Latest Post

06.32

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - Dokumen yang dikumpulkan oleh pengacara untuk keluarga korban Sept 11 memberikan bukti baru yang ekstensif mengenai pendanaan untuk mendukung Al Qaeda dan kelompok lainnya oleh anggota keluarga kerajaan di Saudi.

Pengacara yang memberikan kutipan dari dokumen tersebut kepada The New York Times yang oleh mereka diletakkan bersama potongan-potongan dokumen yang bocor dari intelijen Amerika.
Bukti yang awalnya disajikan dalam ratusan ribu halaman, menceritakan bagaimana keluarga kerjaan Saudi menggunakan perantara dan pasokan keuangan untuk mendanai militan yang berbasis di Afghanistan dan Bosnia.Bush bersama Pangeran Saudi Salman Bin Abdul Aziz, ketika masih menjabat sebagai presiden AS (Berita SuaraMedia)
Seseorang yang mengaku anggota Al-Qaida di Bosnia menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan pengacara dalam perkara itu bahwa badan amal yang lain yang dikontrol oleh sebagian besar anggota dari keluarga kerajaan mengirimkan uang dan perlengkapan kepada militan pada tahun 1990-an
Saksi lain di Afghanistan mengatakan dalam sebuah pernyataan dibawah sumpah pada tahun 1998 ia menyaksikan seorang duta untuk raja terkemuka Saudi, Turki al-Faisal, memberikan cek sejumlah satu miliar Saudi riyal (sekarang bernilai sekitar $ 267 juta) kepada pemimpin Taliban.
Dan laporan intelijen rahasia Jerman memberikan keterangan rinci puluhan juta dolar dalam transfer bank, dengan tanggal dan jumlah dolar, yang dilakukan pada awal tahun 1990-an oleh Pangeran Salman bin Abdul Aziz dan anggota lain dari keluarga kerajaan Saudi untuk badan amal lain yang diduga militan pembiayaan kegiatan di Pakistan dan Bosnia.
Namun, sebuah kutipan berita dari Washington Post menyatakan AS juga mengambil peran dalam menyelundupkan senjata. Dan peran AS "lebih dari menutup mata untuk apa yang terjadi." Amerika Serikat membantu Arab Saudi yang tidak memiliki "kecanggihan teknis". Para pejabat menolak untuk memberi banyak detail mengenai peran Amerika dalam operasi itu, "tetapi secara logika tanpa persetujuan dari NATO dan Amerika Serikat maka tidak ada yang bisa terjadi." Tulis laporan tersebut
Dokumen tersebut menghubungkan keluarga kerajaan dengan peristiwa 11 September, 2001. Tautan yang lebih luas bergantung pada rincian waktu, titik-pendekatan yang dihubungkan untuk menyatukan hubungan raja Saudi, Timur Tengah, transaksi amal mencurigakan dan kelompok musuh-musuh AS.
Keluarga kerajaan Saudi telah lama dikenal memiliki ikatan yang kuat dengan pemerintahan Bush, juga diduga telah memperkuat militan dengan menggunakan agen perantara termasuk Komisi Tinggi Saudi untuk Bantuan ke Bosnia.
Saudi dan para pembelanya di Washington sudah lama menyangkal hubungan dengan peristiwa 11 September, dan mereka telah menjalankan kampanye yang agresif, dan sampai saat ini, berhasil untuk memukul kembali dugaan di pengadilan federal berdasarkan klaim imunitas kedaulatan.
Dugaan hubungan Saudi dengan peristiwa 11 September telah menjadi subyek penyelidikan pemerintah dan perdebatan hebat selama bertahun-tahun.
Pengacara dan pendukung Saudi mengatakan bahwa hubungan tersebut lemah dan memanfaatkan stereotip AS tentang terorisme, dan bahwa negara sedang digugat karena memiliki kantong yang dalam dan menjadi rumah bagi 15 orang dari 19 orang yang dituding sebagai pembajak pesawat dalam peristiwa rekayasa 11 September oleh AS.
"Dalam melihat semua bukti yang dibawa oleh keluarga-keluarga tersebut, saya tidak melihat sedikitpun bukti bahwa Arab Saudi telah melakukan sesuatu dengan serangan 9/11," Michael Kellogg, seorang pengacara yang mewakili Pangeran Muhammad al-Faisal Al-Saud dalam perkara hukum, mengatakan dalam sebuah wawancara.
Dia dan pengacara pembela mengatakan bahwa daripada mendukung Al Qaeda, yang pemimpinnya, Osama Bin Laden telah diasingkan dari Arab Saudi dan dicabut kewarganegaraannya, negara asalnya, pada tahun 1996. "Itu adalah tragedi yang mengerikan yang terjadi pada mereka, dan saya memahami kemarahan mereka," ujar Kellogg. "Mereka ingin mencari orang-orang yang bertanggung jawab, tapi saya pikir mereka telah dipermainkan oleh pengacara mereka sendiri atas klaim tersebut tanpa tujuan yang jelas yang dilayangkan terhadap orang yang salah."
Kedutaan Saudi di Washington menolak memberikan komentar.
Dua hakim federal dan Second Circuit Court of Appeals telah menolak petisi 7.630 orang yang mewakili perkara itu, yang terdiri dari korban dari serangan dan anggota keluarga mereka yang dibunuh, dan mengatakan bahwa keluarga-keluarga itu tidak dapat menuntut tindakan hukum di Amerika Serikat terhadap bangsa yang berdaulat dan pemimpinnya.
Mahkamah Agung yang diharapkan minggu ini untuk memutuskan apakah akan mendengar sebuah banding, tetapi prospek keluarga itu redup ketika bulan lalu Departemen Kehakiman berpihak dengan Saudis yang menggunakan kekebalan hukum dan mendesak pengadilan untuk tidak mempertimbangkan banding.
Di Departemen Kehakiman mengatakan sebuah undang-undang 1976 tentang imunitas kedaulatan melindungi Saudi dari kewajiban dan mencatat bahwa "berpotensi signifikan menimbulkan konsekuensi hubungan asing" jika tuntutan semacam itu diizinkan untuk dilanjutkan.
"Kasus-kasus seperti ini menempatkan pemerintah AS dalam posisi yang sangat sulit jika harus membuat argumen hukum, bahkan ketika mereka melihat hukum yang lebih baik," kata John Bellinger, mantan pengacara Departmen Negara yang telah terlibat dalam proses pengadilan Saudi.
Pejabat senior pemerintahan Obama mengadakan pertemuan pribadi pada hari Senin dengan anggota keluarga 9/11untuk berbicara tentang kemajuan memecahkan pembiayaan para musuh AS. Pejabat pemerintahan dalam rapat tersebut menghindari pertanyaan mengenai perkara tersebut.
Sekalipun 9/11 keluarga berhasil memperkarakan kasus mereka di pengadilan, mereka mungkin akan kesulitan mendapatkan beberapa materi baru sebagai bukti. Jikapun dapat, bukti tersebut mungkin akan diangggap tidak relevan. Dan jika keluarga-keluarga tersebut berhasil melewati rintangan, mereka mungkin masih belum dapat dua bukti penting mengenai keterlibatan Saudi.
Salah satunya adalah penyelidikan Kongres tahun 2003 terhadap serangan 11 September sebanyak 28 halaman, yang diklasifikasikan. Bagian rahasia tersebut diyakini membicarakan intelijen dalam hubungan keuangan Saudi terhadap dua pembajakan tersebut, dan Saudi mendesak hasil penyelidikan tersebut dibuka untuk masyarakat. Namun, Presiden George W. Bush menolak untuk melakukannya. Dan mengatakan "90, 95 persen tidak dapat dikompromikan, dalam pendapat saya, segala hal yang menyangkut keamanan nasional."
Bagian dari laporan yang tidak diklasifikasikan dari laporan tersebut mengatakan bahwa al-Bayoumi mengeluarkan banyak biaya dan dua pembajak itu, "memiliki akses dana tidak terbatas dari Arab Saudi atau negara asing lainnya."
Bukti yang lain yang mungkin tidak akan didapat terdiri dari dokumen rahasia yang bocor ke salah satu firma hukum yang mewakili keluarga-keluarga korban, Motley Rice of South Carolina, yang dipimpin oleh Ronald Motley.
Pengacara untuk perusahaan tersebut mengatakan seseorang yang tidak dikenal membocorkan kepada mereka 55 dokumen yang berisi bahan yang diklasifikasikan pemerintah yang berkaitan dengan perkara Saudi.
Pada bulan Juni 2004, Komisaris 9/11 Bob Kerrey mengatakan bahwa sebelum 9 / 11, "Tidak ada keraguan bahwa Taliban telah mendapatkan uang dari Saudi ... dan tidak ada keraguan mereka mendapat lebih banyak daripada yang dari pemerintah Pakistan. Motif  mereka adalah masalah sekunder bagi kami." Dia mengklaim bahwa penemuan ini hampir sepenuhnya didasarkan pada informasi yang diketahui oleh pemerintah AS sebelum 9/11. "Semua yang kami lakukan adalah melihat dokumen diklasifikasikan dari pemerintah kita sendiri, bukan dari beberapa sumber ajaib. Jadi kita tahu apa yang terjadi, tetapi kita lakukan apa-apa." Ujarnya, seperti yang dikutip oleh LA Times. (iw/nyt/hc/abc)



Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala piji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Pernah kami temui, seorang imam yang shalat 'Ashar sampai lima rakaat. Saat berdiri pada rakaat kelima, seorang makmum telah mengingatkannya dengan tasbih (baca Subhanallah). Namun ini tidak diikuti oleh makmum yang lain, walau mereka mengaku mengetahui imam berdiri pada rakaat ke lima. Sehingga imam terus berdiri dan melanjutkan rakaat yang diyakininya sebagai rakaat keempat.
Lupa yang demikian adalah sesuatu yang manusiawi. Siapa saja bisa mengalaminya. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah juga. Beliau mengimami shalat manusia dengan lima rakaat, dan saat diberitahukan hal itu kepadanya, beliau sujud dua kali yang dikenal dengan sujud syahwi.
Diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad: dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah shalat lima rakaat. Maka saat sudah usai, orang-orang saling berbisik-bisik di antara merewka. Lalu beliau bertanya, "Apa yang kalian lakukan?" mereka menjawab, "Ya Rasulallah, apakah shalat ditambah?" beliau menjawab, "Tidak." Mereka berkata, "Engkau shalat lima rakaat." Maka beliau beranjak. Lalu sujud dua kali. Lalu salam. Kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian."
Ibnu Namir menambahkan dalam haditsnya, "Apabila salah seorang kalian lupa, hendaknya ia sujud dua kali.” Riwayat ini diungkapkan dengan bermacam-macam redaksi, hanya saja disepakati dalam satu makna, "Aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa."
Apa yang Harus Diperbuat Makmum?
Pada kisah di atas, para sahabat tidak mengingatkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat bangkit pada rakaat kelima. Sebabnya, karena mengira ada nashk (penghapusan Syariat lama dengan syariat yang baru). Sesudah wafatnya beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka syariat telah baku dan tidak ada lagi naskh dalam hukum. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
اَÙ„ْÙŠَÙˆْÙ…َ Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ْتُ Ù„َÙƒُÙ…ْ دِينَÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َتْÙ…َÙ…ْتُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ Ù†ِعْÙ…َتِÙŠ Ùˆَرَضِيتُ Ù„َÙƒُÙ…ُ الْØ¥ِسْÙ„َامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah; 3)
Oleh karenanya, jika imam bangkit berdiri pada rakaat kelima, maka makmum yang benar-benar yakin ia telah pada rakaat sempurna tidak ikut berdiri. Karena berdirinya imam adalah berdiri yang salah, melebihi jumlah rakaat.
Sementara bagi imam, pada dasarnya ia menyambut peringatan makmum dan mengikuti mereka. Namun jika benar-benar yakin dalam posisi yang benar, ia tidak kembali karena teguran seseorang. Sehingga ia mendapati keraguan dalam dirinya karena persaksian orang banyak sebagaimana didasarkan kepada hadits Dzul Yadain yang berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang shaolat Zuhur hanya dua rakaat, “Wahai Nabi Allah, apakah Anda lupa atau shalat diqashar?” Lalu beliau menjawab, “Aku tidak lupa dan tidak pula shalat diqashar.” Mereka menjawab, “Berarti Anda lupa, Ya Rasulallah!.” Beliau menjawab, “Dzul Yadain benar.” Lalu beliau berdiri dan shalat dua rakaat lalu salam. Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wasallam sujud sahwi.” (Muttafaq ‘alaih) [Lihat: Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal: II/149]
Maka jika ada banyak orang yang mengingatkan imam, selayaknya ia mengikuti mereka dan meninggalkan keyakinan (kemantepan)-nya. Semantara bagi makmum yang yakin bahwa imam telah menambah rakaat, ia tidak berdiri mengikuti imam.
Syaikh Musaid bin Basyir Ali (Muhaddits dari Sudan) berkata: "Apabila imam berdiri pada rakaat kelima, maia ia tidak diikuti." Wallahu Ta'ala A'lam.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget