Latest Post

Aparat yang seharusnya melindungi warga, justru melakukan hal ini.

Voice Of Muslim - Aparat keamanan membunuh dan memperkosa serta menahan secara ilegal ratusan warga Muslim etnis Rohingya di Myanmar. Aparat juga diam saja melihat aksi kekerasan dan penyiksaan warga oleh orang budha menambah panjang daftar dosa negara yang baru menyentuh demokrasi tersebut.

Hal ini didasarkan atas laporan terbaru Human Right Watch (HRW) berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini" seperti dilansir Reuters, Rabu 1 Agustus 2012. Laporan setebal 56 halaman itu tersebut didasarkan atas 57 wawancara dengan warga etnis Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Arakan untuk mencari fakta dan membuktikan janji pemerintahan baru Myanmar yang katanya menjunjung tinggi HAM.

Dalam laporan, tentara Myanmar yang seharusnya menjaga Muslim Rohingya paska bentrokan dengan etnis Rakhine Juni lalu malah membunuhi warga. Saat kerusuhan, tulis laporan, beberapa Muslim Rohingya yang mencoba kabur atau memadamkan rumah mereka yang terbakar justru ditembak oleh pasukan paramiliter, tidak peduli wanita atau anak-anak.

Berbagai kasus perkosaan juga tercatat dilakukan oleh tentara Myanmar. Tentara juga bergeming saat massa di Rakhine memukuli Muslim Rohingya hingga menjemput ajal. Tenaga medis, bantuan kemanusiaan internasional dan media dilarang masuk ke lokasi, beberapa dari sukarelawan bahkan ditangkap. Hingga saat ini, akses ke tempat itu tertutup.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dan 109 terluka. Namun, data ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Jumlah lain disampaikan berbagai media, termasuk Press TV Iran, yang mengatakan korban tewas mencapai 600 orang.
Puluhan ribu warga Rohingya mengungsi ke tempat aman. Beberapa memilih mengungsi ke Bangladesh pakai perahu. Namun di negara ini, Rohingya tidak diterima, seperti status mereka di Myanmar: warga tak diinginkan.

Kekerasan di Arakan dimulai saat seorang wanita Rakhine diduga diperkosa oleh tiga lelaki Rohingya pada 28 Mei lalu. Ketiganya telah divonis mati. Ketegangan kedua etnis diperparah saat 10 Muslim Rohingya dibunuh saat bepergian menggunakan bus.

"Aparat keamanan Myanmar gagal melindungi Rakhine dan Rohingya dari satu sama lain dan malah melakukan kampanye kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Pemerintah Myanmar mengklaim berkomitmen menghentikan konflik etnis, tapi apa yang terjadi sebaliknya, kekerasan dan diskriminasi justru didukung pemerintah," kata Brad Adams, Direktur HRW untuk Asia.

Voice Of Muslim - Kekerasan antara umat Muslim dan Buddha di Myanmar semakin menjadi. Beberapa lembaga HAM mengatakan bahwa ini adalah kekerasan sistematis yang dilakukan warga dan pemerintah terhadap etnis Muslim Rohingya.

Banyak timbul pertanyaan, mengapa umat Buddha yang menjunjung tinggi prinsip welas asih mendadak brutal di Rakhine, Myanmar. Hal ini ternyata tidak lepas dari peran seorang biksu yang dengan bangga menyebut dirinya sendiri "Bin Laden dari Burma."

Biksu bernama asli Wirathu ini memang dikenal radikal dan pembuat onar. Karena ulahnya itu, pada 2003 dia ditahan dan divonis penjara 25 tahun oleh pemerintahan junta militer Myanmar karena menghasut aksi kekerasan terhadap warga Muslim. Masalahnya, dia dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik lainnya sebagai salah satu bagian dari program reformasi demokrasi Myanmar.

The Guardian dalam sebuah artikelnya mengulas nama Wirathu mengemuka sejak 2001 lalu. Putus sekolah pada usia 14 tahun, dia lalu menjadi biksu di biara Mandalay. Wirathu dikenal kerap membuat DVD anti Islam dan provokasi-provokasi lainnya di media sosial.

Sejak bebas, pria 45 tahun ini menggagas "Gerakan 969", sebuah kampanye memboikot umat Islam yang memicu kekerasan di Rakhine. Kampanye ini menyerukan umat Buddha untuk tidak berbelanja di toko-toko orang Muslim, juga tidak menikahi, mempekerjakan dan menjual properti kepada mereka.

Nama "969" sendiri diambil Wirathu dari sembilan nama Buddha, enam langkah Buddha dan sembilan jalan kebiksuan. Pendukung kampanye ini menempelkan stiker bertuliskan "969" di toko-toko mereka, rumah, taksi dan bus, menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Wirathu.

Kemudian terjadi pembantaian umat Muslim Rohingya di Rakhine. Sebanyak 43 orang--pria, wanita dan anak-anak--terbunuh saat itu. Puluhan ribu Muslim Rohingya terpaksa hengkang. Peristiwa terbaru, sebanyak 25 Muslim Rohingya dibantai di Meikhtila April lalu.
Human Right Watch dalam penyelidikannya menemukan adanya penyebaran leaflet anti Islam berstempel 969 di Meikhtila, sebelum bentrok pecah. Puluhan saksi juga menyatakan bahwa pemimpin massa adalah para biksu--yang seharusnya jadi ikon demokrasi di Myanmar.
Tudingan Wirathu
Wirathu mengaku punya alasan kuat mengapa dia menggelar kampanye itu. Seperti kelompok radikal lainnya--dari kalangan dan agama apapun--kebanyakan alasannya tidak bisa dibuktikan dan terdengar ngawur.

Salah satunya, menurut dia, Muslim Rohingya memaksakan agama mereka pada orang lain dengan ancaman pembunuhan dan perkosaan. Selain itu, dia mengatakan, cara Muslim menyembelih hewan tidak bisa diterima umat Buddha.

"Pembunuhan hewan oleh Muslim membuat orang familiar dengan darah. Hal ini akan mengancam perdamaian dunia jika memuncak ke tingkat tertentu," ujarnya.

Masih menurut dia, minoritas Muslim di Myanmar yang jumlahnya hanya lima persen didanai oleh kekuatan di Timur Tengah. "Muslim lokal sangat kejam karena ada kelompok ekstremis yang mengendalikan, membantu mereka dengan dana, dan pelatihan militer," dia menuding.
Pemahaman Wirutha ditentang oleh para pemuka Buddha di Myanmar, salah satunya datang biksu Abbot Arriya Wuttha Bewuntha dari biara Myawaddy Sayadaw Mandalay. Dia mengatakan bahwa apa yang disampaikan Wirathu mengarah pada kebencian, bukan ini yang diajarkan Buddha.

"Ini bukanlah yang diajarkan Buddha. Yang diajarkan Budha adalah kebencian itu tidak bagus, Karena Buddha melihat semua orang setara. Buddha tidak menilai orang berdasarkan agamanya," kata Bewuntha.

Hal yang sama dikatakan seorang penganut Zen Buddha dari Amerika Serikat, James Ure, dalam blognya www.thebuddhistblog.blogspot.com. Dia bahkan mengatakan bahwa dalam praktiknya, Wirathu bukan penganut Buddha.

"Mungkin dia mengenakan jubah biksu, tapi dia tidak menyebarkan pesan yang dibawa Buddha soal kasih sayang dan toleransi," kata Ure.

Pemerintah terlibat?
Kelompok HAM internasional menyayangkan aksi kelompok Buddha radikal ini. Selain itu, HRW mensinyalir pemerintah dan aparat keamanan Myanmar turut terlibat dalam pembantaian Muslim Rohingya di negeri ini.

Beberapa saksi mata mengatakan tentara dan polisi Myanmar turut menyiksa dan memperkosa wanita Rohingya. HRW mendesak pemerintah Myanmar bertindak mengatasi gelombang kebrutalan ini.

"Kampanye 969 lebih dari aksi boikot. Kampanye ini telah memicu kekerasan yang tidak rasional," kata Jim Della-Giacoma, Direktur Asia Tenggara, International Crisis Group.
Pengamat mengatakan bahwa masyarakat internasional tidak boleh tebang pilih dan harus segera mengambil langkah untuk menghentikan aksi Wirathu. Pasalnya, dia semakin bebas menyuarakan kebencian dan hasutannya diamini oleh sejumlah biksu lain di Myanmar.
"Jika gerakan kebencian seperti '969' di Burma, katakanlah, terjadi di Eropa melawan orang Yahudi, pasti tidak ada pemerintah Eropa yang membiarkannya," kata aktivis Myanmar dari London School of Economics, Maung Zarni. "Lalu kenapa sekarang Uni Eropa tidak menanggapinya dengan serius? Padahal ini terjadi di negara penerima dana bantuan besar dari Eropa."

Massa FPI
Voice Of Muslim - Front Pembela Islam meminta segala bentuk penindasan yang dialami oleh muslim Rohingya segera dihentikan. Bahkan, FPI siap untuk terjun langsung berjihad di Myanmar jika tuntutan ini tidak diindahkan oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau tuntutan ini tidak diselesaikan dan genoside tetap terjadi, FPI, Majelis Muslim Indonesia, Jamaah Anshar Tauhid, dan seluruh ormas Islam di Indonesia bahkan ASEAN akan mengobarkan jihad," ujar Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq, Jumat 3 Mei 2013.

Selain itu, FPI menuntut agar pemerintah Myanmar membatalkan undang-undang yang mencabut kewarganegaraan penduduk Rohingya. UU ini, Habib melanjutkan, yang memicu terjadinya konflik horizontal hingga terjadinya pembantaian besar-besaran penduduk Rohingya di Myanmar.

"Mereka (Rohingya) dibunuh, dibantai, diperkosa, dan banyak diusir dari pengungsian. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa," lanjut Habib.

Menurut Habib, Persatuan Bangsa-Bangsa sudah mengakui adanya genoside di Myanmar, namun ternyata tidak melakukan apa-apa. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah dinilai tutup mata dengan adanya peristiwa ini.

"Kalau PBB tidak mampu melakukan apa-apa dan negara Arab menutup mata dari kedzaliman yang ada di Myanmar, kami umat Islam yang akan memutuskan dengan cara kami. Tidak ada jalan lain kecuali jihad ke Myanmar," kata Habib.

Dalam aksi tersebut, Habib Rizieq berusaha menemui Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, namun gagal. Duta Besar tidak ada di tempat, karena sedang mengikuti rapat di Sekretariat Jenderal ASEAN.

"Kami hanya bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, mereka tidak dapat memberikan kepastian. Tapi, insya Allah dalam dua hari ini akan ada dialog antara Duta Besar dan ormas-ormas Islam," ujar Habib.

Habib mengatakan, jika Duta Besar Myanmar menutup pintu dialog, FPI siap untuk melakukan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar.

"Apapun yang terjadi dengan kedutaan ini, kami tidak tanggung jawab kalau mereka menutup pintu dialog," sambung Habib.

Terkait penangkapan teroris tadi malam yang diduga akan meledakkan Kedubes Myanmar, Habib menyatakan FPI tidak ada kaitannya dengan itu. "Tidak ada kaitan demo ini dengan tindak teroris hari ini," kata Habib Rizieq.

Ia menyampaikan, unjuk rasa hari ini murni bentuk keprihatinan terhadap permasalahan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar.

Di negara ini, Rohingya dimuliakan dan dilindungi negara.

Voice Of Muslim - Tidak diakui Bangladesh dan Myanmar, orang-orang Rohingya juga tidak diterima di beberapa negara. Mereka terpaksa hidup sebagai imigran gelap, dipenjara dan dihinakan. Ini memang lebih baik ketimbang tetap di Myanmar, jadi sasaran kekerasan dan perkosaan.

Namun hal berbeda dialami oleh para pengungsi Rohingya di Arab Saudi. Etnis Rohingya sudah mengungsi ke negara ini sejak 45 tahun lalu, kebanyakan di kota Mekkah. Raja Abdul Aziz saat itu justru menawari etnis Rohingya untuk berlindung di negaranya.

Sejak itulah mereka mendapatkan kewarganegaraan sementara. Kegembiraan ratusan ribu orang Rohingya di Saudi semakin lengkap saat pada Maret lalu Saudi memberikan status kewarganegaraan gratis pada 250.000 orang Rohingya.
Berarti, kini mereka berhak atas fasilitas kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan warga setempat.
"Dunia baru menyadari penderitaan Rohingya di Burma kurang dari setahun lalu. Tapi Arab Saudi adalah negara satu-satunya yang peduli penderitaan mereka sejak lama," kata Abdullah Marouf, sekretaris jenderal komunitas BUrma dan kepala Global Rohingya Center di Jeddah, dilansir Arab News.

"Arab Saudi telah mendukung kami Rohingya tahun 1968, saat Raja Abdul Aziz menerima imigran pertama imigran Burma. Izin tinggal tetap telah dikeluarkan untuk Rohingya tahun 1980 saat pemerintah Raja Saud," lanjut Marouf lagi saat berbicara pada forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah.

Selain itu, Rohingya juga telah melebur bersama warga Saudi. Ibrahim adalah salah satu orang Rohingya yang berhasil menyatu di Mekkah. "Alhamdulillah kami belajar bahasa Arab di sini, tumbuh di sini. Namun kami tidak melupakan bahasa asli kami, termasuk bahasa Rohingya," kata Ibrahim, dilansir Al Arabiya, Rabu 8 Mei 2013.

"Adik perempuanku menikah dengan orang Saudi. Dan saya, Alhamdulillah, telah tunangan dengan wanita Saudi," ujar pemuda ini lagi.

Pemerintah Saudi telah memasukkan komunitas Rohingya sebagai pendatang yang harus dilindungi negara. Artinya, Rohingya kebal beberapa hukum dan peraturan kependudukan dan tidak ada yang boleh menyakitinya.

Tidak hanya melindungi Rohingya di negaranya, pemerintah Saudi memberikan bantuan kepada etnis Muslim Rohingya di Myanmar. Agustus tahun lalu, atas perintah Raja Abdullah, Saudi menggelontorkan bantuan sebesar US$50 juta (Rp486 miliar) kepada Rohingya yang terkena konflik di Rakhine.

Voice Of Muslim - INGGRIS – Ujung tombak klub bola terkenal di Eropa, Demba Ba, sangat peduli dengan penderitaan sesama Muslim di Myanmar. Untuk membantu musibah Muslim Rohingnya, striker Chelsea ini menjual mobil Ferrari kesayangannya untuk infaq.

Demikian rilis kantor berita Rohingnya, Kamis (09/05/10). Sebagian laporan berita mengungkapkan, striker The Blues menjual mobil mewahnya dan uangnya untuk disumbangkan Muslimin Burma yang menjadi sasaran kekerasan oleh orang-orang Budha.

Demba Ba sangat dermawan untuk dakwah Islam di Eropa, seperti menyumbang pembangunan salah satu masjid di London. Dia juga selalu mengekspresikan keislaman kepada dunia dari lapangan bola, seperti sujud syukur tiap kali mencetak gol. Hal itu dilakukannya semenjak berada di New Castle United sebelum pindah ke Chelsea.

Tak hanya itu, Demba Ba bahkan menghafal bebrapa juz dari Al-Qur’an dan memiliki peran menjelaskan Islam di kalangan rekan-rekannya se-tim.

Voice Of Muslim - KANDAHAR, AFGHANISTAN - Para pejabat lokal dan sekutu mengatakan tiga tentara Amerika Serikat tewas akibat bom jalanan di provinsi Kandahar, Afghanistan, pada Selasa (14/5/2013). Insiden mematikan yang terjadi sehari setelah tiga tentara Georgia tewas di Helmand.
Angka terbaru tersebut menjadikan jumlah korban tewas dari militer AS dalam konflik di Afghanistan di tahun ini menjadi 49.

Juru bicara provinsi
Jawid Ahmad Faisal mengatakan bahwa insiden itu terjadi setelah sebuah konvoi kendaraan patroli pasukan AS menghantam bom pinggir jalan di distrik Zhari, Kandahar.
Ledakan tersebut juga melukai beberapa prajurit lainnya.
Seorang juru bicara Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mengatakan kepada AFP, "Kami dapat mengkonfirmasi bahwa tiga tentara tewas dalam ledakan bom pinggir jalan di Afghanistan selatan hari ini (Selasa)."

Mayor Bryan Purtell, juru bicara ISAF mengatakan korban tewas sebelumnya dari empat telah direvisi menjadi tiga dan operasi pemulihan sedang berlangsung di tempat kejadian.

Koalisi dan pejabat lokal Afghanistan menegaskan bahwa semua korban adalah orang Amerika.
Bulan Mei telah terbukti menjadi bulan yang sangat berdarah bagi anggota Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dipimpin NATO, yang sedang mempersiapkan untuk menarik semua pasukan tempur pada akhir tahun depan, dengan jumlah total korban tewas mencapai 65 tentara dengan perincian 49 berasal dari AS, 6 orang berasal dari Inggris dan 10 sisanya dari negara lain.

Voice Of Muslim - SURIAH  Selasa (14/05/13) Aktivis Oposisi Suriah mengungkapkan, lebih daritiga puluh lima ribu shabiha alawi (tentara loyalis Bashar Assad) tewas selama dua tahun revolusi berlangsung.

Observatorium Suriah untuk HAM menegaskan, oposisi dari sekte alawiyah dari berbagai pinggiran kota Tartus, Lattakia, Jabalah, Homs dan Baniyas yang dipenjara pada masa rezim Hafez Assad menyamaikan bahwa jumlah korban di barisan pasukan Assad  dari sekte Alawi melebihi jumlah yang telah disebutkan.

Observatorium telah menyebutkan dalam laporannya waktu lalu, telah didokumentasikan korban jiwa  berjumlah 70257 orang sejak meletusnya revolusi , ditambah 12 ribu lebih korban tewas dari shabihah dan pasukan Assad.[usamah/imo]

Voice Of Muslim - Setelah berhasil mendirikan masjid pertama di Kutub Utara, Muslim Kanada mengungkapkan kebahagiaan mereka karena berhasil menambahkan menara di masjid yang berwarna kuning yang berlokasi di kota Winnipeg-Inuvik itu.

“Inilah menara masjid yang dibangun di Kutub Utara. Menara itu sangat indah ketika kami nyalakan lampu-lampunya di tengah kegelapan,” kata Amier Suliman, anggota komite masjid dengan bangga, Kamis (28/10).

Menara itu menjulang dengan tinggi sekitar 10 meter, menambah kemegahan masjid yang dibuat dari bahan-bahan fabrikasi itu. Komunitas Muslim di Inuvik–kota yang berjarak 200 kilo meter dari Kutub Utara–sudah lama menginginkan sebuah tempat yang memadai untuk menjalankan peribadahan mereka. Tapi impian itu sempat lama tertunda karena harga bahan bangunan dan ongkos tukang bangunan yang sangat mahal.

Sampai akhirnya sebuah perusahaan pemasok bahan bangunan di Manitoba mengatakan bahwa mereka bisa membuat struktur masjid itu di pabriknya, dan setelah bangunan masjid jadi, ditarik dengan kapal ke Inuvik. Perusahaan itu hanya mengenakan biaya setengah dari harga yang seharusnya dibayar.
Setelah melalui proses dan perjalanan panjang melewati daratan dan sungai di sepanjang wilayah Barat Kanada, masjid kecil berukuran 140 meter per segi yang terbuat dari bahan kayu itu akhirnya sampai di Inuvik pada bulan Agustus kemarin. Di kota itu komunitas Muslim berkembang pesat dan jumlahnya bertambah banyak, yang membuat mereka merasa perlu memiiki sebuah masjid. Komunitas Muslim di Inuvik yang berpenduduk sekitar 4.000 jiwa itu, kebanyakan berasal dari Sudan, Lebanon dan Mesir.
Penambahan menara masjid disambut gembira oleh komunitas Musim di Inuvik. “Sebagian orang akan mengatakan ini adalah sebuah garis depan terbaru bagi Islam. Tapi bagi kami, yang terpenting adalah kaum Muslimin di sini yang biasanya melaksanakan salat Jumat menumpang di sebuah gereja Katolik, sekarang sudah punya tempat yang layak untuk beribadah, lengkap dengan menaranya,” tandas Suliman. (oi/eramuslim/Dz)

Voice Of Muslim - Dia berusia 23 Tahun. Bernama Peter Casey, atau Abdulmalik. Pada usia 15 tahun, lulusan Queens College ini memutuskan bersyahadat masuk Islam.

Namanya dikenal secara luas baik di negerinya, Amerika Serikat, maupun dunia internasional setelah pengakuannya memilih Islam tersebar luas di jagat maya. Alih-alih takut akan keselamatan nyawanya mengingat fobia Islam kembali mengental di AS menjelang peringatan tragedi 11 September, ia malah rajin menunjukkan keyakinan barunya di depan publik.  (Tidak semua muslim mampu lakukan hal itu di negeri non muslim  walau oleh ‘yang sudah Muslim’ sejak lahir)

Ia misalnya, selalu pergi ke masjid setiap hari dengan ‘menumpang’ skateboard-nya — gaya khas anak muda AS. Ia juga jarang berpikir dua kali untuk melakukan ibadah shalat di Starbuck, jika kebetulan ia tengah nongkrong di sana dan waktu shalat telah tiba.
Pria bermata biru ini mengaku pantang menyembunyikan identitas keislamannya. Sebaliknya, ia mengatakan ia berusaha untuk “menantang stereotip dan kesalahpahaman” orang lain di sekitarnya tentang Islam.

Sebagai seorang mualaf yang dibesarkan di pinggiran kota dengan latar belakang Yudeo-Kristen, Casey dibesarkan di pinggiran Long Island oleh ibu yang beragama Yahudi dan ayah Katolik. Ia tumbuh dalam keluarga yang bertolak belakang dalam melihat Yesus.
Di satu sisi, kekristenan berbicara tentang Yesus (Tuhan) sebagai Allah Putra, Allah Bapa, dan roh Kudus (3 Pribadi tapi Satu/trinitas). Di sisi lain, Yudaisme (Agama Yahudi) berbicara tentang Yesus sebagai seorang mesias/seorang yang diurapi/juru selamat palsu.
“Saya merasa ada dua hal ekstrem di sana, dan saya mempelajari keduanya,” kata  Casey.
Pasca-serangan 11 September 2001, pemahaman mulai berubah. Ia berusia 13 tahun saat dua menara kembar WTC itu runtuh. Sejak itu!, ia rajin berselancar di dunia maya mengorek isi ajaran Islam — yang “Pada awalnya” dituduhkan berada di balik serangan itu. Ia menemukan dalam penelusurannya doktrin yang lebih masuk akal dalam Islam tentang Yesus: Dia Seorang Nabi, Seorang Pria yang menyampaikan firman Allah. Tidak lebih dari itu.
“Aku sedang mencari agama Yesus dan murid-muridnya,” kata Casey mengatakan. “Dan ketika saya mulai belajar tentang Islam, saya seperti:” Ini dia. Ini adalah agama itu.” . (The New York Times,12/9/2011)
Dua tahun kemudian, pada usia 15 tahun, ia masuk Islam.
Sejak itu, Ia telah berupaya untuk meluruskan kecurigaan publik AS pada Islam. Tak hanya melalui perbuatan – seperti bershalat di tempat umum dan ramah pada siapa saja — ia juga aktif berdakwah melalui blog-nya yang bertajuk ‘Dawah Addict’. Tema-tema seperti ‘Muhammad dalam Alkitab’ dan ‘Bagaimana Menjadi Seorang Muslim’ diulasnya tanpa canggung.
“Ketika saya pertama kali menjadi Muslim, dan ini masih terdengar hingga hari ini, orang-orang berkata,”Mengapa tidak ada Muslim di luar sana mengatakan tentang Islam yang sebenar-benarnya?” Kata Mr Casey. “Dan saya pikir, yah, Saya akan Melakukannya jika tidak ada orang lain yang akan melakukannya.”
Ia bahkan mempunyai saluran/channel You Tube sendiri yang ia pergunakan untuk Dakwah dan menyampaikan islam dengan jumlah pendengar yang terus tumbuh dengan 5000 pelanggan dan hampir setengah juta pengunjung.
sumber,
The New York Times,(http://cityroom.blogs.nytimes.com/2011/09/12/l-i-bred-muslim-convert-challenges-stereotypes/?partner=rss&emc=rss)
semoga bermanfaat,….
———————————————-
إِلّا مَن تابَ وَءامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صٰلِحًا فَأُولٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّـٔاتِهِم حَسَنٰتٍ ۗ وَكانَ اللَّهُ غَفورًا رَحيمًا

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 25. Al Furqaan : 70)

Voice Of Muslim - Vienna, Austria - Data resmi menunjukkan adanya pertumbuhan drastis dan dramatis dalam berpindahnya pemeluk Kristen ke Islam di Austria, bertolak belakang dengan meningkatnya diskriminasi terhadap agama minoritas di negara-negara Eropa yang berbeda.

"Kami melihat bahwa masyarakat memiliki kerinduan spiritual yang mereka merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup mereka, jika tidak ada dimensi, tidak ada cakrawala untuk akhirat, atau di mana saya? Mengapa saya di sini? kata Carla Amina Baghajati, juru bicara Komunitas Islam Austria, kepada Press TV pada hari Jumat pekan lalu.

Mencari kenyamanan dalam ajaran Islam, banyak warga Austria yang masuk Islam di negara berpenduduk mayoritas Katolik.

Namun, setelah terungkapnya skandal pelecehan di gereja Katolik menjadikan hal ini peranan utama dalam eksodus warga Austria untuk masuk Islam.

"Jika gereja kecil dalam keanggotaan, maka akan menjadi lebih kecil dalam pengaruh sosial," kata Michael Pruller, juru bicara Keuskupan Agung, kepada Press TV.

Muslim Austria diperkirakan mencapai 400.000 atau hampir 4 persen dari 8 juta penduduk di negara Eropa tersebut.
Estimasi menunjukkan bahwa hampir setengah juta warga Kristen Austria telah masuk Islam sejak sekitar dua tahun lalu, dengan jumlah konversi semakin berkembang, Press TV mengatakan.

Pada tahun 2007, Muslim Austria telah memperjuangkan kampanye nasional untuk memperkenalkan Nabi dan ajaran-ajarannya untuk rekan senegara mereka.

Kampanye ini bergema setelah diluncurkan oleh Muslim seluruh Eropa sebagai tanggapan terhadap pelecehan kartun Nabi Denmark pada tahun 2005.

Meskipun gelombang anti-Muslim yang tumbuh di seluruh negara Eropa, umat Islam Austria percaya kampanye mereka ini memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk membangun jembatan dengan masyarakat.

"Ketika saya melangkah masuk Islam saya memiliki kesan pribadi bahwa ada langkah maju di diri saya," kata Baghajati kepada Press TV.

"Ini adalah mengapa saya merasa bahwa ada kemungkinan yang baik untuk membangun lebih banyak jembatan di antara warga karena kami berbagi jauh lebih banyak dengan orang pikirkan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget