Voice Of Muslim - Rantai kaki melingkar di atas mata kaki Abdella Ahmad Tounisi, Rabu
(24/4). Remaja 18 tahun ini gontai melangkah ke ruang sidang. Rambutnya
botak. Kulit putihnya berbalut pakaian berwarna jeruk segar. Tounisi
adalah tertuduh teroris.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat
(FBI) menuduhnya sebagai anggota kelompok berbahaya. Hari itu adalah
sidang perdana Tousini setelah sepekan berada dalam interogasi tinggi
dan berada dalam tahanan. Tentu saja dalam keamanan maksimum.
Aljazirah
melansir lembaga intelijen dalam negeri AS menjebak remaja asal Aurora,
Chicago ini, lantaran mengunjungi laman website radikalis Muslim buatan
FBI. Kunjungan via internet itu membuat Tounisi diseret ke peradilan.
FBI
menuduh Tounisi hendak bergabung dengan sel Alqaidah bernama Jabhat
al-Nusra. Sel tersebut adalah kelompok bersenjata yang sedang perang di
Suriah melawan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Aljazirah
mengatakan situs bikinan FBI itu adalah perbuatan yang melampaui batas.
FBI semestinya tidak memanfaatkan gerakan keagamaan untuk memberantas
aksi menyimpang dari ajaran agama tersebut. Teroris tidak perlu
mendaftarkan diri ke website. Apalagi dijebak untuk bergabung menjadi
anggota teroris.
Kini, Tousini terancam hukuman 15 tahun
penjara. Hakim Persidangan Daniel Martin mengatakan, putusan hari ini
adalah menunda persidangan. Martin tidak menyebutkan alasan penundaan.
Tapi, mengutip Chicago Tribune persidangan akan dilanjutkan 2 Mei
mendatang, di Gedung Persidangan Dirksen, Chicago.
Tounisi
ditangkap FBI di Bandara internasional O'Hare, Chicago, saat Jumat
(19/4) lalu. Kejaksaan mengatakan, Tounisi hendak memulai leg pertama
perjalanan ke medan perang ke Suriah. Penerbangan pertama akan
menyambangi Turki sebelum dirinya melaju ke Damaskus, Suriah.
Banyak
tuduhan dialamatkan jaksa kepada Tounisi. Media lokal mengutip dakwaan
jaksa sebagai berikut: Tounisi diduga terlibat dalam rencana ledakan di
sebuah bar di Chicago, September 2012.
FBI menggagalkan rencana
itu dan menarik sebuah nama Adel Daoud.Aksi Daoud juga berawal dari
komunikasi melalui chatroom website bikinan FBI. Tidak disebutkan nama
komunitas teroris gadungan itu. Tapi salah seorang di website tersebut
mengajari Daoud merakit bom dan cara meledakkannya. FBI menemukan
komunikasi lancar antara Daoud dan Tounisi.
Namun aktivitas
Tounisi sempat menghilang dari chatroom. FBI kembali memancing Tounisi
melalui tampilan website yang berbeda. Umpan FBI menarik Tounisi.
Seseorang di chatroom mengaku mencari relawan pemberani untuk bergabung
bersama Jabhat al-Nusra di Suriah.Tounisi mengirimkan aplikasi dirinya.
Termasuk
kelemahannya menggunakan senjata dan bahan peledak. Chicago Tribune
melansir, kontak langsung antara Tounisi dan perekrutnya itu terjadi
saat 1 April lalu. Keduanya bertemu dan menyusun rencana untuk terbang
ke medan perang di Suriah.
Dalam kenyataannya, perekrut tersebut
adalah seorang intelijen FBI. Mantan Jaksa Federal Phil Turner
mengatakan, merayu atau memanipulasi pikiran pemuda dengan iming-iming
ikut dalam kekerasan (terorisme) adalah kejahatan.
''Tindakan
mereka memicu fantasi,'' ujar Turner. Pengacara Molly Armour menyatakan
bersedia membela Tounisi. Armour adalah pengacara negara yang ditunjuk
membela remaja tanggung ini. Kata dia, penundaan persidangan adalah
jawaban keraguan hakim atas kasus tersebut.
Akan tetapi kata
dia, pihaknya bersama keluarga Tounisi akan punya waktu membalikkan
tuduhan FBI dan Kejaksaan. Keluarga menyatakan, Tounisi adalah korban
jebakan agen intelijen. Sementara itu, Juru Bicara FBI di Chicago, Joan
Hyde menolak berkomentar tentang tuduhan menjebak tersebut.

Posting Komentar
Jika anda menyertakan link dalam komentar,baik itu link hidup maupun link biasa,maka admin akan menghapus komentar anda..
Terima Kasih.