuk memilih dan menempuh jalan ketakwaan, jalan yang mengantarkan pada surga dan ridha-Nya. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Catatan kaki:
1 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 20 (Kairo: Dar al-Mishriyyah, 1964), 64; ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar Ihyâ‘ at-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 167.
2 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24 (tt: Muassah ar-Risalah, 2000), 436.
3 Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 167; al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya‘ at-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 255.
4 Ibnu Juzyi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Arqam, 1996), 484.
5 Az-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 30 (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), 243.
6 Lihat: QS al-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâ’iq at-Ta’wîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kalam ath-Thayyib, 1998), 644.
7 Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 775.
8 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 393.
9 Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 540.
10 Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 167.
11 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 65; Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4, 775; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 393; an-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâ’iq at-Ta’wîl, vol.3, 644; al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 256; Ibnu Juzyi, at-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2, 484.
12 Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 167; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 393.
13 Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 540.
14 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 65.
15 Ibnu Hajar al-Asqalani, Fat-h al-Barri,

10.46

Keterangan: pelaku menandatangani surat pernyataan dihadapan aparat

Layaknya acara jalan-jalan atau tamasya harusnya menjadi moment yang membahagiakan.Panorama alam dan suasana baru yang belum pernah di lihat atau dinikmati menjadi bayangan indah yang terpancar dari rona peserta wisata. Namun tragis acara wisata tersebut. Setidaknya itulah yang dialami 29 orang warga Desa Sukamulya, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut.

Ahad (06/05/2012) mereka awalnya diajak berwisata ke alam terbuka dengan keindahan pegunungan yang berhawa sejuk di kawasan Bandung Selatan, ternyata oleh pimpinan rombongan malah dibawa ke sebuah gereja di daerah Pangalengan Kabupaten Bandung.
29 warga yang masih lugu tersebut seolah tidak sadar dan hanya terpana tatkala dibawa masuk dan melihat orang-orang yang tengah mendengarkan khotbah.

Acara dilanjutkan dengan bernyanyi dan berdoa. Walaupun tidak langsung dibaptis dan hanya sekedar mengiktui kegiatan ibadat mereka, apa yang mereka rasakan itu, upaya pemurtadan. Setidaknya itulah pengakuan para saksi korban yang berhasil dihimpun hidayatullah.com

Seperti diketahui, Rabu (16/05/2012) Opa alias Danu, Caca dan Didin yang menjadi pimpinan wisata tersebut diintrograsi di hadapan aparat Desa Sukamulya,Kec.Talegong,Kab.Garut yang terdiri dari Kepala Desa,MUI Desa,Tokoh Masyarakat juga ormas Islam.
Ketiganya mengaku mengajak warga di daerah tersebut untuk ikut kegiatan wisata sesat tersebut.Dari mulutnya juga terungkap masing-masing orang dijanjikan uang pengganti ongkos asalkan mereka ikut pada kegiatan itu.

"Rata-rata per orang mendapat tiga puluh lima ribu rupiah, diberi makan, tas sekolah dan juga ada yang mendapat susu bagi bayi. Saya sendiri mendapat uang sebesar Rp.1,8 juta dari Pak Roni yang berasal dari Jakarta," aku Danu di hadapan puluhan anggota ormas Islam yang terdiri dari Gardah, Gempa, Gapas, Laskar Umat Islam, Front Ummat Islam, Laskar Sabilillah dan AK-12.

Sementara itu d itempat yang sama, Ketua Pagar Aqidah (Gardah) Suryana Nurfatwa menjelaskan bahwa umat Islam terpaksa melakukan hal itu agar ketiganya merasa jera dan tidak melakukan kegiatan pemurtadan lagi.
“Apa yang dilakuakan umat Islam ini merupakan bentuk perang kepada kegiatan pemurtadan.Pelaku harus bertanggung jawab,” imbuh Suryana dengan nada tinggi.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Gerakan Muslim Anti Pemurtadan (Gempa), Ujang Mujadid, bahwa kejadian ini merupakan bukti bila misionaris terus bekerja melakukan Kristenisasi di Indonesia. Pihaknya juga tidak akan tinggal diam.

“Siapa saja (orang atau lembaga) yang melakukan pemuratadan akan berhadapan dengan kami.Ini tidak boleh dibiarkan dan ditolelir," tegasnya.
Sementara itu aparat Desa Sukamulya yang diwakili Ketua MUI Desa Sukamulya, Amas Al Uyan, mengajak umat Islam untuk terus mengawal kasus tersebut  agar segera dituntaskan dan menyeret pelakunya melalui jalur hukum. Dirinya berharap pihak-pihak yang terkait kasus pemurtadan harus mendapat tindakan tegas agar mereka tidak mengulangi perbuatannya dan ada efek jera bagi pelaku maupun calon pelaku.

Dalam kesempatan tersebut juga terungkap ketiga pelaku saat diperiksa KTP-nya ternyata  masih tertulis Islam padahal yang bersangkutan mengaku telah murtad sejak tahun 2007. Bahkan dari narasumber yang tidak bersedia sebut namanya,mengatakan yang bersangkutan beberapa minggu ke belakang saat membuat KTP Elektronik, ketika sempat ditanya sampai 3 kali soal agamanya.Namun yang bersangkutan justeru menyatakan agamanya masih Islam padahal keyakinan dan aktivitasnya telah berubah.
Pada pertemuan yang berlangsung di kantor Desa Sukamulya selama lebih dari 4 jam itu akhirnya diputuskan. Danu, Caca dan Didin menyatakan akan meninggalkan daerah Garut tertanggal surat pernyataan yang mereka buat. Mereka juga berjanji tidak akan melakukan kegiatan pemurtadan di manapun mereka berada serta apabila mereka melanggar maka siap dilaporkan ke aparat dan diproses melalui jalur hukum.

"Saya siap mematuhi semuanya," tegas Danu dengan wajah tertunuduk.*

10.45
Garut  Tragis. Sekitar 29 orang warga Desa Sukamulya, Talegong, Kabupaten Garut yang semula diajak piknik ternyata malah dibawa ke sebuah gereja di daerah Pangalengan Kabupaten Bandung (6/5). Sebelumnya, warga yang beragama Islam itu tidak tahu menahu rencana wisata yang akan dituju. Yang pasti mereka terkejut ketika bis yang ditumpanginya terhenti di halaman gereja. Demikian kontributor Voa-Islam di Bandung melaporkan.
Seluruh warga pun turun dari bis, lalu dipandu pihak panitia untuk masuk ke dalam gereja. Dan ternyata, di dalam gereja, sudah berkumpul jemaat gereja yang tengah mendengarkan khotbah, bernyanyi dan berdoa menurut ajaran mereka (Kristiani).
Beberapa saksi yang ikut dalam rombongan wisata itu menuturkan, warga tidak langsung dibaptis dan hanya sekedar mengikuti kebaktian. Yang pasti, ada upaya yang sengaja untuk memurtadakan warga Garut. Inilah Kristenisasi berkedok tour wisata. Waspadah!!
Fakta yang berhasil dihimpun Voa-Islam, ternyata biang keladi dari upaya pemurtadan itu dilakukan oleh tiga orang yang bernama Opa alias Danu, Caca dan Didin. Ketiga orang ini diketahui sudah murtad atau keluar dari Islam sebelumnya. Kemudian, Opa, Caca dan Didin mengajak warga di daerah tersebut untuk ikut kegiatan tur, dan masing-masing orang yang ikut telah dijanjikan uang pengganti ongkos, asalkan mereka ikut pada kegiatan tersebut.
"Rata-rata per orang dapat Rp. 35.000. Selain diberi uang transport, peserta diberi makan, tas sekolah dan  susu untuk bayi. Saya mendapat uang sebesar 1,8 juta dari Pak Roni yang berasal dari Jakarta," terang Danu saat ditangkap oleh Laskar Islam untuk dibawa ke kantor Desa Sukamulya (16/5).
Laskar Islam yang merupakan gabungan dari ormas Islam di Bandung dan sekitarnya itu meliputi Gardah, Gempa, Gapas, Laskar Umat Islam, Front Ummat Islam, Laskar Sabilillah dan AK-12. Laskar membawa ketiga pelaku penipuan yang membohongi warga itu ke kantor desa, agar jera dan tidak melakukan kegiatan pemurtadan di daerah tersebut.
Pada pertemuan yang berlangsung sekitar 4 jam di kantor Desa itu akhirnya diputuskan. Danu, Caca dan Didin diusir untuk meninggalkan daerah Garut. Ketiga pemuda ini juga didesak membuat surat pernyataan agar tidak lagi melakukan kegiatan pemurtadan di manapun mereka berada. Bila mereka masih melanggar, maka laskar akan membawanya ke jalur hukum. "Saya siap mematuhi semuanya," tegas Danu di hadapan laskar.
Konyolnya lagi, meski ketiga murtadin telah berpindah agama (Kristen), saat diperiksa KTP-nya ternyata masih tertulis beragama Islam. Padahal yang bersangkutan telah murtad sejak tahun 2007. Menurut sumber Voa-Islam yang tidak mau disebutkan namanya, yang bersangkutan ternyata dalam beberapa minggu ke belakang, sempat membuat E-KTP. Ketika ditanya petugas sebanyak tiga kali apa agama anda? Yang bersangkutan menyatakan, agamanya Islam, padahal dia telah berubah agama menjadi Nasrani.
Salah seorang perwakilan dari Gardah, Ustadz Suryana Nurfatwa, mereka seperti menabuh gendering perang dengan melakukan kegiatan pemurtadan berkedok tour wisata. Pihak Gereja yang berada di balik kejadian ini akan dikejar untuk dimintai pertanggungjawabannya.
Pendapat senada dikatakan Ketua Gempa, Ustadz Ujang Mujadin. Ia menegaskan, kejadian ini merupakan bukti, misionaris terus bekerja untuk melakukan Kristenisasi di Indonesia. "Kami tidak akan tinggal diam. Siapa yang melakukan pemurtadan akan berhadapan dengan kami," tegasnya.
Seluruh ormas Islam di Bandung dan sekitarnya akan terus mengawal kasus ini untuk segera dituntaskan dan menyeret pelakunya ke jalur hukum. "Harus ada tindakan tegas agar mereka tak mengulangi perbuatannya," tegas Amas Al Uyan, ketua MUI Desa Sukamulaya kepada Voa-Islam perwakilan Bandung.

Tim  Jurnalis Islam On Line

10.44

Vatikan mengecam sebuah buku yang terbit baru-baru ini karena mengandung informasi dari dokumen internal yang berisi kebobrokan Vatikan. Buku berjudul "His Holiness" itu mengungkapkan perebutan kekuasaan di dalam Tahta Suci, dugaan korupsi dan salah pengelolaan keuangan di kalangan para pejabat Tahta Suci Vatikan.

Vatikan juga mengancam akan mengambil langkah hukum atas "pembocoran" dokumen internal itu, Sabtu (19/5), bersamaan dengan hari peluncuran buku "His Holiness".

Buku yang memuat skandal kriminal Vatikan itu disusun oleh wartawan Italia Gianluigi Nuzzi. Penerbitan buku itu dinilai semakin menambah panas skandal di internal Vatikan. Menurut sekretaris pribadi Paus, mereproduksi surat dan memo rahasia dari dan ke Benediktus merupakan pelanggaran terhadap hak privasi Paus.

Juru bicara Vatikan Federico Lombardi mengatakan bahwa buku itu adalah "buku fitnah". Lombardi menegaskan Tahta Suci akan melakukan langkah hukum terhadap pelaku yang "mencuri" dokumen-dokumen rahasia tersebut, yang menerima serta yang menerbitkannya. Dia juga memperingatkan bahwa Tahta Suci akan melakukan kerjasama internasional dalam upaya "pencarian keadilan".

Sebelumnya Vatikan disibukkan dengan terbongkarnya ribuan skandal seks anak-anak di banyak gereja-gereja Katolik di seluruh dunia, khususnya Eropa. [IK/EM/bsb]

10.42
MAGELANG  - Akhir Mei 2011, tepat jelang sehari keberangkatan tugas dakwah, Roli Noberto mendapat kabar menyengat dari almamaternya. Sarjana Komunikasi Islam alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir, Jakarta, ini dipindahkan tugasnya dari semula ke Cibinong, Jawa Barat, menjadi ke Magelang, Jawa Tengah. Padahal, da’i muda dari Sumatera Barat ini sudah bersosialisasi ke Cibinong. Bahkan ia sudah mendapatkan rumah kontrakan yang bakal ditinggalinya selama setahun di sana.
Roli protes kepada Ustadz Misbahul Anam, dosen STID M Natsir yang juga mengatur penempatan da’i. Namun, STID bergeming. ‘’Kami punya pertimbangan tertentu sampai detik-detik akhir untuk penempatan da’i. Tapi insya Allah, saya punya feeling, antum dan Madeni akan lebih baik di lereng Merapi daripada di Cibinong,’’ ujar Ustadz Misbah mendinginkan Roli.
Oleh Pembina Dewan Da’wah Kyai Kholil Badhawi,  Roli dititipkan kepada keluarga tokoh FKUI (Forum Komunikasi Umat Islam) di Dusun Demo, Kelurahan Kalibening, Kec Dukun. Di sini, Roli Noberto dikenal sebagai Ustadz Abdul Rasyid. Sedangkan Madeni tinggal bersama keluarga Sardi di depan Masjid Al Fatah, tak jauh dari kediaman Roli.
Tepat setahun kemudian, Roli berkirim SMS ke Ustadz Misbah. Bukan cepat-cepat minta ditarik ke Jakarta, dia malah mengajukan permohonan agar tugasnya di Dukun, bisa diperpanjang setahun lagi.
‘’Saya sempat heran, ada apa ini. Ternyata, dia kecantol sama kembang desa lereng Merapi,’’ tutur Ustadz Misbahul Anam, tatkala menyampaikan taushiyah walimatul urusy pernikahan Roli Noberto-Mia Marlinasari di Desa Talun, Dukun, Magelang, Ahad, 27 Mei lalu.
Walimahan pengantin berlangsung semarak. Selain keluarga mempelai, juga hadir para tokoh pendidikan dan agama setempat, termasuk para pengurus komunitas Al Barokah yang menggerakkan da’wah di sana. Juga kawan-kawan dari beberapa ormas Islam seperti FKUI, FPI, Muhammadiyah, dan NU.
Dari keluarga besar Dewan Da’wah, hadir Kyai Kholil Badhawi, Ustadz Misbahul Anam (STID  Natsir), Nurbowo (LAZIS Dewan Da’wah Pusat), Ustadz Fauzan dan Nasrul (Ketua dan Sekretaris Dewan Da’wah Magelang), Ustadz Yuli Fajar (Dewan Da’wah Jawa Tengah), dan Ustadz Madeni (Da’i Dewan Da’wah di Magelang).

Rumah Baca Kristen dengan Poster Salman Rusdhi
Kepada Pembina Dewan Da’wah, seorang tokoh sepuh setempat berbisik-bisik. ‘’Sebelum saya meninggal, tolong kabulkan permintaan terakhir saya kepada Dewan Da’wah. Tolong Ustadz Rasyid dan Madeni biar tinggal di Dukun sini, jangan ditarik ke Jakarta,’’ katanya terpatah-patah.
 ‘’Nggih, baik, insya Allah,’’ jawab Kyai Kholil, yang membuat marem tokoh tersebut.
Lereng Merapi memang membutuhkan lebih banyak lagi da’i. Jika tidak dipenuhi, jangan kaget kalau kelak daerah ini akan menjadi ‘’padang gembala Kristus’’.
Bersama FKUI, Ustadz Roli dan Madeni, merekam pola gerakan deislamisasi di desa-desa di Lereng Merapi Kecamatan Dukun Magelang melalui 8 jurus, yaitu:
  1. Memasuki dan mendampingi warga desa-desa terpencil yang masih belum atau kurang terbina dakwah Islam. Misalnya Desa Bojong, Windusari, Tanen, dan Desa Sumber. Misionaris memiliki Program Tinggal di Desa (Living In), yaitu mendatangkan kader-kader misionaris dari Amerika untuk tinggal beberapa pekan bersama keluarga muslim di lereng Merapi.
  2. Indoktrinasi dan praktik pluralisme. Penduduk dicekoki faham bahwa semua agama benar dan baik, tujuannya sama,  sehingga tidak masalah orang Islam berpindah ke lain agama sesuai kemampuannya. Maka, hal biasa dalam satu keluarga, terdapat anggota yang beragama islam dan non-Islam.
  3. Diakonia. Para misionaris secara terbuka door to door menawarkan kebutuhan pokok masyarakat seperti sembako (sembilan bahan pokok), alat sekolah, dan prasarana pertanian. Beberapa rumah penduduk dibangun atau direnovasi denganbantuan gereja, dengan syarat tertentu yang harus dipenuhi. Agar ‘’legal’’, program ini dilakukan dengan memanfaatkan kekuasaan pengurus RT maupun Kepala Desa. Dengan menguasai sektor-sektor bisnis strategis, misionaris mampu menawarkan dan memberikan pekerjaan bagi anak, remaja, atau pemuda  tamatan SMP dan SMA muslim yang masih menganggur. 
  4. Membuka Sanggar Seni, Lembaga Kursus dan Bimbel, atau Taman Baca gratis. Program ini menyasar anak-anak muslim mulai SD sampai SMA. Misi non-Islam disisipkan  di sela-sela pembelajaran berupa nyanyian-nyanyian kerohanian atau gambar-gambar.
  5.  Menyaru Budaya Muslim.  Para agen Injili tak sungkan mengambil simpati masyarakat dengan belajar fasih mengucapkan salam atau hamdalah, juga mengenakan baju koko, peci, memelihara jenggot,  dan lain-lain. Mereka pun aktif menghadiri acara-acara keagamaan maupun kekeluargaan warga Islam.
  6. Akulturasi budaya. Misionaris memanfaatkan budaya lokal sebagai alat penyebaran agama, misalnya rebana, kuda lumping (jathilan), topeng ireng, wayang kulit, dll.
‘’Jurus-jurus mereka sangat efektif sehingga di beberapa dusun telah terjadi pemurtadan besar-besaran. Bahkan ada satu dusun yang kini umat Islamnya tinggal 2 keluarga yaitu Dusun Tangkil dan Ngargomulyo,’’ ungkap Ustadz Roli.
Ia menambahkan, desa-desa yang paling rawan pemurtadan Desa Sumber, Ngargomulyo, Kalibening, Krinjing, Keningar, dan Wates. (bilal/nb/arrahmah/www.globalmuslim.web.id]

10.32 ,
Tragis nasib pastor satu ini, meyakini ajaran "kitab suci" justru berujung kematian terhadap dirinya. Adalah seorang pastor Pantekosta Mack Wolford berusia 44 tahun asal West Virginia AS, akhirnya harus tewas oleh gigitan fatal dari ular berbisa yang ia miliki dan dipeliharanya selama bertahun-tahun.

Kejadian bermula pada acara layanan gereja yang berlangsung minggu sore pada saat pastor Wolford memperlihatkan seekor ular berbisa jenis rattlesnake ke seorang anggota gereja dan ibunya. Namun ketika ular dibaringkan di tanah, tiba-tiba ular tersebut menyerang Wolford dan menggigit pahanya.

Keluarganya mengharapkan dia bisa segera pulih karena digigit ular yang sepertinya bukan kejadian pertama yang dialami Wolford. Namun kali ini situasinya sangat berbeda, Wolford akhirnya meninggal dunia pada malamnya setelah digigit ular berbisa tersebut.

Surat kabar Washington Post memiliki informasi lebih tentang Wolford dan alasan mengapa dia terus memamerkan ular berbisa dalam pelayanan gerejanya.

Mark Randall "Mack" Wolford dikenal di seluruh Appalachia sebagai pria yang sangat relijius. Dia percaya bahwa isi Injil yang memandatkan orang Kristen untuk menangani ular dalam upaya untuk menguji iman mereka kepada Tuhan - dan jika mereka digigit, mereka harus percaya hanya Tuhan saja yang akan menyembuhkan mereka.

Ternyata Wolford meyakini ayat-ayat di injil Markus 16: 17 -18 yang berbunyi:

Akan ada Tanda-tanda bagi pengikut yang setia/taat diantaranya adalah orang-orang itu akan mengusir roh jahat atas nama-Ku; mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal. Kalau mereka memegang ular atau minum racun, mereka tidak akan mendapat celaka. Kalau mereka meletakkan tangan ke atas orang-orang yang sakit, orang-orang itu akan sembuh."
 
Insiden pastor Wolford ini mengingatkan kejadian puluhan tahun yang lalu, ketika Syaikh Ahmad Deedat menantang seorang pendeta Kristen, jika ia meyakini kebeneran firman Tuhan di injil apakah dia berani meminum racun seperti yang ada di Injil Markus, namun sang pendeta ternyata tidak berani menerima tantangan Syaikh Ahmad Deedat


Sumber Asli Washington Post

Mack Wolford, a flamboyant Pentecostal pastor from West Virginia whose serpent-handling talents were profiled last November in The Washington Post Magazine , hoped the outdoor service he had planned for Sunday at an isolated state park would be a “homecoming like the old days,” full of folks speaking in tongues, handling snakes and having a “great time.” But it was not the sort of homecoming he foresaw.
Instead, Wolford, who turned 44 the previous day, was bitten by a rattlesnake he owned for years. He died late Sunday.





Mark Randall “Mack” Wolford was known all over Appalachia as a daring man of conviction. He believed that the Bible mandates that Christians handle serpents to test their faith in God — and that, if they are bitten, they trust in God alone to heal them.
He and other adherents cited Mark 16:17-18 as the reason for their practice: “And these signs will follow those who believe: in My name they will cast out demons; they will speak with new tongues; they will take up serpents; and if they drink anything deadly, it will by no means hurt them; they will lay their hands on the sick, and they will recover.”
The son of a serpent handler who himself died in 1983 after being bitten, Wolford was trying to keep the practice alive, both in West Virginia, where it is legal, and in neighboring states where it is not. He was the kind of man reporters love: articulate, friendly and appreciative of media attention. Many serpent-handling Pentecostals retreat from journalists, but Wolford didn’t. He’d take them on snake-hunting expeditions.
Last Sunday started as a festive outdoor service on a sunny afternoon at Panther Wildlife Management Area, a state park roughly 80 miles west of Bluefield, W.Va. In the preceding days, Wolford had posted several teasers on his Facebook page asking people to attend.
“I am looking for a great time this Sunday,” he wrote May 22. “It is going to be a homecoming like the old days. Good ’ole raised in the holler or mountain ridge running, Holy Ghost-filled speaking-in-tongues sign believers.”
“Praise the Lord and pass the rattlesnakes, brother” he wrote on May 23. He also invited his extended family, who had largely given up the practice of serpent handling, to come to the park.
“At one time or another, we had handled [snakes], but we had backslid,” his sister, Robin Vanover, said Monday evening. “His birthday was Saturday, and all he wanted to do is get his brothers and sisters in church together.”
And so they were gathered at this evangelistic hootenanny of Christian praise and worship. About 30 minutes into the service, his sister said, Wolford passed a yellow timber rattlesnake to a church member and his mother.
“He laid it on the ground,” she said, “and he sat down next to the snake, and it bit him on the thigh.”
A state forester, who was not authorized to speak on the record, said park officials were unaware of Wolford’s activities. “Had we known he had poisonous animals, we would have never allowed it,” he said.
The festivities came to a halt shortly thereafter, and Wolford was taken back to a relative’s house in Bluefield to recover, as he always had when suffering from previous snake bites. By late afternoon, it was clear that this time was different, and desperate messages began flying about on Facebook, asking for prayer. Wolford got progressively worse. Paramedics transported him to Bluefield Regional Medical Center, where he was pronounced dead. It could not be determined when the paramedics were called.
Wolford was 15 when he saw his father die at age 39 of a rattlesnake bite in almost exactly the same circumstances.




“He lived 101 / 2 hours,” Wolford told The Washington Post last fall. “When he got bit, he said he wanted to die in the church. Three hours after he was bitten, his kidneys shut down. After a while, your heart stops. I hated to see him go, but he died for what he believed in.”
According to people who witnessed Mack Wolford’s death, history repeated itself. He was bitten roughly at 1:30 p.m.; he died about 11 that night.
One of the people present was Lauren Pond, 26, a freelance photographer from the District. She had been photographing serpent handlers in the area for more than a year, including for The Post, and stayed at Wolford’s home in November.
“He helped me to understand the faith instead of just documenting it,” she said Tuesday. “He was one of the most open pastors I’ve ever met. He was a friend and a teacher.”
The family allowed her to stay near Wolford’s side Sunday night, and she’s still recovering from having witnessed the pastor’s agonizing death. “I didn’t see the bite,” she said. “I saw the aftermath.”
In an interview with The Post for last year’s story, Jim Murphy, curator of the Reptile Discovery Center at the National Zoo, described what happens when a rattlesnake bites.
The pain is “excruciating,” he said. “The venom attacks the nervous system. It’s vicious and gruesome when it hits.”
But Wolford refused to fear the creatures. He slung poisonous snakes around his neck, danced with them, even laid down on or near them. He displayed spots on his right hand where copperheads had sunk their fangs. His home in Bluefield had a spare bedroom filled with at least eight venomous snakes: usually rattlers, water moccasins and copperheads that he fed rats and mice. He was passionate about wanting to help churches in nearby states — including North Carolina and Tennessee, where the practice is illegal — start up their own serpent-handling services.
“I promised the Lord I’d do everything in my power to keep the faith going,” he said in October. “I spend a lot of time going a lot of places that handle serpents to keep them
motivated. I’m trying to get anybody I can get involved.”
His funeral will be held Saturday at his church, House of the Lord Jesus, in Matoaka, just north of Bluefield.
Julia Duin, a contributing writer for The Washington Post Magazine, wrote the original article about Mack Wolford.
 http://www.washingtonpost.com/lifestyle/style/serpent-handling-pastor-profiled-earlier-in-washington-post-dies-from-rattlesnake-bite/2012/05/29/gJQAJef5zU_story_1.html

http://www.theblaze.com/stories/snake-handling-pastor-dies-after-fatal-bite/



10.14
Berdasarkan laporan dari analis 'Injil kontroversial' - Al-Kitab kuno berusia 1.500 tahun bertinta emas yang ditemukan di Turki - menyatakan bahwa Yesus (Nabi Isa 'alaihi salam) adalah fana, tidak pernah disalibkan, hal tersebut dianggap menantang prinsip-prinsip inti agama Kristen.


Beberapa analis mengklaim bahwa itu adalah Injil Barnabas, yang diyakini sebagai tambahan pada Injil Markus, Mattius, Lukas dan John, yang telah membuat perhatian besar masyarakat dunia pada awal tahun ini karena menyatakan bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan Nabi Muhammadshalallahu 'alaihi wa sallam.

Pada bulan Februari 2012, Vatikan secara resmi meminta izin untuk melihat Kitab yang berbahasa Aram tersebut, yang teksnya bertinta emas yang dituliskan pada kulit hewan dan bersampul kulit hewan, yang ditemukan oleh Turki selama operasi polisi anti-penyelundupan pada tahun 2000.

Pekan ini, terjemahan Injil tersebut yang dikutip dari dokumentasi media - aslinya ditulis dalam bahasa Syiriac, dengan dialek Aram dilaporkan menyatakan bahwa Yesus mengatakan: "Aku mengakui di hadapan Surga, dan diseru untuk menyaksikan segala sesuatu yang tinggal di bumi, bahwa aku seorang yang asing bagi semua, bahwa manusia telah berkata tentang aku, bahwa aku lebih dari sekedar manusia."

"Karena aku seorang manusia, yang lahir dari seorang wanita, tunduk pada penghakiman Allah; yang hidup disini seperti manusia lainnya, tunduk pada penderitaan-penderitaan biasa," dikutip the Y-Jesus, majalah online yang berbasis di AS.

Ayat dalam injil tersebut menyangkal bahwa Yesus ada Tuhan dan konsep Trinitas, dimana doktrin Kristen mendefinisikan bahwa Allah sebagai tiga Tuhan: Bapak, Anak (Yesus Kristus), dan Rohul Kudus.

Selain itu, Injil tersebut juga menyatakan "keberadaan Yudas Iskariot sebagai orang yang mati disalib bukan Yesus, sedangkan dalam Perjanjian Baru, Yudas menkhianati Yesus," lapor Y-Jesus.

Pernyataan-pernyataan itu membantah ajaran Kristen, yang selama ini dibangun dengan doktrin kematian Yesus sebagai penebus dosa manusia dan kebangkitannya sebagai harapan kehidupan abadi.

Pernyataan itu mendukung ajaran Islam, bahwa Yesus (Isa Al-Masih) adalah seorang manusia yang menjadi Nabi dan Rasul Allah, bukan Tuhan, kemudian diangkat ke langit oleh Allah, bukan mati disalib.

Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (5: 75)

"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (4: 157-158)

The Y-Jesus mengatakan "Sejalan dengan keyakinan Islam, Injil itu memperlakukan Yesus sebaga manusia dan bukan Tuhan. Menolak pemikiran Tritunggal Kudus dan Penyaliban, dan mengungkapkan bahwa Yesus memprediksi kedatangan Nabi Muhammad."

Dalam salah satu ayat dari Injil tersebut, Yesus berkata kepada seorang pendeta: “Bagaimana Mesiah disebut? Muhamamad adalah nama yang diberkati”.

"Pada (ayat) lainnya, Yesus membantah menjadi Al-Masih, mengklaim bahwa dia akan menjadi Ismailiyah, istilah yang digunakan untuk orang Arab," tambah laporan Y-Jesus.

Injil kuno berbahasa Aram tersebut menimbulkan banyak kontroversi tentang keaslian keseluruhan isi Injil. Belum ada yang dapat memastikan keaslian keseluruhan dari isi Injil tersebut, apakah seluruhnya memuat apa yang diajarkan Nabi Isa 'alaihi salam, atau telah ada perubahan padanya. Namun beberapa pernyataan dari Injil itu yang diungkapkan, telah membantah prinsip-prinsip dasar Kristiani.

Sementara pendeta protestan İhsan Özbek membantah bahwa Injil itu ditulis oleh St. Barnabas. "Salinan di Ankara mungkin telah ditulis oleh salah satu pengikut St Barnabas," katanya kepada koran Turki Today Zaman sebelumnya pada tahun 2012.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget