Latest Post

23.38
Gema takbir di malam Idul Fitri 20 tahun silam, menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimat yang mengagungkan sang Khalik itu membuatnya merinding.

Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan memeluk Islam.

''Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu saya memeluk Islam,'' ujar ayah dua anak itu kepada Republika di sela-sela acara pengajian yang digelar Mushala Al-Muhajirin, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Tak hanya gema takbir yang membuatnya memeluk Islam. Suara azan yang berkumandang lima kali sehari juga menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha catering terkemuka di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

''Makanya, malam takbiran saya nggak di Bali. Biasanya ke Jakarta. Metua saya di Ciputat,''papar suami dari Indriani Kuntowati itu menjelaskan.

David hijrah ke Indonesia bersama orang tuanya pada 1980-an. Kedua orang tuanya mencoba berbagai usaha hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam.

Seperti halnya Presiden Amerika Serikat Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan masyarakat Menteng Dalam.

Ia amat bersyukur menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, mualaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai serta mengamalkan ajaran Islam.

''Itu, karena para mualaf menyadari Islam agama terbaik,'' ungkap aktivis tadabbur Alquran bersama Ar-Rahman Quranic Learning Center Bali. Ia mengatakan untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orang tua harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, kata dia, orang tua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tidak melakukannya. Padahal, contoh terbaik dimulai dari orang tua di rumah.

Kebaikan apa saja, kata David, bila dicontohkan orang tua dengan baik, akan diikuti anak. Kalau cuma perintah dan orang tua tidak melakukannya, sulit dilaksanakan dengan baik.

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya diikuti kedua anaknya.

Bersama putranya waktu itu, ia berhasil mewujudkan mushala di sekolah anaknya waktu itu. ''Alhamdulillah, ini semua berkat rahmat Allah SWT, sehingga memudahkan siapa pun melaksanapakan ibadah,'' ungkap David penuh syukur.

Apa kesan David tentang umat Islam Indonesia? Secara jujur ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam Indonesia masih memandang seseorang dari materi dan penampilan.

''Contohnya, saya pakai gamis, orang pikir saya ustaz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau menjawab.”

David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum memahami dan mengamalkan tuntunan Alquran. ''Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih, nggak malu,” ujarnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat Subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat.

''Bisa jadi, karena Muslim di Bali masih minoritas,'' ujar David yang aktif mengikuti pengajian di berbagai masjid dan majelis taklim.

Menurut dia, bukanlah suatu yang mustahil, kelak Bali menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa pendapatnya terhadap peristiwa Bom Bali beberapa waktu lalu yang menewaskan banyak orang? David mengaku merasakan sedih yang luar biasa.

''Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang waktu itu bilang, ‘Wah Pak, nanti mobilnya bawa sial!’  Wallahu a’lam. Saya bilang, yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi, berkat gotong royong masyarakat di Bali, Alhamdulillah lancar.  

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. David yang sejak 20 tahun lalu memeluk Islam itu saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim dan melaksanakan shalat Jumat, bersama rekan-rekannya yang aktif di pengajian Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Center Bali, pria kelahiran 9 Februari 1972 ini membagikan nasi bungkus.

''Alhamdulillah, secara rutin saya dan kawan-kawan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,” papar David penuh syukur.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar penuh semangat berbagi usai shalat Jumat?  Berdasarkan pengalamannya, kata dia, usai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, jam istirahat baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, banyak jamaah salat Jumat terburu-buru keluar masjid untuk makan siang dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Dengan kegiatan itu, ia dan kawan-kawannya berusaha mengajak jamaah shalat Jumat untuk tetap di masjid usai shalat, bersilaturahim sekaligus makan siang.

Caranya? ''Nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap ayah dari Adam Arthur Scherer dan Andrea Kirana Scherer bahagia.

Untuk bisa bersilaturahim ke 200 masjid yang ada di Denpasar, David membutuhkan waktu selama empat tahun. ''Itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa berkeliling ke seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

David merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa bisa bersilaturahim sekaligus makan siang bersama jamaah shalat Jumat di berbagai masjid yang dikunjunginya. 

Sumber : ROL
Redaktur : Damanhuri Zuhri

TEL AVIV -- Zionis Israel mengaku telah melakukan serangan militer ke Suriah.  Menteri Peperangan Rezim Zionis Israel, Ehud Barak dalam Konferensi Keamanan Munich secara tersirat membenarkan adanya serangan jet tempur ke Suriah.

Barak menyatakan serangan itu ditujukan untuk mencegah relokasi sistem militer canggih Suriah ke Lebanon.

Laman Irib mengutip FNA dan Koran Yediot Aharonot melaporkan, Barak secara tersirat hari ini membenarkan serangan pesawat tempur Tel Aviv ke Suriah.

"Saya tidak dapat menambahkan apapun terkait peristiwa beberapa hari lalu di Suriah yang Anda baca dari berbagai media. Saya secara transparan dan seperti yang sebelumnya saya katakan, kami berpendapat bahwa harus dicegah proses relokasi sistem militer canggih dari Suriah ke Lebanon, '' ujarnya seperti dikutip laman Irib dari sebuah surat kabar Israel.

Jet-jet tempur Israel Rabu pekan lalu melanggar zona udara Suriah dan menyerang sebuah pusat riset militer. Agresi ini menewaskan serta menciderai tujuh orang. Media Zionis mengutip sumber-sumber militer mengklaim, serangan ini ditujukan untuk menghancurkan kiriman militer Suriah ke Lebanon.

Ehud Barak kembali mengklaim Bashar al-Assad, Presiden Suriah dalam waktu dekat akan lengser dan ini bakal menjadi pukulan telak bagi Republik Islam Iran.

DAMASKUS -- Ketegangan Israel dan Suriah kembali terbuka. Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan Otoritas Yahudi di Tel Aviv mencari gara-gara dengan mengirimkan jet tempur masuk ke wilayahnya.

Assad mengatakan serangan jet tempur zionis beberapa waktu lalu adalah agresi dan ajakan perang. ''Kami sanggup menghadapi ancaman ini,'' kata Assad, saat menjamu Sekretaris Keamanan Iran, Saeed Jalili, di ibu kota, Damaskus, Ahad (3/2).

Satu skuadron jet tempur Israel nekat menyeberang ke perbatasan Suriah, Rabu (30/1). Burung besi pembunuh itu menghantam perkampungan di Jamraya. Dua warga tewas dalam insiden dini hari waktu setempat itu. Sedangkan lima lainnya terluka parah.

Israel mengatakan serangan tersebut adalah keharusan dan pembelaan diri dari ancaman. Negara Yahudi itu menyinyalir adanya konvoi militer Suriah menuju Lebanon. Rombongan itu, menurut laporan Aljazirah, mengangkut persenjataan berat di dekat dataran Tinggi Golan. Israel curiga konvoi adalah kegiatan transfer persenjataan canggih milik rezim ke tangan Hizbullah.

Konvoi tersebut dikatakan membawa rudal SA-17 buatan Rusia. Rudal canggih itu semula barang hibah dari Moskow untuk rezim di Damaskus.

Posisi Assad yang mulai lemah lantaran perang sipil, membuat rezim 12 tahun itu mengalihkan sistem persenjataannya ke Faksi Syiah di Lebanon. Transfer persenjataan diduga untuk mengimbangi kekuatan persenjataan Israel.

Alasan tersebut dimentahkan Assad. Kata dia, serangan sepihak itu menargetkan Pusat Penelitian Militer Suriah. Sebanyak 12 unit pesawat itu juga melepaskan peluru kendali di Perkampungan Nabi Chat. Target sasaran adalah wilayah yang saling diperebutkan antara rezim dan pemberontak. Assad meyakini, serangan tersebut adalah untuk memperkeruh situasi sekaligus membantu kelompok pemberontak.

Rusia mengecam serangan tersebut. Kremlin meminta Israel tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Suriah. Kementerian Luar Negeri di Moskow mengatakan serangan terhadap negara berdaulat adalah pelanggaran hukum internasional. Kegeraman juga dinyatakan Hizbullah. Fraksi Syiah di Lebanon ini mengatakan siap membantu Suriah untuk membalas setiap agresi militer zionis Israel. 

Sumber : ROL
Reporter : Bambang Noroyono
Redaktur : Dewi Mardiani

YOGYAKARTA -- Kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan data Forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (PK2PA) DIY pada tahun 2010 setidaknya ada 1.305 kasus kekerasan yang ditangani. Sementara pada tahun 2011 meningkat menjadi 1.666 kasus.

Sebagian besar kekerasan tersebut merupakan kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan  korban kekerasan 87 persen dialami perempuan.

“Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di DIY tidak hanya menunjukkan peningkatan dalam kuantitas, tapi juga kualitas. Misalnya kasus kekerasan yang dialami pelajar SMA di Wonosari,” terang Ketua Umum Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) DIY GKR Hemas usai peresmian Gedung Pusat Pelayann Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) Rekso Dyah Utami Jumat (1/2).

Pihaknya menyadari ke depan persoalan-persoalan perlindungan perempuan dan anak tidak mudah, karena kasus yang muncul makin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan Forum dari segi SDM, sistem dan anggaran tidak sedikit.

Untuk menekan kasus kekerasan itu diperlukan sosialisasi dan pemahaman agar berani melapor. Pihaknya akan memanfaatkan jaringan forum penanganan kekerasan yang sudah dibentuk di masing-masing daerah. Sosialisasi tentang penanganan korban kekerasan juga menjadi tugas kepala daerah.

“Ini juga menjadi kewajiban  masyarakat dan semua stake holder. Baik di bidang pendidikan, Kepolisian dan PKK. Ke depan kami juga memaksimalkan kinerja FPKK dalam koordinasi, pelayanan korban kekerasan agar cepat dan tepat serta memenuhi unsur keadailan,”  papar Hemas.

Pelayanan P2TPA Rekso Dyah Utami yang berada di bawah Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) sendiri tidak sebatas memberikan pendampingan psikologis. Kabid Perlindungan hak-hak Perempuan BPPM DIY Sri Maryani mengatakan pelayanan juga berupa advokasi, layanan medis dan kerohanian.  Bagi anak-anak juga menyediakan konsultasi layanan Telepon Sahabat Anak di no 129.

Sosialisasi dan pemahmanan tentang kekerasan perempuan juga terus dilakukan di forum tingkat kabupaten dan kecamatan. “Kami juga menyediakan shelter untuk keamanan korban kekerasan dengan pendampingan secara gratis,” kata Sri Maryani.

Sementara itu Ketua Forum Penggerak PKK Kota Yogyakarta, Tri Kirana Muslidatun mengatakan, sudah memiliki kader pendamping korban kekerasan di tiap RW. Di tingkat kecamatan juga akan dibentuk forum penanganan korban kekerasan.

“Kader ini tidak hanya menunggu laporan, tapi juga melakukan jemput bola. Memberikan pemahaman bagi warga yang sebenarnya tidak sadar  dirinya menjadi korban kekerasan,” tandasnya.

08.54 , ,
WASHINGTON -- Sebuah laporan kongres Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menyebut peretas Cina telah meningkatkan serangan terhadap perusahaan-perusahaan asing dan lembaga pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Cina telah menjadi aktor paling mengancam di dunia maya.

Dikutip dari voanews, Jumat (1/2), peretas Cina juga diyakini telah memata-matai pemerintah AS dan kegiatan militer. Laporan itu juga mengatakan, Cina sering memilih mencari celah ketika ‘Hacktivists’ atau penjahat cyber independen, melakukan serangan terhadap bisnis AS atau kepentingan pemerintah. Laporan itu juga menyebutkan, masalah ini diperumit dengan perusahaan milik negara di Cina, sering menggunakan peretas untuk mencuri rahasia  untuk mendapatkan keuntungan dari pesaing asing.

Para pejabat AS dalam beberapa bulan terakhir telah memperingatkan ancaman mengerikan yang ditimbulkan oleh peretas komputer asing, termasuk di Cina.  Untuk mengatasi ancaman, AS meningkatkan kekuatan personel keamanan cyber menjadi lebih dari 4.000 orang.

DAMASKUS - Setidaknya 68 pria yang terdiri dari pemuda dan remaja tewas dieksekusi dengan tembakan di kepala dan leher di kota Aleppo, Suriah. Mayat-mayat tersebut ditemukan di sungai Quweiq, yang memisahkan kota Bustan Al-Qasr kabupaten Ansari di barat daya kota Suriah.

Seperti dilansir AFP, Rabu (30/1), seorang kapten Tentara Suriah, Abu Sada di tempat kejadian mengatakan, sedikitnya 68 mayat telah ditemukan dan masih banyak lagi korban yang harus diseret dari dalam air.

"Sampai sekarang kami telah mengangkut 68 mayat, sebagian dari mereka remaja. Tapi masih ada 100 orang lagi di dalam air dan kami berusaha untuk memulihkan mereka," ujar kapten Abu Sada.

Seorang relawan sambil membantu memuat salah satu mayat di truk mengatakan ,"Kami tidak tahu siapa mereka karena tidak ada ID pada mereka,". Setidaknya 15 mayat sudah diangkut ke dalam truk. Abu Sada mengatakan, mereka akan dibawa ke rumah sakit agar para keluarga dan kerabat dapat mengidentifikasi mereka. "Bagi yang tidak teridentifikasi akan dimakamkan di pemakaman umum," katanya.

Pekan lalu, organisasi aktivis Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan lebih dari 100 orang dibantai di kota Homs oleh pasukan rezim pemerintah Suriah. Menurut laporan yang dikutip Reuters, para korban ditembaki, ditikam atau dibakar hingga tewas oleh para tentara Presiden Bashar al-Assad.

Menurut organisasi yang berbasis di Inggris ini, sebanyak 106 tewas terbunuh, termasuk wanita dan anak-anak di wilayah Basatin al-Hasawiya, pinggiran kota Homs, Selasa pekan lalu.

Pembantaian ini terjadi berbarengan harinya dengan dua ledakan di kampus Aleppo yang  menewaskan lebih dari 80 orang. Hal ini akan memperparah kondisi warga di Aleppo yang juga sedang berjuang melawan dingin di musim salju.

Aktivis mengatakan di antara para korban adalah keluarga besar Khazam yang berjumlah 17 orang. Rumah mereka di Basati al-Hasawiya dibom oleh pasukan Suriah. "Organisasi kami telah mempublikasikan nama 14 orang dalam satu keluarga, termasuk tiga anak kecil, dan kami dapat informasi satu keluarga besar terbunuh," ujat Rami Abdelrahman, kepala Syrian Observatory for Human Rights.

Banyaknya korban tewas tidak ayal akan memperpanjang angka kematian yang dirilis PBB beberapa waktu lalu. Menurut laporan PBB, sejak 22 bulan konflik, telah lebih dari 60.000 orang yang tewas.

Pemerintah Assad bergeming dengan tuntutan internasional dan menolak menyerahkan tampuk kekuasaannya pada kehendak rakyat. Dengan dalih menggempur sarang pemberontak, dia dengan bala tentaranya membunuh warga sipil, termasuk anak-anak tidak berdosa. dtc, viv

MALI.AFRIKA. – Kamis (31/01/13) diberitakan oleh media – media lokal bahwa tentara Negro yang  berafiliasi kepada tentara Perancis, yang melancarkan perang terhadap kaum muslimin di Mali Utara, melakukan pembantaian terhadap anak – anak dan membakar madrasah – madrasah tahfiz Al-Qur’an.

Sebuah pernyataan yang dilansir oleh surat kabar Aljazair, Alsyuruq, menegaskan bahwa milisi ini melakukan “pembersihan” etnis penduduk Arab lokal dan Tuarek. Mereka dibantai karena satu alasan, mujahidin masuk kota mereka atau mereka membantu mujahidin.

Pernyataan tersebut mengutip dari para saksi di daerah Diabala yang mengatakan bahwa orang – orang Negro yang bersenjata itu mendatangi desa dengan mengendarai mobil militer Kamis pagi, mencari keluarga – keluarga dari etnis Arab dan Tuarek. Mereka membunuh beberapa orang dan menculik wanita.
“kami bangun dan kaget yang membuat kami keluar dari rumah kami. Kami mengira bahwa ada pembantaian penduduk desa. Terutama karena tentara Mali tahu bahwa mereka sebelumnya menerima kedatngan para islamis dan mereka tinggal di desa kami beberapa hari serta kami tidak melihat dari mereka kecuali kebaikan dan keadilan. Dan setelah itu, kami tahu bahwa peritiwa itu terjadi pada tetangga kami, keluarga Khairi walad Hama, dan kami mendengar teriakan dan tangisan” tutur salah seorang saksi mata.
“Darah orang Arab dan Tuarek ditumpahkan dihadapan dunia dan tidak ada yang bergerak. Mereka (milisi) menggap telah membebaskan Mali utara dari pejuang Islami, tapi sungguh mereka telah memberikan kerusakan, kehancuran dan pembantaian kepada kami….. Sekarang mereka datang dengan menggunakan pakaian tentara Mali bersama milisi dan beberapa orang kulit putih berbahasa Inggris. Mereka merusak pintu rumah dan berbuat kerusakan di dalamnya. Mereka mengumpulkan remaja, yang berusia kurang dari 18 tahun, kemudian mereka bunuh tanpa belas kasih. Mereka juga menghancurkan tempat – tempat belajar Al-Qur’an, merusak mushaf dan papan tulis dari kayu. Setelah itu mereka keluar meninggalkan desa” tambah saksi mata tersebut. (usamah/dbs)

VOA

Islamfobia mulai menyebar luas di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Swiss, Belanda, dan Spanyol. Mulai pertengahan tahun ini, berbagai tindakan rasial menyudutkan umat Islam di sana. Kelompok hak asasi Amnesty International melansir fakta mengejutkan, banyaknya muslim memakai atribut agamanya seperti jilbab atau memelihara janggut mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Masyarakat Eropa memandang Islam sebagai kanker harus dimusnahkan. Perempuan muslim dan anak-anak menggunakan busana tertutup dilarang bersekolah, bahkan kaum hawa berjilbab tidak bisa mendapat pekerjaan, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (11/12).

Kondisi tidak jauh berbeda juga terjadi pada lelaki muslim di sejumlah negara Eropa. Mereka menumbuhkan janggutnya langsung dipecat dari pekerjaan. Banyak perusahaan melarang penggunaan budaya atau simbol keagamaan dengan alasan menganggu citra perusahaan. "Ini bertentangan dengan hukum Uni Eropa melarang diskriminasi dengan alasan agama dan keyakinan dalam hal pekerjaan. Mereka tidak menanggapi ini dan pengangguran umat muslim semakin tinggi," ujat Marco Perolini, pakar diskriminasi dari Amnesty Internasional seperti dilansir BBC (24/4).

Di Prancis tindakan rasis ini dalam batas mengkhawatirkan, seperti dilansir situs france24.com. Lembaga nasional untuk menangani Islamfobia mencatat para anti-Islam tahun ini meningkat menjadi 42% dibanding 2011.

Ketua lembaga untuk penanganan Islamfobia Abdullah Zekri mengatakan kenaikan kasus rasial pada umat muslim ini lantaran kebangkitan sayap kanan Partai Front Nasional Anti-Imigran dan majunya sang ketua Marine Le Pen ke parlemen dengan perolehan suara cukup tinggi yakni 17,9 persen.

Zekri juga menuding pemerintah Prancis sengaja memelihara ketegangan rasial ini dengan meluncurkan perdebatan. Masih segar dalam ingatan saat mantan Presiden Nicolas Sarkozy mengeluarkan pernyataan mengenakan cadar bukan budaya Negeri Anggur itu. Ini membuat Prancis terpecah menjadi dua kubu dan lebih banyak mereka yang anti-Islam.

Pandangan sengit ke arah muslim ketambahan saat kelompok teroris Al-Qaidah membunuh tujuh orang di Kota Toulouse, Maret lalu, termasuk seorang rabi dan tiga bocah Yahudi. "Peristiwa ini membuat tokoh politik menargetkan kekerasan pada kelompok muslim, padahal kami juga mengutuk pembunuhan ini," ujar Zekri.

Zekri tengah mengusulkan mereka phobia Islam mendapat ganjaran hukuman sama seperti mereka anti-semit di Prancis. Kekerasan pada agama mana pun tidak dibenarkan dan harus mendapat pengadilan sesuai.

Setali tiga uang, Swiss pernah melarang pembangunan menara-menara masjid baru tiga tahun lalu lantaran tidak cocok dengan budaya setempat. Baru belakangan setelah pegiat anti-Islam dari Partai Sayap Kanan Swiss (SVP), Daniel Streich, justru berpindah haluan menjadi seorang muslim, negara ini mulai terbuka untuk mendirikan kubah rumah Tuhan itu. Malah akhirnya anggota parlemen memperbolehkan perempuan muslim bercadar.

Tidak kalah garang pada agama Nabi Muhammad, pemerintah Spanyol selalu menolah permohonan pembangunan masjid. Di Kota Katalunia misalnya banyak muslim salat di tempat terbuka dan pinggir jalan.

Alasan konyol dikemukakan pemerintah Negeri Matador tidak jauh beda dengan Swiss, masjid bukan tradisi dan budaya negara itu. Padahal Islam pernah berkembang sangat pesat pada abad kedelapan dan meninggalkan beberapa masjid cantik. Satu masih tersisa yakni Masjid Granada. Sementara masjid cantik lainnya yakni Masjid Kordoba telah beralih fungsi menjadi katedral.

Islamfobia butuh penanganan serius dari mereka duduk di pemerintahan sebab jika tidak, diperkirakan gerakan anti-Islam terus meningkat.


Paus
Kevin Zile asal Forestville, Kota Bristol, Amerika Serikat, masih ingat betul pengalaman pahit 37 tahun lalu. Saat itu, dia masih berusia 12 tahun bersekolah di St. Matthews Church.

Dia biasa membantu menyiapkan makan di rumah pastor Thomas Glynn. "Dia karismatik, ramah, dan semua orang ingin dekat dengan dia," kenang Zile, seperti dilansir surat kabar Connecticut Post, Agustus 2003. "Dia tahu orang-orang penting dan memiliki foto bersama Presiden Kennedy (John Fitzgerald Kennedy) di dinding rumahnya." Pastor Glynn sangat suka pesta dan dia kerap menggelar kesenangan di rumahnya.

Suatu sore, situasi rumah pastor Glynn sangat sepi. Tuan rumah lantas meminta Zile naik ke kamar tidur lantai dua. "Dia sedang berbaring cuma mengenakan celana dalam," ujar Zile. Dia lantas diberi minum koktail dan pingsan. Setelah sadar, pastor Glynn mengatakan Zile telah disodomi.

Zile awalnya tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dia cuma ingat melempar celana dalamnya ke bak sampah, lalu pulang jalan lebih dari 2,5 kilometer. Setiba di rumah, dia tidak menceritakan kejadian itu kepada orang tua.

Malahan, Zile kian akrab dengan Glynn. "Saya berusaha mendapatkan cinta dari pastor Glynn yang tidak saya peroleh dari ayah saya." Glynn kerap merayu dengan memuji betapa istimewanya Zile.

Selama masa kecilnya, Zile mengungkapkan ayahnya cuma sekali mengajak dia makan malam di luar. itu pun cuma di restoran cepat saji McDonalds terdekat. Sedangkan Glynn pernah mengajak dia ke Kota New York dan makan di rumah makan mewah. "Dia membuat saya merasa istimewa," ujar Zile.

Pada 1968, Glynn dipindah ke Gereja Trinitas Suci, Wallingford. Zile mengunjungi kekasih haramnya itu saban akhir pekan. Setahun kemjudian, orang tuanya mengizinkan dia menginap di kediaman Glynn selama libur musim panas. Sodomi pun menjadi rutinitas buat keduanya. Hingga Glynn dipindah ke Gereja St. Claire, East heaven, Zile setia melawat.

Pada libur musim panas 1971, Glynn mengajak Zile ke pemondokan dua lantai miliknya di sebuah pantai di East Heaven. Keduanya akan mempersiapkan pesta. "Saya harus tidur di kamar Glynn dan dia menyodomi saya saban kali semua orang sudah pergi tidur," tutur Zile.

Glynn sering megajak Zile bersenang-senang ke sebuah klub malam di New York. Dia membelikan Zile minuman beralkohol dan memaksa dia menenggak hingga mabuk. Semua berakhir dengan sodomi oleh Glynn dan rekan-rekannya hingga Zile pingsan. perbuatan kaum Nabi Luth itu dilakoni di mobil atau hotel. Pelecehan seksual itu dia peroleh hingga tamat SMP. "Saya menjadi pecandu alkohol, minum dan mengkonsumsi obat terlarang saban hari, namun semua itu malah membantu saya melupakan kenangan pahit itu."

Sampai satu hari Glynn menelepon. Zile mengancam akan membunuh pastor bejat itu kalau berani mendatangi dirinya. Zile lantas mengadu kepada orang tua. Sang ayah tidak percaya. Untungnya ibunya percaya dengan pengalaman pahit puyranya itu selama bertahun-tahun. mereka lantas mengadu ke kekuskupan agung. Tapi tidak ada tindak lanjut hingga pastor berlumur dosa itu menemui ajal.

09.11 ,
Paus
Diam bisa berarti emas. Namun bungkam versi Vatikan dalam kasus pelecehan seksual oleh para pastor terhadap anak altar sungguh menyebalkan.

Saking sebalnya, monsignor Charles Scicluna menyamakan diamnya pihak gereja terhadap gelombang pelecehan seksual di wilayah mereka seperti omerta, budaya diam ala mafia Italia. Ini merupakan tuduhan serius. "Ajaran agama...kebenaran itu berdasarkan keadilan menjelaskan kenapa budaya diam atau omerta itu salah dan tidak adil," katanya saat menyampaikan sambutan dalam simposium di Ibu Kota Roma, seperti dilansir kantor berita Reuters Februari tahun lalu.

Simposium empat hari itu berlangsung di the Jesuit Pontifical Gregorian University, Ibu Kota Roma, Italia. Pertemuan untuk pertama kali ini membahas cara menangani gelombang pelecehan seksual di gereja-gereja Katolik di Eropa dan Amerika Serikat satu dekade terakhir. Sekitar 200 orang hadir meliputi uskup, pemimpin ordo, korban, dan ahli kejiwaan.

Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Benediktus XVI telah menunjuk Scicluna dari departemen doktrin Vatikan untuk menangani aib ini. Menurut Scicluna, strategi mencegah pelecehan terjadi lagi tidak bakal berhasil tanpa komitmen dan keterbukaan. Dia dan sejumlah pejabat Vatikan yang hadir berpesan para pemimpin gereja harus bekerja sama dengan aparat keamanan setempat buat mengatasi kasus-kasus pedofilia.

Skandal seks ini menjadi alasan bagi para penganut Katolik menjadi murtad di sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, tanah kelahiran Paus Benediktus XVI. Noda ini juga telah menghancurkan kebanggaan moral gereja di negara-negara mayoritas Katolik, seperti Irlandia.

Sebuah asosiasi korban pelecehan seksual pastor konferensi monumental itu sekadar membersihkan coreng di wajah vatikan. mereka mendesak pemimpin umat katolik sejagat menyerahkan dokumen pelecehan seksual itu kepada Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda. "Setelah bertahun-tahun berjanji, menggelar pertemuan-pertemuan dan pelbagai permintaan maaf kosong, Vatikan tidak mampu melakukan tindakan paling mudah, murah, dan paling dikenal anak-anak: mengumumkan kepada masyarakat soal dokumen rahasia kasus pelecehan itu," ujar Joelle Casteix dari Jaringan Korban Pelecehan pastor (SNAP).

Korban pelecehan seksual asal irlandia, Marie Collins, panduan mengatasi kasus pedofilia ini perlu memasukkan hukuman buat uskup yang tidak mau menerapkan hal itu. Tanpa sanksi, kasus mencuat mudah menguap dan diselesaikan di bawah karpet. Alhasil, pastor-pastor pedofil kian ganas.

Irlandia termasuk salah satu negara memiliki kasus pedofilia gereja terparah. Skandal ini meretakkan hubungan negara ini dengan Vatikan.

Vatikan pada Juli 2011 menarik duta besarnya dari Irlandia setelah Perdana Menteri Enda kenny menuding Vatikan menghalangi penyelidikan kasus pelecehan seksual oleh para pastor. Empat bulan kemudian, Irlandia membalas dengan menutup kedutaan besar mereka di Vatikan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget