Latest Post

13.22

Mathew Miller Masuk Islam
Proses untuk menjadi seorang muslim sangat singkat, seseorang yang ingin masuk Islam hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, berikrar bahwa “Tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Tapi buat Mathew Miller, 30, kalimat itu merupakan titik kulminasi dari tranformasi kehidupan religiusnya, dari seorang Kristiani menjadi seorang muslim.
Ia menimba ilmu di Middle Tennessee University, jurusan komunikasi media digital, dan bekerja paruh waktu di sebuah kursus golf. Sejak kecil ia dibesarkan dengan ajaran Kristen, hobi berselancar dan bercita-cita ingin menjadi seorang DJ radio.
Pada CNN, Mathew menceritakan bagaimana ia akhirnya memilih menjadi seorang muslim.
“Interaksi pertama saya dengan Islam adalah saat menyaksikan film berjudul ‘Not Without my Daughter’. Itulah pandangan sekilas saya yang pertama terhadap apa yang oleh masyarakat Barat diyakini sebagai yang sesungguhnya terjadi dalam Islam,” ujar Miller.
Film yang disebut Miller adalah film produksi tahun 1991, menceritakan seorang perempuan Amerika yang melarikan diri dari negara Iran bersama anak perempuannya. Film itu berdasarkan kisah nyata yang ditulis dalam buku dengan judul yang sama. Buku tersebut menuai kritik karena dianggap bias memandang orang-orang Iran dan Islam.
Miller mengungkapkan, ketertarikannya pada Islam sempat terusik setelah terlibat percakapan dengan seorang temannya yang muslim. “Saya merasa sangat takut, tapi tidak apa yang saya takutkan,” kata Miller.
Ia lalu sering menghadiri salat Jumat di sebuah masjid di Murfreesboro, dan di masjid itulah ia mulai belajar Islam lebih dalam. “Ketika saya bersujud dengan mereka, saya merasa bahwa saya bisa mengatakan apapun pada Tuhan, dan apa yang saya minta saat itu adalah petunjuk. Saya ingin tahu, apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar,” tutur Miller.
Ketika masuk Islam, Miller hampir tak menemui kendala dengan keluarganya. “Saya bilang ke ibu saya bahwa saya sudah masuk Islam di Disneyland. Ia menjawab, ‘saya tidak perlu tahu jika saya merasa senang dengan hal itu. Tapi jika itu membuatmu bahagia dan engkau merasa itu adalah jalan yang benar, tidak ada yang bisa aku lakukan,’” ujar Miller menirukan ucapan ibunya.
Sekarang, Miller secara rutin menunaikan salat di masjid Islamic Center Murfreesboro. Sebagai warga Murfreesboro yang sudah menetap di kota itu sejak usia 15 tahun, kemudian menjadi seorang muslim, Miller sudah sering mendengar komentar negatif tentang agama Islam yang dipeluknya dan kontroversi seputar masjid di kotanya.
Ia pernah mendengar sendiri seorang veteran perang Irak mengatakan bahwa Islamic Center seharusnya tidak dibangun di Murfreesboro, karena bisa berpotensi menjadi “sarang teroris”.
“Saya menanggapi pertanyaan-pertanyaannya dengan formal, dan lucunya, di akhir percakapan, lelaki itu mengakui bahwa ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang agama Islam,” tukas Miller.
CNN akan menyiarkan tentang komunitas Muslim di Murfreesboro dalam acara “Unwelcome: The Muslim Next Door”, yang dipandu oleh Soledad O’Brien. Acara itu akan ditayangkan pada 2 April mendatang, yang akan mengangkat tentang rentetan perlawanan yang dramatis terhadap pembangunan masjid di Murfreesboro.

13.20
Idris Tawfiq Muslim
Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya.
Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.
Berikut pengakuan Idris tentang keputusannya memilih Islam:
Apa yang membuat Anda tertarik pada Islam?
Perkenalan saya dengan Islam datang dari seorang anak kecil di jalanan di Kairo, membersihkan sepatu dengan sandal jepit di kakinya. Dia melihat kulit putih saya dan menyapa saya dengan assalamu alaikum. Selama 40 tahun di Inggris, saya pernah melihat Muslim; saya melihat mereka di jalan-jalan, dan saya catat apa yang televisi katakan pada saya tentang Muslim yang akan memotong tangan saya atau memukuli para wanita; tapi anak kecil itu sungguh membuka jendela yang lain tentang Islam.
Setelah saya menjadi Muslim beberapa tahun kemudian, saya katakan pada audiens saya di Manchester Metropolitan University tentang anak itu. Saya memberitahu mereka bahwa pada Hari Penghakiman ia akan mendapatkan kejutan dalam hidupnya.
Apa yang Anda tangkap tentang Islam setelah itu?
Dia sangat membekas di hati saya. Apa yang saya sukai tentang Islam adalah kesederhanaannya. Sayangnya, umat Islam memperumit agama mereka, baik untuk diri mereka sendiri dan ketika menjelaskan kepada non-Muslim. Padahal, Islam dapat diringkas dalam dua pernyataan sederhana: satu, ada Allah, dan dua, bahwa Allah berbicara kepada ciptaan-Nya. Itu adalah Islam. Itulah pesan Islam yang ada sejak awal waktu.
Kesederhanaan Islam memastikan daya tarik universal. Islam berbicara kepada hati semua orang, di mana-mana. Tapi sebagai Muslim, kadang kita berkonsentrasi pada hal-hal sepele, hal-hal yang tidak penting ketika dunia pada umumnya adalah haus akan Allah. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang haus untuk Allah, dan kekosongan dalam hidup mereka diisi oleh mabuk, kekerasan, premanisme, sepatu, belanja, dan segala hal.
(Dia melihat reaksi terhadap kematian Putri Diana sebagai indikasi kerinduan ini. “Ketika Putri Diana meninggal, orang menangis di jalanan. Aku bisa melihat sekarang bahwa orang-orang tidak berkabung atas kematian putri. Mereka berkabung atas kematian kebaikan, hilangnya keindahan dalam hidup kita, dan mereka menangis. Karena orang menginginkan kebaikan, mereka mencari kebaikan, dan untuk perdamaian kebahagiaan, dan dan keindahan)
Perenungan apa yang Anda dapat setelah pertemuan itu?
Ketika saya kembali ke Inggris, saya mulai mengenal Islam dan Muslim. Saya mulai mengajar di sebuah sekolah di mana ada banyak Muslim anak-anak, dan saya datang untuk melihat secara langsung bahwa mereka tidak seperti yang diberitakan media massa. Islam tiba-tiba merasuk dalam hidup saya. Di sekolah, ketika saya akan mengajar tentang Nabi Muhammad, saya menemukan air mata di mata saya atau benjolan di tenggorokan saya ketika saya berbicara tentang rukun Islam.
Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun. ”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).” (Al-Maidah ayat 83).
Dari sini, Tawfiq mengaku makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.
Ia menjadi rajin berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ”Apa yang kamu lakukan saat menjadi Muslim?”
Yusuf Islam menjawab. ”Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,” ujar Yusuf.
Tawfiq berkata, ”Semua itu sudah pernah saya lakukan.” Yusuf berkata, ”Lalu apa yang Anda tunggu?”
Saya katakan, ”Saya masih seorang pemeluk Kristiani.”
Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat. Beberapa menit setelah itu, ia resmi menjadi penganut Islam.
Di berbagai kesempatan, Anda selalu bicara tentang Islam sebagai agama yang toleran dan pentingnya toleransi. Mengapa?
Ini bukan tentang menyerah atau apapun. Kejujuran adalah penting. Saya telah bertemu dengan beberapa tokoh agama yang sangat penting dari seluruh dunia dan kadang-kadang Anda perlu untuk mengatakan kepada mereka sejak awal, “Meskipun saya sepenuhnya Muslim dan Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabi-Nya, saya masih menghormati agama Anda.”
Penghormatan terhadap agama lain dan kepercayaan mereka secara fundamental adalah penting. Orang akan mendengar Anda jika Anda menghormati mereka. Jika Anda keras kepada orang-orang, mereka menjadi defensif dan tidak ingin mendengar apa yang Anda katakan.

13.18

Dr. Jerald F. Dirks
 “Kenangan di awal masa kecil saya adalah mendengar suara lonceng gereja sebagai panggilan misa pada hari Minggu pagi, di sebuah kota kecil dan terpencil tempat saya dibesarkan. Gereja Methodis itu sudah tua, bangunannya terbuat dari kayu, dilengkapi dengan menara yang diatasnya terdapat lonceng gereja. Jaraknya cuma dua blok dari rumah saya. Ketika lonceng gereja berbunyi, kami sekeluarga berangkat ke gereja untuk mengikuti misa setiap hari Minggu pagi,” Dr Jerald F. Dirks mengenang kembali masa kecilnya, mengawali kisahnya sebelum menjadi seorang muslim.
Di tahun 1950-an. gereja menjadi pusat kehidupan warga di kota-kota terpencil. Sejak kecil sampai kelas delapan, Dirks rutin mengikuti sekolah Alkitab yang diselenggarakan setiap bulan Juni, selama dua minggu. Ia juga tetap rajin datang ke gereja untuk mengikuti misa setiap Minggu pagi, dilanjutkan dengan sekolah Minggu. Dirks kecil mengumpulkan banyak pin sebagai tanda kerajinannya hadir setiap minggu dan mendapat sejumlah penghargaan karena mampu menghapal isi Alkitab.
Ketika Dirks duduk di bangku SMP, gereja Menthodis di kota tempatnya tinggal ditutup, sehingga ia dan keluarganya pindah ke gereja Methodis di kota lain yang terdekat. Gereja itu lebih besar sedikit dibandingkan gereja di kotanya. Pada masa itulah, Dirks mulai merasa terpanggil untuk menjadi pastor dan mulai memusatkan perhatiannya untuk mengabdi pada gereja.
Dirks yang mulai berangkat remaja aktif dalam organisasi Methodist Youth Fellowship, yang mengantarnya menjadi salah satu pengurus konferensi dan ketua distrik. “Saya juga menjadi ‘penceramah’ tetap dalam acara tahunan Youth Sunday,” kata Dirks.
Aktivitas khutbahnya mulai menarik perhatian masyarakat luas. Dirks memberikan khutbahnya di berbagai tempat, selain di gereja. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa di Harvard College. Tekadnya menjadi pastor sudah bulat. Oleh sebab itu, ia juga mendaftarkan diri ke kursus perbandingan agama yang berlangsung selama dua semester. Pengajar kursus itu adalah Wilfred Cantwell Smith, yang memiliki spesifikasi sebagai pakar Islam.
“Selama kursus, saya tidak terlalu perhatian pada Islam dibandingkan perhatian saya pada agama lain, seperti Hindu dan Budha. Kedua agama yang saya sebut terakhir terlihat lebih mempengaruhi batin dan masih asing buat saya,” tutur Dirks.
“Sebaliknya, Islam terlihat mirip dengan agama Kristen yang saya anut. Karenanya, saya tidak terlalu konsentrasi penuh pada Islam. Tapi, saya masih ingat tugas karya tulis tentang konsep wahyu dalam Al-Quran. Untuk memenuhi tuntutan dan standar kursus yang ketat, saya berhasil menemukan sebuah perpustakaan dimana terdapat sekitar 12 buku tentang Islam, yang semuanya ditulis oleh penulis non-Muslim. Saya juga menemukan dua terjemahan berbeda dalam bahasa Inggris tentang arti Al-Quran,” sambung Dirks.
Di Harvard ia dijuluki “Hollis Scholar” karena Dirks menjadi salah satu calon mahasiswa teologi yang selalu diperhitungkan di akademinya. Ia lalu menjadi pastor muda di United Methodist Church, dan tak berapa lama kemudian mendapat lisensi sebagai pastor dari gereja tersebut.
Dirks lulus dari Harvard College tahun 1971. Ia lalu mendaftarkan diri ke Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity pada tahun 1974, setelah sebelumnya ditahbiskan masuk dalam jajaran kepastorang United Methodist Churc. Selama menyelesaikan pendidikan seminarinya, Dirks juga menyelesaikan program pendidikan untuk menjadi rohaniwan di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston. Setelah itu, ia bertugas sebagai pastor di dua gereja United Methodist di daerah terpencil di Kansas, selama beberapa tahun.
Menerima Islam
Dr. Jerald F. Dirks muslimDirks mulai berminat pada Islam setelah ia berkenalan dan berinteraksi dengan sejumlah orang Arab Amerika yang kebetulan muslim, untuk keperluan menerjemahkan dokumen-dokumen bahasa Arab, karena pada saat itu Dirks dan istrinya sedang melakukan riset tentang sejarah kuda Arab.
Kontak pertamanya adalah seorang muslim bernama Jamal pada suatu musim panas di tahun 1991. Untuk membantu menerjemahkan dokumen berbahasa Arab, Jamal datang ke rumah Dirks. Sore hari, ketika akan pulang, Jamal meminta izin menggunakan kamar mandi di rumah Dirks untuk berwudu karena sudah tiba waktu salat. Jamal lalu mengambil meminta lembaran koran yang digunakannya sebagai sajadah.
“Tanpa saya sadari, ketika itu Jamal sebenarnya sudah mempraktekkan dakwah. Ia tidak mengomentari fakta bahwa kami non-Muslim, dia tidak ceramah apapun tentang agamanya pada kami. Dia hanya memberi contoh pada kami,” ujar Dirks.
Hampir satu setengah tahun berinteraksi dengan Jamal. Jamal tidak pernah menceritakan apapun tentang Islam atau bertanya tentang agama Dirks. Sebaliknya, Dirks justru mulai belajar dari Jamal, bagaimana ia salat tepat waktu, bagaimana ia berperilaku dalam berbisnis maupun bersosialisasi, dan terutama cara Jamal berinteraksi dengan dua anaknya.
Lewat Jamal, Dirks mulai berkenalan dengan keluarga Arab muslim lainnya. Dirks memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga muslim itu menerapkan etika yang menurut Dirks, lebih tinggi dibandingkan etika yang diterapkan oleh keluarga-keluarga Amerika.
Setelah menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan keluarga muslim, tahun 1992, Dirks mulai menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang serius, dimanakah ia dan apa yang ia lakukan. Desember 1992, Dirks mengakui bahwa ia tidak menemukan pertentangan antara keyakinan religiusnya dengan ajaran Islam. Dirks merasa siap untuk mengakui bahwa Tuhan itu Esa dan mengakui Nabi Muhammad Saw. Ia menyingkirkan buku-buku tentang Islam yang ditulis penulis non-Muslim dan mulai membaca terjemahan Al-Quran. Tapi ia masih ragu-ragu untuk membuat keputusan.
Bulan Maret 1993, Dirks dan istrinya liburan ke Timur Tengah. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia dan istrinya memutuskan untuk mencoba ikut berpuasa. Dirks bahkan ikut salat dengan teman-teman muslim yang baru ia kenal selama menikmati liburan itu.
Akhirnya, sekembalinya dari Timur Tengah, Dirks dan istrinya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi muslim, Dirks memperdalam pengetahuannya tentang Islam antara lain di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Arab Saudi pada tahun 1998. Tahun 1999. Dirks menunaikan ibadah umrah dan haji.
Sekarang, Dirks yang dikenal dengan nama Islam “Abu Yahya” menjadi salah satu cendekiawan muslim yang banyak menulis artikel dan buku tentang keagamaan. Ia juga menjadi memberikan kuliah tentang Islam di beberapa perguruan tinggi di AS, serta aktif dalam organisasi muslim di AS seperti ISNA, ICNA dan MAS.

13.17


Sebelum memeluk Islam, ia bernama Yulio da Costa Freitas. Yulio terlahir dari keluarga yang amat sangat sederhana, 33 tahun silam, tepatnya 5 Januari 1977 di dusun Baruwali, Lautem, Timor-Timur. Awalnya, ia adalah seorang penganut agama Katholik yang terbilang aktif dalam aktivitas kegerejaannya.
Selain taat dengan keyakinannya, ia juga dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan rutinitas gereja, terutama dalam setiap acara misa mingguan. Seiring waktu, keimanannya mulai goyah. Setelah tiga tahun membantu pastor di gereja, Yulio mengaku sering mendengar bisikan di antara teman-temannya yang ragu akan kebenaran agama yang dipeluknya.
Terlebih, sanak saudaranya sudah banyak yang memeluk Islam. Hati Yulio pun semakin gundah. Perlahan-lahan keyakinannya terhadap agama Katholik yang dianutnya mulai meluntur. Ia pun mulai melirik agama Islam. Acara siraman rohani agama Islam yang ditayangkan televisi nasional mulai membetot perhatiannya.
Jalan menuju Islam akhirnya terbuka. Suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, salah satu pamannya yang menjadi dai di Lautem mulai mendekati dan mengajaknya untuk masuk Islam. Yulio pun tertarik dengan ajakan sang paman. Terlebih, dengan masuk Islam, ia memiliki kesempatan untuk bersekolah di pulau Jawa.
Tekadnya untuk memeluk Islam sempat terbentur keluarga. Kedua orangtua dan sebagian keluarganya, menentang niat Yulio untuk pindah agama. Namun, halangan itu tak menyurutkan tekad bulatnya untuk menjadi seorang Muslim. Keseriusannya untuk berpindah akidah akhirnya mendapat restu dari kedua orangtuanya.
Sebelum Yulio mengucapkan dua kalimah syahadat, jumlah pemeluk Islam di kampung halamannya masih bisa dihitung jari. Ia mengaku pernah menyaksikan, perayaan Idul Fitri di kampungnya hanya diikuti tak lebih dari 20 orang. Berjudi, berdansa, meminum sopi (minuman keras), dan memakan daging babi merupakan kebiasaan non-Muslim di kampung halamannya.
Yulio akhirnya hijrah dari tanah kelahiran dan agama yang dulu dianutnya. Ia bersama Ustaz Zakaria berangkat ke kota Dili, ibu kota Timor Leste sekarang. Sebelumnya, mereka sempat singgah di kota Bau Kau. Di kota itulah, Yulio masuk Islam dan mengucap dua kalimah syahadat di depan Ustaz Zakaria.
Peristiwa penting bagi kehidupan Yulio itu terjadi pada 28 Juni 1993, beberapa saat sebelum waktu Maghrib tiba. Sejak itu, ia hanya ingin dipanggil dengan nama Muslim, karena namanya telah berubah dari Yulio da Costa Freitas menjadi Yulio Muslim da Costa.
Setelah menjadi Muslim, ia sempat bertanya kepada sang paman apa yang harus dilakukan di awal keislamannya? Sang paman pun hanya berujar singkat agar Muslim tak terbebani, ‘’Ikuti saja apa pun yang imam lakukan dalam shalat.’’
Sejak saat itu, Muslim selalu mengikuti setiap gerakan yang dilakukan imam, bahkan di saat shalat dan imam selesai dan sang imam berzikir sambil menggerak-gerakkan bibirnya. ‘’Padahal, saat itu saya tak tahu apa yang diikuti itu. Terkadang kalau mengingat kenangan itu, saya selalu menertawakan diri sendiri,’’ tuturnya sembari tersenyum.
Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, hampir dua pekan lamanya ia tinggal di Kota Dilli. Muslim mengaku sempat gelisah karena temen-temennya dari Kabupaten Moro mulai berdatangan. Belum ada satupun yang tahu di antara mereka, kalau dirinya telah pindah keyakinan.
Untuk menutupinya, ia berusaha bersikap biasa terhadap mereka. Bahkan karena ajakan temen-temennya, ia sempat tergoda kembali untuk melakukan judi. Satu hari sebelum keberangkatan ke Pulau Jawa pun, ia masih sempat bermain judi di Pasar Bekora, sampai sedikit bekal dari keluarganya pun habis. Akhirnya Muslim pun berbohong, dan mengaku kecopetan.
Kapal Kalimutu membawanya ke Pulau Jawa. Ia lalu tinggal di salah satu Pondok Pesantren Paciran Lamongan Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu. Di Paciran, Muslim sempat menimba ilmu sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo.
Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab. Hanya dalam hitungan tiga pekan, Muslim sudah menamatkan buku Iqra. Setelah bisa membaca tulisan Arab, sedikit demi sedikit, ia mulai menghafal surat-surat pendek.
Ketekunannya menghafal Alquran berbuah manis. Selama di pesantren itu, ia mampu menghalaf sembilan juz Alquran. Melihat semangat Muslim yang begitu tinggi, KH Umar Budihargo mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan.
Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP dan dia lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah. Ia juga kadang sering berdoa meminta kepada Allah agar tetap istiqamah untuk belajar agama Islam lebih mendalam lagi.
Doanya terkabul. Muslim menjadi salah satu santri yang ditunjuk untuk mengikuti tes seleksi melanjutkan studi ke kota Nabi SAW, yaitu Madinah al-Munawarah. Tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan salah satu syekh penguji dari Madinah. Bermodalkan bahasa Arab sebisanya, Muslim memberanikan diri menceritakan sebagian dari kisah hidupnya.
Sang Syekh sangat tertarik dengan cerita kehidupan dan kemualafannya. Ulama dari Madinah itu meminta Muslim untuk membawa ijazah dan ingin mengujinya langsung. Sembari menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberi amanah kepada Muslim untuk memegang pondok di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogjakarta pada 1997.
Setahun kemudian, pengumuman hasil tes itu keluar. Ia menjadi salah seorang peserta yang terpilih untuk menimba ilmu di kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, ia sempat pulang ke Tanah Air. Ia bermaksud untuk mengajak kedua orangtua dan adik-adiknya untuk memeluk Islam.
Saat itu – pascareferendum — keluarganya sedang mengungsi di Kupang, NTT. Muslim pun bertemu dengan keluarganya, dan ia menyampaikan ajakannya itu. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT. Saat itu, keluarganya belum merespons dakwahnya untuk memeluk Islam.
Ia akhirnya kembali ke Madinah dengan hati yang sedikit kecewa. Meski begitu, Muslim tak pernah berhenti berdoa agar keluarganya segera dibukakan pintu hatinya untuk menerima Islam. Doanya akhirnya dikabulkan. Pada 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta dan pada pertengahan tahu itu pula, kedua orangtua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.
Yulio Muslim da Costa tak pernah berhenti bersyukur. Hidayah Allah SWT yang menuntunnya menjadi seorang Muslim menjadi berkah bagi kehidupannya. Ia mengaku begitu besar nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada dirinya setelah memeluk Islam. Salah satu nikmat yang dirasakannya adalah pemahaman ilmu agama Islam.
Tujuh tahun lamanya Muslim menimba ilmu di kota Rasullullah SAW. Dari 1998 hingga 2005, ia akhirnya menjadi sarjana Syariah. Ilmu itu digunakannya sebagai modal dan bekal dakwah Islam. Bahkan, sampai saat ini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya untuk disekolahkan di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya dan mengajak orang-orang untuk masuk dalam agama Islam.
Setelah menyelesaikan studinya, Muslim memilih untuk berjuang bersama orang-orang Islam di bumi pertiwi, karena orang-orang Islam Indonesia memiliki semangat juang yang tinggi. Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Kasihan, Bantul, DIY.
Lika-liku kehidupannya yang berawal dari nol sampai sekarang telah membuatnya belajar banyak hal. Selama 13 tahun meniti hidup di kota Gudeg, ia selalu dipertemukan Allah SWT dengan kawan-kawan yang berjuang di jalan Allah.
Sampai akhirnya, dengan berniat karena Allah semata, Muslim pun berhijrah dengan mencari suasana baru di kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarga yang selalu mendukung setiap langkah beliau sampai sekarang. Pada 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Studi Bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani Bogor Jawa Barat.
Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat. Saat ini, ia telah dikaruniai tiga orang putera, yaitu Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta dan Saad Muslim Dacosta.

13.09
Huda Dodge – Huda Dodge lahir dan besar di pinggiran kota Bay Area, San Anselmo. Ia tumbuh dan besar dalam keluarga Kristen. Ayahnya seorang Presbiterian dan ibunya penganut Katolik membuat Huda cukup aktif menghadiri layanan gereja saat usianya masih belia.
Ketika 14 tahun, Huda sudah membantu istri pendeta untuk mengajak di sekolah minggu. Pada jenjang sekolah menengah, ia bahkan mendirikan kelompok pemuda gereja dengan merekrut empat temannya. Ini merupakan kelompok Presbistarian pertama yang dibentuk Huda. Selanjutnya, ia menjadi anggota kelompok Prebistarian yang lebih besar.
Bersama kelompoknya itu, ia kerap melakukan perjalanan menuju Meksiko. Disana, Huda bersama teman-temannya itu mempelajari Alkitab, berdiskusi tentang masalah ketuhanan dan mengumpulkan dana untuk amal.
Dalam diskusi tersebut, Huda mengikuti perdebatan serius tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang hidup sebelum Yesus datang. Mereka juga mendiskusikan tentang mengapa Allah yang penuh kasih dan penyayang membutuhkan pengorbanan Yesus untuk mengampuni dosa manusia. Juga, bagaimana bisa satu tuhan terwujud dalam tiga sosok berbeda. “Tetapi tidak ada jawaban yang tepat terkait masalah tersebut,” kenang Huda.
Pertanyaan itu terus terpendam dalam pemikiran Huda. Pertanyaan itu ia bawa saat menghadiri kamp musim panas. Tetap saja, ia belum mendapatkan jawaban yang sesuai dengan logika berpikir.
Kegelisahan pun semakin menjadi, ketik usai kembali dari kamp musim panas, berjuta pertanyaan terendap tanpa ada jawaban yang memuaskan. “Aku suka menghabiskan waktu untuk merenungkan pemikiran tentang Yesus. Nyatanya, ajaran gereja membingungkan ku,” ungkap dia.
Memasuki jenjang pendidikan tinggi, masih belum juga ia menemukan jawaban atas pertanyaannya. Kesibukannya sebagai mahasiswa sempat membuatnya lupa akan pertanyaan itu. Ia pun kian aktif dalam kegiatan sosial dengan mengajar privat siswa yang berasal dari Amerika Tengah. Ia undang mahasiswa dari seluruh dunia, seperti Prancis, Jerman dan Swedia untuk datang ke rumahnya.
Selanjutnya, Huda mengambil pekerjaan sebagai relawan di San Francisco (distrik Tenderloin) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada pengungsi perempuan. Di kelas, Huda bertemu dengan Fatimah dan Maysoon, dua janda muslim berdarah Cina dari Vietnam. Bersama keduanya, komunikasi belum terbangun lantaran kendala bahasa. Bahasa tubuh pun menjadi andalan untuk memperlancar komunikasi di antara mereka. “Dari pengalaman ini, aku terhubung dengan dunia luar,” kata dia.
Selanjutnya, Huda ambil bagian dalam kelompok diskusi yang melibatkan mahasiswa internasional. Dalam kelompok itu, Huda berkenalan dengan dua mahasiswa Jepang, satu orang mahasiswa Italia dan Palestina. Interaksi antar mereka pun terbangun. Masing-masing menceritakan pengalamannya. Disinilah, Huda berkenalan dengan Islam.
Saat mendengarkan Faris, mahasiswa Palestina, bercerita Huda merasa terkejut. Ia mengingatkan Huda dengan muslim yang dahulu ia kenal seperti Fatima dan Maysoon. Dari cerita Faris, Huda merasa ada sesuatu yang asing tetapi menarik untuk disimak. Ia tidak begitu paham tentang Islam, karena ia tidak pernah tahu apa itu Islam. “Aku pun mulai belajar tentang Islam. Semakin aku mendalaminya, aku semakin tertarik untuk lebih mengenal Islam,” kata dia.
Sayangnya kelompok itu dibubarkan. Toh itu menghalangi Huda untuk berhenti mengenal Islam. Ia pun mengambil mata kuliah studi Islam. Saat mengikuti kelas itulah, pertanyaan yang terjawab dalam diri Huda berangsur-angsur terbuka. “Islam tidak mengenal pengorbanan Yesus bagi manusia. Tapi Islam membahas hal itu. Yang menarik lagi, Islam juga bercerita bahwa Yesus itu adalah Nabi, seperti nabi sebelumnya, Yesus mengajarkan pesan yang sama yakni percaya pada satu Tuhan,” kata dia.
Setelah pertanyaan mengenai tiga sosok Tuhan dalam konsep trinitas terjawab, Huda merasakan kebenaran sejati telah menghinggapinya. Perspektif yang ditawarkan Islam mudah diterima olehnya. Hudaa yang dikagetkan dengan kenyataan itu merasa lemas seketika. Ia merasa butuh ruang lebih luas untuk meyakini dirinya atas apa yang benar.
Pada musim panas berikutnya, Huda kembali melanjutkan studi Islam. Ia mencari informasi tentang Islam di perpustakaan. Ia pun mulai berdiskusi tentang agama-agama Timur.
Beruntung, teman-teman Huda memahami apa yang ia cari. Oleh teman-temannya itu, Huda disarankan untuk mengunjungi Islamic Center yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Sayang, Huda tak jua menemukan Islamic Center lantaran kesibukannya. Huda pun terus melakukan pencariannya sendiri.
Suatu saat, Huda berbincang dengan keluarganya tentang Eskimo. Mereka mengatakan bahwa orang Eskimo memiliki lebih dari 200 kata untuk menyebut salju. Sebab, salju merupakan bagian dari hidup mereka. Malam harinya, bersama keluarga, Huda berbicara tentang 99 nama yang disebut umat Islam untuk Allah. Entah mengapa, Huda secara spontan berbicara tentang masalah itu. “Aku pikir itu penting untuk diketahui oleh mereka,” katanya.
Pada akhir musim panas, Huda kembali ke kampus. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari Masjid di Barat Daya Portland. Ia pun meminta pengurus masjid untuk memberikan nama muslimah yang dapat diajak berdiskusi tentang Islam. Setelah diberikan alamat, Huda mengunjungi muslimah itu. Saat bertemu dengannya, Huda bertanya tentang muslim, seperti bagaimana cara muslim beribadah.
Huda sebenarnya sudah mengetahui hal itu. Tetapi ia tidak puas bila tidak melihat secara langsung bagaimana seorang muslim beribadah. Huda pun mulai mempraktekan bagaimana shalat. Tak beberapa lama, muslimah itu meminta Huda untuk menghadiri acara akikah anaknya. Ia menjemput Huda. “Aku merasa begitu nyaman ketika mereka berbicara tentang Islam. Saat itulah aku merasa baru saja akan memulai hidup baru,” ujarnya.
Sayang, interaksi itu tidak bertahan lama. Kesibukannya membuat ia sulit untuk bertemu dengan muslimah itu. Tapi hal itu tidak menghentikan langkah Huda untuk mencari informasi tentang Islam sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, Huda berulang kali mengunjungi masjid. Di masjid, Huda merasakan pengalaman pertamanya melihat shalat Jum’at. Tak berselang lama, Huda pun memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Enam bulan setelah menjadi muslim, Huda akan menjalani ibadah puasa pertama. Saat itu pula ia telah memikirkan kemungkinan untuk mengenakan jilbab. Huda masih merasa ragu. Konsultasi pun dilakukannya guna membuatnya yakin untuk mengenakan jilbab.
“Pada awalnya aku tidak siap untuk mengenakan jilbab. Karena imanku belumlah kuat. Tapi aku merasa ketika melihat muslimah lain mengenakan jilbab ada semacam rasa tenang didalamnya. Tapi kalau aku memakainya, tentu orang-orang disekitarku akan bertanya, aku belum siap untuk menjawab hal itu,” papar dia.
Akhirnya, momentum Ramadhan memperkuat niat Huda untuk mengenakan jilbab. Huda merasakan berpuasa dibulan Ramadhan membuatnya kian bangga menjadi Muslim. “Sejak itu aku merasa siap untuk menjawab pertanyaan siapapun,” ucapnya.
Diterima Keluarga
Setelah memeluk Islam, Huda memberitahukan keputusannya kepada keluarga. Huda terkejut bahwa keluarganya tidak mempermasalahkan itu. Mereka menerimanya karena mengetahui putusan Huda berdasar kemauannya sendiri bukan paksaan dari orang lain. Namun, penilaian keluarga mendadak berubah setelah Huda mengenakan jilbab.
“Mereka merasa malu denganku. Mereka pikir perubahan yang aku alami terlalu radikal,” kata dia.
Sikap keluarganya kembali berubah ketika Huda memutuskan untuk menikah dengan Faris. Ia bertemu kembali dengan Faris saat berada di kampus. Faris pun menikahi Huda. Keluarga Huda tidak setuju dengan keputusan itu. Sebab, usia Huda dinilai masih muda, dan mereka khawatir dengan masa depannya. “Mereka sebenarnya menyukai suami saya. Tetapi mereka hanya takut dengan masa depan ku,” kenang Huda.
Tiga tahun berlalu, Huda pun memutuskan pindah ke Corvallis, Oregon. Di tempat barunya itu, Faris dan Hda menetap dalam lingkungan komunitas muslim. Di tempat barunya itu, Huda berhasil menyelesaikan kuliahnya. Ia pun dengan cepat memperoleh pekerjaan,
“Keluargaku akhirnya sadar, dan bangga padaku. Mereka melihat perubahan yang dilakukan justru membuatku bahagia. Hubungan kami pun kembali normal. Melihat hal ini, aku merasa bersyukur Islam menjawab setiap pertanyaanku.”

13.06
Isa Graham Conver to Islam Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya; kagum. Dan kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.
Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.
“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya pada Republika, di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
-0-0-
Semua berawal dari perenungannya tentang kematian. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham itu masih mengingat jelas dua peristiwa yang membuka matanya tentang kematian, hal yang tak pernah menyibukkannya.
Masa mudanya yang akrab dengan musik membuat Brent dekat dengan pesta. Dan pesta pada malam itu berbeda. “Aku terus mengingatnya hingga sekarang,” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.
Malam itu, sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai seorang pemuda mabuk. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah, dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol. Tak ada pertolongan, tak ada obat-obatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujarnya.
Brent tak dapat membenarkan apa yang baru dilihatnya. Terlebih, ketika ia berharap ada sedikit kepedulian di sana, Brent justru mendapati sebaliknya. “Beberapa orang yang baru datang ke pesta berlalu begitu saja saat melewati mereka yang tergeletak di halaman. Itu menyedihkan,” katanya.
Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah, memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka.” Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”
Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.
Ia semakin teguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu,” Isa menghela nafas. “Hidup begitu singkat.”
Perasaan takut menyergap Brent. Dan remaja 17 tahun itu mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu akan menghampirinya.
Brent memiliki seorang Ibu yang menjadi pengajar Injil, dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil. “Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.
Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.
Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang Trinitas,” katanya.
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisa’: 171)
Brent mencuri Alquran itu dari perpustakaan, dan mulai berinteraksi dengan Alquran. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil, ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”
Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya, dan justru membenarkan Alquran.
Dalam Injil Yohanes 3:16 misalnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org), disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapapun yang mempercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.
Brent menambahkan, baik dalam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.
Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7, dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Isa yang kemudian menguraikan hasil penelitian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B. Wallace, tentang ayat tersebut.
Dari The New Encyclopedia Britannica yang dibacanya, Brent menemukan pula bahwa tidak satupun doktrin dalam Perjanjian Baru, termasuk kata Trinitas ataupun perkataan Yesus sekalipun, bertentangan dengan pengakuan Yahudi tentang ketauhidan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (Injil Ulangan 6:4).
Brent berkesimpulan, bukan Yesus ataupun para pengikutnya yang mengajarkan Trinitas. “Dan mereka yang mengajarkan Trinitas menambahkan keyakinan yang dibuat-buat ke dalam Injil?” ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul di otaknya.
Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)
“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran,” tandas Brent. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)
Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”
Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan, sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”
Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”
Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”
Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.
Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”
Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.
Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.
Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”
“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.
Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.
Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”
Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.
Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.

08.36

Color Code to Easier Your Customization




Just to tell you all that for the flexibleness and easy Blogger Template customization, I actually have revealed very helpful tool which will help you get the hexadecimal color value or RGB value for any color you would like. These tools are advanced integrated versions of color pickers utilized ingraphic software like Photoshop. i'm happier than you'r as a result of currently I don’t have to be compelled to open Photoshop on every occasion for selecting my desired color or eat my brain to find matching colors














07.52
img
Sedekah sampah (dok: Rumah Zakat)

Yogyakarta, Sampah hanya akan mengotori lingkungan kalau hanya dibuang begitu saja, namun bisa sangat berguna asal kreatif memanfaatkannya. Di Yogyakarta, sampah-sampah dikumpulkan untuk sedekah bagi yang membutuhkan lingkungan bersih dan sehat.

Sedekah sampah merupakan terobosan yang dirintis oleh Rumah Zakat cabang Yogyakarta, di salah satu daerah binaan yakni Dusun Kauman, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Meski baru berjalan sejak April 2012, program ini mendapat apresiasi positif dengan masuk nominasi kategori Kesehatan dan Kemandirian Warga dalam event Kabupaten Sehat mewakili Bantul.

"Metode sedekah sampah ini harapannya dapat menjadi solusi penanganan sampah dengan mudah, murah plus ibadah," kata Dwi Endah, SKM, selaku Manajer Program kesehatan Rumah Zakat Yogyakarta dalam rilis yang diterima detikHealth, Senin (11/6/2012).

Dikatakan mudah dan murah karena pelaksanaan program ini sangat sederhana, bisa dilakukan di mana saja. Tidak butuh pencatatan detail, tidak butuh Sumber Daya Manusia (SDM) dengan kompetensi tertentu, membutuhkan sarana dan prasarana yang tidak terlalu rumit.

Lebih detail, Dwi menjelaskan bahwa pelaksanaan program ini dimulai dengan memilah-milah sampah di setiap rumah lalu mengumpulkannya ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPPS) yang telah ditentukan. Setelah terkumpul, sampah-sampah tersebut dijual ke pengepul sampah.

Hasil dari penjualan sampah tersebut akan dimasukkan ke kas RT (Rukun Tetangga), dusun atau UKBM (Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat). Oleh karenanya program ini disebut sedekah sampah, karena hasil 'panen sampah' tidak kembali ke masing-masing keluarga melainkan masuk ke kas bersama.

Karena tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang sehat, maka hasil panen sampah memang diprioritaskan sebagai dana sehat. Selebihnya jika memang ada sisa, dana itu bisa juga dipakai untuk meningkatkan kegiatan ekonomi warga serta untuk keperluan lainnya.

"Dengan memunculkan kesadaran warga untuk mulai memilah sampah dan mengelola hasil panen sampah, tidak hanya lingkungan yang lebih sehat, aspek kemandirian masyarakat lainnya juga mulai ditingkatkan," pungkas Dwi.
(up/ir)

07.25
img
(Foto: Thinkstock)

Jakarta, Kemiskinan, akses gizi yang buruk dan kondisi lingkungan yang tidak bersih sangat mempengaruhi kesehatan anak-anak. Anak-anak miskin pun selalu dibayang-bayangi kesulitan mendapatkan makanan sehingga mudah terserang penyakit. Diantara sekian banyak penyakit yang mengintai anak-anak miskin, dua penyakit yang berada di posisi teratas adalah pneumonia dan diare.

UNICEF pun menyatakan bahwa kedua penyakit ini telah membunuh lebih dari dua juta anak-anak setiap tahunnya dan menyebabkan 29 persen kasus kematian anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia.

Laporan itu mendesak 75 negara dengan tingkat kematian tertinggi untuk mengobati anak-anak miskin yang menderita diare dan pneumonia dengan apa yang disebut "pendekatan ekuitas". Pendekatan ini menekankan adanya persamaan perlakuan terhadap keluarga miskin dengan keluarga menengah ke atas dalam hal akses kesehatan yaitu sebesar 20 persen.

Intervensi utamanya meliputi vaksinasi untuk mengatasi penyebab utama pneumonia dan diare, mendorong gerakan menyusui bayi, meningkatkan akses air bersih dan sanitasi serta menawarkan solusi antibiotik untuk pneumonia dan rehidrasi bagi anak-anak penderita diare.

Separuh dari jumlah kematian anak-anak di dunia yang diakibatkan diare atau pneumonia terjadi di lima negara yaitu India, Nigeria, Republik Demokratis Kongo, Pakistan dan Etiopia, ungkap laporan tersebut.

Meski ada kemajuan dalam pemberian vaksin virus Hemophilus influenza tipe B serta vaksin konjugasi pneumokokus dan vaksin rotavirus di negara-negara miskin, namun upaya lebih lanjut masih diperlukan, katanya seperti dilansir dari AFP, Senin (11/6/2012).

Menurut laporan tersebut, air dan sanitasi merupakan rintangan utamanya. Di seluruh dunia 783 juta orang tidak menggunakan sumber air minum yang baik, bahkan 2,5 miliar orang tidak menggunakan fasilitas sanitasi.

"Hampir 90 persen kematian akibat diare di seluruh dunia telah dikaitkan dengan kondisi air yang buruk dan tidak aman bagi kesehatan, sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan yang buruk," kata laporan itu.

"Terlepas dari berbagai intervensi yang dipaparkan sebelumnya, mencuci tangan dengan air dan sabun secara khusus merupakan salah satu intervensi yang biayanya paling efektif untuk mengurangi tingkat kejadian pneumonia dan diare pada anak-anak."

Pneumonia bertanggung jawab terhadap 18 persen kasus kematian anak-anak di seluruh dunia setiap tahunnya sedangkan diare menjadi penyebab 11 persen kasus kematian pada anak-anak. Selain itu, AIDS dan malaria juga ikut memberi andil dengan masing-masing 2 dan 7 persen.

07.12


“Karena itu penting untuk mengetahui kronologi susunan ayat-ayat Qur’an.”
Benar, jangan menyimpulkan berdasarkan teks ayat semata, tetapi lihat latar belakang diturunkannya ayat tersebut.
Seperti misalnya anda adalah orang yang berbaju kuning dan melintas di antara kerumunan orang, lalu mendengar perkataan seseorang di antara kerumuman, “penjarakan saja orang berbaju kuning!”. Jika anda berfikiran sempit, anda akan berkata, “Kurang ajar, apa salah saya sehingga dia mengatakan saya harus dipenjarakan?”. Padahal yang dimaksud orang berbaju kuning adalah orang lain yang kebetulan ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan dengan anda dan melakukan tindak pelanggaran hukum.
Jika anda mempelajari Islam dengan fikiran sempit, maka hasilnya adalah cuma FITNAH yang tidak mendasar, kesimpulan-kesimpulan yang disesuaikan dengan selera orang yang penuh nafsu menghendaki agar Islam dikenal sebagai agama pecinta perang.Ini adalah contoh, di mana Islam ditafsirkan dengan menggunakan sepotong-sepotong ayat semata untuk disesuaikan dengan tafsir yang dikehendaki nafsunya.Di saat sebagian dari kalangan anda menolak telah menafsirkan Islam dengan sepotong-sepotong ayat, artikel ini malah menunjukan bagaimana Islam telah dibajak dan ditafsirkan untuk kepentingan hawa nafsu dengan ayat yang tidak menyeluruh.
Pembuat artikel ini seperti orang berbaju kuning yang kemudian melabrak kerumuman orang karena mendengar orang berbaju kuning harus dipenjarakan, dengan niat membela harga diri dan menyelamatkan orang lainnya yang suka memakai baju kuning. Setelah melabrak, orang-orang di kerumunan pun melihat dengan penuh keheranan seraya bertanya, “Ada apa mas?”.
Lalu orang yang melabrak menjawab, “Saya tidak terima kalau dipenjarakan, apa salah saya?”
Salah seorang dalam kerumunan berkata, “Bukan mas yang kami maksud, tetapi orang berbaju kuning yang terikat tangannya itu, yang harus dipenjarakan karena telah mencuri dan memperkosa.”
Si pelabrak kemudian berkata, “oh, dikira saya yang dipenjarakan!”
Orang-orang pun kemudian berkata, “UUUUUUH”
Salah satu dari kerumunan berkata, “Makanya mas, jangan berprasangka buruk, lihat dulu ke mana mata kami memandang saat berbicara, apakah ke arah anda? Jangan seperti orang yang merasa bersalah lalu sensitif jika ada orang yang berkata penjarakan orang yang berbaju seperti anda”
Artikel ini jelas menunjukan bahwa si pembuat artikel tukang FITNAH dipenuhi prasangka, dan tidak melihat, kepada orang kafir mana ayat itu diarahkan.

Mari kita sama2 saksikan kebejatab-kebejatan dalam BIBLE..

Ulangan
25:11 "Apabila dua orang berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap kemaluan orang itu,
25:12 maka haruslah kaupotong tangan perempuan itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya."

Merendahkan istri terhadap suaminya:

EFESUS:
5:21. dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Anak perempuan tidak mendapat warisan:
Bila seorang ayah meninggal dan meninggalkan anak laki-laki dan anak perempuan maka yang menjadi pewaris hanyalah anak laki-laki sedang anak perempuan tidak mendapat warisan.(bilangan 27:1-11).

Fakta loh, hihihi..
contoh nyata kemunafikan KRISTEN
sudah bukan rahasia lagi ?. bahwa para kristen itu suka FITNAH, bohong, dan perbuatan BEJAT lainnya !!, simak AYAT ini di :
1. Berbuat licik & tipudaya ( 2 kornitus 12:16)
2 Berdusta atas nama Tuhan (Rom 3:7).
3. Ajaran memperbudak orang (Imamat 25:46)
4 Anjuran minum-minuman keras ( 1 timotius 5:23 & Amsal 31:6-7), Yesus membuat anggur di sebuah
pesta (Yohanes 2:7-11), bandingkan dgn Efesus 5:18 dan Hosea 4:11.
5. Teladan Onanisme (Kej 38:8-9)
6. Merendahkan martabat perempuan
a. anak perempuan boleh dijual (kel 21:7)
b. perempuan tak sopan bila ia bicara dlm jemaat ( 1korn 14:34-35)
FITNAH dan kebejatan-kebejatan adalah BAGIAN dari KEIMANAN AGAMA KRISTEN.ini adalah sebagian kecil dari omong kosong kalian
ini agama yang lo yakini loh..??

Yesus adalah BIANG KEROK kerusuhan di muka bumi:

MATIUS:
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
LUKAS:
12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Ajaran kasih sampah!!!
“Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel..(Ulangan 17:12 )
Membunuhi manusia yang tidak mendengarkan perkataan imam?
dan lagi..
Membunuhi para KAUM HOMO?
“Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”.(Imamat 20:13 )
Tapi apa faktaya..JUSTRU PIHAK GREJA VATIKAN MALAH MELEGALKAN KAUM HOMO

dan lagi…
“Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” (Imamat 20:27 )
Membunuhi para peramal?

dan lagi..
“Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu” (Imamat 20:10)
Membunuhi manusia-2 yang main serong?

dan lagi…
“Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api” (Imamat 21:9)
Membakari anak gadis yang ngeseks sebelum nikah?

dan lagi…
“Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.” (Keluaran 22:20)
Membantai manusia yang beragama lain?

GAGASAN PERANG ALQUR’AN DAN BIBEL
Al Qur’an bukan hanya membicarakan tentang iman, akhlaq atau cara peribadatan. Dibicarakan juga tentang ekonomi, jual beli, utang-piutang, hukum pidana, hubungan luar negeri, pemberontakan juga secara komplit membicarakan tentang “perang”.bagaimana ajaran Al Qur’an tentang perang?
Kebanyakan persepsi dunia Barat menganggap Alquran banyak mempromosikan perang dan konflik.Pandangan seperti ini bertambah kuat setelah peristiwa 11 September. Salah satu ayat yang kerap dikaitkan dengan perang itu adalah Surat At Taubah ayat 5.
Ayat tersebut memang secara eksplisit menyebutkan kata ‘bunuhlah’.Lengkapnya ayat tersebut bisa diterjemahkan, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.Sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Persepsi keliru kerap terjadi karena ayat tersebut hanya dibaca secara parsial, dan tidak dikaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.Banyak ahli tafsir memahami bahwa ayat tersebut terangkai dengan perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah SAW dan kaum musyrik Makkah.Perintah untuk membunuh diarahkan pada kaum musyrik yang nyata-nyata melanggar perjanjian.Ayat-ayat di sekitar ayat tersebut, nyata sekali menggambarkan perintah Allah SWT kepada umat-Nya untuk senantiasa menjaga perdamaian.
Ayat lain yang menyebutkan peperangan terdapat dalam Surat Albaqarah ayat 190-191. Ayat tersebut menurut Alquran Terjemah terbitan Departemen Agama RI berbunyi, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Kemudian ayat 191 Surat Albaqarah menyebutkan, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.Demikian balasan bagi orang-orang kafir.
Perihal perang juga disebut dalam ayat lainnya yang terdapat dalam Surat Al Maidah ayat 33.Jika diterjemahkan, ayat tersebut mengungkapkan, “Sesunggunya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh, disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya).Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
Ketiga ayat terakhir ini menyiratkan perintah perang terhadap umat Islam dengan posisi untuk membela diri.Kaum Muslim diseru untuk berperang, jika memang dalam kondisi diserang oleh kelompok musyrik.
“Bunuhlah orang-orang musrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka”
Tentu tidak mungkin Islam diperintahkan untuk membunuhi setiap orang kafir apapun yang dijumpainya. Jika demikian tentu sejak dulu Islam akan ditinggalkan pengikutnya, tidak akan laku. Tidak akan orang mau memluk islam jika demikian ajaran Islam. Jadi siapa yang diijinkan untuk dibunuh dan ditangkap tadi? (Qs.9:6)

“Telah diizikan (berperang) bagi orang-orang yang DIPERANGI, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya” (Qs.22:39)(Qs. 60:8-9)
Maka yang boleh diperangi adalah orang-orang yang memerangi umat Islam. Kalau umat Islam diperangi lawan, sikat, hantam, amuk jangan ragu-ragu lagi. Begitulah Islam.
Tetapi meskipun membolehkan perang kalau diperangi tetapi Al Qur’an memberi batasan agar jangan berlebih-lebihan seperti membunuhi anak-anak dan wanita (Qs.2:190)

Mari kita beralih ke gagasan perang dalam Bibel (Al Kitab)?
Sesuatu yang tempaknya tenang, damai, jangan dikira tidak menyimpan sesuatu yang ganas.Bukankah kita sudah mengetahui sejarah inkwisisi gereja?Berapa banyak yang dibakar hidup-hidup, dicincang dan dikuliti oleh gereja?Semua itu tentu ada yang mengilhaminya secara kuat.
Dalam bibel kita akan menjumpai sumber inspirasi ini.
Ayat-ayat seruan perang, Dalam Injil, seruan perang malah lebih banyak. Salah satu ayatnya berbunyi, “Panah-panah-Ku akan dilumuri darah mereka; semua yang menentang Aku Kubunuh dengan pedang-Ku. Tidak Kubiarkan siapa pun melawan Aku; orang tahanan dan yang luka-luka mesti mati juga.” (Deuteronomy 32:42)

Bagian lain dalam Injil juga menyebutkan, “Apabila Tuhan, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, dan Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka.” (Deuteronomy 7:1-2)
Tidak suka Yesus menjadi rajanya, bunuh! Kata Yesus:
“Akan tetapi semua seteruku ini yang tidak suka Aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan BUNUHLAH MEREKA DIHADAPAN MATAKU” (Lukas 19:27)

Yesus datang bukan untuk membawa damai melainkan PEDANG!
“Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan PEDANG”(Matius 10:34)(Lukas 12:51)
Genosida,anak-anak yang menyusupun BUNUH!

“Jadi perangilah sekarang, kalahkanlah orang amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun ANAK-ANAK YANG MENYUSU, lembu maupun domba, unta maupun keledai” (1 Samuel 15:34)(Ulangan 20:16)
ii… serem. Katanya “kasih”.

Josua 6: 21
21. Dan mereka benar-benar menghancurkan semua yang ada di kota, baik laki-laki dan perempuan, muda dan tua, dan lembu, dan domba, dan keledai, dengan ujung pedang.

Ulangan 20: 16
16. Tetapi dari kota-kota orang-orang ini, yang Tuhan, Allahmu Maha memberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, engkau akan menyelamatkan hidup tidak ada yang breatheth:

Imamat 24: 16
16. Dan dia yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia akan dihukum mati, dan semua jemaat akan pasti batu dia: dan juga orang asing, karena ia yang lahir di tanah, ketika ia menghujat nama Tuhan, harus dihukum mati.
1 Samuel 15: 3
3. Sekarang, pergi dan memukul Amalek, dan sama sekali menghancurkan semua yang mereka miliki, dan suku mereka tidak; tetapi membunuh baik pria maupun wanita, bayi dan menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.

Angka 31: 17-18
17. Maka sekarang membunuh setiap laki-laki di antara anak-anak kecil, dan membunuh setiap wanita yang telah dikenal orang dengan berbaring dengan dia.
18. Tapi semua anak-anak perempuan, yang tidak diketahui seorang laki-laki dengan berbaring dengan dia, tetap hidup untuk diri sendiri.\
“Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, sauda-ra-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Injil – Lukas 26).
Bunuhlah istrimu di malam pengantin jika dia tidak perawan 20 Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis pada malam pernikahan,
21 maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati sebab dia telah menodai orang Israel dengan bersundal di rumah ayahnya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
(Ulangan 22:20-21)
Bunuhlah manusia yang tidak mendengarkan perkataan imam Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel..(Ulangan 17:12 )

Bunuhlah paranormal
Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup.(Keluaran 22:18)

Bunuhlah para Waria
Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.(Imamat 20:13 )

Bunuhlah para peramal
27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” (Imamat 20:27 )

Bunuhlah anak yang memukul ortunya.
Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati..(Keluaran 21:15)

Hukuman mati untuk menyumpahi ortu
1) Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap..(Amsal 20:20)
2) Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri..(Imamat 20:9)

Bunuhlah manusia yang main serong
Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu..(Imamat 20:10)

Pembakaran anak gadis wanita yang ngeseks sebelum nikah
Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api..(Imamat 21:9)

Bantailah manusia yang beragama lain
Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.”(Keluaran 22:20)

Bantailah yang tidak percaya tuhan
Setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, yang tidak mencari TUHAN, Allah Israel, harus dihukum mati..(2 Tawarikh 15:12-13)

Bunuhlah anakmu jika dia mengaku sebagai nabi
Dan apabila seseorang masih tampil sebagai nabi, maka ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakkan dia, akan berkata kepadanya: Janganlah engkau hidup lagi, sebab yang kaukatakan demi nama TUHAN itu adalah dusta! Lalu ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakkan dia, akan menikam dia pada waktu ia bernubuat..(Zakharia 13:3)
—sekarang sudah mengerti kan kenapa sejarah negara-2 kristen dipenuhi dengan cerita penjajahan, penjarahan dan perkosaan?








Ketrangan:Apa bila isi dari kitab yang tertulis di atas tidak sama dengan bible yang anda pegang saat ini.. HARAP MAKLUM KARENA ISI BIBLE SELALU UPDATE

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget