Latest Post

01.30
SAMPAI di sini saudara mungkin bertanya: ‘Jika Tritunggal bukan ajaran Alkitab, bagaimana itu menjadi doktrin Susunan Kristen?’ Banyak orang berpikir bahwa ini dirumuskan pada Konsili di Nicea pada tahun 325 M.
Tetapi, hal itu tidak sepenuhnya tepat. Konsili Nicea memang meneguhkan bahwa Kristus adalah dari zat yang sama seperti Allah, dan hal ini menjadi fondasi untuk teologi Tritunggal di kemudian hari. Tetapi konsili ini tidak menyusun Tritunggal, karena dalam konsili itu sama sekali tidak
disebutkan mengenai roh kudus sebagai pribadi ketiga dari
suatu Keilahian tiga serangkai.

 
Peranan Konstantin di Nicea

SELAMA bertahun-tahun, ada banyak tentangan atas dasar Alkitab terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.
Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan;... pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin... Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”
Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis ini di Konsili Nicea? Encyclopaedia Britannica menceritakan:
“Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan... rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ‘dari satu zat dengan Bapa’... Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”
Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. “Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat wilayah kekuasaannya.
Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus tetapi bukan peranan roh kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas, tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu?

 
Perkembangan Selanjutnya

SETELAH Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.
Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas.
Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam.
Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam
kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana
mengatakan: “Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal
terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui.”

 
Kredo Athanasia
TRITUNGGAL didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Athanasius adalah seorang pendeta yang mendukung Konstantin di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi:
“Kami menyembah satu Allah dalam Tritunggal... sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”
Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopasdia Britannica mengomentari: “Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5... Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”
Jadi dibutuhkan waktu berabad-abad sejak zaman Kristus bagi Tritunggal untuk dapat diterima secara luas dalam Susunan Kristen. Dan dalam semua hal tersebut, apa yang membimbing keputusan-keputusannya? Apakah Firman Allah, atau apakah pertimbangan para pendeta dan politik? Dalam Origin and Evolution of Religion, E. W. Hopkins menjawab: “Definisi ortodoks yang terakhir dari tritunggal sebagian besar adalah masalah politik gereja.”

 
Kemurtadan Dinubuatkan

SEJARAH yang tidak baik dari Tritunggal ini cocok dengan apa yang Yesus dan rasul-rasulnya nubuatkan akan terjadi setelah zaman mereka. Mereka mengatakan bahwa akan ada kemurtadan, penyelewengan, penyimpangan dari ibadat sejati sampai kembalinya Kristus, yaitu saat ibadat sejati akan dipulihkan sebelum hari manakala Allah membinasakan sistem perkara-perkara ini tiba.
Mengenai “Hari” itu, rasul Paulus mengatakan: “Sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka. “ (2 Tesalonika 2: 3, 7) Belakangan, ia menubuatkan: “Sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” (Kisah 20:29, 30) Murid-murid Yesus yang lain juga menulis mengenai kemurtadan ini dengan golongan pendetanya yang “durhaka.”-Lihat, misalnya, 2 Petrus 2: 1; 1 Yohanes 4:1-3; Yudas 3, 4.
Paulus juga menulis: “Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” -2 Timotius 4:3, 4.
Yesus sendiri menjelaskan siapa yang ada di balik kemurtadan dari ibadat sejati. Ia mengatakan bahwa ia telah menabur benih yang baik tetapi musuhnya, Setan, akan menabur lalang di ladang. Maka ketika muncul tunas pertama dari gandum, muncul juga lalang. Jadi, penyimpangan dari Kekristenan sejati harus diharapkan terjadi sampai tiba musim menuai, pada waktu Kristus akan membereskan perkara-perkara. (Matius 13:24-43) The Encyclopedia Americana mengomentari: “Ajaran Tritunggal dari abad ke-4 tidak dengan saksama mencerminkan ajaran Kristen yang mula-mula mengenai sifat Allah; sebaliknya, ini adalah penyimpangan dari ajaran tersebut.”
Maka, dari mana asalnya penyimpangan ini?-1 Timotius 1: 6

 
Apa yang Mempengaruhi Hal Itu

DI SELURUH dunia zaman purba, di Babel dulu, jibadat kepada dewa-dewa kafir yang dikelompokkan dalam tiga serangkai, sangat umum. Pengaruh itu juga umum di Mesir, Yunani, dan Roma pada abad-abad sebelum, selama, dan setelah Kristus. Dan setelah rasul-rasul meninggal, kepercayaan kafir tersebut menyusup ke dalam Kekristenan.
Sejarawan Will Durant mengatakan: “Kekristenan tidak memusnahkan kekafiran; ia menerimanya... Dari Mesir datang gagasan mengenai trinitas ilahi.” Dan dalam buku Egyptian Religion, Siegfried Morenz berkata: “Tritunggal merupakan hal yang terutama menyita perhatian para teolog Mesir... Tiga allah digabung dan diperlakukan seperti satu pribadi tunggal, disapa dalam bentuk tunggal. Dengan cara ini kekuatan rohani dari agama Mesir memperlihatkan hubungan yang langsung dengan teologi Kristen.”
Jadi, di Aleksandria, Mesir, tokoh-tokoh gereja dari akhir abad ketiga dan permulaan abad keempat, seperti Athanasius, memperlihatkan pengaruh ini pada waktu mereka merumuskan ide-ide yang mengarah kepada Tritunggal. Pengaruh mereka sendiri meluas, sehingga Morenz menganggap “teologi Aleksandria sebagai penghubung antara warisan agama Mesir dan Kekristenan.”
Dalam kata pengantar buku History of Christianity dari Edward Gibbon, kita membaca: “Jika Kekafiran ditaklukkan oleh Kekristenan, halnya juga benar bahwa Kekristenan telah dirongrong oleh Kekafiran. Keilahian yang murni dari orang-orang Kristen yang mula-mula... diubah, oleh Gereja Roma, menjadi dogma trinitas yang tidak dapat dimengerti. Banyak dari kepercayaan kafir, yang diciptakan oleh orang-orang Mesir dan diidealkan oleh Plato, dipertahankan sebagai sesuatu yang patut dipercayai.”
A Dictionary of Religious Knowledge menyatakan bahwa Tritunggal “adalah suatu penyelewengan yang dipinjam dari agama-agama kafir, dan dicangkokkan ke dalam iman Kristen.” Dan The Paganism in Our Christianity berkata: “Asal usul [Tritunggal] seluruhnya kafir.”
Itu sebabnya, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings menulis: “Dalam agama di India, misalnya, kita temukan kelompok tiga serangkai Brahma, Syiwa, dan Wisnu; dan dalam agama Mesir kelompok tiga serangkai Osiris, Isis, dan Horus... Bukan hanya dalam agama-agama dalam sejarah, kita temukan Allah dianggap sebagai suatu Tritunggal. Kita khususnya dapat mengingat pandangan Neo-Platonik mengenai Realitas yang Paling Tinggi,” yang “diwakili secara tiga serangkai.” Apa hubungan antara filsuf Yunani Plato dengan Tritunggal?

 
Platonisme

PLATO, menurut perkiraan, hidup dari tahun 428 sampai 347 sebelum Kristus. Meskipun ia tidak mengajarkan Tritunggal dalam bentuknya yang sekarang, filsafatnya membuka jalan untuk itu. Belakangan, gerakan filsafat yang mencakup kepercayaan kepada kelompok-kelompok tiga serangkai bermunculan, dan semua ini dipengaruhi oleh gagasan Plato mengenai Allah dan alam.

Nouveau Dictionnaire Universel (Kamus Universal Baru) bahasa Perancis mengatakan mengenai pengaruh dari Plato:
“Tritunggal menurut Plato, yang sebenarnya hanyalah penyusunan kembali dari tritunggal-tritunggal yang lebih tua dan berasal dari orang-orang zaman dulu, tampaknya merupakan tritunggal yang rasional dan filosofis dari sifat-sifat yang melahirkan ketiga hypostase (zat) atau pribadi ilahi yang diajarkan oleh gerejagereja Kristen... Konsep filsuf Yunani mengenai trinitas ilahi ini... dapat ditemukan dalam semua agama [kafir] kuno.”

The New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge memperlihatkan pengaruh dari filsafat Yunani ini: “Doktrin mengenai Logos dan Tritunggal menerima bentuknya dari Bapa-Bapa Yunani, yang... sangat dipengaruhi, secara langsung atau tidak langsung, oleh filsafat Plato... Bahwa kesalahan dan kerusakan menyusup ke dalam Gereja dari sumber ini tidak dapat disangkal.”

The Church of the First Three Centuries mengatakan: “Doktrin Tritunggal dibentuk secara bertahap dan baru belakangan terhitung;... ia berasal dari sumber yang sama sekali tidak dikenal dalam Kitab-Kitab Suci Yahudi maupun Kristen;... ia tumbuh, dan dicangkokkan ke dalam Kekristenan, melalui tangan Bapa-Bapa pengikut Plato.”
Menjelang akhir abad ketiga M., “Kekristenan” dan filsafat Plato yang baru, berpadu secara tidak terpisahkan. Sebagaimana dinyatakan Adolf Harnack dalam Outlines of the History of Dogma, doktrin gereja kemudian “berakar dengan kuat di tanah Hellenisme [paham Yunani kafir]. Dengan demikian ini menjadi suatu misteri bagi bagian terbesar dari orang-orang Kristen.”
Gereja mengaku bahwa doktrin-doktrin barunya didasarkan atas Alkitab. Namun Harnack mengatakan: “Dalam kenyataan di kalangannya sendiri [gereja] mengesahkan spekulasi Hellenik, pandangan dan kebiasaan takhyul dari ibadat kafir yang bersifat misteri.”
Dalam buku A Statement of Reasons, Andrews Norton menyatakan tentang Tritunggal: “Kita dapat menelusuri sejarah doktrin ini dan menemukan sumbernya, bukan dalam wahyu Kristen, melainkan dalam filsafat Plato... Tritunggal bukan doktrin dari Kristus dan Rasul-Rasulnya, melainkan suatu fiksi dari sekolah para pengikut Plato.”
Jadi, pada abad keempat M., kemurtadan yang dinubuatkan oleh Yesus dan para rasul mulai berkembang penuh. Perkembangan dari Tritunggal hanya satu bukti dari ini. Gereja-gereja yang murtad juga mulai menganut gagasan kafir lain, seperti api neraka, kekekalan jiwa, dan penyembahan berhala. Secara rohani, Susunan Kristen telah memasuki abad-abad kegelapannya yang telah dinubuatkan, dikuasai oleh golongan pendeta “manusia durhaka” yang terus bertambah besar.-2 Tesalonika 2:3, 7.

 
Mengapa Nabi-Nabi Allah Tidak Mengajarkannya?
MENGAPA, selama ribuan tahun, tidak seorang pun dari nabi-nabi Allah mengajarkan umat-Nya mengenai Tritunggal?
Pada kesempatan terakhir, tidakkah Yesus akan menggunakan kecakapannya sebagai Guru Agung untuk menjelaskan Tritunggal kepada para pengikutnya? Apakah Allah akan mengilhami ratusan halaman dari Alkitab namun tidak menggunakan pengajaran ini untuk mengajarkan Tritunggal jika hal itu memang “doktrin utama” dari iman?
Apakah orang-orang Kristen harus percaya bahwa berabad-abad setelah Kristus dan setelah mengilhami penulisan Alkitab, Allah akan mendukung perumusan suatu doktrin yang tidak dikenal oleh hamba-hamba-Nya selama ribuan tahun, doktrin yang merupakan “misteri yang tidak dapat dimengerti” “di luar jangkauan akal manusia,” doktrin yang diakui mempunyai latar belakang kafir dan “sebagian besar adalah masalah politik gereja?”
Bukti dari sejarah sudah jelas: Ajaran Tritunggal adalah penyimpangan dari kebenaran, kemurtadan darinya.

01.28
ANDAIKAN Tritunggal itu benar, hal itu seharusnya disampaikan dengan jelas dan konsisten dalam Alkitab. Mengapa? Karena, seperti ditegaskan para rasul, Alkitab adalah penyingkapan Allah mengenai diri-Nya kepada umat manusia. Dan karena kita perlu mengenal Allah agar dapat menyembah Dia dengan sepatutnya, Alkitab harus jelas dalam memberi tahu kita siapa Ia sebenarnya.

Orang-orang beriman pada abad pertama menerima Alkitab sebagai penyingkapan Allah yang otentik. Itu menjadi dasar kepercayaan mereka, wewenang yang mutlak. Misalnya, ketika rasul Paulus mengabarkan kepada orang-orang di kota Berea, “mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”-Kisah 17:10,11.
Apa yang digunakan oleh pria-pria Allah yang terkemuka di kala itu sebagai wewenang mereka? Kisah 17:2, 3 (BIS) memberi tahu kita: ‘Paulus seperti biasa... bertukar pikiran dengan orang-orang di situ mengenai ayat-ayat Alkitab. Berdasarkan ayat-ayat Alkitab ia menjelaskan dan membuktikan.”
Yesus sendiri memberikan teladan dalam menggunakan Alkitab sebagai dasar ajarannya, dengan berulang kali mengatakan:
“Ada tertulis.” “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci.”-Matius 4:4, 7; Lukas 24:27.
Jadi, Yesus, Paulus, dan orang-orang beriman pada abad pertama menggunakan Alkitab sebagai dasar ajaran mereka. Mereka mengetahui bahwa “semua yang tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah. Dengan Alkitab itu orang yang melayani Allah dapat dilengkapi dengan sempurna untuk segala macam pekerjaan yang baik.”-2 Timotius 3:16, 17, BIS; lihat juga 1 Korintus 4:6; 1 Tesalonika 2:13: 2 Petrus 1:20, 21.
Karena Alkitab dapat “membetulkan yang salah,” ia seharusnya dengan jelas menyingkapkan keterangan mengenai masalah Tritunggal yang kata orang merupakan doktrin dasar. Namun apakah para teolog dan sejarawan sendiri mengatakan bahwa hal itu benar-benar merupakan ajaran Alkitab?

 
“Tritunggal” apakah ada dalam Alkitab?

SEBUAH publikasi Protestan berkata: “Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab... Ia baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi gereja pada abad ke-4.” (The Illustrated Bible Dictionary) Dan seorang yang berwewenang dalam agama Katolik mengatakan bahwa Tritunggal “bukanlah... secara langsung firman dari Allah.” -New Catholic Encyclopedia.
The Catholic Encyclopedia juga mengomentari: “Dalam Alkitab belum terdapat satu istilah pun untuk menyatakan ke-Tiga Pribadi Ilahi tersebut secara bersama. Kata triaz [tri’as] (asal kata dari trinitas bahasa Latin) mula-mula ditemukan dalam [tulisan] Teofilus dari Antiokhia kira-kira tahun 180 M.... Tidak lama kemudian itu muncul dalam bentuk Latinnya trinitas dalam [tulisan] Tertullian.”
Namun, hal ini sendiri tidak membuktikan bahwa Tertullian mengajarkan Tritunggal. Karya tulis Katolik Trinitas - A Theological Encyclopedia of the Holy Trinity misalnya, menyatakan bahwa beberapa dari kata-kata Tertullian belakangan digunakan oleh orang-orang lain untuk menjelaskan Tritunggal. Kemudian ia memperingatkan: “Tetapi kesimpulan yang tergesa-gesa tidak dapat diambil hanya berdasarkan pemakaian, karena ia tidak menerapkan kata-kata tersebut untuk teologi Tritunggal.”

 
Bukti dari Kitab-Kitab Ibrani

MESKIPUN kata “Tritunggal” tidak dapat ditemukan dalam Alkitab, apakah setidak-tidaknya gagasan tentang Tritunggal dengan jelas diajarkan di dalamnya? Sebagai contoh, apa yang ditunjukkan oleh Kitab-Kitab Ibrani (“Perjanjian Lama”)?
The Encyclopedia of Religion mengakui: “Para teolog dewasa ini setuju bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat doktrin tentang Tritunggal.” Dan New Catholic Encyclopedia juga mengatakan:
“Doktrin Tritunggal Kudus tidak diajarkan dalam P[erjanjian] L[ama].”
Demikian pula, dalam bukunya The Triune God, imam Yesuit Edmund Fortman mengakui: “Perjanjian Lama... tidak secara tegas ataupun samar-samar memberi tahu kepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus... Tidak ada bukti bahwa penulis tulisan suci manapun bahkan menduga adanya suatu [Tritunggal] di dalam Keilahian... Bahkan mencari di dalam [”Perjanjian Lama”] kesan-kesan atau gambaran di muka atau ‘tanda-tanda terselubung’ mengenai trinitas dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci.”-Cetak miring red.
Penyelidikan dalam Kitab-Kitab Ibrani itu sendiri akan membuktikan komentar-komentar ini. Jadi, tidak ada ajaran yang jelas mengenai Tritunggal dalam 39 buku pertama dari Alkitab yang membentuk kanon yang asli dari Kitab-Kitab Ibrani yang terilham.

 
Bukti dari Kitab-Kitab Yunani

MAKA, apakah Kitab-Kitab Yunani Kristen (“Perjanjian Baru”) dengan jelas berbicara tentang suatu Tritunggal?
The Encydopedia of Religion mengatakan: “Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.”
Imam Yesuit Fortman mengatakan: “Para penulis Perjanjian Baru... tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara... Di mana pun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam Keilahian yang sama.”
The New Encyclopaedia Britannica menyatakan: “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru.”
Bernhard Lohse mengatakan dalam A Short History of Christian Doctrine: “Sejauh itu menyangkut Perjanjian Baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang aktual.”
The New International Dictionary of New Testament Theology juga mengatakan: “P[erjanjian] B[aru] tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan. ‘Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama’ [kata teolog Protestan Karl Barth].”
Profesor E. Washburn Hopkins dari Universitas Yale meneguhkan: “Bagi Yesus dan Paulus doktrin tritunggal jelas tidak dikenal;... mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu.”-Origin and Evolution of Religion.
Sejarawan Arthur Weigall menyatakan: “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal.’ Gagasannya baru diterima oleh Gereja tiga ratus tahun setelah kematian Tuhan kita.”-The Paganism in Our Christianity.
Jadi, ke-39 buku dari Kitab-Kitab Ibrani ataupun kanon dari ke-27 buku yang terilham dari Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak ada yang memuat ajaran yang jelas mengenai Tritunggal.

 
Apakah Diajarkan oleh Orang-Orang Kristen yang Mula-Mula?
APAKAH orang-orang Kristen yang mula-mula mengajarkan Tritunggal? Perhatikan komentar-komentar berikut dari para sejarawan dan teolog:
“Kekristenan yang mula-mula tidak mempunyai doktrin Tritunggal seperti yang setelah itu dirinci dalam kredo-kredo.”-The New International Dictionary of New Testament Theology.
“Namun orang-orang Kristen yang pertama pada awal mula tidak pernah mempunyai pikiran untuk menerapkan gagasan [Tritunggal] kepada kepercayaan mereka sendiri. Mereka memberikan pengabdian mereka kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah, dan mereka mengakui... Roh Kudus; tetapi tidak ada buah pikiran bahwa ketiga pribadi ini adalah suatu Tritunggal, setara dan dipersatukan dalam Satu.”-The Paganism in Our Christianity.
“Pada mulanya kepercayaan Kristen bukan kepada Allah Tiga Serangkai... Halnya tidak demikian pada zaman rasul-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam P[erjanjian] B[aru] dan tulisan-tulisan Kristen yang awal lainnya.”
Encyclopedia of Religion and Ethics.
“Perumusan ‘satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti belum dilebur sepenuhnya ke dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4... Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak pernah bahkan sedikit pun ada yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu.” - New Catholic Encyclopedia.

 
Apa yang Diajarkan oleh Bapa-Bapa Pra-Nicea

BAPA-BAPA pra-Nicea diakui sebagai guru-guru agama yang terkemuka pada abad-abad permulaan setelah kelahiran Kristus. Apa yang mereka ajarkan patut diperhatikan.
Justin Martyr, yang meninggal kira-kira tahun 165 M., menyebut pramanusia Yesus sebagai malaikat yang diciptakan yang “tidak sama dengan Allah yang menciptakan segala perkara.” Ia mengatakan bahwa Yesus lebih rendah daripada Allah dan “tidak pernah melakukan sesuatu kecuali yang Pencipta... ingin ia lakukan dan katakan.”
Irenaeus, yang meninggal kira-kira tahun 200 M., mengatakan bahwa pramanusia Yesus keberadaannya terpisah dari Allah dan lebih rendah daripada Dia. Ia memperlihatkan bahwa Yesus tidak setara dengan “Allah yang benar dan satu-satunya,” yang “lebih tinggi di atas segala-galanya, dan selain Dia tidak ada yang lain.”
Clement dari Aleksandria, yang meninggal kira-kira tahun 215
M, menyebut Yesus dalam keberadaannya sebelum menjadi manusia sebagai “suatu ciptaan” tetapi menyebut Allah sebagai “yang tidak diciptakan dan tidak dapat binasa dan satu-satunya Allah yang benar.” Ia mengatakan bahwa sang Anak “adalah nomor dua setelah satu-satunya Bapa yang mahakuasa” tetapi tidak setara dengan Dia.
Tertullian, yang meninggal kira-kira tahun 230 M., mengajarkan keunggulan Allah. Ia berkata: “Sang Bapa berbeda dari Anak (yang lain), karena Ia lebih besar; sebagaimana yang memperanakkan berbeda dari yang diperanakkan, ia yang mengutus berbeda dari dia yang diutus.” Ia juga berkata:
“Ada masanya ketika sang Anak tidak ada... Sebelum semua perkara ada, Allah berada sendirian.”
Hippolytus, yang meninggal kira-kira tahun 235 M., mengatakan bahwa Allah adalah “Allah yang esa, Pribadi yang pertama dan satu-satunya, Khalik dan Tuhan dari semua,” “tidak ada yang [memiliki umur yang sama] dengan Dia... Tetapi Ia adalah Esa, berada sendirian; yang, karena menghendakinya, membuat ada apa yang dulunya tidak ada,” seperti misalnya pramanusia Yesus yang diciptakan.
Origen, yang meninggal kira-kira tahun 250 M., mengatakan bahwa “sang Bapa dan Anak adalah dua hakekat... dua hal sehubungan dengan pokok dasar mereka,” dan bahwa “dibandingkan dengan Bapa, [Anak] adalah terang yang sangat kecil.”
Meringkaskan bukti sejarah, Alvan Lamson mengatakan dalam The Church of the First Three Centuries: “Doktrin Tritunggal yang modern dan populer... tidak mendapat dukungan dari bahasa Justin [Martyr]: dan pernyataan ini dapat diperluas sehingga berlaku juga untuk semua Bapa pra-Nicea; yaitu, untuk semua penulis Kristen selama tiga abad setelah kelahiran Kristus. Memang, mereka berbicara mengenai sang Bapa, Anak dan... Roh kudus, tetapi tidak sebagai [pribadi-pribadi] yang setara, tidak berjumlah satu zat, tidak sebagai Tiga dalam Satu, dalam arti apapun yang sekarang diterima oleh para penganut Tritunggal. Justru sebaliknyalah yang merupakan fakta.”
Jadi, bukti dari Alkitab dan dari sejarah membuat jelas bahwa Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman Alkitab dan selama beberapa abad setelahnya.

01.26
GEREJA Katolik Roma berkata: “Tritunggal adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan doktrin utama agama Kristen...
Jadi, dalam kata-kata Kredo Athanasia: ‘sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan satu Allah.’ Dalam Tritunggal ini... Pribadi-Pribadinya sama kekal dan setara: semuanya tidak diciptakan dan mahakuasa.”-The Catholic Encyclopedia.


Hampir semua gereja lain dalam Susunan Kristen menyetujuinya. Misalnya, Gereja Ortodoks Yunani juga menyebut Tritunggal “doktrin dasar dari Kekristenan,” bahkan mengatakan: “Orang Kristen adalah orang-orang yang menerima Kristus sebagai Allah.” Dalam buku Our Orthodox Christian Faith, gereja yang sama berkata: “Allah adalah suatu kesatuan tiga serangkai... Sang Bapa adalah Allah sepenuhnya. Sang Anak adalah Allah sepenuhnya. Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya.”

Jadi, Tritunggal dianggap sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi.” Masing-masing dikatakan tidak mempunyai permulaan, ada dari kekal sampai kekal. Masing-masing dikatakan mahakuasa, dan masing-masing tidak lebih besar atau lebih kecil daripada yang lainnya.

Apakah gagasan demikian sukar dimengerti? Banyak orang beriman yang tulus merasa hal itu membingungkan, bertentangan dengan akal sehat, benar-benar sulit dipahami.

Bagaimana mungkin, sang Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, dan roh kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan hanya satu Allah?

“Di Luar Jangkauan Akal Manusia”

KEBINGUNGAN ini tersebar luas. The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa Tritunggal dianggap “di luar jangkauan akal manusia.”
Banyak orang yang menerima Tritunggal menganggapnya demikian. Monsignor Eugene Clark berkata: “Allah itu satu, dan Allah itu tiga. Karena tidak ada ciptaan yang seperti ini, kita tidak dapat mengertinya, tetapi menerimanya saja.”

Kardinal John O’Connor berkata: “Kami tahu ini suatu misteri yang sangat dalam, yang sama sekali tidak kita mengerti.”
Dan Paus Yohanes Paulus II berkata mengenai “misteri yang tidak dapat dimengerti tentang Allah Tritunggal.”
Jadi, A Dictionary of Religious Knowledge berkata: “Tepatnya apa doktrin itu, atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, para penganut Tritunggal pun tidak mencapai kata sepakat di antara mereka sendiri.”

Maka, kita dapat mengerti mengapa New Catholic Encyclopedia berkata: “Hanya sedikit diantara guru-guru teologi Tritunggal di seminari-seminari Katolik Roma yang pada suatu waktu tidak dipojokkan oleh pertanyaan, ‘Tetapi bagaimana kita akan berkhotbah tentang Tritunggal?’ Dan jika pertanyaan itu merupakan gejala kebingungan di pihak para siswa, kemungkinan hal itu juga merupakan gejala kebingungan yang serupa di pihak guru-guru mereka.”

Kebenaran dari pernyataan di atas dapat dibuktikan dengan mengunjungi suatu perpustakaan dan memeriksa buku-buku yang mendukung Tritunggal. Tak terhitung banyaknya halaman yang ditulis dalam upaya untuk menjelaskannya. Namun, setelah bersusah payah memeriksa istilah-istilah teologi yang membingungkan dan penjelasannya, para peneliti masih tetap tidak puas.

Mengenai ini, imam Yesuit Joseph Bracken mengatakan dalam bukunya What Are They Saying About the Trinity?: “Para imam yang dengan cukup banyak upaya telah mempelajari...
Tritunggal selama tahun-tahun mereka di seminari tentu saja ragu-ragu untuk menyampaikannya kepada jemaah mereka dari mimbar, bahkan pada hari Minggu. Tritunggal... Untuk apa seseorang akan membuat umatnya bosan dengan sesuatu yang pada akhirnya pun tidak akan mereka mengerti dengan benar?”
Ia juga berkata: “Tritunggal adalah soal kepercayaan formal, namun hal itu hanya sedikit atau tidak [berpengaruh] dalam kehidupan dan ibadat Kristen sehari-hari.” Meskipun demikian, ini adalah “doktrin utama” dari gereja-gereja!
Teolog Katolik Hans Kung menyatakan dalam bukunya Christianity and the World Religions bahwa Tritunggal merupakan satu alasan mengapa gereja-gereja tidak berhasil membuat kemajuan yang berarti di kalangan orang bukan Kristen. Ia berkata: “Bahkan orang Muslim yang terpelajar,
sama sekali tidak dapat mengerti, sebagaimana juga orang-orang Yahudi sebegitu jauh tidak dapat memahami, gagasan mengenai Tritunggal... Perbedaan yang dibuat oleh doktrin Tritunggal antara satu Allah dan tiga hypostase [zat] tidak memuaskan orang Muslim, yang bukannya merasa mendapat penjelasan, tetapi justru merasa bingung, oleh istilah-istilah teologi yang berasal dari bahasa Syria, Yunani, dan Latin.

Orang-orang Muslim menganggap ini semua permainan kata... Mengapa seseorang ingin menambahkan sesuatu kepada gagasan mengenai keesaan dan keunikan Allah yang hanya dapat mengencerkan atau meniadakan keesaan dan keunikan itu?”

Bukan Allah yang Suka Pada Kekacauan

BAGAIMANA doktrin yang begitu membingungkan seperti Tritunggal muncul? The Catholic Encyclopedia menyatakan:
“Sebelum adanya penyingkapan Ilahi, diperlukan sebuah dogma yang misterius seperti itu.” Sarjana Katolik Karl Rahner dan Herbert Vorgrimler menyatakan dalam Theological Dictionary mereka: “Tritunggal... dalam arti yang sesungguhnya..., adalah suatu misteri yang tidak dapat dipahami tanpa wahyu ilahi, dan bahkan setelah disingkapkan tidak dapat dimengerti sepenuhnya.”

Tetapi, dengan berkukuh bahwa Tritunggal adalah misteri yang begitu membingungkan karena berasal dari wahyu ilahi, mereka menciptakan problem besar lain. Mengapa? Karena dalam wahyu ilahi itu sendiri tidak ada pandangan demikian mengenai Allah: “Allah... bukan Allah yang suka pada kekacauan.”-1 Korintus 14:33, Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).

Mengingat pernyataan itu, mungkinkah Allah akan mencetuskan doktrin mengenai diri-Nya sendiri yang begitu membingungkan sehingga bahkan para sarjana Ibrani, Yunani, dan Latin tidak dapat menjelaskannya?
Selain itu, apakah orang-orang harus menjadi teolog untuk dapat ‘mengenal satu-satunya Allah yang benar dan Yesus Kristus yang telah Ia utus?’ (Yohanes 17:3) Jika demikian halnya, mengapa begitu sedikit dari para pemimpin agama Yahudi yang terpelajar mengakui Yesus sebagai Mesias?

Sebaliknya, murid-muridnya yang setia, adalah petani-petani, nelayan, pemungut cukai, ibu-ibu rumah tangga yang sederhana. Orang-orang sederhana tersebut begitu yakin dengan apa yang Yesus ajarkan tentang Allah sehingga mereka dapat mengajarkannya kepada orang lain dan bahkan rela mati demi kepercayaan mereka-Matius 15:1-9; 21: 23-32, 43; 23:13-36; Yohanes 7:45-49; Kisah 4:13.


Artikel tentang Gambaran Alam Kubur ini diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan kita.
MANUSIA di dunia ini ibarat musafir yang sedang dalam perjalanan lalu berehat di bawah sepohon pokok untuk melepaskan lelah dan berehat seketika sebelum meneruskan ke destinasi yang hendak dituju.
Perjalanan itu pula masih jauh dan terpaksa melalui pelbagai liku serta cabaran. Inilah gambaran matlamat sebenar hidup insan yang hendak dicapai. Pentas dunia hanya tempat untuk bercucuk tanam dengan amalan salih sebagai bekalan di akhirat nanti.
Sebelum manusia berpindah ke alam akhirat mereka akan menempuh satu alam dinamakan alam barzakh dan di sana mereka akan menjawab soalan ditujukan malaikat kepada mereka. Di sinilah penentu kejayaan di alam akhirat nanti sama ada manusia itu akan masuk ke syurga atau neraka.
Persoalan kubur termasuk dalam pokok keimanan terhadap alam ghaib seperti mana kita wajib percaya akan adanya syurga, neraka, malaikat dan hari kiamat. Dalam al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang sahih banyak diterangkan perkara di atas yang menuntut setiap orang meyakini adanya alam selepas kehidupan duniawi.
Ia dikenali dengan perkara ‘sam’iyat’ iaitu perkara yang hanya diketahui melalui perkhabaran, tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak terfikir akal. Beriman kepada alam ghaib adalah ciri orang beriman.
Allah berfirman yang bermaksud: “Kitab al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (mengenai datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya), ia pula menjadi petunjuk bagi orang yang beriman kepada perkara ghaib dan mendirikan solat serta membelanjakan sebahagian daripada rezeki yang kami berikan kepada mereka.”
Walaupun ada sesetengah agama mempercayai adanya kebangkitan selepas kematian di alam roh tetapi mereka menyeleweng daripada konsep dipegang Islam. Sebahagian lagi terus kufur dan menolak kerana mereka berdasarkan logik serta akal fikiran semata-mata, menganggap bahawa hidup hanya di atas dunia ini saja.


Golongan itu dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Dan tidakkah manusia fikirkan bahawa Kami jadikan dia dari setitik mani, tetapi tiba-tiba ia (jadi) pembantah yang nyata.” – (Surah Yasin, ayat 77)
Kesimpulan yang boleh dibuat manusia di dunia ini diklasifikasikan dalam tiga golongan iaitu mereka yang beriman dengan adanya alam ghaib melalui as-samiyat, percaya ada alam ghaib berdasarkan kepercayaan dan kufur dengan alam ghaib.
Kubur adalah perhentian pertama setelah seorang hamba itu meninggal dunia dan kemudian tempatkan di alam arwah sehingga hari kiamat. Di sinilah penentuan kebahagiaan kecelakaan yang abadi.
Hadis Abi Said mengatakan, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Kubur itu adalah salah satu lubang neraka, atau salah satu taman syurga.”
Adapun arwah orang yang beriman akan sentiasa dalam rahmat dan peliharaan Allah tidak kira di mana mereka berada. Bagaimanakah seseorang itu akan menghadapi persoalan kubur?
Adapun roh orang yang beriman dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Setelah menerangkan akibat orang yang tidak menghiraukan akhirat, Tuhan menyatakan bahawa orang beriman dan beramal salih akan disambut dengan kata-kata: Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan), lagi diredai (di sisi Tuhanmu). Serta masuklah dalam kumpulan hamba-Ku yang berbahagia, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” – (Surah al-Fajar, ayat 27-30)
Kemudian apabila seseorang hamba Allah meninggal dunia, selepas dikebumikan dan ditinggalkan kuburnya lalu datanglah dua malaikat iaitu Mungkar dan Nakir yang ditugaskan untuk menyoalnya.
Jika ia beriman dan beramal salih, maka diberikan taufik oleh Allah menjawab persoalan dengan mudah. Kemudian dibuka baginya pintu syurga dan diperlihatkan syurga ke atasnya dan berbahagialah dia sehingga hari kiamat.
Namun jika orang itu kafir atau munafik, mereka akan menjawab tidak tahu. Lalu akan menerima seksaan kubur yang dahsyat. Suara teriak mereka dapat didengar oleh makhluk lain kecuali manusia dan jin.
Menurut Syeikh Abdullah Al-Fattani dalam bukunya Kasful Qhummah, roh Nabi, syuhada, muttaqin, salihin akan diangkat oleh malaikat ke langit selepas selesai tanya jawab dengan malaikat Mungkar dan Nakir.
Kemudian di angkat ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha dan di bawa ke Arasy Tuhan. Di sinilah mereka akan ditempatkan dan hidup dengan senang serta bahagia sehingga tiba hari kiamat.
Persoalan kubur tidak terkecuali bagi setiap orang yang meninggal dunia sama ada mereka mati di bumi, laut atau angkasa. Mengenai gambaran azab dan seksa kubur itu dalam pelbagai cara seperti dijelaskan ulama.
Bagaimanapun kita tidak banyak mengetahui rahsia alam roh melainkan apa yang diceritakan al-Quran dan hadis kerana ia adalah urusan Allah. Apabila seseorang berpindah ke alam baqa, bermakna terputuslah segala hubungan dan amalannya di dunia ini melainkan sedekah jariah, ilmu bermanfaat, anak soleh dan juga doa daripada kaum kerabatnya di dunia ini.
Riwayat daripada Ad-Dailami ada menyebut yang bermaksud: “Orang yang mati dalam kuburnya adalah seperti orang sedang tenggelam yang meminta pertolongan. Ia menunggu sampai kepadanya (rahmat) sesuatu doa daripada anaknya, atau saudaranya ataupun sahabat handainya. Apabila (rahmat) doa itu sampai kepadanya, maka tidaklah terkira sukacitanya dan dirasainya ‘rahmat doa itu’ lebih berharga daripada dunia dan segala isinya. Sebenarnya hadiah orang yang hidup kepada orang mati ialah doa dan istighfar.”


Alam sesudah mati ini memberi peringatan bahawa tidak selamanya kita akan kekal di muka bumi ini. Lambat laun kita juga mengikut jejak langkah mereka yang dulu menempuh alam barzakh. Semoga ia memberi keinsafan kepada kita untuk menyediakan bekalan terbaik untuk bekalan akhirat.

Sumber :
http://nurjeehan.hadithuna.com/2008/11/alam-kubur-perhentian-sebelum-kehidupan-abadi-di-akhirat/

Satu lagi hasil penelitian menegaskan bahwa syariat Islam benar-benar yang terbaik bagi kehidupan manusia, termasuk bagi mereka penderita gangguan kesehatan
Kewajiban shalat lima kali sehari semalam ke atas semua umat Islam bermula sejak Rasulullah diangkat ke langit saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Begitu istimewa sekali ibadah shalat sehingga Rasulullah SAW naik ke langit bagi menerima Rukun Islam yang kedua ini, tidak seperti ibadah-ibadah lain.
Keistimewaan shalat menarik minat peneliti Universiti Malaya (UM). Minat penelitian ini timbul karena dipandang masih teramat sedikitnya kajian yang komprehensif mengenai shalat dari segi saintifik.
Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.
Manfaat lain yang diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti biomedis di Universitas Malaya adalah, shalat bisa mengurangi detak jantung yang cepat, mengurangi sakit punggung, dan menguatkan otot bawah panggul.
Penelitian ini dikethuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim, berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.
Mengutip hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.
"Percobaan yang kami lakukan terhadap dua orang pasien penderita disfungsi ereksi, menunjukkan adanya perbaikan yang cepat (dalam hal kesehatan mereka), setelah menjalani "terapi shalat" selama satu bulan," katanya kepada para wartawan setelah pembukaan seminar nasional "Shalat Science" di Masjid Wilayah Persekutuan, Malaysia (5/8). Seminar dibuka oleh mantan perdana menteri Malaysia Tun Abdullah Ahmad Badawi.
Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.


Posisi Rukuk
12 raka'at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan
Menurut Ng Siew Chok yang menjalankan kajian otak dalam dalam penelitian ini mengatakan, setiap pergerakan manusia menghasilkan corak gelombang otak yang tertentu dan unik.
Gelombang otak yang dihasilkan ketika pergerakan meliputi gelombang alfa, beta dan gamma.
Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika bershalat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.
"Shalat jelas secara umumnya melibatkan bacaan serta penghayatan ayat suci Al-Quran, doa-doa serta pergerakan yang didapati menyamai meditasi.
"Semasa solat, berhenti seketika sebelum berganti posisi atau tuma’ninah dapat dikatakan seseorang berada dalam masa ketenangan," katanya.
Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.
Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.
Posisi rukuk dan sujud bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.
"Ibu-ibu non-Muslim hanya melakukan gerakan posisi itu selama terapi berlangsung. Mereka menunjukkan kemajuan hanya dalam waktu satu bulan," katanya.
Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh lantai.
Ia mengatakan, 12 raka'at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan.

Tahajjud
Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan.
Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.
Penelitian berupa disertasi berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik, juga menunjukkan, bahwa shalat tahajjud bisa menjadi penyembuh penderita kanker ganas.[di/cha/bnm/hidayatullah]
Sumber: www.swaramuslim.com

AL-IFTIRAAQ MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU [Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya]


Seandainya kita berusaha menelusuri sebab-sebab perpecahan sejak awal mula perpecahan itu terjadi sampai pada hari ini niscaya kita dapati banyak sekali faktor-faktor yang memicu terjadinya perpecahan. Bahkan hampir-hampir tidak terhitung banyaknya. Setiap mecuatnya sebuah pemikiran, tradisi dan bid'ah baru, pasti menimbulkan sebuah perpecahan baru pula. Namun dalam hal ini, ada beberapa faktor dominan yang juga merupakan sumber utama penyebab terjadinya perpecahan dari dulu hingga sekarang. Kami akan meringkasnya sebagai berikut.

[1]. Perpecahan Adalah Bentuk Perselisihan yang Lebih Tajam

Faktor terpenting yang memicu terjadinya perpecahan dan yang terdahsyat efeknya terhadap umat adalah konspirasi dan makar yang dilancarkan oleh berbagai kaum pemeluk agama, seperti kaum Yahudi, Nashrani, Shabi'un (penyembah binatang dan dewa-dewa), Majusi dan Dahriyun (atheis). Demikian pula barisan sakit hati yang masih menyimpan dendam terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena jihad Islam telah menyudahi kekuasaan mereka dan menghapus kejayaan mereka dari muka bumi. Seperti kerajaan Persia dan Romawi. Di antara mereka masih tersisa segelintir oknum yang bertahan di atas kekafirannya serta masih menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka lebih memilih jalan kemunafikan dan zindiq, yaitu menampakkan ke-Islaman secara lahiriyah saja. Atau lebih memilih tetap memeluk agama mereka yang lama dengan membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan keselamatan dan keamanan supaya dapat hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Merekalah faktor paling dominan yang menciptakan perpecahan dengan menebar tipu daya melalui pemikiran, prinsip-prinsip, bid'ah-bid'ah dan hawa nafsu di tengah-tengah kaum muslimin.


[2]. Tidak Semua Perselisihan Merupakan Perpecahan

Pentolan-pentolan ahli ahwa (pengikut hawa nafsu) yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi atau kelompok di balik awan hitam perpecahan. berikut para pengikutnya yang senantiasa menebar huru hara. Banyak kita dapati di antara pengikut-pengikut golongan sesat yang berusaha meraih keuntungan pribadi dibalik perpecahan tersebut demi memuaskan syahwat dan hawa nafsu atau demi kepentingan golongan, suku, kabilah dan lainnya. Bahkan mereka acap kali berperang demi membela kepentingan hawa nafsu atau karena fanatisme golongan. Merekalah yang berperan sebagai katalisator perpecahan. Dan mereka pula yang memperbanyak jumlah pengikut-pengikut kelompok sesat yang memang punya kepentingan sama, yaitu sama-sama mencari keuntungan.

Kelompok ini akan selalu ada kapan dan di mana saja. Setiap kali muncul pemikiran nyeleneh, bid'ah atau pengikut hawa nafsu, pasti selalu saja ada orang yang mengikutinya, baik dari kalangan pengikut hawa nafsu ataupun orang yang punya kepentinan pribadi. Orang-orang model begini pasti selalu ada di sepanjang zaman, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.


[3]. Perpecahan Hanya Terjadi Dalam Masalah Prinsipil

Kebodohan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya perepecahan. Kebodohan merupakan penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan, yang pada waktu bersamaan menciptakan atmosfir-atmosfir perpecahan. Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam bidang agama, baik kebodohan dalam aspek aqidah maupun aspek syari'at. Jahil terhadap sunnah serta kaidah-kaidah dan metodologinya. Bukan hanya buta tentang beberapa disiplin ilmu saja, sebab seperangkat ilmu yang menjadi pelindung diri dan pedoman operasional agama sudah cukup bagi mereka untuk disebut alim terhadap masalah agama sekalipun tidak menguasai seluruh disiplin ilmu. Akan tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki maklumat yang lumayan banyak, namun jahil tentang kaidah-kaidah dasar agama. Ia tidak mengerti kaidah-kaidah dasar aqidah, etika-etika dalam berbeda pendapat, kaidah-kiadah dalam menghadapi perpecahan dan menyikapinya serta etika-etika mu'amalah dengan orang lain. Ini sungguh musibah yang sangat besar yang sangat banyak menimpa umat manusia sekarang ini.

Misalnya seseorang yang memiliki sejumlah maklumat agama atau seorang yang banyak menimba ilmu dari berbagai sumber, namun ternyata ia jahil tentang masalah aqidah dan fiqih. Tidak mengerti etika bermu'amalah, prosedur memvonis orang lain. Tidak memahami kaidah-kaidah dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar, sehingga tanpa disadari ia telah berbuat kerusakan.

Jelaslah, kejahilan merupakan musibah dan penyebab utama terjadinya sebuah perpecahan, orang-orang jahil merupakan aktor utama sekaligus pemicu terjadinya perpecahan.


[4]. Perselisihan Kadang Kala Timbul Karena Perbedaan Ijtihad Tidak Demikian Halnya Perpecahan

Kerancuan dalam metodologi memahami agama. Berapa banyak kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan banyak menelaah buku-buku, namun menempuh metodologi memahami agama yang rancu. Sebab memahami agama memiliki metode tersendiri yang sudah diwarisi sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat, tabi'in serta generasi Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari ini.

Metodologi tersebut ialam menuntut ilmu, mengamalkan, ihtida' (mengikuti petunjuk), iqtida' (meneladani kaum salaf), suluk (adab dan akhlak) dan mu'amalah. Yaitu menguasai kaidah-kaidah dasar syari'at lebih banyak daripada mengenal hukum-hukum furu' dan sejumlah nash-nash tertentu saja. Dengan begitu kita dapat memahami agama secara sempurna dari para pemimpin teladan, yaitu para imam-imam dan para penuntut ilmu yang terpacaya dan mapan ilmunya. Yaitu menuntut ilmu sesuai dengan tahapan-tahapannya, baik secara kuantitas maupun jenis, sesuai dengan perkembangan dan kesiapan. Ilmu yang menghasilkan pemahaman agama yang baik ialah ilmu syar'i yang ditimba dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta atsar-atsar para imam yang shahih. Buku-buku tsaqafah (pengetahuan umum), pemikiran, sastra, sejarah dan sejenisnya tidaklah dapat menghasilkan pemahaman agama. Hanyalah sebagai ilmu sampingan dan alat bantu bagi yang dapat memetik faidah darinya.


[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu asbabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Bagian Pertama dari Lima Tulisan [1/5]




Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=694&bagian=0

11.08


Tak ada orang yang tidak bisa menulis, selagi kita masih mampu memegang bolpoin, pasti bisa menulis, tapi jika menulisnya di blog, ya tidak memegang bolpoin lagi. Tapi memencet keyboard. hehe..

Apakah selama ini anda menulis dengan menggunakan otak kiri? Atau sudah menerapkan dengan otak kanan?

Emang apa sih perbedaannya kalau kita menggunakan otak kiri dan juga otak kanan? 
Otak kanan memiliki kemampuan yang sangat menganggumkan, yang berkaitan dengan imajinasi, kreativitas, intuisi, gambar, seni, musik, kesadaran diri, empati dan yang hal-hal yang berhubungan dengan emosional dan spiritual.
Bisa anda lihat pada gambar di bawah ini, bahwa otak sebelah kanan lebih menyenangkan dibandingkan dengan otak kiri.




Otak Kanan

Hal ini dapat kita terapkan dalam gaya menulis, bagaimana gaya menulis yang menyenangkan? Tentu saja, yang berimajinatif, ber-seni dan kreatif. Seperti contoh, dalam sebuah postingan blog, anda bisa menyisipkan sebuah gambar, gambar yang berhubungan dengan tulisan tentunya. Karena sebuah gambar lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan kata-kata. Apakah anda setuju? Bisa juga dengan menggunakan bahasa santai, tidak formal. Emangnya pembaca itu guru kita??? So, jangan terlalu formal dalam berposting. hehe..

Gaya penulisan hendaknya jangan monoton. Supaya pembaca tidak bosan jika membaca tulisan yang datar, tanpa seni sedikitpun. Maksudnya monoton tu tulisannya doank kayak novel. Mengapa mayoritas orang lebih suka dengan komik dibandingkan dengan novel?? itu karena komik itu bergambar, sedangkan novel hanya tulisan saja. Sekiranya kurang menarik jika tanpa adanya gambar.


Kesimpulan

Jadi.. Usahakan anda menulis (artikel atau blog, dan sebagainya) usahakan dengan mengoptimalkan otak kiri dan otak kanan, karena dengan begitu maka tulisan anda akan bagus secara kualitas konten, bagus secara estetika, bagus secara aturan tata tulis, dan khusus bagi orang yang cenderung menggunakan otak kanan, biasanya akan lebih menyenangkan. Bagi yang belum menerapkan menulis di blog dengan otak kanan, Coba aja deh pokoknya. Karena dengan menulis menggunakan otak kanan, tulisan menjadi berenergi serta aktivitas menulis terasa amat menyenangkan.


Dan khusus bagi laki-laki usahakan agar di dalam otak anda tidak seperti gambar di atas :D :D

11.05


Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf pusat. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Sungguh suatu tugas yang sangat rumit dan banyak.

Inilah 10 kegiatan yang bisa merusak kerja otak kita wbw cuplikkan buat kamu:

1. Tidak mau sarapan

Mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan pagi memiliki kadar guladarah yang rendah, yang akibatnya suplai nutrisi ke otak menjadikurang.

2. Kebanyakan makan

Terlalu banyak makan, apalagi yang kadar lemaknya tinggi, dapatberakibat mengerasnya pembuluh darah otak karena penimbunan lemak padadinding dalam pembuluh darah. Akibatnya kemampuan kerja otak akanmenurun.

3. MEROKOK

Zat dalam rokok yang terhisap akan mengakibatkan penyusutan otaksecara cepat, serta dapat mengakibatkan penyakit Alzheimer.

4. Terlalu banyak mengkonsumsi gula

Konsumsi gula yang terlalu banyak akan menyebabkan terganggunyapenyerapan protein dan nutrisi, sehingga terjadi ketidakseimbangangizi yang akan mengganggu perkembangan otak

5. Polusi udara

Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia.Menghirup udara yang berpolusi menurunkan suplai oksigen ke otaksehingga dapat menurunkan efisiensi otak.

6. Kurang tidur

Otak memerlukan tidur sebagai saat beristirahat dan memulihkankemampuannya. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama akanmempercepat kerusakan sel-sel otak.

7. Menutup kepala ketika sedang tidur

Kebiasaan tidur dengan menutup kepala meningkatkan konsentrasizat karbondioksida dan menurunkan konsentrasi oksigen yang dapatmenimbulkan efek kerusakan pada otak.

8. Berpikir terlalu keras ketika sedang sakit

Bekerja terlalu keras atau memaksakan untuk menggunakan pikirankita saat sedang sakit dapat menyebabkan berkurangnya efektifitas otakserta dapat merusak otak.

9. Kurangnya stimulasi otak

Berpikir adalah cara yang paling tepat untuk melatih otak kita.Kurangnya stimulasi pada otak dapat menyebabkan mengkerutnya otakkita.

10. Jarang bicara

Komunikasi diperlukan sebagai salah satu sarana memacu kemampuankerja otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu efisiensiotak. Jarangnya berkomunikasi akan menyebabkan kemampuan intelektualotak jadi kurang terlatih.

10.50
Badai matahari telah membiarkan satelit dan jaringan tenaga listrik aman sementara mengguncang medan magnit Bumi hari Kamis, tanpa ada laporan gangguan terhadap GPS dan arus listrik.
Meski sempat dikhawatirkan menimbulkan banyak gangguan, badai matahari ternyata hampir tidak berdampak bagi bumi.
Badai matahari besar-besaran, yang semula diperkirakan akan menciptakan banyak gangguan terhadap apa saja dari telepon tangan hingga penerbangan pesawat penumpang, telah sampai ke Bumi dengan dampak yang hampir tidak ada, tetapi para pakar mengatakan keadaan masih dapat berubah.
Badai itu tampaknya telah membiarkan satelit dan jaringan tenaga listrik aman sementara badai itu mengguncang medan magnit Bumi hari Kamis, tanpa ada laporan gangguan terhadap GPS dan arus listrik.
Seorang ilmuwan badan cuaca pemerintah Amerika mengatakan badai itu datang dengan arah yang menyebabkan masalah paling kecil. Tetapi, ia mengatakan arah tersebut dapat berubah sementara badai itu terus terjadi.
Badai tersebut mulai dengan sepasang gelombang yang bersumber dari dua ledakan cahaya di permukaan matahari hari Selasa, dan berlanjut dengan dua semburan besar corona yang menembakkan sejumlah sangat besar energi dan partikel bermuatan listrik keluar dari matahari.
Partikel tersebut diperkirakan sampai ke bumi dengan kecepatan lebih dari 6 juta kilometer per jam. Para peramal cuaca sebelumnya telah memperingatkan badai itu dapat mengganggu komunikasi radio, jaringan satelit, sitem kedudukan global atau GPS dan jaringan transmisi listrik.
Beberapa maskapai penerbangan bahkan mengubah rute penerbangan mereka untuk menghindarkan masalah. Tetapi, akhirnya badai itu berakhir dengan intensitas paling rendah pada skala bertingkat lima.

10.47
Hasil penelitian baru menunjukkan bahwa kelemahan binatang bertelur mungkin dapat membantu menjelaskan punahnya jenis dinosaurus yang bukan burung di era Cretaceous-Tertiary atau (K-T).
Embrio dinosaurus yang ditemukan di wilayah Patagonia (Argentina) ini termasuk dalam jenis herbivora Titanosaurus yang mematahkan keraguan asal usul dinosaurus yang dilahirkan seperti mamalia atau melalui telur seperti jenis reptil (Foto: dok).


Era K-T merupakan masa dimana makhluk hidup di dunia mengalami kepunahan besar-besaran sekitar 65 juta tahun yang lalu, dan mengakhiri dominasi dinosaurus atas semua binatang selama 150 juta tahun.

Para ilmuwan sependapat bahwa hanya binatang-binatang kecil yang beratnya tidak melebihi 25 kilogram dapat selamat dari kepunahan besar-besaran K-T, yang melenyapkan kira-kira 70 persen dari semua mahluk hidup di Bumi.


Hasil penelitian para ilmuwan di Zoological Society of London dan Universitas Zurich di Swiss mengungkapkan hanya ada beberapa jenis dinosaurus kecil dan menengah yang beratnya antara dua hingga 60 kilogram yang tersisa pada masa kepunahan K-T.


Mamalia yang melahirkan anak hidup, jauh lebih kecil daripada dinosaurus pada masa geologi Cretaceous. Karena dampak ekologi, mamalia ini telah berevolusi menjadi berbagai jenis yang beratnya jauh di bawah batas keselamatan dari  kepunahan K-T.


Menurut para ilmuwan, telur menghasilkan anak yang sangat kecil dibanding ukuran induknya yang keluar dan masuk sebagian besar tempat ekologi dalam lingkungan mereka ketika dinosaurus dibesarkan hingga dewasa. Induk betina dinosaurus biasanya beberapa ribu kali lebih besar daripada  anaknya yang baru menetas dari telur.


Persaingan yang terus-menerus yang dialami oleh dinosaurus besar, sementara binatang ini bertumbuh dari ukuran kecil ketika baru menetas menjadi binatang dewasa yang sangat besar. Hal ini tidak dialami oleh mamalia, yang melahirkan anak  yang  jauh lebih besar daripada anak dinosaurus apabila dibandingkan dengan ukuran induknya. 


Mengenai jenis dinosaurus kecil, para peneliti menunjukkan melalui simulasi komputer bahwa sebagian dari jenis kecil dinosaurus harus bersaing dengan dua jenis mamalia kecil. Selain dengan sesama reptil, dinosaurus kecil juga terbang ke angkasa seperti burung.


Para ilmuwan mengatakan dinosaurus besar mendominasi ekosistem mereka dengan arus pertambahan tetap dengan anak-anaknya yang semakin besar, satu contoh satu jenis binatang menduduki banyak tempat ekologi.


Sebaliknya mamalia  memberi contoh banyak jenis menduduki satu tempat ekologi, kombinasi yang unggul yang bukan hanya menghindarkan mereka dari masa kepunahan K-T, tetapi juga memungkinkan evolusi mamalia yang lebih besar yang kelak mengisi tempat-tempat ekologi yang lowong setelah punahnya dinosaurus.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget