Latest Post

14.03

Sri Lanka, 2,000 umat Buddha yang dikompor-kompori oleh 300 biksu anarkis mendatangi sebuah Masjid di Dambulla, Sri Lanka, pada Jumat (20/4) ketika ibadah Shalat Jumat sedang berlangsung.

Tak ayal lagi jika kemudian Shalat Jumat harus dibatalkan karena umat Buddha yang arogan tersebut meminta agar Masjid segera ditutup dan dihancurkan karena berada di kawasan ‘sakral’ agama Buddha.

Salah satu biksu anarkis, Inamaluwe Sri Sumangala, mengatakan bahwa Masjid tersebut tepat berada di dalam zona sakral agama Buddha.

Biksu anarkis ini dan biksu-biksu lainnya juga meminta agar pemerintah Buddha Sri Lanka menutup Masjid tersebut dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Klaim umat Buddha bahwa area tersebut adalah kawasan sakral agama buddha dibantah oleh takmir Masjid setempat.

Ustadz M. Rahmatullah, salah satu pengurus takmir Masjid tersebut, memaparkan fakta sejarah bahwa Masjid tersebut telah berdiri sejak 50 yang lalu.

Hal ini kemudian menjadi aneh jika baru hari ini dikatakan bahwa Masjid tersebut berada di kawasan sakral agama buddha.

“Kami sangat tidak setuju dengan klaim mereka. Masjid ini telah berada di area ini selama lebih dari 50 tahun,” kata Ustadz Rahmatullah.

Beliau juga menegaskan bahwa hampir setiap malam Masjid tersebut selalu mendapat ancaman berupa lemparan bom Molotov, namun Alhamdulila tak satu pun terluka.


Peristiwa Jumat (20/4) kemarin menambah panjang daftar kedzhaliman umat buddha terhadap umat Islam di Sri Lanka setelah pada September 2011 silam, sekelompok biksu anarkis dan pengikutnya merubuhkan sebuah Masjid di Anuradhapura.

Anuradhapura sendiri berada sangat dekat dengan Dambulla, tempat kejadian perkara penyerangan umat buddha terhadap jamaah Shalat Jumat yang terjadi kemarin (20/4).

Beginilah keadaan umat Islam jika menjadi minoritas di suatu daerah yang didominasi oleh umat agama lain, terlebih umat buddha yang sangat getol melakukan perlawanan terhadap umat Islam.

Hal ini juga terlihat di Burma, dimana pada 12 April lalu sekelompok biksu anarkis dan ratusan umat buddha menghancurkan calon bangunan Masjid di Kachin, Burma.

Umat Islam sendiri merupakan tujuh persen dari sekitan 20 juta total populasi di Sri Lanka yang didominasi oleh umat buddha (74%).

14.02

Burma, Pembangunan Masjid di Kachin, Burma utara harus dihentikan pada 12 April lalu setelah ada intervensi dari sekelompok biksu dan pendukungnya.

Harian Kachin News melaporkan bahwa 30 biksu dan puluhan pengikutnya memasuki area pembangunan Masjid di wilayah yang kaya batu giok tersebut, dan kemudian merusak beberapa bagian dari Masjid yang telah dibangun.

Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa para biksu anarkis tersebut datang ke lokasi kejadian di Seng Tawng pada pukul 16.00, dan mendesak pembangunan Masjid dihentikan.

Mereka kemudian menghancurkan beberapa bagian yang telah dibangun, dan dalam delapan jam kemudian seluruh calon bangunan Masjid tersebut telah luluh lantak.

Kini lokasi kejadian berada dalam pengawasan pihak keamanan Burma.

Beberapa pihak mengira bahwa ulah para biksu anarkis tersebut didalangi oleh pemerintah Burma dengan alasan bahwa pemerintah Burma sering menolak ijin pembangunan Masjid dan Gereja.

Seperti diketahui, penganut agama Buddha adalah terbesar di Burman, kemudian diikuti oleh populasi umat Kristiani dan tentunya umat Islam.

Meskipun wilayah Kachin sendiri didominasi oleh warga Kristiani, namun pengaruh Buddha dan hegemoni kaum Buddha sangat kuat, sehingga umat Kristiani maupun umat Islam sering berbenturan dengan umat Buddha.

Pemerintah Burma, setelah mendapat kemerdekaannya, cenderung mengintimidasi umat selain umat Buddha, dan yang paling sering mendapat kedzhaliman adalah umat Islam.

Pemerintah Burma tidak sudi memberikan hak kewarganegaraan kepada warga Burma yang memeluk agama Islam, hingga kemudian membuat banyak warga Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh atau Aceh, Indonesia.

Kewarganegaraan umat Islam Rohingya sering dijarah oleh kafir harbi Buddha dari etnik Arakanese.

Maka tidak heran kemudian sering terjadi gesekan antara umat Islam Rohingya dengan kafir harbi Buddha dari suku etnik Arakanese.

Dan yang lebih parah lagi adalah ulah para kafir harbi Buddha ini yang merubah sebuah Masjid menjadi tempat pemujaan umat Buddha, yang kini dikenal dengan Pagoda Mrauk U. Wallahu’alam bish shawwab. (KachinNews/Wikipedia/Mukminun)

Birmingham, Seorang bocah sekolah di Birmingham, Inggris, ditangkap oleh kepolisian setempat menyusul ulahnya menyerang sebuah Masjid.

Seorang jamaah Masjid tersebut kemudian terluka parah menyusul insiden tersebut.

Bocah 15 tahun dari Small Heath, Birmingham, ini ditangkap oleh detektif pada Ahad (3/6) karena aksinya menyerang seorang pria 22 tahun pada Jumat (1/6) lalu.

Bocah ini kiranya akan segera disidangkan, tinggal menunggu waktu yang akan ditentukan oleh kepolisian setempat.

Penyerangan terjadi di luar Masjid, di persimpangan jalan antara jalan Somerville dan St. Oswald's.

Dua orang pria, masing-masing 42 dan 20 tahun, ditangkap pada Jumat lalu juga dari area yang sama bocah sekolah ini berasal, Small Heath.

Untuk sementara, kedua pria ini ditahan di penjara kepolisian setempat dan akan dibebaskan Juli mendatang.

Satu korban jamaah Masjid tersebut kini menderita cidera yang serius di bagian kepala dan sedang menerima perawatan di rumah sakit terdekat.

Kepolisian mengumumkan kepada publik untuk memberikan informasi terkait penyerangan tersebut.

Denmark, MelodramaticMind.com- Sebuah percobaan dari kelompok sayap kanan untuk meluncurkan ‘Aliansi Anti-Islam untuk Eropa’ mendekati kegagalan.

Hal ini dikarenakan dalam sebuah aksinya yang diselenggarakan di Denmark beberapa hari kemarin hanya mampu mengumpulkan masa sebanyak 200 orang, meleset dari perkiraan jumlah semula yakni 700 orang. Alhamdulila…

Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian rakyat Eropa tidak setuju dengan konsep Aliansi Anti-Islan untuk Eropa tersebut meski pihak panitia sendiri telah mempublikasikan acara tersebut dengan sangat rapi.

Dalam reli yang diselenggarakan oleh Liga Pertahanan Inggris (English Defence League-EDL) tersebut, secara implisit sang promotor menyatakan dukungan terhadap Anders Breivik yang telah mempelopori aksi ‘permulaan dari sebuah gerakan Eropa sejagat melawan Islamisasi Eropa.’

Perlu diketahui bahwa Anders Breivik sendiri adalah seorang penganut Kristen garis keras yang melakukan penembakan secara membabi buta terhadap 90-an lebih warga Norwegia, namun dalam persidangannya Breivik dikatakan tidak normal alias gila.

Namun Stephen Lennon, ketua EDL, menegaskan bahwa dirinya dan EDL tidak mendukung aksi yang dilakukan oleh Breivik, namun pada saat bersamaan ia tidak bisa membiarkan jutaan orang yang mempunyai perhatian melawan Islam sebagai orang gila layaknya Breivik.

Beruntung kontra dukungan terhadap EDL dan aksinya kini juga mendapat penolakan dari Unite Against Fascism (UAF) yang berpendapat bahwa aksi EDL tersebut justru akan menimbulkan sebuah bahaya baru bagi benua Eropa lantaran orang akan senantiasa ingat bahwa Liga Pertahanan Norwegia (Norwegian Defence League-NDL) lah yang mencetak kader seperti Breivik.

“Pertumbuhan Liga Eropa ketika krisis ekonomi justru akan memunculkan kelompok-kelompok fasis jalanan seperti mereka yang meluluhlantakkan demokrasi Eropa pada tahun 1930-an,” kata Bennet.

Dengan demikian, di pihak Eropa sendiri memang tidak ada kepaduan atau kekompakan lantaran ada satu kelompok yang mengusung slogan Anti-Islam namun di sisi lain ada pula kelompok yang anti dengan gerakan Anti-Islam.

"Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti," (Al-Hasyr: 14). (Care2/MelodramaticMind.com)

Tunis, Situasi kini aman terkendali di Tunisia pada Rabu (13/6) setelah sebelumnya terjadi keributan antara ribuan umat Islam dengan kepolisian Tunisia yang berakibat pada penangkapan 162 Muslim negara tersebut.

Ribuan umat Islam ini terlibat bentrok dengan polisi Tunisia sebagai sebuah jawaban atas penghinaan terhadap Islam yang dilakukan oleh para seniman dalam sebuah pameran seni di kawasan La Marsa.

Polisi yang diturunkan mengaku terpaksa melakukan kedzhaliman dengan menembakkan gas air mata ke arah umat Islam.

Umat Islam sendiri tak mau kalah, mereka menyerang pos-pos polisi di seluruh negara tersebut hingga 62 anggota polisi Tunisia dilaporkan menderita luka-luka.

Cerita bermula ketika Ahad (10/6) kemarin sekelompok seniman sekuler menggelar sebuah pameran seni yang di dalamnya terdapat pameran lukisan Masjidil Haram dengan seorang wanita telanjang di dalamnya.

Tak cukup dengan itu, seorang seniman lain juga melecehkan Islam dengan menampilkan lukisan ejaan Allah dari rentetan semut. Naudzubillahi min dzalik!

Tunisia sendiri merupakan sebuah negara yang dalam 50 tahun terakhir dipimpin oleh seorang kafir sekuler, Ben Ali, yang akhirnya tumbang setelah desakan dahsyat dari umat Islam di seantero negeri tersebut.

Menyusul tumbangnya Ben Ali dan digelarnya pemilu pertama di negara tersebut, terpilihlah partai Enhada sebagai peraih suara terbanyak sehingga berhak atas mayoritas kursi di parlemen Tunisia.

Partai Enhada sendiri adalah sebuah partai politik yang mengklaim dirinya sebagai sebuah parpol “Islami” karena mereka tumbuh berdasarkan pemikiran gerakan Islam “Ikhwanul Muslimin” yang telah melenceng dari patron pendirinya Sheikh Hasan Al-Bana.

Melencengnya partai “Islami” Enhada dari ajaran Islam nampak dalam ulah mereka yang lebih memilih hukum selain hukum Islam untuk dijadikan konstitusi atau dasar negara Tunisia.

Hal inilah yang kemudian menyulut perhatian Amir gerakan jihad Al-Qaeda, Sheikh Ayman Al-Zawahiri, untuk menyeru kepada umat Islam di Tunisia untuk berjihad sekuat tenaga demi tegaknya syariat Islam di Tunisia.

Pesan Sheikh Ayman Al-Zawahiri inilah yang sering dikambinghitamkan oleh banyak pihak, terutama para sekuleris, sebagai biang kerok keributan di Tunisia yang berujung pada penangkapan 162 umat Islam tersebut.

Namun begitu, hal ini dapat ditampik dengan mudah menyusul sikap dari menteri kebudayaan setempat, Mehdi Mabrouk, yang meminta agar pameran seni yang menghina Islam tersebut segera ditutup.

Selain itu, alhamdulilah, para pegiat liberalisme dan sekularisme pun juga telah dituntut di mata hukum atas dakwaan memprovokasi umat Islam dengan menyerang simbol-simbol suci agama Islam. Wallahu’alam bish shawwab.

13.41
Islamabad, Seorang ulama di Muzaffargarh, Pakistan, mengeluarkan fatwa bahwa kampanye vaksinasi polio sebagai program yang “tidak Islami.”

Oleh karena itu, beliau menyeru kepada umat Islam yang menghadiri jamaah pengajiannya untuk melakukan jihad melawan kehadiran sebuah tim vaksinasi polio di daerahnya.

Menurut sebuah harian lokal, sekelompok orang yang hendak mensosialisasikan vaksin (baca racun) polio tersebut hendak memasuki kawasan pinggiran di Khan Pur Bagga Sher.

Mereka mengumumkan kepada masyarakat awam warga sekitar untuk menghadiri acara sosialisasi tersebut sebelum akhirnya memberikan vaksin yang konon lebih ampuh daripada “vaksin alami” yang telah diciptakan oleh Allah ta’ala.

Mengetahui info tentang kedatangan tim tersebut, Sheikh Maulvi Ibrahim Chisti, bergegas menuju masjid terbesar di kawasan tersebut dan mendeklarasikan bahwa vaksinasi polio sama dengan “racun.”

Selain itu, beliau juga menyebut bahwa upaya vaksinasi merupakan sebuah upaya yang digalakkan oleh negara-negara barat tempo dulu untuk “melawan Islam.”

Sheikh Maulvi kemudian mengatakan bahwa jika tim vaksinasi tersebut nekat menjalankan agendanya, maka ulama tersebut menyeru bahwa jihad adalah “satu-satunya pilihan.”

Gentar mendengar seruan ulama tersebut, tim vaksinasi polio ini akhirnya membubarkan diri, dan kembali ke kota Muzaffargarh dengan hasil nol besar.

Sesampainya di kota, tim ini dengan cengeng mengeluh kepada dinas kesehatan setempat untuk kemudian dilanjutkan kepada pemerintah kota Muzaffargarh.

Meski sukses menggagalkan upaya penanaman racun kepada jasad bayi umat Islam di kawasannya, Sheikh Maulvi Ibrahim Chisti, sempat hendak dikepung oleh kepolisian setempat.

Alhamdulila, beliau mampu diamankan oleh jamaahnya yang membawa lari ulama tersebut dari kepungan polisi setempat. Wallahu’alam bish shawwab.

Palestina, Federasi sepakbola dunia (FIFA) Selasa (12/6) kemarin mengeluarkan pernyataan resmi terkait penahanan beberapa pesepakbola Muslim Palestina oleh teroris israel laknatullah.

Surat tersebut konon telah dikirimkan kepada menteri olahraga Inggris, Hugh Robertson, dan juga presiden federasi sepakbola Eropa (UEFA), Michael Platini.

Dalam pernyataan tersebut, presiden FIFA menegaskan dukanya yang mendalam atas penahanan beberapa pesepakbola Palestina, termasuk diantaranya Mahmoud Sarsak, yang telah ditahan selama tiga tahun tanpa dakwaan yang jelas.

Sarsak sendiri ditangkap saat meninggalkan Jalur Gasza hendak menuju Ramallah di Tepi Barat dalam kapasitasnya sebagai perwakilan tim nasional sepakbola Palestina.

Selama menjalani proses penahanan, Sarsak juga ikut bergabung dengan ribuan tahanan Muslim lainnya dalam aksi mogok makan, dimana Sarsak telah memasuki hari ke-87.

Kini Sarsak mengalami kekurangan nutrisi dalam jumlah yang banyak serta kehilangan berat badan yang sangat signifikan.

Surat yang dikirimkan oleh FIFA kepada dua pihak tersebut juga ditandatangani oleh beberapa tokoh seperti mantan bomber Manchester United, Eric Cantona, professor linguistik Noam Chomsky, serta sutradara film Ken Loach. Wallahu’alam bish shawwab.

Dearborn, Imam Mohamad Mardini dari American Muslim Center mengabarkan bahwa kepolisian Dearborn, AS, pada Selasa (12/6) telah menangkap seorang bocah seusia SMA yang telibat dalam aksi vandalisme terhadap sebuah masjid di kota tersebut.

FBI kini sedang melakukan investigasi terhadap kasus yang melibatkan aksi pembakaran dan grafiti anti-Arab pada dua bangunan milik lembaga dakwah American Muslim Center of Dearborn.

Menurut laporan, sebuah grafiti dengan tulisan “Arabs” ditemukan di salah satu bagian dinding bangunan American Muslim Center di Kota Dearborn yang merupakan kawasan imigran asal Arab dan Timur Tengah.

Sesaat setelah ditemukan coretan di bangunan tersebut, satu bangunan lain milik lembaga Muslim Community Center ditemukan sengaja dibakar oleh orang tak dikenal.

Ketika mendatangi lokasi kedua ini, Imam Mardini menemukan semprotan pilok gambar (maaf) alat kelamin perempuan dan lagi-lagi tulisan “Arabs” pada salah satu dinding bangunan.

Kepolisian Dearborn sendiri tidak mau gegabah menentukan motif aksi vandalisme tersebut, apakah benar atau tidak terkait dengan kejahatan kebencian terhadap Islam.

Lembaga ke-Islaman Council of American Islamic Relations (CAIR) cabang Dearborn mendesak FBI untuk menuntaskan penyelidikan tentang motif terkati aksi vandalisme tersebut.

CAIR menyeru kepada FBI untuk mencari tahu kemungkinan adanya dua motif yang berbeda dalam dua aksi vandalisme terhadap Islam tersebut, yakni pembakaran dan grafiti tersebut.

“Jika benar ada dua motif berbeda dalam kejadian tersebut, FBI seharusnya menambahkan lebih banyak sumber dayanya untuk otoritas-otoritas penegak hukum di kawasan tersebut untuk membantu membawa para penyerang tersebut ke meja hukum,” ungkap Dawud Walid, eksekutif direktur CAIR cabang Michigan.

Imam Mardini mengatakan bahwa sering terdapat kesalahpahaman tentang Islam yang menyebar ke masyarakat awam AS yang berakibat pada aksi-aksi serupa.

Beliau juga mengunkapkan bahwa seringkali para calon legislatif yang akan bertarung dalam pemilihan umum menggunakan isu-isu negatif tentang Islam untuk menarik simpati para pemilik suara dari mayoritas umat non-Muslim. Wallahu’alam bish shawwab. (Arabamericannews/Mukminun)

13.35
Padang, Satu calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, Alexander An (Aan), yang terbukti menghina simbol-simbol Islam via facebook hanya divonis penjara 2,5 tahun berikut denda 100 juta rupiah.

Vonis yang dijatuhkan pada Kamis (14/6) tersebut dinilai terlalu ringan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan dianggap terlalu berat oleh pengacara si atheis Alex Aan hingga kedua belah pihak menyatakan banding.

Hakim Ketua Prasetya Budi Dharma yang memimpin jalannya sidang di Pengadilan Negeri Muaro Sijunjung dalam pembacaan vonis juga menambahkan bahwa jika denda sebesar 100 juta rupiah tersebut bisa diganti dengan penambahan masa kurungan selama tiga bulan.

Atheis Alex Aan ditahan sejak Februari 2012 silam oleh Polres Dharmasraya sebelum kemudian dititipkan di penjara Muaro Sijunjung dengan dakwaan “penistaan agama.”

Dijerat dengan pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama, Alex Aan seharusnya dihukum maksimal lima tahun penjara.

Bahkan hukuman Aan si atheis bisa lebih berat, yakni penjara 6 tahun dan denda sebesar satu milyar rupiah jika ia berhasil dijerat dengan Pasal 27 Ayat 3 UU No. 8 tahun 2011 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Atau, bisa juga Alex Aan si atheist ini dijerat dengan pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat karena pencantuman “Islam” di KTP Aan, meski sebenarnya ia tidak mempercayai satu agama apapun.

Sebagaimana diketahui, Alex Aan yang setiap harinya “nongkrong” di kantor Bappeda Dharmasraya ini terbukti melontarkan komentar-komentar negatif tentang keberadaan Tuhan, hingga ia berkesimpulan bahwa Tuhan tidaklah ada. Naudzubillahi min dzalik!

“Update Status-nya” yang sering mengundang emosi umat beragama di Sumatera Barat ini kemudian diketahui oleh sekelompok pemuda Sungai Kambuik Pulau Punjung yang akhirnya mendatangi kantor Bupati Dharmasraya, menuntut pencekalan terhadap Alex Aan.

Rabu 18 Januari 2012 silam dirinya hampir menjadi bulan-bulanan warga Minangkabau sebelum akhirnya diamankan oleh Polsek Kecamatan Pulau Punjung.

Alex Aan menganggap apa yang ia lakukan dan ia yakini tersebut benar adanya, dengan menambahkan bahwa dirinya telah memikirkan hal tersebut sejak dirinya masih “ingusan” di Sekolah Dasar (SD).

Nuraina, ibu dari atheis Alex Aan, mengatakan bahwa sehari setelah ditahan oleh kepolisian setempat, anaknya telah kembali menjalankan ibadah shalat, minta disyahadatkan serta akan tetap memeluk Islam.

“Udah, mama jangan nangis. Aan ga apa-apa. Biar Aan tanggung ini semua. Mulai saat ini kemanapun Aan pergi, Aan akan tetap memeluk Islam sebagai agama yang diterima masyarakat. Sekarang Aa ingin disyahadatkan lagi,” kata Nuraini kepada wartawan.

13.28
Jakarta, Banyak orangtua moderen saat ini yang mulai memberikan pendidikan seks pada anaknya sejak dini agar si anak paham. Namun yang terjadi banyak orangtua yang salah kaprah tentang pendidikan seks pada anak.

Yang banyak terjadi pendidikan seks yang diberikan orangtua sampai ke hubungan seksual karena maraknya informasi seks di media. Padahal yang lebih dibutuhkan anak adalah pengetahuan tentang jenis kelamin, apa fungsinya, bagaimana merawatnya dan melindunginya.

Pendidikan seks yang benar adalah mengajarkan dan memberikan informasi tentang masalah seksual dengan menanamkan moral, etika, komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan. Karena pendidikan seks merupakan cikal bakal dari pendidikan berkeluarga.

"Tapi saat ini banyak orangtua yang salah kaprah tentang konsep dari pendidikan seks. Seks itu artinya adalah jenis kelamin, jadi pendidikan seks adalah pendidikan tentang jenis kelamin dan bukan tentang hubungan seksual," ujar Sani B Hirawan, MPsi dalam acara konferensi Smart Parents Membantu Orangtua Gali Potensi Anak Pada Golden Periode di Annex Building Wisma Nusantara Complex, Kamis (22/7/2010).

Pendidikan seks tentang jenis kelamin ini juga penting agar anak terhindar dari pelecehan seksual karena orangtua mengajarkan bagaimana melindungi alat kelaminnya.

"Pendidikan seks dimulai sejak dini hingga seseorang menikah. Bagusnya pendidikan seks ini diberikan jika sudah terbangun dialog dua arah antara orangtua dengan anak, yaitu sekitar usia 2-3 tahun," ungkap psikolog dengan 3 orang anak ini.

Saat usia itu anak-anak dimulai dengan penyebutan alat kelamin yang benar, lalu dilanjutkan dengan fungsinya untuk apa. Jika anak sudah mengerti ajarkan bagaimana cara merawat dan memelihara alat kelamin.

Saat berusia remaja, maka pendidikan seks yang diberikan adalah untuk mengetahui bagaimana anak memahami tentang pubertas misalnya tentang mimpi basah, tumbuhnya jakun atau menstruasi untuk anak perempuan.

Saat berusia pranikah, baru pendidikan seks yang diberikan berisi tentang bagaimana melakukan hubungan seks yang sehat. Sedangkan untuk orang yang sudah menikah, maka pendidikan seks yang diberikan adalah bagaimana agar hubungan seks tetap berkualitas.

"Daripada anak mencaritahu sendiri, lebih baik kita atau orangtua yang memberitahu. Karenanya pendidikan seks sebaiknya dimulai sejak kecil sehingga nantinya tidak canggung lagi, terutama jika anak sudah remaja," ujarnya.

Tapi pemberian pendidikan seks ini juga banyak hambatan karena beberapa faktor seperti:

  1. Budaya timur yang cenderung masih tabu dalam membicarakan tentang seks.
  2. Ketidaktahuan orangtua untuk memulai dialog.
  3. Adanya rasa malu dan juga canggung.
  4. Belum memahami sepenuhnya mengenai manfaat yang diperoleh.
  5. Bingung mengenai media atau materi yang akan diinformasikan.
  6. Khawatir anak akan semakin tertarik dengan masalah seksual.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget