Voice Of Muslim - (15) Bahwa seorang Nabi dari tengah-tengah kamu, dari antara segala
saudaramu, dan yang seperti aku ini, yaitu akan dijadikan oleh Tuhan
Allahmu bagi kamu, maka Dia patutlah kamu dengar.
(16) Setuju dengan
segala yang telah kamu pinta kepada Tuhan Allahmu di Horeb, pada masa
orang banyak itu ada berhimpun, katamu: Jangan kiranya kami mendengar
pula bunyi suara Tuhan Allah kami dan api yang besar ini jangan kiranya
kami lihat lagi, supaya jangan kami mati !
(17) Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku: Benarlah kata mereka itu:
(18)
Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara
segala saudaranya, yang seperti engkau; dan Aku akan memberi segala
firmanku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala, yang
kusuruh akan dia.
(19) Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada
mau dengar akan segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan
Namaku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.
(20) Tetapi
adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman
dengan Namku, yang tiada kurusuh katakan, atau yang berkata dengan
nama dewa-dewa, niscaya orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.
(21)
Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian: Dengan apakah
boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya ?
(22)
Bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuha, lalu barang yang
dikatankannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang
bukan firman Tuhan adanya, maka nabi itupun telah berkata dengan
sombongnya, janganlah kamu takut akan dia.
(Ulangan 18:15 - 22)
Ayat-ayat
diatas ini adalah perkataan Nabi Musa yang diucapkannya dihadapan Bani
Israil, tersebut dalam kitab Ulangan atau Taurat. Menurut keterangan
Nabi Musa itu, Tuhan telah berjanji kepada Bani Israil akan menjadikan
seorang Nabi dari antara segala saudaranya yang seperti Musa.
Penulis-penulis dari kalangan umat Islam telah menyatakan bahwa Nabi
yang dijanjikan Tuhan itu ialah Nabi Muhammad s.a.w. Keterangannya
sebagai berikut:
Setelah Nabi Musa menyampaikan janji itu, Bani
Israil telah menunggu-nunggu kedatangan Nabi tersebut. Hingga berapa
lama mereka menunggu kedatangannya, dapat diketahui dari penjelasan
Injil Yahya pasal 1 yang berikut:
(19) Maka inilah kesaksian
Yahya itu, tatkala orang Yahudi menyuruhkan beberapa imam dan orang
Lewi dari Jerozalem akan bertanya kepadanya demikian: Siapakah engkau ?
(20) Maka mengakulah ia, dan tiada ia bersankal; maka mengakulah ia demikian: "Aku ini bukannya Kristus itu".
(21) Maka bertanyalah mereka itu kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Engkaukah Elias?" Maka katanya: "Bukan".
Soal
jawab diatas ini terjadi ketika Nabi Yahya datang sebagai utusan
Tuhan. Orang-orang Yahudi menyuruh utusannya datang menemui Nabi Yahya
hendak bertanyakan, siapakah dia. Dari tanya-jawab itu ternyata bahwa
orang-orang Yahudi pada waktu kedatangan Nabi Yahya itu masih
menunggu-nunggu kedatangan tiga orang yang telah dijanjikan Tuhan,
yaitu: Kristus, Elias dan Nabi itu.
Dalam Injil Yahya pasal 1 tersebut lagi:
(24) Adapun orang yang disuruh itu orang Parisi.
(25)
Maka mereka itu menanya dia, serta berkata kepadanya: "Jikalau engkau
ini bukan Kristus, dan bukan Elias, dan bukan nabi itu, apakah sebabnya
engkau membaptiskan orang?"
Pertanyaan orang Parisi kepada Nabi
Yahya diatas ini menunjukkan juga bahwa orang Yahudi dizaman Nabi Yahya
masih menunggu kedatangan tiga orang yang tersebut tadi, yaitu:
Kristus, Elias dan Nabi itu. Diantara pertanyaan yang dimajukan utusan
itu masih disebut: "Engkaukah Nabi itu?" Pertanyaan ini menunjukkan
bahwa Nabi "itu", yakni Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi
kedatangannya karena telah dinubuatkan Nabi Musa, masih belum datang
hingga pada zaman Nabi Yahya, karena mereka masih menanyakan kepadanya.
Nabi Yahya hidup semasa dengan Yesus.
Menurut kepercayaan orang
Kristen, Kristus itu telah datang yaitu Nabi Isa atau Yesus. Dan
menurut Injil, Elias itu telah datang juga, yaitu Nabi Yahya sendiri.
Yesus memberi keterangan menurut Injil sebagai berikut: "Dan jikalau
kamu menerima itu: ia inilah Elias, yang akan datang itu". (Matius
11:14)
Dalam Injil Matius tersebut lagi:
(10) Maka
murid-muridnyapun bertanya kepadanya sambil berkata: "Apakah sebabnya
segala ahli Torat mengatakan, bahwa tak dapat tiada Elias akan datang
dahulu?"
(11) Maka jawab Yesus, katanya: memang Elias itu sudah
datang, maka tiadalah dikenal orang akan dia, melainkan mereka itu
melakukan keatasnya sekehendak hainya. Demikian juga Anak-manusiapun
akan dianiayakan orang".
(13) Maka barulah murid-murid itu mengerti, bahwa ia mengatakan keapdanya tentang hal Yahya Pembaptis.
Dari
pada keterangan diatas ini diketahui bahwa menurut Injil dua orang
diantara tiga orang yang ditunggu-tunggu mereka kedatangannya itu telah
datang, yaitu Kristus dan Elias. Yang masih belum datang, seorang lagi
yaitu: "Nabi itu". Dengan demikian diketahui bahwa Nabi itu masih belum
datang hingga pada zaman Nabi Yahya dan Yesus, Dan kedatangannya itu
diketahui dari keterangan diatas sesudah zaman Nabi Yahya dan zaman
Yesus. Hal ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena ia datang
sesudah zaman mereka yang tersebut.
Apakah tanda Nabi itu? Dalam
keterangan yang telah dikemukakan diatas, disebutkan: "Bahwa Aku akan
menjadikan bagi mereka seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang
seperti engkau". Keterangan ini menyatakan bahwa Nabi yang akan
dijadikan itu, ialah: "Dari antara segala saudaranya", yaitu dari
antara segala saudara Bani Israil. Dan "yang seperti engkau", yaitu
yang seperti Nabi Musa.
Daripada keterangan itu diketahui bahwa Nabi
yang akan dibangkitkan itu adalah dari antara segala saudara Bani
Israil, tidak dari Bani Israil. Bani Ismail adalah bersaudara dengan
Bani Israil. Dalam kitab Kejadian pasal 16 dan pasal 17 diterangkan
bahwa Nabi Ibrahim telah mendapat seorang anak dari Hagar, dinamai
ismail. Kemudian Nabi Ibrahim mendapat anak lagi dari Sarah, dinamai
Ishak. Seterusnya Ishak mendapat anak dari isterinya Ribkah, dinamai
Yakub. (Lihat Kejadian 25:26). Kemudian Tuhan mengganti nama Yakub
dengan Israil. (Lihat Kejadian 35:10). Turunan Nabi Ibrahim dari
anaknya Ismail disebut Bani Ismail. Dan turunnya dari cucunya Israil
*Yakub) disebut Bani Israil. Daripada keterangan ini diketahui bahwa
Bani Ismail bersaudara dengan Bani Israil. Dengan demikian nyatalah
bahwa tanda ini telah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena ia
adalah turunan dari Bani Ismail yang bersaudara dengan Bani Israil. Dan
seterusnya hal ini telah sesuai lagi dengan janji Tuhan yang
menyatakan bahwa Ia akan menjadikan Ismail "suatu bangsa yang besar".
(Lihat Kejadian 17:20 dan 21:18).
Tanda yang kedua ialah Nabi itu
seperti Nabi Musa. Tanda ini telah sesuai kepada nabi Muhammad s.a.w.
karena ia serupa dengan Nabi Musa. Mereka sama-sama ber-ibu dan
berbapa. Sama-sama beristeri dan beranak. Sama-sama menjadi Nabi dan
Rasul. Sama-sama mempunyai kitab suci, yaitu Taurat dan Al Qurän.
Sama-sama wafat tidak terbunuh. Sama-sama dikuburkan dibumi. Dan banyak
lagi keserupaannya.
Firman Tuhan dalam Al Quran:
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul (Nabi
Muhammad) yang menjadi saksi atas kamu, seperti Kami telah mengutus
kepada Fir'aun seorang Rasul (Nabi Musa). (Surah Al Muzammil 15).
Dalam
ayat 15 tersebut bahwa Nabi itu akan dijadikan Tuhan "dari
tengah-tengah kamu". Yaitu dari tengah-tengah Bani Israil atau bangsa
Yahudi. Hal itu sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena negeri
Medinah tempat Nabi Muhammad s.a.w. adalah terletak di tengah-tengah
kampung-kampung orang Yahudi, yaitu suku Bani Nadlir, suku Bani
Quraizhah dan suku Bani Qainuqa'
Dalam ayat 18 tersebut "Aku akan
memberi segala firmanku dalam mulutnya". Keterangan ini sesuai kepada
Nabi Muhammad s.a.w. Firman itu diberikan kepadanya hanya merupakan
bacaan yang dihafalkan pada mulutnya, karena ia tidak tahu membaca.
Kemudian barulah orang disuruhnya menulikannya.
Dalam ayat 19
tersebut "segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan Namaku".
Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Kitab suci Al Qurän
sebagai firman Tuhan telah dikatakannya dan dimulainya surah-surahnya
sebanyak 113 surah dengan nama Tuhan, yaitu:
Artinya: Dengan nama Allah yang Pengasih yang Penyayang.
Dalam
ayat 20 tersebut "Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan
mengatakan firman dengan Namaku, yang tiada kusuruh katakan, atau yang
berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibubuh
hukumnya". Menurut keterangan ini Nabi yang tidak benar akan mati
dibunuh hukumnya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak mati dibunuh, maka nyatalah
bahwa ia seorang Nabi yang benar. Bahkan Al Qurän telah memberikan
jaminan bahwa ia tidak akan mati dibunuh manusia. FirmanNya.
Artinya: Dan Allah, memeliharakan engkau dari pada manusia. (Surah Al Maidah 70)
Dalam
sejarah telah dinyatakan bahwa musuh-musuh Islam telah berkali-kali
mencoba hendak membunuh Nabi s.a.w., baik pada waktu aman maupun pada
waktu perang, tetapi semuanya itu tidak berhasil. Tuhan telah memenuhi
janjiNya, Nabi Muhammad s.a.w. diselamatkanNya dari pembunuhan manusia,
sesuai dengan janji yang telah tersebut didalam Al Qurän dan kitab
Ulangan tadi.
Dalam ayat 22 diterangkan tanda Nabi yang yang dusta
"bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuhan, lalu barang yang
dikatakannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang
bukan firman Tuhan adanya".
Tanda Nabi dusta ini amat jauh
daripada Nabi Muhammad s.a.w. Segala sesuatu yang dikatakannya atas
Nama Tuhan, semuanya telah datang dan telah jadi, kecuali yang waktunya
belum tiba, seperti terjadinya hari kiamat. Hal-hal yang akan datang
yang disabdakan Nabi Muhammad s.a.w. atau yang tersebut didalam Al
Qurän yang telah jadi amat banyak. Sebagai contohh akan dikemukakan
sebagian diantaranya pada Lampiran II pasal XIII ini.
Penolakan pendapat pihak Kristen
Pihak
Kristen menyebut Nabi yang dijanjikan Tuhan dalam kitab Ulangan itu
ialah Yesus Kristus. Dr. D. Bakker menulis: "Hal Tuhan Yesus menjadi
nabi itu disebutkan dalam kitab Ulangan 18:15 - 18 dan Kisah
Rasul-Rasul 3:22"1) Pendapat pihak Kristen ini tidak benar.
Diatas
telah diterangkan, Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu adalah: "dari
antara segala saudara Bani Israil" dan "yang seperti Musa".
Menurut
Injil, Yesus Kristus adalah turunan Bani Israil. Lihat silsilah
turunannya dalam Injil Matius pasal 1 dan Injil Lukas pasal 3. Dalam
Injil Matius 1:1 tersebut: "Maka inilah silsilah Yesus Kristus, yaitu
anak Daud". Daud adalah Bani Israil, sebab itu yesus Kristus adalah Bani
Israil juga. Sedang Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu bukan dari Bani
Israil, tetapi dari antara segala saudara Bani Israil. Dengan demikian
diketahui bahwa Nabi yang akan dijadikan itu bukan Yesus Kristus.
Seterusnya,
Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu adalah: "yang seperti Musa."
Menurut Alkitab, diantara Bani Israil tidak akan dibangkitkan lagi
seorang Nabi yang seperti Musa. Dalam kitab Ulangan tersebut:
"Maka
diantara orang Israil tiada berbangkit pula seorang nabi yang seperti
Musa, yang dikenal Tuhan muka dengan muka". (Ulangan 34:10).
Oleh karena Yesus dari Bani Israil, maka nyatalah bahwa Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu bukan Yesus.
Seterusnya
lagi, berdasarkan kepercayaan orang Kristen Yesus tidak seperti Nabi
Musa. Menurut kepercayan orang Kristen Yesus adalah Tuhan, mati
tersalib dan terkutuk. (Lihat Galatia 3:13). Sedang Musa tidak
demikian. Nabi Musa hanya seorang hamba Allah, tidak mati tersalib dan
tidak terkutuk. Nabi Musa adalah berbapa, sedang Yesus sebagai manusia
tidak berbapa. Dan banyak perbedaannya yang lain-lain lagi.
Menurut
ayat 20 dinyatakan Nabi yang mengatakan firman dengan Nama Tuhan yang
tidak disuruhNya katakan akan mati dibunuh hukumnya. Nabi Muhammad
s.a.w. tidak mati dibunuh, sedang Yesus menurut kepercayan orang
Kristen mati dibunuh. Jika nubuat tersebut digunakan untuk Yesus, maka
jadilah Ia Nabi yang tidak benar karena ia telah mati dibunuh.
Dr.
Mr. D.C. Mulder menulis: "Perlu diperhatikan disini peraturan tentang
nabi dalam ps 18:15 - 22. Ayat-ayat ini sering ditafsirkan oleh
penafsir-penafsir Kristen sebagai nubuat tentang Nabi Muhammad. Akan
tetapi bagian ini tidak membicarakan seorang nabi yang khusus, melainkan
jabatan nabi pada umumnya; diterangkan disini bagaimana seorang nabi
benar dapat dibedakan dari pada seorang nabi palsu".
Apabila
uraian yang telah dikemukakan diatas diperhatikan, nyatalah bahwa apa
yang dikemukakan oleh Dr. Mulder itu tidak benar. Ayat-ayat kitab
Ulangan tersebut adalah menubuatkan kedatangan seorang Nabi yang khusus
dengan menerangkan sifat-sifat dan tanda-tandanya. Orang Yahudi
sendiri telah menunggu-nunggu kedatangannya hingga berabad-abad lamanya
sesudah Nabi Musa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat Injil yang
telah dikemukakan diatas. Nubuatan itu tidak diraggukan lagi adalah
mengenai kedatangan Nabi Muhammad s.a.w.
Dengan keterangan diatas
ini nyatalah bahwa Nabi yang dinubuatkan Nabi Musa dalam kitab Ulangan
itu ialah Nabi Muhammad s.a.w., bukan Yesus.
(1) Bermula, maka inilah berkat yang telah diberi oleh Musa, khalil Allah, kepada segala Bani Israil dahulu dari pada matinya:
(2)
Maka katanya: Bahwa Tuhan telah datang dari Torsina dan telah terbit
bagi mereka itu dari Sierl; kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya
dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kedes; maka pada
kanannya tiang api bagi mereka itu.(Ulangan 33: 1 - 2)
Syech
Rahamatullah menerangkan dalam Izhar-ul Haqq 2:137 bahwa yang
dimaksudkan dengan "Tuhan telah datang dari Torsina, ialah Tuhan
memberikan Taurat kepada Nabi Musa. Dan yang dimaksudkan dengan "telah
terbit bagi mereka itu dari Seir", ialah Tuhan memberi Injil kepada Isa.
Dan yang dimaksudkan dengan "kelihatanlah Ia dengan gemerlapan
cahayanya dari gunung Paran", ialah Tuhan menurunkan Al Qurän kepada
Nabi Muhammad s.a.w. Jadi "Torsina", "Seir" dan "Paran" adalah nama
tempat-tempat Nabi-nabi tersebut menerima ajaran dari Tuhan.
Gunung
Paran ialah sebuah gunung di negeri Mekah. Dalam kitab Kejadian
diceritakan tentang hal Hagar dengan anaknya Ismail sebagai berikut:
(19)
Maka dicelikkan Allah akan mata Hagar, sehingga terlihatlah ia akan
suatu mata air, lalu pergilah ia mengisikan kirbat itu dengan air,
diberinya minum akan budak itu.
(20) Maka diserrtai Allah akan budak
itu sehingga besarlah ia, lalu iapun duduklah dalam padang belantara dan
menjadi seorang pemanah.
(21) Maka duduklah ia dalam padang
belantara Paran dan diambil oleh ibunya akan dia seorang perempuan dari
tanah Mesir akan isterinya.
(Kejadian 21: 19 - 21)
dalam
ayat-ayat yang tersebut diatas ini diceritakan tentang Hagar dengan
anaknya, yaitu Nabi Ismail. Dalam ayat 21 diterangkan bahwa Ismail duduk
dipadang belantara Paran. Menurut sejarah, Ismail tinggal duduk di
negeri Mekah. Mata air yang dilihat Hagar itu ialah "mata air Zamzam"
yang hingga kini terus menerus mengeluarkan airnya sebagai sebuah telaga
di dekat Bait Allah didalam mesjid Mekah. George Zaidan, seorang
pengarah Kristen Katolik di Mesir, menerangkan didalam bukunya "Al Arab
gabl-al Islam" (Arab sebelum Islam), bahwa Paran itu adalah padang
belantara Paran itu ialah negeri Mekah. Dan gunung Paran itu nama gunung
di Mekah.
Seterusnya dalam kitab Habakuk tersebut lagi sebagai berikut:
(3)
Bahwa Allah datang dari Teman dan Yang Maha Suci dari pergunungan
Paran. Salah ! Maka kemuliannya menudungilah segala langit dan bumipun
adalah penuh dengan pujinya. (Habakuk 3:3).
Dalam ayat ini dinyatakan
lagi bahwa Yang Maha Suci datang dari pergunungan Paran. Dan bumipun
penuh dengan pujinya. Nabi Muhammad s.a.w. telah datang dari pergunungan
Paran di tanah Mekah dan umat Islam telah memenuhi seluruh permukaan
bumi dengan pujinya, sesuai dengan apa yang telah diterangkan dalam
kitab Perjanjian Lama diatas.

Posting Komentar
Jika anda menyertakan link dalam komentar,baik itu link hidup maupun link biasa,maka admin akan menghapus komentar anda..
Terima Kasih.