Latest Post

18.24
Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?
Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie,
putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu.

Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. http://anehdidunia.blogspot.com

Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan).

Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.
Sultan Hamid II Pencipta Burung Garuda


Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak, Kalbar ini adalah pencipta Burung Garuda. Sultan Hamid juga orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer.

Pontianak: Nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie memang kurang dikenal di Tanah Air. Padahal, tokoh nasional dari Pontianak, Kalimantan Barat ini adalah pencipta lambang negara Indonesia, Burung Garuda.

Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu mayor jendral.

Sultan Hamid membuat lambang negara berdasarkan penugasan Presiden Sukarno pada 1950. Saat itu dia menjabat menteri tanpa porto folio. Rekannya, Muhammad Yamin sebenarnya juga membuat rancangan lambang negara, Namun, Sukarno akhirnya memilih rancangan Sultan Hamid. Setelah disempurnakan, gambar Burung Garuda diresmikan Sukarno sebagai lambang negara pada 10 Februari 1950.

Salinan sketsa Burung Garuda yang tersimpan di Keraton Kadriah, Pontianak ini menunjukkan proses pembuatan lambang negara sangat rumit hingga harus diubah berkali-kali. 

08.53
 

Tab Menu atau Multi Tab ini memiliki bentuk dan warna tampilan yang sama persis dengan Tab Menu atau multi tab yang ada di blog ini. Walau demikian saya akan coba jelaskan lebih detail, dari menambah jumlah menu tab, mengganti warna menu tab baik pada saat aktif ataupun ketika hover, sehingga anda dapat menyesuaikan sendiri dengan tampilan blog anda.

Tutorial ini saya update atas permintaan salah satu sobat blogger yang menginginkan Tab Menu atau  multi tab yang sama dengan yang ada di blog ini. Dan untuk anda yang juga menginginkan Tab Menu atau multi tab ini, anda bisa ikuti langkah - langkah dibawah ini :

Seperti biasa ....
1. Login ke blogger dengan ID anda.
2. Klik Rancangan.
3. Dan KLik tab Edit HTML.
 

4. Cari kode di bawah ini atau yang mirip dengan kode ini :
</head>
5. Copy kode javascript di bawah ini dan taruh tepat sebelum kode </head> :
 
<script type='text/javascript'> //<![CDATA[ document.write('<style type="text/css">.tabber{display:none;}<\/style>'); function tabberObj(argsObj) { var arg; this.div = null; this.classMain = "tabber"; this.classMainLive = "tabberlive"; this.classTab = "tabbertab"; this.classTabDefault = "tabbertabdefault"; this.classNav = "tabbernav"; this.classTabHide = "tabbertabhide"; this.classNavActive = "tabberactive"; this.titleElements = ['h2','h3','h4','h5','h6']; this.titleElementsStripHTML = true; this.removeTitle = true; this.addLinkId = false; this.linkIdFormat = '<tabberid>nav<tabnumberone>'; for (arg in argsObj) { this[arg] = argsObj[arg]; } this.REclassMain = new RegExp('\\b' + this.classMain + '\\b', 'gi'); this.REclassMainLive = new RegExp('\\b' + this.classMainLive + '\\b', 'gi'); this.REclassTab = new RegExp('\\b' + this.classTab + '\\b', 'gi'); this.REclassTabDefault = new RegExp('\\b' + this.classTabDefault + '\\b', 'gi'); this.REclassTabHide = new RegExp('\\b' + this.classTabHide + '\\b', 'gi'); this.tabs = new Array(); if (this.div) { this.init(this.div); this.div = null; } } tabberObj.prototype.init = function(e) { var childNodes, i, i2, t, defaultTab=0, DOM_ul, DOM_li, DOM_a, aId, headingElement; if (!document.getElementsByTagName) { return false; } if (e.id) { this.id = e.id; } this.tabs.length = 0; childNodes = e.childNodes; for(i=0; i < childNodes.length; i++) { if(childNodes[i].className && childNodes[i].className.match(this.REclassTab)) { t = new Object(); t.div = childNodes[i]; this.tabs[this.tabs.length] = t; if (childNodes[i].className.match(this.REclassTabDefault)) { defaultTab = this.tabs.length-1; } } } DOM_ul = document.createElement("ul"); DOM_ul.className = this.classNav; for (i=0; i < this.tabs.length; i++) { t = this.tabs[i]; t.headingText = t.div.title; if (this.removeTitle) { t.div.title = ''; } if (!t.headingText) { for (i2=0; i2<this.titleElements.length; i2++) { headingElement = t.div.getElementsByTagName(this.titleElements[i2])[0]; if (headingElement) {  t.headingText = headingElement.innerHTML;  if (this.titleElementsStripHTML) {    t.headingText.replace(/<br>/gi," ");    t.headingText = t.headingText.replace(/<[^>]+>/g,"");  }  break; } } } if (!t.headingText) { t.headingText = i + 1; } DOM_li = document.createElement("li"); t.li = DOM_li; DOM_a = document.createElement("a"); DOM_a.appendChild(document.createTextNode(t.headingText)); DOM_a.href = "javascript:void(null);"; DOM_a.title = t.headingText; DOM_a.onclick = this.navClick; DOM_a.tabber = this; DOM_a.tabberIndex = i; if (this.addLinkId && this.linkIdFormat) { aId = this.linkIdFormat; aId = aId.replace(/<tabberid>/gi, this.id); aId = aId.replace(/<tabnumberzero>/gi, i); aId = aId.replace(/<tabnumberone>/gi, i+1); aId = aId.replace(/<tabtitle>/gi, t.headingText.replace(/[^a-zA-Z0-9\-]/gi, '')); DOM_a.id = aId; } DOM_li.appendChild(DOM_a); DOM_ul.appendChild(DOM_li); } e.insertBefore(DOM_ul, e.firstChild); e.className = e.className.replace(this.REclassMain, this.classMainLive); this.tabShow(defaultTab); if (typeof this.onLoad == 'function') { this.onLoad({tabber:this}); } return this; }; tabberObj.prototype.navClick = function(event) { var rVal, a, self, tabberIndex, onClickArgs; a = this; if (!a.tabber) { return false; } self = a.tabber; tabberIndex = a.tabberIndex; a.blur(); if (typeof self.onClick == 'function') { onClickArgs = {'tabber':self, 'index':tabberIndex, 'event':event}; /* IE uses a different way to access the event object */ if (!event) { onClickArgs.event = window.event; } rVal = self.onClick(onClickArgs); if (rVal === false) { return false; } } self.tabShow(tabberIndex); return false; }; tabberObj.prototype.tabHideAll = function() { var i; for (i = 0; i < this.tabs.length; i++) { this.tabHide(i); } }; tabberObj.prototype.tabHide = function(tabberIndex) { var div; if (!this.tabs[tabberIndex]) { return false; } div = this.tabs[tabberIndex].div; if (!div.className.match(this.REclassTabHide)) { div.className += ' ' + this.classTabHide; } this.navClearActive(tabberIndex); return this; }; tabberObj.prototype.tabShow = function(tabberIndex) { var div; if (!this.tabs[tabberIndex]) { return false; } this.tabHideAll(); div = this.tabs[tabberIndex].div; div.className = div.className.replace(this.REclassTabHide, ''); this.navSetActive(tabberIndex); if (typeof this.onTabDisplay == 'function') { this.onTabDisplay({'tabber':this, 'index':tabberIndex}); } return this; }; tabberObj.prototype.navSetActive = function(tabberIndex) { this.tabs[tabberIndex].li.className = this.classNavActive; return this; }; tabberObj.prototype.navClearActive = function(tabberIndex) { this.tabs[tabberIndex].li.className = ''; return this; }; function tabberAutomatic(tabberArgs) { var tempObj, divs, i; if (!tabberArgs) { tabberArgs = {}; } tempObj = new tabberObj(tabberArgs); divs = document.getElementsByTagName("div"); for (i=0; i < divs.length; i++) { if (divs[i].className && divs[i].className.match(tempObj.REclassMain)) { tabberArgs.div = divs[i]; divs[i].tabber = new tabberObj(tabberArgs); } } return this; } function tabberAutomaticOnLoad(tabberArgs) { var oldOnLoad; if (!tabberArgs) { tabberArgs = {}; } oldOnLoad = window.onload; if (typeof window.onload != 'function') { window.onload = function() { tabberAutomatic(tabberArgs); }; } else { window.onload = function() { oldOnLoad(); tabberAutomatic(tabberArgs); }; } } /* Run tabberAutomaticOnload() unless the "manualStartup" option was specified */ if (typeof tabberOptions == 'undefined') { tabberAutomaticOnLoad(); } else { if (!tabberOptions['manualStartup']) { tabberAutomaticOnLoad(tabberOptions); } } //]]> </script>
 
6. Kemudian Copy juga kode CSS di bawah ini dan taruh tepat setelah kode javascript diatas, atau sebelum kode </head> :
 
<style  type='text/css'> .tabberlive{ margin-left:0px; margin-right:0px; padding-left:5px; padding-right:5px; padding-top:6px; padding-bottom:5px; clear:both; background:#fff  url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUx17Vf4Odgn_LFW_ChCLa9OA11Z4zbwHncjoXlQsTNazD3P3RTtVj4sCxJLOQFbCYV7Oph-ZvvYGSs4Nr-fDwXtHvOA0gvoekCWoJi0lLib18s3jcWTbYhxymrKD-0_ZsSdMVVcDrODY/h1600/bg_post.jpg)  top left repeat-x; border:1px solid #DDD; } .tabbernav { list-style:none; list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:0px; padding-top:7px; font-family:Arial,Helvetica,sans-serif; font-size:12px; font-weight:bold; }   .tabbernav li { list-style:none; list-style-type:none; width:20%; margin-right:1px; margin-bottom:0px; display:inline; }  .tabbernav li a { padding-top:7px; padding-bottom:7px; padding-left:6px; padding-right:6px; list-style:none; list-style-type:none; margin-right:1px; background:#3e5fa2; text-decoration:none; color:#ffffff; outline:none;  } .tabbernav li a:hover { list-style:none; list-style-type:none; color:#000; background:#7290ce url() center left no-repeat; text-decoration:none; outline:none; }  .tabbernav li.tabberactive a, .tabbernav li.tabberactive a:hover { list-style:none; list-style-type:none; background:#fff; color:#3e5fa2; outline:none; padding-bottom:22px; padding-left:6px; padding-right:6px; border-right:2px solid #ddd; border-left:2px solid #ddd; border-top:1px solid #ddd; }  .tabberlive .tabbertab {  margin-top:0px; margin-left:0px; margin-right:0px; padding-top:5px; padding-left:6px; padding-right:6px; padding-bottom:5px; background:#fff; border:2px solid #ddd; }  .tabberlive .tabbertab h2, .tabberlive .tabbertabhide { display:none; }  .tabbertab .widget-content ul{ margin-top:5px; margin-left:5px; padding:0px; background:#fff  url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUx17Vf4Odgn_LFW_ChCLa9OA11Z4zbwHncjoXlQsTNazD3P3RTtVj4sCxJLOQFbCYV7Oph-ZvvYGSs4Nr-fDwXtHvOA0gvoekCWoJi0lLib18s3jcWTbYhxymrKD-0_ZsSdMVVcDrODY/h1600/bg_post.jpg)  top left repeat-x; }  .tabbertab .widget-content ul a:hover{ text-decoration:none; background: #fff  url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipTUjMzLOYid3kw_LzNFYjTl0-nUuDJFA7omSNotYzfUTKg7ruEg7x2nMoal0Sgyf5Eeo1rqwdabslX1DxCSIOsJV0cp5u54NnWJw2zzIgJ27eZgXPcdOkMdq9OQD9kW6hv3eiPblWFjg/h1600/bg_menu.jpg)top  repeat-x; }  .tabbertab .widget-content li { color:#488040; border-bottom:1px solid #ddd; margin:0 5px; padding:5px; } </style>
 
7. Pada langkah ini saya contohkan tab menu diletakkan pada bagian sidebar. Silahkan anda cari pada bagian sidebar, pada blog ini kodenya seperti berikut :
 
<div id='rsidebar-wrapper'>
 
Catatan :
  • Setiap template memiliki kode yang berbeda (biasanya mirip-mirip)
  • Anda juga bisa meletakkan pada bagian tengah atau bagian "main-wrapper"
8. Letakkan kode HTML dibawah ini setelah kode diatas (dibagian Sidebar) :
 
<div class='tabber'>

<div class='tabbertab' id='tab1'>
<h2>TAB MENU 1</h2>
<b:section class='sidebar101' id='sidebar101' preferred='yes'>
<b:widget id='HTML101' locked='false' title='' type='HTML'/>
</b:section>
</div>
<div class='clear'/>

<div class='tabbertab' id='tab2'>
<h2>TAB MENU 2</h2>
<b:section class='sidebar102' id='sidebar102' preferred='yes'>
<b:widget id='HTML102' locked='false' title='' type='HTML'/>
</b:section>
</div>
<div class='clear'/>

<div class='tabbertab' id='tab3'>
<h2>TAB MENU 3</h2>
<b:section class='sidebar103' id='sidebar103' preferred='yes'>
<b:widget id='HTML103' locked='false' title='' type='HTML'/>
</b:section>
</div>
<div class='clear'/>

</div>
<div style='clear:both;'/>
 
Catatan :
  • Teks warna biru adalah Judul tab menu.
  • Untuk membuat judul tab menu, saran saya gunakan kata yg singkat, disesuaikan dgn lebar sidebar blog anda.
  • Warna HijauCoklat, dan ping pada kode diatas adalah bagian setiap tab menu.
9. SIMPAN TEMPLATE.

Langkah selanjutnya anda tinggal mengisi tab menu dengan gadget yang anda suka. Langsung saja anda menuju "ELEMEN LAMAN", dan berikut tampilan gambar tab menu atau multi tab pada elemen laman yang baru saja anda buat  :
 
Nah.... selesai, mudah - mudahan penjelasan diatas membantu.

Selamat mencoba dan Semoga bermanfaat....
Jangan lupa luangkan waktu untuk beri komentar ya......terima kasih
 

13.32
sby rep thumb1 Soal tempe, SBY banjir SMS
JAKARTA--Makanan khas rakyat Indonesia, tempe dan tahu, mendadak ramai diperbincangkan. Bukan hanya kalangan petani, tapi kelangkaan komoditi tersebut juga sampai mengganggu ketenangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.
“Saya dan Ibu Ani banyak terima sms. Bahkan setelah sahur dini hari ini juga masih menerima sms. Para menteri juga begitu. (Semuanya) masalah tempe,” kata SBY dalam jumpa pers di Kementrian Perindustrian, Jumat (27/7).
SBY menjelaskan, kondisi saat ini bukan kehendak pemerintah. Melainkan karena produksi di luar negeri khususnya di AS yang berpengaruh pada ketersediaan kedelai dalam negeri. AS mengalami musim kering terburuk dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Kondisi ini pun berimbas pada negara-negara pengimpor kedelai. Bukan hanya Indonesia , tapi juga Tiongkok yang masih impor kedelai hampir 60 persen dari negeri Paman Sam itu. Sebagai antisipasi, pemerintah kata SBY berusaha mengawal harga meski tidak bisa menghindari kenaikan.
Saat ini kata SBY, pemerintah telah menggratiskan bea masuk kedelai impor. Untuk itu diharapkan para importir kedelai bersama-sama memikirkan nasib rakyat, dengan menurunkan harga kedelai.
“Jangan didominasi oleh mereka yang disebut kartel. Tolonglah bersama pemerintah pikirkan rakyat. Saya minta kita semua mengawasi,” seru SBY.
Menanggapi masalah adanya kartel, SBY minta hukum untuk ditegakan bila terbukti. Sedangkan masalah sweeping kedelai yang pernah nyaris rusuh di Jakarta, SBY meminta hal tersebut tidak perlu terulang kembali.
“Saya menghargai kepedulian asosiasi tahu dan tempe, tapi menurut saya tidak perlu melakukan sweeping karena itu bukan solusi. Bersama pemerintah mari kita atasi masalah tanpa sweeping,” kata SBY.
SBY menjelaskan, Indonesia setiap tahunnya membutuhkan 2,5 juta ton kedelai. Sementara produksi kedelai dalam negeri hanya 800 ribu ton. Karena itu, Indonesia masih harus impor sekitar 1,5 hingga 1,8 juta ton. Kondisi ini dinilai tidak baik dan harus dipikirkan solusi guna meningkatkan produksi dalam negeri.
“Pemerintah sedang memikirkan upaya-upaya jangka menengah dan panjang guna meningkatkan produksi kedelai kita,” ungkap SBY.

13.12 ,
Ruhut Sitompul thumb3 Ruhut berpesan kepada AHOK agar tidak peralat umat KristianiRuhut berpesan kepada AHOK agar tidak peralat umat KristianiJakarta – Ketua DPP Partai Demokrat, Ruhut Sitompul berpesan kepada Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama atau yang dikenal Ahok untuk tidak memperalat umat Kristen dalam upaya memenangkan Pemilukada Jakarta. Pasalnya hal itu akan menimbulkan kesan tidak baik.
Menurutnya, Ahok telah mengumbar janji yang sudah mengarah ke unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) demi mendapatkan simpati yang mengatasnamakan agama. Seperti halnya janji Ahok yang akan mempermudah pemberian izin pendirian gereja di Jakarta. “Kampanye boleh, tapi jangan SARA,” ujarnya, pada Jumat (20/7/2012) lalu.
Ruhut juga berpesan kepada Ahok, agar jangan sok berkuasa. Karena itu ia mengajak untuk saling menghormati umat beragama di Indonesia.
Pernyataan tersebut terlihat sangat berkaitan dengan pesan yang beredar melalui BlackBerry Messenger (BBM) yang berisi tentang Short Message Service (SMS) yang disebar oleh Ahok kepada kelompok Cina dan oranag-orang Kristen untuk meraih kemenangannya dalam Pemilukada Jakarta.
Berikut adalah isi pesan tersebut,
“Ini SMS Ahok kepada kelompok Cina dan orang Kristen, dlm rangka utk pemenangannya :
1. Teman seiman yg dikasihi Tuhan Yesus, Mari sama2 kita rapatkan barisan menjaga kekristenan kita dgn memiih no 3, dan Tuhan Yesus pasti menolong kita.
2. Kuasa Salib di depan mata. Pilih Ahok, Iman kristen kita pasti terjaga
3. Kasih Tuhan dan kuasa Gereja akan terbukti setelah 20 September 2012 Satukan barisan buat Jokowi-Ahok
4. Hadirkan Kuasa Yesus di Jakarta dan kita kalahkan kesombongan muslim. Pilih No 3
5. Mari rapatkan barisan gereja, kita menuju kemenangan No. 3
6. Kita pasti menang, Ahok pasti jadi Gubernur setelah Jokowi menjadi Wapres
7. Jokowi se-iman dg kita, jangan kuatir. Kristen bersatu memenangkan Jakarta
8. Kalbar dan kalsel sdh di tangan kita, kristen berkibar di Indonesia dimulai dari Jakarta. Pilih Ahok dan jangan ragu. Tuhan Yesus bersama kita
9. Kristen dan Katholik bersatu memenangkan Jakarta Satu
10. Cristian Center pasti terwujud menyambut kemenangan jokowi Ahok
11. Kita belajar dari Singapura, Cina kuasai melayu. Jakarta milik kita
12. Masa’ sih cuma Islamic Center, Kapan Cristian Center terbentuk? Jangan tunda lagi, pilih Jokowi-Ahok. Cristian Center pasti terwujud”.

Namun hingga saat ini pihak dari Cagub dan Cawagub DKI Jakarta dengan nomor urut 3 tersebut, belum bisa dikonfirmasi.

06.33 ,
Dalam wawancara dengan Presiden AS George W. Bush dengan jaringan ABC dan dalam menanggapi pertanyaan tentang keabsahan Alkitab secara harfiah, ia tidak menjawab,

Bagaimana seseorang bisa diyakinkan bahwa kelinci adalah binatang yang memamah biak, atau bahwa ada seekor burung dengan empat kaki... dan ribuan lainnya kontradiksi dan mitos?Hal tersebut Telah memaksa banyak dari mereka Kristen yang termakan doktrin tahayul..







Sebuah saluran televisi baru di Mesir dikelola dan dijalankan secara ekslusif oleh perempuan berjilbab cadar untuk melawan diskriminasi.
 
Abeer Shahin lulus dari American University yang bergengsi di Kairo, namun sulit mendapatkan pekerjaan karena para calon atasan keberatan dengan penampilannya yang menggunakan jilbab bercadar, atau niqab.

Namun sekarang ia telah menemukan pekerjaan yang ia harap akan mengubah pandangan masyarakat Mesir akan pengguna niqab. Shahin akan bekerja sebagai penyiar televisi pada saluran baru yang dikelola dan dijalankan secara eksklusif oleh para perempuan yang memakai jilbab bercadar.

“Tidak adil jika perempuan berjilbab hanya diidentikkan dengan ibu rumah tangga relijius. Padahal ia bisa jadi dokter, profesor dan insinyur,” ujar Shahin, yang memakai gamis longgar hitam serta jilbab dan cadar hitam yang hanya menampakkan matanya.

“Saya diberitahu bahwa menjadi penyiar TV memakai niqab tidak akan berhasil karena bahasa tubuhnya. Tapi suara saya dapat menyampaikan emosi dan reaksi,” tuturnya.

Di era baru kemerdekaan di Mesir setelah kekuasaan Hosni Mubarak, perempuan bercadar yang telah lama tertindas secara sosial dan politik berharap memiliki tempat baru dalam masyarakat.

Meskipun mayoritas masyarakat Mesir adalah Muslim dan sangat konservatif, pemakai niqab mengatakan bahwa mereka mengalami diskriminasi dalam pasar kerja, pendidikan dan yang lainnya.

Ada beberapa peristiwa dimana beberapa dari mereka bahkan dilarang mengikuti ujian universitas.

Shahin berharap saluran TV baru, yang akan diluncurkan akhir pekan ini seiring dengan hari pertama bulan Ramadan, akan menunjukkan  bahwa “ada perempuan-perempuan pemakai niqab yang sukses.”

Berkantor di sebuah apartemen kecil di daerah kelas pekerja di Abassiya, Maria TV mengambil namanya dari perempuan Kristen Koptik yang menikah dengan Nabi Muhammad.

Tiga perempuan bercadar tampak duduk di dalam ruangan, bersiap menyerahkan lamaran kerja mereka, sementara yang lainnya sedang menerima pelatihan sebelum peluncuran saluran tersebut.

Kelompok Islamis telah bergerak ke jantung kehidupan politik dan pemerintahan sejak Mubarak didongkel dari kekuasaan tahun lalu. Namun menurut para pendiri Maria TV, hal itu tidak ada hubungannya dengan stasiun TV mereka, yang telah direncanakan sejak 2008.

Maria TV akan siaran selama enam jam per hari di saluran al-Ummah, stasiun televisi relijius yang dikelola oleh kelompok Salafi yang sangat ortodoks dan telah muncul sebagai kekuatan politik sejak Mubarak diturunkan.

“Saya yakin akan ada yang menyerang kami. Orang-orang akan berkata, ‘Mengapa tidak membuat stasiun radio saja?” ujar Shahin. “Hal ini menunjukkan adanya pengucilan sebuah sektor dalam masyarakat yang tidak seharusnya terjadi.” (Reuters/Tamim Elyan) 

Seorang ulama Muslim dari Tatarstan, Rusia, ditembak mati dan seorang luka-luka dalam serangan bom di kota besar daerah itu, Kazan, Kamis (20/7).
 
Ulama dari Tatarstan, Ildus Faizov, luka-luka dalam ledakan bom mobil, dan mantan wakilnya Valiulla Yakupov, ditembak mati di luar rumahnya dalam serangan yang terlihat terkoordinasi.


Ildus Faizov, ulama Tatarstan mengalami luka-luka dalam ledakan mobil di Kazan, 700 kilometer sebelah timur Moskow (14/7).
​​Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu merupakan tanda yang serius atas ketegangan yang meningkat di wilayah itu. Ia memerintahkan dinas keamanan negara untuk mencari dan menghukum orang-orang yang bertanggung-jawab.

Pihak berwenang Rusia mengatakan mereka telah menahan empat orang yang dicurigai melakukan serangan tersebut..

Para penyelidik yang berbasis di Moskow mengatakan mereka yakin kedua ulama itu diserang karena menganjurkan praktek-praktek Islam moderat dan melawan penyebaran radikalisme ke Tatarstan dari daerah Kaukasus yang lebih rawan di Rusia selatan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget