Latest Post

Voice Of Muslim - Pemerintah Iran menegaskan mereka tidak akan membiarkan Barat melancarkan serangannya ke Suriah. Presiden Iran Hassan Rohani mengatakan, Iran akan melakukan segala upaya mencegah agresi militer terhadap rezim Bashar al-Assad yang mereka dukung.

Diberitakan Al-Jazeera yang mengutip Press TV, Kamis 29 Agustus 2013, hal ini disampaikan Rohani pada Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sambungan telepon. Kedua negara ini memang dikenal sebagai pendukung nomor wahid rezim Suriah.

"Aksi militer akan memiliki dampak yang besar terhadap kawasan. Penting sekali untuk menerapkan seluruh upaya untuk mencegahnya," kata Rohani.

Dalam laporan percakapan kedua kepala negara, Rohani mengatakan bahwa Iran dan Rusia sama-sama berupaya agar serangan militer tidak dilakukan. Rohani bahkan menyebut agresi militer terhadap Suriah adalah "pelanggaran terbuka" terhadap hukum internasional.

Barat yang digawangi Amerika Serikat, Inggris dan Prancis sebelumnya menggelontorkan wacana aksi militer. Hal ini juga disampaikan Inggris dalam draft resolusi di Dewan Keamanan PBB yang akhirnya ditolak.

Barat menganggap pihak Assad sudah keterlaluan karena menyerang warga sipil dengan senjata kimia, menewaskan 1.700 orang. Kesimpulan penggunaan senjata kimia ini disampaikan para kepala negara, termasuk Barack Obama.

Rohani mengatakan bahwa Iran juga mengutuk penggunaan senjata kimia. Namun dia menghimbau semua pihak untuk berkepala dingin dan mencari fakta soal digunakannya senjata itu di wilayah Ghouta. Hal serupa disampaikan Rusia saat menolak draft resolusi Inggris di DK PBB.

"Penilaian yang terlalu dini sangat berbahaya, sebelum adanya klarifikasi yang menunjukkan bahwa Suriah benar-benar menggunakan senjata kimia," kata Rohani.


Voice Of Muslim - Seorang gadis remaja muslim Prancis dilaporkan mencoba bunuh diri setelah diserang oleh dua pria dekat Lapangan Berlioz pada 12 Agustus kemarin. Gadis yang tidak diketahui namanya itu mencoba melompat dari lantai empat rumahnya di kota Trappes, Paris, Prancis pada hari Senin 26 Agustus 2013.

Laman Dailymail, Selasa 27 Agustus 2013 melansir motif bunuh diri sesungguhnya remaja berusia 16 tahun itu belum diketahui dengan pasti.

Beruntung dia masih dapat diselamatkan. Remaja itu kemudian dilarikan ke RS terdekat untuk memperoleh pertolongan medis.

Peristiwa itu berawal saat remaja itu diserang oleh dua pria berwajah orang Eropa pada pukul 17.45 waktu setempat. Saat itu dia baru pulang dari rumah temannya. Usai peristiwa itu dia melapor kepada polisi.

Gadis itu menceritakan, kedua pria itu meneriakkan kalimat anti-Muslim dan bernada rasis kepadanya.

Kemudian kedua pria mengeluarkan sebuah pisau cutter yang digunakan untuk membuka cadarnya. Tidak hanya itu, salah satu pria bahkan melakukan pelecehan seksual kepada gadis itu.

"Pria pertama mulai menyentuh dada saya, namun saya berhasil menampar wajahnya. Tidak terima, dia lalu meninju saya di bagian dada," kata gadis itu kepada laman Huffington Post.

Sementara pisau cutter yang digunakan pria lainnya berhasil mengenai wajah dan tenggorokan si gadis. Akibatnya dia mengalami luka.

Kedua pria itu akhirnya kabur dengan menggunakan sebuah mobil, saat seorang warga lain muncul. Polisi di Yveslines saat ini tengah menyelidiki kasus tersebut.

Mereka memeriksa potongan rekaman video CCTV yang ada di sekitar lapangan untuk memperoleh bukti, karena saat peristiwa itu terjadi tidak ada satu pun saksi. Khawatir kasus bunuh diri gadis remaja itu akan kembali memicu konflik dan kemarahan umat Muslim di kota Trappes, maka polisi menyiagakan anggotanya di sekitar kota itu pada Senin malam.

Menurut media Perancis, Le Parisien, aksi bunuh diri gadis itu bukan kali ini saja. Dia juga pernah melakukan upaya bunuh diri pekan lalu dengan menenggak obat-obatan sehingga over dosis.

Aksi kerusuhan sebelumnya pernah terjadi di kota Trappes pada bulan Juli lalu.

Hal itu dipicu aksi polisi yang memaksa untuk memeriksa seorang wanita muslim yang mengenakan cadarnya. Sementara sang suami yang mencoba melarang pemeriksaan itu malah ditahan polisi.

Alhasil, ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor polisi menuntut pembebasan pria tersebut. Unjuk rasa itu berakhir ricuh yang menyebabkan remaja berusia 14 tahun mengalami luka serius di bagian mata.

Sementara empat petugas polisi dilaporkan ikut terluka. Kontroversi mengenai jilbab penutup wajah atau burka terus muncul sejak Pemerintah Perancis memberlakukan larangan penggunaannya tahun 2011 silam.

Bagi wanita yang melanggar, maka dapat dikenai denda senilai 150 Euro atau Rp2,1 juta dan dipaksa mengikuti kelas kewarganegaraan.

Voice Of Muslim - Eskalasi krisis keamanan di Suriah terus meningkat, seiring dengan pernyataan pejabat Amerika Serikat tentang niat negeri adidaya itu untuk melakukan aksi militer terhadap Suriah, Selasa lalu (27/8/2013).



Tapi bagaimana dengan negara-negara lain? Siapa yang mendukung aksi militer AS terhadap Suriah, dan siapa pula yang menentang?





Pendukung

Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry menuding rezim Assad menggunakan senjata kimia untuk menyerang rakyatnya. Kapal-kapal perang Amerika pun telah berada di kawasan Mediterania sehingga spekulasi serangan Amerika ke Suriah terus menguat. Para analis percaya bahwa aksi militer Amerika akan dilakukan dari laut, dan menargetkan penghancuran instalasi-instalasi militer Suriah.

Inggris
Sebagai sekutu utama Amerika, Inggris pun menyatakan dukungannya terhadap aksi militer terhadap Suriah. Alasan utama pembenaran ide serangan militer terhadap Suriah adalah bahwa penggunaan senjata kimia "tidak bisa digunakan secara bebas dan lepas dari hukuman".

Prancis
Prancis adalah negara barat pertama yang mengakui koalisi oposisi Suriah, dan mengakuinya sebagai perwakilan resmi Suriah. Bahkan Prancis melobi agar Uni Eropa boleh menyuplai lebih banyak senjata ke pemberontak yang berniat menjungkalkan rejim Assad.

Turki
Negara ini sudah sejak awal mendukung upaya penggulingan Presiden Bashar al-Assad. Sehari sebelum Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel mengatakan pasukan negaranya siap melancarkan serangan terhadap rezim Suriah atas tuduhan serangan-serangan dengan menggunakan senjata kimia, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menyatakan negaranya siap bergabung dengan koalisi internasional yang ingin menyerang Suriah, bahkan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB sekalipun.

Saudi Arabia

Negara monarki ini secara terang-terangan membiayai dan memasok barisan oposisi sekuler untuk menggulingkan rezim Assad. Bahkan mantan Dubes Saudi untuk Amerika Pangeran Bandar bin Sultan dikabarkan giat menggalang dukungan internasional untuk membantu pasukan oposisi di Suriah.

Israel
Israel telah melancarkan serangan terhadap Suriah, sedikitnya 3 kali pada tahun ini. Pejabat Israel mengutuk penggunaan senjata kimia yang dikabarkan dipakai oleh rezim Assad. Spekulasi serangan militer Amerika terhadap Suriah membuat sipil Israel memborong masker gas.


Penentang

Lebanon
Menteri Luar Negeri Lebanon Adana Mansour menilai aksi militer terhadap Suriah tidak akan memberikan solusi perdamaian bagi kawasan. Di Lebanon, terdapat pengungsi Suriah dengan jumlah terbanyak dibandingkan negara-negara lain. Kalangan Syiah mendukung rezim Assad dengan turut berperang di Suriah, sementara penganut Sunni berperang bersama pasukan oposisi.

Iran
sebagai negara Syiah, Iran adalah negara pendukung utama rezim Assad. Menurut Iran, justru "pemberontaklah" yang menggunakan senjata kimia. Pejabat Iran pun mengingatkan petinggi PBB yang berkunjung ke Teheran bahwa serangan militer terhadap Suriah hanya akan mengakibatkan kerugian sangat serius bagi negeri itu.

Rusia
Dalam hal ini, Rusia lebih menghendaki adanya solusi yang bersifat politis daripada militer. Rusia secara tajam mengkritik ide-ide Barat yang ingin menyerang Suriah. Menurut Rusia, setiap aksi yang dilakukan di luar persetujuan Dewan Keamanan PBB akan menimbulkan kehancuran yang luar biasa bagi negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara.

China
Seperti halnya Rusia, China juga menolak ide serangan militer terhadap Suriah di Dewan Keamanan PBB. Kantor Berita Xinhua menyebutkan bahwa kekuatan negara Barat terlalu terburu-buru membuat kesimpulan tentang siapa yang sebenarnya menggunakan senjata kimia di negeri itu, karena tim investigasi dari PBB pun belum rampung menyelesaikan inspeksinya.

sumber: antara

Voice Of Muslim - Mengenakan jaket loreng, celana kargo khaki, dan bersepatu boot, beberapa wanita ini tidak kenal takut. Menyandang senapan pemburu, dia siap meledakkan kepala-kepala tentara pembantaian suruhan rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Para penembak jitu ini seakan menentang anggapan umum: Wanita jangan dekat-dekat medan perang. Bertindak sebagai penembak jitu alias sniper. Para wanita ini menjadi andalan pemberontak di beberapa kota di Suriah itu untuk membunuh para tentara Assad.

Tugas ini, ujarnya, membutuhkan kesabaran, kecepatan dan kecerdasan. Dia mengaku harus duduk berjam-jam menunggu warga sipil menyingkir dari jalan dan tentara Suriah masuk dalam kekerannya. Masuk dalam jangkauan tembak, pelatuk ditarik, beberapa tentara tertembus peluru.

PBB mencatat, lebih dari dua tahun konflik Suriah berlangsung, korban tewas melampaui 60.000 orang. Bashar al-Assad bersikeras tidak akan turun tahta dan tetap menggempur warga sipil, dengan dalih mencari pemberontak. Sementara itu upaya komunitas internasional juga belum membuahkan hasil.

Berikut salah satu kisah Guevara, Sniper Wanita di Medan Perang Suriah.

"Guevara", wanita di kota Aleppo, mengambil nama tokoh revolusi Argentina, bekas guru bahasa Inggris ini sering bertempur bersama dengan sekitar 30 orang pria menghadapi tentara yang beringas.
Dia tergerak turun ke medan juang setelah dua anaknya yang berusia 10 dan tujuh tahun tewas terbunuh beberapa bulan lalu. Saat itu, rumahnya digempur jet tempur pemerintah Suriah. Guevara ingin menuntut balas.

Dia mengatakan, sangat ingin membunuh para tentara Suriah di kotanya. "Saya suka berperang. Ketika saya melihat teman saya di katiba (salah satu divisi pemberontak) terbunuh, saya ingin mengambil senjata dan balas dendam," kata Guevara


 Posnya adalah di berbagai gedung yang telah kosong di Aleppo. Dengan senapan di tangan dan mata setajam elang, Guevara membidik calon korbannya.

Guevara mengatakan dia telah menembak sedikitnya empat atau lima orang tentara. "Ini membuat kami senang. Ketika tembakan saya mengenai salah satu dari mereka, saya teriak 'Yes!'," kata dia.

Wanita cantik ini berasal dari Palestina dan pernah menjalani latihan militer yang digelar Hamas di Lebanon. Dia bahkan tergabung dengan partai bawah tanah warga Palestina untuk menggulingkan Bashar al-Assad.

Pernikahannya dengan suaminya yang pertama gagal karena dia menganggap lelaki itu kurang militan. Dia juga mengancam meninggalkan suaminya yang baru, seorang komandan brigade tempur pemberontak, jika tidak diizinkan terjun berperang.

Dia pernah melihat lebih dari 100 mayat dalam beberapa bulan terakhir. Dia sendiri sering bersinggungan dengan malaikat maut. Salah satunya saat sebuah bom meledak dekat mobil yang dikendarainya beberapa waktu lalu.


Video-video para sniper wanita di Suriah


Voice Of Muslim - 27 Juli 2013 adalah hari yang tak akan dilupakan oleh orang Mesir selamanya, peristiwa pembantaian itu telah membuat lubang besar dalam memori sejarah orang-orang Mesir yang mulia.

Saat aparat kementerian dalam negeri rezim pemerintahan kudeta militer dengan bantuan para preman-yang didirikan dan dipersiapkan oleh aparat keamanan di era rezim Mubarak untuk hari naas seperti saat ini di Mesir- Mereka membunuh lebih dari dua ratus orang Mesir dalam pembantaian yang disaksikan oleh mata dunia.


Peristiwa pembantaian itu berlangsung di saat media mainstrem Mesir dan media Arab memainkan peran penting dalam menciptakan ketegangan dan menyalakan bara api dalam masyarakat yang menyerang seluruh rumah-rumah rakyat Mesir, jadilah rakyat Mesir terjatuh dalam benturan sesama mereka.
Berikut adalah video-video yang akan menjadi catatan sejarah dan akan menjadi saksi kekejaman dan penumpahan darah yang disebabkan oleh elit-elit politik, media, militer yang rusak dan korup yang disaksikan oleh dunia dengan menjadi agen Amerika dan Israel, kunjungan El-Baradae ke Israel pasca kudeta masih segar dalam ingatan kita. Syuhada pertama pada pembantain Rabaa


Tindakan medis rumah sakit lapangan Rabaa korban penembakan peluru panas

kepala menjadi sasaran sniper aparat keamanan pemerintahan kudeta militer

Seorang demonstran yang bisu menuliskan kalimat syahadat setelah menderita dengan kepala retak pada pembantaian Rabaa 
 

Korban-korban sekarat setelah aparat kudeta melepaskan tembakan ke arah demonstran Rabaa

Salah seorang demonstran yang kehilangan salah satu matanya menceritakan bagaimana awal mula serangan aparat polisi dan preman ke demonstran Rabaa

Voice Of Muslim - Sebuah video yang merekam penembakan jama’ah shalat di sebuah masjid di Mesir beredar, Sabtu (6/7). Tampak dalam video berdurasi 6 menit 31 detik itu jama’ah shalat berhamburan setelah mereka ditembaki dalam posisi sujud. Mereka membatalkan shalatnya demi menyelematkan diri, termasuk orang-orang yang mengenakan kaos bergambar Presiden Mursi.

Setelah suara rentetan tembakan selesai, tampak umat Islam menyerbu ke arah tembakan. Terdengar kemarahan warga atas serangan itu, tetapi kemudian datang jet-jet (helikopter) tempur berputar-putar di atas mereka pada menit ke 5:30.

Lebih jelasnya, silahkan simak video di bawah ini:

Aparat yang seharusnya melindungi warga, justru melakukan hal ini.

Voice Of Muslim - Aparat keamanan membunuh dan memperkosa serta menahan secara ilegal ratusan warga Muslim etnis Rohingya di Myanmar. Aparat juga diam saja melihat aksi kekerasan dan penyiksaan warga oleh orang budha menambah panjang daftar dosa negara yang baru menyentuh demokrasi tersebut.

Hal ini didasarkan atas laporan terbaru Human Right Watch (HRW) berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini" seperti dilansir Reuters, Rabu 1 Agustus 2012. Laporan setebal 56 halaman itu tersebut didasarkan atas 57 wawancara dengan warga etnis Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Arakan untuk mencari fakta dan membuktikan janji pemerintahan baru Myanmar yang katanya menjunjung tinggi HAM.

Dalam laporan, tentara Myanmar yang seharusnya menjaga Muslim Rohingya paska bentrokan dengan etnis Rakhine Juni lalu malah membunuhi warga. Saat kerusuhan, tulis laporan, beberapa Muslim Rohingya yang mencoba kabur atau memadamkan rumah mereka yang terbakar justru ditembak oleh pasukan paramiliter, tidak peduli wanita atau anak-anak.

Berbagai kasus perkosaan juga tercatat dilakukan oleh tentara Myanmar. Tentara juga bergeming saat massa di Rakhine memukuli Muslim Rohingya hingga menjemput ajal. Tenaga medis, bantuan kemanusiaan internasional dan media dilarang masuk ke lokasi, beberapa dari sukarelawan bahkan ditangkap. Hingga saat ini, akses ke tempat itu tertutup.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dan 109 terluka. Namun, data ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Jumlah lain disampaikan berbagai media, termasuk Press TV Iran, yang mengatakan korban tewas mencapai 600 orang.
Puluhan ribu warga Rohingya mengungsi ke tempat aman. Beberapa memilih mengungsi ke Bangladesh pakai perahu. Namun di negara ini, Rohingya tidak diterima, seperti status mereka di Myanmar: warga tak diinginkan.

Kekerasan di Arakan dimulai saat seorang wanita Rakhine diduga diperkosa oleh tiga lelaki Rohingya pada 28 Mei lalu. Ketiganya telah divonis mati. Ketegangan kedua etnis diperparah saat 10 Muslim Rohingya dibunuh saat bepergian menggunakan bus.

"Aparat keamanan Myanmar gagal melindungi Rakhine dan Rohingya dari satu sama lain dan malah melakukan kampanye kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Pemerintah Myanmar mengklaim berkomitmen menghentikan konflik etnis, tapi apa yang terjadi sebaliknya, kekerasan dan diskriminasi justru didukung pemerintah," kata Brad Adams, Direktur HRW untuk Asia.

Voice Of Muslim - Kekerasan antara umat Muslim dan Buddha di Myanmar semakin menjadi. Beberapa lembaga HAM mengatakan bahwa ini adalah kekerasan sistematis yang dilakukan warga dan pemerintah terhadap etnis Muslim Rohingya.

Banyak timbul pertanyaan, mengapa umat Buddha yang menjunjung tinggi prinsip welas asih mendadak brutal di Rakhine, Myanmar. Hal ini ternyata tidak lepas dari peran seorang biksu yang dengan bangga menyebut dirinya sendiri "Bin Laden dari Burma."

Biksu bernama asli Wirathu ini memang dikenal radikal dan pembuat onar. Karena ulahnya itu, pada 2003 dia ditahan dan divonis penjara 25 tahun oleh pemerintahan junta militer Myanmar karena menghasut aksi kekerasan terhadap warga Muslim. Masalahnya, dia dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik lainnya sebagai salah satu bagian dari program reformasi demokrasi Myanmar.

The Guardian dalam sebuah artikelnya mengulas nama Wirathu mengemuka sejak 2001 lalu. Putus sekolah pada usia 14 tahun, dia lalu menjadi biksu di biara Mandalay. Wirathu dikenal kerap membuat DVD anti Islam dan provokasi-provokasi lainnya di media sosial.

Sejak bebas, pria 45 tahun ini menggagas "Gerakan 969", sebuah kampanye memboikot umat Islam yang memicu kekerasan di Rakhine. Kampanye ini menyerukan umat Buddha untuk tidak berbelanja di toko-toko orang Muslim, juga tidak menikahi, mempekerjakan dan menjual properti kepada mereka.

Nama "969" sendiri diambil Wirathu dari sembilan nama Buddha, enam langkah Buddha dan sembilan jalan kebiksuan. Pendukung kampanye ini menempelkan stiker bertuliskan "969" di toko-toko mereka, rumah, taksi dan bus, menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Wirathu.

Kemudian terjadi pembantaian umat Muslim Rohingya di Rakhine. Sebanyak 43 orang--pria, wanita dan anak-anak--terbunuh saat itu. Puluhan ribu Muslim Rohingya terpaksa hengkang. Peristiwa terbaru, sebanyak 25 Muslim Rohingya dibantai di Meikhtila April lalu.
Human Right Watch dalam penyelidikannya menemukan adanya penyebaran leaflet anti Islam berstempel 969 di Meikhtila, sebelum bentrok pecah. Puluhan saksi juga menyatakan bahwa pemimpin massa adalah para biksu--yang seharusnya jadi ikon demokrasi di Myanmar.
Tudingan Wirathu
Wirathu mengaku punya alasan kuat mengapa dia menggelar kampanye itu. Seperti kelompok radikal lainnya--dari kalangan dan agama apapun--kebanyakan alasannya tidak bisa dibuktikan dan terdengar ngawur.

Salah satunya, menurut dia, Muslim Rohingya memaksakan agama mereka pada orang lain dengan ancaman pembunuhan dan perkosaan. Selain itu, dia mengatakan, cara Muslim menyembelih hewan tidak bisa diterima umat Buddha.

"Pembunuhan hewan oleh Muslim membuat orang familiar dengan darah. Hal ini akan mengancam perdamaian dunia jika memuncak ke tingkat tertentu," ujarnya.

Masih menurut dia, minoritas Muslim di Myanmar yang jumlahnya hanya lima persen didanai oleh kekuatan di Timur Tengah. "Muslim lokal sangat kejam karena ada kelompok ekstremis yang mengendalikan, membantu mereka dengan dana, dan pelatihan militer," dia menuding.
Pemahaman Wirutha ditentang oleh para pemuka Buddha di Myanmar, salah satunya datang biksu Abbot Arriya Wuttha Bewuntha dari biara Myawaddy Sayadaw Mandalay. Dia mengatakan bahwa apa yang disampaikan Wirathu mengarah pada kebencian, bukan ini yang diajarkan Buddha.

"Ini bukanlah yang diajarkan Buddha. Yang diajarkan Budha adalah kebencian itu tidak bagus, Karena Buddha melihat semua orang setara. Buddha tidak menilai orang berdasarkan agamanya," kata Bewuntha.

Hal yang sama dikatakan seorang penganut Zen Buddha dari Amerika Serikat, James Ure, dalam blognya www.thebuddhistblog.blogspot.com. Dia bahkan mengatakan bahwa dalam praktiknya, Wirathu bukan penganut Buddha.

"Mungkin dia mengenakan jubah biksu, tapi dia tidak menyebarkan pesan yang dibawa Buddha soal kasih sayang dan toleransi," kata Ure.

Pemerintah terlibat?
Kelompok HAM internasional menyayangkan aksi kelompok Buddha radikal ini. Selain itu, HRW mensinyalir pemerintah dan aparat keamanan Myanmar turut terlibat dalam pembantaian Muslim Rohingya di negeri ini.

Beberapa saksi mata mengatakan tentara dan polisi Myanmar turut menyiksa dan memperkosa wanita Rohingya. HRW mendesak pemerintah Myanmar bertindak mengatasi gelombang kebrutalan ini.

"Kampanye 969 lebih dari aksi boikot. Kampanye ini telah memicu kekerasan yang tidak rasional," kata Jim Della-Giacoma, Direktur Asia Tenggara, International Crisis Group.
Pengamat mengatakan bahwa masyarakat internasional tidak boleh tebang pilih dan harus segera mengambil langkah untuk menghentikan aksi Wirathu. Pasalnya, dia semakin bebas menyuarakan kebencian dan hasutannya diamini oleh sejumlah biksu lain di Myanmar.
"Jika gerakan kebencian seperti '969' di Burma, katakanlah, terjadi di Eropa melawan orang Yahudi, pasti tidak ada pemerintah Eropa yang membiarkannya," kata aktivis Myanmar dari London School of Economics, Maung Zarni. "Lalu kenapa sekarang Uni Eropa tidak menanggapinya dengan serius? Padahal ini terjadi di negara penerima dana bantuan besar dari Eropa."

Massa FPI
Voice Of Muslim - Front Pembela Islam meminta segala bentuk penindasan yang dialami oleh muslim Rohingya segera dihentikan. Bahkan, FPI siap untuk terjun langsung berjihad di Myanmar jika tuntutan ini tidak diindahkan oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau tuntutan ini tidak diselesaikan dan genoside tetap terjadi, FPI, Majelis Muslim Indonesia, Jamaah Anshar Tauhid, dan seluruh ormas Islam di Indonesia bahkan ASEAN akan mengobarkan jihad," ujar Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq, Jumat 3 Mei 2013.

Selain itu, FPI menuntut agar pemerintah Myanmar membatalkan undang-undang yang mencabut kewarganegaraan penduduk Rohingya. UU ini, Habib melanjutkan, yang memicu terjadinya konflik horizontal hingga terjadinya pembantaian besar-besaran penduduk Rohingya di Myanmar.

"Mereka (Rohingya) dibunuh, dibantai, diperkosa, dan banyak diusir dari pengungsian. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa," lanjut Habib.

Menurut Habib, Persatuan Bangsa-Bangsa sudah mengakui adanya genoside di Myanmar, namun ternyata tidak melakukan apa-apa. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah dinilai tutup mata dengan adanya peristiwa ini.

"Kalau PBB tidak mampu melakukan apa-apa dan negara Arab menutup mata dari kedzaliman yang ada di Myanmar, kami umat Islam yang akan memutuskan dengan cara kami. Tidak ada jalan lain kecuali jihad ke Myanmar," kata Habib.

Dalam aksi tersebut, Habib Rizieq berusaha menemui Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, namun gagal. Duta Besar tidak ada di tempat, karena sedang mengikuti rapat di Sekretariat Jenderal ASEAN.

"Kami hanya bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, mereka tidak dapat memberikan kepastian. Tapi, insya Allah dalam dua hari ini akan ada dialog antara Duta Besar dan ormas-ormas Islam," ujar Habib.

Habib mengatakan, jika Duta Besar Myanmar menutup pintu dialog, FPI siap untuk melakukan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar.

"Apapun yang terjadi dengan kedutaan ini, kami tidak tanggung jawab kalau mereka menutup pintu dialog," sambung Habib.

Terkait penangkapan teroris tadi malam yang diduga akan meledakkan Kedubes Myanmar, Habib menyatakan FPI tidak ada kaitannya dengan itu. "Tidak ada kaitan demo ini dengan tindak teroris hari ini," kata Habib Rizieq.

Ia menyampaikan, unjuk rasa hari ini murni bentuk keprihatinan terhadap permasalahan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget